
Tiga hari sudah Abi tinggal bersama dengan Sutisna dan Lilis. Keadaannya pun sudah membaik. Kini Abi sudah bisa bergerak dengan bebas. Tubuhnya sudah tak perlu dibalut perban lagi. Sehabis makan siang, Abi memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari desa Karora. Dia harus mencari jalan pulang untuk kembali ke keluarganya.
Lelah berkeliling, Abi kembali ke rumah lalu duduk di teras rumah. Tak lama Lilis datang menghampiri kemudian duduk di sampingnya. Diperhatikannya Abi yang tengah duduk termenung.
“Akang pasti kangen ya sama keluarga akang.”
“Iya.”
“Sayang Lilis ngga punya hp. Mudah-mudahan nanti ada turis yang datang. Siapa tahu bisa pinjam hpnya.”
“Iya, Lis. Makasih.”
“Eh iya kang, saya lupa. Ini punya akang. Kemarin sempat mati, terus Lilis simpen dia atas tv, kelupaan kasih tahu.”
Lilis menyerahkan sebuah arloji pada Abi. Pria itu nampak terkejut sekaligus senang. Diambilnya jam tangan tersebut dari tangan Lilis.
“Ternyata jam saya masih ada. Dikira hilang.”
“Coba dulu kang, masih nyala ngga.”
“Kalau masih nyala. Saya ngga perlu hp buat kasih tahu keluarga keberadaan saya.”
“Masa? Berarti jam ini canggih ya, kaya punya James Bond gitu.”
Abi terkekeh mendengar ucapan gadis tersebut. Dia segera memeriksa keadaan jam miliknya. Untung saja jam tersebut masih menyala. Tak sia-sia Abi membayar mahal jam buatan Jerman tersebut. Walau terkena air laut, setelah mati sebentar akan bisa berfungsi lagi jika ditaruh di atas tempat yang memancarkan panas. keputusan Lilis tepat menaruhnya di atas televisi.
Lilis terus memperhatikan Abi yang tengah mengutak-atik jamnya. Pria itu meraba bagian pinggir jam kemudian menekan kenop kecil di sana. Seketika program yang terhubung dengan chipnya menyala. Dia kemudian menekan kaca jam untuk memindai sidik jari kemudian menyebutkan kata sandi.
“Kenzie,” ucapnya.
Program tersebut langsung menyala, Abi pun segera menekan icon bergambar bola dunia. Dia terus memperhatikan grafik sinyal yang masih menunjukkan warna merah. Beberapa menit kemudian grafik sinyal berubah menjadi kuning kemudian berubah lagi menjadi hijau. Abi tersenyum lega, dia berharap semoga Juna dan yang lainnya menyadari sinyal darurat yang dikirimnya.
“Udah gitu aja?”
“Iya.”
“Kirain teh dari jamnya keluar sinar laser yang mencuat sampai ke langit terus bisa dilihat sama keluarga akang.”
“Hahaha...”
“Ai itu teh gimana emang cara kerjanya?”
“Diterangin juga kamu ngga akan ngerti. Otak kamu ngga akan nyampe.”
Lilis memandangi Abi dengan kesal. Pria di sampingnya ini sebenarnya sering membuatnya keki. Kalau tidak meledeknya dengan kata-kata yang membuat telinga sakit, dia sering sekali menertawakan dirinya. Apalagi kalau Lilis bertanya atau mengatakan hal-hal aneh, seperti tadi.
“Lis.. umur kamu berapa?”
“28.”
“Kenapa belum nikah?”
“Belum laku.”
Abi kembali tergelak mendengarnya. Lilis hanya menyebikkan bibirnya saja. Bukan dia tak mau menikah, tetapi jumlah penduduk di desa Karora tidaklah banyak dan rata-rata sudah berkeluarga. Dia hanya berharap ada turis yang datang lalu khilaf jatuh cinta padanya.
“Oh iya, kamu niat kerja ngga? Kali aja di tempat kerjaan kamu bisa ketemu jodoh.”
“Wah mau atuh kang. Tapi kerja apa ya, da Lilis mah ngga bisa apa-apa selain masak.”
“Gimana kalau kamu buka tempat makan di pulau Padar. Sebentar lagi banyak fasilitas dibangun di sana. Saya bisa kasih kamu satu tempat di sana.”
“Beneran kang? Akang ngga lagi php-in Lilis kan?”
“Bener.”
“Ya Allah, Alhamdulillah. Bapaaaaakkkk!!! Lilis dapet kerjaaaannn!!!”
“Astaghfirullah. Lis, kamu tuh perempuan apa tarzan sih. Kalau teriak bikin sakit kuping,” Abi mengorek telinganya yang terasa pengang. Sedang Lilis yang tengah senang tak menggubrisnya sama sekali.
Flashback Off
☘️☘️☘️
Tiga hari Abi menunggu, namun belum ada tanda-tanda akan ada orang yang menjemputnya. Dia merutuki kakak dan sahabatnya yang tidak peka dengan sinyal yang dikirimkan olehnya. Sepertinya karena sibuk mencari Abi, mereka melupakan tentang alat tersebut.
“Pada kemana sih.. hadeuh percuma dikasih alat canggih tapi ngga pada dipake juga. Susah kalau ngasih ke orang yang menjelang uzur. Mending kasih ke si Ken, dari pada mereka,” gerutu Abi dengan suara pelan.
Ini sudah hari keempat semenjak dirinya mengirimkan sinyal darurat. Tapi sepertinya belum ada yang menyadarinya. Abi juga belum bisa keluar dari kampung Karora, karena untuk sampai di Labuan Bajo, dia harus menggunakan perahu untuk menyebrang. Pria itu masih sedikit trauma menggunakan alat transportasi laut.
Demi menghilangkan kekesalannya, Abi meminta Lilis mengantarnya berkeliling kampung. Gadis itu mengajak Abi ke gunung Doro Ora untuk menikmati pemandangan indah. Setelah berpamitan pada Sutisna, keduanya segera pergi ke gunung tertinggi yang ada di pulau ini.
Baru sekitar lima belas menit menikmati pemandangan. Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang begitu familiar memanggil namanya.
__ADS_1
“ABI!!!”
Dengan cepat Abi membalikkan tubuhnya, nampak Jojo dan Cakra tengah berlari ke arahnya. Begitu sampai di dekatnya, Jojo langsung meloncat naik ke tubuh Abi. Hampir saja pria itu terjatuh kalau tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
“Turun Nyuk, berat tau,” sungut Abi.
Bukannya turun, Jojo malah mendaratkan ciuman bertubi ke puncak kepala dan pipi sahabatnya itu. dengan kesal Abi menurunkan Jojo kemudian mengusap pipinya yang dicium oleh Jojo.
“Dasar kampret, gue pengennya dicium Nina bukan elo, monyong.”
Jojo hanya mengendikkan bahunya. Senyum tak lepas dari wajahnya yang masih terlihat tampan walau usianya sudah menjelang setengah abad. Sedangkan Cakra, tanpa banyak bicara langsung mendekati Abi kemudian memeluk sahabatnya itu erat.
“Syukur lo selamat Bi. Gue hampir mati berdiri denger kabar lo kecelakaan di laut. Hampir setiap hari Sekar telepon gue nangis-nangis nanyain kabar elo.”
Abi hanya menanggapi ucapan Cakra dengan diam. Hatinya pun tak kalah terharu bisa bertemu kembali dengan dua sahabat terbaiknya. Tangannya pun balas memeluk punggung adik iparnya itu dengan erat. Jojo datang bergabung dan ikut memeluk keduanya. Lilis hanya terdiam memandangi tiga pria tampan tengah berpelukan seperti teletubbies.
“Tinky winky... dipsy.. lala.. paul...”
Lilis menyanyikan lagu teletubbies sambil menunjuk pria di depannya satu per satu. Mendengar suara perempuan yang volumenya sudah seperti toa masjid, ketiga pria itu mengurai pelukannya. Jojo dan Cakra memandangi Lilis dari atas sampai ke bawah.
“Siapa nih cewek? Sumpah suaranya bikin kuping sakit,” celetuk Jojo.
“Gue tinggal di rumahnya. Bapaknya yang nyelamatin gue.”
“Tapi lo ngga disuruh nikah sama dia kan, Bi?” tanya Cakra.
“Jangan bilang dia madunya Nina.”
Dengan kesal Abi mengeplak kepala dua sahabatnya ini. Dirinya yang terombang-ambing di lautan, terkena hempasan ombak besar, tapi kenapa kedua sahabatnya ini yang otaknya terkena gangguan hingga berpikir seperti penulis skenario televisi ikan terbang.
“Eh.. sembarangan aja akang-akang kalo ngomong. Sorry dori mori, Lilis tuh bukan valakor. Biar jomblo, Lilis juga ngga mau ngerusak rumah tangga orang lain. Biar kang Abi ganteng tapi Lilis ngga ada minat sama dia. Satu, mulut kang Abi ngga seganteng mukanya, ada aja omongannya yang bikin naik darah. Kedua, kang Abi tuh udah tua, ogah Lilis dapet pasangan yang kelewat mateng menjelang busuk.”
“Wah sembarangan kalau ngomong. Biar kamu masih muda, saya juga ogah sama kamu. Bisa budeg kuping saya punya istri yang suaranya persis kaya toa masjid. Untuk kamu ngga suka manjat pohon, kalau suka manjat persis kaya tarzan.”
Jojo dan Cakra langsung tergelak mendengar perdebatan kedua orang di depannya. Sungguh mereka merindukan mendengar ucapan bon cabe sahabatnya itu. Dan ternyata wanita yang tengah bersama Abi pun tak kalah somplaknya.
“Bentar-bentar.. nama kamu Lilis?” tanya Jojo.
“Iya.”
“Baru denger orang Flores namanya Lilis.”
“Aslinya orang Banjaran. Dia sama bapaknya terdampar di sini,” jelas Abi.
“Ucapin terima kasihnya sama bapak saya aja. Bapak dan temannya yang udah nyelamatin kang Abi.”
“Ayo pulang ke rumah,” ajak Abi.
Lilis hanya mengangguk, dia segera berjalan di depan. Sedang yang lain mengikuti dari belakang. Sambil berjalan, Jojo membolak-balik tubuh Abi, memperhatikan sahabatnya itu dari atas sampai bawah.
“Apaan sih lo,” kesal Abi.
“Gue mau periksa aja, alhamdulillah masih lengkap. Gue takut pas lo hanyut di laut, kuping lo digigit hiu.”
“Hahaha... hiu juga mikir-mikir kali mau nyemil dia,” celetuk Cakra.
Abi tak menanggapi ucapan kedua sahabat durjananya. Namun tak ayal senyumnya terbit, momen seperti ini sangat dirindukannya akhir-akhir ini. Tangan Abi terlentang kemudian merangkul bahu kedua sahabatnya. Mereka terus berjalan menuju kediaman Sutisna.
Sutisna cukup terkejut begitu mengetahui kalau orang yang diselamatkannya adalah CEO perusahaan besar. Dia kembali menceritakan pada Cakra dan Jojo kronologis dirinya menemukan Abi.
“Saya benar-benar berterima kasih pak Tisna menyelamatkan sahabat saya,” ujar Cakra.
“Yang menyelamatkan tetap Gusti Allah hanya melalui perantara saya.”
“Iya pak, alhamdulillah saya masih diberikan keselamatan oleh Allah,” sambung Abi.
“Jadi gimana Bi? Lo mau langsung balik sekarang? Biar gue urus semuanya?” seru Cakra.
“Iya.. tapi jujur gue masih takut kalau harus naik perahu atau speed boat.”
“Biar gue telpon Agung, suruh dia sewa helikopter ke sini. Tinggal kirim titik koordinatnya aja.”
Cakra berdiri kemudian beranjak keluar rumah untuk menghubungi Agung. Lilis datang membawakan teh tawar untuk para tamunya. Setelah meletakkan minuman di atas meja, dia duduk di samping bapaknya.
“Bapak, mohon maaf sebelumnya. Saya tahu apa yang bapak lakukan untuk saya tidak bisa digantikan dengan apapun. Tapi ijinkan saya untuk membalas semua kebaikan yang sudah bapak lakukan. Tolong katakan apa yang bapak inginkan atau butuhkan. Kalau saya bisa, saya akan melakukannya.”
Sutisna terdiam sebentar, dia melihat ke putri satu-satunya. Mengingat usia anaknya yang hampir mencapai tiga puluh tahun, tentu saja dia menginginkan anaknya secepatnya mempunyai pendamping.
“Begini pak Abi. Bapak mah tidak mau apa-apa. Jujur, yang bapak inginkan saat ini adalah melihat Lilis menikah dan memberi bapak cucu.”
“Lalu?”
“Kalau boleh, bapak dan Lilis ingin ikut pulang ke Bandung. Bapak mau kembali ke Banjaran. Mungkin saja, jodoh Lilis ada di sana, bukan di sini. Lagi pula, pak Petrus, pemilik rumah ini akan kembali ke sini. Rasanya sudah cukup kami tinggal di sini. Saya mau pulang ke Banjaran.”
“Tentu saja bisa pak. Bapak dan Lilis bisa ikut pulang ke Bandung. Tapi apa di sana bapak sudah punya tempat tinggal?”
__ADS_1
“Gampang itu, bapak dan Lilis, sementara bisa tinggal di rumah saudara dulu. Yang penting kembali dulu.”
“Ok, kalau begitu. Silahkan bapak bersiap.”
“Kami hanya bawa baju saja. Sama seperti pertama datang ke sini. Ayo Lis, bereskan pakaian kamu, kita pulang. Mungkin ini rencana Allah mempertemukan bapak dengan pak Abi, supaya kita bisa kembali.”
“Beneran pak, kita pulang ke Banjaran?”
“Iya, Lis.”
“Alhamdulillah.”
Lilis memeluk sang ayah, hatinya sungguh bahagia bisa kembali ke tanah kelahirannya. Wanita itu bergegas menuju kamarnya untuk membereskan pakaian, begitu pula dengan Sutisna. Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk membereskan bawaannya. Setelah itu dia berkeliling kampung untuk berpamitan dengan warga setempat.
Abi meminjam ponsel Cakra kemudian menghubungi Andhiar. Dia meminta Andhiar mempersiapkan sebuah rumah untuk Sutisna dan mencari posisi yang kosong di perusahaan untuk Lilis sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Abi berharap dengan cara ini dia bisa membantu Sutisna memulai kehidupan yang lebih baik di kampung halamannya.
Usai menerima panggilan dari Agung, Cakra segera mengajak yang lain untuk menuju titik penjemputan. Sutisna menitipkan kunci rumah pada salah satu tetangganya, kemudian segera menyusul sang anak yang sudah lebih dulu pergi bersama trio bajaj.
“Gimana keadaan kak Juna?” tanya Abi.
“Tanpa gue cerita, lo pasti tahu bagaimana keadaannya. Dia itu sayang banget sama elo, pastinya dia shock dengar kabar lo hilang.”
“Nina dan anak-anak?”
“Apalagi mereka. Nina sempat shock, dia seperti kehilangan gairah hidup. Tapi ketika perusahaan goncang, dia kembali bangkit memberikan dukungan untuk Ken. Ken juga bisa diandalkan, dia menggantikan posisi lo di perusahaan. Bahkan dia bisa meyakinkan tuan Sander untuk berinvestasi di proyek one stop hotel kalian. Dia juga selalu menguatkan Frey dan Nan.”
Abi tersenyum bangga mendengar keberhasilan sang anak. Setelah mendengar apa yang dikatakan Cakra, dia semakin tak sabar untuk bertemu dengan keluarganya. Istri, anak-anak, kakak dan juga adiknya. Mata Abi berkaca-kaca mengingat semua orang yang disayanginya.
☘️☘️☘️
“Kak..”
Langkah Juna terhenti begitu mendengar suara yang begitu dirindukannya. Untuk sesaat pria itu terpaku di tempatnya. Antara percaya tak percaya dia menatap Abi yang tengah berjalan ke arahnya. Abi memang memutuskan untuk bertemu dengan Juna lebih dulu. Pria itu tahu, pasti sang kakak begitu mencemaskannya. Ini kali kedua dirinya membuat Juna khawatir.
“Kak.. maaf sudah membuatmu khawatir lagi.”
“Bi.. ini benar kamu,” Juna menepuk rahang sang adik.
“Iya kak. Alhamdulillah, aku masih dikasih umur dan bisa bersama kalian lagi.”
Juna langsung memeluk Abi, akhirnya Tuhan mengabulkan doa-doanya. Airmata haru keluar dari kedua matanya. Beberapa kali tangannya menepuk punggung adiknya. Abi pun tak kalah terharu, matanya juga berkaca-kaca.
“Papa!!”
Pelukan kedua pria itu terurai begitu mendengar panggilan Alisha. Gadis itu berlari ke arah Abi lalu memeluk pinggangnya. Abi menggendong Alisha lalu mencium kedua pipi gadis itu. Tak lama Azra dan Ezra juga bergabung. Si kembar juga tak kalah bahagia melihat Abi sudah kembali.
“Papa jangan pergi lagi ya,” ucap Alisha.
“Iya sayang.”
“Kasihan Nan, sedih terus. Al kan kangen berantem sama Nan.”
Abi tergelak mendengar ucapan keponakannya itu. Perlahan diturunkannya tubuh Alisha. Bergantian dia mengusak puncak kepala Ezra dan Azra seraya mendaratkan ciuman di puncak kepala mereka.
“Kak Abi.”
Anfa yang mendengar kepulangan Abi segera menuju ke rumah Juna. Pria itu bergegas mendekat kemudian memeluk kakak iparnya itu.
“Alhamdulillah kakak selamat. Kak Nina sama anak-anak pasti senang.”
“Iya Fa, alhamdulillah. Terima kasih selama ini kamu sudah menjaga mereka.”
Abi mengurai pelukannya lalu menepuk rahang adik iparnya itu pelan. Anfa menghapus genangan air di sudut matanya. Seperti sebuah keajaiban, sang kakak yang hilang selama dua minggu akhirnya bisa kembali dengan selamat.
“Aku pulang dulu,” pamit Abi.
“Iya Bi.”
Abi menepuk pelan pundak Anfa, kemudian melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang hanya terhalang dua rumah saja. Pria itu mempercepatnya langkahnya, dia berlari menuju rumahnya. Pak Asep terkejut melihat kedatangan Abi. Pria itu segera membukakan pintu pagar untuk majikannya itu.
“Ya Allah pak Abi, alhamdulillah.”
“Ibu dan anak-anak ada?”
“Ada pak.”
Abi bergegas masuk ke dalam rumah. Tujuan pertamanya adalah kamar miliknya. Dengan gerakan pelan dia membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. Dilihatnya sang istri tengah berdiri termenung di teras kamar. Perlahan Abi mendekat lalu memeluk bahu sang istri dari belakang.
☘️☘️☘️
**Bahagianya Abi bisa berkumpul lagi sama keluarga. Momen pertemuan mereka besok aja ya😉
Ada yang nanya kabar mamake karena ngga up kemarin. Alhamdulillah, aku baik² aja. Tapi seperti yang aku pernah bilang sebelumnya kalau Jumat adalah family time buatku. Karena ayah cuma bisa pulang seminggu sekali. Jadi khusus hari Jumat aku habisin waktu bareng keluarga.
Yang merasa di php karena aku ngga up, maaf ya. Aku juga sama seperti kalian, ibu rumah tangga yang punya kewajiban sebagai istri dan ibu. Hal yang wajar kan kalau aku pengen spend some quality time with my family once a week. Tenang aja aku bakal cepat bikin karya ini tamat biar ANDA tidak merasa di php. Sebagai penulis dan pembaca, aku harap kita bisa saling berempati. Terima kasih**.
__ADS_1