KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Encounter


__ADS_3

Anfa memandangi rumah mewah di depannya sesaat setelah dirinya turun dari mobil. Tepukan Abi di pundaknya menyadarkan pemuda itu. Dia berjalan mengikuti Abi masuk ke dalam rumah. Rahma dan Teddy yang sudah mendengar tentang Anfa menyambut kedatangan adik dari Nina itu.


Dengan senyum lebar, Rahma menghampiri Anfa. Ditangkupkan kedua tangannya ke wajah Anfa. Pemuda itu cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Rahma.


“Kamu pasti Anfa, adik dari Nina.”


“I.. i..ya tan..te.”


Rahma tersenyum lalu memeluk Anfa. Tangannya menepuk pelan punggung pemuda itu. Hangatnya pelukan Rahma membuat hati pemuda ini ikut menghangat. Belum pernah dia merasakan pelukan seorang ibu selain ibu kandungnya. Wina tidak pernah memberikan pelukan hangat padanya, terlebih sejak Gean meninggal.


“Nina mana ma?”


Suara Abi menyadarkan Anfa kalau tujuannya ke sini untuk bertemu dengan Nina, kakak kandungnya. Rahma mengurai pelukannya.


“Nina ada di halaman belakang. Mungkin sedang nonton film.”


Abi mengangguk lalu mengajak Anfa menuju halaman belakang. Mereka terus berjalan melewati kolam renang lalu masuk ke ruangan yang dulunya digunakan sebagai ruangan terapi. Sesuai keinginan Nina, Abi merubah ruang terapi menjadi bioskop mini. Isi di dalam dan tata letaknya persis seperti ucapan Nina saat itu.


“Nin..”


Panggil Abi begitu membuka pintu. Nina yang sedang rebahan sambil menonton drama Korea bangun dari posisinya. Dia mengernyitkan keningnya melihat Abi sudah kembali ke rumah padahal waktu masih terbilang pagi.


Anfa terpaku di tempatnya melihat seorang wanita muda berjalan ke arahnya. Matanya terus menatap Nina tanpa berkedip. Wajah Nina mirip dengan sang mama. Walau sudah lama berlalu, Anfa masih bisa mengingat wajah wanita yang telah melahirkannya.


“Mas.. kok udah pulang lagi. Emangnya ngga...”


Kalimat Nina menggantung begitu saja ketika matanya melihat seorang lelaki muda di belakang calon suaminya. Nina melangkahkan kakinya mendekati pemuda di hadapannya. Wajahnya begitu familiar, dan dia mengenali wajah itu. Nina terus berjalan dengan mata yang mulai mengembun kemudian berhenti tepat di depan pemuda itu.


Baik Nina maupun Anfa masih terdiam di tempatnya. Tak ada kata yang terucap, hanya mata saja yang terus memandang satu sama lain. Seperti halnya Nina, mata Anfa pun sudah mulai berkabut. Satu kedipan saja, maka genangan air di matanya akan luruh.


“A..n...fa..”


Suara Nina terdengar tercekat. Selanjutnya hanya suara isakan yang terdengar. Antara percaya dan tidak, dia mendekat lalu menangkup wajah Anfa yang sudah bersimbah air mata.


“A.. An..fa.. ini benar kamu Fa?”


Anfa tak sanggup berkata-kata, dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Airmatanya semakin deras bercucuran. Nina meraba wajah sang adik yang rupanya sedikit berubah namun bisa dikenalinya. Masih belum percaya adik yang dicarinya selama bertahun-tahun, yang dikabarkan sudah meninggal kini berdiri di hadapannya.


“Kak Na..” ucap Anfa di sela tangisannya


“Anfa..”


Nina menarik Anfa dalam pelukannya. Tangis keduanya pecah menumpahkan segala kerinduan yang terpendam bertahun-tahun lamanya. Tubuh keduanya terus saja berpelukan, seakan tak ingin terlepas dan terpisah lagi. Hanya isak tangis yang terdengar. Nina mengurai pelukannya, menatap kembali adiknya yang sudah tumbuh menjadi pemuda tampan. Airmata terus mengalir di pipinya. Anfa menundukkan kepalanya, membiarkan Nina menciumi puncak kepalanya berkali-kali kemudian memeluknya kembali. Abi memandang haru pada keduanya. Dia memilih keluar untuk memberikan mereka waktu berdua.


Nina mengajak Anfa duduk di sofa. Banyak hal yang ingin dibicarakan dengan adik kecilnya itu. Mereka duduk berhadapan sambil menggenggam tangan satu sama lain. Nina terus menatap Anfa, masih belum percaya rasanya sang adik kini berada di depannya.


“Gimana keadaan kakak selama ini? Maaf aku ngga cari kakak, karena aku juga ngga tahu apa kakak masih hidup atau ngga. Makasih kak udah mau cari aku.”


“Kakak baik. Alhamdulillah setelah peristiwa tsunami kakak bertemu dengan orang-orang baik yang menyayangi kakak. Dulu kakak melihatmu hanyut terbawa air, tapi kakak yakin kamu masih hidup karena orang membawamu mengangkatmu tinggi-tinggi untuk menghindarkanmu dari air.”


“Iya kak, bapak itu telah menyelamatkan hidupku. Dia menitipkanku pada orang berada di atap rumah sedang dia dan istrinya terus terbawa arus air.”


Anfa kembali menangis mengingat kisah pilu yang dialaminya bertahun-tahun lalu. Mengingat pengorbanan kedua orang tuanya juga orang lain demi membuatnya tetap hidup dan bernafas hingga kini. Hal itu pula yang membuat pemuda ini kuat menjalani kehidupan sulit bersama Danu dan Wina.


“Syukurlah Fa, kamu masih hidup dan kita bisa dipertemukan lagi. Hanya kamu yang menguatkan kakak selama ini. Kakak berusaha terus bangkit, sekolah, bekerja supaya bisa menghasilkan uang agar bisa menemukanmu. Dan Allah menjawab doa-doa kakak selama ini. Melalui perantara mas Abi, akhirnya kita bisa bertemu.”


“Kakak mau nikah sama kak Abi?”

__ADS_1


Nina mengangguk, lalu mengalirlah cerita hidup dirinya dari mulai tinggal di rumah singgah hingga akhirnya diboyong Lidya ke Bandung. Perjalanan hidupnya yang sebatang kara namun mendapatkan banyak kasih sayang dari Lidya serta anak panti lainnya. Begitu juga saat Nina mulai bekerja sebagai perawat. Bu Siti juga rekan-sekan sejawat begitu peduli dan menyayanginya. Sampai Nina bekerja dengan keluarga hikmat untuk merawat Abi dan berakhir dengan rencana pernikahan mereka.


“Aku bersyukur, kakak menjalani hidup yang baik selama ini.”


“Lalu bagaimana denganmu?”


Anfa terdiam sejenak. Dirinya masih menimbang apakah harus menceritakan yang dialaminya atau mengutarakan hal baik saja. Tapi tak dipungkiri dadanya sesak menahan semua kesedihan di hatinya. Sekarang dia bertemu kembali dengan sang kakak, tak ada salahnya bukan berbagi beban dengannya.


“Fa..”


Anfa terjaga dari lamunannya ketika Nina menyentuh tangannya. Memandang wajah Nina, dia seperti melihat sosok sang mama. Airmatanya kembali mengalir, dia menumpahkan segala kesedihannya dengan merebahkan kepalanya di pangkuan sang kakak. Nina membiarkan Anfa menangis di pangkuannya. Dia merasa kehidupan yang dijalani sang adik tidaklah mudah.


Dada Anfa sedikit plong setelah menangis menumpahkan semua beban di hatinya. Usapan lembut Nina di kepalanya, membuat hatinya semakin tenang. Dia merasa disayangi, dilindungi dan dimanja. Anfa mengangkat tubuhnya lalu duduk berhadapan dengan Nina. Dia sudah siap menceritakan kisah hidupnya yang tak mudah.


“Umur enam tahun aku diadopsi oleh papa Danu dan mama Wina. Mereka sudah memiliki anak laki-laki bernama Gean. Gean seumuran denganku, dia anak yang baik dan pintar. Dia menyayangiku seperti saudara sendiri. Umur 10 tahun kami pindah ke Bandung setelah pembagian raport. Seminggu setelah pindah, kami kembali lagi ke desa untuk mengambil sisa barang dan berpamitan dengan tetangga.”


Anfa menjeda ucapannya. Dihirupnya dalam-dalam oksigen di sekitarnya. Dia butuh pasokan udara lebih agar dirinya kuat menceritakan kisah selanjutnya yang menyesakkan dada. Nina tetap diam menunggu cerita selanjutnya.


“Begitu Gean meninggal, papa dan mama langsung membawa Gean ke Bandung. Mereka mengatakan pada semua orang kalau yang meninggal hanyut di sungai itu aku. Nisan makam Gean pun ditulis dengan namaku. Mama selalu menyalahkanku kalau aku adalah penyebab Gean meninggal. Padahal bukan seperti itu kak. Demi Allah aku sudah berusaha untuk menyelamatkannya, aku berusaha untuk tetap memegang tangannya. Tapi...”


Anfa tak mampu melanjutkan kalimatnya. Pemuda itu kembali terisak. Detik-detik tautan tangan mereka terlepas masih terbayang jelas dalam ingatannya. Bahkan peristiwa tragis itu selalu datang dalam mimpinya. Nina memeluk Anfa, diusapnya pelan punggung adiknya ini untuk menenangkan perasaannya. Anfa melepaskan diri dari pelukan Nina. Diusapnya kasar airmata yang tersisa di pipi. Dia siap kembali melanjutkan ceritanya.


“Sejak tsunami, aku trauma dengan tempat-tempat yang berhubungan dengan air. Aku takut kalau main ke sungai, danau atau pantai. Bahkan aku takut untuk bermain di kolam renang. Hari itu saat Gean mengajakku main di sungai, aku sudah melarangnya. Tapi Gean tetap saja main sampai dia terjebak di air sungai yang deras.”


“Itu kecelakaan Fa.. itu bukan salahmu. Kamu sudah berusaha yang terbaik untuk menyelamatkannya,” Anfa mengangguk, dia melanjutkan ceritanya.


“Setelah Gean meninggal, sikap mama dan papa mulai berubah. Mereka seperti membenciku namun mereka juga membutuhkanku sebagai pengganti sosok Gean. Aku mulai didandani seperti Gean. Rambutku dibuat ikal, begitu juga warna rambutku dibuat kecoklatan seperti Gean. Aku harus melakukan apa yang Gean sukai, memakai apa yang dia sukai, memakan apa yang dia sukai.


Selama sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang Gean. Hobi Gean adalah hobiku, aku harus sembunyi-sembunyi kalau ingin melakukan hobiku. Aku berharap suatu saat mama dan papa akan menerimaku apa adanya. Tapi ternyata sampai hari ini mereka masih membenciku. Satu-satunya hal yang membuat mereka tetap mempertahankanku karena mereka melihat Gean dalam diriku.”


“Apa ada orang yang tahu soal ini?”


“Termasuk Rayi?”


Anfa mengangguk, hati Nina seperti tertusuk sembilu tajam. Ingin rasanya dia menemui pasangan suami istri yang telah membuat adiknya menderita. Membayangkan kesedihan dan kesusahan yang dialami Anfa selama tinggal dengan mereka membuat dada Nina semakin sesak. Buliran bening mengalir membasahi pipinya.


“Jangan menangis kak. Sekarang aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi.”


“Kamu mau tinggal sama kakak di sini?”


“Apa boleh kak?”


“Bukan boleh tapi harus.”


Bukan Nina yang menjawab, melainkan Abi. Pria itu masuk ketika Anfa menceritakan kisah hidupnya yang miris. Abi berjalan mendekat lalu duduk di samping Anfa. Pemuda itu kini berada di antara Abi dan Nina.


“Mulai hari ini kamu tinggal di sini, bersama kakakmu,” Abi kembali menegaskan.


“Tapi mama Wina dan papa Danu.”


“Mereka biar aku yang urus. Dan jangan panggil mereka papa dan mama. Mereka ngga layak mendapat panggilan itu darimu.”


Abi cukup kesal mendengar cerita Anfa tentang orang tua angkat pemuda itu. Sudah tergambar di otaknya apa yang akan dilakukan pada kedua orang keji itu.


“Makasih mas..”


“Dia adikmu Nin, berarti dia juga adikku.”

__ADS_1


Anfa terharu mendengar penuturan Abi. Dibalik sikap dingin serta kata-kata ketusnya, sosok Abi ternyata begitu hangat dan penyayang. Dia bersyukur sang kakak mendapat calon suami sebaik Abi.


“Ayo.. mama sudah memanggil. Kita makan siang bersama.”


Abi berdiri yang disusul oleh Nina dan Anfa. Dia sengaja memposisikan diri di tengah, kedua tangannya merangkul dua orang penting dalam hidupnya. Nina memeluk pinggang Abi. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa beruntung dirinya dicintai begitu besar oleh Abi.


Sesampainya di ruang makan, Anfa kembali mendapat sambutan hangat dari Rahma. Wanita itu membawa Anfa duduk di sampingnya. Tak lama Juna dan Nadia datang. mendengar soal Anfa, mereka sengaja ikut makan siang bersama di rumah. Juna menghampiri Anfa. Pemuda itu berdiri melihat kedatangan Juna.


“Kamu pasti Anfa. Wajahmu mirip dengan Nina. Selamat datang ya Anfa, selamat menjadi bagian keluarga kami.”


“Terima kasih kak.”


Juna merangkul bahu Anfa, kemudian dia mengenalkan Nadia pada pemuda itu. Anfa menyalami Nadia. Dia tak menyangka keluarga Hikmat yang beritanya hanya bisa diikuti dari layar televisi atau media sosial kini terpampang nyata di hadapannya. Bahkan seluruh keluarganya bersikap baik menerima dirinya.


“Hai Fa..”


Sapa Sekar yang baru datang bersama Cakra. Anfa kembali dibuat terkejut sekaligus bahagia. Sekar yang tak banyak bicara saat di kantor juga menyambutnya dengan ramah. Kalau Cakra, jangan ditanya, asisten Abi itu selalu bersikap ramah padanya.


“Jadi kamu beneran adiknya kak Nina? Selamat datang ya Fa,” Sekar menyalami Anfa.


“Kalau Cakra kamu sudah kenal kan Fa?” tanya Teddy.


“Sudah om, pak Cakra yang sering mengajari saya di kantor.”


“Maksud papa bukan itu Fa. Maksudnya kamu sudah tahu kalau Cakra itu calonnya Sekar,” seloroh Juna.


“Mana ada!” sewot Sekar.


Juna hanya terkekeh melihat Sekar yang mendelik kesal padanya. Rahma segera melerai agar mereka bisa menikmat makan siang bersama. Perbincangan hangat terdengar di sela-sela acara makan. Anfa tergugu melihat keakraban dan kehangatan keluarga ini. Hal yang tak pernah dia dapatkan dari keluarga angkatnya.


“Ayo Anfa makan yang banyak,” seru Rahma.


“Iya tante, makasih.”


“Noooo... jangan panggil tante. Mulai sekarang panggil mama dan juga papa.”


Rahma melihat ke arah suaminya ketika menyebut kata papa. Teddy menganggukkan kepalanya seraya melihat ke arah Anfa. Tak terkira rasa bahagia yang menerpa hatinya.


“Fa.. sejak kapan kamu suka udang? Apa alergi kamu udah sembuh? Kamu kan suka gatal kalau makan udang.”


Tegur Nina ketika Anfa mengambil sepotong tempura. Efek bertahun-tahun ditempa menjadi Gean, memakan apa yang disukai anak itu membuat otak Anfa seperti sudah disetting untuk terus melakukannya.


“Fa..”


“Masih kak, aku masih suka gatal. Tapi udah ngga parah kok, aku juga punya obatnya.”


“Apa Gean menyukai udang?”


Mata Nina memicing melihat sang adik. Terlihat anggukan pelan Anfa. Semua yang di sana kecuali Abi menatap bingung pada kakak beradik tersebut. Nina segera menjauhkan piring berisi tempura dari Anfa.


“Mulai sekarang jangan makan makanan yang tidak kamu sukai dan membahayakan tubuhmu. Sekarang dan selamanya kamu adalah Anfa, bukan Gean! Lakukan apapun yang kamu inginkan, jadilah diri sendiri mulai sekarang. Tak ada lagi yang memaksamu. Jika ada, maka orang itu harus berhadapan denganku,” tegas Abi.


“Mama ngga ngerti. Sehabis makan kalian harus menjelaskannya.”


Ucapan Rahma diangguki oleh Nina juga Abi, hanya Anfa yang bergeming. Sungguh dia masih belum terbiasa dengan situasi ini. Rahma menyentuh lengan Anfa, memintanya melanjutkan makan.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Akhirnya dua saudara yang terpisah lama bisa bersatu juga. Ke depannya, tak ada lagi nama Gean ya. Mamake akan terus memakai nama Anfa🤗


__ADS_2