KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Jaminan Hutang


__ADS_3

Di hari Minggu yang cerah ini Rindu masih bermalas-malasan tidur di kost-annya. Kemarin adalah hari terakhirnya sebagai sekretaris pengganti Kevin. Pria itu juga langsung mentransfer gajinya ke rekening Rindu. Sesuai janjinya, Rindu mendapatkan gaji setara dengan gaji sekretaris Kevin, sepuluh juta nominalnya. Berhubung dia tidak terdaftar resmi sebagai karyawan dan belum punya NPWP, maka gaji yang Rindu terima bersih dari segala macam potongan juga pajak.


Kemarin gadis itu langsung mengeluarkan 2,5% dari penghasilannya untuk zakat sebagai pembersih hartanya. Hal yang selalu diajarkan oleh abahnya. Kini gadis itu tengah berpikir apa saja yang akan dibelinya dari uang hasil keringatnya. Sudah pasti nama abah dan ambunya menjadi orang teratas yang akan dibelikannya sesuatu, dilanjut dengan kakak dan adiknya.


Sedang asik melamun, ponsel Rindu berdering. Dilihatnya sebuah panggilan ke nomor whatsapp-nya dari nomor tak dikenal. Dia mengabaikan panggilan tersebut, karena akhir-akhir ini banyak spam dan panggilan iseng dari nomor tak dikenal. Ponselnya kembali berdering namun lagi-lagi gadis itu mengabaikannya. Tak lama sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.


From Unknown Number :


Rindu, tolong angkat teleponnya. Ini tante, mamanya Kevin.


Membaca pesan itu Rindu terlonjak dari tidurnya. Mendadak perasaannya tak enak. Dia baru ingat kalau punya janji pada mama mantan atasannya itu. Hatinya resah, takut mama Kevin berubah pikiran dan menagih hutang padanya. Gadis itu terkesiap ketika ponselnya kembali berdering. Dengan sedikit takut dia menjawab panggilan tersebut.


“Ha.. halo..”


“Halo, Rindu?”


“I.. iya tante.”


“Rindu, kamu ingat kan mau memenuhi syarat dari tante supaya hutang abah kamu lunas?”


“I.. iya tante.”


“Hmm bagus. Kalau begitu tante minta kamu datang ke acara ulang tahun pernikahan om dan tante siang ini. Sebentar lagi mba Anya akan datang menjemput kamu.”


“Terus saya harus ngapain tante biar hutang saya lunas?”


“Ngga ngapa-ngapain, cukup kamu dateng ke acara tante maka hutang kamu udah tante anggap lunas.”


“Beneran tante? Cuma dateng aja?”


“Iya, tapi kamu harus dandan yang cantik karena acara tante itu ada konsepnya. Nanti biar mba Anya yang terangin ke kamu. Tante tunggu ya Rindu.”


KLIK


Mama Kevin memutuskan panggilannya begitu saja sebelum Rindu sempat menjawab lagi. Rindu bergegas bangun dari tidurnya lalu melesat masuk ke dalam kamar mandi. dia harus segera bersiap sebelum Anya datang menjemput.


Rindu baru saja selesai berpakaian ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Tidak seperti tadi, kali ini Rindu langsung menjawab panggilan itu yang ternyata berasal dari Anya yang mengatakan dirinya sudah ada di depan kost-annya. Gadis itu segera menyambar tasnya lalu keluar dari kamar dan tak lupa menguncinya.


Sebuah Honda Jazz berwarna silver tampak terparkir di depan kost-an. Bergegas Rindu menghampiri mobil tersebut, kaca jendela mobil itu terbuka. Nampak wajah Anya dari dalamnya.


“Ayo masuk Rin.”


Rindu membuka pintu mobil lalu duduk di kursi samping pengemudi. Tak lama Anya menjalankan mobilnya. Dia tak berani bertanya pada Anya karena sungkan. Tapi bukan Rindu namanya kalau bisa menahan bibirnya terlalu lama mengatup. Setelah diam beberapa saat, akhirnya suara cemprengnya keluar juga.


“Hmm.. mba Anya, kita mau kemana nih?”


“Kita ke butik ambil baju terus ke salon. Kita harus dandan cetar buat anniversary mama sama papa. Mana dress codenya kebaya. Jadi harus dandan di salon.”


“Hah? Pake kebaya? Terus bawahannya aku pake kain gitu mba?”


“Iya.. masa pake celana bola hahaha..”


Rindu hanya nyengir saja. Sudah terbayang keribetan yang akan dialaminya nanti. Sehari-hari Rindu lebih sering memakai celana. Memakai rok pun bisa dihitung dengan jari. Belum apa-apa gadis itu sudah senewen duluan.


Anya hanya mampir sebentar di butik untuk mengambil kebaya yang akan dikenakan dirinya juga Rindu. Kemudian dia melanjutkan perjalanan menuju salon langganannya. Rindu pasrah saja mengikuti kemana wanita itu membawanya. Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, mereka sampai di salon.


Dua orang pegawai langsung menangani Anya juga Rindu. Anya meminta Rindu didandani dengan make up natural saja, tidak menor, agar wajah imutnya tetap terlihat. Proses rias merias pun dimulai. Anya mengajak Rindu mengobrol agar suasana tidak membosankan. Lagi pula dia cukup penasaran akan hubungan Rindu dengan sang adik.


“Rin.. menurut kamu Kevin kaya gimana sih?”


“Bang Ke tuh nyebelin. Oooppsss maaf ya mba. Aku biasa manggil bang Kevin kaya gitu.”


“Santai aja. Emang adik aku yang satu itu nyebelin abis. Aku juga heran waktu hamil dia mama ngidam apa sih.”

__ADS_1


“Hihihi.. emang iya mba. Tau ngga mba? Dia itu seenak jidatnya rubah namaku. Namaku kan Rindu Purnama, eh dengan seenaknya dia manggil aku kangen udah gitu masih disingkat jadi Kang doang, kadang dia manggil Pur, pokoknya nyebelin deh. Makanya aku manggil dia bang Ke.”


Anya tergelak mendengarnya. Rindu memang gadis yang menyenangkan, dalam waktu singkat Anya sudah jatuh hati pada gadis ini. Dia tersenyum geli membayangkan adik bungsunya bersanding dengan Rindu di pelaminan.


“Kamu masih jadi sekretaris sementaranya Kevin?”


“Ngga mba, kemarin hari terakhir aku kerja. Katanya sih udah ada sekretaris baru buat bang Ke. Aku kasihan sama sekretaris barunya, mudah-mudahan aja ngga sawan dapet atasan kaya dia.”


“Hahaha...”


“Mba Anya, jangan banyak gerak,” peringat penata rias, wanita itu hanya mengangguk saja.


Tak terasa empat puluh lima menit berlalu, wajah Anya dan Rindu sudah selesai dirias dan telah mengenakan kebaya yang tadi diambilnya di butik. Rindu menatap tak percaya penampilan dirinya di cermin. Dia hampir tak mengenali wajahnya sendiri, tubuh mungilnya terlihat seksi terbalut kebaya putih yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hair styles juga berhasil membuat rambut pendeknya tertempel sanggul sederhana.


“Ya ampun Rindu kamu cantik banget. Mama pasti pangling lihat kamu. Bisa-bisa Kevin langsung klepek-klepek lihat kamu cantik kaya gini.”


“Ah mba Anya bisa aja.”


Rindu tersipu malu. Walau tak yakin, tapi Rindu berharap Kevin terkejut melihat penampilan dirinya. Anya berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah itu dia segera mengajak Rindu ke rumah. Sebentar lagi acara akan dilangsungkan.


☘️☘️☘️


Kevin memandangi pantulan dirinya di cermin. Lelaki itu sungguh tak percaya dengan keputusan yang diambilnya hari ini. Mata Kevin terpejam, otaknya terus meyakinkan hatinya kalau ini adalah keputusan terbaik yang telah diambilnya. Dia teringat kembali percakapan dengan mama dan kakaknya, Anya tadi malam.


Flashback On


“Ma.. yang bener aja dong, Kevin ngga mau.”


Kevin langsung protes mendengar keinginan mamanya yang hendak menikahkan dirinya dengan Rindu. Berbagai alasan telah dilontarkannya, namun Delia, mama Kevin tetap bersikeras dengan keputusannya.


“Mama ngga mau denger lagi alasanmu. Pokoknya kamu harus menikah dengan Rindu, titik! Lagian kata kamu dia calon kamu kan.”


“Iya ma, tapi kita belum kenal dekat juga. Atau gini aja deh, tunangan dulu aja. Ya ma ya, jangan langsung nikah,” mohon Kevin.


“Umur kamu udah 30 tahun Vin, udah ngga muda lagi. Kalau mau saling mengenal lebih bagus kalau udah nikah. Kalian mau pacaran, mesra-mesraan atau bikin anak sekalian juga ngga apa, karena udah halal.”


“Vin.. ikut mba.”


Kevin bangun dari duduknya lalu mengikuti Anya yang berjalan di depannya. Kakak perempuan yang usianya terpaut lima tahun darinya itu terus berjalan hingga ke teras depan. Kemudian dia mendudukkan dirinya di kursi santai yang ada di sana. Anya menepuk kursi yang kosong. Kevin pun mengikuti duduk di kursi yang ditepuk Anya.


“Vin.. mba mohon, tolong ikuti keinginan mama.”


“Aku bisa ikutin kemauan mama apa aja tapi ngga yang ini. Pernikahan itu bukan hal yang main-main. Kenapa mama bisa seenaknya minta aku nikahin Rindu.”


“Kan kamu sendiri yang ngenalin Rindu sebagai calon istri kamu. Ya mama cuma menindak lanjuti ucapan kamu aja.”


“Ya tapi ngga menikah dalam waktu dekat juga.”


Anya memegang tangan sang adik. Dia tahu kalau membawa Rindu ke hadapan mamanya beberapa waktu lalu hanya akal-akalan Kevin saja agar menghindari perjodohan yang sudah diatur sang mama.


“Vin.. mba sebenarnya ngga mau bilang ini ke kamu. Tapi kamu tahu kan seminggu lalu mama kontrol ke rumah sakit? Darah tinggi mami naik, mas Devan juga sudah periksa keadaan jantung mama yang akhir-akhir ini sering mama keluhkan. Mama harus dioperasi Vin.”


“Hah? Kok mama atau papa ngga bilang apa-apa sama aku? Mas Devan juga ngga ngomong apa-apa.”


“Itu karena mama yang minta. Mama itu harus cepat dioperasi tapi mama ngga mau dioperasi sebelum kamu nikah. Mama takut ngga bisa bangun lagi setelah operasi. Itulah kenapa mama maksa kamu nikah dengan Rindu secepatnya.”


Wajah Anya nampak sendu. Kevin tak tahu harus berkata apa. Di satu sisi dia tak ingin terjadi sesuatu pada sang mama, namun di sisi lain, dia belum siap harus melepas masa lajangnya secepat ini.


“Mba mohon Vin, kabulkan keinginan mama. Kalau kamu ngga nikah, mama juga ngga mau dioperasi.”


Kevin mengusap wajahnya kasar. Dia seperti makan buah simalakama saja. Anya terus menggenggam tangan sang adik sambil memandangnya dengan tatapan sendu. Kevin terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Senyum terbit di wajah Anya. Dia memeluk sang adik saking bahagianya.


Flashback Off

__ADS_1


TOK


TOK


TOK


Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Kevin. Tak lama pintu terbuka, muncul Devan dari balik pintu. Kakak pertama dari Kevin itu berjalan mendekatinya. Dia tersenyum memandangi sang adik yang sudah siap dengan beskep putihnya.


“Siap Vin? Santai aja, jangan gugup. Tarik nafas dalam-dalam, ingat harus langsung menyambar ucapan wali begitu dia sebut kata tunai, ngerti?”


Devan menepuk bahu sang adik yang hanya dibalas dengan anggukan saja. Dia melirik jam yang tertempel di dinding, waktu menunjukkan pukul 10.45, artinya lima belas menit lagi dia akan berhadapan dengan abah Rindu untuk mengucapkan ijab kabul.


☘️☘️☘️


Mobil yang dikendarai Anya berhenti di depan rumah orang tuanya. Tenda berwarna putih sudah terpasang cantik di halaman rumah. Kening Rindu berkerut melihat tenda yang terpasang sudah seperti acara nikahan saja. Tepukan pelan Anya di bahunya menyadarkan gadis itu. Rindu mengikuti langkah Anya masuk ke dalam rumah. Dia harus berpegangan pada Anya karena tak terbiasa menggunakan high heels ditambah dengan kain yang membelit bagian bawah tubuhnya.


Kedatangan Rindu langsung disambut gembira oleh Delia. Benar seperti dugaan Anya, wanita itu nampak pangling melihat penampilan Rindu. Berulang kali pujian keluar dari mulutnya membuat Rindu tersipu malu.


“Ya Allah anak ambu meni geulis kieu.”


Rindu terjengit mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Sontak dia melihat ke arah samping. Nampak ambu, abah, Rano, kakaknya dan Ranti adiknya juga ada di rumah ini.


“Ambu sama yang lain kok ada di sini juga.”


“Sini neng, abah mau bicara.”


Abah dan ambu membawa Rindu duduk di teras. Rindu memandang curiga pada kedua orang tuanya. Wajah keduanya seperti maling yang tengah ketahuan mencuri. Beberapa kali terdengar deheman abah untuk menyingkirkan kegugupannya.


“Neng.. hari ini kamu akan nikah dengan Kevin.”


“APA???!!! Abah bercanda kan? Abah cuma nge-prank kan?”


“Ngga neng, abah serius.”


Rindu menggelengkan kepalanya dengan kencang, masih belum percaya dengan apa yang telah didengarnya. Pantas saja semua terasa mencurigakan. Kebaya yang dikenakannya mirip seperti kebaya pengantin. Lalu tenda yang terpasang juga. Tapi gadis itu masih berharap kalau ini semua hanyalah gurauan abahnya saja.


“Begini neng. Ibu Delia teh udah bayarin utang abah ke Sekar. Nah, sebagai gantinya abah harus nikahin kamu sama Kevin.”


“Abah mah tega. Dulu nawarin Rindu ke kang Rafli buat bayar hutang juga. Sekarang kejadian lagi.”


“Iya neng, abah minta maaf. Tapi kalau yang ini mah kamu ngga ditolak neng, malah mereka yang minta.”


“Ya tetap aja aku ngga mau, bah. Emangnya aku barang yang bisa dijadiin jaminan buat bayar utang.”


Mata Rindu mulai memanas. Dirinya tak habis pikir bagaimana abahnya bisa menjadikan dirinya sebagai pembayar hutang lagi. Apalagi orang yang akan dinikahinya adalah Kevin, pria yang selalu membuatnya naik darah. Tak ada dalam benaknya menikah dengan si kulkas berjalan itu.


“Ya sudah kalau kamu tidak mau tidak apa-apa neng. Abah titip ambu ya, mungkin selama setahun abang ngga akan pulang ke rumah.”


“Abah mau kemana?”


“Abah mau numpang tidur di sel. Kalau kamu ngga mau nikah sama Kevin, ibu Delia bakalan masukin abah ke penjara dengan tuduhan penipuan.”


“Ya ngga bisa gitu dong bah. Aku bakalan telepon Sekar, aku akan pinjam uang dari dia buat bayar hutang abah.”


“Percuma neng. Abah udah teken perjanjian sama bu Delia, kalau kamu ngga menikah dengan Kevin, abah bakal dipenjarain. Jaga diri kamu baik-baik ya neng, ambu juga. Abah akan ngomong sama bu Delia kalau pernikahan ini batal.”


Abah berdiri, dipandanginya wajah sang istri dengan tatapan sendu. Kemudian membalikkan tubuhnya. Rindu jadi serba salah, dia melihat ambu yang terlihat begitu sedih.


“Biar aku aja abah yang gantiin teh Rindu,” ucap Ranti yang tiba-tiba datang.


☘️☘️☘️


**Nah loh, adeknya Rindu mau gantiin Rindu nikah tuh. Jadi siapa nih yang bakal nikah sama Bang Ke?

__ADS_1


Nanti lagi ya lanjutannya, mamake mau ke salon dulu. Barusan mama Kevin telpon minta mamake jadi pager betis🏃🏃🏃**



__ADS_2