KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 :


__ADS_3

“Zahra..” panggil Freya, membuat Zahra tersentak dari lamunannya. Freya berjalan mendekati gadis itu.


“Kamu Zahra kan?” tanya Freya lagi.


“I.. iya, kak.”


“Siapa Frey?” tanya Nina sambil mendekati anaknya. Dia lalu melihat ke arah Zahra dan mengenali gadis itu.


“Eh.. kamu suster yang di rumah sakit itu kan?”


“Iya tante.”


“Ini gebetannya Nan, ma. Mama inget ngga insiden Nan ngambek gara-gara ciloknya aku makan. Nah, Zahra yang beliin tuh cilok sampe si kompor mledug ngambek.”


“Lagian kamu makan cilok Nan ngga nanya-nanya dulu,” sambar Abi yang juga sudah berada di dekat mereka.


“Menggiurkan pa, ciloknya.”


“Kamu sama siapa ke sini? Sama Nan?” tanya Nina.


“Ng.. ngga tante. Aku sendiri kok.”


“Udah siang, kita makan dulu aja gimana?” tawar Abi.


“Iya mas. Ayo Zahra, ikut kita makan siang ya.”


“Eh.. ngga usah tante, makasih.”


“Ayo jangan malu-malu. Itung-itung latihan jadi mantu hihihi..”


Freya segera menarik tangan Zahra untuk ikut dengannya. Abi merangkul pinggang Nina kemudian berjalan menuju restoran yang tak jauh dari sana. Seorang pelayan langsung menyambut kedatangan mereka dan memandu mereka menuju meja yang kosong.


“Kamu mau makan apa, Frey?”


“Aku salad aja, ma. Aku kan lagi diet.”


“Ngapain kamu diet-diet,” protes Abi.


“Ish.. papa. Aku diet buat menjaga bentuk tubuh. Takutnya gaun pengantinnya malah ngga muat nanti.”


“Ngga usah diet-diet, makan yang bener. Kalau bajunya kekecilan tinggal ganti yang baru. Kesehatan kamu lebih penting dari pada gaun pengantin.”


“Tapi kalau aku gendut, nanti bang Ravin kepincut perempuan lain.”


“Kalau laki-laki itu tulus mencintaimu, dia ngga akan peduli dengan bentuk fisikmu. Karena yang dicintainya adalah kepribadianmu. Papa percaya, Ravin bukan tipe laki-laki seperti itu. Dari pada memikirkan bentuk tubuh, lebih baik kamu belajar bagaimana menjadi istri yang baik.”


“Iya pa, iya.”


Freya mengambil buku menu yang ada di atas meja lalu mulai memilih-milih makanan yang tertera di sana. Diam-diam Zahra mengagumi sifat kebapakan Abi. Tak sadar dirinya berkhayal, jika menikah dengan Kenan, dia juga bisa merasakan kasih sayang pria itu. Namun buru-buru ditepiskannya pikiran itu. Kenan sudah menjaga jarak darinya. Mungkin pria itu sudah menyerah padanya, seperti lelaki lain yang pernah mengejarnya.


Belum selesai mereka memesan makanan, Kenzie dan Nara datang bergabung. Sepasang suami istri itu mencium punggung tangan kedua orang bergantian lalu menuju kursi yang kosong. Nara yang melihat keberadaan Zahra di tengah-tengah keluarga, melemparkan senyuman pada gadis itu. Sedang Kenzie tetap dengan aura dinginnya.


“Si kompor mana?” tanya Kenzie seraya menarik kursi untuk istrinya.


“Ini lagi aku chat, bang,” jawab Freya.


“Zahra mau pesan apa?” tanya Nina.


“Eng.. samain aja tante,” jawab Zahra sungkan. Sungguh dia mengharapkan Kenan berada di sini sekarang. Setidaknya jika ada pemuda itu, dirinya tidak akan secanggung ini. Berada di tengah-tengah orang yang baru dikenalnya. Apalagi melihat wajah dingin Kenzie, membuatnya sedikit merinding.


“Gimana Nan?” tanya Nina.


“Ngga bisa ikut katanya, ma. Dia lagi latihan sama The Myth buat resepsi nanti.”


“Bilang ada Zahra, gitu,” desak Nina.


“Udah, ma. Tetap ngga bisa katanya.”


“A.. aku pergi aja ya, tante.”


“Eh jangan. Ada atau ngga ada Nan, kamu harus tetap di sini. Tante pengen kenal lebih jauh, seperti apa gadis yang udah bikin Nan kaya belatung nangka.”


Zahra mengulum senyumnya mendengar ungkapan Nina untuk anak bungsunya. Kepalanya menoleh ke arah Nara ketika wanita itu menyentuh tangannya.


“Biar ngga ada, Nan. Kan ada aku, kita kan udah temenan. Makasih ya, waktu itu udah mau ngabulin permintaan ngidamku yang aneh.”


“I.. iya, kak.”


Walau canggung, Zahra berusaha membaur dengan keluarga Kenan. Sikap ramah Nina, Freya dan Nara cukup membuatnya nyaman. Dia juga terkesan dengan sikap hangat Abi. Pria itu juga sesekali mengajaknya berbicara. Berbeda dengan Kenzie yang justru sibuk dengan ponselnya.


Lima belas menit kemudian, semua pesanan sudah terhidang di atas meja. Zahra hanya bisa melihat dengan haru keakraban dan kehangatan keluarga ini. Ternyata apa yang dikatakan Kenan bukan cerita kosong belaka. Pantas saja pemuda itu terlihat selalu bahagia, karena dirinya dikelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya.


Dari arah pintu masuk restoran, seorang pemuda mengenakan masker dan topi masuk ke dalam. Dia mengambil tempat yang tidak begitu jauh dari meja yang ditempati Zahra. Seorang pelayan menghampiri dan mencatat pesanannya. Pemuda yang ternyata adalah Kenan, terus memperhatikan Zahra yang tengah makan bersama keluarganya. Sebuah senyuman tersungging dibalik masker yang dikenakannya.


“Za.. kamu udah kerja atau masih magang?” tanya Freya di sela-sela acara makan siang mereka.


“Masih magang, kak.”


“Kapan beresnya?”


“Eng… kurang lebih dua bulan lagi.”


“Ngapain kamu nanya-nanya, kaya wartawan,” tegur Nina.

__ADS_1


“Ya kan siapa tau tuh si kompor langsung ngelamar begitu beres kuliah.”


Uhuk.. uhuk..


Zahra sampai tersedak makanannya sendiri mendengar ucapan frontal Freya. Nina yang posisinya lebih dekat dengan Zahra, menyodorkan gelas berisi air putih pada gadis itu. Tangannya mengusap punggung Zahra.


“Kamu punya kakak atau adik?” Nara berusaha mengalihkan pembicaraan, agar Zahra tidak merasa canggung.


“Aku anak tertua, punya satu adik perempuan.”


“Cocok.. kamu anak tertua, Nan anak bungsu,” sambar Freya. Nara menendang kaki adik iparnya ini karena tak berhenti menggoda Zahra.


“Kalau kamu lebih mirip siapa, Za? Mama atau papa? Kalau aku mirip mama,” ujar Nara lagi.


“Mirip.. mama..”


Kerongkongan Zahra sedikit tercekat ketika menjawabnya. Sejatinya wajah Zahra lebih mirip papanya. Namun kebencian pada pria itu membuatnya tak pernah mau mengakui kalau wajahnya lebih mirip sang papa.


“Ra.. makan yang banyak. Calon cucu papa harus sehat,” Abi menyodorkan piring berisi ikan bakar ke arah menantunya itu.


“Pengen sih, pa. Tapi ribet makan ikan bakar.”


Kenzie yang tahu maksud dari istrinya, segera menarik piring berisi ikan bakar lalu mengambil seekor ikan berukuran sedang dan meletakkan ke piringnya. Dengan hati-hati, dia memisahkan daging dari durinya kemudian menyuapi Nara. Zahra tertegun melihat Kenzie yang terlihat dingin namun bisa bersikap hangat pada istrinya.


“Duh.. kok panas ya.. bang Ravin mana nih,” Freya mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya. Berpura-pura kepanasan melihat aksi mesra sang kakak. Nara hanya tersenyum melihat tingkah adik iparnya.


Lama-lama kecanggungan Zahra mulai mencair. Gadis itu akhirnya larut dalam perbincangan hangat. Kenan yang terus memperhatikan dari meja tempatnya berada, tak bisa berhenti tersenyum. Dia memang sengaja tak menampakkan diri di hadapan Zahra. Selain untuk membuktikan keseriusan ucapannya, pemuda itu ingin Zahra melihat dan merasakan sendiri bagaimana kehangatan keluarganya.


Usai makan siang, Zahra melanjutkan perburuannya mencari pakaian untuk acara besok. Bertemu dan bercengkrama dengan keluarga Kenan cukup membuat mood gadis itu membaik. Dia kembali memasuki departemen store untuk memilih pakaian. Kenan pun masih tetap mengikuti Zahra, dengan menjaga jarak aman.


Tiga buah dress sudah dipilihnya. Tak lupa dia membelikan sebuah dress untuk Silva dan gamis untuk ibunya. Tak apa menghabiskan lebih banyak uang untuk menyenangkan hati dua orang yang sangat disayanginya. Sedikit demi sedikit Zahra memang menabung dari hasil kerjaan sampingan sebagai wedding singer.


Selesai membeli pakaian, Zahra menuju sebuah booth yang menjual minuman. Dia melintasi dua orang pemuda bertubuh kurus. Pandangan kedua pemuda itu terus melihat ke arah Zahra. Salah satunya mengeluarkan siulan menggoda.


“Cantik juga tuh cewek.”


“Bodinya juga oke. Gue ngga nolak lah kalau jadi cowoknya.”


“Ceweknya cantik ya, bro,” ujar Kenan seraya merangkul kedua bahu pemuda itu. Sontak saja keduanya terkejut.


“Eh siapa lo?”


“Gue calon suaminya. Hilangin pikiran ngeres dari otak lo,” Kenan menunjuk kepala salah satu pemuda dengan jarinya.


“Kalau lo berani goda dia, gue bikin lo ngga bisa jalan sebulan, mau?”


“Ng.. ngga bang. Sorry deh.”


Kenan melepaskan rangkulannya lalu menendang bokong kedua pemuda itu. Mereka langsung pergi menjauh dari Kenan. Lebih baik cari aman dari pada ambil resiko tidak bisa berjalan selama sebulan. Setelah berhasil mengusir dua pemuda kerempeng itu, Kenan meneruskan langkahnya mengikuti Zahra.


☘️☘️☘️


“Bang..”


Anya masuk ke kamar Aric, lalu berdiri di belakang sang kakak yang sedang fokus dengan laptopnya. Gadis itu memeluk leher sang kakak dan menggelayutkan kepalanya manja di bahu Aric. Pria itu menghentikan aktivitasnya lalu melihat ke arah Anya.


“Apa dek?”


“Lusa bang Aric udah nikah. Abang bakalan tinggal di mana?”


“Sementara di sini sampai rumah abang siap. Kenapa?”


“Abang abis resepsi langsung bulan madu?”


“Iya, abis resepsi Azra sama Fathan.”


“Berapa hari bang, bulan madunya?”


“Hmm.. seminggu kayanya. Kenapa? Mau ikut?”


“Ish.. ogah banget. Bakalan jadi kambing congek. Nanti telinga dan mataku ngga perawan lagi.”


“Hahaha..”


Aric membalikkan kursinya kemudian berdiri. Dirangkulnya pundak Anya lalu membawanya duduk di sofa yang ada di kamarnya. Anya memeluk pinggang Aric. Sebelum sang kakak menjadi milik Naya seutuhnya, dia ingin bermanja-manja pada pria itu. Aric mengusap puncak kepala adiknya dengan lembut.


“Bang.. boleh ngga malam ini temenin aku tidur di kamar?”


“Tumben minta ditemenin, kenapa?”


“Ngga apa-apa. Kan bentar lagi abang nikah, aku ngga bisa minta ditemenin abang lagi nantinya.”


“Oke deh. Tidurnya di sini apa di kamar kamu?”


“Di kamar aku aja.”


“Ya udah, ayo.”


Anya bersyukur sang kakak mau menemaninya tidur dan tak curiga padanya. Sebenarnya Anya hanya ingin tidur nyenyak malam ini. Dia takut harus tidur di kamar sendiri. Gadis itu merasa ada makhluk lain yang ikut tidur di sampingnya. Makhluk itu tak terlihat olehnya, namun Anya bisa merasakan kehadirannya.


Sesampainya di kamar, Anya naik ke atas kasur lalu merebahkan diri di sisi yang dekat dengan tembok. Aric duduk di sisi ranjang, dia masih sibuk berbalas pesan dengan Naya. Lima belas menit berlalu, pria itu baru merebahkan tubuhnya. Namun dia kembali bangun ketika merasa ada yang aneh dengan sisi kasur yang ditidurinya. Aric melihat ke arah Anya yang sudah tertidur.


Aric bangun kemudian menuju kamar mandi untuk berwudhu. Selesai berwudhu, pria itu kembali ke kasur. Sebelum berbaring dia mengangkat kedua tangannya untuk berdoa lalu meniup kedua telapak tangannya. Diusapkan seluruh telapak tangan ke tubuhnya. Kemudian dia melakukan hal yang sama pada Anya. Setelah merasa keadaan sudah kembali normal, Aric membaringkan tubuhnya di sisi Anya.

__ADS_1


Lewat tengah malam, Aric terbangun dari tidurnya, keringat membasahi kaos yang dikenakannya. Nafasnya juga nampak tersengal, dadanya seperti baru saja tertindih batu besar. Pria itu menoleh ke arah Anya yang masih tertidur pulas. Dia bersyukur sang adik tidak merasakan gangguan seperti dirinya. Aric membaringkan tubuhnya, mencoba untuk tidur kembali.


Belum sampai satu jam, Aric kembali terbangun. Lagi-lagi dia merasa dadanya seperti tertindih batu besar. Dengan kesal pria itu bangun lalu menuju kamar mandi. Tak berselang lama, Aric keluar dengan wajah dan rambut basah, terkena air wudhu. Dia menggelar sajadah lalu memulai shalat malam.


Usai shalat malam, Aric masih bertahan di atas sajadahnya. Kali ini dia meneruskan ibadah dengan berdzikir. Matanya terpejam dan jemarinya terus menggulirkan butiran tasbih di tangannya. Dia mulai paham mengapa Anya minta ditemani tidur dan bertanya tentang bulan madunya. Adiknya mulai merasakan sesuatu yang tak beres di sekitarnya. Terutama di dalam kamarnya.


Aric terus bertahan di tempatnya sampai adzan shubuh terdengar. Setelah membangunkan Anya, pria itu kembali ke kamarnya untuk bersiap shalat shubuh berjamaah dengan Cakra di masjid kompleks.


Selepas shalat shubuh, Aric dan Cakra pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Hal ini dimanfaatkan Aric untuk menceritakan semua keanehan yang dirasakan di kamar Anya. Sejenak Cakra terdiam, bulan depan Anya menginjak usia 21 tahun, artinya peluang untuk makhluk astral mendekatinya semakin terbuka lebar. Seiring bertambahnya usia, maka aura yang dimiliki gadis itu semakin kuat menarik makhluk astral di sekitarnya.


“Anya belum cerita ya sama papi.”


“Belum. Kamu tahu sendiri bagaimana adikmu. Mungkin melihat mami sama papi sibuk ngurus pernikahanmu, dia ngga berani bilang.”


“Bagusnya gimana, pi? Kasihan Anya.”


“Kalau mau cara instan ya Anya nikah. Tapi dia masih muda, papi belum rela lepas dia nikah.”


“Selain nikah?”


“Anya harus lebih kuat lagi. Dia harus ngalahin rasa takutnya. Dan itu emang ngga mudah. Apalagi dasarnya tuh anak penakut.”


“Kasihan Anya, pi. Kalau emang dengan nikah dia bisa kembali normal, kenapa ngga. Aku ngga tega lihat Anya. Kalau kemarin aku masih bisa jagain dia, tapi setelah nikah, waktuku ngga akan sebanyak kemarin. Atau aku ngga usah pindah? Biar aku masih bisa jagain Anya.”


Cakra tak menjawab pertanyaan putranya. Dia masih berusaha mencari jalan yang terbaik untuk Anya. Kemampuan melihat makhluk astral memang sudah turun temurun dalam keluarganya. Kemampuan itu diturunkan dari gen sang ayah. Seandainya saja Aric yang memiliki kemampuan itu, Cakra tidak akan serisau ini.


Kalau ternyata kondisi Anya semakin memburuk, mau tak mau dia harus mengambil keputusan menikahkan Anya. Toh Irvin sudah bertemu secara pribadi dengannya dan menyatakan keseriusannya ingin menikahi Anya.


☘️☘️☘️


Abi mendekati Freya yang duduk termenung di dekat kolam renang. Gadis itu tak menyadari kehadiran sang ayah. Pikirannya tengah berkelana entah kemana. Besok dirinya akan resmi menikah dengan Ravin. Dulu rasanya tak sabar menunggu hari ini tiba. Tapi sekarang dia seperti tak siap menghadapi hari esok.


“Frey..” tegur Abi.


Abi mendudukkan diri di sisi Freya kemudian merangkul bahu anak gadisnya itu. bukan hanya Freya, Abi pun merasakan hal yang sama. Besok dia harus melepas putri satu-satunya pada lelaki yang menjadi pilihan anaknya. Rasanya baru kemarin Freya datang ke dunia. Freya memeluk pinggang Abi dan menyandarkan kepala di dadanya.


“Kenapa belum tidur?”


“Belum bisa tidur, pa.”


“Ngga sabar nunggu besok, ya,” goda Abi. Freya tak menjawab, malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Jangan tidur terlalu malam. Kamu butuh banyak energi buat besok.”


“Pa.. kalau aku udah nikah, aku masih boleh manja-manjaan sama papa?”


Terdengar kekehan Abi. Tangannya mengusap lengan Freya. Rasanya masih belum percaya, anak gadisnya yang manja akan segera menjadi seorang istri. Dan setelah menikah, Ravin akan memboyongnya pergi dari rumah ini. Tak akan ada lagi celotehan manja Freya atau teriakan suaranya saat bertengkar dengan Kenan. Mendadak perasaan Abi menjadi sedih.


“Kamu tahu, Frey. Bagi seorang ayah, anak perempuan akan selalu dianggap sebagai putri kecilnya, walau anak itu sudah dewasa. Biar pun kamu sudah menikah, bagi papa, kamu tetap putri kecil yang menggemaskan, yang masih membutuhkan perlindungan dan limpahan kasih sayang papa. Selamanya kamu akan menjadi anak papa. Dan akmu boleh bermanja kapan pun kamu mau.”


Tak ada tanggapan dari Freya, gadis itu hanya ingin mendengarkan ucapan sang ayah saja. Menghabiskan waktu berdua seperti ini mungkin akan jarang dilakukannya lagi. Suasana di antara mereka menjadi semakin sendu. Mata Freya mulai berkaca-kaca.


“Besok tanggung jawab papa sudah berpindah ke pundak Ravin. Dia yang akan bertanggung jawab padamu, dunia akhirat. Apa yang kamu lakukan harus seijin Ravin, bahkan untuk bertemu dengan papa, kamu pun harus meminta ijinnya dahulu. Belajarlah menjadi istri yang baik dari mama dan juga mama Rindu. Papa percaya kamu akan menjadi istri yang baik.”


“Doakan aku ya, pa.”


Freya tak mampu banyak bicara, kini airmatanya sudah jatuh berlinang. Abi semakin mengeratkan pelukannya di bahu sang anak seraya mendaratkan ciuman bertubi-tubi di puncak kepalanya. Matanya pun berkaca-kaca, melepas anak gadisnya seperti melepas setengah bagian hidupnya.


“Jangan menangis, nanti matamu bengkak. Masa calon pengantin matanya bengkak. Disangkanya kamu dinikahi paksa,” Abi terkekeh, berusaha menghalau kesedihannya.


“Ish.. papa mah,” Freya menepuk pelan dada papanya.


“Awas ingus kamu jangan sampe nempel di kaos papa.”


“Papaaa!!”


“Hahahaha…”


Abi berhasil merubah suasana sedih di antara mereka menjadi ceria. Perbincangan keduanya kini sudah berganti topik. Sesekali terdengar suara tawa mereka, saat Abi menceritakan kenakalan Freya saat kecil. Freya mengusap airmata di sudut matanya, bukan airmata kesedihan tapi karena terlalu banyak tertawa.


Keceriaan mereka bertambah ketika Nina datang bergabung. Kini Abi sudah seperti raja minyak saja, diapit dua wanita cantik berbeda generasi di kanan kirinya. Kedua tangannya terentang memeluk dua wanita tersayangnya. Kembali terdengar suara tawa Freya saat Nina menceritakan masa-masa ngidam saat mengandung dirinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Nina meminta Freya untuk segera tidur. Freya bangun lalu mencium pipi kedua orang tuanya bergantian. Setelah itu dia menuju kamarnya, meninggalkan orang tuanya yang masih bertahan di sana. Abi dan Nina duduk sambil saling memeluk dan menikmati semilir angin malam.


“Ngga kerasa ya, mas. Anak kita sudah besar-besar.”


“Iya, kayanya baru kemarin kita ajakin mereka main, ganti popok mereka.”


“Oh iya, mas. Menurut mas, gimana Zahra?”


“Sepertinya dia anak yang baik.”


“Juga cantik. Nan pintar memilih pasangan.”


“Seperti papanya.”


“Mulai..”


Abi terkekeh, tangannya semakin menarik tubuh Nina hingga tak berjarak dengannya. Kemudian dia mencium bibir wanita yang begitu dicintainya. Wanita yang telah memberinya tiga anak hebat. Wanita yang selalu berada di sisinya dalam keadaan suka dan duka. Nina mengalungkan kedua lengannya di leher Abi, dan tangan Abi memeluk punggungnya. Ciuman mereka masih berlangsung beberapa saat sebelum mereka mengakhirinya dengan *******-******* kecil. Biar sudah memasuki usia setengah abad, namun kemesraan keduanya tidak pernah luntur termakan waktu.


☘️☘️☘️


Haiii.. readers.. mamake minta maaf kalau seandainya besok ngga bisa up. Selain kondisi kurang fit, anak bungsu mamake ulang tahun besok, takutnya mengriweuh ngurus ini itu.

__ADS_1


__ADS_2