
Suasana di kediaman Abi cukup ramai. Para pegawai di rumahnya, dibantu oleh Rayi, Nadia dan Sekar tengah sibuk menyiapkan hantaran pernikahan. Ditambah lagi desainer kepercayaan keluarga Hikmat baru saja datang membawakan seragam pernikahan. Para wanita segera menuju kamar tamu untuk mencoba pakaian.
Kenzie sedari tadi hanya diam di rumah, mulai kemarin dia sudah diminta Abi untuk cuti. Pernikahannya dan Nara akan dilangsungkan lusa. Demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Abi meminta Kenzie tetap di rumah. Nina juga melarangnya untuk bertemu dulu dengan Nara. Alhasil pria itu hanya gulang-guling saja di kamar.
Bosan terus menerus di kamar, Kenzie keluar dari sarangnya. Dia bermaksud pergi ke rumah pohon. Selain suasana di sana lebih tenang, pria itu juga ingin bermain game online dengan khusyu. Saat menuruni tangga, telinganya menangkap suara sang mama.
“Nan.. kamu ke rumah om Jo. Anterin oleh-oleh dari Medan.”
“Ok mama.”
“Jangan pake motor, pake mobil. Oleh-olehnya banyak.”
“Iya mamaku sayang.”
“Jangan lama-lama di sananya.”
“Siap kanjeng mama.”
“Naaan..”
“Ya salam, apalagi mamaaaa..” gemas Kenan.
“Bilang ke tante Dinda, mama minta jus mangga.”
“Iya.”
Kenzie yang masih ada di tangga mengawasi sang mama yang masih memberikan instruksi pada para pegawainya. Melihat Nina sudah beranjak menuju kamar tamu, dengan cepat Kenzie menuruni tangga. Sambil menaruh telunjuk di depan mulut, dia melintasi para pegawai rumahnya.
Kenan terkejut saat tiba-tiba Kenzie masuk lalu duduk di samping kursi pengemudi. Tanpa mempedulikan pelototan sang adik, Kenzie memakai sabuk pengamannya. Kenan melihat ke arah belakang mobil, tak ada yang mengejar kakaknya ini.
“Woii bang ngapain lo?”
“Lo mau ke rumah Nara kan? Buruan berangkat.”
“Lo kan ngga boleh kemana-mana. Kalau mama tahu gimana?”
“Berisik lo, makanya buruan berangkat,” kesal Kenzie.
“Ogah.. tar gue kena getahnya diomelin mama. Mending kalau cuma diomelin, kalau uang bulanan gue dipangkas gimana? Berabe kan. Emangnya abang mau tanggung jawab apa kalau gue...”
PLUK
Kenzie menutup mulut Kenan yang tak berhenti nyerocos dengan dompetnya. Mata pemuda itu langsung membulat melihat dompet tebal sang kakak. Dengan cepat diambilnya dompet tersebut lalu membukanya. Lembaran merah memenuhi dompet Kenzie.
“Uang tutup mulut nih bang?”
“Iye.. buruan berangkat.”
“Semua ye.”
“Iye.. berisik banget.”
Kenan menyalakan mesin mobil sambil bersiul senang. Usahanya berhasil memindahkan uang dari dompet sang kakak ke dompetnya. Kaki Kenan menekan pedal gas dan kendaraannya perlahan mulai bergerak.
Beberapa kali Kenzie berdecak kesal karena sang adik melajukan kendaraan di bawah 50 km/jam. Padahal dirinya sudah tak sabar ingin bertemu dengan Nara. Diliriknya Kenan yang masih dalam mode kalem mengendarai mobilnya.
“Lo bawa mobil udah kaya siput,” protes Kenzie.
“Alon-alon asal kelakon, bang.”
“Buruan Nan, ngga usah kebanyakan gaya.”
“Ngga sabaran banget bang. Udah kangen berat ya,” Kenan menaik turunkan alisnya.
“Gue tambahin lima juta, buruan!”
“Woke boss.”
Kenan menekan pedal gas lebih dalam lagi. Mobilnya mulai melaju kencang. Kenzie menggelengkan kepalanya, hanya demi bisa bertemu Nara, dia harus rela kehilangan uang sepuluh juta. Sepertinya Kenan sengaja mengerjainya.
☘️☘️☘️
Kedua bola mata Nara menatap tak berkedip pada layar laptop yang ada di depannya. Dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya. Bagian tubuhnya nampak menegang. Dia semakin erat memeluk guling yang ada di tangannya. Seorang diri, di dalam kamarnya Nara tengah melihat adegan film yang begitu menegangkan.
Awalnya gadis itu menolak hadiah pernikahan yang dikirimkan Azra padanya. Tapi sahabatnya itu mengatakan kalau dia harus melihat film tersebut. Didorong rasa penasaran, Nara memutar film pemberian Azra di laptop. Kini justru dirinya yang tak bisa berhenti menontonnya.
Netra Nara memandangi tubuh mulus pemeran wanita yang ada di bawah kungkungan pemeran pria. Sang wanita tak mengenakan benang sehelai pun. Nara menutup matanya ketika pemeran pria membuka kain terakhir yang membungkus tubuhnya. Namun dari sela jari-jarinya, dia bisa melihat laras panjang yang sudah menegang. Gadis itu semakin dibuat tegang ketika laras tersebut masuk ke dalam gua milik pemeran wanita.
Dada Nara ikut berdebar seiring dengan teriakan sang wanita. Sialnya Nara malah membayangkan wajah pria bule itu adalah Kenzie dan wanita yang tengah menjerit-jerit itu adalah dirinya. Karuan saja hal itu semakin membuatnya tak enak diam. Di tengah ketegangan, tiba-tiba terdengar suara Naya memanggilnya.
“Ra.. Nara!!”
Takut saudara kembarnya masuk ke dalam kamar, Nara langsung menutup laptop tanpa mematikannya lebih dulu. Gadis itu segera beranjak dari kasur, dan di saat bersamaan Naya masuk ke kamarnya.
“Ra.. ada yang nyariin elo tuh.”
“Siapa?”
“Tau.. cowok tiga orang naik motor roda tiga. Di belakangnya mereka kaya bawa speaker atau apa gitu.”
“Oh itu Irfan, temen gue yang suka ngamen.”
“Dia ngapain ke sini?”
“Gue yang suruh ngamen di sini. Kemaren mba Sumi bilang kalau ART di sini butuh hiburan. Makanya gue suruh ke sini. Ayo Nay..”
Nara menarik tangan Naya kemudian membawanya turun. Di tangga mereka berpapasan dengan Dilara. Nara juga mengajak adik bontotnya itu untuk menemui Irfan. Jojo yang memang tidak pergi ke kantor bingung melihat ketiga anaknya keluar rumah dengan tergesa. Takut terjadi sesuatu, pria itu menyusul keluar.
“Kak Nara!” panggil Irfan.
“Fan.. mana toa lo?”
__ADS_1
Irfan naik ke atas kendaraan roda tiganya lalu mengambil toa yang biasa dipakai para mahasiswa untuk berdemo. Nara naik ke atas motor kemudian menyambar toa dari tangan Irfan.
“MBA.. MBA!! AYO KELUAR!! HIBURAN BUAT KALIAN SUDAH DATANG!!!”
Adinda yang ada di dalam rumah terkejut mendengar suara Nara disusul oleh suara musik yang berasal dari speaker. Wanita itu bergegas keluar rumah. Jojo menarik bahu istriya, dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh anaknya itu.
Para ART yang ada di sekitar rumah Nara berhamburan keluar. Bukan hanya para ART, tapi nyonya rumah dan beberapa anak kost yang tinggal di sekitar ikutan keluar. Nara memang terkenal di lingkungan rumahnya sebagai gadis yang supel. Di kompleks perumahan ini, Nara memiliki banyak penggemar yang terdiri dari ibu rumah tangga, asisten rumah tangga, anak kost sampai satpam kompleks.
Melihat para penonton dadakan sudah berkumpul, Nara memberi kode pada Irfan untuk memulai pertunjukkan. Gadis itu turun dari kendaraan roda tiga disusul oleh Irfan. Pria muda itu memilih sebuah lagu untuk dinyanyikan. Tak lama musik mulai terdengar, Irfan mulai memperdengarkan suara merdunya. Nara berteriak mengajak para penonton untuk berjoged. Dia juga mengajak Naya dan Dilara.
Selesai satu lagu, para penonton mulai berteriak menyebutkan lagu kesukaannya. Nara membiarkan setiap orang menyebutkan lagu yang akan dinyanyikan. Nanti akan dipilih lagu yang paling banyak diminta. Suara para penonton saling bersahutan menyebutkan lagu pilihannya.
“Buih jadi permadani!”
“Ku rela!”
“Pecah seribu!”
“Senorita!”
“Maju mundur cantik!”
“Woyo-woyo!”
Mereka terus saja menyebutkan lagu yang diinginkan. Irfan sampai pusing mendengarnya. Akhirnya Nara memutuskan lagu selanjutnya adalah lagu pecah seribu yang lumayan banyak disebutkan tadi. Irama musik kembali mengalun. Nara mengangkat jempolnya tinggi-tinggi, kemudian mulai bergoyang.
“Bimbang ragu.. Sementara malam mulai datang.. Hasratku ingin bercermin tapi, cerminku pecah seribu, pecah seribu. Ibarat bunga, aku takut banyak kumbang yang hinggap. Aku tak mau, patah-patah, tangkaiku patah. Aku tak mau. Bimbang ragu... Sementara malam mulai datang... Hasratku ingin bercermin tapi, Cerminku pecah seribu, pecah seribu,” Irfan kembali memperdengarkan suara merdunya.
“Hanya diaaaaaa..” sambung Nara.
“Dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, dia, hanya dia,” lanjut Irfan.
“Hanya dia yang ada di antara jantung hati. Tempat bermanja, tempatnya rindu. Tempat curahan hati yang damai. Entah apa. Bagaikan kayu basah dimakan api. Api curiga, api cemburu. Api kerinduan yang membara. Oh angin, kabarkan. Melati di depan rumahku menantimu,” Nara bernyanyi sambil memikirkan Kenzie. Betapa dirinya merindukan calon suaminya itu.
Lagu masih berlanjut. Nara membiarkan Irfan yang menyelesaikan lagu, sedang dirinya hanya berjoged saja. Tak lupa dia mengajak para penonton untuk ikut bergoyang. Naya hanya menggelengkan kepalanya saja melihat aksi adik kembarnya itu. Jojo dan Adinda pun tak berhenti tertawa melihat Nara yang asik berjoged dangdut. Yakin tak ada hal yang membahayakan, Jojo mengajak Adinda masuk. Dia memilih berduaan saja dengan sang istri, mumpung anak-anak tengah asik mengamen.
Kenan membelokkan kendaraannya memasuki kompleks perumahan di mana Nara tinggal. Melihat keramaian di dekat rumah calon kakak iparnya, pemuda itu menghentikan mobilnya beberapa meter dari rumah Nara. Baik dirinya maupun Kenzie terkejut melihat keramaian yang ada di depannya. Kenzie menegakkan tubuhnya saat melihat Nara meliuk-liukkan tubuhnya, berjoged mengikuti irama musik. Bermacam gaya yang diperagakan Nara, mulai dari goyang maju mundur, goyang gergaji sampai goyang ngebor. Kenzie mengetatkan rahangnya melihat cara Nara bergoyang.
“Buset bang.. calon istri lo, noh hahahaha...”
Kenzie mendelik kesal pada Kenan. Matanya kembali fokus melihat gadis yang begitu dirindukannya. Lagu pecah seribu yang dinyanyikan Irfan selesai. Kemudian berganti dengan gema suara Nara yang berasal dari toa yang digunakannya.
“Ayo request lagu apa lagi?”
“RIP Love kak!” teriak salah satu anak kost yang ikut menonton yang kemudian diamini teman-temannya.
“Kak Nara yang nyanyi!”
“Woke.. Tapi jangan lupa sawerannya!!”
“SIAP!!”
“Musik!!”
“Mau kemana lo?”
“Ikutan gabung kak. Nih lagu enak loh.”
“Diem!!”
“Ah elah bang..”
“Berani turun, gue bikin bonyok lo!!”
Kenan mengurungkan niatnya turun dari mobil. Dia takut juga dengan ancaman sang kakak. Walau dirinya sama seperti Kenzie, pemegang sabuk hitak taekwondo, namun sang kakak berada dua tingkat di atasnya. Pria dingin itu sudah mencapai Dan IV, sedang Kenan baru Dan II.
Pemuda itu mengambil ponselnya kemudian sebelah tangannya keluar dari jendela mobil. Dia mulai merekam apa yang terjadi di depannya. Kapan lagi dia melihat Naya dan Dilara berjoged. Kenan akan mengirimkannya pada Aric juga Ezra.
“Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. R.I.P. love,” Nara memulai nyanyiannya. Irfan dan yang lain siap berjoged.
“Oh no, think I did it again. And it kills me to see you like this, like this. Should've known from the moment we met. I'd rip your heart right outta your chest, ayy. Swore I learned from the last time. Dressed in black I guess I lied. Warned you, God knows that I tried. I told you. I told you. Man down, man down. Oh, another one down for me. Said you'd die for love. But I never loved you, sorry. So long, you're gone. It hurts to see. Said you'd die for us. So now R.I.P. love.”
Nara bernyanyi sambil berjoged. Dia menggerakkan kakinya maju mundur sambil mengepakkan kedua tangannya seperti bebek. Semua yang menonton termasuk Irfan, Naya dan Dilara mengikuti gaya Nara. Kenan terpingkal melihatnya, sedang Kenzie masih menatap tanpa ekspresi.
“Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. R.I.P. love. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. Lo-re-lo-re-lo-re-lo-re. R.I.P. love,” sambung Irfan.
Irfan memegang tangan Nara lalu memutarkan tubuh gadis itu. Keduanya kembali berjoged, dengan Nara menyanyikan lagi lirik lagu berirama cepat itu. Rahang Kenzie mengeras, melihat Nara asik menari bersama Irfan. Beberapa kali pria itu memegang tangan Nara.
Kesal melihat kedekatan Nara dan Irfan, Kenzie turun dari mobil seraya menutup pintu dengan kencang. Kenan sampai terlonjak saking kagetnya. Nara yang baru saja menyelesaikan lagunya terkejut melihat Kenzie yang berjalan ke arahnya. Gadis itu menelan ludahnya kelat melihat aura kegelapan di wajah calon suaminya itu. Tanpa mengatakan apapun, Kenzie menarik tangan Nara masuk ke dalam rumah.
Sebisa mungkin Nara mensejajarkan kakinya dengan langkah panjang Kenzie. Pria itu terus menarik tangan calon istrinya menaiki anak tangga. Dengan kasar dibukanya pintu kamar Nara lalu masuk ke dalamnya. Kenzie menutup pintu lalu menguncinya. Dengan mata elangnya, dia terus menatap Nara.
“Mas..”
“Siapa dia?”
“Si.. siapa Mas?”
“Yang nyanyi dan joged bareng kamu.”
“Itu Irfan. Aku yang panggil dia buat ngamen di sini.”
“Harus gitu kamu ikutan nyanyi sama joged bareng dia,” Kenzie mendekati Nara.
“Ya kan aku yang undang, mas. Buat seru-seruan aja,” Nara beringsut mundur.
“Kamu sering nyanyi, joged bareng sampe pegangan tangan sama dia?” Kenzie terus merangsek maju.
“Ng... ngga mas,” kaki Nara membentur sisi ranjang.
Tubuh gadis itu jatuh terlentang di atas kasur. Kenzie terus saja maju kemudian mengungkung Nara di bawahnya. Dia semakin merapatkan tubuhnya. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja dari Nara.
__ADS_1
“Aku ngga suka lihat kamu akrab banget sama siapa pun namanya. Aku ngga suka dia pegang-pegang kamu seenaknya. Cuma aku yang boleh menyentuhmu. Mengerti?” Nara menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Aku ngga mau melihat kamu seperti itu lagi. Ingat Ra, dua hari lagi kita akan menikah. Kamu harus bisa menjaga diri, jangan dekat-dekat dengan laki-laki manapun selain aku. Jangan...”
Nara sudah tak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh Kenzie selanjutnya. Matanya hanya melihat pada bibir Kenzie yang berwarna kemerahan karena pria itu tak pernah menghisap nikotin. Entah mengapa bibir Kenzie terlihat begitu s*ksi di mata gadis itu. Ingin rasanya Nara mel*mat bibir sang kekasih, melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut pria itu.
PLETAK
“Aaaww..” Nara memekik seraya mengusap keningnya yang terkena sentilan Kenzie. Pria itu bertambah gemas karena Nara malah melamun bukan mendengarkan pidato kenegaraannya.
“Kamu mikirin apa hmm?”
“Aku dengerin mas ngomong.”
“Coba ulang, aku ngomong apa aja tadi?”
“Mas ngga suka lihat aku akrab banget sama Irfan. Mas ngga suka dia pegang-pegang aku seenaknya. Cuma mas yang boleh sentuh aku. Dua hari lagi kita akan menikah. Aku jadi bisa cium bibir mas yang s*ksi, terus kita beradu lidah, saling berbagi saliva... ups..”
Nara menutup mulutnya saat sadar telah salah bicara. Kenzie juga terkejut mendengar apa yang dikatakan gadis itu. Tangannya sudah bergerak seperti hendak menyentil. Buru-buru Nara menutupi kening dengan kedua tangannya. Tepat di saat itu, Kenzie menyambar bibirnya, mel*mat bibir Nara yang terlihat semakin s*ksi karena sering disesap olehnya.
Mendapat ciuman dari Kenzie, Nara senang bukan kepalang. Dia langsung mengalungkan tangannya ke leher calon suaminya itu. Adegan film yang tadi ditontonnya kembali berkelebat di kepalanya. Nara menarik leher Kenzie, hingga tubuh pria itu semakin merapat padanya. Dengan ganas Nara membalas lum*tan bibir Kenzie. Dia menarik lalu membelit lidah pria itu. Kenzie yang terkejut dengan kelakuan agresif Nara menghentikan ciumannya.
“Ra.. kamu kenapa?”
“Aku baik-baik aja mas,” nafas Nara terengah seperti tengah menahan sesuatu.
“Ngga biasanya kamu kaya gini. Kamu abis ngapain?”
“Ngga.. aku baik-baik aja. Perasaan mas aja kali.”
Kenzie masih memandang curiga pada wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Pasti terjadi sesuatu pada gadis itu. Tak biasanya Nara bersikap agresif dan dominan seperti tadi. Walau tak dipungkiri kalau dia juga menyukainya, namun ini belum saatnya bagi mereka. Bisa-bisa dirinya kehilangan kendali. Kenzie melirik laptop yang ada di atas kasur.
Dia membuka laptop dan terkejut melihat film berisi adegan dewasa tengah diputar. Nara menutup matanya, dia merutuki dirinya yang lupa mematikan laptop. Kenzie menutup kembali laptop, walau baru menonton sedikit, namun itu sukses membangkitkan hasratnya juga.
“Kamu ngapain nonton film kaya tadi?”
“Itu hadiah dari Azra, mas. Karena penasaran makanya aku putar. Mana aku tau kalau isinya begituan,” elak Nara. Padahal Azra sudah dengan jelas mengatakan itu adalah film dewasa untuk edukasi Nara menjelang malam pertama.
“Sudah sampai mana kamu nonton?”
“Baru sebentar mas, beneran deh.”
Tanpa sadar Nara menjawab pertanyaan Kenzie sambil meraba rahang pria itu, tangannya terus bergerak mengusap bibir kemerahan yang begitu seksi. Nara benar-benar tak bisa menahan diri untuk menyentuh calon suaminya ini. Melihat Nara yang terus melihatnya dengan tatapan menggoda ditambah sentuhan tangannya, Kenzie mulai terbawa suasana. Pria itu kembali memagut bibir Nara.
Lidah Kenzie menerobos masuk ke rongga mulut Nara. Dengan cepat gadis itu menarik lidah Kenzie, keduanya saling membelitkan lidah. Sebelah tangan Kenzie menarik tengkuk Nara, membuat ciuman mereka semakin dalam. Pelukan Nara di leher Kenzie pun semakin erat. Tubuh keduanya kini sudah menempel.
Kenzie melepaskan tautannya, lalu bibirnya mulai menciumi belakang telinga Nara. Bahkan dia memberikan gigitan kecil di sana, membuat tubuh Nara meremang. Gadis itu mendongakkan kepalanya, memberikan akses pada Kenzie untuk mengeksplor lehernya. Tak mau membuang kesempatan, Kenzie menciumi leher putih itu. Lidahnya juga sudah bermain menjilati kulit putih Nara.
Mereka sudah semakin terbakar gairah. Des*han Nara menambah semangat Kenzie untuk terus memberikan cumbuan. Nara memeluk erat punggung Kenzie, perlahan tangannya menelusup masuk ke dalam kaos. Dadanya berdebar kencang ketika meraba perut Kenzie yang berotot. Kenzie masih mengeksplor leher kekasihnya, sebuah sesapan kencang diberikan hingga meninggalkan bercak kemerahan. Bukan hanya satu, pria itu membuat tiga tanda, dua di leher dan satu di dekat tulang selangkanya. Setelahnya dia memeluk Nara erat.
Nafas keduanya terdengar memburu. Nara dapat merasakan bagian bawah Kenzie mengeras dan mengenai pangkal pahanya. Kenzie masih terdiam, sebisa mungkin dia meredam gairah yang semakin berkobar.
“Ra.. sebaiknya kita tidak usah bertemu dan berkomunikasi sampai hari pernikahan kita. Aku lelaki normal, melihatmu yang seperti ini membuatku gila. Aku mencintaimu, maaf aku tak bisa menahan diri. Aku pulang.”
Kenzie mencium kening Nara kemudian dengan cepat mengangkat tubuhnya. Nara hanya bisa memandangi pria bertubuh tegap itu keluar dari kamarnya. Dia memejamkan mata mengingat apa yang telah terjadi barusan. Tangannya meraba leher yang terdapat stempel Kenzie.
Dengan langkah cepat Kenzie menuruni anak tangga. Kenan baru saja selesai menurunkan oleh-oleh titipan Nina. Pemuda itu hendak mendaratkan bokongnya di sofa, namun suara Kenzie menahannya.
“Pulang!”
“Bentar bang, istirahat dulu. Aaawwww...”
Kenan menjerit saat Kenzie menarik telinganya. Dengan langkah terseok pemuda itu mengikuti sang kakak. Di dekat mobil Kenzie mengambil kunci dari Kenan. Pria itu naik ke belakang kemudi. Ketika Kenan masuk dan menutup pintu, Kenzie langsung tancap gas. Saking terkejutnya, pemuda itu menaikkan kakinya ke atas jok mobil.
“Eh buset.. baaaanggg!! Jangan ngebut-ngebut napa.”
Buru-buru Kenan memakai sabuk pengamannya. Tangannya mencengkeram erat pegangan yang ada di atas pintu. Diliriknya Kenzie yang terus memacu kereta besi miliknya. Sang kakak terus memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, sesakali kendaraan tersebut menyalip mobil di depannya.
“Astagfirullah baaangg!! Woii pelan napa. Gue belum mau matiii!! Gue masih jomblo oiiii!!!”
Teriakan-teriakan Kenan hanya dianggap angin lalu oleh Kenzie. Kendaraan yang mereka tumpangi melesat cepat di jalan raya. Kini mobil tersebut sudah memasuki kompleks perumahan tempat mereka tinggal. Jarak rumah Nara dan Kenzie yang biasanya ditempuh dalam waktu setengah jam, kini hanya butuh lima belas menit saja untuk sampai. Tubuh Kenan condong ke depan saat Kenzie mengerem kendaraan tepat di depan rumah.
BRAK!!
Kenzie menutup pintu mobil keras, Kenan sampai mengelus dada saking kagetnya. Dengan cepat pria itu masuk ke dalam rumah. Ravin dan Freya yang ada di teras rumah terkejut melihat kedatangan Kenzie. Tanpa melihat ke arah keduanya, Kenzie bergegas naik ke lantai dua. Kenan sampai di teras lalu duduk di lantai.
“Kenapa lo?” tanya Freya.
“Bang Ken kesurupan kayanya. Buset berasa jadi Lewis Hamilton dia.”
“Emang kalian abis dari mana?” Ravin ikut bertanya.
“Abis dari rumah kak Nara. Mama tadi nyuruh kirim oleh-oleh. Jangan-jangan mereka berantem ya. soalnya tadi pas kita sampe kak Nara lagi nyanyi sambil joged bareng pengamen. Mana pengamennya cakep, cemburu kayanya si bang Ken.”
“Hmm.. bisa jadi,” sahut Freya.
“Heleh.. h*rny kali,” gumam Ravin pelan. Sekilas tadi dia melihat celana sahabatnya yang terlihat menonjol.
“Apa bang?” tanya Freya.
“Ngga.. bucin akut dia.”
“Hooh.. bucin akut hahaha,” Freya tertawa puas.
Kenzie masuk ke dalam kamar lalu menuju kamar mandi. Dilepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Sambil menopang sebelah tangannya ke tembok, dia berdiri di bawah shower. Matanya terpejam seiring dengan guyuran air dingin yang membasahi tubuhnya, berharap mampu meredam hawa panas yang menjalari tubuhnya.
☘️☘️☘️
**Ken nakal ya, sentil nih😁
Haaaaiii.. sebelum sibuk berjibaku jadi tim dapur, mamake sempatkan untuk up biar kalian ngga gabut. Mohon maaf besok ngga bisa up lagi ya, karena hari H nya besok. Happy Weekend.
__ADS_1
Sambil nunggu mamake up, silahkan kalian siap² ya buat ke nikahan Ken & Nara. Nih mamake kasih undangannya😉**