KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Permintaan Bumil


__ADS_3

Jojo terkesiap ketika gadis di depannya berbalik setelah mendapatkan makanannya. Setali tiga uang, gadis yang ternyata adalah Adinda juga terkejut melihat Jojo ada di hadapannya. Mata Jojo memandang tak berkedip ke arah Adinda. Nalurinya sebagai laki-laki tak bisa memungkiri kalau Adinda terlihat begitu cantik malam ini.


“Misi om.”


Ucapan singkat Adinda menarik kembali kesadaran Jojo. Gadis itu bergegas meninggalkan Jojo, takut akan terkena semprotan pria itu lagi. Mata Jojo terus mengikuti pergerakan Adinda yang berjalan menuju meja kemudian duduk di samping Radix. Jojo mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika melihat Adinda tertawa saat berbicara dengan Radix. Ada perasaan tak suka melihat kedekatan dua orang tersebut.


“Mas Joohh ini phastahnya..”


Syakira menyodorkan piring pasta ke arah Jojo namun segera disambar oleh Luna. Wanita itu balik menyodorkan piring pasta di tangannya. Melihat itu, Syakira yang geram mengambil paksa piring dari tangan Luna. Adegan tarik menarik piring pun segera terjadi.


“Kalian berdua bisa diam tidak!” sentak Jojo membuat kedua wanita itu langsng terdiam.


“Mas Jooohhh..”


“Diam Syaki! Kamu juga Luna, berhenti bertengkar, kuping saya sakit dengar kalian berdua ngeceh terus. Mending kalian pulang aja!”


Jojo yang kesal dengan tingkah kedua wanita itu beranjak pergi. Dia menuju meja Abi dan Nina. Sahabatnya itu tengah terpingkal menertawakan dirinya. Dengan kesal dia mendudukkan diri di samping Abi. Syaki yang melihat Jojo bersama dengan Abi tak berani mendekat, dia memilih pulang. Berbeda dengan Luna yang dengan percaya dirinya menghampiri Jojo. Namun belum sempat duduk, suara ketus Abi langsung terdengar.


“Jangan duduk di situ!”


“Kenapa?”


“Kursi itu ada yang punya. Sana cari tempat lain!”


Abi mengibaskan tangannya seperti orang mengusir. Luna melirik ke arah Jojo yang sama sekali tidak bereaksi apapun. Dengan perasaan dongkol Luna meninggalkan meja tersebut. Dia memilih duduk bersama Fandy, sutradara yang juga membantu Jojo di perusahaan.


“Pus.. pus.. pus..”


Abi memanggil Adinda yang duduk tak jauh dari mejanya dengan suara seperti memanggil kucing. Nina mencubit pinggang suaminya yang selalu saja berlaku seenak jidatnya. Adinda yang mendengar namanya dipanggil, menengok ke arah Abi. Pria itu tengah menggerakkan dua jari padanya. Adinda bangun dari duduknya lalu menghampiri Abi.


“Ada apa kak?”


“Tolong ambilin kambing guling ya. Kasihan tuh orang belum makan, takutnya pingsan di sini.”


Adinda mengikuti telunjuk Abi yang mengarah pada Jojo. Mata Jojo membulat mendengar ucapan sahabatnya itu. Bergegas Adinda menuju stall kambing guling. Setelah mengantri beberapa saat, dia berhasil mendapatkan pesanan Abi. Gadis itu meletakkan piring berisi kambing guling di depan Jojo.


“Ini, om.”


Jojo hanya berdehem saja tanpa melihat ke arah gadis itu. Adinda baru saja akan kembali ke tempatnya ketika Abi kembali berbicara.


“Duduk situ Pus.”


Adinda melihat ragu pada Abi. Tapi gendikan kepala pria itu serta matanya yang mengintimidasi, mau tak mau membuat gadis itu duduk di sebelah Jojo. Karena lapar, Jojo mulai memakan kambing guling yang diambilkan Adinda. Tak jauh dari mereka, Luna tengah memperhatikan dengan perasaan meradang.


Melihat makanan di piring Jojo hampir habis, Adinda berinisiatif mengambilkan minum untuk pria itu lalu meletakkannya di dekat Jojo. Abi tersenyum tipis melihat semua itu. Nina mendekatkan mulutnya ke arah telinga sang suami kemudian membisikkan sesuatu.


“Jo, gue mau ke kamar. Nina capek. Oh iya, nanti jangan lupa anterin si Pus pulang.”


“Ngg.. ngga usah kak. Aku sama kang Radix aja.”


“Ini permintaan ibu hamil bukan aku. Kamu mau anakku ileran hah?”


“Eh ngg.. ngga kak. Ya udah aku pulang sama om Jojo. Tapi kalau om ngga mau ya ngga apa-apa,” Adinda melirik Jojo takut-takut.


“Awas aja lo ngga kabulin permintaan istri gue,” ancam Abi pada Jojo.


“Iya gue anterin, bawel banget sih.”


“Jangan lupa kirim foto kalian lagi di mobil sama kalau udah sampai rumah sakit,” celetuk Nina.


“Ampun Nin, ngga percaya banget sih,” keluh Jojo.


“Bukannya ngga percaya tapi ini permintaan baby gue yang pengen lihat kalian foto bareng. Bye Dinda, bye om Jojo.”


Nina terkikik saat memanggil om pada sahabat suaminya itu. Jojo hanya berdecih kesal melihat kelakuan ibu hamil itu. Ini bukan kali pertama dirinya dikerjai oleh istri dari Abimanyu, sahabat baiknya.


Belum lama Abi dan Nina pergi, Juna dan Nadia datang bergabung bersama Jojo juga Adinda. Lagi-lagi Jojo berdecih kesal saat melihat kemesraan pasangan di depannya. Kedua orang itu asik suap-suapan tanpa mempedulikan dua makhluk lain di dekat mereka.


Wajah Adinda merona menyaksikan itu semua. Dia mengalihkan pandangannya ke kanan, saat yang bersamaan Jojo juga mengalihkan pandangan ke arah yang sama. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Adinda memutuskan pandangan lebih dulu dengan menundukkan kepalanya.


“Kak.. inget tempat napa,” cetus Jojo.


“Ngiri bilang bos. Tuh ada yang cantik di sebelah,” Juna mengangkat sebelah alisnya menggoda Jojo. Lagi, wajah Adinda merona mendengar ocehan Juna.


“Dinda masih unyu-unyu mas, mana cocok sama Jojo. Dia cocoknya sama Radix atau Gurit,” sambar Nadia.


Jojo langsung mengalihkan pandangannya pada Nadia. Dengan kesal ditatapnya perempuan yang juga salah satu sahabatnya semasa kuliah dulu.


“Din.. kalau kata kamu ganteng mana, Radix atau Gurit?”


“Hmm.. siapa ya teh? Dua-duanya deh hehehe.”


“Kalau sama Jojo ganteng siapa?” sela Juna.


Adinda melirik ke arah Jojo sebentar kemudian melihat kembali ke arah Juna. Gadis itu hanya melemparkan senyum kikuk untuk menjawab pertanyaan kakak dari Sekar itu. Jojo berusaha tak peduli, namun sebenarnya dia penasaran juga dengan jawaban gadis di sebelahnya.


“Malah nyengir. Ganteng mana?” desak Juna.


“Ganteng kak Juna deh hehehe.”


“Eh nakal ya kamu. Ngga boleh godain suamiku,” Nadia pura-pura marah.


“Maaf kak, hehehe peace,” Adinda mengangkat dua jarinya.


“Jadi, siapa yang paling ganteng di antara Radix, Gurit sama Jojo?” Juna kembali bertanya.

__ADS_1


“Ck.. kak Juna apaan sih,” celetuk Jojo.


“Diem!”


Juna dan Nadia terus melihat ke arah Adinda. Tatapan mereka sukses mengintimidasi Adinda yang berpikir keras harus memberi jawaban seperti apa. Terlebih salah satu orang yang ada dalam pilihan, duduk di sampingnya. Jojo meneguk minumannya, berusaha menutupi rasa penasarannya akan jawaban si gadis blewah.


“Hmm.. kalau kang Radix cakep, kang Gurit manis, kalau om Jojo ganteng,” Adinda berusaha memberikan jawaban sediplomatis mungkin.


“Wah, berarti ganteng lo ngga mutlak Jo,” kekeh Juna.


“Eh emang Jojo tua banget ya, sampai kamu panggil om,” Nadia terkikik. Jojo melotot ke arah wanita itu.


“Ng.. ngga teh. Cuma lidahku udah biasa manggil om,” Adinda kembali memperlihatkan cengiran khasnya.


Juna bangun dari duduknya seraya meraih tangan sang istri begitu melihat tamu penting baru saja turun dari panggung pelaminan.


“Aku tingga dulu ya Din. Jo, nitip ya, jangan digigit.”


Jojo berdecih menanggapi ucapan Nadia. Suasana kembali hening sepeninggal pasangan itu. Tak ada pembicaraan dari dua orang tersebut, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Jojo melirik ke arah Adinda ketika mendengar ponsel gadis itu berbunyi, dering ponsel jadul. Adinda mengeluarkan ponsel pabrikan Jepang yang begitu terkenal di masanya dulu. Dengan cepat gadis menjawab panggilannya.


“Assalamu’alaiakum.”


“Waalaikumsalam.”


“Ada apa bu?”


“...”


“Oh iya bu, Dinda ke rumah sakit sekarang.”


“...”


“Iya bu, makasih.”


Adinda mengakhiri panggilannya lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya. Kemudian dia bangkit dari duduknya.


“Mau kemana?”


“Mau pulang om. Barusan ada telepon dari rumah sakit.”


“Ayo saya antar.”


Adinda hanya mengangguk pelan lalu berjalan mendahului Jojo menuju pintu keluar. Saat melintasi meja Radix, pemuda itu langsung menegurnya.


“Eh mau kemana Din?”


“Pulang dulu kang.”


Radix hendak berdiri namun tangan Jojo segera menahan bahunya sehingga pemuda itu kembali duduk di tempatnya.


“Aku yang anter pulang. Kamu di sini aja.”


“Biar aku aja kak. Tadi juga datengnya bareng aku,” Radix bersikeras.


“Aku disuruh sama Abi, istrinya lagi ngidam. Kalau kamu mau anter dia, bilang sendiri sama Abi!”


Mendengar nama Abi disebut, Radix mengurungkan niatnya. Pemuda itu cukup segan dengan kakak kedua dari Sekar. Dengan pandangan tak rela, dia melepas gadis gebetannya diantar Jojo pulang.


Jojo membukakan pintu untuk Adinda kemudian memutari badan mobil. Dibukanya pintu kemudian duduk di kursi sebelah. Dilihatnya Adinda tengah kesulitan menarik tali seat belt. Jojo mendekatkan tubuhnya kemudian menarik tarik seat belt. Sontak Adinda menundukkan pandangannya. Jojo karuan kesal dibuatnya.


“Kamu kenapa sih? Nunduk terus, emang muka saya kaya setan, nyeremin gitu?”


“Ng.. ngga om, maaf.”


Jojo menggelengkan kepalanya seraya memasang sabuk pengaman. Gadis itu menjawab pertanyaannya masih dengan kepala tertunduk. Tangannya mencengkeram erat tali seat belt. Seperti ketakutan dimangsa olehnya. Dengan cepat dia menginjak pedal gas kemudian melajukan mobilnya.


“Ke rumah sakit mana?”


“Rumah sakit yang dekat pasar Cicadas, om.”


Jojo mengarahkan mobilnya menuju daerah Cicadas. Dia tahu rumah sakit yang dimaksud, karena hanya ada satu rumah sakit di sana. Diliriknya Adinda yang hanya diam membisu. Kepalanya selalu menoleh ke jendela samping. Seakan takut melihat padanya.


“Siapa yang sakit?” suara Jojo memecah kebisuan di antara mereka.


“Enin, om.”


“Orang tua kamu kemana?”


“Bapak sama ibu sudah meninggal, om.”


Tak ada tanggapan dari Jojo. Hatinya sedikit merasa bersalah sudah membentak gadis itu beberapa hari lalu. Ternyata Adinda sudah menjadi yatim piatu, sama seperti dirinya.


“Maaf..”


“Enngghh.. ma..af kenapa om?” ucapan maaf Jojo sukses membuat gadis itu melihat ke arahnya.


“Maaf udah bentak kamu waktu di rumah Abi.”


“Ngga apa-apa om. Aku udah maafin kok.”


“Enin kamu sakit apa?”


“Kata dokter ada flek di paru-parunya sama maag juga. Enin kadang suka nunda makan.”

__ADS_1


Tak ada pembicaraan lagi setelah itu. Jojo juga tak berminat bertanya lagi. Dia berusaha membentengi diri agar tidak terhanyut dengan kisah sedih gadis itu. Takut kalau peristiwa dulu terulang kembali, terjerat tipu muslihat Fahira.


Sepuluh menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Jojo menghentikan mobilnya di area parkir yang terletak di samping gedung. Adinda membuka tali seat beltnya. Saat akan turun, terdengar suara Jojo menahannya.


“Tunggu sebentar.”


“Kenapa om?”


“Saya lupa, Nina minta dikirimin foto kan?”


Jojo mengeluarkan ponselnya lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Adinda. Dinyalakannya lampu mobil, agar tidak terlalu gelap kemudian menjulurkan tangannya ke depan. Adinda bergeming di tempatnya dengan mata menatap ke arah kamera.


“Geser sini dikit biar masuk frame.”


Jojo memberi perintah. Adinda menggeser tubuhnya mendekat ke arah Jojo, namun tubuhnya masih belum tertangkap kamera seutuhnya. Jojo berdecak lalu menarik bahu Adinda hingga tubuh keduanya merapat. Tak lama gambar mereka terekam di layar ponsel Jojo, Adinda buru-buru melepaskan diri dari Jojo dan turun dari mobil.


Jojo mengirimkan gambar kepada Abi baru kemudian menyusul Adinda turun dari mobil. Setengah berlari lelaki itu menghampiri Adinda yang sudah sampai di depan lift. Tak lama benda kotak persegi itu terbuka, keduanya masuk ke dalamnya.


Kening Jojo mengernyit melihat Adinda masuk ke ruangan yang merupakan ruangan paling mahal di rumah sakit ini. Gadis itu kemudian masuk ke kamar yang berada dekat dengan meja perawat. Terlihat seorang wanita terbaring di ranjang dan ada wanita paruh baya duduk di sisi bed.


“Eh udah datang Din. Ini resep yang harus ditebus.”


Ibu itu menyerahkan selembar resep pada Adinda. Suster meminta resep ditebus malam ini juga karena persediaan obat enin sudah habis. Tanpa bertanya lagi, Adinda bergegas keluar kamar lalu menuju apotik yang ada di lantai bawah. Jojo terus mengikutinya sampai gadis itu tiba di apotik. Dinda menyerahkan resep di tangannya.


“Semuanya jadi 748 ribu.”


Adinda menganga mendengar jumlah yang harus dibayarkan. Dibukanya dompet, sayang hanya ada lima ratus ribu rupiah saja yang tersisa. Dia terdiam sebentar untuk berpikir. Sebenarnya bisa saja dia menelpon Radix, tapi sungkan. Untuk biaya kamar saja, pemuda itu sudah mengeluarkan uang banyak.


“Hmm.. kalau saya tebus setengahnya dulu boleh ngga?”


“Bisa, tapi yang satu lagi harus besok pagi ya. Ini obat suntik buat dua kali pemakaian.”


“Iya sus, sekarang satu aja dulu.”


“Dua-duanya aja sus.”


Jojo yang berada di belakang Adinda menyerahkan kartu debitnya. Adinda menoleh ke arah Jojo, tapi pria itu hanya memandang ke depan saja. Apoteker yang bertugas segera memproses transaksi kemudian mengembalikan kartu kepada Jojo. Tak lama dia memberikan dua ampul obat suntik pada Adinda.


“Om, makasih. Nanti saya ganti ya.”


“Hmm.. kamu ngga punya uang buat nebus obat tapi bisa bayar kamar kelas 1,” sindir Jojo.


“Ng.. kalau kamar bukan aku yang bayar, om. Kang Radix yang udah bayarin.”


Kening Jojo berkerut. Dia tak percaya kalau Radix yang sudah membayar sewa kamar kelas satu tersebut. Pria itu tahu betul keuangan bocah tengil sahabat dari Sekar.


Pasti si Abi yang udah bayarin tapi bilangnya dari si buluk itu.


Adinda memberikan resep obat pada suster kemudian masuk ke dalam kamar. Tetangganya yang sedari tadi menunggui sang nenek sudah bersiap untuk pulang.


“Gimana Din? Sudah?”


“Sudah bu.”


“Ibu pulang sekarang ya. Kasihan Mia di rumah sendirian.”


“Iya bu, makasih ya udah mau jagain enin.”


"Sama-sama. Kamu kaya ke siapa aja."


Ibu itu menganggukkan kepalanya seraya melempar senyum ke arah Jojo lalu keluar dari kamar. Adinda memandangi sang nenek yang sudah terlelap. Dibetulkannya selimut yang sedikit turun.


“Saya juga pulang dulu.”


“Iya om, makasih udah mau nganterin.”


Jojo memutar tubuhnya lalu keluar dari kamar. Sebenarnya dia masih harus berfoto sekali lagi dengan Adinda, tapi diurungkannya. Pria itu memilih buru-buru pergi untuk mengejar tetangga Adinda yang sudah lebih dulu pergi.


“Mari bu, saya antar pulang.”


Seru Jojo ketika bertemu dengan wanita paruh baya itu di dekat pintu masuk. Wanita itu terjengit mendengar suara Jojo.


“Eh ngga usah rumah saya deket kok dari sini, tinggal nyebrang terus masuk gang.”


“Ngga apa-apa bu, saya antar. Lagi pula sudah malam.”


Ibu itu mengangguk sungkan kemudian mengikuti langkah Jojo menuju mobilnya. Jojo menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit dengan pelan. Dia sengaja ingin sedikit berlama-lama agar bisa mengorek keterangan tentang Dinda. Apalagi untuk sampai ke depan gang, mobil memutar yang jaraknya sekitar dua ratus meter.


“Hmm.. ibu sudah lama kenal dengan Dinda?”


“Sudah, sejak dia sama neneknya pindah ke sini. Sekitar tujuh tahun yang lalu. Sebulan setelah pindah, orang tua Dinda meninggal.”


“Sakit bu?”


“Ngga, kecelakaan motor. Mereka ketabrak mobil waktu pulang dari pasar, katanya sih pengemudinya mabuk. Dua-duanya langsung meninggal di tempat. Kasihan Dinda, dia masih SD waktu orang tuanya meninggal dan tinggal sama neneknya sampai sekarang. Ibu mah salut sama anak itu, rajin, ngga malu kerja apa aja yang penting bisa dapet uang buat bertahan hidup. Apalagi sekarang neneknya sakit-sakitan. Tapi syukur ada temannya yang mau bantu biaya rumah sakit.”


Jojo terdiam mendengar penjelasan wanita di sebelahnya. Ibu itu bercerita panjang lebar tentang kehidupan Adinda. Sedikit banyak kisah Adinda mirip dengan kisah hidup Fahira. Bedanya, mantan istri Abi itu tinggal berdua dengan ibunya saja yang juga sakit-sakitan.


“Berhenti di depan saja mas, dekat kios rokok.”


Ucapan wanita itu membuyarkan lamunan Jojo. Pria itu menyalakan lampu sen kemudian menepikan kendaraannya di dekat kios rokok. Setelah mengucapkan terima kasih, ibu itu turun dari mobil. Jojo menjalankan kendaraannya kembali. Hati dan pikirannya berperang hebat tentang sosok Adinda. Di satu sisi merasa bersalah telah menuduh gadis itu tapi di sisi lain, dia masih belum sepenuhnya percaya pada Adinda.


☘️☘️☘️


**Hari ini mamake up 2x buat kalian. Please jangan bilang up nya sedikit, ini udah 2400 kata loh😭 Buat bikin segini aja butuh waktu dua jam nongkrong depan laptop.

__ADS_1


Jangan lupa komennya ya. Kalau tembus 200 lebih, besok mamake up 2x lagi🤗**


__ADS_2