
Ruby memandang sengit pada Juwita. Lelaki gemulai yang terlihat lemah itu ternyata mempunyai tenaga yang besar saat menahan dirinya berontak ketika tengah didandani olehnya. Juwita tersenyum puas melihat penampilan Ruby yang cetar membahana.
Pintu kamar terbuka, muncul mami Elis juga Agung. Seperti halnya Juwita, mami Elis juga nampak puas dengan kinerja anak buahnya itu. Agung bahkan menatap Ruby tanpa berkedip.
“Kerja bagus Juwi.. pelanggan mami pasti puas sama dia. Gung.. siapkan dirinya satu jam lagi okeh.”
“Siap mi..”
Agung menundukkan kepalanya saat wanita gempal itu keluar dari kamar disusul oleh Juwita. Namun makhluk gemulai itu menyempatkan diri membelai pipi Agung yang membuat pria itu menggeram seraya melayangkan tatapan horornya. Tapi Juwita tak terintimidasi, dia hanya terkikik geli saja.
Saat pintu tertutup, Ruby segera menghampiri Agung. Wanita itu bersimpuh di kaki Agung seraya memegang tangannya. Matanya menatap penuh harap pada pria tersebut.
“Bang.. tolong aku. Keluarkan aku dari sini. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta asal kamu bisa mengeluarkanku dari sini,” mohon Ruby.
Agung menundukkan tubuhnya kemudian meraih tangan Ruby. Dibawanya wanita itu ke sofa. Keduanya duduk berhadapan.
“Apa yang kamu tawarkan kepadaku?”
“Aku akan memberimu uang berapa pun yang kamu mau. Aku bekerja di Metro East sebagai sekretaris CEO. Kamu boleh mengeceknya, tanyakan apakah benar Ruby Claudia sekretaris dari Abimanyu Hikmat.”
“Lalu?”
“Aku bisa memberimu banyak uang. Tiga perempat gajiku akan kuberikan padamu setiap bulannya asal kamu mau membantuku keluar dari sini.”
Terdengar tawa Agung yang membahana membuat nyali Ruby ciut. Tapi wanita itu terus menguatkan hatinya. Niatnya balas dendam pada Abi tidak bisa terwujud kalau dia terjebak di tempat terkutuk ini.
“Aku tidak butuh uang. Aku mendapatkan banyak uang dari mami Elis setiap mendatangkan perempuan baru yang dijadikan peliharaannya. Simpan saja uangmu itu dan terima nasibmu.”
“Aku mohon.. bantu aku..”
Ruby menangkupkan kedua tangannya, matanya nampak berkaca-kaca, wajahnya menunjukkan keputusasaan. Agung melipat kedua tangannya di dadanya. Matanya menatap tajam pada wanita yang telah mencuri perhatiannya sejak pertama bertemu.
“Ok.. aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Menikahlah denganku.”
“APA?!!”
“Tidak usah berteriak. Aku yakin telingamu masih normal dan menangkap dengan jelas apa yang kukatakan tadi.”
“Tolong berikan syarat yang lain. Aku sudah punya kekasih.”
“Aku tidak peduli. Lagi pula dia baru menjadi kekasihmu, bukan suamimu. Jadi, menikah denganku atau tinggal selamanya di sini.”
Agung beranjak dari duduknya, Ruby ikut bangkit lalu mengejar pria itu yang sudah sampai di dekat pintu. Tangannya menggenggam erat tangan Agung.
“Tolong katakan syarat yang lain, asal bukan itu.”
“Apa kamu masih perawan?”
“Ti.. tidak.”
“Berarti tidak usah khawatir, toh tubuhmu sudah pernah dijamah oleh orang lain. Lalu apa bedanya dengan sekarang, bahkan kamu akan mendapat bayaran.”
“Tapi aku bukan pelac*r! Aku memang pernah melakukannya tapi hanya pada satu orang.”
“Pacarmu?”
Ruby tak menjawab, kenyataan kalau yang telah merenggut kesuciannya adalah Mano. Pria yang notabene bukan kekasihnya tapi hanyalah sekutu. Sekutu untuk menghancurkan musuh bersama mereka, Abi.
__ADS_1
“Ck.. bahkan bukan pacarmu yang telah menjamah tubuhmu. Tapi masih bisa kamu jual mahal dan mengatakan dirimu bukan pelac*r.”
Terdengar nada kekecewaan dari pria tersebut. Tak dapat dipungkiri Agung berharap wanita di hadapannya ini masih suci. Tapi ternyata semua tak sesuai harapannya. Dia membalikkan tubuhnya, namun lagi-lagi Ruby menahannnya.
“Tolong aku...” suara Ruby terdengar lirih dan putus asa.
“Menikahlah denganku. Kuberikan waktu setengah jam untuk berpikir, buatlah keputusan secepatnya. Karena aku tidak akan menikahimu kalau tubuhmu sudah dinikmati para lelaki hidung belang.”
Agung menghempaskan tangan Ruby kemudian keluar dari kamar. Terdengar suara pintu tertutup cukup keras. Tubuh Ruby luruh jatuh ke lantai. Dia seperti makan buah simalakama. Apapun keputusan yang diambilnya merugikan dirinya.
☘️☘️☘️
Ruby berjalan mondar-mandir. Otaknya terus berputar mencari jalan keluar terbaik dari masalahnya sekarang. Solusi yang ditawarkan Agung sungguh tidak menguntungkan dirinya. Ruby tak pernah bermimpi menikah dengan preman seperti Agung. Hanya Abi, pria yang ingin dinikahinya saat ini. Pria yang dia benci sekaligus cinta.
Waktu yang diberikan Agung semakin menipis. Andai dia masih memiliki ponsel, mungkin Ruby akan menghubungi Mano. Mengingat tentang Mano, wanita itu bertanya-tanya apakah sekutunya itu mencarinya. Kemudian dia teringat tanggal berapa ini. Ruby meremat rambutnya frustrasi.
“Sial.. kemarin adalah hari pernikahan Abi dan Nina. Pasti mereka sudah menikah sekarang. Eeerrggghhh... sial-sial... aku harus bagaimana. Apa aku menikah saja dengan Agung, baru aku minta bantuan Mano untuk lepas darinya? Iya.. sepertinya aku akan meminta bantuan Mano nanti. Menikah dengan Agung adalah pilihan terbaikku saat ini.”
Ruby terkesiap ketika pintu kamar terbuka. Agung masuk ke dalam, di belakangnya berdiri dua orang berwajah seram. Sepertinya mereka adalah anak buah mami Elis yang siap membawanya pergi menemui klien.
“Bagaimana?”
“Baik.. aku menerima tawaranmu. Tapi bebaskan aku sekarang.”
“Tunggu di sini. Aku akan berbicara dengan mami Elis.”
Agung membalikkan tubuhnya, dia berbicara sebentar dengan dua orang di belakangnya kemudian bergegas pergi. Sementara dua orang yang datang bersamanya tetap berjaga di depan pintu.
Dua puluh menit kemudian Agung datang. Tanpa banyak bicara dia menarik tangan Ruby. Beberapa preman anak buah Elis yang berjaga di ruang tengah apartemen memandang iri pada Agung yang berhasil mendapatkan ijin Elis membawa pergi Ruby.
“Telpon orang tuamu dan katakan kita akan menikah malam ini,” ujar Agung begitu mereka berada di dalam mobil. Tentu saja hal tersebut mengejutkan Ruby.
“Niat baik harus disegerakan bukan?”
“Orang tuaku sudah tidak ada. Aku tinggal dengan paman dan bibiku, mereka ada di Surabaya.”
“Kalau begitu hubungi mereka.”
Agung memberikan ponselnya. Mau tak mau Ruby menghubungi paman dan bibi yang selama ini sudah dianggapnya sebagai orang tuanya. Tentu saja mereka terkejut mendengar keputusan tersebut. Agung meraih ponsel kemudian mulai berbicara. Mata Ruby mengerjap tak percaya mendengar Agung yang berbicara begitu sopan pada orang tua angkatnya. Entah apa yang mereka bicarakan, Ruby tak peduli. Dia memalingkan wajahnya ke jendela samping.
“Mereka sudah setuju dan mengijinkan kita menikah dengan wali hakim.”
Tak ada tanggapan dari Ruby. Dia terus saja menatap deretan pohon yang berjajar di pinggir jalan. Tak lama mobil yang mereka kendarai memasuki area pemukiman padat penduduk. Agung memarkirkan mobil di lapangan yang dijadikan tempat parkir warga di sana yang rumahnya tidak memiliki garasi.
“Ayo turun.”
Ruby dari mobil. Agung melangkah di depan Ruby menyusuri deretan rumah. Kemudian dia masuk ke salah satu gang. Hanya berselang lima rumah, pria itu membelokkan dirinya ke sebuah rumah kecil bercat hijau. Di sana sudah dipenuhi cukup banyak orang.
“Nah ini dia calon pengantinnya datang,” seru salah seorang pria bertubuh tambun.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Wah mas Agung, ini calon istrimu? Cantiknya.”
Seorang wanita paruh baya mendekati Ruby. Dilihatnya calon istri Agung ini dari atas sampai bawah. Beberapa temannya juga ikut mendekat. Mereka lalu membawa Ruby masuk ke dalam kamar. Ruby diminta memakai kebaya yang telah disiapkan oleh mereka. Di tengah kebingungannya, Ruby mengikuti saja apa perintah mereka. Setelah siap, Ruby dibawa keluar kamar.
Di ruang tengah nampak empat orang sudah mengelilingi meja akad. Mereka duduk di atas tikar. Ruby menyusul duduk di sana. Wanita yang tadi mendandani Ruby menaruh selendang putih di atas kepala Agung dan Ruby. Agung menggenggam erat tangan wali hakim yang akan menikahkan mereka.
“Saya terima nikah dan kawinnya Ruby Claudia binti Herman Anggodo dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai.”
“Sah?”
__ADS_1
“SAH!”
Agung mengusap wajah dengan kedua tangannya. Nyawa Ruby melayang entah kemana. Hari ini dia menikahi pria asing yang baru ditemuinya beberapa hari lewat kejadian yang tidak terduga. Agung meraih tangan Ruby untuk dipasangkan cincin pengantin, menyentak kesadaran wanita itu. Dengan tangan bergetar dia mengambil cincin lain lalu menyematkan di jari manis Agung. Setelah itu dia mencium punggung tangan suami dadakannya. Agung meraih bahu Ruby lalu mendaratkan ciuman di kening sang istri. Ada gelanyar aneh menghantam dada Ruby saat bibir tebal itu menyentuh keningnya.
Akad nikah sederhana yang diselenggarakan dadakan berakhir sudah. Para tetangga yang menjadi saksi pernikahan pamit pulang. Hanya menyisakan pasangan pengantin di sana. Ruby masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Dia cukup terkejut Agung telah menyiapkan beberapa pasang baju untuknya. Ruby melepaskan kebaya lalu menggantinya dengan piyama berbahan satin.
Ruby keluar dari kamar lalu menghampiri Agung yang tengah duduk di ruang tamu merangkap ruang tengah dan ruang makan. Matanya fokus menatap layar datar di depannya. Pandangan Ruby berkeliling, di rumah kecil ini terdapat dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu dan dapur. Di dekat televisi terdapat kulkas satu pintu serta dispenser, di dapur juga terdapat kompor dan beberapa peralatan memasak juga perabotan lainnya.
Ruby mendekati Agung lalu duduk di sampingnya. Sejenak tak ada pembicaraan di antara mereka. Agung mematikan televisi kemudian menghadapkan tubuhnya pada Ruby. Wajahnya terlihat serius, sepertinya ada hal yang ingin dibicarakannya.
“Apa kita akan tinggal di sini?” Ruby memulai percakapan.
“Iya.”
“Tapi bagaimana dengan apartemenku?”
“Tinggalkan saja. Kamu sewa per bulan atau tahun?”
“Bulan.”
“Kalau begitu tidak usah diperpanjang. Nanti aku akan bantu memindahkan barang-barangmu ke sini.”
“Besok aku akan mulai bekerja lagi.”
“Lusa saja. Besok kita harus ke KUA mengurus dokumen pernikahan kita. Selanjutnya kita ke kantor dinas Bina Marga untuk mengambil mobilmu yang diderek ke sana.”
“Di mana tasku?”
Agung berdiri kemudian masuk ke dalam kamar. Tak lama dia keluar dengan membawa tas milik Ruby. Wanita itu segera mengambil tasnya lalu mengecek isi di dalamnya. Semuanya masih utuh berada di sana. Ponselnya masih mati karena kehabisan daya.
“Apa kamu bisa masak?”
“Sedikit.”
“Bagus. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja kamu harus memasak untukku. Aku tidak suka makan di luar rumah. Di sebelah kanan rumah ada warung yang menjual sayuran juga daging. Kamu bisa berbelanja di sana. Setiap hari aku akan memberikan uang belanja untukmu.”
“Apa kita tidur bersama di satu kamar atau terpisah?”
“Tentu saja satu kamar, kita ini suami istri. Aku akan memenuhi kewajibanku sebagai suami dan kamu juga harus memenuhi kewajibanmu sebagai istri, termasuk memberikan hakku.”
Ruby menelan ludahnya kelat. Membayangkan dirinya berhubungan intim dengan preman yang sudah resmi menjadi suami membuatnya bergidik. Ruby mengambil tasnya kemudian masuk ke dalam kamar. Langsung saja dia mengisi daya ponselnya. Besok Ruby akan menghubungi Mano dan meminta lelakinya itu membebaskannya dari Agung.
Ruby merangkak naik ke atas kasur. Direbahkan tubuhnya yang terasa lelah. Kasur berukuran queen size itu cukup empuk juga walau tidak diberi ranjang dan hanya beralas karpet plastik saja. Baru Ruby memejamkan mata, pintu kamar terbuka. Agung masuk lalu merebahkan diri di samping wanita itu.
Refleks Ruby membalikkan tubuhnya memunggungi Agung. Hatinya kebat-kebit, takut kalau Agung meminta haknya malam ini. Ruby memejamkan matanya, berusaha agar cepat tertidur. Dia terjengit saat Agung memeluknya dari belakang.
“Aku menginginkanmu,” bisiknya di telinga Ruby, membuat tubuh wanita itu meremang.
Ruby memejamkan matanya, dirinya berusaha pasrah karena bagaimana pun juga kini hidupnya berada di tangan Agung. Pria itu membalikkan tubuh Ruby hingga menghadapnya. Perlahan dia mulai menjamah dan mencumbu tubuh wanita yang telah sah menjadi istrinya.
Agung mencium kening Ruby setelah menuntaskan hasratnya. Ditariknya tubuh sang istri dalam pelukannya. Walau sosok Agung yang seorang preman lengkap dengan tubuh kekar dan wajah datarnya telihat cukup menyeramkan, namun berlaku lembut saat berhubungan intim. Harus Ruby akui, Agung tidak bermain tergesa-gesa bahkan membuatnya merasakan kenikmatan yang tidak didapatnya dari Mano. Mereka memang telah beberapa kali bercinta namun Mano begitu kasar hingga Ruby tak pernah menikmatinya. Berbeda dengan Agung yang mampu membuatnya melayang.
☘️☘️☘️
**Weh si Ruby Rainbow udah nikah aja. Nah kira² nanti sikap Agung seperti apa ya? Apa dia bakal jadi sekutu baru Ruby?
Mami Eliiiiisssss😘😘😘
Readers tercinta, mamake minta maaf. Berhubung ada kerjaan di RL, jadi hari ini dan beberapa hari ke depan cuma bisa up 1x. Karena terlalu asik ngehalu Abi & Nina, sampe kelupaan kalo deadline kerjaan semakin mendekat😬
Jadi, dari pada mamake disleding dan ngga dikasih proyek lagi, mamake ijin up 1x aja ya tiap harinya sampai pekerjaan mamake beres. Love you all😘😘😘**
__ADS_1