
BRUK
Barang belanjaan Astuti terjatuh ke lantai ketika seorang pria menabraknya. Dengan cepat pria itu mengambilkan barang-barang yang berceceran, memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik lalu memberikannya pada Astuti.
“Maaf ya bu.”
Astuti tak menjawab ucapan pria itu. Dia tertegun memandangi lelaki bertubuh jangkung di depannya. Jas hitam yang dikenakannya membuat penampilan pria itu bertambah gagah. Wajahnya juga lumayan tampan, jangan lupakan deretan gigi putih ketika dia tersenyum membuat Astuti terkagum dibuatnya.
“Bu..” pria itu melambaikan tangannya di depan Astuti.
“Oh.. eh.. iya ngga apa-apa. Saya juga kurang hati-hati berjalannya.”
“Sekali lagi maaf ya bu.”
Pria itu mengangguk hormat pada Astuti kemudian berlalu meninggalkannya. Astuti masih tertegun memandanginya, sampai suara klakson motor mengejutkannya. Di depan pintu masuk mall nampak ojek langganannya sudah menunggu. Astuti bergegas menaiki kendaraan roda dua tersebut.
Sepanjang perjalanan, ingatan Astuti masih tertuju pada lelaki yang tadi ditemuinya. Pikirannya mulai berkelana, seandainya pria tersebut menjadi menantunya, pasti Retno akan dibuat terkejut. Rayi pun akan bahagia memiliki suami tampan dan mapan. Walaupun harus Astuti akui Anfa jauh lebih tampan, namun ketidaksukaannya menutupi semua hal positif yang ada pada pemuda itu.
Tiba-tiba saja motor yang ditumpanginya berhenti, menarik kesadaran wanita itu dari lamunannya. Beberapa kali sang driver berusaha menghidupkan motornya, namun hasilnya nihil. Astuti diminta turun dan menunggu di sisi jalan, sementara sang driver berusaha menghidupkan motornya kembali.
“Motormu kenapa?”
“Sepertinya ada masalah dengan karburatornya bu.”
“Lah terus piye?”
“Kayanya ibu harus naik angkot. Motor saya beneran mogok ini.”
“Makanya mbok diperiksa dulu motormu sebelum ngojek. Kalau begini aku juga yang repot. Oalah le.. le.. bikin susah aku aja.”
Pengojek itu hanya tersenyum saja mendengar dumelan Astuti. Sudah sering dia mendengar omelan wanita itu. Di antara langganan ojeknya, memang Astuti yang terkenal paling cerewet.
Astuti sedikit maju dari tempatnya berdiri tadi. Kepalanya terus melihat ke arah kanannya, menunggu angkot yang lewat. Lalu sebuah BMW hitam berhenti di dekatnya. Kaca jendela terbuka memperlihatkan wajah pria yang tadi menabrak Asruti di mall.
“Bu..” panggil pria itu.
“Eh.. mas yang tadi toh.”
Pria itu turun dari mobilnya kemudian berjalan memutari badan mobil untuk sampai di depan Astuti. Kemudian dia melihat pada pengemudi motor yang tengah mengutak-atik kendaraannya.
“Motornya mogok bu?”
“Iya.”
“Itu anak ibu?”
“Bukan.. dia itu tukang ojek langganan saya.”
“Oh maaf... hmm.. gimana kalau saya antar ibu pulang?”
“Jangan.. ngga usah mas, saya ngga mau ngerepotin.”
Jawaban yang keluar dari mulut Astuti tentu saja bertolak belakang dengan suara hatinya. Dalam hatinya berharap pria itu memaksanya agar bersedia diantar pulang olehnya.
“Ngga apa-apa bu, biar saya antar.”
Hati Astuti bersorak mendengarnya. Dibiarkan saja saat pria itu mengambil barang belanjaannya kemudian memasukkan ke jok belakang. Pria tersebut lalu membukakan pintu depan mobil untuk Astuti. Sambil tersipu malu, Astuti naik ke dalam mobil. Tak lama sang empu juga naik lalu menjalankan kendaraannya.
“Ibu rumahnya di mana?”
“Kencana Regency.”
“Oh yang ada di daerah Laswi ya bu.”
“Betul.”
Pria itu segera mengarahkan kendaraannya menuju arah Laswi. Astuti melirik pria di sebelahnya yang terus menatap ke depan. Dia berdehem beberapa kali agar perhatian beralih padanya.
“Ibu haus?”
“Ngga kok, cuma gatel aja tenggorokan. Oh ya namamu siapa?”
“Maaf saya lupa memperkenalkan diri. Saya Pandu, bu.”
“Oh nak Pandu. Kalau ibu, Astuti,” Pandu hanya menganggukkan kepalanya.
“Berapa umur nak Pandu?”
“28 tahun bu.”
“Sudah menikah?”
“Hahaha.. ibu ini, pacar aja ngga punya, gimana mau menikah.”
Astuti semakin senang mendengar kenyataan tentang Pandu. Usia Pandu selisih lima tahun dari Rayi, jarak yang cukup jika keduanya menikah. Tiba-tiba saja terbersit keinginan dalam hatinya untuk menjodohkan Rayi dengan Pandu.
“Ibu punya anak perempuan, umurnya sekarang 23 tahun. Mau ibu kenalkan?”
“Kalau saya mau aja bu. Tapi anak ibu mau ngga?”
“Pasti mau. Nak Pandu kerja di mana?”
“Saya mengelola perusahaan ekspor impor.”
Hati Astuti bertambah senang mengetahui Pandu adalah bos di perusahaannya sendiri. Cita-citanya mendapatkan menantu yang tampan dan juga mapan, sebentar lagi akan terwujud. Dia semakin bersemangat saja ingin menjodohkan Rayi dengan Pandu.
“Calon mantu idaman ya.”
“Ibu bisa aja,” Pandu tertawa kecil.
“Jadi menantu ibu mau?”
Pandu cukup terkejut mendengar penuturan Astuti yang to the point. Dia menoleh ke arah Astuti yang nampak serius dengan kata-katanya. Astuti sendiri tengah harap-harap cemas menunggu jawaban dari Pandu.
“Emang anak ibu belum punya calon?”
__ADS_1
“Anak ibu masih jomblo. Tapi bukan berarti dia jelek ya, emang anak itu belum mau pacaran aja.”
Astuti mengambil ponsel dari dalam tasnya kemudian mencari gambar sang anak di galerinya. Ibu jari wanita itu terus menscroll deretan foto, mencari gambar Rayi yang paling cantik. Setelah menemukannya, dia memperlihatkan foto Rayi pada Pandu. Senyuman tercetak di wajah Pandu seraya menganggukkan kepalanya. Harus pria itu akui kalau Rayi memang cantik.
“Cantik bu.”
“Benar kan cantik. Jadi gimana? Mau jadi menantu ibu?”
“Kalau saya sih tergantung anak ibu. Kalau anak ibu mau, kita bisa berkenalan dan saling menjajaki dulu.”
“Dia pasti mau.”
Astuti tersenyum senang. Bagaimana pun caranya nanti dia akan memaksa Rayi agar mau berkenalan dan menerima Pandu. Sudah dapat wanita itu bayangkan bagaimana bangganya dia memiliki menantu seperti Pandu.
☘️☘️☘️
Rayi duduk di teras memperhatikan Wisnu yang tengah memberi makan burungnya. Akhir-akhir ini, ayahnya itu memang hobi memelihara burung. Tak jarang Wisnu kerap bertengkar dengan Astuti karena pria itu terlalu asik dengan peliharaannya.
“Mama kemana pa?”
“Tadi bilangnya mau ke mall. Kamu kok ngga kerja?”
“Cuti sehari pa. Aku lagi ngga enak badan.”
Wisnu menoleh ke arah sang anak. Digantungkannya sangkar burung sebelum pria itu duduk di samping sang anak. Sudah seminggu sejak Anfa datang melamarnya, wajah sang anak selalu tampak muram. Penyebabnya sudah pasti sang istri yang masih menentang hubungan anaknya dengan Anfa.
“Bagaimana hubunganmu dengan Anfa?”
“Menurut papa gimana?”
“Putus?”
“Putus sih ngga pa, cuma ya gantung gitu. Papa denger sendiri waktu itu mama ngomong apa. Menurut papa, Anfa sama kak Nina sakit hati ngga?”
Wisnu tak menjawab pertanyaan sang putri, sudah pasti jawabannya sakit hati. Pria itu kembali melihat ke arah Rayi yang nampak sedih. Rayi dan Anfa memang sudah lama menjalin hubungan, dan di saat mereka akan mendekati titik akhir, hubungan mereka justru terhalang restu istrinya sendiri.
“Bilang sama Anfa, kalau dia serius menikahimu, papa siap menikahkan kalian.”
“Dia serius mau nikahin aku, pa. Tapi dia juga mau menuhin syarat dari mama dulu.”
“Nda usah dengarkan keinginan mamamu yang ngaco itu. Kapan kalian akan menikah? Papa siap menjadi walimu.”
“Makasih pa. Tapi Anfa bener-bener mau buktiin ke mama kalau dia sanggup memberikan semua yang mama minta.”
“Anak itu keras kepala juga ternyata.”
“Harga diri pa. Mama sudah menyinggung harga dirinya.”
Wisnu hanya menggelengkan kepalanya saja. Suasana di antara keduanya kembali hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya lamunan mereka buyar ketika melihat sebuah BMW hitam berhenti di depan rumah. Dari dalamnya Astuti turun diikuti seorang pria.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Wisnu berdiri melihat kedatangan sang istri dengan seorang pria yang belum pernah ditemuinya. Sedang Rayi hanya memperhatikan dari tempatnya duduk. Astuti kemudian mengenalkan Pandu pada suaminya, juga Rayi. Dengan malas Rayi berdiri lalu menyambut uluran tangan Pandu tanpa menyebutkan namanya.
“APA???”
Baik Rayi maupun Wisnu memberikan reaksi yang sama. Rayi memandangi Pandu dari atas sampai bawah, begitu juga Wisnu. Kemudian pandangan mereka beralih pada Astuti yang tak henti tersenyum sambil menatap kagum pada sosok Pandu.
“Ibu bercanda ya?” tanya Wisnu.
“Ibu serius pak. Nak Pandu ini punya perusahaan ekspor impor, dia juga masih lajang dan sedang mencari calon istri. Makanya ibu mau menjodohkan Pandu dengan Rayi.”
“Mama emang keterlaluan ya!”
Rayi menghentakkan kakinya dengan kesal kemudian masuk ke dalam rumah. Pandu cukup terkejut melihat reaksi Rayi. Namun Astuti segera menenangkan calon menantunya itu dengan mengatakan kalau Rayi hanya terkejut saja.
“Kalau begitu, saya permisi pulang dulu, pak, bu.”
“Iya nak Pandu, terima kasih sudah mau mengantar ibu pulang.”
“Sama-sama bu.”
“Nanti ibu hubungi nak Pandu. Ibu harap nak Pandu dan Rayi bisa penjajakan secepatnya.”
“Iya bu, saya ikut ibu saja.”
Pandu berpamitan sekali lagi pada pasangan suami istri itu kemudian kembali ke mobilnya. Tak lama kendaraan miliknya melaju meninggalkan kediaman Astuti. Wisnu menatap tajam ke arah sang istri.
“Ibu sudah lama kenal dia?”
“Baru tadi.”
“Ibu baru kenal tadi tapi sudah mau menjodohkan dengan anak kita. Kita belum tahu latar belakang orang itu. Ibu jangan gegabah, jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.”
“Dia itu anak baik. Bibit, bebet dan bobotnya jelas dan cocok jadi menantu kita.”
“Pokoknya bapak nda setuju. Bapak nda mau beli kucing dalam karung!”
Wisnu segera masuk ke dalam rumah meninggalkan sang istri yang masih berkhayal mendapatkan menantu seperti Pandu. Astuti sudah benar-benar yakin kalau Pandu adalah pilihan terbaik untuk Rayi.
☘️☘️☘️
Untuk membuktikan ucapannya kalau Pandu adalah pilihan yang tepat untuk dijadikan menantu, Astuti meminta pria itu datang setiap hari ke rumah. Dia selalu mendorong Rayi mengobrol atau diantar jemput ke tempat kerjaan. Selain untuk mendekatkan Pandu, Astuti juga sengaja melakukan itu untuk menjauhkan Rayi dari Anfa.
Rayi yang kesal dengan sikap sang mama tak bisa berbuat apapun kecuali mengikuti keinginan wanita itu. Astuti kerap berpura-pura sakit jika anak gadisnya itu tak mau menuruti keinginannya.
Diam-diam Wisnu mencari tahu soal Pandu, dia bahkan mendatangi kantor yang diakui Pandu sebagai perusahaannya. Namun tak banyak yang bisa Wisnu dapatkan tentang Pandu. Dirinya pun tak bisa masuk dan bertemu dengan bos perusahaan tersebut tanpa membuat janji terlebih dahulu. Entah mengapa hati kecilnya mengatakan ada sesuatu yang tak beres dengan pria pilihan istrinya itu.
Bahkan Wisnu sampai menghubungi Anfa. Meminta pemuda itu untuk mencari tahu tentang Pandu. Namun penyelidikan Anfa pun terhenti di tengah jalan. Pria bernama Pandu itu seakan dilindungi dinding tebal. Tak ada yang bisa tahu tentang seluk beluk pria tersebut, padahal Anfa sudah meminta bantuan Agung.
Akhirnya Wisnu berhenti mencari tahu tentang Pandu. Namun dia tetap kukuh dengan pendiriannya, tak akan pernah memberikan restu untuk pria itu menikahi anaknya. Di matanya hanya Anfa yang layak mendampingi putrinya sampai akhir hayat. Dan tentu saja ini menjadi bahan perdebatan dengan sang istri setiap hari.
Wisnu mengernyitkan keningnya saat seorang kurir memberikan undangan untuk dirinya menghadiri Gala Diner yang diperuntukan bagi para enterpreneur muda. Yang membuatnya bingung, dirinya jelas tidak masuk kategori muda dan toko sembakonya tidak tergabung dalam asosiasi yang mengundangnya.
__ADS_1
“Apa itu pak?”
Tanya Astuti yang baru saja keluar dari kamar. Nampak wanita itu sudah berdandan rapih, seperti hendak pergi ke suatu tempat. Wisnu memberikan undangan di tangannya kepada sang istri. Astuti membacanya dan sama bingung dengan suaminya.
“Kok bisa bapak dapat undangan ini? Jangan-jangan Pandu yang memberikannya pak.”
“Mana mungkin. Lihat ini nama ketua asosiasinya bukan Pandu. Terus perusahaan yang mensponsori acara bukan perusahaan Pandu tapi Maesya Dunia Corporation.”
“Ya kali aja itu rekanan Pandu. Udah dateng aja pak, pasti yang ikut acara itu orang penting semua.”
“Iya, bapak penasaran. Ini ngomong-ngomong ibu mau kemana? Dandanan udah rapih begini.”
“Pandu mau ngajak ibu sama Rayi shopping. Ini Rayinya mana sih, Rayi.. Rayi!!”
Mendengar teriakan sang mama, Rayi keluar dari kamarnya. Mata Astuti membulat melihat sang putri masih terbalut pakaian santainya. Dengan tenang Rayi menghampiri ibunya.
“Kamu kenapa belum siap? Sebentar lagi Pandu jemput.”
“Mama aja yang pergi sama dia. Kan mama yang seneng pergi sama dia, aku sih ngga.”
Rayi melewati sang mama lalu menghempaskan bokongnya di atas sofa. Wisnu hanya tersenyum geli melihat tingkah sang anak. Dia ikut menyusul duduk di samping Rayi. Astuti yang kesal dengan sikap Rayi segera mendekat lalu menjewer telinga putrinya itu.
“Aduhh... sakit mama!”
“Makanya cepet bangun terus ganti baju kamu!!”
“Ngga mau!!”
“Permisi.”
Perdebatan ibu dan anak itu terhenti ketika mendengar sebuah suara dari arah depan. Astuti bergegas keluar, dia hafal betul pemilik suara tersebut. Senyumnya mengembang ketika melihat Pandu yang datang. Wanita itu segera mengajak Pandu masuk kemudian memanggil Rayi. Ditemani oleh Wisnu, Rayi menghampiri sang mama.
“Sana cepat ganti baju, nak Pandu sudah datang,” titah Astuti namun Rayi bergeming.
“Nak Pandu tidak bekerja? Kok sering sekali kemari di saat jam kerja,” sindir Wisnu.
“Namanya juga bos, pak. Ada anak buah yang mengerjakan pekerjaannya,” bela Astuti.
“Ck.. kak Abi juga bos tapi dia ngga leha-leha tuh,” cetus Rayi seraya memandang sinis pada Pandu.
“Sudah.. sudah.. cepat ganti baju sana.”
“Ngga mau.”
“Kamu ini ya...”
Astuti tak meneruskan ucapannya karena perhatiannya teralihkan pada sebuah kendaraan yang berhenti di depan rumahnya. Seorang wanita berbadan dua turun dari Mercy keluaran terbaru. Tanpa mengucapkan salam dia langsung masuk ke dalam rumah. Tentu saja Astuti sewot dengan kedatangan tamu tak diundang yang bersikap tak sopan. Berbeda dengan Pandu yang terlihat tegang.
“Eh.. siapa kamu masuk ke rumah orang tanpa permisi,” cecar Astuti.
“Saya ke sini cuma mau menjemput suami saya.”
“Siapa suami kamu?”
“Mas Pandu!! Ternyata ini yang kamu lakukan dua minggu belakangan ini? Bagus ya kelakuan kamu. Dan kamu!! Dasar pelakor!!” wanita itu menuding pada Rayi.
“Sek.. sek.. sek.. kamu siapa asal nuduh anak saya pelakor,” sewot Astuti.
“Saya ini istrinya mas Pandu, istri sahnya! Dan ibu lihat, perut buncit saya ini, di sini ada calon anak kami.”
“Pandu itu belum menikah,” kukuh Astuti.
“Belum nikah dua kali maksud ibu? Mas.. jadi kamu benar pilih perempuan ini?”
“Ngga sayang..”
Kepala Astuti seperti dihantam gada besar mendengar jawaban singkat Pandu. Ternyata wanita hamil ini benar istri dari pria yang digadang-gadang akan dijadikan menantu olehnya.
“Ikut aku pulang sekarang atau aku akan bilang sama papa untuk mendepak kamu dari perusahaan. Aku akan bercerai darimu dan kamu kembali menjadi gembel!”
“Ngga sayang, ayo kita pulang sayang.”
Pandu segera membawa istrinya pergi tanpa berpamitan lagi pada penghuni rumah. Tak lama kendaraan mereka meninggalkan kediaman Wisnu. Astuti langsung jatuh terduduk di sofa. Wisnu malah terkekeh melihat istrinya yang nampak shock akan kenyataan yang baru saja terjadi. Pria itu mendudukkan diri di samping sang istri.
“Sudah bu.. sudah.. bapak kan sudah bilang selidiki dulu soal Pandu tapi ibu tuh keras kepala.”
“Ibu ngga nyangka kalau dia sudah menikah.”
“Makanya ma, jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya aja. Cukup ya ma, mama ngga usah jodoh-jodohin aku lagi. Pilihanku tetap Anfa, dan aku akan menikah dengan Anfa, mama setuju atau ngga. Karena yang penting papa merestui.”
Tanpa menunggu jawaban Astuti, Rayi kembali masuk ke dalam kamarnya. Astuti yang kesal tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya masih lemas gara-gara masalah Pandu. Wisnu merangkul bahu istrinya.
“Coba buka hati ibu buat Anfa. Dia itu anak baik. Rayi sudah menceritakan apa yang Wina dan Danu lakukan pada anak itu. Bapak salut sama dia, dia itu lelaki kuat yang bisa bertahan dalam penderitaan. Dia akan menjadi suami yang baik dan akan melindungi juga membahagiakan anak kita.”
“Tapi dia itu ngga punya apa-apa.”
“Harta bisa dicari bu. Tapi kebahagiaan anak kita nda bisa dibeli dengan uang. Sudah, ibu jangan sedih lagi. Mending sekarang kita ke mall, kita beli baju.”
“Beli baju buat apa?”
“Lah katanya ibu mau datang ke acara Gala Diner. Bapak harus beli pakaian baru, pasti orang penting semua yang ada di sana. Ibu juga harus tampil cantik sebagai pendamping bapak,” Wisnu menjawil hidung istrinya.
“Rayi juga diajak ya pak. Siapa tahu nanti dia ketemu eksekutif muda di sana.”
“Iya.. iya... kita ajak Rayi sekalian.”
Senyuman terbit di wajah Astuti. Wanita itu beranjak dari duduknya kemudian menuju kamar sang anak. Dia juga akan mengajak Rayi berbelanja pakaian untuk menghadiri acara gala diner besok malam.
☘️☘️☘️
**Aseekkk Astuti bakal ketemu Rahma nih. Kira² situasinya akan seperti apa ya🤔
Sambil menunggu pertemuan dua nyonya besar, intip yuk salah satu karya othor muda yang sepertinya sih ganteng🤭
Cerita Sean dan Tasya yang harus menjalani pernikahan atas perjodohan kedua orang tua mereka. Buat yang suka dengan genre perjodohan, silahkan mampir dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like, comment and rate bintang 5. Hatur tengkyu readers keceku😘**
__ADS_1