
“Sayaaaang,” panggil Abi ketika memasuki rumah. Nina yang sedang menunggu di ruang tengah seraya menonton televisi langsung menghampiri sang suami.
“Ini pesanannya dan ini bonus buat kamu.”
Abi meyerahkan bungkusan sate padang juga buket bunga pada Nina. Wanita itu terlonjak kegirangan melihat sang suami membelikannya bunga. Diciumnya bunga mawar warna warni yang terlihat masih segar.
“Ya ampun mas Abi so sweet banget. Bunganya masih seger terus wangi lagi. Mas beli di mana? Emang jam segini masih ada toko bunga yang buka?”
“Oh.. itu mas beli di penjual bunga keliling yang mangkal di deket tukang sate padang. Kasihan dia dari tadi belum ada yang beli bunganya. Jadi mas beli aja, itung-itung nolong dia kan.”
Abi bercerita sambil mendudukkan diri di sofa tanpa melihat wajah istri yang sudah berubah rupanya. Nina mendekat lalu memukul Abi dengan buket bunga di tangannya.
“Aduh kok mas dipukul sih.”
“Mas tuh emang nyebelin!”
“Loh salah mas apa?”
“Mas beli bunga ini buat nolong yang jual bukan sengaja beli buatku! Kalau tadi ngga ada penjual bunga di sana, pasti mas ngga akan beli bunga buatku kan?”
“Iya.”
Mata Nina langsung membulat sempurna, penampakannya persis seperti Suzanna ketika berperan sebagai sosok sundel bolong. Saat itu pula Abi menyadari kalau dirinya sudah melakukan kesalahan.
“Eh ngga gitu maksudnya sayang.”
“Au aah.. aku sebel sama mas Abi!”
Nina menaruh bungkusan sate padang di meja lalu pergi meninggalkan Abi seraya menghentakkan kakinya. Pria itu hanya melongo, bi Ita yang sedari tadi menyaksikan drama suami istri dari ruang makan segera menghampiri Abi.
“Ini bibi pindahin dulu ke piring ya, mas Abi.”
“Bi.. salah saya apa? Kok Nina sampe sewot gitu?”
“Abisnya mas Abi pake bilang beli bunga itu karena kasihan sama yang jual. Harusnya bilang aja beliin bunga buat mba Nina. Cerita soal tukang bunganya ngga usah disebut. Apalagi mba Nina lagi hamil muda, perasaannya sensitif banget. Sana mas Abi bujukin dulu mba Ninanya, nanti bibi anterin sate padangnya ke kamar.”
Abi mengangguk lalu bergegas menuju kamar. Saat membuka pintu, dilihatnya Nina tengah meringkuk di atas kasur. Perlahan didekati sang istri lalu duduk di sisi ranjang. Diusapnya pelan punggung Nina.
“Sayaaang... maaf ya, mas emang salah. Jangan marah terus dong, kasihan dedenya kalau mama marah-marah terus.”
“Mas Abi nyebelin!”
“Iya mas emang nyebelin.”
“Mas Abi ngga peka!”
“Iya mas emang ngga peka.”
“Mas Abi ngga sayang aku.”
“Iya mas emang ngga sayang, eehhh...”
“Tuh kan!!”
Nina bangun dari tidurnya lalu menatap tajam ke arah Abi. Pria itu menelan kelat ludahnya kasar melihat tatapan horor sang istri. Ingin rasanya dia memukul mulutnya yang telah keceplosan mengulangi kata-kata sang istri.
“Sayang jangan marah. Mas salah ngomong.. maksudnya mas tuh sayang banget sama kamu.”
“Bohong!”
“Ngga.”
“Mas bosen kan sama aku?”
“Ngga sayang.”
“Mas kesel kan sama aku?”
“Ngga sayang.”
“Mas mau cari yang lain kan?”
“Ngga sayang.”
“Mas beneran cinta sama aku?”
“Ngga sayang eehh.. cinta banget sayang.”
“Tuh kan mas tuh nyeb.....”
Abi langsung menyambar bibir Nina, tak membiarkan wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Tangannya menahan tengkuk Nina, kemudian lidahnya segera masuk ke dalam rongga mulut sang istri. Abi tak memberikan Nina kesempatan untuk melepaskan diri dan terus memagut bibir seksi itu. Dia melepaskan tautannya saat merasakan sang istri mulai kehabisan oksigen lalu menyatukan kening mereka.
“Mas mencintaimu sayang, sangat mencintaimu. Mas minta maaf kalau udah buat kamu kesel. Jangan marah lagi hmm..”
__ADS_1
“Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Aku mau lihat audisi girl band di kantornya bang Jojo.”
“Boleh.”
“Tapi ditemenin sama mas.”
“Pasti sayang. Sekarang dimakan dulu ya sate padangnya.”
Nina mengangguk, Abi melepaskan tautan keningnya lalu meraih tangan Nina. Sambil bergandengan tangan mereka keluar dari kamar. Bi Ita yang baru saja akan mengantarkan makanan ke kamar mengurungkan niatnya. Abi mengambil piring dari bi Ita kemudian bersama Nina menuju ruang tengah. Dengan telaten dia menyuapi sang istri sampai sate padang habis dimakannya.
☘️☘️☘️
Jojo keluar dari mobil setelah memarkirkan mobil di tempat khusus yang disediakan untuknya. Setelah mengunci mobil, pria itu berjalan menuju pintu masuk J & J Entertainment. Perusahaan warisan Ronald yang saat ini sudah sepenuhnya menjadi miliknya.
“Om..”
“Astaga! Kamu!! Bisa ngga sih ngga ngagetin orang?!”
Jojo menyentak kesal gadis di sampingnya yang datang tiba-tiba dan membuatnya terkejut. Sang gadis yang tak lain adalah Adinda hanya cengar-cengir saja seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ngapain ke sini? Jangan bilang mau ikut audisi lagi.”
“Ngga om. Aku ke sini cuma mau nawarin daganganku.”
Adinda berlari menuju salah satu pilar gedung. Dari baliknya dia mengambil dua buah botol minuman. Kemudian kembali menghadap Jojo. Disorongkannya botol minuman tersebut ke arah Jojo.
“Ini om.. aku jualan jus mangga. Enak om, ini mangganya dipetik langsung dari pohon. Judulnya fresh from the tree. Beli ya om, kan lumayan buat ngusir haus pas audisi.”
Jojo memandangi dua buah botol berwarna kuning di tangan Adinda. Satu berwarna kuning menjurus orens, satu lagi kuning sedikit pucat. Diambilnya salah satu botol di tangan gadis itu.
“Ini mangga apa?”
“Yang om pegang mangga harumanis kalau yang ini mangga kaweni. Enak om, coba deh, seger. Apalagi minumnya sambil lihat aku jadi seger-seger gimana gitu, tambah manis,” Adinda tersenyum lebar, berharap Jojo termakan bualannya dan mau membeli.
Jojo membuka botol di tangannya lalu meneguknya sedikit. Rasa jusnya memang segar, manisnya juga pas. Kemudian dia mengambil botol yang satunya dari Adinda dan melakukan hal yang sama. Botol kedua rasanya sedikit masam, tapi lebih segar dan wanginya begitu menggoda.
“Berapa harganya?”
“Sepuluh ribu om sebotolnya.”
“Bisa om.”
“Ini uangnya.”
Jojo memberikan tiga lembar uang seratus ribuan pada Adinda. Gadis itu dengan senang hati menerima namun terkejut juga karena kelebihan satu lembar.
“Om ini kelebihan uangnya.”
“Ambil aja, anggap itu ongkir buat anter ke atas.”
“Waaahh.. makasih om.”
Adinda memasukkan uang ke dalam saku celananya. Kemudian gadis itu bergegas menuju tempatnya menyimpan jus. Dimasukkannya dua puluh jus pesanan Jojo ke dalam dua kantung plastik. Dengan semangat empat lima, gadis itu masuk ke alam lift untuk menuju lantai lima. Sesampainya di sana, Adinda masuk ke ruang audisi.
“Misi om, kak..”
“Eh belum dimulai audisinya,” seru Luna yang terkejut melihat kedatangan Adinda.
“Saya bukan mau audisi. Mau anterin minuman pesanan om Jojo.”
“Om Jojo? Bentar-bentar.. kamu yang waktu itu nyanyi blewah ya.”
“Iya kak, hehehe.. masih inget aja. Ini om pesanannya. Aku permisi dulu ya om, kak.”
Adinda bergegas keluar dari ruang audisi. Dia malu bertemu kembali dengan Luna dan Arland. Sudah bergaya ala rocker blewah, ditolak mentah-mentah pula. Saat melintasi deretan peserta yang sedang menunggu giliran, Adinda tersenyum miris. Seandainya saja dia berhasil lolos audisi, mungkin dirinya tidak perlu berjualan keliling lagi.
Adinda berjalan kembali ke tempatnya menjual minuman. Senyum tak hilang dari bibirnya. baru saja berjualan, dia sudah mendapat bonus seratus ribu dari Jojo. Saat akan keluar, saking asiknya melamun, gadis itu tak menyadari ada orang di depannya. Dia menabrak orang tersebut sampai tubuhnya terhuyung ke belakang.
“Heh!! Kalau jalan lihat-lihat, ngelamun aja!!” sentak orang tersebut.
Adinda mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah pria yang ditabraknya. Matanya membulat melihat sosok di depannya. Begitu pula dengan pria itu, yang tak lain adalah Abi. Nina yang berada di samping Abi, langsung memeluk lengan suaminya yang tengah marah-marah pada Adinda.
“Maaf atuh.. eh ini akang yang semalem beli bunga saya kan?”
“Akang.. akang.. emangnya saya kang Mus. Kamu udah kaya setan, ada di mana-mana,” Nina mencubit lengan Abi.
“Apa atuh panggilnya? Aa aja ya, kalau bapak mah ketuaan atuh. Ini pasti pacarnya aa ya? Iihh meni geulis pisan. Gimana teh, suka sama bunganya? Itu saya petik langsung dari kebun bunga tetangga saya.”
“Suka apaan? Dia malah marah-marah!”
__ADS_1
“Mas iihh.. aku suka kok bunganya cantik dan wangi. Ternyata kamu yang jual bunganya. Sekarang kamu jualan bunga juga?”
“Ngga teh, nanti malam jualan bunganya. Sekarang saya mah jualan jus. Oh iya aa sama teteh mau beli? Sebentar ya.”
Adinda berlari kecil menuju tempatnya menaruh stok jualannya. Tak lama dia kembali dengan membawa dua buah botol di tangannya.
“Mau beli teh? Ini jus mangga, yang ini mangga harumanis, yang ini kaweni.”
Nina meraih botol berisi jus kaweni lalu langsung membukanya. Wangi buah kaweni langsung tercium begitu tutup botol terbuka. Dia meneguk sedikit jus buah tersebut.
“Ehmm.. enak banget, seger lagi. Aku mau dong, minta lima botol ya yang kaweni. Mas coba yang ini.”
Nina menyodorkan botol berisi jus mangga harumanis. Abi membuka tutupnya lalu meneguknya sampai setengah.
“Gimana? Enak mas?”
“Biasa aja, rasanya kaya mangga.”
“Ya iyalah namanya juga jus mangga. Masa iya rasanya kaya duren,” sewot Nina.
Abi hanya mengendikkan bahunya. dia menghabiskan sisa jus di botol lalu melemparkan botol bekas ke dalam tempat sampah yang berjarak beberapa meter darinya. Botol masuk sempurna ke dalam keranjang sampah. Tak sia-sia dirinya menjadi the best point guard ketika tergabung dalam tim basket waktu SMA.
“Jadi beli berapa teh?”
“Beli sepuluh.”
“Mangga apa?”
“Dua-duanya ya.”
“Siap teh.”
Adina kembali menuju tempat barang dagangannya lalu memasukkan sepuluh botol jus ke dalam tas plastik. Dengan senyum senang, dia memberikan jus tersebut pada Nina yang langsung disambar oleh Abi. Nina mengambil dompetnya kemudian menyerahkan dua lembar seratus ribuan pada Adinda.
“Kelebihan teh. Harganya sepuluh ribu,” Adinda mengembalikan uang seratus ribu pada Nina tapi ditolaknya dengan halus.
“Ngga usah, ambil aja. Anggap itu bonus buat kamu.”
“Ya Allah, alhamdulillah. Makasih ya teh. Mudah-mudahan cepet nikah sama aa-nya.”
PLETAK
Sebuah sentilan mendarat di kening Adinda disusul ringisan gadis itu seraya mengusap keningnya yang terasa panas. Nina melotot pada sang suami yang terlihat tak acuh. Abi malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Maaf ya, suami saya kalo telat obat emang begitu. Sakit ya,” Nina mengusap kening Adinda.
“Ngga kok teh. Ngga apa-apa, udah kebal. Ini bukan yang pertama, kalau sekali lagi saya pasti dapet payung cantik.”
“Mau?”
Jari Abi sudah bersiap untuk menyentil kembali tapi Nina langsung mencubit pinggangnya. Adinda refleks menutupi kening dengan kedua tangannya.
“Dagangan kamu masih ada sisa?” tanya Abi.
“Masih a.. masih ada dua puluh botol lagi.”
“Saya beli semuanya terus bagiin sama orang-orang yang ada di sini. Yang, bayarin yang dua puluh botol sama bonus sentilannya jangan lupa.”
Nina terkikik geli mendengar ucapan sang suami. Dia kembali mengambil dompetnya lalu mengeluarkan lima lembar seratus ribuan. Diserahkan uang tersebut pada Adina. Gadis itu hanya melongo melihat jumlah uang yang diterimanya.
“Teh.. ngga salah ini? Banyak banget.”
“Yang dua ratus buat bayar jus. Sisanya bayaran buat sentilan kamu, maaf ya.”
Nina mengusak puncak kepala Adinda kemudian menggamit lengan Abi. Keduanya berjalan menuju lift yang letaknya tak jauh dari meja resepsionis. Adinda memandangi Nina dan Abi dengan mata berkaca-kaca.
“Makasih a.. teteh..” suara Adinda tercekat di tenggorokan saking bahagianya menerima sejumlah uang dari pasangan tersebut.
Ya Allah terima kasih sudah mempertemukan hamba dengan orang-orang yang baik. Biar suka nyentil, tapi si aa meni bageur, istrinya juga. Alhamdulillah dagangan laku semua. Enin, nanti sore kita ke dokter ya.
☘️☘️☘️
**Naik ya tarifnya sekarang Ble.. kemarin 140rb sekarang 300rb sekali sentil🤣
Hai.. hari ini mamake sempatkan up 2x untuk kalian🤗
Ijin promo yuk, mampir ke novel terbaru mamake. Tapi ini up nya pake akun sebelah alias akun ponakan mamake. Ketik aja judulnya di kolom pencarian atau nama othornya, D'Adrianz. Mohon dukungannya ya🙏
Sinopsis :
Nick seorang pemuda berusia 24 tahun menjalani hidup tanpa tujuan. Hingga akhirnya dia bertemu seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta. Sayang restu orang tua menghalangi hubungan mereka. Dibutakan rasa cinta mereka melakukan hal tersebut yang berbuah petaka.
Ikuti kisah Nick di** :
__ADS_1