KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Pertengkaran


__ADS_3

“Sayaaang..”


Tanpa mengetuk pintu, Naya langsung masuk ke dalam ruangan Aric. Kania, sekretaris Aric segera keluar ruangan melihat calon istri atasannya datang. Wanita itu sedikit tak nyaman jika Naya datang berkunjung. Naya selalu saja cemburu padanya. Hanya karena menyandang status janda, Naya selalu mengira dirinya berusaha merebut Aric. Padahal Kania dan Aric sudah berteman sejak kuliah. Aric memberinya pekerjaan selain karena kemampuan kerjanya, pria itu juga prihatin dengan kehidupan temannya yang harus menghidupi dua orang anaknya sendiri karena sang suami telah meninggal dunia.


Naya menghampiri Aric yang duduk di kursi kerjanya. Dia berdiri sambil menyandarkan bokongnya ke meja kerja. Melihat wajah Naya, Aric sudah bisa menebak kalau ada yang diinginkan oleh tunangannya ini.


“Ada apa?”


“Abang... tadi malam aku dimarahin papa gara-gara aku ngundang wartawan. Emang salah ya? Aku kan cuma mau berbagi kabar bahagia aja, tapi kenapa malah jadi masalah besar. Terus pemberitaan pertunangan kita juga dihapus dari media, kenapa?”


“Nay.. kamu tahu kan aturan dalam keluarga Hikmat. Tapi kenapa kamu malah melakukan itu, tanpa membicarakannya denganku juga. Kamu tahu masalah apa yang aku hadapi gara-gara kecerobohanmu? Wajar saja kalau papa juga marah padamu. Karena papa juga bagian dari keluarga Hikmat, dia juga tahu aturan itu.”


“Kalian tuh lebay tahu ngga. Bahkan keluarga kerajaan Inggris atau Arab saja ngga lepas dari pemberitaan, kenapa kalian yang cuma menyandang status pengusaha kesannya eksklusif banget.”


Naya meninggalkan meja Aric lalu menghempaskan bokongnya di sofa. Gadis ini tengah memakai jurus andalan, merajuk pada kekasihnya. Aric masih bertahan di tempatnya. Sejak kecil berteman dengan Naya dan empat tahun menjalin hubungan dengannya, semakin hari Aric semakin tak mengenali kekasihnya lagi. Selama dua tahun terakhir, Naya banyak berubah.


“Ada apa sebenarnya dengan kamu, Nay? Apa kamu sadar kalau kamu sudah banyak berubah. Naya yang kukenal dulu bukan Naya yang seperti ini.”


“Manusia itu makhluk hidup yang terus berkembang. Jadi wajar kalau manusia itu dinamis, bukan statis. Bukan cuma aku, abang juga berubah. Dulu abang selalu nurutin apa mauku tanpa bertanya, tapi sekarang.. selalu ada perdebatan di antara kita.”


“Karena semakin ke sini kamu selalu meminta hal yang ngga bisa kumengerti. Pesta pertunangan mewah, cincin pertunangan yang harganya milyaran, belum lagi gaya hidup kamu yang semakin hedon. Apa kamu sadar semua itu?”


“Abang nyesel melakukan semua untukku? Membuat pesta pertunangan yang mewah, membelikan cincin pertunangan yang mahal dan membelikanku barang-barang mewah, abang menyesal? Ngga ikhlas? Oke.. aku akan kembalikan semua uang abang.”


“Aku ngga perlu uangmu. Aku hanya ingin kamu kembali seperti dulu, menjadi Nayaku yang manis dan tidak bersikap kekanakkan seperti ini.”


Perdebatan keduanya terhenti ketika ponsel Naya berdering. Untuk beberapa saat gadis itu menerima panggilan dari salah satu kantor berita yang akan mewawancaranya. Setelah panggilannya berakhir, wajah Naya terlihat semakin kesal. Dia kembali mendekati Aric.


“Barusan ada telepon. Wawancara aku dengan beberapa stasiun televisi dan juga media sosial dibatalkan. Abang yang melakukan itu semua?”


“Bukan.. om Abi yang melakukannya. Kalau kamu mau protes, silahkan protes padanya. Dan sekalian juga kamu datangi om Juna dan om Anfa, karena mereka mendukung keputusan om Abi, termasuk papaku.”


Mulut Naya terbungkam mendengar nama Abi keluar dari mulutnya. Ayah dari Kenzie itu memiliki aura yang kuat. Jujur saja, Naya memang lebih takut pada pria itu dari pada papanya sendiri. Belum lagi dia pernah mendengar dari seseorang sepak terjang dan kekejaman Abi. Dan itu semakin membuatnya takut. Sebisa mungkin Naya menjaga jarak dari pria itu.


“Kamu sudah melakukan kesalahan fatal Nay, dan kita berdua yang terkena imbasnya. Jadi.. jangan bertindak gegabah lagi.”


“Ok.. aku mau ketemu WO dulu. Pernikahan kita sebulan lagi. Masih banyak yang harus disiapkan.”


“Pernikahan kita diundur, Nay.”


Naya menghentikan langkahnya begitu mendengar ucapan Aric. Dia menoleh ke arah tunangannya yang mengatakan itu semua tanpa beban.


“Diundur?”


“Iya.. itu hukuman yang harus kita terima karena kecerobohanmu kemarin.”


“Abaaanngg!!”


“Terima aja Nay.”


“Berapa lama? Satu bulan? Dua bulan?”


“Pernikahan diundur sampai waktu yang tidak ditentukan. Kita akan menikah kalau kamu sudah bisa mengubah semua sifat burukmu itu.”


“Apa om Abi juga yang menyuruhnya?” sengit Naya.


“Om Abi memintaku mengundurkan pernikahan sampai tiga bulan. Tapi aku yang mengusulkan sampai waktu yang tak terbatas. Kita perlu memikirkan hubungan kita kembali, Nay.”


“Terserah!!”


Naya keluar dari ruangan sambil membanting pintu. Kania yang tengah berkutat dengan beberapa dokumen sampai terlonjak dari duduknya. Aric menghembuskan nafas panjang melihat kepergian kekasihnya. Walau berat, dia harus mengambil langkah ini. Perubahan drastis Naya selama dua tahun belakangan ini membuatnya curiga. Sebelum meneruskan hubungan mereka ke jenjang pernikahan, dia harus memastikan dulu apa yang membuat Naya berubah seperti ini.


☘️☘️☘️


“Assalamu’alaikum.. om Jo..”


“Waalaikumsalam. Masuk Han.”


Hanna masuk ke ruangan Jojo. Sudah seminggu gadis itu bergabung di perusahaan membantu papanya. Dan kali ini Hanna ditugaskan Anfa untuk membahas proyek bersama J&J Entertainment. The Ocean Corporation berencana mensponsori film terbaru dari rumah produksi yang Jojo gawangi.


Jojo bangun dari duduknya lalu menghampiri Hanna. Pria paruh baya itu meminta Hanna duduk di sofa. Jojo cukup kagum dengan Hanna. Bukan hanya pintar, tapi gadis itu juga cekatan dalam bekerja. Tak heran kalau Anfa langsung menariknya bekerja di perusahaan. Bahkan saat menyelesaikan studi S2 nya di Jepang, Hanna sempat menjadi manager di salah satu perusahaan besar di sana.


“Ada apa nih ke sini? Kangen sama om ya.”


“Kangen sama angpaunya om.”


“Masa udah besar kaya gini minta angpau. Kalau minta jodoh, nanti om kasih. Barra masih jomblo tuh,” goda Jojo.


“Iih.. om Jo, dari dulu kerjaannya jodoh-jodohin anaknya mulu.”


Lelaki tergelak mendengarnya. Memang benar, sejak dulu dia senang sekali menjodohkan anak-anaknya. Bukan hanya anaknya saja, tapi dia juga suka mengira-ngira anak para sahabatnya akan berjodoh dengan siapa.


“Jadi, ada apa nih Han?”


“Gini om. Aku ke sini mau ngomongin soal proyek film terbaru yang mau digarap J&J Entertainment.”


“Oh soal itu. Bukannya itu tugasnya Kemal ya.”

__ADS_1


“Mulai sekarang itu tugasku om. Katanya film ini proyek kerjasama dengan rumah produksi dari Korea?”


“Iya. Pemainnya juga gabungan Indonesia dan Korea, rencana lokasi syutingnya di Raja Ampat, Jakarta, Seoul dan pulau Jeju.”


“Wah pasti keren tuh om. Jadi gimana nih, bisa kita mulai.”


“Kalau soal itu, kamu diskusinya sama Barra. Karena dia yang menangani proyek ini. Kamu ke lantai enam aja. Ruangannya di sana.”


“Ok om. Aku pergi dulu ya.”


Hanna meraih tangan Jojo lalu mencium punggung tangannya. Gadis itu lalu keluar dari ruangan. Dia berjalan menuju lift. Kebetulan sekali saat sampai, pintu lift terbuka, Hanna langsung masuk ke dalamnya. Tak butuh lama untuk sampai di lantai enam. Kaki Hanna melangkah keluar dari kotak besi tersebut.


Suasana di lantai enam ini lebih ramai dari lantai tujuh. Gadis itu menghampiri salah satu karyawan untuk menanyakan ruangan Jojo. Ini kali pertamanya datang ke kantor J&J Entertainment. Karyawan yang ditemui Hanna berbaik hati mengantarkan gadis itu ke ruangan Barra. Setelah merapihkan pakaiannya, tangan Hanna mengetuk daun pintu.


“Masuk.”


Terdengar suara Barra dari dalam. Hanna menggeser pintu kaca berwarna gelap itu, lalu masuk ke dalam. Kedatangannya langsung disambut oleh Barra juga Irvin. Jojo memang telah memberitahu mereka tentang kedatangan Hanna perihal proyek film terbaru mereka.


“Hai, Vin..” sapa Hanna.


“Hai Han. Ayo duduk.”


Irvin mempersilahkan Hanna untuk duduk di sofa. Irvin, anak dari Radix sekarang bekerja di kantor Jojo. Dia diminta menjadi asisten Barra, untuk membantu pekerjaan pria itu. Radix dan Gurit juga masih bekerja di sana. Barra bangun dari kursi kerjanya lalu ikut bergabung di sofa.


“Kamu mau ngomongin soal proyek film terbaru ya?” tanya Barra.


“Iya bang. Sekarang soal itu udah jadi tanggung jawab aku.”


“Kamu udah mulai kerja Han?” tanya Irvin.


“Iya, udah seminggu.”


Hanna mengeluarkan berkas yang berisi butir-butir perjanjian yang diajukan perusahaannya. Sebelumnya Kemal telah menyusunnya, namun Hanna sedikit merevisi dan menambah beberapa butir kesepakatan. Barra membaca berkas yang dibawa Hanna. Dia tak merasa keberatan dengan perjanjian yang ditawarkan gadis itu.


“Kapan aku dapat salinan skenarionya? Biar aku bisa mutusin di mana aja promosi kami diselipkan.”


“Skenarionya masih dalam tahap revisi. Maklum yang menyusunnya gabungan dari sini dan PH di sana. Penulisnya masih berdiskusi biar chemistry-nya dapet dan ceritanya kuat. Tapi ini sedikit gambaran soal proyek film kita.”


Tangan Barra terulur memberikan sebundel kertas pada Hanna. Gadis itu mulai serius membacanya. Barra terus memperhatikan Hanna. Penampilan gadis itu sudah jauh berubah. Anak tomboy itu sudah berubah menjadi gadis cantik dan feminin.


Irvin berdehem membuyarkan lamunan Barra. Pemuda itu menggoda atasannya lewat tatapan mata. Barra hanya menggelengkan kepalanya saja, namun dalam hatinya mengakui kalau Hanna itu menarik dan cantik pastinya.


“Aku suka ceritanya. Ngga bertele-tele dan bagus. Aku ngebayangin adegan actionnya pasti keren banget. Film ini pasti banyak masukin unsur efect ya di dalamnya.”


“Iya. Kita kan harus sudah bisa membuat film sekelas Hollywood. India saja bisa masa kita ngga.”


“Betul juga. Teknologi perfilman kita udah maju juga kok sekarang. Tinggal ngembangin ceritanya aja. Kadang kita masih lemah di unsur cerita.”


Bukan hanya Barra, Hanna juga senang bertemu dengan Barra. Berdiskusi dengan pria itu benar-benar mengasyikkan. Dulu Hanna memang tidak terlalu akrab dengan Barra. Dia hanya dekat dengan ketiga kakak sepupunya saja plus adik sepupunya, Kenan. Barra sendiri lebih dekat dengan Freya. Setahunya dulu Barra itu anak yang jahil. Dia senang sekali membuat Freya menangis. Tapi sekarang, Barra sudah tumbuh menjadi pria yang gagah juga tampan.


“Kamu masih ada kerjaan lain ngga Han?” tanya Irvin.


“Ngga juga sih. Urusan di kantor udah beres juga, aku tinggal monitoring aja.”


“Makan siang bareng yuk. Udah lama kan kita ngga makan siang bareng. Abang ikut aja sekalian, dari pada ngenes makan sendiri. Maklum jomblo,” ledek Irvin.


“Heleh.. jomblo ngeledekin jomblo.”


“Jadi kalian berdua masih jomblo. Tapi kalian ngga terlibat cinlok kan?”


“Mana ada!!”


Hanna tergelak mendengar jawaban Barra dan Irvin. Untuk sesaat Barra terpana melihat deretan gigi putih Hanna. Dadanya sedikit berdesir melihat senyum manis gadis itu. Irvin yang menangkap perubahan mimik wajah Barra, sudah tahu kalau atasannya itu tertarik pada Hanna. Tatapannya sedikit berbeda saat menatap gadis lain, termasuk Freya.


“Gimana kalau kita pergi sekarang? Lokasi tempat makannya agak jauh dari sini,” seru Irvin.


“Emang mau makan di mana sih?” tanya Barra.


“Di dago atas dekat Dago Pakar ada resto baru. Tempatnya cozy abis, makanannya juga enak. Pokoknya recomended banget. Gimana?”


“Ok lah kalau begitu.”


Barra bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil kunci mobilnya. Begitu pula dengan Irvin dan Hanna, keduanya bersiap untuk pergi. Tak lama ketiganya keluar ruangan bersama. Beberapa pegawai pria yang ada di lantai ini melihat Hanna tanpa berkedip dan itu sukses membuat Barra kesal. Pria itu langsung merangkul bahu Hanna dan sukses mengejutkan gadis tersebut.


“Sorry Han, di sini cowoknya rata-rata nabirong. Jadi ini salah satu cara biar kamu aman.”


“Nabirong apaan bang?”


“N*fsu bir*hi merongrong.”


“Heleh modus,” gumam Irvin pelan namun masih bisa didengar oleh Barra. Dengan cepat pria itu menoyor kepala sang asisten.


Tak berapa lama, ketiganya sampai di parkiran. Karena Hanna membawa kendaraan sendiri, gadis itu memilih mengikuti kendaraan Barra dari belakang. Namun pria itu berinisiatif menyetir mobil Hanna, sedang Irvin akan membawa mobilnya.


“Biar aku yang nyetir mobil kamu. Soalnya baru-baru ini ada pengalihan lalu lintas. Takutnya nanti kamu malah ditilang karena salah jalan.”


“Modus mulu bang,” bisik Irvin.

__ADS_1


“Diem kampret.”


“Ok bang. Ini kunci mobilnya.”


Senyum terbit di wajah Barra. Dengan cepat dia menyambar kunci mobil lalu masuk ke dalam Mini Cooper berwarna merah itu. Hanna menyusul naik lalu duduk di samping kursi pengemudi. Irvin lebih dulu keluar dari parkiran, BMW sport putih itu segera melaju diikuti Barra dari belakang.


☘️☘️☘️


Semilir angin menerpa rambut Hanna, membuat anak rambutnya menari-nari hingga menutupi wajahnya. Hanna merapihkan rambut lalu mengambil ikatan dari dalam tasnya. Gadis itu mengikat asal rambutnya dan sialnya itu semakin membuatnya terlihat semakin cantik di mata Barra.


Mata Hanna tak henti melihat pemandangan di sekitar resto tersebut. Seperti yang Irvin katakan tadi, tempat ini memang memiliki pemandangan yang bagus. Pantas saja banyak kaum muda yang menjadi pengunjungnya.


“Han.. kamu tahu kalau perusahaan papamu membentuk tim bola voli putra?” tanya Barra.


“Iya aku tahu. Aku ngga sabar nunggu turnamennya nih.”


“Emang kapan sih?” sambar Irvin.


“Dua bulan lagi.”


“Katanya mau ambil pemain asing juga ya.”


“Iya. Pemain asing itu kebutuhan juga sih. Kata pak Bowo, tim kita masih kekurangan outside hitter sama opposite.”


“Apaan tuh?” tanya Barra, pria itu memang tidak paham soal permainan voli.


“Dijelasin juga ngga akan ngerti. Secara abang kan tau olahraga cuma gobak sodor doang huahahaha..”


“Rese lo.”


Hanna tertawa mendengarnya. Lagi-lagi Barra dibuat terpana oleh gadis itu. Sepertinya cupid tengah mengarahkan panah cintanya pada pria tampan itu.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Mata Hanna berbinar melihat makanan pesanannya. Sudah lama sekali dia ingin mencicipi salah satu makanan kesukaannya. Selama tinggal di Jepang, gadis itu tak pernah memakannya lagi.


“Jauh-jauh ke sini lo cuma pesen karedok doang,” seru Irvin.


“Gue kangen banget makan karedok. Di Jepang gue ngga pernah nemu nih makanan.”


“Ya mana ada. Kalaupun ada paling dikasih wasabi hahaha..”


Mata Hanna terpejam saat menyuapkan karedok ke dalam mulutnya. Sudah lama sekali dia merindukan makanan seperti ini. Dengan lahap dia mulai memakan makanannya. Barra memandangi pesanan Hanna yang hanya terdiri dari nasi putih, karedok dan tempe mendoan saja. Orang yang melihatnya pasti tak akan menyangka kalau gadis itu adalah salah satu anggota keluarga Hikmat. Putri dari CEO The Ocean Corporation.


“Han.. lo masih sama Toza?” tanya Irvin.


Uhuk.. uhuk..


Hanna terbatuk saat Irvin menyinggung soal Tozaki, mantan pacarnya. Barra buru-buru mengulurkan minuman pada gadis itu. Dengan sabar dia menunggu Hanna pulih dari tersedaknya. Pria itu tiba-tiba penasaran dengan nama yang disebutkan Irvin tadi.


“Lo masih sama Toza?”


Irvin mengulangi pertanyaannya. Selain Azra, Freya, Naya dan Nara. Hanna juga bersahabat dekat dengan Irvin. Dia sering menceritakan tentang Toza pada lelaki itu.


“Udah putus.”


“Serius? Lo kan ketiban lope gede banget sama dia.”


“Sialan lo!”


“Hahahaha..”


Hanna menendang kaki Irvin. Dia merasa malu pada Barra karena ucapan Irvin yang tanpa saringan. Barra sendiri bersikap biasa saja, dengan tenang dia mengunyah makanannya, padahal telinganya terbuka lebar menunggu cerita selanjutnya tentang Tozaki.


“Pas putus dari dia, lo nangis guling-guling ngga?”


“Viiiiinnn.. sumpah ya mulut lo. Bisa diem ngga? Bikin selera makan gue hilang aja,” kesal Hanna. Tapi sang pelaku justru terkekeh geli.


“Perlu aku lakban ngga mulutnya?” timpal Barra.


“Boleh bang. Lakban aja, tapi sebelumnya sumpel dulu pake kaos kaki basah.”


“Hahahaha..”


Irvin malah terbahak mendengarnya. Hanna melihat keki ke arahnya. Sungguh dirinya merasa kehilangan muka di hadapan Barra. Ingin rasanya dia menghilang seketika dari hadapan pria itu.


☘️☘️☘️


**Alhamdulillah hari ini bisa up juga.


Yang nunggu kisah Barra dan Hanna udah dikasih mukadimahnya ya. Selanjutnya... Rahasia🤣🤣🤣


Besok masih lanjut bikin kue, mudah²an bisa up juga ya. Tenang aja kalo semua kue udab beres, nanti mamake kasih, visualnya🤣


Nih visual tokoh selanjutnya, mamake kasih.


Hanna yg bikin Barra cenat cenut**


__ADS_1


Irvin, anak Radix dan Nabila



__ADS_2