
Beberapa kali Zahra menarik nafas panjang untuk mengenyahkan perasaan sedih di hatinya. Dia terjengit saat merasakan usapan di puncak kepalanya. Perlahan gadis itu membalikkan tubuhnya.
“Sedang apa di sini? Ayo bergabung dengan yang lain. Kita makan bersama.”
“Iya, om.”
“Jangan panggil om. Panggil saja, ayah. Kamu Zahra kan?” tanya pria yang ternyata adalah Juna.
“Iya, o..m.”
“Ayah.. panggil saja ayah. Sama seperti Nan.”
Zahra terpaku sejenak seraya memandangi wajah teduh Juna. Hati Zahra menghangat ketika melihat senyum pria itu. Abi yang melihat kakaknya sedang berbicara dengan Zahra, segera mendekat.
“Kakak sudah kenal dengan calon menantuku rupanya,” Abi memeluk bahu Zahra, membuat gadis itu terjengit. Kepalanya terdongak melihat ke arah Abi.
“Nan yang bilang. Ternyata dia pintar memilih pasangan, cantik.”
“Hmm.. bakatnya menurun dariku,” jawab Abi jumawa.
“Aduh telingaku gatal,” seru Jojo yang ikut nimbrung seraya mengorek telinganya. Pria itu melihat pada Zahra kemudian mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut. Di belakangnya muncul Kevin. Kini Zahra dikelilingi empat pria yang walau sudah berumur masih terlihat tampan dan otak gesernya masih belum berubah.
“Katanya kamu perawat ya?” tanya Juna lagi.
“Iya, om..”
“Eh.. harus panggil apa tadi?”
“A..ayah..”
“Bagus,” Juna mengusap puncak kepala Zahra.
“Kenalkan Zahra, ini kakak dari papa. Kamu bisa memanggilnya ayah. Dua orang kepo ini besan papa, kamu bisa memangginya papaJo dan papaJang,” ucapan Abi langsung disambut gelak tawa Juna dan Jojo, sedang Kevin melayangkan tatapan lasernya.
“Ayo.. kita makan bersama. Papa akan mengenalkanmu pada pipi dan papi.”
Sambil merangkul bahu Zahra, Abi membawa Zahra menuju Anfa dan Cakra yang tengah berbincang sambil menikmati hidangan. Di belakangnya menyusul Juna, Jojo dan Kevin. Sesampainya di dekat Cakra dan Anfa, Abi langsung mengenalkan calon menantunya ini.
“Zahra.. kenalkan ini papinya Anya, dia suami dari adiknya papa. Dan ini adik papa, kamu bisa memanggilnya pipi.”
Zahra meraih tangan Cakra dan Anfa lalu mencium punggung tangannya bergantian. Terdengar protesan dari mulut Jojo karena Zahra tadi belum memberikan penghormatan padanya alias mencium punggung tangannya. Akhirnya Zahra melakukannya juga pada Jojo, Kevin dan Juna secara bergiliran.
Hati Zahra menghangat sekaligus bahagia dikelilingi enam pria yang begitu ramah dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Dia seperti memiliki enam orang ayah sekaligus, apalagi dirinya dilarang untuk memanggil mereka dengan sebutan om. Tidak hanya itu, Agung, Radix dan Gurit juga ikut bergabung bersama mereka. Membuat Zahra merasa semakin diterima di keluarga ini.
Setelah puas berbincang dengan para ayah, kini gilirannya berbincang dengan para mama. Nina membawa Zahra berkenalan dengan Nadia, Sekar, Rindu, Adinda, Rayi, Ruby, Naysila dan Syakira. Kenan melihat sekilas ke arah kekasihnya itu, sebuah senyuman bahagia tersungging di bibirnya. Dia sengaja membiarkan Zahra beradaptasi dengan para tetua lebih dulu.
“Iniiihh chaloonnhhnyaahh Naannhh yaaahh.. chantiikkhhh,” puji Syakira yang sukses membuat Zahra melongo mendengarnya.
“Iya, Syaki. Cantikkan? Dia itu perawat,” puji Nina.
“Waahh kaaloohh thanteehh syaakiithh bisaaahh doonghh dirhawaatthh syamaahh kaamyuuhh.”
“Yang ada si Zahra yang semaput kalo ngerawat kamu,” timpal Sekar.
“Emaanghh keenaapaahh?”
“Bisa tiba-tiba kena asma denger cara kamu ngomong.”
Gelak tawa langsung terdengar menyambung ucapan Rindu. Zahra juga tidak bisa menahan tawanya. Syakira yang sudah terbiasa dengan ledekan Sekar dan Rindu sudah menganggap biasa. Dirinya sudah kebal dengan kegesrekkan sahabat dari suaminya.
“Jihan gimana kabarnya?” tanya Nina.
“Syudaahh baikhaanhh.”
“Katanya Gurit sampai harus jual rumah yang buat Emily ya untuk nutupin ganti rudi orang tua mahasiswa yang kena hukuman,” tutur Rindu.
“Iyaahhh.”
“Kamu kenapa ngga bilang? Aku kan bisa bantu,” ujar Sekar.
“Maluuhh akyuhh Seehh.. Jihaannhh yanghh syalaahhh. Diaah maauuhh ketemuuh Anyaahh tapiih maluuh. Ketemuuhh Nanhh jugaah takuuthh.”
“Sebenernya kalau Nan itu gimana Anya aja. Kalau Anya udah maafin Jihan, dia juga ngga akan marah lagi sama Jihan. Haikal sama Viren juga,” timpal Nina.
“Iya kak. Irvin sama Revan juga ngga bakal marah lagi sama Jihan kalau sudah damai sama Anya.”
“Suruh aja Jihan ketemu sama Anya, anak itu udah ngelupain kejadian itu. Anya bukan tipe anak yang suka nyimpen dendam.”
“Makasyihh Seehh.. makasyihh syemuaahhh..”
“Sumpah ya, tuh suara ngga bisa dirubah apa?”
Pertanyaan Sekar kembali mengundang tawa yang lain. Syakira bahkan ikut tertawa, dia juga bingung kenapa suara mendesahnya tidak berlaku hanya pada anak-anaknya saja, sedang dengan yang lain masih tetap sama.
“Maaf mama-mama cantik, boleh aku ambil Zahranya?” Kenan menginterupsi kebersamaan para wanita cantik itu.
“Kenapa sih Nan? Zahranya ngga diapa-apain sama kita. Disayang sama elus-elus aja kok,” celetuk Sekar.
“Kalau sayang aja boleh, mami. Tapi kalo elus-elus biar bagian aku aja aaaaaa…”
Teriakan Kenan terdengar begitu Nina mendaratkan jeweran di telinga anak bungsunya. Pemuda itu langsung menarik tangan Zahra menjauh dari kumpulan para emak. Dia membawa kekasihnya itu ke halaman belakang. Duduk di salah satu kursi santai di sana.
“Gimana itu para bapak dan para emak? Kamu ngga diapa-apain kan?”
“Diapain gimana? Mereka baik-baik kok. Makasih ya Nan, udah bawa aku masuk ke keluarga hangat ini. Aku juga ngga boleh manggil om. Sama mama kamu juga ngga boleh manggil tante, jadi malu aku.”
“Kamu manggil mereka sama seperti aku manggil mereka juga. Papa, ayah, papi, pipi. Mama, bunda, mami dan mimi. Inget ya.”
“Kalau papaJo sama papaJang itu siapa?”
“PapaJo itu om Jojo, mertuanya bang Ken. Kalau papaJang, itu om Kevin, mertuanya kak Frey.”
“Kok namanya Kevin dipanggilnya papaJang? Itu Jang-nya dapet nyomot dari mana?”
“Ngga tahu. Cuma para tetua yang tahu. Katanya sih itu nama depannya om Kevin.”
“Nama depannya?” Zahra nampak berpikir sebentar.
“Jang.. Jang.. masa sih nama depannya Jajang atau Ujang, kan ngga cocok sama nama Kevinnya,” Zahra terkikik sendiri saat mengatakannya.
“Ngga usah dipikirin, ngga penting juga. Ngga akan keluar pas kamu ujian nanti hahaha…”
Zahra ikut tertawa mendengarnya. Kemudian matanya tertuju pada Viren dan Alisha yang berdiri di dekat taman. Viren memeluk tubuh Alisha dari belakang sambil membicarakan sesuatu. Sesekali nampak Viren mendaratkan ciuman di puncak kepala dan pipi istrinya. Sadar akan pandangan Zahra, Kenan menerangkan hubungan keduanya.
“Itu Alisha, anak bungsunya ayah. Nah yang laki-laki itu Viren, anaknya om Kevin alias suaminya Al.”
__ADS_1
“Mereka udah nikah?”
“Iya. Karena sesuatu dan lain hal, Alisha minta nikah muda. Jadi mereka nikah duluan, baru pacaran. Kaya si Nyi Ronggeng sama bang Irvin.”
“Enak kali ya kalau kita kaya gitu juga. Nikah dulu, pacaran kemudian,” gumam Zahra pelan yang masih didengar oleh Kenan.
“Aku kan harus bisa beliin kamu rumah dulu sebelum nikahin kamu.”
Perkataan Kenan sontak membuat Zahra melihat ke arahnya. Wajah gadis itu berubah menjadi sendu. Sepertinya keinginannya untuk menikah muda tidak akan terjadi mengingat sifat sang ayah, kecuali dia mau menikah dengan Jay. Seandainya bisa, dia ingin mencari wali lain yang bisa menikahkannya.
“Andai aku hadir sebelum mama dan papa menikah,” gumam Zahra lagi.
“Kok gitu ngomongnya?”
“Dengan begitu papa ngga punya hak buat jadi wali nikahku. Tapi sayang, aku hadir setelah usia pernikahan mereka berjalan setahun.”
Terdengar tawa hambar Zahra. Pandangannya menatap kosong ke arah depan. Membahas tentang Sandi selalu membuatnya bersedih dan kehilangan mood. Kenan merangkul bahu gadis itu kemudian membawa kepalanya untuk bersandar di bahunya.
“Ngga usah pikirin itu. Aku akan cari jalan keluar terbaik untuk kita. Kalau mentok, paling aku lambaikan bendera putih aja.”
“Maksudnya kamu nyerah?”
“Bukan, maksudnya aku minta bantuan sama papa.”
“Kalau papa tahu kamu anaknya Abimanyu Hikmat, pasti dia langung setuju. Tapi aku ngga suka. Kesannya dia menerimamu karena orang tuamu, bukan karena dirimu. Kaya ada udang dibalik bakwan. Tapi ngga aneh juga sih, dari awal dia deketin aku karena ada maksud tersembunyi. Tapi aku ngga rela aja Nan, dia bisa mendapatkan keinginannya. Dia itu ngga melakukan apapun untuk aku dan Silva, punya hak apa dia menuntutku untuk memberinya seorang menantu yang bisa dibanggakan dan menaikkan derajat sosialnya.”
“Stop talking about him (berhenti membicarakannya) kalau itu hanya buatmu sedih dan marah. Lebih baik kita bahas soal masa depan kita. Kalau setelah kita lulus, apa kamu mau nikah sama aku?”
“Menurutmu?”
Zahra melihat ke arah Kenan dengan senyuman di wajahnya. Melihat senyuman itu, tentu saja Kenan tahu apa jawaban gadis itu depannya itu. Seperti ada magnet yang menariknya, tangannya bergerak mengusap pipi Zahra kemudian berlanjut mengusap bibirnya.
“Aaaa… ****.. ayo kita gabung sama lain. Bahaya kalau lama-lama di sini, aku bisa khilaf c*vok kamu.”
Kenan berdiri lalu menarik tangan Zahra. Keduanya kembali masuk ke dalam dan bergabung dengan yang lainnya.
☘️☘️☘️
Malam beranjak turun, kediaman Cakra sudah kembali sepi. Keluarga, kerabat dan tetangga dekat yang tadi meramaikan rumah pasangan pengantin baru sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Kini rumah kembali dihuni keluarga inti, ditambah satu penghuni baru, Irvin.
Waktu menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh menit. Setelah makan malam bersama, semua penghuni rumah masuk ke kamarnya masing-masing. Berbeda dengan Anya yang malah masuk ke kamar kakaknya. Membiarkan Irvin sendiri berada di kamarnya. Gadis itu masih berbincang dengan Naya.
Aric keluar dari kamar mandi kemudian mendudukkan diri di samping Anya. Adiknya itu langsung merebahkan kepalanya di bahu Aric, dengan tangan memeluk lengan pria itu. Naya hanya tersenyum melihat tingkah manja adik iparnya itu.
“Ngapain kamu di sini, Nya? Sana ke kamarmu.”
“Bentar lagi, kak. Aku grogi nih.”
“Grogi kenapa?”
“Ya kan aku belum pernah tidur sekamar sama cowok, kecuali abang sama papi. Sekarang aku harus sekamar sama bang Irvin.”
“Dia kan suami kamu sekarang. Wajar aja kalau kalian tidur bareng. Justru aneh kalau kalian pisah kamar. Masa pengantin baru udah pisah ranjang,” Aric terkekeh.
“Bang Aric bener.. masa kamu kalah sih sama Al. Dia aja berani langsung tidur bareng Viren,” Naya terkikik geli karena ucapannya itu terdengar ambigu.
“Malu kak..”
“Sekarang aja malu, nanti juga malu-maluin. Ayo abang anter ke kamar.”
“Abang temenin sampe aku tidur ya.”
Naya menepuk lengan suaminya yang tahu kemana arah ucapannya. Sambil memajukan bibirnya Anya mengikuti saat Aric menarik tangannya. Pria itu membuka pintu kamar sang adik, sedang Anya malah bersembunyi di belakangnya. Ditariknya tangan Anya sampai ke depannya. Sebisa mungkin gadis itu bertahan, namun Aric mendorongnya hingga masuk ke dalam kemudian langsung menutup pintu. Tinggalah Anya yang berdiri mematung, melihat ke arah Irvin yang tengah duduk di sisi ranjang sambil memperhatikannya.
“Udah selesai ngegosipnya sama Naya?”
“Belum sih.. tapi disuruh bang Aric keluar.”
“Ya iyalah. Kamu tuh ganggu mereka mau ngadon.”
“Ngadon apa bang?”
“Ngadon calon keponakan kamu.”
Wajah Anya memerah mendengarnya, namun sejurus kemudian dia terpekik ketika tiba-tiba Irvin menarik tangannya hingga gadis itu jatuh di atas pangkuan suaminya. Irvin langsung mengunci pergerakan Anya dengan melingkarkan kedua tangannya di perut sang istri. Untuk sesaat keduanya hanya terdiam dan saling memandang.
“Apa makhluk yang mengikutimu masih ada?”
“Tadi dia nongol pas habis akad.”
“Masa? Dia ngomong sesuatu atau ngelakuin apa gitu?”
“Ngga. Ngelakuin apa bang?”
“Kali aja dia nangis guling-guling pas tahu perempuan yang dia suka ditikung sama aku,” Irvin terkekeh dan langsung dihadiahi pukulan di lengan oleh Anya.
“Kalau dia muncul, kasih tahu abang.”
“Abang mau ngapain?”
"Mau abang semprot pake b*ygon sambil kasih peringatan keras kalau dia ngga boleh ganggu kamu lagi," Irvin terkekeh yang juga disambut tawa Anya.
Suasana kembali hening, tapi kini Anya sudah berani menyandarkan kepalanya di dada Irvin, dengan kedua tangannya bertumpu pada tangan Irvin yang melingkari perutnya. Dadanya berdebar kencang berada dalam posisi seintim seperti ini.
“Ehmm.. bang…”
“Apa?”
“Ng… aku boleh tanya sesuatu ngga?” suara Anya terdengar ragu saat mengatakannya.
“Tanya apa?”
“Abang.. mau aku panggil apa?”
“Maksudnya?”
“Kalau aku manggil abang, sama aja kaya aku manggil bang Aric, bang Ken sama yang lainnya. Aku mau rubah panggilannya, biar beda.”
“Kamu mau panggil apa?”
“Ehmm.. kalau aa gimana?”
“Apa aja panggilanmu buat abang, abang seneng aja. Eh aa, maksudnya.”
Anya menelusupkan wajahnya ke dada Irvin. Dirinya yang mengusulkan tapi dia sendiri yang merasa malu. Tangan Irvin berpindah jadi memeluk punggung Anya. Untuk sejenak dia menikmati pelukan hangat ini, sebelum akhirnya mengurai pelukannya.
__ADS_1
“Tidur yuk.. kamu pasti cape seharian ini,” Irvin merapihkan anak rambut Anya yang berantakan.
“Abang eh aa tidur di sini?”
“Kalau bukan di sini, terus aa tidur di mana? Di kamar mandi?”
“Ish..”
Anya turun dari pangkuan Irvin kemudian naik ke atas kasur yang langsung disusul oleh Irvin. Pria itu merebahkan tubuhnya seraya merentangkan sebelah tangannya, meminta Anya merebahkan kepalanya di sana. Malu-malu Anya berbaring di samping suaminya dengan kepala berada di atas lengan pria itu.
Irvin merubah posisi berbaringnya, begitu pula Anya. Diraihnya tangan sang istri kemudian mengecupnya dengan lembut. Jantung Anya semakin bertalu-talu atas apa yang dilakukan suaminya itu.
“Sekarang kita bisa bebas pacaran ya.”
“Bebas pacaran gimana maksudnya a?”
“Bebas melakukan apa yang dulu masih terlarang. Seperti ini..”
Tangan Irvin menelusup ke balik tengkuk Anya kemudian menariknya perlahan. Bibirnya mencium bibir Anya yang belum pernah tersentuh siapapun, kemudian mel*matnya dengan lembut. Anya memejamkan matanya, menikmati sapuan lembut di bibirnya. Ingin rasanya membalas, tapi belum tahu harus bagaimana.
“Kamu suka?” tanya Irvin setelah mengakhiri ciumannya. Anya menganggukkan kepalanya kemudian disambung dengan gelengan. Irvin terkekeh melihat wajah istrinya yang bersemu merah.
“Mau coba lagi?” malu-malu Anya mengangguk.
“Balas ciuman aa, ya.”
“Ngga bisa.”
“Ikuti aja gerakan bibir aa.”
Irvin kembali membenamkan bibirnya, pelan-pelan disesapnya bibir atas dan bawah istrinya bergantian, memberikan kesempatan pada Anya untuk mengikuti apa yang dilakukannya. Perlahan namun pasti, Anya mulai mengikuti apa yang dilakukan suaminya. Dia sudah bisa membalas ciuman Irvin.
“I love you,” bisik Irvin setelah ciuman mereka berakhir.
“I love you, too,” jawab Anya seraya tersenyum.
Anya memejamkan matanya saat Irvin menciumi seluruh wajahnya, mulai dari kening, kedua mata, kedua pipi, hidung dan berakhir di bibirnya. Pria itu kembali mel*mat bibir Anya, kali ini dia melesakkan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Anya. Awalnya gadis itu terkejut, namun mengikuti saja apa yang dilakukan suaminya itu.
Ciuman keduanya semakin dalam dan intens. Kini posisi Irvin sedikit berada di atas Anya. Tubuh mereka sudah tak berjarak lagi dan semakin mempermudah mereka memperdalam ciumannya. Irvin mengakhiri ciumannya ketika merasakan oksigen di sekitar mereka mulai menipis. Dia menyatukan kening mereka.
“Tidur sayang. Atau aa tidak bisa menahan diri lagi.”
“Maaf a..”
“Tidak perlu minta maaf. Kita akan melakukannya kalau kamu sudah siap. Sekarang tidurlah.”
Irvin kembali merebahkan tubuhnya, kemudian menarik Anya merapat padanya. Tangan Anya melingkari pinggang suaminya dan menelusupkan kepalanya di dada. Ada rasa nyaman berada dalam pelukan pria yang telah sah menjadi suaminya. Nyaman seperti berada dalam pelukan Cakra atau Aric.
☘️☘️☘️
“Nan.. untuk proyek kerjasama dengan Bank Artha Buana, kamu saja yang presentasi nanti,” ujar Abi di sela-sela sarapan mereka. Sontak hal tersebut membuat Kenan terkejut.
“Tapi kalau nanti mereka ngga puas dengan hasil presentasiku bagaimana pa?”
“Makanya buat mereka puas. Kenapa? Kamu ngga sanggup?”
“Sa.. sanggup pa.”
Walau bibirnya mengucap kata sanggup, namun otak Kenan berputar keras bagaimana caranya melakukan presentasi dengan baik. Hatinya juga ketar-ketir, takut melakukan kesalahan yang justru malah akan menggagalkan proyek tersebut.
“Katakan pada diri sendiri kalau aku sanggup, aku bisa hingga itu tersugesti dalam pikiranmu,” Abi menunjuk kepala dengan telunjuknya. Seakan tahu apa yang dipikirkan anak bungsunya itu.
“Kamu punya waktu dua hari untuk mempelajari proyek itu. Belajar pada abangmu bagaimana melakukan presentasi yang baik.”
“Iya, pa.”
“Bukan hanya pak Darmawan yang harus kamu yakinkan, tapi ada juga Sandi Putra di sana yang akan mendengar dan melihat presentasimu.”
“Sandi Putra papanya Zahra?”
“Iya, tunjukkan padanya kalau kamu punya kualitas yang baik. Jangan biarkan dia terus meremehkanmu. Buat pak Darmawan mengakui kemampuanmu. Kamu pasti bisa, Nan. Itu salah satu cara membungkam calon mertuamu.”
“Iya, pa.”
Semangat Kenan berkobar begitu mendengar nasehat sang papa. Dia bertekad melakukan pekerjaan dengan baik. Bukan hanya untuk menunjukkan eksistensinya pada Sandi, tapi juga untuk menunjukkan pada sang papa, kalau dirinya layak menyandang gelar Hikmat di belakang namanya.
☘️☘️☘️
“Untuk penambahan fasilitas di pulau Padar, pak Abi sudah setuju untuk menggaet Bank Artha Buana untuk menjadi partner kita,” ujar Fathan seraya menaruh berkas di atas meja kerja Kenzie.
Wakil CEO dari Metro East itu menghentikan pekerjaannya lalu mengambil berkas yang diberikan oleh asistennya. Dia membaca sebentar berkas tersebut, lalu meletakkannya kembali.
“Siapa orang yang ditugaskan untuk berhubungan dengan kita?”
“Sandi Putra.”
“Hubungi mereka, minta lakukan presentasi ulang hari ini. Aku sendiri yang akan menilai presentasi mereka.”
Kening Fathan berkerut mendengarnya, tapi tak ayal pria itu segera melakukan apa yang diperintahkan atasannya itu. Dia yakin kalau ini ada hubungannya dengan Kenan. Soal Sandi Putra adalah ayah dari Zahra sudah menyebar di keluarga Hikmat. Mereka juga sudah tahu perihal tindak-tanduk pria itu. Hanya tinggal menunggu tanda dari Kenan, maka mereka siap untuk bergerak membuat pria itu mati kutu.
“Ken.. inget.. pak Abi udah setuju, jangan karena masalah Nan, lo jadi batalin perjanjian.”
“Ngga bakalan. Gue cuma pengen tahu seperti apa kualitas Sandi Putra itu. Seenak jidatnya aja di ngehina Nan. Gue cuma mau bales dikit perbuatannya.”
“Sedikitnya itu yang bikin gue cemas. Biar sedikit tapi makjleb.”
“Berisik! Udah dihubungi belum pak Darmawannya?”
“Udah. Tapi kayanya pak Sandinya belum tahu.”
“Ngga usah dikasih tahu. Gue mau kasih kejutan manis buat dia.”
“Kejutan pahit kali,” cibir Fathan namun tak dipedulikan oleh Kenzie.
Kenzie berdiri kemudian menyambar jas yang terdapat di kapstok. Dimasukkannya ponsel ke saku jasnya lalu tangannya mengambil berkas yang ada di meja. Bersama dengan Fathan dia keluar dari ruangan.
Tak butuh waktu lama bagi Kenzie dan Fathan sampai di kantor pusat Bank Artha Buana. Kedatangan mereka tentu saja mengejutkan semua staf yang terlibat dalam proyek yang dikerjakan bersama dengan Metro East. Sandi yang ditunjuk sebagai perwakilan tempatnya bekerja bergegas menuju ruang meeting di mana wakil CEO Metro East telah menunggunya.
“Selamat datang untuk pak Kenzie dan juga pak Fathan,” sambut Sandi begitu bertemu dengan kedua pria tersebut.
Wajah Sandi menunjukkan keterkejutan saat melihat Kenzie. Seketika dia menjadi gugup. Orang yang pernah bersitegang dengannya di pelataran parkir restoran ternyata adalah orang yang selama ini ingin ditemuinya. Apalagi saat pembukaan Krishna Café, pria itu nampak tak acuh pada Kenzie.
“Perkenalkan nama saya, Sandi Putra.”
☘️☘️☘️
__ADS_1
**Wew.. Sandi didatengin naga kutub, sokooorr🏃🏃🏃
Yang kangen sama Syakira, tuh mamake kasih**