
Selesai makan siang, Jojo tak memperbolehkan Adinda pulang. Dia meminta gadis itu menemaninya sampai jam kerja usai. Sudah tiga hari lamanya dia tak bertemu dengan Adinda karena kesibukannya di kantor. Terlebih Abi melarangnya menemui Adinda di atas jam sembilan malam. Abi sudah seperti Satpol PP saja. Entah Jojo harus merasa bersyukur atau merasa sial telah menitipkan calon istrinya pada sahabat somplaknya itu.
“Muh.. kemarin kamu lihat penampakan apa?”
“Oh emmhh.. a..apaa ya.. lupa om hehehe.”
“Jangan mikir yang aneh-aneh. Ngga ada hantu, setan atau sejenisnya di rumah Abi. Mereka juga mikir-mikir dulu mau nongkrong di rumah beruang kutub edan.”
Adinda terkikik geli mendengar julukan Jojo untuk sahabatnya itu. Namun kemudian tawanya terhenti ketika mengingat adegan pertempuran bibir antara Abi dengan Nina. Tanpa sadar Adinda memperhatikan bibir Jojo yang nampak seksi. Bibir bawah pria itu sedikit tebal, membuatnya terlihat seksi. Adinda menggelengkan kepalanya saat otaknya mulai berkhayal mencium bibir itu lagi.
“Kamu kenapa? Pusing?”
“Ng.. ngga om.”
“Tapi pipi kamu merah gini, kamu sakit?”
Jojo menyentuh pipi Adinda, karuan saja warnanya bertambah merah. Ditambah dengan kulit Adinda yang putih bersih, membuat semburat merah itu terlihat semakin jelas. Melihat itu, Jojo bertambah gemas. Dia mendekatkan tubuhnya, refleks Adinda mundur sampai punggungnya menyentuh sandaran sofa dengan posisi setengah berbaring.
“Kamu mikirin apa sampai merah gini pipi hmm?”
“Ng.. ngga mikirin apa-apa kok.”
“Kemarin kamu benar lihat penampakan apa lihat yang lain?”
Jojo sedikit curiga melihat gerak-gerik Adinda. Sepertinya gadis itu baru saja melihat hal yang tak seharusnya dilihat. Dia juga tahu betul kalau Abi kadang tidak tahu tempat untuk bermesraan dengan sang istri. Jojo semakin mendesak ke arah Adinda. Jarak wajah keduanya sudah sangat dekat. Bahkan Adinda dapat merasakan hembusan nafas pria itu.
Maksud hati ingin menggoda Adinda, kini Jojo malah terpaku melihat bibir merah muda milik gadis itu. Bibir yang baru sekali dikecupnya. Begitu pula Adinda, matanya tak henti menatap bibir bawah Jojo yang tebal.
Jojo mendekatkan wajahnya lalu membenamkan bibirnya pada bibir Adinda. Gadis itu memejamkan matanya. Tangannya meremat kemeja Jojo dengan erat. Kalau kemarin Jojo hanya menempelkan bibir saja, kini dia mulai me**mat lembut bibir Adinda. Tangan Jojo menahan tengkuk Adinda. Dia terus me**mat dan memagut, walau gadis itu belum bisa membalasnya.
Adinda terus memejamkan matanya, sungguh dia ingin sekali membalas ciuman Jojo namun apa daya, dirinya belum tahu bagaimana caranya. Jujur gadis itu sangat menyukai cara Jojo menciumnya. Setelah beberapa saat, Jojo mengakhiri ciumannya lalu menyatukan kening mereka.
“Muh.. aku harus pergi ke Jepang. Kamu jangan kemana-mana tanpa ijin dan pengawasan dari Abi.”
“Om ngapain ke Jepang?”
“Aku mau jemput mama sama papa. Aku ngga bisa menunggu lebih lama lagi. Kita akan segera menikah begitu aku pulang dari Jepang.”
Adinda hanya menganggukkan kepalanya walau tidak sepenuhnya mengerti dari maksud perkataan calon suaminya itu. Jojo memeluk Adinda dengan erat. Tekadnya sudah bulat untuk menjemput Rahma dan Teddy. Dirinya bisa gila kalau harus menunggu tiga minggu lagi. Bukan tidak mungkin pria itu akan kehilangan kontrol dan melakukan hal yang belum waktunya terjadi.
☘️☘️☘️
HOEK
HOEK
HOEK
Rindu terus memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Sudah sejak semalam perutnya terasa diaduk. Setiap makanan yang masuk selalu dimuntahkan kembali. Pagi ini dia sudah tiga kali muntah sampai tak ada yang tersisa hingga hanya cairan bening saja yang keluar.
Kevin terus memijit tengkuk sang istri. Dengan hati-hati dipapahnya Rindu menuju ranjang, kemudian merebahkan tubuh istrinya di sana. Rindu memegangi tangan Kevin yang duduk di sisi ranjang. Wajahnya terlihat pucat.
“Hiks.. hiks.. aku laper bang.”
“Abang ambilin makan ya.”
“Ngga mau bang, nanti aku muntah lagi hiks..”
“Sebentar sayang.”
Kevin mengusap puncak kepalan Rindu lalu keluar dari kamar. Dia segera mencari keberadaan mamanya. Wanita itu tengah sibuk menyiapkan sarapan di dapur bersama dengan Kumala.
“Ma.. obat buat muntah-muntah apa ya?” tanya Kevin.
“Siapa yang muntah-muntah?”
“Rindu ma.. dari semalem muntah-muntah terus. Masuk angin kali ya?”
“Rindu muntah-muntah? Alhamdulillah..”
“Mama gimana sih, menantunya sakit malah bahagia.”
“Udah diem aja kamu. Mama mau lihat Rindu dulu. Anyaaaaa!!!”
__ADS_1
“Anyaaaa!!!”
Anya datang tergopoh begitu mendengar panggilan 7 oktaf kanjeng mami. Dengan nafas sedikit tersengal dia sampai di depan Delia.
“Apa ma?”
“Kamu ke apotik ya, beli...”
Delia membisikkan sesuatu di telinga anak perempuannya itu. Anya mengangguk lalu bergegas keluar rumah. Setelah itu Delia naik ke lantai dua untuk melihat keadaan menantu bungsunya.
“Anak mama kenapa?”
Delia duduk di sisi ranjang seraya mengusap puncak kepala Rindu. Matanya terus memperhatikan wajah pucat sang menantu. Tebakannya tidak akan salah, Rindu pasti tengah berbadan dua.
“Vin.. kamu ngga usah kerja hari ini, temenin Rindu.”
“Ngga bisa ma. Kalau aku ngga kerja kasihan Abi, dia harus ngurus dua perusahaan sekarang. Juna belum pulang dari Jepang.”
“Iya ma, bang Kevin kerja aja sana.”
“Aku berangkat ya bee. Nanti minum obatnya,” Kevin mencium kening Rindu.
“Aku titip Rindu, ma,” Kevin mencium punggung tangan Delia kemudian bergegas keluar dari kamar.
Baru saja kendaraan Kevin meninggalkan rumah, Anya datang dengan mobilnya. Wanita itu bergegas naik ke lantai dua dengan kantong plastik putih di tangannya. Dia segera masuk ke kamar lalu memberikan bungkusan pada Delia.
“Rin.. ayo kamu coba pakai ini dulu,” Delia mengambil sebuah testpack lalu memberikannya pada Rindu.
“Apa ini ma?”
“Itu testpack. Dilihat dari gejalanya, kayanya kamu hamil deh.”
Rindu masih belum mencerna ucapan sang mama mertua, ketika Anya menarik pelan tangan Rindu kemudian membimbingnya ke kamar mandi. Rindu terdiam sebentar sesampainya di kamar mandi. Dibacanya dulu aturan menggunakan alat tes kehamilan tersebut. Kemudian dia mulai melakukan langkah-langkah yang tertera.
Sepuluh menit kemudian Rindu keluar dari rumah sakit. Tangannya menggenggam erat testpack yang tadi digunakannya. Delia dan Anya menunggu dengan harap-harap cemas, begitu pula dengan Kumala yang baru saja bergabung.
“Gimana sayang? Apa hasilnya?” tanya Delia.
Rindu menyodorkan benda pipih di tangannya pada mama mertua. Wajah kegembiraan seketika muncul begitu melihat dua garis biru di sana. Anya langsung memeluk adik iparnya ini. Hatinya bahagia akan memiliki dua orang keponakan sekaligus. Delia juga memeluk Rindu, akhirnya impiannya melihat Kevin menikah dan memiliki momongan terkabul sudah.
“Selamat ya Rindu, kamu akan jadi seorang mama,” ucap Anya.
“Rindu beneran hamil ma? Kak?”
“Iya sayang. Nanti mama telpon Kevin suruh dia pulang cepat. Mama akan daftarkan kamu periksa ke dokter kandungan nanti sore.”
“Hiks.. hiks..”
“Kenapa nangis sayang? Kamu belum mau punya anak?”
“Ngga ma, aku cuma laper tapi ngga bisa masuk apapun hiks.. hiks..” Delia tersenyum mendengar ucapan menantunya.
“Itu hal yang wajar sayang di awal kehamilan. Mama akan buatin kamu makanan. Pasti kamu akan suka.”
Delia bergegas keluar kamar, Anya dan Kumala masih berada di kamar. Mereka menemani dan menenangkan adik iparnya yang tengah hamil muda ini. Mereka membantu Rindu kembali berbaring.
“Kalau aku ngga bisa makan gimana kak? Hiks.. hiks.. nanti anakku kekurangan gizi hiks..”
“Tenang aja Rin, ngga akan lama kok. Nanti kamu bisa minta obat pereda mual sama dokter.”
“Badan aku juga lemes kak. Apa gini terus kalau hamil? Ngga bisa langsung gede aja perutku kaya kak Kumala terus ngelahirin.”
“Hahaha.. kamu ada-ada aja Rin. Sabar sayang, itu proses namanya. Tapi hal baik dari perempuan hamil, kamu bisa minta apa aja sama suami kamu.”
“Beneran kak?”
“Bener. Kamu ngidam apa?” tanya Anya.
Rindu berpikir sejenak. Akhir-akhir ini dia memang tidak terlalu n*fsu makan. Inginnya hanya berada di dekat Kevin, tidur dalam pelukan suaminya sambil menghidu aroma tubuhnya. Sebenarnya ada hal yang ingin dilakukan Kevin untuknya, namun Rindu masih ragu untuk mengatakannya.
“Kamu mau apa Rin?” kini Kumala yang bertanya.
“Bukan makanan sih kak. Aku cuma mau lihat bang Kevin gaya ala boyband K-Pop terus lipsync sambil joged lagunya EXO.”
__ADS_1
“Hahaha...”
Tawa Anya dan Kumala lepas begitu mendengar keinginan ibu hamil tersebut. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana Kevin yang selalu berwajah datar dan bersikap dingin bergaya ala K-Pop kemudian bernyanyi dan berjoged.
“Ngga mungkin kan kak?”
“Siapa bilang? Pasti Kevin mau kalau demi anaknya, percaya deh.”
“Beneran kak?”
“Bener. Kamu minta dia tampil malam ini. Nanti aku telpon mas Devan suruh ke sini sama mba Via dan Ricky.”
“Bener mba, nanti biar Ricky, Noah sama Dea yang nemenin Kevin ngedance,” usul Kumala.
“Ide bagus,” Anya menjentikkan jarinya.
Dia kemudian mengambil ponsel lalu menghubungi kakak tertuanya. Kumala memberikan tips supaya Kevin mau mengabulkan permintaan Rindu, seperti yang dilakukannya pada Ivan. Anya juga tak mau ketinggalan memberikan sarannya. Rindu mengangguk-angguk tanda mengerti.
☘️☘️☘️
Sesuai permintaan sang mama, Kevin pulang lebih cepat dari kantor. Rindu sudah menunggunya ketika dirinya tiba. Tanpa menunggu lama pria itu segera membawa sang istri ke dokter karena begitu mengkhawatirkannya.
Sesampainya di rumah sakit, Kevin terkejut karena Delia mendaftarkan Rindu ke poli kandungan. Namun dia tetap diam tanpa banyak bertanya. Sudah banyak pasien yang menunggu di depan poli kandungan tersebut, rata-rata adalah ibu hamil. Lima belas menit berselang, terdengar nama Rindu dipanggil.
Suster langsung membantu Rindu naik ke blankar setelah wanita itu memberikan hasil testpacknya. Suster tersebut mengangkat blouse Rindu kemudian mengoleskan gel ke perutnya. Dokter wanita yang dikunjungi Rindu mendekat kemudian mulai menggerakkan probe di perut rata Rindu.
“Pak Kevin, silahkan mendekat.”
Kevin bergegas mendekat. Dia berdiri di dekat sang dokter yang tengah menerangkan apa yang terlihat di layar monitor. Mata Kevin menatap tanpa berkedip ketika dokter menunjuk sebuah titik kecil dan mengatakan kalau itu adalah calon anaknya. Rasa haru langsung menyeruak dalam hatinya.
Pemeriksaan USG selesai, suster membersihkan gel di perut Rindu kemudian membantunya turun. Kevin menyambut sang istri kemudian mendudukkannya di depan meja dokter.
“Selamat bapak dan ibu. Ibu Rindu sedang hamil muda, usia kehamilannya sudah berjalan dua minggu. Ada keluhan apa akhir-akhir ini ibu Rindu?”
“Pusing sama mual dok. Aku muntah terus kalau makan sesuatu.”
“Itu hal biasa selama trimester pertama kehamilan. Saya akan resepkan obat pereda mualnya juga vitaminnya jangan lupa diminum. Susu hamilnya juga ya bu, buat nutrisi jabang bayi. Usahakan ada yang masuk ya bu. Pak Kevin, selama kehamilan istri, tolong dijaga moodnya, jangan sampai stress atau terlalu cape. Dan selama dua minggu puasa dulu ya pak.”
Kevin berdehem mendengar ucapan terakhir sang dokter. Begitu pula dengan Rindu, dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan semburat merahnya. Dengan cepat dokter wanita tersebut menuliskan resep kemudian memberikannya kepada Rindu. Pasangan suami istri tersebut kemudian keluar dari ruang praktek. Tujuannya kali ini adalah apotik yang berada di lantai dasar rumah sakit.
Selesai menebus obat, Kevin dan Rindu langsung pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan, beberapa kali Rindu melihat pada sang suami. Kevin yang menyadari itu langsung bertanya.
“Kenapa bee? Kamu mau sesuatu?”
“Hmm.. aku boleh minta sesuatu ngga bang? Sebenarnya udah dari beberapa hari yang lalu. Tapi aku takut abang marah dan ngga mau.”
“Kamu mau minta apa hmm?”
“Hmm.. sebentar bang.”
Rindu mengambil ponsel dari dalam tas kemudian mencari video klip EXO yang menyanyikan lagu ‘Love Shot’. Saat mobil berhenti di lampu merah, Rindu memberikan ponsel pada Kevin.
“Aku mau abang dandan kaya gini terus lipsync sambil joged.”
Mata Kevin membulat mendengarnya, sontak dia melihat ke arah sang istri yang tengah menatapnya dengan wajah penuh pengharapan. Refleks kepalanya menggeleng. Lebih baik dia disuruh lari keliling lapangan bola sepuluh kali dari pada berdandan ala boyband K-Pop sambil bernyanyi dan menari.
“Abang mau kan?”
“Ngga.”
“Abang...”
“Minta yang lain aja asal jangan itu bee.”
Rindu memajukan bibirnya, reaksi Kevin persis sesuai perkiraannya. Matanya mulai memanas, dia memalingkan wajahnya ke jendela samping saat buliran bening membasahi pipinya. Terdengar helaan nafas Kevin saat melihat sang istri menangis mendengar penolakannya.
☘️☘️☘️
**Om Joo nakal ya kalau ketahuan Abi bisa mba jurus sentilnya😂
Kira² bang Ke mau ngabulin permintaan Rindu ngga ya🤔
Kemarin ada yang minta visual bang Ke lagi ya, nih mamake kasih. Bang Ke yang bakal jadi calon hot Daddy**.
__ADS_1