
Aula besar di kampus tempat Kenan menimba ilmu sudah dipenuhi mahasiwa yang hari ini akan resmi menyandang status sebagai sarjana. Bukan hanya mahasiswa yang bersangkutan, tapi juga para orang tua juga sudah berdatangan, menyaksikan kebanggaan mereka mengenakan toga tanda kelulusan.
Berkat bantuan suami dan para sahabatnya, Anya berhasil menyelesaikan skripsi tepat waktu dan akhirnya bisa ikut wisuda bersama yang lainnya. Bersama dengan sang suami, wanita itu sampai ke tempat tujuan. Sedang baby Stela dititipkan pada kedua omanya. Di depan aula, Kenan, Alisha, Viren, Revan, Dilara dan Haikal sudah menunggu.
Di antara yang lain hanya Haikal yang tidak ikut wisuda, karena pemuda itu memang satu tingkat di bawah yang lainnya. Dia hanya bisa memandang iri para sahabatnya yang sudah lulus dan meninggalkannya seorang diri.
Panitia wisuda memberi tanda pada para wisudawan untuk segera masuk ke dalam aula karena acara wisuda akan segera dilaksanakan. Bertepatan dengan itu, Abi dan Nina tiba. Keduanya hadir demi menyaksikan kelulusan anak bungsu mereka. Sambil merangkul pinggang Kenan, Nina masuk ke dalam aula diapit oleh suami dan anaknya.
Setelah melewati serangkaian acara hampir dua jam lamanya, akhirnya acara wisuda usai sudah. Rona kebahagiaan nampak di wajah-wajah para penerus bangsa tersebut. Untuk sejenak mereka bereuforia dan melupakan sejenak kenyataan yang harus dihadapi esok hari setelah status mahasiwanya terlepas.
Haikal yang didaulat sebagai juru foto terus mengabadikan para sahabatnya dalam balutan toga. Bergantian dia mengambil gambar Kenan, Anya, Alisha dan Revan, baik sendiri maupun dengan pasangan masing-masing. Zahra yang datang setelah acara wisuda selesai langsung bergabung dengan yang lainnya.
Abi dan Nina memilih untuk segera kembali, sedang anak-anak masih bertahan di sana. Mereka masih bercengkerama dengan teman-teman yang lain sambil berfoto ria. Haikal duduk di bawah pohon rindang sambil melihat-lihat hasil jepretannya. Kemudian pandangannya beralih pada para sahabat yang tengah duduk tak jauh darinya.
“Sunyi sepi sendiri… sejak kalian lulus. Tiada teman lagi, hatiku merana huaaaaaa…” celetuk Haikal seraya menyanyikannya.
“Lebay lo,” sebuah toyoran Viren mendarat di kepalanya.
“Au.. gue juga masih kuliah di sini, Nyong,” ujar Kenan.
“Beda lah. Lo ambil S2, jadwalnya ngga samaan lagi huaaaa…”
“Makanya buruan lulus,” sela Anya.
“Gue butuh penyemangat. Plis carikan gue dopping.”
“Tar gue cariin. Lo mau yang model gimana? Nancy? Mince atau siapa?”
“Buset gue masih normal, kampret!” sewot Haikal.
“Heleh, dia mah kambing dibedakin juga mau.”
“Sorry ya, cewek pilihan gue berkelas gitu loh.”
“Kelas apa? Bulu terbang apa bantam hahaha..”
“Sue lo pada,” Haikal melengos kesal namun para sahabat tak henti-henti meledeknya.
Zahra sedikit menjauh dari kumpulan ketika ponselnya berdering. Gadis itu langsung menjawab panggilannya begitu melihat sang pemanggil adalah Sandi. Hubungannya dengan papa kandungnya memang sudah sedikit membaik akhir-akhir ini.
“Halo..”
“Halo, Zahra. Papa baru sampai di Jakarta. Nanti malam bisa ajak Kenan untuk makan malam bersama?”
“Bisa, pa. Papa pulang sendiri?”
“Ngga, papa ajak tante Elle ke sini.”
“Tante Risma udah tau pa?”
“Belum. Sementara papa nginep di hotel dulu. Sudah dulu, Ra. Papa mau berangkat ke Bandung sekarang.”
“Iya, pa.”
Panggilan pun berakhir. Untuk sejenak Zahra masih terpaku di tempatnya, memikirkan apa yang akan terjadi saat Risma tahu kalau sang papa telah menikah lagi. Namun di satu sisi ada perasaan senang juga melihat wanita yang pernah merebut papa dari ibu dan dirinya kini merasakan hal yang sama.
“Siapa yang telpon?” pertanyaan Kenan seketika menghentikan lamunan Zahra.
__ADS_1
“Eh.. eung.. papa. Papa udah sampe Jakarta, nanti malem diajakin makan malem sekalian kenalan sama tante Elle.”
“Sama tante Risma juga ngga?”
“Ngga tau. Mungkin aja.”
“Waduh harus pake helm dong.”
“Buat apa?” tanya Zahra bingung.
“Takut ada piring terbang hahaha…”
“Kamu tuh ada-ada aja. Ngga usah pake helm, siapin aja ambulans, takut ada yang kena serangan jantung, hihihi..”
“Julid ya kamu sekarang,” Kenan menyentil kening kekasihnya pelan.
“Kan kamu yang ajarin.”
“Mana ada.”
“Dasar kang ngeles, ngga mau ngaku,” Zahra menjulurkan lidahnya pada Kenan seraya berlari menjauh darinya. Kenan hanya menggelengkan kepalanya saja. Diakui atau tidak, tapi ucapan Zahra akhir-akhir ini memang sudah mulai pedas. Bisa jadi karena tertular dirinya.
☘️☘️☘️
Abi beserta Nina, lalu Darmawan dan Nita datang memenuhi undangan makan malam Sandi. Pria itu telah memesan private room di salah satu restoran bintang lima yang ada di kota Bandung. Kenan dan Zahra juga ikut hadir, karena sedianya acara makan malam kali ini akan membahas tentang pernikahan Kenan dan Zahra. Keduanya sudah lebih dulu tiba bersama dengan Sandi dan Elle.
Abi dan Darmawan yang sampai bersamaan, segera diantar salah satu pelayan menuju private room yang telah dipesan. Ketika pintu terbuka, keempatnya terkejut melihat Sandi membawa Elle, bukan Risma. Ayah dari Zahra itu segera berdiri untuk menyambut kedatangan calon besan dan mantan istrinya.
“Selamat datang pak Abi, ibu Nina, pak Darma, Nita. Kenalkan ini, Elle.”
Satu per satu Elle menyalami orang-orang di depannya. Sandi segera mempersilahkan yang lain untuk duduk. Mata Nina tak lepas memandangi Elle, wanita asal Labuan Bajo yang dinikahi Sandi beberapa bulan yang lalu. Usia Elle hanya terpaut enam tahun dari Zahra.
“Sengaja, pak. Setelah pertemuan malam ini, saya baru akan menemui Risma.”
Tak ada pertanyaan lain dari bibir Darmawan. Pria itu tak ingin ikut campur dalam kehiduapn pribadi karyawannya. Begitu pula dengan Abi, baginya tak penting Sandi menikah lagi atau tidak. Berbeda dengan Zahra yang cukup terkejut saat mengetahui istri baru papanya ternyata usianya tak terpaut jauh darinya.
“Jadi bagaimana dengan rencana pernikahan Zahra dan Kenan?” Sandi memulai pembicaraan.
“Seperti yang kita bicarakan sebelumnya. Akhir minggu ini, pernikahan mereka digelar. Kenan akan langsung bekerja di perusahaan sambil melanjutkan studinya. Zahra juga masih bisa berkarier sesuai bidang yang dipilihnya. Kami mempercepat pernikahan supaya tidak ada fitnah dan menghindari mereka melakukan dosa,” terang Abi.
“Ibu Nita dan pak Sandi tidak keberatan kan?” tanya Nina.
“Sama sekali tidak. Saya setuju, lebih cepat lebih baik mereka menikah,” jawab Nita dan juga diangguki oleh Darmawan.
“Begitu juga dengan saya,” tutup Sandi.
Senyum tercetak di wajah Kenan dan Zahra, waktu yang ditunggu mereka untuk menyatukan diri dalam ikatan suci hanya tinggal menghitung hari. Mereka juga senang para orang tua bisa duduk bersama dan sepakat dengan rencana yang telah dibicarakan sebelumnya.
“Zahra, kamu belum bilang mau mahar apa dari Kenan,” tanya Nina.
“Kalau aku gimana Nan aja. Sesuai kemampuan dia aja, ma.”
“Kamu sudah punya tabungan untuk mahar?” tanya Abi pada Kenan.
“Udah, pa. Tenang aja. Kan aku pernah bilang sama papa sebelumnya.”
Abi tersenyum mendengar jawaban sang anak. Walau sejak kecil Kenan tumbuh tanpa kekurangan materi, namun anak bungsunya itu bukanlah tipe anak manja yang ingin semua kebutuhannya dipenuhi. Terkadang jika menginginkan sesuatu dia memilih untuk menabung alih-alih meminta pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Dua orang pelayan datang menginterupsi pembicaraan mereka. Keduanya dengan cekatan menata makanan di atas meja kemudian kembali meninggalkan private room tersebut. Sandi mempersilahkan yang lain untuk mencicipi hidangan yang sudah dipesannya. Sekilas dia melirik pada Darmawan yang tengah mengambilkan makanan ke piring Nita. Pria itu diam-diam tersenyum getir mengingat dahulu dia tak pernah melakukan hal tersebut pada Nita selama menikah.
☘️☘️☘️
Usai makan malam, Sandi kembali ke kediamannya bersama dengan Elle. Malam ini pria itu bertekad untuk membuka pernikahan sirrinya pada Risma. Entah istrinya itu akan menerima atau tidak, dia tak peduli lagi. Hatinya sudah mantap menjatuhkan pilihan pada wanita berkulit sawo matang tersebut.
Kepulangan Sandi tentu saja disambut gembira oleh kedua anaknya. Dela dan Sisil langsung menghambur ke pelukan sang ayah. Risma yang tengah berada di dalam kamar, bergegas keluar begitu mendengar suaminya pulang. Genap setahun sudah wanita itu terpisah jarak dan waktu dari sang suami.
Langkah Risma terhenti begitu melihat wanita yang berdiri di samping Sandi. Senyumnya seketika menghilang, hatinya mendadak cemas menerka-nerka siapa gerangan wanita muda tersebut. Melihat Risma yang hanya terpaku di tempatnya, Sandi berinisiatif mendekat seraya menggandeng tangan Elle.
“Sisil dan Dila, kalian masuk ke kamar dulu. Ini oleh-olehnya dibawa.”
Sandi memberikan dua paper bag di tangannya pada kedua anaknya. Kedua anak remaja itu mengambil oleh-oleh dari sang papa kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Perasaan Risma semakin tak enak melihat gelagat suaminya yang mencurigakan. Jika meminta kedua anaknya masuk ke dalam kamar, sudah bisa dipastikan ada hal serius yang ingin dibicarakannya.
“Siapa dia mas?” tanya Risma tanpa basa-basi seraya menunjuk ke arah Elle.
“Kenalkan dia Elle Finala.”
“Siapa dia?” ulang Risma. Dia mengabaikan uluran tangan Elle padanya.
“Dia.. istriku. Kami menikah beberapa bulan yang lalu.”
“APA???”
Kepala Risma seperti baru saja dipukul oleh gada mendengar pengakuan suaminya. Pantas saja beberapa bulan belakangan Sandi tak pernah memaksa untuk mengunjunginya di Pulau Rinca. Ternyata Elle yang menjadi alasannya.
“Kamu menikah lagi, mas? Tanpa persetujuanku?”
“Aku terpaksa, karena tidak punya pilihan. Salahmu sendiri yang selalu menolak setiap kuminta datang menemaniku.”
“Apa di otakmu hanya ada kebutuhan syahwat saja, mas? Apa alasanmu menikahinya untuk memenuhi kebutuhanmu? Kepuasaan di ranjang?!!” suara Risma mulai meninggi.
Elle memegang erat lengan Sandi. Wanita itu menundukkan pandangannya, karena Risma terus melihat ke arahnya seolah ingin memakannya. Sandi menggeser posisi berdirinya hingga Elle berada di belakangnya.
“Picik sekali pikiranmu, Ris. Sebulan setelah pindah ke sana, aku sakit. Tidak ada yang merawatku sama sekali. Aku sudah memintamu beberapa kali tapi kamu tetap tidak mau. Beruntung ada Elle dan neneknya yang setiap hari menengokku, merawatku sampai sembuh. Tugas yang seharusnya kamu lakukan tapi dia yang melakukannya. Dia juga yang mengurus makan, pakaian dan semua kebutuhanku. Dia melakukan itu tanpa pamrih. Hanya meminta makan saja untuk dirinya dan neneknya. Aku berinisiatif untuk menikahinya, memberinya nafkah dan juga melindunginya. Apa aku salah?”
“Bohong!! Kamu mengatakan itu semua hanya untuk menutupi kesalahanmu. Kamu… kamu pasti sudah menggoda suamiku!!”
“Risma!! Cukup!! Dia bukan sepertimu yang mengganggu suami orang lain. Bahkan berulang kali dia menolak lamaranku. Dia tidak sepertimu.”
“Masa bodoh. Aku mau kamu ceraikan dia!!”
“Aku tidak mau. Nenek Elle sudah meninggal. Satu-satunya orang di sampingnya hanya aku. Aku juga menyayanginya, sampai kapan pun aku tidak menceraikannya.”
“Aku tidak setuju! Sampai kapan pun aku tidak terima dimadu!!!”
“Kalau begitu lebih baik kita bercerai.”
“Apa?”
Risma menatap nanar pada suaminya. Dengan mudahnya Sandi mengucapkan kalimat tersebut setelah pernikahan mereka yang telah berjalan bertahun-tahun lamanya. Tangannya berpegangan pada tembok untuk menopang tubuhnya yang mendadak kehilangan tenaga.
“Sampai pernikahan Zahra dan Kenan, aku dan Elle akan tinggal di hotel. Kamu punya waktu untuk memikirkan keputusanmu. Kamu menerima Elle atau kita berpisah.”
Tanpa menunggu jawaban Risma, Sandi segera berlalu seraya menarik tangan Elle. Tubuh Risma luruh jatuh ke lantai sepeninggal suaminya. Tangisnya langsung pecah, pria yang selama ini mendampinginya ternyata dengan begitu mudah meninggalkan dirinya.
Mendengar tangis sang mama, Dila dan Sisil bergegas keluar dari kamar. Keduanya segera memeluk Risma. Mereka juga ikut mendengarkan dari dalam kamar pertengkaran kedua orang tua. Risma menangis sesenggukan dalam pelukan Dila. Dunianya seperti runtuh seketika ketika apa yang dilakukannya dulu kini berbalik padanya.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Berat rasa hati berpisah dengan keluarga Hikmat. Namun setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Hampir setahun kisah mereka menemani hari²ku. Tinggal tersisa 1 episode lagi KPA season 2 ini. Tapi mamake akan tetap memberikan bonchap untuk kalian semua🤗