
Bersama dengan Kenzie, Kenan memasuki lobi kantor Metro East. Ini bukan kali pertama menginjakkan kaki di kantor sang ayah, namun pemuda itu cukup gugup juga, karena ini hari pertamanya magang. Kenzie menyuruh Kenan mengambil tanda pengenal untuk karyawan magang ke bagian HRD yang ada di lantai 8 kemudian langsung ke ruangannya di lantai 11.
Setelah mendapatkan tanda pengenalnya, Kenan bergegas menuju lantai 11. Sedianya Kenan akan menempati ruangan yang biasa digunakan Fathan, namun sebelumnya dia harus menghadap Kenzie lebih dulu. Yudi, sang sekretaris mempersilahkan Kenan masuk ke dalam ruangan. Pemuda itu langsung menghadap ke meja sang kakak.
“Selama seminggu, lo kerja di ruangan gue aja, biar gue yang bimbing. Inget, di sini kantor, kalau menghadap CEO, panggil bapak. Hari ini lo gue kasih dispensasi, boleh panggil abang. Tapi besok lo harus panggil bapak selama jam kantor.”
“Iya bang, makasih.”
“Sementara kerja di sana aja,” Kenzie menujuk meja berbentuk oval, tepat biasanya mendiskusikan pekerjaan bersama Fathan dan Fadli.
“Ok.”
“Ini berkas, pelajari dulu. Ini panduannya.”
“Siap.”
Kenan mengambil berkas yang diberikan Kenzie kemudian membawanya ke meja. Dia harus mulai belajar dari dasar karena jurusan kuliah yang diambilnya berbeda dengan bidang pekerjaan sekarang. Untung saja Kenan sempat mengikuti organisasi, jadi tidak terlalu kaget dengan urusan administrasi
Saat tengah serius dengan berkasnya, Fadli masuk ke dalam ruang dengan beberapa berkas di tangannya. Dia lalu mendekati Kenan dan mendudukkan diri di samping pemuda itu.
“Nan.. ini ada berkas yang harus pelajari. Isinya job desk kamu selama menggantikan om nanti. Pelajari yang om kasih tanda, ingat kamu harus teliti. Om sudah kasih panduan sejelas mungkin. Usahakan jangan melakukan banyak kesalahan, kamu tahu kan papamu seperti apa. Dan ini, coba buat laporan ini sebagai permulaan. Kalau sudah selesai, serahkan pada om. Ikuti panduannya, tanya Ken kalau ada yang tidak dimengerti.”
“Iya, om.”
Fadli menepuk pundak Kenan sebelum beranjak pergi. Dia melambaikan tangan pada Kezie yang dibalas anggukan kepala. Sepeninggal Fadli, Kenan segera mengerjakan apa yang diperintahkan sekretaris ayahnya tadi menggunakan laptop yang ada di ruangan kerja Fathan.
Menjelang makan siang, Kenan telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia segera membawa hasil kerjanya ke lantai dua belas. Di luar dugaan, Fadli mengatakan Abi sendiri yang akan memeriksa hasil pekerjaan pemuda itu. Dengan dada sedikit berdebar, Kenan masuk ke dalam ruang kerja papanya.
“Siang, pak,” sapa Kenan.
Abi mengangkat kepalanya kemudian menggerakkan jarinya, meminta anak bungsunya yang tengah magang itu untuk mendekatinya. Kenan menyerahkan berkas di tangannya. Perasaannya ketar-ketir juga saat Abi membaca dengan teliti hasil pekerjaannya.
“Apa kamu sudah membaca panduan yang diberikan pak Fadli?”
“Sudah pak.”
“Lalu kenapa masih melakukan kesalahan? Kenapa ada beberapa poin penting yang luput kamu masukkan?”
“Maaf pak, saya tadi sedikit bingung.”
“Apa Kenzie ada di ruangannya?”
“Ada pak.”
“Apa kamu sedang sariawan?”
“Tidak pak.”
“Kalau begitu gunakan mulutmu untuk bertanya padanya apa yang tidak kamu mengerti!”
Kenan terjengit saat Abi membanting berkas miliknya ke meja. Pemuda itu menelan ludahnya kelat melihat sikap dingin dan tegas pria yang dipanggilnya papa. Dalam hati memuji ketahanan mental sang kakak yang kuat menghadapi CEO Metro East yang auranya begitu menakutkan jika sudah berada di belakang meja kerjanya.
“Kerjakan ulang! Jangan pulang kalau kamu belum bisa melakukannya dengan benar!”
“Iya, pak. Kalau begitu saya permisi.”
Kenan bergegas keluar dari ruangan yang tiba-tiba saja dipenuhi aura kegelapan. Melihat wajah Kenan, Fadli sudah tahu kalau pemuda itu pasti habis terkena teguran. Dia keluar dari meja kerjanya kemudian menghampiri Kenan.
“Ada yang salah?”
“Iya, om. Ada beberapa poin penting yang tidak aku masukkan.”
“Cepat perbaiki. Jangan sungkan bertanya pada Ken atau pada om. Ingat Nan, apa yang papamu lakukan, ini semua demi kebaikanmu.”
“Iya, om. Makasih. Aku pergi dulu.”
Fadli menganggukkan kepalanya, membiarkan Kenan kembali ke ruangannya untuk memperbaiki kesalahan. Dulu Kenzie pun seperti itu, bolak-balik terkena semprotan ayahnya hanya karena kesalahan kecil. Melakukan pekerjaan sempurna, tanpa kesalahan, mutlak hukumnya bagi seorang Satria Abimanyu Hikmat dan aturannya berlaku untuk semua orang, tanpa terkecuali.
Dengan lesu, Kenan kembali ke ruangan sang kakak. Dia segera menuju meja Kenzie dan menyerahkan berkas yang tadi dikoreksi oleh Abi. Kenzie menghentikan pekerjaannya dan mengambil berkas yang diberikan Kenan.
“Masih ada yang salah, bang.”
“Ambil panduan yang tadi diberikan om Fadli.”
Kenan beranjak menuju mejanya kemudian kembali ke meja Kenzie. Dia mendudukkan diri di depan Kenzie dan mendengarkan semua yang disampaikan sang kakak padanya. Penjelasan Kenzie dengan tutur kata yang mudah dicerna membuat Kenan cepat mengerti dan tahu di mana letak kesalahannya.
“Ngerti sekarang?”
“Iya, bang.”
“Kerjakan lagi laporannya. Sebelum dikasih ke papa, kasih abang dulu, biar diperiksa lagi.”
“Iya, bang.”
Tanpa menunggu lama, Kenan segera memperbaiki laporan yang tadi dibuatnya. Kenzie memang seorang mentor yang baik. Dengan cepat Kenan bisa mengaplikasikan apa yang pria itu tadi katakan. Dia bersyukur sang kakak mau membimbingnya.
__ADS_1
“Nan.. kamu harus belajar dengan baik. Mungkin kamu merasa ini terlalu cepat, tapi sebagai seorang anak Abimanyu Hikmat kamu memiliki tanggung jawab lebih yang harus kamu pikul. Nantinya abang akan membutuhkan bantuan kamu untuk mengelola perusahaan ini. Banyak orang yang menggantungkan kehidupannya pada kita dan kita tidak boleh mengabaikan hal itu.”
“Iya, bang.”
“Kamu harus sudah mulai menata kehidupanmu dengan serius. Kamu harus lebih pintar, lebih jeli, lebih peka dan lebih kuat. Ada banyak hal yang harus kamu lindungi nantinya, salah satunya adalah Zahra. Kalau kamu lemah, bagaimana kamu bisa melindungi orang-orang di sekitarmu? Mulailah lebih serius dari sekarang.”
“Iya, bang. Makasih buat nasehatnya.”
Kenan masih tergugu mencerna ucapan panjang lebar kakaknya barusan. Sang kakak yang harus menjadi dewasa sebelum wakunya, karena harus memikul tanggung jawab di saat Abi menghilang, telah menjadikan pria itu menjadi sosok yang kuat. Sejenak dia menjadi ragu, apakah dirinya bisa menjadi hebat seperti Kenzie atau hanya akan menjadi bayang-bayangnya saja.
“Nan.. abang tidak memaksamu untuk menjadi seperti papa atau abang. Abang pecaya kamu bisa kuat dengan caramu sendiri. Kamu tidak perlu menjadi seperti abang, tetap jadilah dirimu sendiri. Posisimu bukan sebagai bayang-bayang abang, tapi berdiri di sisi abang, bersama kita memikul tanggung jawab yang diberikan papa pada kita. Abang dengan cara abang sendiri dan kamu dengan caramu sendiri.”
Senyum Kenzie mengembang setelah melontarkan kata-kata bijak tersebut. Kekhawatiran yang dirasakan Kenan tadi menguar begitu mendengar ucapan kakaknya. Dengan penuh semangat pemuda itu menganggukkan kepalanya.
☘️☘️☘️
Sesuai janjinya, tepat pukul setengah tujuh Kenan menjemput Zahra, ibunya dan juga Silva untuk diboyong ke rumahnya, menghadiri acara makan malam yang diadakan oleh keluarganya. Beruntung tadi dia bisa menyelesaikan semua pekerjaan tepat pada waktunya, berkat bantuan Kenzie pastinya.
Senyum Kenan mengembang melihat Zahra mengenakan dress yang tadi siang dikirimkan olehnya. Begitu pula dengan Nita dan Silva, keduanya juga mengenakan pakaian kiriman dari pemuda itu. Setelah mengunci pintu, keempatnya berjalan menuju mobil Kenan yang terparkir di pinggir jalan dekat gang rumah Zahra.
Nita dan Silva duduk di kursi belakang, sedang Zahra duduk di depan, berdampingan dengan Kenan. Tak lama kendaraan roda empat itu meluncur pergi. Selama dalam perjalanan, Nita hanya diam saja. Dia masih cukup terkejut mendapat undangan makan malam dari keluarga Kenan. Dalam hatinya sedikit khawatir kalau keluarga pemuda itu tahu mereka bukan berasal dari keluarga berada, mereka tidak akan menyetujui hubungan putrinya dengan Kenan.
“Gimana hari magang pertamamu?” pertanyaan Zahra membuat Nita tersadar dari lamunannya. Wanita itu mulai menyimak pembicaraan dua orang yang duduk di depan.
“Ya gitu, deh. Papa galak banget, hampir mati berdiri aku,” kekeh Kenan.
“Kamu harus semangat, Nan. Papa seperti itu pasti untuk kebaikanmu juga. Aku yakin kamu pasti bisa.”
“Aamiin.. bang Ken juga tadi banyak bantu aku.”
“Ternyata bang Ken baik juga ya. Aku sempet takut loh waktu awal-awal ketemu sama dia.”
“Hahahaha.. dia mah emang gitu, julukannya aja naga kutub alias kanebo kering karena mukanya kaku kaya mesin yang ngga pernah dikasih oli.”
“Dih jahat banget sama kakak sendiri. Eh, emang ada naga kutub?”
“Adalah… noh buktinya bang Ken. Dia itu sikapnya dingin, kalau ketemu sama dia berasa lagi di kutub utara, tapi sekalinya ngomong, pedes, bikin kuping panas kaya semburan naga, makanya disebut naga kutub.”
“Ya ampun. Tapi kalau sama istrinya ngga gitu kan? Aku pernah denger dia ngobrol sama kak Nara ditelepon.”
“Beuh jangan ditanya kalau sama kak Nara mah. Kutub utara dan selatan seketika mencair hahahaha..”
Nita dan Silva yang ikut menyimak pembicaraan tak bisa menahan senyumnya. Mendengar cerita Kenan, sepertinya pria di keluarga itu memperlakukan wanita dengan baik. Semoga saja Zahra juga mendapatkannya, hingga perasaan trauma yang ditinggalkan suaminya akan hilang dengan sendirinya.
Nina yang mendengar suara mobil anaknya memasuki rumah segera keluar untuk menyambut tamunya. Freya yang juga sudah datang ikut bersama dengan mamanya menyambut calon adik ipar beserta keluarganya.
“Selamat datang, Zahra,” sambut Nina dengan ramah. Kemudian pandangannya tertuju pada wanita yang usianya tak berbeda jauh dengannya.
“Kenalkan, saya, Nina, mamanya Kenan,” Nina mengulurkan tangannya ke arah Nita yang langsung disambut oleh wanita itu.
“Nita,” balasnya.
“Wah nama kita ternyata hanya berbeda satu huruf saja ya,” seloroh Nina yang disenyumi oleh Nita.
“Kenalkan, ini Freya, kakak Kenan.”
Freya meraih tangan Nita kemudian mencium punggung tangan Nita. Dia lalu tersenyum ke arah Silva yang menatapnya tanpa berkedip.
“Kenapa? Ada yang salah dengan mukaku?” tanya Freya.
“Kak Freya cantik banget,” puji Silva spontan.
“Terima kasih. Kamu juga cantik, Zahra juga. Ayo para wanita cantik, kita masuk ke dalam.”
Freya merangkul bahu Zahra dan Silva kemudian membawanya masuk ke dalam, disusul oleh Nina dan Nita. Kenan sengaja paling belakangan menyusul masuk. Mata Nita memandang takjub melihat interior kediaman keluarga Kenan yang dipenuhi barang-barang mewah. Bahkan rumah atasan tempatnya bekerja juga tidak semewah ini.
Melihat tamunya sudah datang, Abi yang tengah bersama dengan Kenzie dan Ravin segera mengakhiri pembicaraan bisnis di antara mereka. Ketiganya langsung menyambut kedatangan Zahra beserta keluarganya. Lagi, Nita dibuat terkejut dengan sikap ramah Abi, Kenzie dan juga Ravin. Tak lama Nara muncul dan berkenalan dengan dirinya.
“Bagaimana kalau kita makan dulu, baru ngobrol-ngobrol,” tawar Nina.
“Iya boleh, mas juga sudah lapar.”
Abi memeluk pinggang Nina kemudian berjalan ke meja makan diikuti yang lainnya. Nita menatap iri melihat kemesraan Abi pada istrinya. Dulu, Sandi hanya bersikap manis hanya di lima tahun pertama pernikahan mereka. Semenjak mantan suaminya itu naik jabatan, dia mulai bersikap arogan dan meremehkan dirinya yang dulu tidak bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Tidak sampai di situ, Sandi juga tega mengkhianati pernikahan mereka dengan selingkuh bersama Risma.
Berbeda dengan Zahra, melihat kemesraan Abi pada Nina, begitu juga Kenzie pada Nara dan Ravin pada Freya membuatnya berandai-andai jika kelak nanti Kenan juga akan bersikap mesra padanya.
Setelah semua berada di meja makan, acara makan malam pun dimulai.
Silva hanya terdiam ketika Nina berkali-kali menawarkan bermacam lauk padanya. Melihat sikap hangat seluruh keluarga Kenan padanya, mau tak mau membuat gadis itu membandingkan perlakuan yang diterimanya saat berkunjung ke rumah ayah kandungnya sendiri.
Makanan enak, pembicaraan hangat di meja makan, tak pernah dia rasakan saat berada di sana. Risma selalu melarang Silva jika ingin makan bersama di meja makan. Bahkan makanan yang dimakannya pun berbeda dari yang dimakan ayah dan ibu serta kedua saudara tirinya. Gadis itu diberi makan seperti asisten rumah tangga di rumah itu. Dan yang paling membuatnya sakit hati, ketika Sandi tak melakukan apapun saat Risma bersikap tak adil padanya. Namun Silva menyembunyikan semua itu dari mamanya, hanya pada Zahra saja dia bercerita.
Terus menerus membayangkan perlakuan tak enak yang kerap diterima dari keluarga baru papanya, tanpa sadar membuat mata Silva memanas. Saat makan malam berakhir, matanya semakin berkabut.
“Kata Kenan nilai ujianmu bagus, selamat ya Silva. Jangan pernah berhenti belajar, supaya tambah pintar. Nanti kalau sudah bagi raport dan nilaimu bagus, om akan kasih hadiah buatmu.”
__ADS_1
Perkataan Abi langsung meruntuhkan pertahanan diri Silva. Airmata yang sedari tadi mati-matian ditahannya akhirnya luruh juga. Dia terharu mendengar penuturan Abi, hal yang tak pernah didengarnya dari Sandi. Gadis itu menangis sesenggukan, dan tentu saja mengejutkan semua orang.
“Eh.. kamu kenapa Silva?” tanya Nina bingung.
“Apa om salah bicara?” lanjut Abi.
“Silva.. kamu kenapa nak?” Nita menyentuh tangan anaknya.
Hanya Zahra yang tahu apa yang dirasakan adiknya saat ini. Perasaan sama yang pernah dirasakannya saat pertama kali bertemu dengan keluarga Kenan. Diam-diam, dia menyusut sudut matanya yang ikut berair.
“Sil.. kamu kenapa?” tanya Nita lagi.
“Ke.. kenapa papa ngga seperti om A…bi. A..apa pa..pa ngga sa..yang a..aku, ma?” tanya Silva di tengah-tengah tangisnya. Hati Nita mencelos mendengarnya. Zahra permisi meninggalkan meja makan lalu bergegas menuju kamar mandi. Di sana, Zahra juga menangis, ikut merasakan kesedihan Silva.
Semua yang ada di meja makan hanya terdiam mendengar ucapan Silva. Nita tak mampu berkata apa-apa, hanya tangannya yang terus mengusap punggung anaknya yang masih tersedu.
“Maafkan anak saya. Mungkin Silva sedang kangen dengan papanya,” Nita jadi tak enak hati telah merusak suasana.
“Tidak apa. Wajar kalau seorang anak merindukan orang tuanya. Silva, mau ikut om?”
Abi berdiri kemudian mengajak Silva pergi dari meja makan. Dia mengajak Silva menuju taman belakang. Begitu pula Nina yang mengajak Nita berpindah ke ruang tengah. Sedang Kenan menyusul Zahra yang belum keluar dari kamar mandi.
“Berapa umurmu sekarang?” tanya Abi pada Silva.
“13 tahun, om.”
“Hmm.. berarti rumah pohon ini lebih tua darimu.”
“Masa, om?”
“Iya.. mau naik ke sana? Di sana abang Kenzie, kak Freya dan bang Kenan suka bermain. Ayo.”
Abi menggandeng tangan Silva kemudian mengajaknya menaiki tangga ulir yang ada di sisi rumah pohon tersebut. Mata Silva memandangi rumah yang terbuat dari kayu tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah meja kecil dan kasur untuk berbaring.
“Rumah pohonnya bagus, om. Tapi kalau tidur di sini digigit nyamuk ngga, om?”
“Kalau mau tidur di sini, harus bawa senter.”
“Buat apa om?”
“Buat nimpuk nyamuk, hahaha..”
“Hahaha.. om ada-ada aja.”
Silva ikut tertawa mendengar lelucon garing Abi. Sikap hangat pria itu membuat kesedihan yang tadi sempat dirasakannya menghilang. Abi terus mengajak Silva berbicara, menceritakan apa yang biasa dilakukan di rumah di rumah pohon ini. Setelah dirasa kesedihan gadis muda ini sudah berlalu, Abi mengajaknya turun dan bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah.
Pembicaraan hangat kembali terjadi, diiringi gelak tawa. Habis Kenan dijadikan bahan bully-an kedua kakaknya, ditambah kedua kakak iparnya juga ikut bersekongkol. Zahra menyusut sudut matanya yang berair karena tak berhenti tertawa. Silva juga tak bisa berhenti tertawa, kesedihan yang dirasakannya tadi sudah benar-benar pergi. Nita memandang haru pada Abi yang begitu baik pada kedua anaknya. Melihat Silva yang begitu nyaman duduk di dekat pria itu, dia tahu kalau anak bungsunya itu seperti mendapat figur ayah darinya.
“Pa, itu di rumahnya pipi ada apa kok rame kayanya,” Kenan berusaha mengalihkan topik pembicaraan karena kesal selalu dijadikan objek bully-an kakak-kakaknya.
“Malam ini kan Barra ngelamar Hanna,” jawab Nina.
“Serius ma? Widih.. sekarang udah ngga jadi presiden jomblo lagi.”
“Iya, pindah ke elo sekarang predikatnya,” celetuk Ravin.
“Weh ngga ya. Gue kan udah punya calon, ya ngga Za?” Kenan menaikturunkan alisnya.
“Masih tentatif. Selama belum ketemu penghulu, jodoh bisa berubah. Lagian yakin Zahra beneran mau sama elo? Kali aja dia cuma khilaf, terus sadar dan ngga jadi nikah sama elo hahaha..”
“Buset lambemu bang, parah. Ngga inget apa budi baik gue waktu elo ngejar-ngejar kak Frey,” sewot Kenan.
“Budi baik apaan? Kalau gue minta bantuin comblangin, ngeles mulu lo kaya bajaj,” balas Ravin tak mau kalah.
“Gue sengaja biar abang tambah keras usahanya buat dapetin kak Frey. Terbukti kan? Kak Frey klepek-klepek juga.”
“Heleh.. yang ada lo ngerecokin gue mulu.”
“Berisik lo berdua. Anak gue ngga bisa tidur nih,” sembur Kenzie.
“Anak lo ngga bisa tidur kalo elo kerjanya nengokin sama nyiram kepalanya huahahaha..”
Freya menepuk lengan suaminya yang berbicara tanpa saringan, tanpa menyadari kalau masih ada makhluk polos tak berdosa yang belum ternoda otaknya. Nita tak bisa menahan tawanya apalagi melihat Silva yang terlihat bingung.
“Maafin anak-anak saya, ya. Mereka suka ngga pake filter kalau udah ngobrol,” ujar Nina pada Nita.
“Ngga apa-apa bu. Namanya juga anak muda.”
Nita melayangkan senyuman pada Nina. Kekhawatiran yang dirasakannya tadi saat menuju kediaman Abi hilang sepenuhnya melihat sikap hangat seluruh anggota keluarga. Nita sungguh berharap Zahra bisa berjodoh dengan Kenan, bukan karena pemuda itu berasal dari kalangan berada, tapi kehangatan di keluarga Hikmat diharapkan bisa mengisi kekosongan hati putri sulungnya yang begitu merindukan kehangatan keluarga dan sosok ayah.
☘️☘️☘️
**Haaaiii ada yang kangen? Sama mamake juga kangen neeh.. maaf ya absen dua hari karena lagi ngejar retensi di sebelah sama repot di RL. Semoga ini bisa mengobati kerinduan kalian ya🤗
Happy weekend😘😘**
__ADS_1