
Keramaian sudah nampak di ballroom hotel Arjuna. Malam ini, perayaan pesta pertunangan Naya dan Aric digelar. Sebenarnya Aric hanya ingin mengadakan pesta sederhana saja untuk pertunangan. Tapi Naya bersikeras ingin mengundang banyak orang. Akhirnya Aric pun menyetujui usulan calon istrinya.
Tamu undangan sudah mulai berdatangan. Acara pertunangan sendiri baru akan dimulai lima menit lagi. Cakra menyalami rekan bisnisnya yang hadir atas undangan sang anak. Kemudian matanya menangkap beberapa awak media memasuki ballroom. Dia segera menghmpiri Aric yang tengah berkumpul dengan para sahabatnya.
“Kamu ngundang wartawan juga, Ric?” tegur Cakra.
Aric cukup terkejut mendengar pertanyaan sang ayah, pasalnya dia memang tidak mengundang satu media pun untuk meliput. Semua ini pasti ulah Naya. Dia menatap sekilas ke arah kumpulan wartawan yang sedang menyiapkan peralatan.
“Maaf pi.”
“Kamu tahu papi ngga suka publikasi semacam ini. Pertunanganmu adalah kehidupan pribadi yang tidak perlu kamu umbar ke media. Apa tidak cukup mengundang banyak orang sampai kamu harus mengundang media juga?”
“Maaf pi. Aku ngga akan mengulanginya lagi.”
Aric menghembuskan nafas panjang begitu Cakra berlalu darinya. Sudah bisa dibayangkan setelah acara ini berakhir, ceramah panjang lebar sang ayah akan mengalun. Dan itu masih beruntung kalau Juna, Abi dan Anfa tidak ikut menceramahinya juga.
“Gue tahu lo cinta sama Naya, tapi ngga usah segitunya juga Ric. Sekali-kali lo tuh harus tegas sama dia.”
Lamunan Aric buyar begitu mendengar suara Kenzie. Sejenak dia merenungkan apa yang dikatakan sepupunya itu. Selama ini dirinya memang selalu menuruti keinginan Naya. Gadis itu memang selalu bersikap manja padanya, dan Aric tak pernah bisa menolaknya. Apapun keinginan Naya selalu dikabulkan olehnya.
Suara MC terdengar membuka acara pertunangan. Pria gemulai itu memanggil keluarga untuk tampil ke depan, termasuk pasangan kekasih yang akan mengikrarkan diri dalam ikatan pertunangan. Cakra hanya memberikan sambutan singkat untuk para tamu undangan, begitu pula dengan Jojo.
Kemudian sang MC memanggil Aric. Sedianya pria itu akan mengungkapkan kata-kata cinta yang diakhiri dengan ajakan menikah baru kemudian memasangkan cincin di jari Naya. Namun setelah apa yang terjadi tadi, mood pria itu ambyar. Dia menggeleng ke arah MC dan meminta langsung pada acara penyematan cincin.
Gemuruh tepuk tangan terdengar ketika Aric menyematkan cincin di jari manis Naya. Para awak media yang sedari tadi menunggu segera mengabadikan momen tersebut. Senyum lebar Naya tercetak di wajahnya ketika menunjukkan cincin pernikahannya pada awak media. Ravin yang tidak pernah lupa membawa kameranya juga ikut mengabadikan momen bahagia sang sahabat.
Usai sesi foto, awak media langsung mendekat untuk melakukan wawancara singkat. Aric memilih pergi dan meninggalkan Naya seorang diri menghadapi berondongan pertanyaan wartawan. Pria itu memilih menuju meja yang menyajikan aneka minuman untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
“Maaf ya bang.”
Aric langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar suara seorang wanita. Nara sudah ada di sampingnya.
“Maaf untuk apa?”
“Untuk apa yang udah Naya lakukan. Tanpa berunding dengan abang, dia langsung ngundang wartawan untuk meliput pertunangan ini. Maaf kalau tindakan Naya sudah membuat abang dan keluarga ngga nyaman.”
Aric menaruh gelasnya di meja kemudian mulai menanggapi ucapan Nara dengan serius. Kembaran calon istrinya ini memang memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Naya. Sikapnya jauh lebih dewasa dan lebih peka dengan lingkungan sekitar. Berbeda dengan Naya yang egois. Entah mengapa hatinya malah terpikat pada gadis manja dan egois itu.
“Kamu tahu dari mana kalau aku ngga nyaman dengan situasi ini?”
“Sudah menjadi rahasia umum kalau keluarga Hikmat ngga pernah mengumbar masalah pribadinya ke media. Mereka ngga pernah melibatkan wartawan dalam urusan pribadi, karena kehidupan pribadi mereka bukan untuk konsumsi publik.”
“Kamu aja inget soal itu tapi kenapa Naya ngga.”
“Cause she’s Naya. She never care about everything except her self (Karena dia Naya. Dia ngga pernah peduli hal lain kecuali dirinya sendiri). Kalau dia peduli dengan sekitarnya bukan Naya namanya.”
“Siapa namanya?”
“Bi Entin.”
“Hahaha...”
Tawa Aric pecah saat Nara menyebut nama Entin, salah satu asisten rumah tangga di rumahnya. Bi Entin memang sangat perhatian pada seluruh keluarga Cakra, tapi dia juga termasuk manusia paling kepo sedunia. Tak ada kabar apapun di kompleks perumahan yang tak diketahui olehnya.
Aric mengusak puncak kepala Nara, moodnya sedikit membaik setelah berbicara dengan gadis itu. Tanpa mereka sadari, Naya menangkap gerak-gerik keduanya. Gadis itu segera menghampiri kembarannya saat Aric bergabung bersama para sahabatnya. Nara yang masih berada di tempatnya memilih menikmati minuman untuk membunuh kesendirian.
“Kalian ngomongin apa? Keselihatannya bahagia banget ya,” sembur Naya begitu sampai di dekat Nara.
“Bi Entin,” jawab Nara cuek.
“Lo pikir gue percaya?”
“Terserah Nay, lo mau percaya apa ngga.”
Nara meletakkan gelas miliknya kemudian beranjak pergi. Namun langkahnya tertahan ketika Naya memegang lengannya. Dengan malas gadis itu melihat ke arah kakak kembarnya.
“Lepas Nay.”
“Lo coba nikung bang Aric dari gue?”
“Lo ngigo Nay?”
“Ngga, gue sadar sesadar-sadarnya. Kadang orang terdekat kita adalah musuh dibalik selimut yang bisa menusuk kita kapan saja.”
“Gue ngga tertarik sama bang Aric.”
“Who knows, kadang antara mulut dan hati itu bertolak belakang.”
“Kalau gue mau rebut bang Aric dari elo ngga perlu sekarang Nay. Kalian pacaran selama empat tahun, dan selama itu juga gue punya peluang buat rebut dia. Tapi sorry, gue ngga ada minat jadi penikung. Gue bukan Abel yang tega ngerebut tunangan kakaknya sendiri, kalau dia yang lo jadikan rujukan buat nuduh gue.
Lo mau tahu apa yang gue obrolin? Dia kecewa sama elo yang seenak jidatnya ngundang wartawan ke acara ini. Padahal lo tahu kalau keluarganya ngga menyukai publikasi semacam ini. Entah lo lakuin ini karena lupa atau ngga peduli. Tapi gue ingetin sama elo, Nay. Cobalah untuk mengerti dirinya sekali-kali, jangan cuma lo yang mau dimengerti. Kalau lo tetap seperti ini, ngga perlu seorang penikung buat bikin bang Aric pergi dari lo.”
Nara berlalu pergi setelah mengatakan apa yang perlu didengar oleh kembarannya itu. Naya menatap tak percaya ke arah Nara. Ini pertama kalinya adik kembarnya itu berbicara panjang lebar dan memojokkan dirinya.
Dengan kesal Nara menghempaskan bokongnya di salah satu kursi. Tuduhan Naya benar-benar membuatnya meradang. Dila yang melihat sang kakak duduk sendiri bermaksud menghampirinya. Namun langkahnya tertahan ketika melihat Ezra lebih dulu menghampiri Nara. Pria itu duduk di samping gadis itu.
“Ra.. aku udah lihat lo video kamu.”
“Video apa?”
“Itu loh pas kamu ngusir Chika kaya orang kesurupan.”
Ezra memperagakan gaya Nara saat mengusir Chika sambil tak bisa menahan tawanya. Nara juga ikut tertawa membayangkan kembali tingkah konyolnya di hari pertamanya bekerja.
“Kok kakak tahu sih.”
“Dari Fathan.”
“Ya ampun bang Fathan, diam-diam ternyata ember bocor juga.”
“Hahahaha..”
Ezra kembali tergelak. Video ritual Nara mengusir Chika memang sudah tersebar ke semua sahabat Fathan, tak terkecuali Barra. Mereka salut gadis itu mempunyai ide brilian untuk mengusir Chika yang selalu menempel pada Kenzie seperti ulet bulu.
“Kak Ez.. gimana hubungannya sama Dila?”
“Masih penjajagan.”
“Baik-baik sama aku ya, kak. Aku kan calon kakak ipar,” Nara menaik turunkan alisnya.
“Wah iya juga. Oke deh kakak ipar, calon adik iparmu yang ganteng ini mau pergi dulu ya,” Ezra mengusak puncak kepala Nara kemudian pergi meninggalkan gadis itu.
“Narsis,” desis Nara yang masih bisa didengar oleh Ezra. Pria tampan itu hanya tertawa saja.
Dada Dila bergemuruh melihat pemandangan di depannya. Melihat Ezra tertawa dan menyentuh Nara membut gadis itu kesal bukan main. Dengan langkah lebar dia menghampiri sang kakak.
__ADS_1
“Seneng banget kayanya kak.”
“Siapa? Aku? Seneng kenapa?”
“Tadi asik banget ngomong sama kak Ezra. Sampai ngga inget kalau cowok itu gebetan adiknya sendiri. Kakak suka sama kak Ezra?”
“God! What’s wrong with you? (ada apa denganmu?). Tadi Naya dan sekarang kamu nuduh aku juga. Apa aku segitu mengenaskan sampai kalian nuduh aku berusaha merebut pasangan kalian? Kalian benar-benar keterlaluan!!”
Dengan kesal Nara meninggalkan Dila. Gadis itu terus berjalan keluar dari ballroom. Sepertinya dia perlu menghirup udara segar untuk menenangkan diri. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju area kolam renang yang terlihat sepi. Dia berdiri di depan kolam sambil memandangi pantulan bulan di air seraya melipat kedua tangannya di dada.
“La Fea..”
Nara menoleh ketika suara yang begitu familiar di telinganya memanggil nama belakang sekretaris yang ada di drama telenovela. Kenzie berjalan menuju ke arahnya lalu berhenti tak jauh darinya.
“Abang panggil aku?”
“Iya.”
“Ish namaku bukan La Fea.”
“Kenapa nengok?”
“Refleks.”
“Ngapain di sini?”
“Abang ngapain?”
Kenzie berdecak mendengar Nara menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan juga. Dia berjalan menjauhi kolam renang seraya memasukkan tangannya di saku. Kemudian dengan santainya dia berkata,
“Penasaran pengen tahu bener ngga ada kunti di sini.”
Refleks Nara menjauh dari kolam kemudian menyusul Kenzie. Dia langsung memeluk lengan Kenzie, matanya memandang sekeliling, takut kalau yang dikatakan pria itu benar adanya.
“Ngapain pegang-pegang?”
“Maaf bang. Abis abang bikin takut aja,” Nara melepaskan pelukannya.
“Emang bener kan di sini ada kunti kemarin.”
“Abang iihhh... jangan bikin takut.”
“Kemarin kan ada syuting film horror di sini. Ceritanya tuh kunti nongol dari balik pohon.”
Kenzie menunjuk sebuah pohon yang ada di dekat tenda payung. Nara memandangi pria di sampingnya dengan kesal. Berbeda dengan Kenzie yang tetap mempertahankan wajah datarnya.
“Mana kacamata kamu?”
“Ya disimpen di rumahlah. Abang kangen ya lihat aku pake kacamata.”
“Ngga, cuma kasihan aja tuh kacamata kalo dipake kamu kok jadi jelek keliatannya. Kalau dipake orang lain pasti keren.”
“Ada yang pernah bilang ngga sih kalau bang Ken itu nyebelin?”
“Ada yang pernah bilang kalau kamu bawel?”
“Kalau ngga bawel bukan cewek namanya.”
“Bu Rita, ngga.”
“Tapi cewek kan?”
Nara hanya menghembuskan nafas kesal. Berdebat dengan Kenzie membuat otaknya seketika mendidih. Kalau di luar kantor dia memang tidak sedingin saat bekerja namun tetap saja sikap menyebalkannya tak pernah hilang.
“Kamu kenapa kalau ke kantor dandanannya aneh?”
“Sengaja, aku takut bang Ken jatuh cinta sama aku, wleeee,” Nara menjulurkan lidahnya.
Dengan cepat Kenzie menolehkan kepalanya ke arah Nara. Kemudian kakinya mendekati gadis itu. Refleks Nara berjalan mundur ketika Kenzie semakin mendekatinya. Mata pria itu menatap tajam seperti singa yang tengah memburu mangsanya. Nara terus berjalan mundur hingga punggungnya menabrak tembok.
Kenzie terus mendekat, dia menumpukan kedua tangannya di tembok, mengurung tubuh Nara. Jantung Nara berdegup kencang berada begitu dekat dengan Kenzie. Dia menahan nafasnya saat Kenzie semakin mendekatkan wajahnya. Kini mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Gadis itu bisa merasakan hembusan nafas Kenzie di wajahnya.
“Kamu takut aku yang jatuh cinta padamu atau kamu yang jatuh cinta padaku?”
Nara menelan ludahnya kelat saat beradu tatap dengan pria di hadapannya. Mata elang milik Kenzie seakan menembus sampai ke jantungnya, tubuhnya terasa lemas sekaligus kaku di saat bersamaan.
“Pipi kamu udah kaya tomat busuk saking merahnya. Dan aku yakin jantung kamu lagi marching band. Jadi...” Kenzie mendekatkan mulutnya ke telinga Nara.
“Hati-hati, bisa jadi kamu yang jatuh cinta padaku.”
Kenzie segera pergi setelah sukses membuat Nara ketar-ketir. Kaki gadis itu terasa lemas dan membuat tubuhnya melorot ke lantai. Dia memegangi dadanya yang berdegup kencang. Baru kali ini dirinya berada begitu dekat dengan Kenzie. Pria itu sukses menghamburkan kesadarannya.
Dengan langkah lebar, Kenzie kembali ke ballroom. Dia langsung menuju meja yang menyajikan minuman lalu meneguk satu gelas berisi air putih sampai habis. Kedua tangannya bertumpu pada meja, berdekatan dengan Nara menimbulkan sensasi tersendiri untuknya. Jantungnya juga berdebar kencang saat kedua mata mereka bertemu. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan saat bersitatap dengan lawan jenis.
Sementara itu di salah satu meja, nampak Freya tengah menikmati kesendiriannya sambil memakan puding. Azra dan Alisha tengah berbicara dengan Fathan juga Ezra, tak lama nampak Dila bergabung. Kemudian di sisi lain, sang empu hajat juga tengah bercengkrama dengan para tamu.
Lamunan Freya buyar saat seseorang menarik kursi di dekatnya. Dengan santainya orang itu duduk lalu menikmati makanan yang dibawanya. Freya melirik sekilas ke arah Viren. Selain dingin, pemuda yang seumuran dengannya itu juga tak peduli dengan lingkungan di sekitarnya.
“Ngapain lo di sini?”
“Makan, lo ngga lihat.”
“Kenapa di sini? Ngga di meja lain aja.”
“Ini yang paling deket. Lagian gue ngga mau jadi kambing conge di antara Adel ama abang gue.”
Freya sontak melayangkan pandangannya ke arah Ravin yang berada tak jauh dari mejanya. Pria itu terlihat asik berbicara dengan Adel. Sesekali senyumnya terlihat ketika menanggapi Adel bicara. Hal itu sukses membuat Freya meradang. Viren tersenyum tipis melihat gadis di sebelahnya mengepalkan tangannya.
“Bentar lagi kayanya bakal ada yang nyusul bang Aric nih,” celetuk Viren.
“Siapa?”
“Ya abang gue, siapa lagi. Akhirnya dia nerima juga cintanya Adel. Tuh cewek kan udah lama ngintilin abang gue. Emang sih mending sama yang pasti dari pada sama yang gantung tapi ujung-ujungnya ditolak.”
“Lo nyindir gue?”
“Lo ngerasa kesindir?”
Freya menyambar tasnya lalu pergi meninggalkan meja. Berbicara dengan Viren semakin membuat hatinya bertambah panas. Sial, saat melintasi meja Ravin, pria itu malah memanggilnya. Dengan malas Freya menghampiri keduanya.
“Del, kamu udah kenal Freya kan?”
“Iya, udah.”
“Nah soal usulan kamu tadi bisa kamu obrolin sama dia. Frey itu pinter, dia selalu punya konsep keren buat acara gathering. Kalian ngobrol aja dulu. Aku tinggal sebentar.”
__ADS_1
Ravin berdiri lalu memberikan kursinya untuk Freya. Mau tak mau Freya menuruti ucapan pria itu. Sebelum pergi, Ravin menyempatkan diri mengusap puncak kepala Freya. Hal itu tertangkap oleh Adel. Hatinya mengatakan kalau ada sesuatu antara Ravin dengan gadis di sampingnya.
“Gimana rasanya kerja di bagian MPR (Marketing Public Relations)?”
“Asik,” jawab Freya singkat.
“Hati-hati sama Remy.”
“Oh si playboy cap kupu-kupu.”
Adel tertawa mendengar julukan Freya untuk rekan kerjanya itu. Tapi sepertinya julukan itu memang cocok untuknya. Remy selalu gerak cepat jika ada pegawai wanita yang cantik dan menarik perhatiannya.
“Udah lama gabung di hotel Arjuna?” kini Freya yang balik bertanya.
“Lumayan, udah empat tahunan. Awalnya aku magang di sana, terus lanjut penelitian. Eh pas coba-coba ngelamar diterima.”
“Katanya kamu salah satu marketing andalan hotel Arjuna.”
“Ah biasa aja. Aku banyak belajar dari seniorku, bu Bertha. Tapi sekarang di udah pensiun.”
Ternyata Adel orang yang ramah dan enak diajak bicara. Wajar saja kalau Ravin senang berbicara dengan wanita itu. Mengingat kedekatan Ravin dan Adel kembali membuat Freya kesal.
“Kamu udah lama kenal mas Ravin?” tanya Adel.
“Mas?”
“Kalau di luar kantor aku biasa manggil mas. Biar berasa kaya manggil suami gitu.”
Adel terkikik mendengar ucapannya sendiri. Freya hanya tertawa hambar saja. Ternyata hubungan mereka lebih dekat dari perkiraannya.
“Kamu belum jawab pertanyaanku. Udah lama kenal mas Ravin?”
“Dari kecil.”
“Wow.. berarti kamu tahu banyak tentang dia.”
“Lumayanlah.”
“Kamu tahu ngga makanan kesukaannya apa? Rencananya besok aku mau masakin dia makan siang.”
“Hmm.. dia suka semua sih. Oh iya, bang Ravin itu paling suka ati sapi. Mau dibikin sambel goreng, disemur, atau dibikin apa aja dia suka.”
“Gitu ya.. hmm.. kalo gitu besok aku bikinin semur ati aja deh.”
Freya hanya mengangkat kedua jempolnya. Dalam hatinya berharap, wanita itu tidak mengkonfirmasi hal tersebut pada Ezra atau Viren, karena Ravin paling tidak menyukai ati sapi. Dia lebih baik mati kelaparan dari pada memakan jeroan sapi itu.
“Aduh aku kayanya harus pulang. Salam buat mas Ravin ya.”
Adel mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan meja. Freya terus memperhatikan Adel sampai hilang di pintu masuk. Dia menghembuskan nafas lega, Adel benar-benar pulang.
“Adel mana?”
Freya hampir terlonjak dari duduknya ketika Ravin sudah berada di sampingnya. Pria itu hanya tertawa kecil melihat mimik wajah Freya yang nampak terkejut.
“Bang Ravin mah ngagetin aja.”
“Lagian ngelamun. Adel pulang?”
“Hmm.. kenapa? Nyesel ya ngga bisa nganterin calon istrinya pulang.”
“Calon istri? Siapa?”
“Adel.”
Ravin malah terbahak mendengar Freya menyebut Adel sebagai calon istrinya. Sejenak Freya tercenung memandangi Ravin yang tengah tertawa. Ada desiran aneh di hatinya melihat mata pria tampan itu sedikit menyipit ketika tertawa.
“Siapa yang bilang Adel calon istriku? Adel sendiri?”
“Bukan.. Viren yang bilang.”
“Ck.. petasan jangwe jangan didenger.”
“Adel cantik loh.”
“Iya emang cantik. Tapi cantikkan cewek yang aku taksir dan pengen kujadiin istri. Tapi sayang, udah ditolak.”
Freya bahagia sekaligus malu mendengar pujian Ravin. Dia menundukkan kepalanya saat Ravin melihat ke arahnya. Dalam hatinya menyesal kenapa tak memikirkan matang-matang soal Ravin. Harusnya dia memberikan kesempatan pria itu untuk menunjukkan keseriusannya dan mengenal lebih dekat lagi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin juga dia menarik kata-katanya, seperti menjilat ludah sendiri saja.
“Aku pulang dulu bang.”
“Hmm.. hati-hati Frey.”
Freya menanggukkan kepalanya. Dengan langkah pelan dia berjalan meninggalkan meja. Hatinya berharap Ravin menawarkan untuk mengantarnya pulang, namun ternyata pria itu justru memilih bergabung dengan para sahabatnya.
“Non Freya mau pulang?” tanya Abdul, salah satu supir keluarganya.
“Aku mau pulang sendiri aja.”
“Jangan non, nanti mamang dimarahin bapak. Sebentar, mamang ambil mobil dulu.”
Abdul bergegas menuju parkiran untuk mengambil kendaraan. Tak menggubris ucapan sang supir, Freya terus berjalan menuju gerbang hotel. Bukan bersama Abdul dirinya ingin pulang, tapi bersama dengan Ravin. Namun pria itu ternyata sekarang benar-benar sudah move on darinya.
Freya terus berjalan menyusuri trotoar. Kepalanya mendongak ke atas, langit nampak begitu kelam. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Tapi gadis itu malah melanjutkan langkahnya. Kemudian sebuah mobil berhenti di dekatnya. Seorang pria turun dari dalamnya lalu bergegas menghampiri Freya.
“Mang, aku udah bilang mau pulang sendiri.”
“Jangan cari masalah Frey. Masuk!!”
☘️☘️☘️
**Siapa hayo yang nyamperin Frey?
Ken sama Nara udah mulai ya. Kira² siapa duluan yang kena panahnya cupid?
Ini mamake kasih lagi visual tokoh season kedua.
Aric**
Viren
Dilara
__ADS_1