KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Perang Barata Yudha


__ADS_3

“NADIA!!!”


Semua yang ada di sana terkesiap mendengar sebuah suara menggelegar. Nampak Abi dengan langkah lebarnya berjalan mendekat ke arah mereka. Adinda sampai menyembunyikan diri di belakang Jojo karena terlalu takut melihat wajah Abi yang seperti akan memakan orang. Hati Sekar pun tak kalah ketar-ketir. Nina bergegas menghampiri sanh suami.


“Di mana otakmu??!! Kenapa kamu mendorong Nina??!!”


“Bawa istrimu pergi, aku tak sudi melihatnya!!”


Semua orang kembali terkejut dengan respon yang diberikan oleh Nadia. Sekar mendekati Nadia, berusaha menenangkan kakak iparnya. Begitu pula dengan Nina, berusaha meredam emosi suaminya.


“Apa salah Nina sampai kamu membencinya? Apa dia yang membuatmu keguguran? Sepertinya otakmu sudah mulai gila seperti ibumu. Apa perlu aku memasukkanmu ke rumah sakit yang sama dengannya?!!”


“ABI!!”


Suasana semakin bertambah tegang dengan kedatangan Juna. Melihat sang istri dihina oleh adiknya sendiri membuat Juna emosi. Lelaki yang biasa bersikap tenang itu berdiri menghalangi sang istri.


“Apa begitu caramu berbicara dengan Nadia? Dia itu kakak iparmu, istriku!!”


“Kalau begitu tanyakan padanya apa yang dilakukan pada istriku. Istrimu ini sepertinya sudah mulai gila!!”


“Jaga mulutmu Bi!! Kamu memang adikku tapi bukan berarti aku tidak bisa menghajarmu!!” tangan Juna terkepal erat.


“Guys STOP!!” Jojo menengahi, pria itu cukup terkejut melihat Abi dan Juna yang biasa terlihat kompak, kini justru bersitegang.


“Kita bisa bicarakan ini baik-baik, okay,” lanjut Jojo.


“Ngga ada yang perlu dibicarakan lagi. Mulai saat ini, jangan pernah dekati istriku lagi,” Abi mengrahkan telunjuknya pada Nadia yang langsung ditepis oleh Juna.


“Pulang!!! Jangan pernah ke sini sebelum kamu berbicara dan bersikap sopan pada istriku!!”


“Aku juga tidak sudi melihatnya lagi!!”


Abi menarik tangan Nina keluar dari kediaman Juna. Jojo meremat rambutnya kasar melihat perang barata yudha yang terjadi di hadapannya. Sekar yang shock melihat pertengkaran kedua kakaknya, tiba-tiba merasakan sakit di perutnya. Adinda yang menyadari itu menahan tubuh Sekar yang limbung.


“Kakak kenapa?”


“Ngga apa-apa Din. Kak Jo.. tolong antar aku pulang.”


Jojo hanya mengangguk pelan. Adinda menuntun Sekar yang berjalan tertatih meninggalkan halaman belakang. Tangannya terus memegangi perutnya yang terasa kram.


“Aku pulang kak. Aku harap kakak bisa bersikap bijak dalam masalah ini. Dan Nadia, renungkan apa yang udah kamu lakuin sama Nina tadi. Kamu hampir membahayakan Nina tadi.”


Tanpa menunggu jawaban keduanya, Jojo bergegas menyusul istrinya juga Sekar. Adinda membukakan pintu belakang mobil untuk Sekar. Tepat di saat Jojo sampai, Sekar tak sadarkan diri. Jojo menangkap tubuh Sekar lalu memasukkannya ke mobil. Adinda menyusul masuk ke kursi belakang. Jojo langsung tancap gas membawa Sekar ke rumah sakit. Tak ada niat untuknya mengabari Juna atau Abi.


Jojo berjalan mondar-mandir di ruang tunggu IGD, ditemani oleh Adinda. Dokter masih belum memeriksa keadaan Sekar. Beberapa menit kemudian dokte yang menangani Sekar keluar, dengan cepat Jojo menghampirinya.


“Bagaimana keadaannya dok?”


“Apa anda suaminya?”


“Hah? Bukan dok, saya kakaknya.”


“Di mana suaminya?”


“Lagi tugas keluar negeri. Ada apa dengan adik saya?”


“Dia mengalami shock tapi kondisinya sudah membaik. Tolong jangan sampai dia merasa stress atau tertekan, terlebih saat hamil muda seperti ini.”


“Ha..mil dok?”


“Iya.”


Jojo bergegas memasuki bilik pemeriksaan, meninggalkan dokter begitu saja. Disibakkan tirai yang menutupi bilik. Nampak Sekar masih terbaring lemah di atas blankar. Jojo mendekati Sekar.


“Se.. kamu hamil?” Sekar hanya mengangguk.


“Apa Cakra udah tahu?” Sekar menggeleng.


“Keluargamu?” Sekar kembali menggeleng.


“Astaga Se.. kenapa kamu ngga kasih tahu mereka?”


Bukannya menjawab, Sekar hanya menangis. Jojo semakin dibuat bingung dengan reaksi Sekar. Sepertinya banyak hal yang terjadi selama dirinya pergi.


“Kenapa Se?”


Dengan suara terbata Sekar menceritakan alasannya belum memberitahu Cakra. Dirinya masih takut kalau sang suami tak percaya dengan berita kehamilannya kali ini. Rencananya untuk memberi kejutan pada Cakra pun tak bisa dilakukan karena dokter melarangnya menaiki pesawat di awal masa kehamilan.


“Tapi kenapa kamu ngga kasih tahu mama?”


“Bagaimana aku bisa kasih tahu soal kabar kehamilanku saat kak Nadia baru aja keguguran. Kakak juga lihat tadi bagaimana sikap kak Nadia pada kak Nina. Aku takut kak, takut kalau kak Nadia juga membenciku. Aku takut kak Abi dan kak Juna akan bertengkar lagi gara-gara kak Nadia.”


Sekar kembali menangis. Jojo menarik Sekar ke dalam pelukannya. Sekar terus menangis dalam pelukan Jojo. Hatinya berharap Cakralah yang ada di sampingnya sekarang untum menenangkan kegundahan hatinya. Adinda hanya diam melihat interaksi Jojo dan Sekar. Jujur saja, hatinya sedikit cemburu. Namun segera ditepisnya perasaan itu, karena tahu hubungan keduanya.


☘️☘️☘️


“Mas...”


Nina mendekati suaminya. Abi yang masih kesal memilih menenangkan diri di teras kamarnya sambil menikmati semilir angin malam. Begitu Nina sampai di sampingnya, direngkuhnya bahu sang istri lalu menarik ke dalam dekapannya. Beberapa kecupan mendarat di puncak kepala Nina.


“Mas.. maaf ya, karena aku, mas dan kak Juna bertengkar.”


“Bukan salahmu sayang. Itu semua karena Nadia.”


“Mas harus mengerti, mungkin kak Nadia masih bersedih. Dia baru aja kehilangan anaknya.”


“Tapi bukan berarti dia bisa melampiaskan kesedihan dan kemarahannya sama kamu. Dia hampir saja membahayakan kandunganmu. Apa kamu tahu, jantung mas hampir berhenti melihat Nadia mendorongmu. Untung Jojo bisa menahan tubuhmu, kalau ngga...”


Abi tak dapat melanjutkan kata-katanya. Membayangkan sesuatu terjadi pada sang istri juga calon anaknya membuat amarahnya kembali naik. Nina memeluk erat pinggang Abi. Bukan hanya Abi, dirinya pun takut sesuatu terjadi tadi. Hanya saja dia berusaha menutupi itu demi meredam amarah sang suami.

__ADS_1


“Aku kecewa sama kak Juna.”


“Tolong jangan menyalahkan kak Juna. Aku yakin, kak Juna juga ngga menyukai kejadian tadi. Tapi biar bagaimana pun, kak Nadia itu istrinya. Seperti halnya mas yang ngga suka melihatku disakiti, kak Juna juga ngga suka melihat mas memperlakukan kak Nadia dengan kasar.”


“Aku tidak akan berkata dan bersikap kasar kalau Nadia tidak menyakitimu, Yang.”


“Aku tahu mas. Aku hanya mencoba berpikir dari sudut pandang kak Juna. Tolong beri kak Nadia waktu. Aku percaya dia akan kembali seperti semula. Saat ini kak Nadia masih belum bisa menerima semuanya.”


“Entahlah.”


Abi hanya mengesah panjang. Sepanjang hidupnya, baru kali ini dia bertengkar dengan Nadia juga sang kakak. Harus diakui hal tersebut mengganggu pikirannya.


“Untuk sementara kamu ngga usah bertemu Nadia dulu.”


“Iya mas.”


“Ayo masuk.”


Abi merangkul pinggang Nina lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Ditutupnya pintu geser yang menghubungkan kamar dengan teras. Pria itu melangkah menuju ranjang kemudian membaringkan sang istri di sana. Tangannya kemudian meraih minyak zaitun di atas nakas. Abi bersiap memijit kaki Nina, rutinitas yang biasa dilakukannya sebelum tidur.


Nina memejamkan matanya menikmati pijatan sang suami di area betisnya. Kakinya memang terasa pegal setelah berjibaku di dapur membuatkan makanan untuk Nadia. Kemudian Abi mulai memijat telapak kakinya. Sesekali kakinya bergerak karena geli yang dirasakannya.


“Mau pijat mana lagi sayang?”


“Udah.. pasti mas cape. Sini bobo aja, tapi peluk ya.”


Abi menaruh kembali botol minyak zaitun ke atas nakas lalu merangkak naik ke kasur. Dibaringkan tubuhnya seraya merentangkan sebelah tangannya. Nina mengangkat sedikit kepalanya kemudian meletakkannya di atas lengan sang suami. Abi mengubah posisi tubuhnya menjadi miring. Tangannya membelai wajah sang istri kemudian mendaratkan ciuman mesra di bibir.


“Baby boy kita ngga apa-apa, Yang?” Abi mengusap perut buncit Nina.


“Ngga mas. Dia baik-baik aja. Dia kan anak yang kuat, seperti papanya.”


“Tapi kok aku ngga percaya ya.”


“Maksudnya?”


“Aku mau periksa dulu ya. Mastiin kalau dia baik-baik aja.”


“Mau ke dokter? Ngga ah, udah malem.”


“Ngga usah ke dokter. Biar mas yang periksa sekalian nengok dia.”


“Hilih modus, bilang aja mau anu.”


“Anu apa? Yang jelas dong ngomongnya.”


“Kura-kura dalam perahu,” sindir Nina.


“Anu yang bikin enak maksudnya?”


Nina mencubit pinggang Abi, pria itu hanya terkekeh saja. Dengan cepat, Abi merubah posisi tidurnya menjadi di atas Nina. Dia memulai cumbuannya dengan me**mat bibir seksi sang istri yang diiringi gerakan tangannya.


☘️☘️☘️


Pikiran Nadia pun sedang berkelana merenungi kejadian tadi sore. Setelah pertengkaran Juna dan Abi, suaminya itu memilih diam. Bahkan Juna tak pernah menatap matanya saat berbicara. Jujur saja, hatinya sakit diabaikan seperti itu oleh suaminya sendiri.


“Nad..”


Nadia mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Juna. Suaminya itu berdiri tepat di depannya. Kemudian pria bertubuh jangkung itu mendudukkan diri berhadapan dengan sang istri.


“Nad.. kamu tahu kan apa yang kamu lakukan tadi pada Nina itu salah? Kamu hampir mencelakai Nina.”


Nadia tak menjawab, wanita itu menundukkan kepalanya dalam. Harus diakui kalau perbuatannya tadi sudah keterlaluan. Tapi perasaan iri yang tiba-tiba menyergapnya saat melihat Nina benar-benar membuat matanya buta dan berbuat sesuatu di luar kebiasaannya.


“Kamu tahu, kalau aku sangat mencintaimu. Tapi kamu juga tahu kalau aku menyayangi Abi. Kalian berdua adalah hal berharga dalam hidupku. Berada di antara kalian seperti tadi sungguh menyiksaku, Nad. Aku tidak pernah bertengkar dengan Abi sebelumnya, tapi demi kamu, aku melakukannya. Aku harap kejadian tadi adalah yang pertama dan terakhir dalam hidupku.”


Nadia masih belum menjawab. Kepalanya terus tertunduk hingga menyentuh lututnya. Airmata menggenangi kedua matanya dan perlahan merembes membasahi pipi. Juna mengusap puncak kepala istrinya, membuat Nadia semakin terisak. Tangan Juna melingkari tubuh sang istri.


“Aku pun sama sedihnya denganmu saat kehilangan calon anak kita. Tapi aku berusaha ikhlas menerimanya. Allah sedang menguji kita, mungkin saja kita belum cukup layak untuk menjadi orang tua. Dan aku yakin, kehilangan yang kita rasakan akan digantikan jauh lebih baik jika kita ikhlas menjalaninya, sayang. Aku mohon sayang, ikhlaskan semua. Tolong jadilah Nadiaku yang dulu. Wanita yang selalu dapat menenangkanku dan membuatku tersenyum. Jika kamu bersikap seperti ini, ibu pasti akan tersenyum senang. Dia sangat menginginkan kita menderita. Tolong jangan biarkan keinginan wanita itu terwujud.”


Nadia mengangkat kepalanya kemudian membenamkan wajahnya ke dada Juna. Tangisnya semakin kencang terdengar. Dikeluarkan semua kesedihan yang selama ini tertahan di dadanya. Pelukan Juna semakin erat di tubuh sang istri. Matanya pun nampak berkaca-kaca.


Setelah beberapa saat, Nadia mulai tenang. Juna membaringkan istrinya itu di kasur dan dirinya pun ikut berbaring di sana. Ibu jarinya mengusap mata sang istri yang membengkak. Tak ada sepatah kata pun yang terdengar dari bibir Nadia, namun Juna tahu istrinya itu sudah menyesali tindakannya.


Untuk beberapa saat keduanya masih terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Lalu Juna dikejutkan dengan pergerakan Nadia yang tiba-tiba bangun. Nadia melihat ke arah Juna yang masih berbaring.


“Mas.. ayo antar aku ke rumah Abi.”


“Mau ngapain?” Juna bangun dari tidurnya.


“Aku mau melihat keadaan Nina, mas. Aku juga mau minta maaf sama Nina juga Abi.”


Juna melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia menggelengkan kepalanya pelan pertanda penolakan namun Nadia terus memaksanya.


“Mas.. ayo..”


“Udah malem, sayang. Besok pagi aja ya.”


“Tapi aku ngga tenang mas. Aku ngga bakalan bisa tidur. Aku mau ketemu Nina sekarang, ya.. please mas.”


“Mungkin mereka udah tidur. Besok pagi aja ya.”


“Kalau besok aku udah ngga bernafas gimana mas?”


“Astaghfirullah Nad, kamu ngomong apa sih.”


“Ya makanya anterin aku sekarang.”


Juna menghela nafas panjang. Nadia terus menatapnya dengan mata penuh pengharapan. Akhirnya pria itu mengangguk lalu bangun dari tidurnya. Diambilnya mantel lalu memakaikannya pada Nadia. Pasangan suami istri itu pun keluar dari kediamannya menuju rumah Abi yang hanya berselang dua rumah saja.

__ADS_1


Pak Yusuf, security yang bertugas menjaga rumah Abi mengerutkan keningnya melihat kedatangan Juna juga Nadia selarut ini. Berhubung sang tamu adalah kakak dari majikannya, maka pak Yusuf tak punya pilihan selain mengijinkan Juna untuk masuk. Bukan hanya pak Yusuf, bi Ita juga kaget melihat kedatangan pasangan suami istri ini.


“Tolong panggilkan Abi ya bi,” ucap Juna.


“Iya mas Juna, sebentar.”


Bi Ita bergegas menuju kamar Abi. Tangannya mengetuk pelan pintu kamar majikannya. Sementara itu, Abi yang baru saja selesai berbagi keringat dengan sang istri dengan malas menyambar bokser juga kaosnya lalu berjalan menuju pintu.


“Ada apa bi?”


“Itu mas.. ada mas Juna dan mba Nadia.”


“Hmm...”


Bi Ita segera berlalu. Abi kembali menutup pintu. Dia lebih dulu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berpakaian. Dihampirinya Nina yang masih berbaring di kasur.


“Ada siapa mas?”


“Ada kak Juna sama Nadia.”


“Ya udah mas duluan aja keluar. Aku nyusul.”


Abi mengangguk lalu mendaratkan kecupan di kening sang istri. Kemudian dia melangkahkan kakinya keluar kamar. Nampak di ruang tengah Juna dan Nadia tengah menunggunya. Pria itu mendudukkan bokongnya di sofa, tepat di hadapan pasangan suami istri tersebut.


“Apa aku mengganggu?” Juna membuka percakapan.


“Ck.. pake nanya. Jelas ganggulah.”


Juna tersenyum mendengar jawaban Abi. Tak lama Abi pun ikut tersenyum. Suasana yang awalnya terasa tegang mulai mencair. Kecemasan Nadia pun berangsur hilang melihat sikap keduanya.


“Sorry ya Bi, aku kebawa emosi tadi.”


“Aku juga kak.”


“Pelukan dong biar afdol. Ayo berpelukan ala teletubbies.”


Nina yang baru saja datang langsung menyambung percakapan keduanya. Juna hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Sedang abi berdecih pelan. Membayangkan dirinya juga Juna berpelukan seperti teletubbies sudah membuatnya bergidik. Melihat kedatangan Nina, Nadia segera berdiri lalu menghampiri ibu hamil itu.


“Nina.. maafin aku ya.. maaf.. aku..”


“Ngga apa-apa kak.”


Nina berinisiatif memeluk Nadia yang hampir menangis saat meminta maaf padanya. Tubuh mereka tak bisa merapat karena perut Nina yang sudah membuncit.


“Kandunganmu baik-baik aja kan?” tanya Nadia setelah pelukan mereka terurai. Nadia mengusap perut Nina.


“Iya kak, alhamdulillah baik-baik aja.”


“Kalau sekarang sakit ngga?”


“Ngga kak, sakit kenapa?”


“Kamu kan pasti abis digempur sama beruang kutub.”


Abi membulatkan matanya. Juna tergelak mendengar ucapan sang istri yang pelan tapi tepat sasaran. Wajah Nina memerah menahan malu. Nadia malah terkikik geli, menikmati momen ini. Kemudian terdengar suara dari perut Nina.


KRIUK


“Kamu laper Nin?”


“Hehehe.. iya kak.”


“Kamu mau makan apa? Ayo aku buatin.”


“Kita buat sama-sama kak.”


“Ayo.”


Nadia merangkul bahu Nina. Keduanya lalu menuju dapur untuk membuat camilan. Juna meraih remote televisi lalu menyalakan layar datar di hadapannya. Kebetulan sekali ternyata tengah ada tayangan pertandingan sepak bola. Melihat tim kesayangannya bermain, Abi berpindah duduk di dekat Juna.


“MU lawan Liverpool ya?” tanya Abi.


“Hmm.. pasti Liverpool yang menang.”


“Mana ada, pasti MU.”


Keduanya mulai khusyu melihat pertandingan tim kesayangannya. Sesekali terdengar teriakan keduanya saat tim dukungannya tak berhasil mencetak gol. Sementara itu, Nina dan Nadia masih berkutat di dapur.


Pertandingan sudah usai, namun kedua kakak beradik itu masih duduk di tempatnya, Mereka masih menunggu istri-istri mereka yang masih asik berbincang. Nina dan Nadia memilih berbincang di kamar Nina sambil menonton drakor terbaru. Abi melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu malam.


“Kak.. ajakin Nadia pulang gih.”


“Biarin aja, anggap aja terapi penyembuhan buat Nadia.”


“Ngantuk nih.”


“Sini tiduran di sini, biar aku peluk,” Juna membaringkan tubuhnya di sofa.


“Najong.”


Juna tergelak melihat ekspresi jijik sang adik. Abi bangun dari duduknya kemudian menuju sofa di depan Juna dan menghempaskan tubuhnya di sana. Juna melemparkan bantal sofa ke arah Abi. Kedua lelaki itu memilih tidur di sofa karena istri-istri mereka terlalu asik berduaan sampai melupakan mereka.


☘️☘️☘️


**Tenang ya.. Nadia ngga seperti bu Ratih kok. Dia insyaf pada waktunya😁


Next part kisah Cakra dan Sekar bakal tayang ya. Mudah²an besok mamake bisa up untuk kalian.


Sambil nunggu kelanjutan KPA, mampir yuk ke cerita Nick yang makin seru aja. Walau berbeda genre, tapi kisah cogan satu itu ngga kalah serunya loh. Ditunggu ya buat mampir ke sana dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian🤗**

__ADS_1



__ADS_2