KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bonchap : Ngidam Bikin Runyam #1


__ADS_3

“Panda!!”


Terdengar teriakan lima oktaf Adinda memanggil suaminya. Jojo yang sedang berada di ruang kerja bergegas menghampiri sang istri. Setelah melewati ruang keluarga, pria itu akhirnya sampai juga di dalam kamar. Saat ini Jojo memang sudah memiliki rumah sendiri. Dia memutuskan membeli rumah di dekat Cakra. Pria itu sengaja memilih tempat tinggal di dekatnya agar tidak kesulitan saat meminta sahabatnya itu membantu menjaga anak-anaknya.


“Ada apa manda?”


“Ini bantuin dong. Itu Barra belum dipakein baju. Mama Rahma udah telponin terus. Mba Dira!!”


Jojo segera membantu anak sulungnya untuk berpakaian karena tak ingin mendengar omelan istrinya. lagi. Tak lama, Dira, baby sitter yang membantu Adinda mengurus anak-anaknya datang.


Jojo dan Adinda telah dikaruniai tiga orang anak. Anak pertama Barra, sedang anak keduanya kembar, yang diberi nama Nayara dan Naraya. Barra dan si kembar hanya berjarak satu setengah tahun saja. Dan kini si kembar sudah berusia dua tahun. Adinda sendiri tengah hamil anak keempatnya. Usia kandungan wanita itu baru berjalan dua bulan.


“Mba Dira, ini tolong Naya sama Naranya dipakein baju. Aku mau mandi dulu.”


“Iya bu.”


Dira segera membawa Naya dan Nara ke kamarnya kemudian memilihkan baju untuk mereka. Adinda segera masuk ke kamar mandi. dia harus cepat-cepat bersiap, Rahma sudah menunggu kedatangan mereka. Rencananya Rahma akan mengajak cucu-cucunya berjalan-jalan.


Tiga puluh menit kemudian, semua sudah siap. Jojo menggendong si kembar kemudian memasukkan ke dalam mobil, bersama dengan Barra, ketiga anaknya duduk di jok belakang. Tak lama Adinda menyusul masuk. Jojo segera melajukan kendaraannya.


Kedatangan Jojo dan Adinda sudah ditunggu oleh Teddy dan Rahma. Hari ini dia sengaja mengajak semua cucunya berjalan-jalan. Anfa, Rayi, Kevin dan Rindu yang akan menemani mereka. Sedang anak-anaknya yang lain diberikan kebebasan untuk menikmati waktu mereka masing-masing. Hati Rahma dan Teddy tengah bahagia, karena selain Adinda, Nina, Nadia dan Sekar tengah hamil juga.


Iring-iringan kendaraan meninggalkan kediaman Teddy. Jojo dan Adina masih bertahan di tempatnya sampai ketiga mobil tersebut menghilang dari pandangan. Keduanya kemudian masuk kembali ke dalam mobil.


“Panda, aku pengen makan batagor,” ujar Adinda seraya memakai seat belt.


“Boleh. Kita ke batagor Riri aja gimana?”


“Ngga mau. aku pengen makan batagor yang dijual di pinggir jalan.”


“Ok sayang. Apa sih yang ngga buat manda tercinta.”


Jojo menyalakan mesin mobil kemudian segera menekan pedal gasnya, perlahan Honda Civic itu meluncur pergi. Jojo melambatkan laju kendaraannya saat melewati deretan pedagang kaki lima. Dia berhenti di depan gerobak yang berjualan batagor. Namun Adinda menggelengkan kepalanya, pria itu kembali menjalankan kendaraan.


Sudah lima kali Jojo menghentikan kendaraannya di depan penjual batagor namun Adinda selalu menggelengkan kepalanya. Akhirnya Jojo menghentikan kendaraannya di dekat taman.


“Manda mau yang kaya gimana batagornya?”


“Aku pengen makan batagor yang jual di pinggir jalan.”


“Iya kan tadi panda udah berapa kali berhenti, cuma mandanya ngga mau aja.”


“Aku mau yang jualan batagornya kepalanya botak panda.”


“Astaga!”


Jojo menepuk keningnya mendengar permintaan nyeleneh sang istri. Dia melihat ke arah Adinda yang nampak serius dengan ucapannya.


“Kenapa harus botak?”


“Ngga tau. Kepengen aja, bawaan utun kali,” Adinda mengusap perutnya yang masih rata.


Jojo tak punya pilihan selain mengikuti kemauan sang istri. Dia kembali melajukan kendaraannya, mencari penjual batagor pinggir jalan yang berkepala botak. Setelah berkeliling setengah jam lamanya, akhirnya dia menemukan penjual batagor berkepala botak. Dia menghentikan mobil di depan gerobak batagor.


“Mau beli berapa manda batagornya?”


“Ngga mau.”


“Kenapa? Itu yang jualnya botak.”


“Masih ada rambutnya itu. Aku mau yang jual kepalanya botak licin kaya Ipin.”


“Hah???”


Jojo kembali terkejut mendengar permintaan sang istri. Dengan perasaan dongkol dia kembali menjalankan kendaraannya. Hatinya tak henti menggerutu karena permintaan aneh istrinya. Pria itu terus memutari kota Bandung, mencari pedagang batagor yang sesuai kriteria istrinya.


Lelah berkendara hampir dua jam lamanya, Jojo menghentikan kendaraannya di dekat trotoar yang dipenuhi pedagang kaki lima. Dia melihat sekeliling, lalu menangkap penjual batagor di antara para pedagang yang mangkal.


“Manda mau minum cendol apa cingcau dulu ngga? Panda haus nih,” Jojo mengusap kerongkongannya.


“Boleh, aku mau cingcau tapi cingcaunya jangan banyak-banyak. Sirupnya aja banyakin sama esnya ya.”


“Ok deh. Kamu tunggu di sini aja ya.”


“Iya.”


Jojo membuka jendela mobil lalu mematikan mesin. Dia kemudian turun dari mobil dan menghampiri penjual es cingcau. Setelah memesan untuk dirinya juga sang istri, Jojo berjalan menuju pedagang batagor yang kebetulan sepi pembeli. Jojo memperhatikan sang penjual yang kira-kira seumuran dengan Anfa. Rambutnya sebahu dan wajahnya juga tidak terlalu jelek. Dia segera menghampiri penjual tersebut.

__ADS_1


“Bang..”


“Iya a.. mau batagor.”


“Iya tapi gini bang. Istri saya lagi ngidam pengen makan batagor tapi yang jual kepalanya harus botak kaya Ipin. Saya udah keliling-keliling tapi ngga nemu.”


“Terus?”


“Abang mau ngga dibotakin? Nanti saya ganti rugi deh buat bayar rambutnya.”


“Emang harus botak ya?”


“Iya. Gimana? Mau ngga?”


“Aa berani bayar berapa?”


“Abang minta berapa?”


Pemuda itu terdiam sejenak. Sebenarnya dia tak rela rambutnya harus dicukur plontos seperti Ipin, tapi imbalan uang yang ditawarkan Jojo begitu menggodanya. Apalagi sudah tiga hari ini dagangannya sepi.


“Saya minta sejuta a, sanggup ngga?”


“Saya kasih tiga juta, tapi langsung cukur sekarang. Gimana?”


“Serius a?”


“Iya.”


“Ok a, saya cukur di DPR dulu. Ngga lama kok.”


“Eh DPR di mana? Jauh ngga?”


“Ngga a, tuh di sana. Di bawah Pohon Rindang.”


Penjual batagor tersebut menunjuk ke arah pohon besar yang tak jauh dari gerobaknya. Nampak seorang pencukur mangkal di sana. Jojo menganggukkan kepalanya. Dia lalu mengatakan apa yang harus dilakukan penjual tersebut setelah mencukur rambutnya. Tak lama pemuda itu berlari menuju pohon tersebut. Sedang Jojo kembali ke mobilnya agar Adinda tak curiga.


Sesuai intruksi Jojo, sang penjual batagor berjalan mendekat seraya membawa kantong plastik di tangannya. Dia memberikan kantong berisi batagor pada tukang parkir yang ada di dekat mobil Jojo.


“Waduh nuhun kasep, nyaho wae bapa keur hayang batagor. Tapi naha eta sirah bet jadi bolenang kitu? (makasih cakep, tahu aja bapak lagi pengen batagor. Tapi itu kenapa kepala jadi botak)”


“Gaya anyar pak. Pusing lah jomblo wae. Sugan we geus botak kieu aya nu nyangsang. (gaya baru pak. Pusing jomblo terus. Kali aja udah botak ada yang mau.”


Mendengar percakapan keduanya, Jojo melihat ke arah Adinda yang tengah memperhatikan penjual batagor yang telah berubah penampilannya. Rambut di kepala penjual itu telah habis tak bersisa, licin seperti kepala Ipin.


“Panda, itu tukang batagor bukan?”


“Bentar panda tanya dulu ya. Kalau tukang batagor, kamu mau beli?”


“Iya, beliin lima porsi.”


“Ok manda sayang.”


Jojo turun dari mobilnya dengan perasaan senang. Usahanya berhasil juga, dia segera mendekati penjual tersebut. Dengan cepat pria itu membuatkan lima porsi batagor pesanan Jojo.


“Nih buat bayar batagornya,” Jojo menyerahkan selembar lima puluh ribuan.


“Dan ini buat ongkos cukurnya.”


Jojo mengeluarkan uang sejumlah tiga juta rupiah lalu memberikannya pada penjual tersebut. Pemuda itu membelalak melihat uang dalam jumlah besar. Seumur hidupnya paling banyak dia memegang uang hanya sejuta saja. Dengan senang hati dia menerima pemberian Jojo.


“Alhamdulillah, nuhun a. Hatur nuhun pisan.”


“Sama-sama bang. Saya pergi dulu ya.”


“Eh a, ini batagornya ngga usah dibayar.”


“Ambil aja, saya beli bukan minta.”


Jojo bergegas kembali ke mobilnya untuk menyerahkan batagor pesanan sang istri. Hatinya senang bisa memenuhi keinginan ngidam Adinda yang sedikit nyeleneh. Tentu saja pria itu akan meminta bayaran atas kerja kerasnya. Apalagi kalau bukan berolahraga di atas kasur. Kebetulan sekali semua anaknya tengah pergi berpiknik. Jadi tidak akan ada yang mengganggu olahraga ranjang mereka.


☘️☘️☘️


Setali tiga uang dengan Adinda, Sekar juga tengah menginginkan sesuatu di kehamilannya saat ini. Tiba-tiba saja dia ingin makan mie kocok. Kelebatan makanan yang berisikan mie dengan taburan kikil di atasnya membuat air liurnya hendak menetes. Dia segera menghubungi suaminya yang berada di kantor.


“Abang..”


“Iya sayang.”

__ADS_1


“Aku pengen makan mie kocok. Tapi harus abang yang beli.”


“Ok cintaku. Abang beliin sekarang deh.”


“Tapi abang harus belinya di gang celepot ya, enak mie kocoknya yang di sana. Ngga pake lama ya bang, sejam harus udah ada pesananku.”


“Ok.”


Sekar mengakhiri panggilannya. Cakra segera mencari penjual mie kocok seperti yang dikatakan sang istri. Dia mengetik di laman pencarian ‘mie kocok di gang celepot’. Deretan informasi tentang penjual mie kocok langsung terpampang, Cakra mencari satu per satu alamat yang disebutkan istrinya tadi.


Sudah setengah jam lamanya, Cakra berkutat dengan ponselnya. Berulang kali dia bertanya pada mbah google tentang keberadaan gang celepot tapi tak menemukannya. Pria itu lalu menghubungi asisten juga sekretarisnya menanyakan nama gang yang memang sedikit aneh. Bahkan dia menghubungi Beno juga Agung, siapa tahu saja anak buahnya ada yang tahu tentang gang yang tidak diketahui keberadaannya.


Cakra melihat jam di pergelangan tangannya, hanya tinggal sepuluh menit tersisa dari waktu yang ditentukan sang istri. Akhirnya Cakra menyerah dan memilih menghubungi Sekar dengan resiko menerima semprotannya. Di kehamilannya kali ini Sekar lebih galak dan cerewet, setiap meminta sesuatu, dia tak suka kalau Cakra banya bertanya tentang permintaannya.


“Apa abang? Mie kocoknya udah ada?”


“Ennnggg.. ini Yang. Itu gang celepot di mana sih? Abang udah ubek-ubek di google tapi ngga nemu. Abang juga nanya sana-sini tapi ngga ada yang tahu.”


“Ya ngga akanlah kalau nanya sama mbah google. Namanya juga gang celepot, ya pasti ngga terdaftar di peta. Harusnya abang tanya sama Rindu, Gurit atau Radix. Cuma mereka yang tahu keberadaan gang celepot. Udah ah, aku cuma kasih tambahan waktu setengah jam, pesenannya harus udah ada!”


Sekar memutuskan panggilan. Cakra segera menghubungi Rindu, tapi panggilannya tak terjawab. Dia kemudian menghubungi Gurit yang terhubung pada kotak suara. Harapannya hanya ada pada Radix, beruntung pria itu langsung menjawab panggilannya.


“Dix..”


“Iya bang.”


“Sekar pengen makan mie kocok gang celepot, katanya cuma kamu, Gurit sama Rindu yang tahu lokasinya.”


“Oh.. mie kocok gang celepot ada di deket kampus bang. Di sebelah parkiran motor, ada gang kecil, nah kita namainnya gang celepot. Ngga jauh kok, ada di sebelah kanan, yang jualnya emak-emak.”


“Astaga, dari tadi kek. Ya udah makasih infonya.”


Cakra memutuskan panggilannya kemudian bergegas menuju kampus tempat sang istri dulu menimba ilmu. Suasana depan kampus cukup ramai, banyak mahasiswa yang nongkrong menunggu pergantian jam kuliah di sana. Pria itu melangkahkan kakinya memasuki gang kecil yang letaknya di samping parkiran motor. Pantas saja disebut gang celepot, karena gangnya memang sempit. Jangankan motor, dua orang berjalan pun harus dengan posisi miring.


Sesuai intruksi Radix, Cakra dengan cepat menemukan keberadaan penjual mie kocok. Ternyata hanya tinggal tersisa satu porsi saja, pria itu segera memesannya. Setelah berhasil mendapatkan mie kocok, Cakra bergegas pulang ke rumah. Kedatangannya sudah ditunggu oleh Sekar.


“Nih Yang, tinggal sisa satu.”


“Ya udah abang aja yang makan,” jawab Sekar santai.


“Loh kok abang. Kan kamu yang mau makan.”


“Tadinya, tapi abang kelamaan sih. Jadinya aku makan nasi padang aja tadi.”


“Ya salam. Terus ini mie kocoknya gimana?”


“Abang yang makan.”


“Abang masih kenyang, tadi udah makan siang.”


“Mubazir abang. Udah cepetan makan!”


Cakra tak punya pilihan lain jika sudah mendengar suara istrinya meninggi. Walau perutnya masih terasa kenyang, sebisa mungkin dia menghabiskan mie kocok yang ternyata rasanya memang enak. Sekar menghampiri Cakra begitu suaminya itu selesai menghabiskan mie kocok.


“Mana bang mie kocoknya?”


“Udah abis, tadi katanya nyuruh abang makan.”


“Diabisin?”


“Iya.”


“Abang gimana sih, ngga nyisain buat aku. Kan aku juga mau.”


“Kan kamu yang nyuruh makan,” gemas Cakra, seolah dirinya menjadi tersangka saja. padahal dia hanya menjalankan titah sang ibu ratu.


“Aku kan nyuruh makan bukan ngabisin. Abang gimana sih? Terus sekarang aku gimana dong?”


“Ya mau gimana lagi, orang udah abis.”


“Abang jahat hiks.. hiks.. ngga inget sama istri dan anaknya hiks.. hiks..”


“Ya salam.”


Cakra menepuk keningnya melihat Sekar nangis sesenggukan karena mie kocok sudah tandas dimakannya.


☘️☘️☘️

__ADS_1


**Sabar Jojo, sabar Cakra...😂


Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan🙏**


__ADS_2