KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Calon Istri Abi


__ADS_3

Sehabis shalat shubuh berjamaah, Abi, Juna juga Teddy menghabiskan waktu di ruang gym. Walau sudah berumur, Teddy tidak mau kalah dari kedua anaknya. Apalagi istrinya masih terlihat cantik dan seksi. Jangan sampai ada berondong tak berakhlak menggoda istrinya.


Nina membantu bi Sari menyiapkan sarapan. Kali ini ada Nadya yang juga ikut membantu, bahkan Sekar yang biasanya tinggal terima beres, ikut-ikutan nongkrong di dapur walaupun perannya lebih banyak sebagai pengamat sekaligus pencicip. Tapi setidaknya gadis ini sudah mau menginjakkan kakinya di dapur.


Beres membuat sarapan, Nina menuju kamar Abi untuk menyiapkan pakaian kerjanya. Kebiasaan pagi yang sudah dilakukan sebelum Abi melamarnya. Nina memilih kemeja berwarna hitam yang dipadankan dengan jas abu. Dia juga memilihkan dasi untuk calon suaminya itu. Bahkan Nina juga menyiapkan pakaian dalam Abi. Awalnya dia masih malu untuk melakukannya. Tapi sekarang sudah terbiasa memegang pakaian yang membungkus bagian intim kaum laki-laki.


Nina baru saja meletakkan pakaian di atas kasur ketika Abi keluar dari kamar mandi. Dia langsung memalingkan wajahnya karena Abi keluar hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Tetesan air dari rambutnya yang membasahi dada bidangnya membuatnya terlihat seksi. Nina baru saja akan pergi ketika Abi memanggilnya.


“Nin.. handuk kecilnya mana?”


“Itu di atas kasur.”


“Sekalian keringin rambutku. Cepet..”


Bukan Abi namanya kalau tidak memaksa. Akhirnya dengan terpaksa Nina mengambil handuk kecil yang tergeletak di atas kasur. Abi duduk di sisi ranjang, Nina mulai mengeringkan rambutnya.


“Beres.”


“Ini dadaku masih basah, keringin juga.”


Nina berdecak, Abi seperti anak kecil saja. Pria itu berdiri agar Nina lebih leluasa mengeringkan dadanya yang basah terkena tetesan air dari rambutnya. Jantung Nina berdegup kencang ketika menyentuh dada bidang itu. Dia bertambah kaget ketika tiba-tiba Abi menarik pinggangnya hingga wajahnya menempel di dada Abi. Bahkan bibirnya membentur dada bidang itu.


“Kamu seneng banget mancing aku ya Nin.”


“Mancing apa?”


“Ini.. kamu cium-cium dada aku. Aku kan mintanya dikeringin aja bukan dicium.”


Demi apapun ingin rasanya Nina melempar pria itu dengan barang-barang yang ada di dekatnya. Dengan kesal dia mendorong tubuh Abi lalu beranjak pergi. Sebelum keluar kamar, Nina melihat ke arah Abi dengan kesal.


“Mas Abi tuh yang suka mancing. Mancing keributan!”


BRAK!!


Nina menutup pintu kamar Abi dengan kencang. Sang pemancing keributan malah tertawa terbahak. Sepertiya menggoda Nina sudah menjadi kebiasaannya. Sehari tak membuat gadis itu naik darah ibarat makan sayur tanpa garam.


☘️☘️☘️


Ruang makan di kediaman Teddy kini semakin ramai. Ada tiga pasangan di sana, kecuali Sekar yang masih jomblo. Namun tak lama datang penggemar rahasianya kemudian ikut bergabung di sana. Cakra dengan santainya menarik kursi di samping Sekar. Gadis itu mendelik ke arahnya.


“Tumben ke sini pagi-pagi, ngapain?” tanya Sekar.


“Ikut sarapan lah.”


“Emang di rumah ngga disedain sarapan apa?”


“Bosen sarapan sendirian. Apalagi bi Sum lagi mudik.”


Sekar langsung terdiam, dia jadi tak enak hati. Cakra adalah anak tunggal. Dia tinggal sendirian setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat empat tahun lalu. Rahma dan Teddy langsung mengambil alih peran orang tua bagi pria itu. Itulah mengapa Cakra begitu dekat dengan keluarga ini.


“Duduknya ngapain di sini? Di deket kak Abi masih ada yang kosong,” protes Sekar.


“Sengaja biar kamu ngga kelihatan jomblo. Kamu ngga lihat apa, mereka semua punya pasangan, kecuali kamu. Abang kasihan kamu jadi obat nyamuk tak berasap.”


Teddy mengulum senyumnya melihat Cakra menggoda Sekar. Dia sudah tahu perasaan Cakra pada anak bungsunya itu. Cakra pernah menemuinya dan mengatakan perasaannya tentang Sekar. Namun Teddy menyerahkan semuanya pada Sekar. Dia menyuruh Cakra menaklukkan sendiri hati Sekar tanpa bantuannya, Juna atau Abi.

__ADS_1


“Nad.. nanti kamu jadi ketemu sama pihak WO?” tanya Rahma.


“Jadi ma, mas Juna juga ikut kan?”Juna hanya mengangguk saja.


“Kalau begitu sekalian aja Nina sama Abi ketemu. Biar WO itu sekalian mengurus pernikahan kalian. Rencananya kapan kalian akan menikah?”


Uhuk.. uhuk..


Nina terbatuk mendengar pertanyaan frontal Rahma. Abi buru-buru menyodorkan gelas berisi air putih padanya. Cakra yang belum tahu hanya melongo saja sambil melihat ke arah Abi dan Nina.


“Emang Abi udah ngelamar Nina?” bisik Cakra di telinga Sekar.


“Udah tadi malem. Ngga romantis banget pokoknya.”


Sekar menjawab dengan suara pelan namun masih bisa tertangkap oleh telinga Abi. Pria itu menatap tajam pada Sekar. Gadis itu langsung menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Cakra.


“Kapan Bi rencana pernikahan kalian?” kali ini Teddy yang bertanya karena Abi tak kunjung menjawab.


“Kamu kapan siapnya?” Abi malah bertanya pada Nina, membuat gadis itu gelagapan.


“Kamu malah nanya Nina. Dia sih sekarang juga siap, ya ngga Nin?” goda Juna. Wajah Nina langsung merona.


“Bulan depan ma,” jawab Abi mantap.


“Gimana Nin, kamu siap?” tanya Rahma.


Nina melihat ke arah Abi, pria itu menganggukkan kepalanya. Nina menganggukkan kepalanya pelan. Sebenarnya dia masih canggung berhadapan dengan Rahma dan Teddy setelah kejadian semalam. Tapi sepertinya kedua orang itu tidak terpengaruh sama sekali.


“Jadi kamu setuju menikah dengan Abi?” tanya Teddy.


“Nooo... jangan panggil om. Kamu sekarang calon istri Abi, panggil kami, mama dan papa, okay?”


“Iya tan.. eh ma..” Nina masih agak canggung.


“C’mon Nina jangan gugup gitu. Mana Nina yang selalu ceria dan percaya diri? Lupakan saja kejadian semalam. Mama dan papa juga ngga percaya semua yang dikatakan Danial juga mamanya. Semalam mama bertanya supaya kamu bisa menjawab dan membela dirimu. Bukan untuk ikut menghakimimu.”


“Iya ma, maaf.”


“Dengar Nina, ngga semua orang suka sama kita. Kamu ngga perlu pusingkan orang-orang yang tidak menyukaimu. Tetaplah jadi dirimu sendiri, selagi kamu tidak menyusahkan atau mengganggu orang itu, abaikan saja. Kamu sekarang calon istri Abi, calon menantu keluarga Hikmat. Akan banyak orang yang mungkin tidak menyukaimu. Kamu harus menjadi wanita yang kuat. Jangan biarkan orang lain meremehkanmu apalagi menindasmu. Kamu harus bisa membela dirimu, tunjukkan kalau kamu bukan orang yang mudah diintimidasi oleh siapapun. Selama kamu benar, kami semua akan berdiri di belakangmu. Hal ini juga berlaku untukmu Nadia.”


“Iya ma,” jawab Nina dan Nadia bersamaan.


“Berlaku buatku juga ngga ma?” tanya Cakra dengan nada manja yang langsung dihadiahi pukulan oleh Sekar.


“Aduh salit Yang,” rengek Cakra manja.


“Yang.. Yang.. Yang.. pala peyang kali,” sewot Sekar.


“Galak amat sih calon istri abang,” Cakra menjawil dagu Sekar yang langsung ditepis gadis itu.


“Ngarep dotcom.”


Semua tergelak melihat interaksi dua orang yang lebih mirip pasangan Tom and Jerry. Abi dan Juna tahu betul bagaimana perasaan Cakra pada adiknya. Namun keduanya membiarkan saja. Mereka ingin melihat bagaimana perjuangan Cakra mendapatkan hati adiknya.


“Rencana janjian sama Rayi di mana kak?” tanya Nina.

__ADS_1


“Di cafe Moonlight abis jam makan siang. Aku berangkat bareng sama mas Juna, kamu sama Abi aja Nin.”


“Ngga ah, aku sendiri aja. Kasihan Rayi kalau mas Abi ikut, bisa-bisa tuh anak kena penyakit ayan.”


“Hahaha.. kenapa Nin?” tanya Juna.


“Dateng-dateng langsung disemprot tuh anak sama mas Abi. Udah gitu kalau jawab pertanyaan ketus banget. Pake ngatain dia panitia Agustusan segala. Pokoknya nyebelin abis deh kak.”


“Nyebelin-nyebelin juga calon suami yang kamu cintai sepenuh jiwa dan raga,” sahut Abi dengan pedenya.


“Pede bin narsis abis,” kelutus Nina.


“Sudah mulai berani hmm..”


Bisik Abi di telinga Nina. Tangan Abi sudah bergerak di pinggang Nina. Alarm bahaya sudah berbunyi, Nina segera bangun dari duduknya. Dia harus segera pergi sebelum Abi melakukan hal yang bisa membuatnya malu.


“Aku udah selesai sarapan. Duluan ya ma, pa.”


“Sama aku ngga ijin?”


“Males.”


Nina menjulurkan lidahnya ke arah Abi lalu langsung meninggalkan meja makan sebelum tertangkap oleh Abi. Rahma hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan calon menantunya. Namun dalam hati dia bahagia karena Abi sudah kembali ke sosoknya dahulu. Bahkan kini Abi sudah lebih banyak bicara dan tersenyum.


“Lo kenapa sih Bi? Perasaan dulu lo ngga selebay ini,” tanya Cakra.


“Berisik lo!”


“Abis kena virus Nina hahaha..” Juna tergelak. Tak ditanggapinya tatapan horor Abi padanya.


Selesai sarapan, Juna, Abi juga Cakra bersiap untuk ke kantor. Rahma dan Teddy menghabiskan waktu saja di rumah. Keduanya memang telah menyerahkan perusahaan pada kedua anaknya. Teddy tinggal mengurus satu perusahaan yang dibangunnya bersama Rahma lima tahun lalu di Jepang. Itu pun sudah ditangani oleh orang kepercayaannya. Rencananya perusahaan itu akan diserahkan pada Sekar.


Juna berangkat ke kantor bersama Nadia. Selama dia belum mendapatkan sekretaris pengganti, Nadia akan terus menjadi sekretarisnya. Keduanya masuk ke dalam mobil lalu meluncur pergi.


Nina mengantar Abi sampai ke depan mobil. Dibetulkan kembali letak dasi yang sedikit miring. Nina menepuk-nepuk dada calon suaminya setelah membetulkan dasinya. Abi menarik pinggang Nina lalu mendaratkan kecupan lembut di kening gadis itu.


“Nanti biar bang Beno yang menjemputmu.”


“Iya mas.”


“Aku berangkat.”


Abi membuka pintu mobil. Namun sebelum masuk ke dalam mobil, Abi kembali mendaratkan ciuman. Kali ini dia mencium pipi Nina seraya berbisik di telinganya.


“I love you.”


“Love you too mas.”


Abi tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Diturunkannya kaca jendela. Perlahan mobilnya melaju, tangan Abi melambai pada Nina. Gadis itu tersenyum melihat sikap manis Abi. Ketika berbalik, dia terkejut melihat Sekar dan Cakra sudah ada di belakangnya. Mereka menatap dengan wajah menggoda. Nina buru-buru masuk sebelum telinganya mendengar ledekan mereka.


Cakra mengajak Sekar masuk ke dalam mobil. Mereka akan berangkat bersama ke kantor. Sekar menarik-narik tali seat belt yang sepertinya macet. Cakra mendekat untuk membantu. Gadis itu menahan nafasnya ketika jaraknya dengan Cakra begitu dekat. Wangi parfum pria itu sempat membuat Sekar terlena. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang berada sedekat ini dengan Cakra.


Selesai memasangkan seat belt, Cakra kembali posisinya semula. Dia mulai menyalakan kendaraan, lalu memacunya dengan kecepatan sedang. Sikapnya terlihat santai, berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdentum tak karuan ketika berdekatan dengan Sekar tadi. Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Keduanya sibuk menyelami perasaan masing-masing.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Abi bener² tukang mancing keributan plus modus. Ayo teruskan kemodusanmu Abi. Cakra, jangan nyerah, tunjukkan kalau kamu playboy setia, eh mana ada playboy setia ya😂


__ADS_2