KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Calon Menantu Idaman


__ADS_3

Astuti, Wisnu juga Rayi turun dari taksi online di depan lobi hotel Arjuna. Astuti memilih menggunakan taksi online untuk datang ke acara Gala Dinner yang diadakan oleh asosiasi pengusaha muda dari pada menaiki mobil jadul miliknya. Tentu saja Rayi dengan senang hati memenuhi ajakan kedua orang tuanya untuk datang. mengetahui kalau sponsor acara adalah Maesya Dunia Corporation, gadis itu semakin bertambah semangat.


“Pa.. nanti jangan jauh-jauh dari mama ya,” bisik Rayi di telinga Wisnu.


“Emang kenapa?”


“Takut mama semaput hihihi...”


Wisnu tersenyum mendengar ucapan sang anak. Rayi memang telah menceritakan padanya semua tentang Anfa, termasuk soal keluarga barunya yang merupakan salah satu orang terpandang dan terkaya se-Asia. Dia sendiri sudah tidak sabar ingin melihat reaksi sang istri.


Ketiganya memasuki lobi hotel yang ramai oleh tamu undangan Gala Dinner atau pengunjung hotel. Rayi memandu orang tuanya menuju ballroom yang terletak di bagian selatan gedung. Ini bukan pertama kalinya dia berkunjung hotel ini. Baik Juna, Abi maupun Sekar mengadakan resepsi di hotel ini.


Mata Astuti tak berhenti memandangi interior hotel yang terkesan mewah. Maklum saja, Arjuna hotel adalah salah satu hotel bintang lima dan terbesar di kota Bandung. Bahkan hotel ini diklaim sudah bertaraf internasional. Banyak wisatawan manca negara yang memilih menginap di hotel ini ketika berkunjung ke Bandung. Arjuna hotel juga kerap dijadikan pilihan bagi para pejabat untuk mengadakan acara-acara penting.


Rayi menyerahkan undangan yang dibawanya ke penerima tamu yang berjaga di depan ballroom. Setelah mengisi buku tamu, mereka kemudian diberikan merchandise berupa bingkisan kecil. Ketiganya kemudian masuk ke dalam ballroom yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan juga pihak penyelenggara.


Mata Rayi berkeliling mencari keberadaan kekasihnya. Kemudian sudut matanya menangkap Anfa tengah berbicara dengan beberapa tamu. Sejenak Rayi terpaku melihat sang kekasih yang terlihat begitu tampan dan gagah dalam balutan tuxedo hitam. Lamunan Rayi buyar, ketika Astuti menarik tangannya untuk menyapa sang penyelenggara acara.


Rahma yang tengah menyalami para tamu yang hadir melihat kedatangan Rayi dengan keluarganya. Dengan cepat dia menarik lengan Teddy untuk menyambut kedatangan mereka. Keduanya berjalan menghampiri Rayi dan kedua orang tuanya.


“Rayi... selamat datang sayang.”


Rayi mencium punggung tangan Rahma yang dibalas dengan pelukan hangat. Astuti sedikit terkejut melihat kedekatan Rahma dengan Rayi. Astuti bukan ibu rumah tangga yang tak tahu apa-apa. Dia cukup tahu tentang Rahma istri seorang Teddy Hikmat yang keharmonisan dan kekayaan mereka selalu diberitakan di televisi juga media sosial.


“Ma.. kenalkan ini mama dan papa Rayi.”


Rahma dan Teddy bergantian menyalami Wisnu juga Astuti seraya menyebutkan nama mereka. Wisnu kagum dengan pasangan konglomerat yang begitu ramah. Astuti dengan senang menyambut uluran tangan mereka. Ada rasa bangga terselip dalam hatinya kalau sang anak bisa kenal dengan orang dari kalangan atas.


“Saya nda nyangka ibu dan bapak kenal dengan anak saya.”


“Rayi itu yang merancang pernikahan ketiga anak saya. Saya suka dengan cara kerja Rayi yang gesit, pernikahan anak-anak saya terselenggara dengan baik karena kerja kerasnya.”


“Alhamdulillah bu. Anak ini selain cantik juga bisa bekerja dengan baik,” Rayi memutar bola matanya saat mendengar sang mama memujinya.


“Sebentar ya bu, saya perkenalkan dengan anak-anak saya.”


Rahma memandang berkeliling mencari ketiga anaknya. Karena banyaknya tamu, dia meminta salah satu pelayan untuk memanggilkan anak-anaknya. Tak lama Juna dan Nadia datang menghampiri.


“Kenalkan ini anak pertama saya Arjuna dan ini isrinya, Nadia.”


Juna dan Nadia menyalami orang tua Rayi. Astuti memandang kagum pada pasangan di depannya. Tampan dan cantik, itu adalah paduan yang sempurna. Astuti mulai berkhayal bisa mendapatkan menantu seperti Juna, yang tampan dan juga mapan.


Astuti melemparkan senyuman pada Juna juga Nadia. Kemudian datang Cakra juga sekar bergabung bersama mereka. Rahma pun kembali mengenalkan mereka.


“Kalau yang ini anak bungsu saya, Sekar dan ini suaminya Cakra.”


Astuti menyalami pasangan di depannya. Lagi-lagi dia dibuat kagum dengan kecantikan Sekar dan juga ketampanan Cakra. Bayang-bayang Pandu yang kemarin menjadi calon menantu idaman, luntur seketika saat bertemu dengan Juna juga Cakra.


“Abi mana?” tanya Rahma pada Cakra.


“Apa ma?”


Rahma menoleh ke arah datangnya suara. Dari arah belakangnya muncul Abi bersama dengan Nina. Wanita itu segera menarik anak dan menantunya itu untuk diperkenalkan pada orang tua Rayi.


“Dan ini anak kedua saya, Abimanyu, yang sedang hamil besar ini istrinya, Nina.”


Astuti terhenyak begitu melihat Nina. Dia sontak melihat ke arah Rayi juga suaminya. Namun kedua orang tersebut hanya menampilkan wajah datar saja. Dengan perasaan campur aduk, Astuti menyalami Nina juga Abi. Jika tadi Juna dan Cakra menyambut uluran tangannya dengan ramah, berbeda dengan Abi yang nampak dingin. Bahkan pria itu menatap Astuti dengan pandangan menusuk, membuat wanita itu sedikit bergidik.


“Aku ke sana dulu ma.”


Abi segera merangkul pinggang Nina dan pergi meninggalkan Astuti yang masih shock dengan kenyataan di hadapannya. Abi masih kesal dengan Astuti yang telah berani membuat istrinya menangis tempo hari. Rahma melirik ke arah ibu dari Rayi itu dengan senyum penuh kepuasan melihat keterkejutan wanita itu akan Nina.


“Aduh maafkan Abi ya bu As.. dia itu memang seperti itu pembawaannya. Apalagi kemarin-kemarin dia sempat kesal karena ada orang yang sudah menghina dan membuat istrinya menangis. Tapi Nina ngga mau bilang siapa orang yang sudah menghinanya. Kalau Abi tahu, bisa-bisa orang itu dikirim ke pulau komodo dan dijadikan makanan komodo di sana.”

__ADS_1


Astuti menelan ludah kelat saat mendengarnya. Melihat betapa dinginnya sikap Abi plus tatapannya yang menakutkan, wanita itu percaya kalau anak kedua dari Rahma itu sanggup melakukan hal tersebut. Hatinya tiba-tiba menjadi gelisah.


“Nah selain ketiga anak saya tadi. Ada satu lagi anggota keluarga kami yang juga tak kalah istimewanya. Walau dia bukan anak kandung kami, tapi saya dan suami saya juga begitu menyayanginya, termasuk Juna, Abi juga Sekar. Sebentar saya panggilkan, anak bungsu laki-laki saya.”


Rahma meninggalkan Astuti sejenak untuk menghampiri Anfa. Ditariknya tangan pemuda itu untuk mengikutinya bertemu dengan kekasih beserta kedua orang tuanya. Astuti kembali dibuat terkejut ketika Rahma datang bersama Anfa.


“Kenalkan ini salah satu anak kesayangan saya, Anfa.”


“Om.. tante..”


Anfa mencium punggung tangan Wisnu dan Astuti bergantian. Astuti nampak begitu gugup berhadapan dengan Anfa. Terbayang kata-katanya yang begitu menghina dan menyudutkan pemuda itu. Astuti memandangi Anfa yang terlihat gagah dan juga tampan. Ada rasa menyesal telah menganggap remeh pemuda di hadapannya ini.


“Anfa ini adik dari Nina, istrinya Abi. dan seperti yang saya katakan tadi, saya begitu menyayanginya. Karena bagi kami tak ada istilah menantu, semua istri dan suami anak kami adalah anak kami juga, begitu pula Anfa.”


Rahma mengusak puncak kepala Anfa kemudian merangkul bahunya. Anfa balas memeluk Rahma. Sungguh kasih sayang Rahma padanya sudah seperti ibu kandung saja. Teddy tersenyum melihat interaksi keduanya, dia pun ikut mendekat dan menepuk pundak Anfa beberapa kali.


“Anfa itu anak yang baik, pintar, pekerja keras dan sopan pada orang tua. Saya harap bapak dan ibu mau menerima Anfa sebagai menantu, karena saya dengar Anfa dan Rayi sudah lama berhubungan,” ucap Teddy.


“Sebuah kehormatan bagi kami kalau nak Anfa benar ingin melamar Rayi. Sebagai ayah dari Rayi, saya meretui hubungan mereka. Tapi nda tahu juga dengan istri saya.”


“Ibu setuju kok pak, kapan ibu bilang ngga setuju?” sambar Astuti.


Astuti mencubit pinggang sang suami yang sepertinya sengaja ingin menjelekkan namanya di depan pasangan konglomerat itu. Rayi sendiri tak bisa menahan senyumnya melihat reaksi sang mama yang terlihat panik.


“Fa.. ajak Rayi keliling. Jangan lupa kenalkan dia sebagai calon istri kamu, biar perempuan yang ngejar-ngejar kamu berhenti berharap semua,” Rahma mengedipkan matanya pada Anfa.


“Aku permisi dulu om, tante. Ayo Ray.”


Anfa meraih tangan Rayi kemudian mengajaknya bertemu dengan beberapa tamu undangan. Astuti mengikuti pergerakan keduanya lewat kedua matanya. Rasanya bangga melihat sang anak berdampingan dengan eksekutif muda dan tampan.


“Anfa itu orangnya sedikit tertutup. Dia jarang cerita kalau sedang ada masalah. Mungkin semua karena ulah orang tua angkatnya yang telah memperlakukan dia secara tidak manusiawi. Tapi saya salut padanya, di tengah tekanan hidup yang begitu berat, dia tetap kuat menjalani hidup dan tumbuh menjadi anak yang baik.”


“Kalau orang tua kandung Anfa di mana bu?” tanya Wisnu. Dia sengaja menanyakan hal tersebut agar sang istri mendengarnya.


“Kedua orang tua Nina dan Anfa meninggal saat musibah tsunami Aceh. Ayahnya seorang dosen dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi biar pun begitu, ibu Anfa itu orang yang berpendidikan tinggi. Memang bibit tak pernah salah, ayah dan ibunya orang yang pintar dan berbudi baik, maka kedua anaknya pun menuruni sifat baik mereka.”


“Tapi kemarin saya sempat dengar kabar ngga enak. Katanya ada yang berani menghina Anfa. Tapi ya itu, Anfa ngga mau cerita sama siapa orang yang sudah menghinanya. Kalau saya tahu, bakalan saya bejek-bejek orang itu. Beraninya dia menghina anak kesayangan saya.”


Astuti terkesiap mendengar ucapan Rahma, refleks dia bersembunyi di belakang punggung suaminya. Wisnu berusaha keras menahan tawa melihat reaksi sang istri. Bukannya menenangkan, Wisnu malah terus memancing Rahma.


“Keterlaluan ya bu orang itu. Menghina tanpa tahu yang sebenarnya. Kalau ibu ketemu orang itu, mau diapakan bu?” tanya Wisnu.


“Saya sumpel mulutnya pake bon cabe, terus bibirnya saya kasih balsem hot cream, terakhir saya iket pake karet gelang sekodi.”


Baik Teddy maupun Wisnu tak bisa menahan tawanya mendengar jawaban absurd Rahma. Astuti terus bersembunyi di belakang suaminya seraya memegang erat kemejanya. Nyalinya ciut juga mendengar ucapan Rahma lengkap dengan ekspresinya yang serius dan matanya yang memancarkan kemarahan.


“Hahaha.. harap dimaklum ya pak, istri saya memang begini. Apalagi Anfa itu anak kesayangannya,” jelas Teddy.


“Iya maaf, saya jadi kebawa emosi. Soalnya ngga rela anak kesayangan saya dihina. Ayo pak, bu, silahkan dicicip hidangannya. Saya permisi mau menyapa tamu yang lain dulu.”


“Iya bu, terima kasih.”


Rahma memeluk lengan Teddy kemudian pergi meninggalkan Wisnu juga Astuti. Hatinya puas sudah bisa membuat Astuti pucat pasi. Kalau tidak melihat kode sang suami, mungkin Astuti akan dibuatnya pingsan. Keduanya lanjut menyambut tamu lain yang sudah menunggu mereka.


Wisnu mengajak Astuti ke salah satu meja. Selain untuk menikmati hidangan, dia juga ingin menenangkan sang istri yang nampak shock mendengar kata-kata Rahma. Walau dalam hatinya pria paruh baya itu tersenyum geli. Tak apalah sesekali istrinya diberi pelajaran agar tidak melulu melihat harta dan juga status seseorang.


Astuti mendudukkan diri di salah satu kursi. Lututnya terasa lemas, ternyata wanita sekelas Rahma begitu menyeramkan jika sudah marah. Belum lagi dia juga mendengar kalau anak keduanya, Abi yang juga suami Nina merupakan orang yang sadis. Dalam hati wanita itu berharap kalau Abi tak mengetahui kalau dirinya yang telah menghina Nina juga Anfa.


Wisnu pergi mengambilkan minuman dan juga makanan untuk sang istri. Tinggalah Astuti sendiri. Tepat di sebelahnya tak lama duduk seorang wanita paruh baya dan seorang gadis. Dilihat dari sikapnya, mereka adalah ibu dan anak. Karena posisi duduk mereka yang bersebelahan, Astuti dapat mendengar dengan jelas pembicaraan kedua wanita di sebelahnya.


“Sayang ya, semua anak lelaki pak Teddy sudah menikah. Padahal mereka itu ganteng dan juga pewaris kerajaan bisnis orang tuanya.”


“Tenang aja ma, masih ada satu lagi.”

__ADS_1


“Siapa?”


“Itu adiknya Nina, Anfa. Kan bu Rahma sama pak Teddy sayang banget sama dia. Udah gitu ganteng juga loh.”


“Oh iya, Anfa. Mama beberapa kali pernah ketemu sama dia. Anaknya sopan, baik, pokoknya paket komplit deh. Kamu harus bisa dapetin hatinya.”


“Tapi tuh cewek dari tadi ngintilin Anfa mulu,” gadis itu menunjuk ke arah Rayi.


“Halah paling tuh cewek asisten atau kacungnya Anfa. Cantikan juga kamu, udah pepet aja, mama dukung kamu.”


Astuti yang mendengar percakapan kedua wanita berbeda generasi tersebut karuan saja meradang. Apalagi wanita tersebut menyebut Rayi sebagai kacung Anfa. Dia merubah posisi duduknya menghadap wanita paruh baya di sebelahnya. Kemudian menepuk bahu wanita itu.


“Eh jeng, saya bilangin ya. jangan coba-coba ganggu Anfa.”


“Emang situ siapa?”


“Saya itu calon mertuanya Anfa. perempuan yang sedang bersama Anfa itu CALON ISTRINYA, bukan kacung. Dan saya ibu dari perempuan itu, namanya Rayi,” sembur Astuti.


“Ngga percaya saya! Bisa aja kan situ ngadi-ngadi, Anfa itu calon menantu idaman, jadi wajar banyak yang ngehalu pengen jadi mertuanya,” balas wanita itu tak kalah pedas.


“Kurang ajar.. situ yang ngehalu... anak saya sudah pacaran lama dengan Anfa, sejak mereka kuliah.”


“Selamat malam semuanya...”


Perdebatan dua orang wanita yang tengah memperebutkan Anfa menjadi menantunya terhenti ketika mendengar suara Teddy. Pengusaha sukses itu memulai sambutannya, membuat semua yang hadir mengalihkan perhatiannya ke arah panggung.


“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kehadiran semua yang ada di sini. Saya berharap acara kali ini dapat mempererat tali silaturahmi dan juga menjali hubungan bisnis yang lebih baik untuk kita semua. Selamat saya ucapkan pada semua pengusaha muda yang tergabung dalam asosiasi ini. Pesan saya, teruslah berusaha, buka wawasan, dan perluas jaringan untuk keberhasilan kalian.”


Teddy menjeda pidatonya sejenak saat mendengar tepuk tangan dari yang hadir. Sosok Teddy memang kerap dijadikan role model bagi para pengusaha muda. Selain sukses masuk ke dalam jajaran orang terkaya di Asia, sosok Teddy juga terkenal ramah dan tak pelit berbagi ilmu. Kekaguman pada sosok Teddy bertambah begitu melihat keharmonisan keluarganya. Dia adalah sosok suami dan ayah yang baik.


“Pada kesempatan kali ini perkenankan saya memperkenalkan anak-anak saya yang mulai saat ini memegang penuh kendali kepemimpinan di perusahaan. Yang pertama, perkenalkan anak sulung saya, Perwira Arjuna Hikmat yang saat ini bertanggung jawab atas Blue Sky Corporation.”


Juna naik berjalan menuju panggung. Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar ketika pria kalem itu naik ke atas panggung. Pria tampan yang selalu bersikap ramah itu punya cukup banyak penggemar, walau dirinya telah berstatus sebagai suami Nadia. Beberapa pasang mata para wanita menatapnya tanpa berkedip. Sesampainya di atas panggung, Juna berdiri di sisi Teddy.


“Selanjutnya, perkenalkan anak kedua saya, Satria Abimanyu Hikmat yang saat ini bertanggung jawab atas Metro East Corporation.”


Lagi suara tepuk tangan terdengar ketika pria dingin dengan wajah datarnya naik ke atas panggung. Sebenarnya cukup banyak kaum hawa yang menyukai Abi, namun sikap pria itu yang jauh dari kata ramah, banyak yang memilih mundur teratur. Abi kemudian berdiri di sisi Juna.


“Berikutnya saya panggilkan anak dari sahabat saya sekaligus menantu saya, Cakrawala Dunia Hikmat yang saat ini bertanggung jawab atas Maesya Dunia Corporation.”


Dengan langkah panjang Cakra menuju panggung kemudian naik ke atasnya. Para pemuja Cakra yang juga datang ke acara ini hanya bisa menatap iri pada Sekar yang telah berhasil menaklukkan pria itu. Dia lalu berdiri di samping Abi.


“Dan terakhir, saya perkenalkan anak bungsu lelaki saya yang saat ini membantu Abimanyu mengelola Metro East dan pada saatnya nanti akan memegang kendali atas Ocean Corporation di Jepang, Muhammad Anfa Hikmat.”


Semua mata langsung tertuju pada pria muda mengenakan tuxedo hitam yang tengah berjalan menuju panggung. Wanita paruh baya yang tadi berdebat dengan Astuti terus mengikuti langkah Anfa sampai ke atas panggung. Begitu pula dengan Astuti, dia cukup tercengang mendengar kalau Anfa akan memegang perusahaan milik Teddy yang ada di Jepang. Ternyata menantu idaman yang selama ini dicari ada di depan matanya namun dirinya tak bisa melihat.


Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar ketika keempat pria yang akan menjadi pilar penerus kerajaan bisnis Teddy juga Rahma sudah berkumpul di atas panggung. Beberapa wartawan yang meliput jalannya acara langsung mengabadikan gambar mereka.


Anfa mendekat pada Abi kemudian berbicara sebentar. Nampak pria itu menganggukkan kepalanya. Kemudian Anfa berbicara pada Teddy, pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu pun ikut menganggukkan kepalanya. Teddy memberikan mic di tangannya kepada Anfa.


“Selamat malam semuanya. Pada kesempatan kali ini, setelah mendapat ijin dari papa dan ketiga kakak saya, saya ingin memperkenalkan seseorang yang penting dalam hidup saya. Seseorang yang selalu setia menemani saya di saat suka dan duka, seorang perempuan hebat bernama Rayi Aisyahrani.”


Rayi terkejut saat Anfa memanggil namanya, Nadia segera membawa Rayi menuju panggung. Dengan hati berdebar Rayi naik ke atas panggung. Dia semakin gugup saat melihat semua mata yang ada di ruangan menatap ke arahnya. Gadis itu berdiri berhadapan dengan Anfa.


“Ray.. terima kasih selama ini selalu setia menemaniku, memberiku semangat dan selalu membuatku tersenyum di saat terberatku.”


Anfa mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari saku celananya. Kemudian pria itu berlutut di hadapan Rayi, membuat gadis itu hanya mampu menutup mulut dengan kedua tangannya saat Anfa menyodorkan kotak beludru hitam itu ke arahnya.


“Rayi Aisyahrani.. will you marry me?”


☘️☘️☘️


**Yes I will, eh yang ditanya Rayi ya, kirain mamake🤣

__ADS_1


Buat yg nunggu up nya kemarin, mohon maaf setiap Jumat itu adalah waktu mamake bersama ayah dan anak². Dan sekarang ini mamake punya kesibukan baru di RL jadi mohon maaf kalau up nya telat dan ngga bisa setiap hari🙏


Happy saturday night ya gaaaeeesss😎**


__ADS_2