KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bibit Bebet Bobot


__ADS_3

“Anfa.. apa kamu tidak memberitahukan pada kakakmu apa yang saya sampaikan waktu itu?”


Nina menoleh pada Anfa namun adiknya itu hanya diam saja. Dia malah memegang tangan Nina. Rayi dan Wisnu tak kalah terkejutnya dengan Nina, keduanya sontak melihat ke arah Astuti. Wanita bertubuh sedikit berisi itu tetap terlihat tenang. Melihat Anfa yang bergeming, Astuti kembali membuka mulutnya.


“Rayi adalah anak kami satu-satunya. Oleh karenanya, calon suaminya itu harus jelas bibit, bebet dan bobotnya. Berhubung nak Nina sudah di sini, saya katakan saja sekali lagi. Jujur, saya tidak setuju dengan hubungan Rayi dan Anfa.”


“Ma..”


“Diam kamu!”


Wisnu memegang tangan Rayi agar diam. Pria itu juga penasaran apa yang akan dikatakan sang istri selanjutnya. Anfa menundukkan kepalanya, bukan seperti ini lamaran yang direncanakannya. Namun apa daya ketidaksabaran Nina juga Rayi membuat rencana yang disusunnya berantakan.


“Wina adalah teman saya. Dia sudah menceritakan semuanya pada saya siapa Gean atau Anfa itu. Sebagai orang tua, saya sangat kecewa padamu, kamu tega membuang orang yang telah membesarkan kamu begitu saja. Dan saya dengar itu atas dorongan kakak kamu, Nina. Saya tidak bisa membiarkan anak saya menikah dengan lelaki kejam yang tidak tahu berterima kasih.”


“Ma.. ngga seperti itu kejadiannya,” sela Rayi.


“Seperti saya tadi bilang, bibit, bebet dan bobot yang saya inginkan untuk menjadi suami Rayi tidak ada satu pun padamu. Wina sudah mengatakan dari mana dia mengambilmu. Kamu adalah anak jalanan yang terkena razia satpol PP dan dimasukkan ke panti asuhan. Di sanalah mereka menemukanmu. Aku tidak bisa mempercayakan anakku berada di tangan orang yang tidak jelas asal-usulnya. Kalau pun kamu nekad hendak menikahi Rayi, kamu pasti ingat persyaratan yang saya berikan. Kamu harus mempunyai pekerjaan yang bagus, mempunyai rumah dan kendaraan sendiri karena aku tidak mau nantinya kamu hanya menumpang hidup di sini.”


Genggaman tangan Nina di tangan Anfa semakin erat. Wanita hamil itu sebisa mungkin menahan emosi yang membuncah di dada. Kalau saja dia tak ingat kalau wanita di hadapannya adalah ibu dari Rayi, perempuan yang dicintai adiknya, dipastikan Nina akan mencaci balik.


Beberapa kali Nina menarik nafas panjang. Selain mencoba menetralisir perasaannya, dia juga mencoba mengurangi sakit di perutnya yang terasa kram. Nina memejamkan matanya, membayangkan Abi ada di sampingnya dan menenangkan dirinya. Anfa merangkul bahu sang kakak erat. Dia tak peduli sama sekali dengan penghinaan Astuti. Yang dipedulikannya hanyalah keadaan Nina.


“Ma.. aku ngga nyangka mama akan mengatakan hal sekejam itu. Bukan seperti cerita tentang Anfa ma. Tolong dengarkan dulu. Anfa itu...”


“Tidak perlu Ray, kamu tidak perlu mengatakan apapun. Kenyataannya kalau kami sudah tidak mempunyai orang tua lagi adalah sebuah kebenaran. Kenyataan kalau Anfa belum memiliki apa yang diinginkan ibumu juga benar adanya. Maafkan kami karena sudah lancang melamar Rayi.


Tapi satu yang harus ibu tahu, tidak ada satu pun anak di dunia ini yang ingin kehilangan orang tuanya sejak kecil. Aku dan Anfa terpisah karena sebuah musibah setelah orang tua kami meninggal. Dia bukan anak terlantar yang terlunta-lunta di jalanan. Dan dia masih memilikiku sebagai kakaknya. Ayo Anfa, kita pulang. Saat ini kamu belum mempunyai apapun untuk meminta Rayi sebagai istrimu.”


Nina berdiri dari duduknya dibantu oleh Anfa. Wisnu berusaha menahan Nina dan Anfa untuk pergi, namun wanita hamil itu sudah terlanjur sakit hati mendengar ucapan pedas Astuti. Satu hal yang membuatnya masih bisa menahan diri hanya karena Rayi.


Anfa terus menuntun Nina naik ke dalam mobil. Rayi berlari keluar kemudian menarik tangan Anfa. Dia terus berusaha menahan kepergian kekasihnya itu. Pelan-pelan Anfa melepaskan tangan Rayi darinya. Ditatapnya wajah gadis yang begitu dicintainya itu.


“Aku pergi Ray.”


“Fa, maafkan mamaku. Tolong jangan pergi dulu, papaku juga ngga setuju dengan yang dikatakan mama.”


“Kak Nina sudah menunggu. Kamu lihat sendiri keadaannya kurang baik. Kita bicarakan masalah kita nanti, kalau situasi sudah kondusif.”


Anfa bergegas menuju mobilnya kemudian naik ke dalamnya. Rayi hanya bisa menatap kendaraan roda empat tersebut bergerak meninggalkan kediamannya. Airmatanya mengalir mengiringi kepergian Anfa.


Suasana hening terasa di dalam mobil. Baik Nina maupun Anfa tak ada yang membuka suara sedikit pun. Pikiran Nina masih menerawang mengingat satu demi satu perkataan Astuti yang begitu menohok perasaannya. Terdengar helaan nafas panjangnya, kemudian wanita itu menoleh ke arah Anfa yang tengah mengemudi.


“Jelaskan,” lirih Nina membuat Anfa menoleh ke arahnya.


“Jelaskan apakah perkataan mama Rayi tadi ada hubungannya dengan larangan kakakmu untuk menikahi Rayi cepat-cepat.”


Anfa mengarahkan mobilnya ke bahu jalan. Dia menghentikan sejenak mobil yang dikendarainya. Setelah menarik rem tangan, dia menoleh ke arah Nina yang masih sabar menunggu jawabannya.


Flashback On


Setelah lepas dari Danu dan Wina, Gean mulai menjalani hidupnya sebagai Anfa. Pemuda itu juga mulai tinggal bersama Nina dan Abi di kediaman Hikmat. Sebuah keluarga hangat yang sejak dulu didambakannya akhirnya terwujud.


Selesai menghukum pasangan suami istri yang telah menyiksa mental Anfa, Abi membantu membereskan masalah administratif pemuda itu. Identitas palsu yang disematkan Danu pada Anfa mengharuskan pemuda itu harus memperbaiki berbagai dokumen yang berkaitan dengan dirinya.


Kini Anfa mulai bekerja di perusahaan dan melanjutkan kuliahnya ke jenjang S2. Di sela-sela waktu makan siang, Abi memanggil Anfa ke ruangan kerjanya. Setelah mengetuk pintu, pemuda tersebut masuk ke dalam ruangan. Nampak Abi tengah membaca berkas, pria itu berdiri sambil menyenderkan bokongnya ke sisi meja.


“Sudah makan siang?” Abi meletakkan berkas di tangannya ke atas meja.


“Sudah pak.”


“Ada kesulitan dalam pekerjaanmu?”


“Sedikit demi sedikit sudah bisa menguasai.”


“Hmm.. baguslah.”


Abi menatap Anfa yang berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum tipis melihat bawahan sekaligus calon adik iparnya yang terlihat tegang.


“Santai aja Fa. Aku di sini ingin mengajakmu berbicara sebagai kakak. Bukan sebagai atasanmu.”


Wajah Anfa sedikit rileks mendengar perkataan Abi. Dia sudah mulai bisa menyunggingkan senyumnya. Maklum saja, Anfa belum terlalu mengenal Abi. Namun desas-desus yang didengarnya tentang calon kakak iparnya ini memang sedikit membuatnya ketar-ketir jika sedang berhadapan langsung.


“Sekarang kamu sudah bekerja sambil melanjutkan kuliahmu. Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan Rayi?”


“Hubungan kami baik-baik saja kak.”


“Maksudku apa kamu punya niat serius menikah dengan Rayi?”


“In Syaa Allah ada kak.”

__ADS_1


“Kalau begitu setelah aku menikah, kamu pun menyusul saja. Hubunganmu dengan Rayi juga sudah cukup lama.”


Anfa hanya tertawa kecil mendengarnya. Abi melihat ke arah Anfa, walau tertawa namun nampak jelas kalau pemuda itu tengah menyembunyikan kegundahan hatinya.


“Apa ada masalah?”


“Mama Rayi sepertinya tidak menyetujui hubungan kami kak.”


“Kok bisa? Bukannya kalian pacaran sejak kuliah. Apa kalian backstreet selama ini?”


“Ngga kak. Aku juga ngga tahu apa sebabnya. Sepertinya setelah tante Astuti tahu kalau aku bukan anak dari mama Wina dan papa Danu, sikapnya mulai berubah. Dia bahkan memberiku syarat kalau ingin menikahi Rayi. Aku harus memiliki pekerjaan tetap yang berpenghasilan tinggi, mempunyai rumah mewah dan juga kendaraan sendiri.”


“Apa susahnya? Sekarang pun kamu sudah mempunyai pekerjaan yang bagus. Masalah rumah dan kendaraan aku bisa memberikannya padamu.”


“Jangan kak. Aku mau memenuhi persyaratan tante Astuti lewat kerja kerasku sendiri. Walau butuh waktu lama, tapi aku ingin membuktikan padanya kalau aku memenuhi persyaratan yang dia minta.”


“Kakak bangga padamu. Kamu bisa mengambil jalan mudah tapi kamu memilih jalan terjal untuk mendapatkannya. Kakak dukung keputusanmu,” Abi menepuk pundak Anfa beberapa kali.


“Tapi aku bingung kalau nanti Rayi tanya, aku harus kasih alasan apa? Aku ngga mungkin bilang soal syarat mamanya. Aku ngga mau buat dia sedih, kak.”


“Bilang padanya dan semua orang yang bertanya padamu, kalau aku melarangmu menikah sebelum menyelesaikan studi S2-mu.”


“Tapi kak.. nanti kalau kakak diprotes atau disalahkan yang lain bagaimana?”


“Siapa yang berani memarahiku atau menentang keputusanku? Katakan saja seperti itu dan fokuslah pada pekerjaan dan kuliahmu.”


“Makasih kak.”


Flashback Off


Suasana kembali hening setelah Anfa mengakhiri ceritanya. Perasaan Nina campur aduk setelah mendengarnya. Lagi-lagi sang suami melakukan hal tak terduga untuknya juga sang adik.


“Antar kakak ke kantor.”


“Pulang aja ya kak. Kakak harus istirahat.”


“Aku mau bertemu suamiku. Hanya dia yang kubutuhkan sekarang.”


“Iya kak.”


Anfa tak punya pilihan selain mengikuti keinginan sang kakak. Dia menyalakan mesin mobil kemudian menjalankan kendaraan roda empat tersebut menuju kantor Metro East. Dua puluh menit kemudian, mobil mereka tiba di kantor.


Semua pegawai menundukkan pandangannya saat nyonya Abimanyu melintas di depan mereka. Keduanya langsung menuju lift khusus petinggi yang akan membawanya langsung ke lantai di mana ruangan Abi berada.


Nina berjalan menuju meja kerja suaminya. Tangannya meraba kursi kebesaran tempat suaminya biasa duduk menyelesaikan pekerjaannya. Nina mendudukkan diri di kursi tersebut. Diputarnya kursi hingga menghadap ke jendela besar yang memperlihatkan kesibukan kota Bandung dari ketinggian.


Abi masuk ke dalam ruangannya setelah meetingnya usai. Anfa telah memberitahu dirinya perihal kedatangan Nina. Pria itu berjalan menuju meja kerjanya. Nampak Nina tengah duduk di kursi kebesarannya sambil memejamkan mata. Abi mencium puncak kepala sang istri yang nampak terlelap. Kemudian berjongkok di hadapan Nina lalu mencium perut buncitnya.


Kelopak mata Nina bergerak, perlahan matanya terbuka. Nampak lelaki tampan yang telah menjadi suaminya tengah berjongkok di hadapannya. Abi mengubah posisi menjadi berdiri dengan kedua lututnya kemudian memeluk pinggang Nina, dengan kepala menyandar di perutnya.


Tangan Nina membelai rambut Abi kemudian wanita hamil itu menundukkan kepalanya. Beberapa kali dia mengecup puncak kepala sang suami tercinta. Abi mendongakkan kepalanya kemudian meraih tengkuk Nina. Dipagutnya bibir seksi yang sudah menjadi candunya.


“Mas..”


“Hmm..”


“Apa yang membuatmu mencintaiku? Apa istimewanya diriku sampai mas memberikan cinta yang begitu besar untukku?”


Abi memandangi netra sang istri, dia lalu menarik pelan tubuh Nina dari kursi. Sambil memeluk bahunya, Abi membawa Nina ke dalam kamar tempat dirinya biasa beristirahat. Abi mendudukkan Nina di kasur, dinaikkan kedua kaki sang istri dengan posisi selonjor sedang dirinya duduk di sisi ranjang dengan menghadap Nina yang menyandarkan punggungnya di headboard ranjang.


“Mas belum menjawab pertanyaanku tadi.”


“Apa yang harus kujawab sayang. Kamu istriku, sudah tentu kamu akan mendapatkan semua cinta dan rasa sayangku.”


“Tapi aku ngga seistimewa itu mas. Apa mas sadar betapa besar cinta yang mas berikan untukku?”


“Kamu istimewa, sangat istimewa. Kamu membawa cahaya saat hidupku terasa gelap. Kamu membangkitkan semangatku disaat aku sudah kehilangan gairah hidup. Kamu membuatku merasa dicintai, dibutuhkan dan disayangi.”


“Mas ngga malu mempunyai istri seorang yatim piatu?”


Abi mengernyitkan keningnya, semua pertanyaan Nina membuatnya curiga kalau sesuatu sudah terjadi pada sang istri. Abi memegang kedua bahu Nina, matanya menatap dalam pada netra indah tersebut.


“Ada apa? Apa yang membuatmu seperti ini?”


“Alasan mas melarang Anfa menikah sampai selesai S2 karena keinginan anak itu untuk memenuhi persyaratan mama Rayi, iya kan mas?”


“Sayang... apa kamu...”


“Aku udah tau semuanya mas. Bahkan aku mendengar alasan mama Rayi secara langsung apa yang diinginkannya dari Anfa dan apa yang membuatnya tak menyetujui hubungan Anfa dengan Rayi.”

__ADS_1


Abi menarik Nina dalam pelukannya. Dia cukup terkejut sang istri sudah mengetahui hal yang ditutupinya selama ini.


“Apa salah Anfa mas? Dia anak baik, dia yang menderita dalam pengasuhan Wina kenapa dia yang dituding sebagai anak durhaka. Apa sebuah aib jika kami tidak memiliki orang tua? Bukan keinginan kami hidup sebagai yatim piatu dan hidup terpisah bertahun-tahun. Kenapa dia tega mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan hati.”


Akhirnya tangis yang sedari tadi ditahan keluar juga. Nina memeluk pinggang Abi erat, kepalanya bersandar di dada Abi. Airmata terus merembes dari kedua matanya, membasahi kemeja Abi.


Dada Abi bergemuruh, rasa kesal bercampur marah memenuhi hatinya. Rasanya dia ingin melenyapkan orang yang telah membuat sang istri bersedih. Namun Abi tahu, yang dibutuhkan Nina saat ini adalah bahu untuk bersandar dan pelukan yang dapat menenangkannya. Abi sebisa mungkin menekan amarahnya. Dirinya fokus menenangkan Nina yang nampak terpuruk.


Nina melepaskan diri dari Abi. Dipandanginya kemeja sang suami yang basah oleh airmatanya. Wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap wajah Abi yang tetap memancarkan ketenangan.


“Maaf mas, kemejamu jadi basah.”


“Jangankan basah sama airmata kamu, basah karena iler dan ingus kamu juga ngga masalah.”


“Mas iihh nyebelin.”


Nina memukul lengan suaminya. Abi terkekeh melihat wajah cemberut istrinya. Banyolannya tadi bisa sedikit mengalihkan rasa sedih Nina.


“Mas..”


“Hmm.. kamu mau apa sayang?”


“Mas tiduran aja ya di sini sama aku, ngga usah kerja dulu.”


“Kalau mau tidur di rumah aja Yang, ngapain di sini. Ayo kita pulang.”


“Mau tiduran bentar aja kok.”


“Ya udah.”


Abi melepas sepatunya kemudian merangkak naik ke atas kasur. Abi menarik Nina ke dalam pelukannya. Keduanya berbaring sambil berhadapan. Abi mengusap wajah Nina yang nampak sembab.


“Mau mas nyanyiin ngga?”


“Ngga usah aku nanti kontraksi kalau denger mas nyanyi.”


“Hahaha... suara mas merdu kok beneran.”


“Ngga mau.. nanti nyanyinya abang tukang bakso atau si lumba-lumba.”


“Ngga deh.. janji yang sekarang bukan nyanyi itu. Mas udah les vocal loh biar suaranya enak didenger.”


“Ya udah cepetan nyanyi.”


“Ehem.. tes satu dua satu dua tes... ehem... aaa... nina bobo ooh nina bobo, kalau tidak bobo digigit kebo.”


Sebuah pukulan mendarat di lengan Abi membuat pria itu terpingkal. Bukannya berhenti, Abi terus menyanyikan lagu yang tak lekang dimakan zaman. Diam-diam Nina mengulum senyum, mendengar suara sember sang suami yang sungguh membuat telinganya menderita.


☘️☘️☘️


Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, namun Anfa masih belum beranjak pergi dari ruang kerjanya. Ruby yang telah membereskan semua pekerjaan dan juga jadwal Anfa selama seminggu ke depan, mulai membereskan barang-barangnya. Agung telah menunggunya di lobi.


Setelah memasukkan ponsel ke dalam tasnya, Ruby berdiri dari duduknya lalu menghampiri Anfa yang masih berkutat dengan berkas-berkasnya. Wanita itu mengetukkan buku tangannya ke meja membuat pemuda di hadapannya mendongakkan kepalanya.


“Aku duluan ya. Semua bahan meeting untuk besok udah aku beresin.”


“Iya kak, silahkan.”


“Kamu baik-baik aja kan?”


“Iya kak, aku baik-baik aja.”


“Ok.. jangan pulang terlalu malam. Bye Fa..”


“Bye kak.”


Ruby keluar dari ruangan. Sedangkan Anfa meneruskan pekerjaannya. Lima belas menit kemudian, dia telah selesai membubuhkan tanda tangan di berkas yang dipelajarinya tadi. Setelah merapihkan berkas, dia berdiri dari duduknya kemudian menyenderkan bokongnya ke meja kerja. Matanya menatap ke arah jendela. Hamparan langit gelap yang dipenuhi kelap kelip bintang menyapa indra penglihatannya.


Saat asik menatapi langit malam, pintu ruangannya kembali terbuka. Terdengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Anfa tersenyum tipis, menyangka Ruby yang kembali masuk. Wanita itu memang kerap melupakan sesuatu dan sering kembali saat hendak pulang.


“Ketinggalan apa lagi kak?” Anfa memutar tubuhnya.


Anfa terpaku di tempatnya berdiri ketika melihat bukan Ruby yang datang melainkan Rayi. Untuk sesaat kedua insan itu hanya diam dan saling memandang. Dan tanpa dikomando, keduanya berjalan mendekat secara bersamaan.


“Bisa kita bicara Fa?”


☘️☘️☘️


**Hadeuh... cuaca mendung, jemuran susah kering. Ini udah ada cucian lagi, maaf ya lanjut besok aja, mamake mau jemur dulu🏃🏃🏃

__ADS_1


Sambil nunggu jemuran kering, mampir yuk ke cerita yang ngga kalah serunya. Cerita tentang perjuangan Nick mendapatkan wanita yang dicintainya. Takutnya kalian bingung, nih mamake kasih tau cover barunya The Nick's Life**



__ADS_2