KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Getar-getar Cinta


__ADS_3

Tepat pukul setengah lima sore, Kenzie dan Nara keluar dari kantor. Seorang security telah menyiapkan mobil yang biasa dikendarai pria itu di depan pintu masuk kantor. Bersama dengan Nara, dia naik ke dalam mobil. Perlahan kendaraan roda empat itu mulai meninggalkan area kantor Metro East.


Nara melirik ke arah Kenzie yang tengah mengemudikan mobil. Lengan kemeja panjang yang digulung sampai ke siku dan rambutnya yang sedikit acak-acakkan justru membuat pria itu terlihat semakin tampan. Gadis itu langsung membuang pandangannya ke jendela samping begitu menyadari kalau pikirannya baru saja mengagumi pria di sebelahnya.


Suasana di dalam mobil sudah seperti kuburan, sunyi senyap dan hening. Baik Kenzie maupun Nara tak ada yang berminat memulai pembicaraan. Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Kenzie sudah sampai di tempat tujuan. Nara terkejut mengetahui Kenzie mengajaknya ke butik Azra.


“Kita mau ngapain ke sini?” tanya Nara.


“Main gundu.”


“Hah?”


Kenzie terus berjalan memasuki butik yang memiliki tiga lantai. Kedatangannya langsung disambut salah satu pegawai Azra yang telah mengenalnya. Walau masih bertanya-tanya, Nara tetap mengikuti Kenzie. Azra terkejut melihat kedatangan sepupu juga sahabatnya.


“Ken.. tumben ke sini.”


“Cariin gue baju buat ke acara malam ini.”


“Acara apa?”


“Launching produk kosmetik.”


“Ok.”


“Sekalian lo cariin baju buat dia juga. Terus dandanin sekalian biar ngga kaya bebi La Fea.”


“Betty La Fea,” ralat Nara.


“Ck.. beda dikit doang.”


Azra mengangguk kemudian menarik Nara bersamanya. Sedang Kenzie menunggu di salah satu sofa yang tersedia. Tak lama Azra kembali, dia meminta Kenzie membersihkan tubuh lebih dulu di lantai tiga. Tanpa banyak bertanya, pria itu mengikuti arahan sepupunya.


Satu setengah jam berlalu, akhirnya acara make over selesai sudah. Kenzie nampak gagah dalam balutan tuxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu dan sapu tangan yang sedikit tersembul di saku jasnya. Rambutnya juga sudah ditata rapih. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan penampilan pria itu, perfect.


Beberapa saat kemudian, Azra keluar bersama dengan Nara. Kenzie langsung menolehkan kepalanya. Untuk sesaat dia terpaku melihat penampilan Nara. Tubuh Nara terbalut dress selutut berwarna putih. Wajahnya dipulas make up tipis namun tetap memancarkan kecantikan. Azra sedikit membuat rambut sahabatnya sedikit bergelombang. Dan itu semakin menambah kecantikannya.



“Ehem!!”


Deheman Azra sukses membuyarkan lamunan Kenzie. Dengan cepat pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Nara menundukkan kepalanya, pipinya bersemu merah mendapat tatapan begitu intens dari Kenzie.


“Gimana? Cantik kan?” tanya Azra.


“Lumayan.”


“Hilih.. lumayan tapi dipelototin terus,” ledek Azra.


Kenzie tak mempedulikan ejekan sepupunya itu. Dia menyodorkan kartu ATM pada Azra. Dengan cepat gadis itu memproses pembayaran. Azra mengembalikan kartu pada sang empu setelah selesai memproses transaksi.


“Karena lo sepupu gue. Gue kasih diskon 3%.”


“Dasar pelit,” gerutu Kenzie.


“Kalau kliennya sultan model elo, wajib pelit gue,” Azra menjulurkan lidahnya ke arah Kenzie.


“Ayo Ra,” ajak Kenzie.


Nara segera berjalan di samping Kenzie. Namun karena high heels yang dikenakannya cukup tinggi, kaki Nara terpeleset. Dengan cepat dia menangkap lengan Kenzie. Untuk sesaat pandangan keduanya bertemu.


“Ngga apa-apa?”


“Ngga.”


“Az... tuh sepatu ketinggian kali. Ganti aja sama sendal jepit.”


“Lo tuh ya Ken, bener-bener nyebelin,” kesal Azra.


“Dasar naga kutub.”


Dengan kesal Nara melepaskan lengan Kenzie. Gadis itu lalu pergi meninggalkannya. Kenzie bergegas menyusul kemudian meraih tangan Nara dan melingkarkan ke lengannya. Dia melambatkan langkahnya agar Nara tak kesulitan menuruni anak tangga.


☘️☘️☘️


Peluncuran produk Inner Beauty dilakukan di ballroom hotel Arjuna. Tamu undangan sudah banyak berdatangan. Setelah memberikan kunci mobil pada petugas vallet. Kenzie memasuki lobi hotel bersama dengan Nara. Tangan gadis itu memeluk lengan Kenzie. Bukan untuk terlihat mesra tapi agar dirinya tidak terjatuh lagi.


Nara melepaskan tangannya ketika mereka mendekati sang pemilik hajat. Setelah menyapa dan berbincang sebentar, salah satu panitia acara mengarahkan keduanya menuju meja yang diperuntukkan untuk mereka. Kenzie menarik dua buah kursi untuk dirinya juga Nara.


Tangan kenzie terulur mengambil kertas berbentuk segitiga yang ada di atas meja. Di sana tertulis namanya juga Aric yang akan menempati meja ini. Pihak penyelenggara memang telah menyediakan meja di bagian depan, khusus untuk tamu spesial mereka. Tak lama Aric datang dan bergabung di meja.


Dengan santai Aric menarik kursi di samping Kenzie. Nara bingung melihat Aric datang sendiri. Biasanya Naya tak pernah absen menemani Aric menghadiri acara-acara seperti ini. Seorang pelayan datang mengantarkan minuman untuk mereka.


“Bang.. Naya mana?” tanya Nara.


“Ngga tau.”


“Tumben abang ngga dateng sama dia.”


“Sekali-kali ngga apa-apa kan. Mumpung ngga ada Naya, kamu aja yang jadi pasangan abang, gimana?” goda Aric.


Mata Kenzie langsung mendelik ke arah sahabat sekaligus sepupunya itu. Dalam hati Aric hanya terkekeh berhasil menarik perhatian Kenzie. Dia berencana terus menggoda Nara, untuk melihat bagaimana reaksi sepupunya itu. Barra sudah menceritakan perihal rencana Jojo dan Abi menjodohkan Nara. Memang tak ada yang bisa disembunyikan di antara keenam sahabat itu. Semua sudah tahu perihal rencana perjodohan tersebut, kecuali sang korban perjodohan.

__ADS_1


“Setelah peluncuran produk katanya acara hiburannya ada lomba dansa. Ra, kamu mau ikutan ngga?” tanya Aric.


“Aku ngga bisa dansa.”


“Gampang. Tinggal gerakin kaki ke kanan, kiri, depan belakang. Nanti kamu ikutin gerakan aku aja. Kamu dansa sama aku ya.”


“Ehem!!”


“Kenapa Ken? Seret tenggorokan? Nih minum.”


Aric menyodorkan gelas di depan Kenzie lalu memberikan padanya. Dengan kesal Kenzie menyambar gelas lalu meneguknya sampai habis. Aric semakin kesenangan, di tengah kegalauan hubungannya dengan Naya, dia bisa mendapat hiburan melihat naga kutub terserang virus cemburu.


Sementara itu, Ravin tengah berkeliling memeriksa jalannya acara. Demikian juga dengan Freya. Gadis itu baru saja dari dapur untuk mengecek kesiapan awak dapur menyiapkan makanan untuk para tamu. Dia menghampiri Ravin yang tengah berbicara dengan beberapa karyawan bagian service.


Setelah mendapatkan beberapa arahan dari Ravin. Ketiga karyawan lelaki itu segera membubarkan diri. Freya terus berjalan mendekat hingga dirinya sampai di depan Ravin. Gadis itu tertegun melihat Ravin yang terlihat tampan dalam balutan jas hitamnya. Kemudian matanya tertuju pada dasi pria itu yang sedikit miring.


“Bang.. itu dasinya miring. Aku betulin ya.”


Freya berjalan mendekat lalu membenarkan letak dasi Ravin. Jantung Ravin berdetak lebih kencang saat berdekatan dengan Freya. Melihat wajah cantik itu dari dekat serta menghidu aroma parfum yang bercampur dengan aroma tubuh Freya semakin membuat ritme jantungnya tak beraturan.


Tak berbeda dengan Ravin, Freya pun merasakan hal yang sama. Ini pertama kalinya berada begitu dekat dengan pria yang selalu mengejarnya. Mata mereka beradu pandang dan saling mengunci. Gadis itu menundukkan pandangannya karena tak tahan terus ditatap begitu intens oleh Ravin.


“Selesai.. sekarang penampilan abang sempurna.”


Freya menepuk pelan dada Ravin. Dengan cepat Ravin memegang tangan Freya, menahannya untuk terus berada di dadanya. Dan itu sukses membuat debaran jantung Freya semakin cepat.


“Frey.. nanti ada lomba dansa. Kamu mau ngga jadi pasangan dansaku?”


“Bo.. boleh bang.”


Ravin melepaskan pegangan tangannya, lalu dia mengajak Freya menuju salah satu meja. Acara sebentar lagi akan dimulai. Baru saja mereka mendudukkan diri, Adel dan Remy datang bergabung. Freya memutar bola matanya melihat Adel mulai bersikap manis demi menarik perhatian Ravin.


Acara baru saja dibuka oleh pembaca acara atau MC ketika Barra, Ezra dan Hanna tiba. Barra dan Hanna menuju meja yang sudah disiapkan untuk mereka. Kebetulan sekali, keduanya berada di meja yang sama. Tentu saja karena Barra sudah mengaturnya. Anak pemilik Inner Beauty adalah temannya. Bukan hal sulit untuk meminta hal seperti ini. Sedang Ezra menuju meja lain, tak lama Dilara datang lalu duduk di samping pria itu. Ezra memang mengajak Dilara datang, hanya saja gadis itu datang sendiri karena Ezra tak bisa keluar hotel untuk memantau persiapan acara.


Naya juga datang ke acara ini. Anak pemilik Inner Beauty juga temannya, sudah pasti dirinya diundang dan menjadi salah satu tamu kehormatan juga. Karena Aric tak bersamanya, dia mengajak dua sahabatnya, Veruca dan Lucky. Ketiganya langsung menuju meja yang sudah disiapkan.


Deretan model keluar untuk memamerken hasil riasan dengan menggunakan produk Inner Beauty. Setelah berlenggak-lenggok di atas panggung sebentar, muncul sang pemilik Inner Beauty. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mulai memperkenalkan satu set kosmetik keluaran terbaru mereka yang terbuat dari bahan alami dan tanpa bahan kimia berbahaya.


Nara terus memperhatikan dengan seksama semua penjelasan wanita yang berdiri di panggung. Matanya juga bergantian menatap layar putih di belakang wanita tersebut yang memperlihatkan proses pembuatan kosmetik. Sedang kedua lelaki yang duduk bersama dengannya justru tengah berbicara serius. Mereka berbicara dengan suara pelan agar tak terdengar oleh Nara.


“Acara nikah lo ditunda sama bokap?”


“Hmm.. tapi emang gue ada rencana nunda juga. Lo sadar ngga sih kalau sikap Naya berubah drastis akhir-akhir ini?”


“Ngga.”


Aric menoyor kepala sahabatnya ini dengan kesal. Tapi memang salahnya juga bertanya hal tersebut pada Kenzie. Pria itu tak pernah peduli dengan hal atau orang yang tak berkaitan langsung dengannya.


“Ada yang salah sama Naya. Dan gue masih cari tahu apa itu. Dia emang anak manja, tapi dia bukan perempuan egois dan kasar. Tapi akhir-akhir ini dia berubah. Bahkan dia juga bersikap kasar sama Nara.”


“Maksudnya ada yang pengaruhin Naya sampai dia berubah?”


“Iya. Perubahannya drastis banget.”


“Kalau gitu lo harus selidiki dari orang-orang terdekatnya dulu.”


“Nara maksud lo?”


“Bukan. Tapi temennya yang sering nempel sama dia.”


Kenzie menunjuk kedua teman Naya dengan dagunya. Aric mengarahkan pandangannya ke meja yang tak terlalu jauh darinya. Memperhatikan dua orang yang dimaksud Kenzie. Kedua orang itu memang dekat dengan Naya, tepatnya mulai dua tahun lalu. Pria itu memasukkan kedua orang tersebut ke dalam daftar orang yang dicurigai.


“Selidiki dua orang itu. Asal-usulnya, latar belakangnya, bagaimana mereka kenal Naya. Dan lo coba cari tahu orang-orang yang sering ninggalin komen di medsosnya Naya,” sambung Kenzie.


“Gila, banyak banget coy.”


“Ngga usah semua. Di antara mereka pasti ada yang menonjol. Cari yang jadi fans garis keras Naya sekaligus haters Nara.”


“Hmm.. boleh juga usulan lo.”


Sudut mata Aric menangkap Veruca meninggalkan meja. Pria itu berdiri kemudian berjalan menuju arah yang diambil oleh wanita itu. Veruca terus berjalan menuju pintu keluar ballroom. Dengan tergesa dia berjalan menuju toilet. Aric menunggu tak jauh dari toilet wanita. Saat melihat Veruca keluar, dia berjalan seolah tengah melintas di dekat wanita itu.


“Bang Aric..”


Langkah Aric terhenti begitu mendengar panggilan Veruca. Pancingannya berhasil. Dia menunggu Veruca sampai tiba di dekatnya.


“Abis dari mana?” tanya Aric.


“Dari toilet. Abang sendiri aja?”


“Iya. Naya mana?”


“Ada. Kalian lagi ribut ya, tadi Naya cerita. Makanya dia ngajak aku sama Lucky, katanya dia ngga mau dateng sama abang.”


Aric hanya tersenyum tipis. Sepertinya Veruca tengah berusaha membuat jarak antara dirinya dengan Naya semakin menjauh. Sebenarnya seharian ini Naya terus menghubunginya, merengek memintanya menjemput kekasihnya itu. Namun Aric sengaja menolak.


“Gitu ya. Dia marah banget sama aku?”


“Iya. Maklum bang, Naya kan anak manja dan egois.”


“Ya begitulah.”

__ADS_1


Tak terasa keduanya sudah sampai di ballroom kembali. Mereka kembali ke mejanya masing-masing. Naya yang melihat Veruca masuk bersama Aric langsung menginterogasi temannya itu.


“Kok lo bisa sama bang Aric?”


“Ketemu di depan.”


“Dia nanyain gue ngga?”


“Ngga. Kayanya dia beneran ngga peduli sama elo deh.”


“Bang Aric keterlaluan.”


“Lihat Nay, dia malah asik-asikkan ama Nara. Wah parah sodara kembar lo. Hati-hati ditikung. Mana dia dandan cantik banget, pasti sengaja tuh buat goda bang Aric. Apalagi lo lagi ada masalah sama doi.”


Veruca terus memanasi Naya. Mengarahkan gadis itu agar semakin membenci saudaranya dan kecewa dengan tunangannya. Dan usahanya berhasil. Naya bukan hanya terlihat kesal, tapi juga marah.


Naya beranjak dari duduknya. Mendengar Aric tak peduli pada dirinya membuat gadis itu meradang. Apalagi melihat keakraban Nara dengan Aric, kepalanya sudah dipenuhi kepulan asap. Dia memilih keluar untuk menenangkan diri.


“Lo pasti bohong kan,” ujar Lucky begitu Naya meninggalkan meja.


“Hmm.. gue harus bikin mereka tambah jauh kan. Syukur-syukur gue bisa gaet Aric, lumayan dapet bonus. Uang dapet, cowok juga dapet. Eh.. lo denger gue ngga.”


Veruca menepuk punggung Lucky yang sedari tadi tak memperhatikan ucapannya. Lelaki itu sibuk memandangi seseorang. Veruca mengikuti arah pandang Lucky yang tengah melihat ke arah Nara.


“Itu Nara?”


“Iya.. cantik ya. Gue ngga nyangka si Nara bisa secantik ini.”


“Jadi gimana rencana selanjutnya?’


“Terusin rencana lo misahin Naya sama Aric. Goda Aric juga biar jatuh ke pelukan lo. Dan gue bakal godain Nara.”


“Dila gimana?’


“Gampang. Lo terus racunin anak itu. Sekalian goda Ezra juga. Bikin Dila patah hati jadi gue bisa masuk buat deketin dia. Suruh pasukan haters lo terus serang Nara, buat cewek itu down. Gue bisa deketin Nara juga. Biasanya cewek insecure gampang luluh dengan sedikit perhatian dari lawan jenis. Setelah itu, gue bisa bawa Nara sama Dila ke ranjang hahaha...”


“Barra?”


“Itu urusan si om. Kita kan cuma ngurusin tiga anak ceweknya Jojo aja.”


Veruca hanya menganggukkan kepalanya saja. Sepertinya ide Lucky bagus juga. Dia harus bergerak cepat menyelesaikan misi yang sudah diberikan padanya juga Lucky. Seseorang meminta mereka menghancurkan keluarga Jojo secara halus dan perlahan. Usaha mereka selama tiga tahun akhirnya mulai membuahkan hasil. Keretakan sudah mulai terjadi di antara anak-anak Jojo.


“Bos udah transfer uang belum?” tanya Lucky.


“Belum. Besok kali. Kalau besok belum masuk juga, gue telpon dia.”


“Bilang, misi semakin mendekati hasil. Biar kita kecipratan bonus.”


“Iya.. tenang aja.”


Lucky mengambil ponselnya kemudian membidikkan kamera ke arah Nara. Dilihatnya hasil foto candidnya. Merasa belum puas, Lucky kembali membidikkan kameranya. Apa yang dilakukan Lucky tertangkap oleh Kenzie.


“Ra.. kamu kenal sama temennya Naya yang di sana?”


Dengan sengaja Kenzie menunjuk ke arah Lucky yang masih mengarahkan kameranya pada Nara. Kepala Nara menoleh ke arah Lucky, membuat pria itu harus menghentikan aksinya.


“Yg cowok Lucky, yang cewek Veruca.”


“Lucky apa panjangnya?”


“Lucky Strike hahaha...”


“Ditanya serius malah bercanda.”


“Ya mana aku tahu bang. Kenal juga ngga. Aku tahu karena Naya suka cerita soal mereka. Emang kenapa sih? Jangan bilang abang naksir hahaha...”


Tawa Nara terhenti ketika Kenzie memasukkan potongan jeruk lemon yang menghiasi pinggiran gelas minumannya. Dengan cepat Nara mengeluarkan jeruk dari mulutnya. Gadis itu langsung menyambar minumannya untuk mengurangi rasa asam yang menyapa lidahnya.


Kenzie beranjak dari duduknya dan berjalan agak menjauh dari meja. Dia mengeluarkan ponsel lalu menghubungi asistennya. Panggilan pertama tak terjawab, Kenzie kembali mencoba. Baru pada panggilan kedua ini, Fathan menjawabnya.


“Apa?”


“Cari tahu soal Lucky.”


“Lucky siapa?”


“Lucky Strike.”


“Lo kalau mau cari Lucky Strike di kios rokok sono,” kesal Fathan.


“Lucky temennya Naya. Coba lo tanya sama Azra, mungkin kenal. Cari tahu semua soal dia. Hal sekecil apapun lo harus dapet. Gue kasih waktu satu hari.”


“Lo ngajak ribut ya Ken. Seenaknya ngasih tugas dadakan kaya tahu bulet.”


“Gue ngga mau tau. Kalo lo mau kencan lo aman terkendali, cari yang gue minta, ASAP (As Soon As Possible).’


Tanpa menunggu jawaban dari Fathan, Kenzie langsung memutuskan panggilan. Saat akan kembali ke meja, matanya menangkap Lucky tengah berjalan ke arahnya dengan ponsel menempel di telinganya. Kenzie melangkahkan kakinya mendekati Lucky. Kemudian dengan sengaja dia menyenggol tubuh Lucky cukup kencang hingga ponsel yang dipegangnya terjatuh.


KRAK!!


☘️☘️☘️

__ADS_1


**Waduh kastengel mamake udah mateng. Papay, mau angkat dulu kue yak🤣


Besok seperti biasa, daku absen dulu. Oceh😉**


__ADS_2