
Selesai sudah tugas The Myth menghibur pengunjung café, termasuk pengunjung yang berulang tahun. Pemilik café puas dengan penampilan The Myth, dia meminta band besutan Kenan dan kawan-kawan menjadi pengisi tetap café ini. Namun Kenan masih memikirkannya.
Usai manggung semua personil The Myth band berkumpul di meja yang ditempati oleh Alisha. Mereka menikmati makanan dan minuman yang disediakan oleh pemilik café. Zahra juga masih bertahan di café karena acara ulang tahun masih belum usai. Beberapa temannya mencuri pandang ke arah meja di mana Kenan berada.
“Anya mana?” tanya Kenan.
“Udah pulang duluan.”
“Bang Irvin?”
“Sama.”
“Pasti bang Irvin nganterin Anya pulang. Tadi gue nyuruh tukang parkir kempesin ban mobil Anya hahaha,” celetuk Revan.
“Sue lo!” kesal Kenan.
“Sengaja Nan. Gue cuma mau bantu bang Irvin biar bisa deketin Anya. Dia mau minta maaf. Kepikiran mulu dia soal Anya.”
“Sapa suruh tuh mulut kaga ada saringannya, main nyembur aja,” Kenan memang masih kesal pada Irvin.
“Buset dendam amat lo ama abang, gue. Maafin napa. Gue juga udah negor bang Irvin sekalian gue sumpahin juga.”
“Nyumpahin apa lo?” tanya Haikal.
“Gue sumpahin bucin ama Anya hahahaha…”
“Bisa carut marut hidup abang lo kalo jadian ama Anya hahahaha,” timpal Haikal dan Kenan pun akhirnya ikut tertawa juga.
Alisha melirik ke arah Viren yang sedari tadi hanya mengatupkan mulutnya. Wajahnya yang tanpa ekspresi dan tatapan dinginnya membuat Alisha menerka-nerka, apakah Viren tengah cemburu pada Irvin.
“Al.. tar lo pulang ama siapa? Kalo gue masih ada urusan di sini,” ujar Kenan, membuyarkan lamunan gadis itu.
“Heleh palingan mau modusin si suster,” timpal Viren.
“Sirik aja lo.”
“Lo pulang aja ama Revan aja ya, Al. Sorry gue harus ke rumah temen ngerjain tugas kelompok. Kalau gue ngga nongol, nama gue bakal dicoret,” sambung Haikal.
“Waduh.. gue juga ngga bisa. Dari sini gue mau nobar Liga Inggris. Tim favorit gue main, derby klasik Manchester City versus Manchester United,” ujar Revan.
“Heleh paling juga kalah si biru,” celetuk Haikal.
“Eiittss jangan salah, The Citizen udah berkali-kali ya menangin derby Manchester. Secara kualitas The Citizen lebih bagus dari MU.”
“Madura United maksud lo? Ya iyalah pasti lebih berkelas mancit (Manchester City-red).”
“Hahahaha…”
Jawaban Kenan langsung disambut tawa Haikal. Pemuda itu puas sekali melihat wajah keki Revan. Sebagai fans setan merah, sudah pasti dia tidak terima tim favoritnya diremehkan. Baginya klub tersebut tetaplah yang terbaik. Klub yang telah melahirkan banyak pemain hebat, seperti David Beckham, Ronaldo atau Marcus Rashford. Sedang Kenan adalah perusak suasana, dia lebih memilih jadi kompor, membully tim yang kalah.
“Kalau aku sukanya Liverpool,” celetuk Alisha.
“Weh sama noh kaya bang Vir. Cieee… jangan-jangan jodoh nih,” goda Haikal.
Wajah Alisha bersemu merah mendengar godaan Haikal. Dia buru-buru menundukkan kepalanya, takut Viren melihatnya. Sedang Viren tak berkomentar apapun. Dia hanya mengambil sepotong samosa lalu memasukkannya ke mulut Haikal sekaligus. Revan sampai tersedak melihatnya.
“Gue balik ya,” Alisha bangun dari duduknya.
“Eh.. Al, lo mau pulang sama siapa?”
“Ribet amat hidup lo. Gue bisa naik ojol atau taksi online. Tinggal pesen aja, beres.”
Tanpa menunggu jawaban yang lain, Alisha segera beranjak dari tempatnya. Dengan langkah panjang, gadis itu berjalan meninggalkan café. Dalam hatinya kecewa, Viren sama sekali tak ada inisiatif mengantarnya pulang, padahal yang lain tidak bisa mengantarnya. Gadis itu menghela nafas panjang, sepertinya dia terlalu berharap pada pria itu.
Alisha berdiri di pinggir trotoar. Gadis itu belum memesan layanan ojek atau taksi online. Dia malah berpikir untuk menggunakan angkot saja sambil melepaskan kekecewaan hatinya. Kepala Alisha terus menoleh ke arah kanan, menanti angkot yang lewat. Tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh kehadiran orang yang tak ingin dilihatnya lagi.
“Al..”
“Mau apa ibu menemuiku lagi? Apa ibu tidak takut dengan ayahku lagi?”
“Demi mendapatkan maaf darimu, ibu akan melakukan apapun. Tolong maafkan ibu.”
“Pergilah.”
Alisha memilih menghindar. Dia berjalan menjauhi Lisda yang terus mengikutinya. Alisha mempercepat langkahnya dan berharap wanita itu tak mengikutinya lagi. Gadis itu kesal karena angkot yang ditunggunya tak kunjung datang. Dia kembali terjengit ketika seseorang menyentuh bahunya. Dengan kesal Alisha membalikkan tubuhnya.
“Aku udah bilang pergi!!”pekiknya.
“Al..”
Alisha terkesiap saat tahu yang menepuk pundaknya bukanlah Lisda, melainkan Viren. Dia melihat ke arah belakang Viren dan tak menemukan sosok Lisda lagi. Gadis itu menghembuskan nafas lega.
“Maaf bang, aku kira ibu Lisda.”
“Dia ngikutin kamu lagi?”
“Iya. Makanya tadi aku kira abang itu bu Lisda.”
“Makanya jangan pulang sendirian.”
“Ya kan ngga ada yang bisa nganterin aku pulang.”
Tanpa membalas ucapan Alisha, Viren segera menarik tangan gadis itu lalu membawanya kembali ke café. Saat berjalan, sudut mata pria itu menangkap sebuah mobil jenis SUV yang terparkir di seberang café. Matanya memicing melihat ke arah plat mobil, kemudian melanjutkan kembali langkahnya hingga berhenti di depan mobilnya. Pria itu lalu membukakan pintu untuk Alisha.
Viren memutari bodi mobil. Namun sebelum pria itu masuk ke dalamnya, dia menghubungi Jacob lebih dulu. Viren meminta Jacob mencari tahu pemilik mobil yang dilihatnya tadi. Dengan lengkap Viren menyebutkan jenis mobil, warna dan nomor platnya. Dia curiga pemilik mobil tersebut ada hubungannya dengan Lisda. Setelah itu Viren masuk ke mobilnya.
“Al..”
“Hmm..”
“Kamu telepon ayah gih.”
“Ngapain?”
“Bilang pulangnya agak maleman. Kita nobar Liverpool dulu yuk. Big match nih, lawannya Chelsea.”
“Nobar di mana bang?”
“Di Liverpoolan café, mau ngga?”
“Boleh bang. Bentar ya.”
Alisha mengambil ponselnya lalu menghubungi sang ayah, meminta ijin pulang agak malam. Mengetahui Viren yang bersama anaknya, tentu saja Juna memberikan ijin. Pria itu yakin Viren bisa menjaga Alisha dengan baik.
☘️☘️☘️
Setelah Alisha dan Viren pergi, kini giliran Haikal yang pergi, sedari tadi temannya sudah menghubungi. Kini hanya tinggal Revan dan Kenan. Baru saja Revan akan pergi, ketika dua orang teman Zahra menghampiri. Zahra yang melihat itu berpindah duduk ke dekat meja Kenan. Dia penasaran apa yang dilakukan temannya itu.
“Misi..” ucap salah satu gadis.
“Iya, ada apa?” tanya Revan.
“Hmm.. boleh kenalan ngga?”
“Boleh dong. Siapa namanya cantik?” gombalan receh Revan keluar.
__ADS_1
“Aku Mia, ini Novi,” gadis yang bernama Mia memperkenalkan dirinya juga temannya.
“Aku, Revan,” Revan membalas uluran tangan keduanya. Lalu mereka melihat pada Kenan yang tak menanggapi sama sekali. Revan menepuk lengan Kenan, membuat pria itu mendongakkan kepalanya.
“Ada yang mau kenalan noh.”
“Ooh.. gue Hendra,” jawab Kenan tanpa melepaskan pandangan dari ponsel. Revan memutar bola matanya. Memang Kenan tak berbohong soal nama Hendra. Kata Hendra diambil dari penggalan nama belakangnya, Mahendra.
“Boleh foto bareng ngga?” tanya Mia lagi.
“Boleh.”
Kedua gadis itu lalu berfoto bersama dengan Revan, terus bergantian foto berdua saja dengan pemuda itu. Kini giliran mereka meminta berfoto pada Kenan.
“Hen, foto bareng yuk.”
“Gue bukan artis.”
“Foto sekali aja, ya. Please..”
Kenan mengarahkan pandangannya pada kedua gadis yang terus saja merengek padanya. Senyum fans dadakannya itu langsung hilang melihat tatapan tajam pemuda tersebut.
“Kalau gitu minta nomer hp atau alamat medsos kamu deh,” seru Mia tak mau menyerah.
“Nomer hp gue bukan buat sembarang orang, dan gue juga ngga punya medsos. Gue cabut!”
Kenan menyambar tasnya kemudian pergi meninggalkan kedua gadis tersebut. Mereka terkejut ternyata sikap Kenan di bawah panggung tak sehangat saat di atas panggung. Revan hanya bisa melemparkan cengiran sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Sorry ya.. dia emang gitu aslinya, jutek. Jangan terkecoh sama muka ganteng sama senyum manisnya. Kalian tahu apa julukan buat dia?”
“Apa?”
“Kompor mledug. Artinya dia kalau ngomong asal jeplak aja, enak apa ngga, kaga dipikirin sama dia. Udah gitu ngomongnya tanpa filter lagi. Berhenti berharap aja ya,” Revan menepuk pelan lengan Mia dan Novi lalu keluar dari café.
Zahra termenung mendengar pembicaraan tadi. Gadis itu terkejut melihat sikap Kenan barusan. Berbanding terbalik dengan sikap pemuda itu padanya. Dia mengambil ponsel lalu mencari nomor Kenan yang diberi nama pasien rese.
“Apa ini bukan nomernya ya,” gumam Zahra pelan.
Karena penasaran, Zahra mencoba menghubungi Kenan. Dia ingin tahu apa benar nomor yang diberikan Kenan padanya adalah nomor asli pemuda itu. Zahra menempelkan benda pipih itu ke telinganya, menunggu jawaban dari seberang. Tak lama panggilannya tersambung.
“Halo cantik..” Zahra terkejut, hampir saja ponsel di tangannya terjatuh. Ternyata itu benar nomor Kenan.
“Halo my suntik, kok diem. Kangen aku ya.”
“Geer.”
“Terus ngapain telepon aku?”
“Mau mastiin aja, ini nomer kamu apa bukan. Ternyata bener, aku mau kasih ke temenku yang tadi nanyain nomer kamu.”
“Coba aja kalau berani ngasih. Nanti aku bakal datengin kamu di IGD.”
“Mau buat keributan lagi?”
“Ngga. Mau cium kamu di depan semua orang. Cium di bibir, bukan pipi. Ayo kasih nomer aku ke temen kamu.”
Zahra segera memutuskan panggilan, ternyata Kenan tetap gila kalau berbicara dengannya. Berbeda sekali dengan sikapnya tadi. Melihat temannya yang lain sudah bersiap pulang, Zahra pun ikut bersiap. Setelah berpamitan dengan Wirda, gadis itu bergegas menuju motornya.
Kendaraan Zahra melaju dengan kecepatan sedang menelusuri jalan yang cukup lengang. Tiba-tiba saja mesin motornya berhenti. Beberapa kali gadis itu mencoba menyalakan mesin tapi tak berhasil. Lalu pandangannya tertuju pada indikator bensin. Zahra menepuk keningnya, ternyata dia lupa mengisi bensin. Matanya melihat sekeliling, mencari tukang bensin eceran, namun nihil.
Di tengah kebingungannya, muncul dua orang pria bertubuh kekar dengan tatto memenuhi kedua tangannya. Mereka segera menghampiri Zahra. Awalnya gadis itu senang melihat ada orang yang sepertinya akan membantu. Tapi setelah keduanya semakin mendekat, rasa senang itu berganti dengan perasaan was-was.
“Kenapa neng?”
“Mau saya beliin?”
“Ngga usah kang. Tunjukkin aja di mana tempatnya.”
“Jauh neng, cape loh kalau dorong motor. Gini aja, biar saya yang bawa motornya, neng ikut aja sama temen saya.”
“Ngga.. ngga.. usah kang, makasih.”
“Ayo neng..”
TIIIN.. TIIIIN..
Kedua pria itu terlonjak saat mendengar suara klakson motor. Kenan yang memang mengikuti Zahra dari kejauhan, segera menghampiri begitu melihat dua pria asing menghampirinya. Pemuda itu menepikan motornya lalu turun dari tunggangannya.
“Kenapa Yang?” tanya Kenan.
“Motornya kehabisan bensin.”
“Ck.. kamu tuh dari tadi udah diingetin. Makanya tungguin aa, ini main pergi aja. Gimana sih,” Kenan mengusak puncak kepala Zahra. Walau risih namun Zahra membiarkan saja apa yang dilakukan Kenan, yang penting dirinya terselamatkan.
“Maaf ya bang kalau pacar saya bikin repot. Makasih udah mau bantu. Sekarang biar jadi urusan saya.”
Kedua pria itu nampak geram, namun tak ayal menganggukkan kepalanya. Mereka membalikkan tubuh kemudian berjalan meninggalkan Kenan dan Zahra sambil membicarakan sesuatu.
“Makasih ya bang,” seru Kenan seraya merangkul bahu Zahra. Dengan cepat gadis itu melepaskan diri dari rangkulan Kenan.
“Ngga usah azas manfaat, ya.”
“Bukan azas manfaat, cuma mendalami peran aja.”
“Dasar modus.”
“Modus itu kan nama tengahku.”
“Hendra modus gitu?”
“Namaku Kenan Mahendra Modus hahahaha…”
Diam-diam Zahra mengulum senyumnya. Walau lelaki di dekatnya ini terkadang tak bisa mengerem ucapannya, tapi dia senang karena Kenan hanya melakukan itu padanya. Sedangkan pada gadis lain, pemuda itu menunjukkan sikap yang berbeda. Zahra langsung menyadarkan diri, kenapa dia malah memikirkan tentang Kenan.
“Motor kamu kenapa?”
“Kehabisan bensin.”
“Di depan ada pom bensin, tapi lumayan jauh juga. Ayo aku bantu setep.”
Kenan kembali menaiki motornya, begitu pula dengan Zahra. Kenan menyalakan mesin kemudian menaruh sebelah kakinya di motor Zahra. Kedua motor tersebut bergerak bersamaan. Wajah Kenan nampak ceria, sepertinya dia harus berterima kasih pada sang bensin yang habis di saat yang tepat.
Kenan sengaja melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang cenderung pelan karena tak ingin kebersamaan ini cepat berakhir. Namun ketika melintasi jalan yang sepi dan cukup gelap. Tiba-tiba saja kedua pria yang tadi menghampiri Zahra, mencegat mereka.
“Ada apa bang?” tanya Kenan.
“Cuma mau bantuin kalian aja.”
“Ngga usah bang. Tuh pom bensinnya udah deket, bentar lagi juga sampe.”
“Tapi kita berubah pikiran nih. Bukan cuma mau bantu kalian, tapi kita pengen nyobain motor kamu sama cewek kamu juga hahaha.”
Melihat gelagat yang tidak baik dari kedua orang itu, Zahra mulai was-was. Dia melirik ke arah Kenan, namun pemuda itu tetap terlihat tenang. Dengan santai dia turun dari motor tanpa mematikan mesin. Kemudian berjalan menghampiri kedua pria itu.
“Boleh bang. Tuh mumpung mesinnya masih nyala, cobain aja.”
__ADS_1
“Sekalian sama cewek lo juga ya.”
“Boleh. Asal abang bisa sentuh dia.”
Zahra melotot mendengar ucapan Kenan. Dirinya sudah takut setengah mati, dibuat semakin ketar-ketir oleh tanggapan pemuda itu. Kedua pria itu tertawa pelan, mereka berjalan mendekati motor dan Zahra. Namun saat melintasi Kenan, dengan cepat dia menghajar kedua pria itu.
Terkejut dengan serangan Kenan, mereka balas memukul Kenan. Zahra menjerit dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia tak berani melihat pertarungan tiga orang di depannya. Tak berapa lama kemudian seseorang memegang tangannya lalu melepaskan dari wajahnya.
“Jangan.. jangan ganggu aku!”
“Ssstt suntik, ini aku.”
Perlahan Zahra membuka matanya. Ternyata yang tadi memegang tangannya memang benar Kenan. Dia lalu melihat ke arah belakang pemuda itu, nampak pria yang tadi hendak mengganggunya terkapar di aspal. Salah satu pria tersebut bangun lalu membantu rekannya berdiri. Dengan cepat keduanya kabur meninggalkan tempat tersebut.
“Udah aman sekarang. Ayo lanjut lagi.”
Seraya menganggukkan kepalanya, Zahra kembali menaiki motornya. Kenan kembali menjalankan kendaraannya sambil menyetep motor Zahra. Dua ratus meter kemudian, mereka sampai di pom bensin.
“Kang, full tank ya,” seru Kenan.
Petugas pom bensin tersebut segera mengisi tangki bensin Zahra. Kenan mengambil Kenannya lalu mengeluarkan selembar seratus ribuan. Pemuda itu menyodorkan uang tersebut pada petugas pom setelah selesai mengisi bensin.
“Ambil aja kang kembaliannya.”
“Makasih mas.”
Kenan hanya mengacungkan jempol tangannya. Zahra tak berkomentar apapun, namun dalam hatinya mengakui kalau pemuda tengil ini ternyata baik juga. Harus Zahra akui kalau Kenan tampan, bersuara merdu, jago beladiri dan tidak pelit. Hanya satu kekurangannya, mulutnya yang terkadang tak berhenti mengeluarkan gombalan receh dan kalimat absurd.
“Rumah kamu daerah mana? Biar aku antar pulang.”
“Ngga usah.”
“Nanti kalau ada kejadian seperti tadi, gimana? Ngga usah gengsi, aku antar sampe rumah.”
Percuma saja menolak tawaran Kenan, toh pemuda itu tidak akan menerima penolakan. Dia selalu punya beragam alasan untuk mematahkan ucapannya. Akhirnya Zahra membiarkan saja Kenan mengikuti motornya.
“Kamu kalau abis dinas di rumah sakit, pulang malem kaya gini sendiri aja?”
“Kadang diantar sama temen aku sampe rumah.”
“Cowok?”
“Iya.”
"Pacar kamu?"
"Bukan."
“Mulai besok kalau kamu pulang malem, telepon aku aja ya. Nanti biar aku yang antar.”
“Emang kamu siapa? Kita ngga sedekat itu ya, jangan modus.”
“Siapa yang modus, aku lagi usaha kok hahahaha..”
Zahra tak mempedulikan ucapan Kenan. Dia menambah kecepatan motornya, meninggalkan Kenan di belakang. Tapi bukan kompor mledug namanya kalau menyerah. Dia kembali menyusul motor Zahra.
“Pokoknya telpon aku ya kalau kamu pulang malam!” ujar Kenan sedikit kencang agar bisa terdengar oleh Zahra.
“Ngga mau! Aku ngga mau ngerepotin. Kamu bukan siapa-siapa aku!”
“Makanya kasih aku label dong!”
“Label apaan?!”
“Calon suami!”
Tak ada jawaban dari Zahra, gadis itu terus melajukan kendaraannya. Ketika motor yang dikendarainya melewati pasar Ancol, dia membelokkan motor memasuki jalan yang dinamai jenis ikan lalu memasuki gang, melewati deretan perumahan yang ada di sana. Motornya kemudian berhenti di depan rumah berukuran kecil.
“Ini rumah kamu?”
“Iya. Makasih ya. Oh ini buat ganti bensinnya,” Zahra membuka tasnya untuk mengambil dompet.
“Ngga usah.”
“Tapi aku ngga mau berhutang.”
“Bayar aja pake cilok.”
“Hah??”
Kenan melambaikan tangannya lalu melajukan motornya, meninggalkan Zahra yang masih bingung dengan ucapan pemuda tadi. Padahal waktu itu dia sengaja membelikan cilok dengan banyak sambal, biar Kenan kapok tapi pemuda itu malah ketagihan. Tanpa sadar gadis itu tersenyum seraya memasukkan motornya.
☘️☘️☘️
Anya melayangkan pandangannya ke arah cahaya lampu yang berasal dari gedung dan juga perumahan penduduk. Melihat pemandangan Bandung di waktu malam dari ketinggian memang tak pernah membuatnya bosan. Dia dan Irvin memang masih berada di tempat makan yang ada di daerah Cartil. Setelah makan malam, mereka memilih tetap di sana. Duduk berbincang sambil menikmati pemandangan.
“Nya.. aku beneran minta maaf soal kejadian waktu itu.”
“Ya udah sih, bang. Ngga usah dibahas lagi. Malah jadi bete lagi aku kalo inget itu.”
“Ok.. ok.. sorry,” Irvin mengusak puncak kepala Anya. Kembali desiran halus menyapanya saat melakukan itu.
“Eh tapi…” Anya nampak ragu meneruskan ucapannya.
“Tapi apa?”
“Eng.. kenapa sih abang ngga suka ngerayain ulang tahun?”
Irvin terdiam ketika Anya menanyakan hal tersebut. Pria itu malah melamun, dengan mata menatap lurus ke depan. Melihat perubahan wajah Irvin, Anya menyesal menanyakan hal tersebut.
“Maaf bang. Abang ngga usah jawab kalau ngga mau.”
“Sebelum menikah dengan mama Nay, papa menikah lebih dulu dengan mama Nabila, kakak dari mama Nay. Dari pernikahan pertamanya, lahir aku. Tapi saat mama Nabil hamil, mama sedang sakit. Mama terkena penyakit autoimun. Dokter menyarankan untuk menggugurkan kandungan karena kehamilan bisa membahayakan nyawanya. Tapi mama ngga mau. Mama tetap mempertahankan kehamilannya, sampai akhirnya bisa melahirkan aku secara normal. Kondisi mama yang lemah karena penyakitnya, ditambah pendarahan yang dialami, dua jam setelah melahirkan aku, mama meninggal.”
Kini giliran Anya yang terdiam, gadis itu menyesal menanyakan hal tersebut. Dia sudah membuka luka di hati Irvin. Baru saja Anya akan berkomentar, ketika Irvin kembali melanjutkan ceritanya.
“Awalnya aku ngga tahu dan menganggap mama Nay itu ibu kandungku. Tapi saat aku naik kelas 1 SMP, papa menceritakan semuanya padaku. Papa juga membawaku ke makam mama. Sejak saat itu setiap ulang tahun, aku selalu mengunjungi makam mama. Menghabiskan banyak waktu di sana, bercerita apa saja. Aku juga ngga mau merayakan ulang tahunku lagi. Bagaimana mungkin aku merayakan kebahagiaan di saat hari kematian ibuku.”
“Maaf bang.. aku beneran ngga tahu soal itu. Kalau aku tahu, aku ngga akan buang waktu abang, menghalangi abang pergi ke makam tante Nabil. Maaf ya bang.”
“Aku tahu, Nya. Maaf juga, aku sudah termakan hasutan Jihan. Harusnya aku juga ngga bersikap sekasar itu sama kamu.”
Anya melihat ke arah Irvin. Pemuda itu juga tengah melihatnya. Untuk sesaat pandangan keduanya bertemu dan saling mengunci. Tangan Irvin bergerak mengambil selembar daun kering yang menempel di rambut Anya.
“Ternyata kamu cantik juga ya, Nya.”
☘️☘️☘️
**Sayang sekali pemirsah sudah hampir limit, terpaksa CUT🤣
Hari Senin semua othor dibuat galon karena novelnya ngga ada yang up. Jadi yg bertanya² jelas ya. Mudah² ngga ada kendala hari ini🤲
Part Anya - Irvin, Alisha - Viren lanjut besok ya**
__ADS_1