KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Aksi Penyerangan


__ADS_3

Dengan tergopoh Dendi masuk ke kediaman Abi. Nina langsung menyuruh pria yang kini menjabat sebagai wakil kepala keamanan keluarga Hikmat untuk menuju ruang kerja pribadi suaminya. Di sana Abi tengah berbincang dengan Juna. Setelah mengetuk pintu, Dendi masuk ke ruangan.


Abi terkejut melihat orang kepercayaannya pagi-pagi sudah datang ke rumahnya. Keningnya semakin berkerut melihat wajah pria itu nampak tegang. Dia lalu memperlihatkan Dendi untuk duduk.


“Ada apa?” tanya Abi.


“Duta pak.”


“Kenapa dengan Duta?”


“Rencananya terbongkar. Septa dan Jamal berkhianat, mereka membongkar semua rencana kita. Mereka juga menyebutkan semua alat pengaman yang terpasang di semua keluarga Hikmat. Mereka menangkap Duta dan menyiksanya. Salah satu anak buah kita menemukan Duta tertembak. Pelakunya bisa dipastikan Septa. Saat ini Septa dan Jamal sudah resmi membelot pada Lucky.”


“Bagaimana dengan Duta? Apa dia selamat?”


“Ngga pak...”


Suasana sepi sejenak. Baik Abi maupun Juna tak mengatakan apapun. Keduanya hanya saling berpandangan. Karena tak ada yang harus disampaikan lagi, Dendi berpamitan. Dia harus melakukan apapun itu untuk mencegah Lucky menjalankan rencananya.


Kenan yang tengah menuruni anak tangga terkejut melihat kedatangan Dendi sepagi ini. Jika pria itu muncul di rumah di waktu yang tak biasa, maka ada hal serius yang terjadi. didorong rasa penasarannya, Kenan bergegas menyusul Dendi yang hendak masuk ke mobilnya.


“Om.. tumben pagi-pagi udah ke sini. Ada yang penting ya?”


“Cuma laporan biasa aja.”


“Masa?” Kenan melihat ke arah Dendi dengan pandangan penuh menyelidik.


“Mas Kenan ada rencana keluar hari ini?”


“Ada nanti siang, kenapa?”


“Hati-hati mas. Perlu saya kirim pengawal bayangan untuk menjaga?”


“Emang aku anak kecil apa? Ngga usahlah. Ngomong-ngomong bang Duta kemana? Kok aku ngga lihat?”


“Dia lagi ada tugas lain. Saya pergi dulu ya.”


Dendi bergegas masuk ke dalam mobilnya. Bahaya jika terlalu lama berbicara dengan Kenan. Selain tingkat keponya yang berada di level maksimal, Kenan juga anak yang cerdas. Dia bisa cepat menganalisis situasi di sekitarnya. Tak menunggu lama, Dendi segera melajukan kendaraannya.


☘️☘️☘️


Di sebuah kedai kopi, Lucky dan Veruca tengah berkumpul dengan para preman bayarannya, termasuk Toni, Septa dan Jamal. Mereka memilih hari ini sebagai hari penyerangan keluarga Hikmat. Awalnya sang bos tak menyetujui rencana Lucky yang ingin mengusik keluarga Hikmat. Tapi begitu mendengar rencana matangnya, ditambah dua pembelot dari tim keamanan keluarga tersebut, bos tersebut menyetujuinya.


Lucky memperhatikan Septa yang tengah memberikan arahan pada para orang bayarannya. Total ada lima puluh orang yang disewa tenaganya untuk melancarkan rencananya. Kelima puluh orang tersebut juga memiliki kemampuan bela diri. Pria itu tersenyum puas melihat kerja kerasnya sebentar lagi akan membuahkan hasil.


Dia sama sekali tak menyangka kalau Septa cukup baik mengatur strategi penyerangan. Ide menyerang secara langsung di waktu bersamaan adalah ide Septa. Sepertinya pria itu memang memiliki dendam kesumat pada keluarga Hikmat. Lucky tak ragu menjadikan Septa, tangan kanannya.


Terdengar Septa membagi orang-orang dalam empat tim. Tim pertama berisi 12 orang akan menyerang Kenan. Tim kedua berisi 20 orang, tugasnya menyerang Alisha dan menculiknya. Salah seorang rekan yang ikut membelot akan merusak sistem ECU pada kendaraan Alisha. Mela sendiri akan ikut membantu saat Alisha berhasil dibekuk. Gadis itu sudah menemukan tempat untuk mengurung Alisha sementara waktu.


Tim ketiga bertugas menjaga Veruca yang akan memancing Dendi dan yang lain untuk memudahkan Lucky membawa pergi Nara. Karena Duta sudah disingkirkan, maka tugas menjadi lebih ringan. Mereka hanya harus menghadapi Dendi. Dipastikan pria itu akan turun langsung menjaga keamanan. Jamal dan Toni bersama dengan delapan orang lainnya akan mengawal Veruca.


Terakhir, tersisa 10 orang plus dirinya yang akan bertugas mengawal Lucky. Tim Veruca akan berangkat lebih dulu dan menunggu di titik yang sudah ditentukan. Veruca menggunakan mobil yang sama dengan Lucky. Bahkan Septa telah menyiapkan plat mobil yang sama juga untuk mengecoh Dendi. Mereka nanti akan bertukar tempat tujuan begitu sampai di titik pertemuan.


Usai memberi pengarahannya, semua orang yang sudah terbagi ke dalam tim segera bersiap. Tim pertama berangkat lebih dulu, mereka menunggu di tempat yang diperkirakan akan dilewati oleh Kenan. Tim kedua juga mulai bersiap, mereka berangkat menuju kampus Alisha. Nantinya mereka akan mencegat di tempat yang biasa dilewati Alisha. Bahkan mereka sengaja memblokir tempat tersebut agar sepi dari lalu lalang kendaraan.


“Semuanya sudah siap. Saya dan Jamal akan berangkat lebih dulu. Nara masih ada di kantor. Tapi setelah jam makan siang dia harus bertemu klien tanpa Kenzie. Kamu bisa mencegatnya dengan aman.”


“Bagaimana kamu bisa tahu soal jadwal Nara?”


“Aku sudah menyadap hp Nara dan menaruh penyadap di ruang kerja Kenzie. Tenang saja, aku juga punya sekutu di kantor itu.”


“Baiklah.. ayo kita jalankan rencana ini,” ucap Lucky antusias.


Septa mempersilahkan Veruca naik ke mobilnya bersama seorang pengawal. Dia dan Jamal beserta yang lain menyusul di belakangnya. Begitu pula dengan Lucky, pria itu segera bersiap. Dia naik ke mobilnya lalu duduk di samping kursi pengemudi. Toni sendiri sudah siap dibalik kemudi. Dia hanya tinggal menunggu aba-aba Lucky untuk bergerak.


☘️☘️☘️


PENYERANGAN PERTAMA


Sekali lagi Kenan mematut dirinya di depan cermin. T-shirt berwarna putih dibalut dengan kemeja tangan panjang motif kotak-kotak yang lengannya dilipat sampai siku melekat pas di tubuhnya yang atletis. Dia merapihkan rambutnya sekali lagi kemudian menyambar ransel yang ada di atas kasur.


Sambil bersiul, Kenan menuruni anak tangga. Rencananya hari ini dia akan berburu perlengkapan untuk studio musiknya. Pandangannya mengedar ke sekeliling sesampainya di lantai bawah. Suasana rumah begitu sepi, mamanya sedang ikut ke kantor bersama sang papa. Tak biasanya Abi memaksa Nina ikut ke kantor. Tapi hari ini dia bersikeras mengajak istrinya.


Kenan berjalan menuju tunggangannya. Seperti biasa pria itu masih betah menggunakan kendaraan roda duanya. Walau Abi sudah memberinya mobil, tapi pemuda itu masih enggan memakainya. Menggunakan sepeda motor lebih bebas dan mencerminkan kepribadiannya.

__ADS_1


Dengan cepat Kenan memakai helmnya kemudian menaiki kuda besinya. Beberapa kali dia menggerakkan tangannya, terdengar gerungan motornya bertambah kencang. Tak lama motor sport itu bergerak meninggalkan kediaman orang tuanya.


Di tengah teriknya matahari yang menyinari kota Bandung, Kenan terus memacu kendaraannya. Dia sengaja memilih jalan pintas untuk menghindari kemacetan. Kota Bandung memang tidak selengang dulu, kini kemacetan bisa ditemui di mana-mana. Kenan menurunkan kecepatannya ketika berbelok ke kanan. Ini adalah jalan yang biasa dia lewati saat ingin memangkas waktu perjalanan.


Seperti halnya permasalahan jalanan di kota Bandung, jalan pintas yang dipilihnya juga memiliki banyak lubang di sana sini. Terkadang Kenan harus meliukkan kendaraannya demi menghindari jalan berlubang. Dari arah spion, dia melihat dua buah mobil ada di belakangnya. Tanpa merasa curiga Kenan meneruskan perjalanannya.


Salah satu mobil yang ada di belakangnya tiba-tiba menyalip dengan kecepatan tinggi. Kemudian beberapa meter di depan, mobil tersebut berhenti dengan posisi menyilang menghalangi jalan. Terkejut melihat mobil di depannya, Kenan mengerem kendaraannya. Di saat bersamaan sebuah sebuah motor menyusul. Seorang yang ada di jok belakang menendang motor Kenan dengan kencang.


Tak siap menerima benturan di motornya, Kenan kehilangan keseimbangan. Dia tak dapat menahan motornya dan terjatuh dengan posisi miring. Pemuda itu mengerang ketika sebelah kakinya tertimpa bodi motor. Mobil yang ada di belakangnya berhenti, begitu juga motor yang tadi menyusulnya.


Kedua orang yang ada di motor turun kemudian menghampiri Kenan. Bukan hanya mereka, tapi penumpang yang ada di mobil depan dan belakang juga ikutan turun. Beberapa di antara mereka memegang tongkat baseball. Jumlah mereka jika ditotal ada 12 orang.


Sadar akan bahaya yang mengincarnya, Kenan berusaha melepaskan diri dari tindihan motor. Sementara orang-orang itu semakin mendekat. Dengan sekuat tenaga Kenan berusaha melepaskan diri. Salah seorang mendekat, dengan tongkat baseball di tangannya dia merangsek maju kemudian memukulkan benda tumpul itu ke tubuh Kenan.


Refleks Kenan menggerakkan tangannya menutupi bagian dadanya agar tidak terkena hantaman. Dia akhirnya bisa meloloskan diri dari himpitan bodi motor. Tapi para penyerangnya terlanjur mendekat. Tanpa ampun mereka menyerang pemuda itu. Pukulan dari tongkat baseball, juga tendangan sukses mendarat di tubuh Kenan.


☘️☘️☘️


PENYARANGAN KEDUA


Matahari sudah sedikit bergeser ke arah barat ketika Alisha keluar dari gedung fakultasnya. Gadis itu langsung menuju area parkir kampus. Tangan Alisha mengarahkan kunci ditangannya hingga terdengar suara kunci mobil terbuka. Dia masuk ke dalam mobil berjenis sedan itu. Setelah meletakkan tasnya di jok belakang, gadis itu memakai seat beltnya. Kakinya kemudian bergerak menekan pedal gas. Kendaraan itu bergerak perlahan.


Setiap harinya rutinitas gadis ini dapat ditebak. Tujuan perjalanannya hanyal kampus dan rumah. Kalau pun dia ingin pergi ke suatu tempat, hanya kantor ayah, kakak dan para pamannya saja yang didatangi. Alisha memang tak memiliki teman dekat, dia juga jarang bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Di lingkungan kampus dia terkenal dengan sebutan gadis angkuh dan dingin. Tapi Alisha tak mempedulikan itu semua.


Alisha juga jarang menghabiskan waktu seperti kaum muda pada umumnya. Jalan-jalan ke tempat wisata, sekedar windows shopping di mall, nonton bioskop atau nongkrong di cafe, tak pernah dilakukannya. Anya sudah sering mengajak gadis itu ke cafe tempat Kenan dan yang lainnya tampil. Tapi Alisha selalu menolaknya.


Mobil Alisha berbelok melewati jalanan yang biasa dilewati. Dia cukup bingung, jalanan yang dilewatinya terkesan lengang. Walau tak sampai menimbulkan kemacetan, namun jalan ini biasanya cukup ramai dilewati pengendara roda dua dan empat. Di tengah keheranannya, tiba-tiba saja mobilnya berhenti. Beberapa kali gadis itu mencoba menstater kendaraannya namun tetap tak mau menyala.


Alisha menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Sepertinya mobil yang dikendarai benar-benar mogok. Dia mengambil ponsel lalu menghubungi bengkel langganannya. Manager bengkel berjanji akan mengirimkan montir dan mobil derek ke lokasinya.


DUG


DUG


DUG


Alisha dikejutkan ketika seseorang menggedor kaca mobilnya. Dilihatnya tiga orang lelaki berdiri di dekat pintu mobil. Sayup-sayup terdengar teriakan salah satu pria itu menyuruhnya turun. Karena tak kunjung turun, salah seorang yang memegang tongkat baseball, memukulkan benda tumpul itu ke kaca jendela.


Terkejut dengan tindakan pria itu, Alisha refleks menutupi wajahnya. Beruntung kaca mobilnya cukup tebal hingga tak gampang pecah. Sadar dirinya dalam bahaya, Alisha mengambil ponselnya kemudian mengirimkan sinyal bahaya pada tim keamanan. Pria di luar terus saja memukulkan tongkat ke kaca mobil. Sedikit demi sedikit terlihat keretakan pada jendela.


“Siapa kalian?”


“Ayo ikut kami, ada yang ingin bertemu.”


“Siapa?”


“Yang pasti orang yang sangat merindukanmu.”


“Suruh orang itu datang ke sini kalau dia memang merindukanku.”


“Banyak bacot. Sikat.”


Ketiga pria bertubuh kekar itu segera menyerang Alisha bersamaan. Dengan cepat gadis itu berkelit. Dengan kemampuan bela diri yang dimilikinya, dia menghajar ketiga preman tersebut. Ternyata Alisha bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Ketiga pria bertubuh kekar itu berhasil dibuat terkapar olehnya.


Alisha dapat bernafas dengan lega berhasil mengalahkan lawannya. Namun itu tak bertahan lama. Sejurus kemudian, preman lain bermunculan mengurungnya. Alisha menatap orang-orang yang mengelilinginya. Ditambah tiga orang yang dibuat terkapar, total ada 20 orang yang mengepungnya.


Sambil berteriak, Alisha mencoba melawan mereka semua. Dia berlari menuju tempat yang agak luas. Keadaannya semakin terdesak, beberapa pukulan mengenai punggung dan lengannya, namun Alisha mencoba untuk bertahan.


Alisha berlari sedikit menjauh ketika lima orang mengejarnya. Dua orang berhasil menahan tubuhnya dan seorang lagi menendang perutnya hingga gadis itu merintih kesakitan. Melihat Alisha tak berdaya, tiga orang penyerangnya segera membawa gadis itu pergi.


Ketiga orang titahan Lucky membawa Alisha masuk ke dalam mobil. Sekali tancap, mobil tersebut segera melesat. Alisha mencoba berontak, namun salah seorang yang ikut duduk di kursi belakang menodongkan pistol ke arahnya. Mau tak mau, Alisha berhenti berontak. Pria yang satunya lalu mengikat tangan Alisha. Mereka juga menutup mata dan mulut gadis itu dengan kain hitam.


Setelah lima belas menit berjalan, kendaraan mereka berhenti di sebuah bangunan tua yang sudah tak berpenghuni. Dengan kasar, mereka menyeret Alisha masuk ke dalam bangunan tersebut. Kaki Alisha tersandung beberapa kali saat, kakinya menuruni anak tangga. Kemudian dengan kasar mereka mendorong Alisha masuk ke sebuah ruangan.


Alisha menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Bau apek dan pengap langsung menerpa indra penciumannya. Salah seorang pria yang menangkapnya mengikat kedua kakinya, kemudian melepaskan penutup mata dan mulut gadis itu. Alisha mengerjapkan matanya beberapa kali. Saat pandangannya mulai jelas, dia melihat seorang gadis seumuran dirinya berdiri di hadapannya.


“Halo Al.. apa kabar?”


“Mela..”


“Iya.. ini gue Mela, sahabat lo.”


“Cih.. sahabat. Gue ngga punya sahabat.”

__ADS_1


“Bukan cuma sahabat, temen juga lo ngga punya. Karena apa? Karena emang ngga ada yang tulus temenan sama elo. Di dunia ini cuma keluarga lo aja yang sayang sama elo. Sedangkan orang lain, males deket-deket sama elo.”


“Gue ngga butuh yang lain. Keluarga gue juga udah cukup.”


“What?? Hahahaha... kalau ngga ada orang lain, terus lo mau nikah sama siapa? Sama sepupu lo? Atau jangan-jangan sama suami tante lo hahahaha...”


“Brengsek!!”


Ingin rasanya Alisha menampar wajah Mela, sayang kedua tangan dan kakinya masih terikat. Mela maju kemudian berjongkok di depan Alisha. Hatinya kesal melihat gadis di hadapannya ini begitu cantik. Pasti banyak pria yang mengejarnya. Dengan kasar Mela mencengkeram rahang Alisha.


“Denger baik-baik. Lo ngga akan bisa ketemu keluarga lo lagi. Gue bakalan bawa lo pergi jauh. Lo bakal gue jual ke tempat pel*curan. Gue mau lihat ayah lo nangis darah karena kehilangan anak bungsunya. Keputusan lo ngelepas gue dulu, itu salah besar. Tapi gue berterima kasih untuk itu. Dan sebagai tanda terima kasih, gue bakal biarin elo untuk dejavu.”


Mela melepaskan cengkeramannya. Didorongnya tubuh Alisha hingga terjatuh kemudian dia keluar dari ruangan. Saat di dekat pintu, dia kembali menoleh ke arah Alisha.


“Kalau dulu lo masih bisa dapet cahaya dari jendela. Sekarang ngga bisa lagi, sayang. Karena gue udah tutup jendela itu. Jadi, selamat menikmati dunia gelapmu.”


Bertepatan dengan itu lampu di ruangan dan sekitarnya padam. Alisha tak bisa melihat apapun, hanya terdengar suara pintu tertutup. Langkah kaki Mela dan orang-orang yang tadi menangkapnya terdengar semakin menjauh.


☘️☘️☘️


PENYERANGAN KETIGA


CIIITTT


Mobil yang dikendarai Dendi berhenti mendadak ketika dua buah mobil menghadangnya. Dia ditugaskan Abi untuk menjaga Nara menggantikan Duta. Sepuluh orang pria turun dari mobil kemudian mendekati mobil yang ditumpangi Nara juga Dendi. Nara yang duduk di kursi belakang mulai dilanda ketakutan.


“Mba Nara diam saja di mobil. Langsung kunci kendaraan begitu saya turun.”


“Hati-hati, om.”


Dendi hanya mengangguk, pria itu keluar dari mobil. Nara bergegas maju ke bagian depan dan mengunci mobil dari dalam. Gadis itu kembali ke posisi semula, lalu mencari ponselnya. Dia segera mengirimkan sinyal tanda bahaya melalui ponsel.


Sepuluh orang yang menghadang kendaraan Nara langsung merangsek menyerang Dendi. Pria itu berkelit seraya menendang dua orang yang ada di dekatnya. Dari dalam mobil, Nara melihat dengan cemas. Seorang diri Dendi menghadapi para preman itu. di antara mereka ada yang memegang benda tumpul.


Dendi mulai terdesak menghadapi para penyerangnya. Beberapa kali dia terkena pukulan. Hal ini dimanfaatkan Lucky untuk mendekati mobil Nara. Septa mengayunkan kampak di tangannya ke jendela kursi depan. Setelah tiga kali percobaan, dia berhasil memecahkan kaca. Septa membuka kunci mobil dan Lucky segera membuka pintu kursi belakang.


Melihat itu, Dendi berusaha menghalangi Lucky namun seseorang berhasil menendang punggungnya hingga jatuh tersungkur. Dengan paksa, Lucky menarik Nara keluar dari mobil. Sekuat mungkin Nara mencoba melepaskan diri, namun dia kalah tenaga dari Lucky. Septa segera berlari ke mobilnya, pria itu bersiap membawa Nara pergi sesuai rencana.


“Lepas!!!”


Lucky terus menyeret Nara, kemudian dengan kasar mendorong tubuh gadis itu masuk ke dalam mobil. Dia berusaha keluar dari pintu sebelah, namun Lucky lebih dulu masuk lalu menariknya.


“Jalan!!” perintah Lucky seraya menutup pintu.


Dendi yang masih berjibaku berusaha untuk kembali ke mobilnya. Di saat yang bersamaan, dua buah mobil berhenti di dekat area pertarungan. Anak buah Dendi datang dan langsung membantu bosnya. Melihat bala bantuan datang, para penyerang itu segera masuk ke dalam mobil kemudian kabur.


Bersama dengan anak buahnya, Dendi masuk ke dalam mobil lalu segera menyusul para penyerang itu. Dia juga langsung menghubungi Agung untuk mengirimkan bantuan tambahan. Namun Agung mengatakan Dendi harus bisa bertahan dengan tim yang ada karena Agung dan Beno harus mengurus masalah Kenan juga Alisha yang terjadi di saat bersamaan.


Sementara itu, Septa terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Karena Nara tak mau diam, Lucky terpaksa mengancam gadis itu dengan pistol di tangannya. Dengan lakban yang telah disiapkan, dia mengikat tangan Nara juga menutup mulutnya. Pria itu menyeringai senang, rencananya berjalan baik sejauh ini. Dua orang anak buahnya melaporkan kalau Kenan berhasil dilumpuhkan dan Alisha berhasil diculik. Dengan tenang dia menghempaskan punggungnya ke sandaran jok.


Septa tak menurunkan kecepatan ketika anak buahnya melaporkan kalau Dendi dan timnya tengah mengejar mereka. Pria itu menekan pedal gas dalam-dalam, membuat mobil berjenis SUV itu seakan melayang di atas jalan. Di dekat titik pertemuan, Septa melambatkan kendaraannya, kemudian membelokkan kendaraan ke jalan yang ada di sebelah kiri.


Begitu mobil yang dikendarai Septa berbelok, mobil yang ditumpangi Veruca muncul. Mobil tersebut mengambil jalan lurus. Beberapa saat kemudian dua kendaraan yang ditumpangi para preman bayaran menyusul mobil tersebut. Tak lama berselang mobil yang ditumpangi Dendi menyusul. Mereka terus mengejar mobil di depannya. Tanpa mereka tahu kalau kendaraan yang membawa Nara telah berganti arah.


Mobil yang membawa Nara terus bergerak memasuki deretan pohon besar. Jalanan pun sudah tidak mulus lagi. Malam mulai merayap, kondisi kanan kiri jalan menggelap karena tak ada penerangan. Nara semakin ketakutan, namun tak ada yang bisa dilakukan selain berdoa.


Setelah dua puluh menit berjalan, mobil yang dikendarai Septa berhenti di dekat sebuah jembatan. Lucky turun kemudian mengeluarkan Nara dari dalam mobil. Sambil menarik lengan gadis itu, Lucky bersama dengan Septa menyusuri jalan setapak. Senter di tangan Septa memberikan sedikit penerangan.


Mereka terus berjalan memasuki hutan. Suara binatang malam mulai terdengar, membuat Nara bergidik. Dengan langkah terseok-seok, dia mengikuti Lucky. Akhirnya mereka tiba di sebuah kabin yang terbuat dari kayu. Jamal dan Toni telah menunggu kedatangan mereka.


“Mana yang lain?” tanya Lucky.


“Mereka berjaga di sekitar kabin,” jawab Jamal.


“Kamu.. tunggu di sini,” titah Lucky pada Septa yang hanya dijawab dengan anggukan.


Jamal membukakan pintu kabin untuk Lucky. Pria itu kembali menyeret Nara masuk. Dia mendorong tubuh Naya memasuki kabin yang gelap kemudian menyusul masuk. Ketakutan Nara sudah sampai di puncaknya. Setelah membawanya ke tengah hutan, Lucky memasukkanya ke dalam kabin yang gelap. Nara mulai menangis.


Gadis itu terjengit ketika mendengar pintu tertutup. Kemudian terdengar langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Airmata Nara semakin deras bercucuran, menandakan ketakutannya bertambah besar.


“Jangan takut sayang... kita akan bersenang-senang di sini,” bisik Lucky tepat di telinga Nara.


☘️☘️☘️

__ADS_1


😱😱😱🏃🏃🏃


Tegangnya sampe sini dulu ya, mamake mau nengok adek ipar yang lagi sakit...


__ADS_2