KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : About Alisha


__ADS_3

Revan keluar dari gedung fakultasnya. Matanya kemudian menangkap gadis yang dikenalnya. Sambil mengendap-endap, dia mendekat. Untuk beberapa saat dia mengikuti gadis tersebut, kemudian menepuk pundaknya. Refleks sang gadis menarik tangan Revan kemudian dengan kekuatan bahunya membanting tubuh pemuda itu ke aspal.


BRUGH


“Aduh!! Buset Al.. remuk punggung gue..”


Gadis yang ternyata adalah Alisha, anak bungsu Juna mengulurkan tangannya ke arah Revan kemudian menarik pemuda itu hingga berdiri. Revan menepuk-nepuk belakang celananya yang kotor. Alisha bantu membersihkan kemeja temannya yang juga sedikit kotor sambil menepuk-nepuknya.


“Aduh.. aduh.. udah Al.. sakit oii.. buset dah elo cewek apa hulk sih, tenaga lo kuat banget.”


“Makanya jangan nongol diem-diem udah kaya copet aja,” Alisha menoyor kepala Revan seraya berlalu pergi.


Revan mengambil tas ranselnya yang masih tergeletak di aspal kemudian menyampirkannya ke bahu. Bermain-main dengan Alisha ternyata berefek buruk pada tubuhnya. Penampilan Alisha yang manis, kalem ternyata hanya kamuflase saja. Aslinya gadis itu sudah seperti hulk.


“Kenapa lo?” tanya Haikal, adik dari Hanna yang muncul dari belakang.


“Si Al.. buset dah. Tuh anak ngga bisa dibawa becanda ye.. sadisss...”


“Lagian elo kurang kerjaan banget. Udah tahu Alisha modelan kaya gitu, masih diganggu juga. Mending ke kantin yuk, laper gue.”


Haikal merangkul bahu Revan kemudian mengajaknya ke kantin. Walau usia Haikal lebih muda satu tahun lebih dari Revan dan Kenan, namun dia berteman akrab dengan keduanya. Apalagi mereka tergabung bersama dalam grup band bentukan Kenan, bersama Viren juga.


Sementara itu, Alisha yang sudah tak ada jadwal kuliah segera menuju parkiran mobil. Dia diberi tugas oleh Juna mengantarkan berkas penting pada Cakra. Gadis itu menyanggupi dan berjanji akan mengunjungi pamannya itu di kantor sepulang kuliah. Setelah memakai seat beltnya, Alisha menjalankan kendaraannya.


Alisha dulunya adalah gadis yang ceria, manis, mudah bergaul, banyak tersenyum, manja dan selalu menjadi kesayangan semua orang. Namun setelah peristiwa penculikan, semuanya berubah. Kini sosok Alisha menjadi tertutup, enggan menjalin kedekatan dengan orang lain kecuali keluarganya. Dia juga sudah menjelma menjadi gadis yang mandiri dan kuat.


Delapan tahun yang lalu Alisha menjadi korban penculikan salah satu pesaing bisnis Juna. Pengusaha bernama Erlangga itu ingin membalas Juna karena perusahaannya selalu kalah tender dari pria itu. Dia menyusun rencana menculik anak Juna dan meminta kepemilikan saham Blue Sky sebagai tebusannya.


Erlangga memperalat orang yang ada di sekitar Juna. Pria itu membayar sejumlah besar uang pada Lisda, pengasuh Alisha sejak kecil untuk membantu menculik gadis itu. Dia juga meminta anaknya yang berteman baik dengan Alisha untuk membantunya. Alisha merasa terpukul saat mengetahui dua orang yang dipercayainya ternyata yang menikamnya dari belakang.


Sejak saat itu, dia tak pernah mau lagi berteman dekat dengan siapa pun. Walaupun itu anak dari Jojo, Kevin, Radix atau Gurit. Hanya saudara kandung dan sepupunya saja yang dipercaya olehnya. Gadis itu juga mulai belajar bela diri dari Kenzie juga Kenan, supaya bisa menjaga dirinya sendiri.


Alisha memarkirkan kendaraannya di basement sesampainya di gedung Maeswara Dunia. Dengan langkah tenang dia menuju lift yang ada di sisi kanannya. Seorang pemuda berdiri di sampingnya, dia juga tengah menunggu lift. Pemuda itu melemparkan senyumnya ke arah Alisha, namun hanya ditanggapi dingin oleh gadis itu.


Di lantai 10, pemuda yang naik bersamanya keluar. Lift kembali bergerak naik, hingga akhirnya tiba di lantai 20. Tempat di mana ruangan Cakra berada. Alisha keluar dari kotak persegi itu kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan pamannya itu. Temi, sekretaris dari Cakra segera mempersilahkan gadis itu masuk.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Eh ada anak papi yang cantik..”


Cakra berdiri dari kursi kerjanya kemudian menghampiri Alisha. Gadis itu mencium punggung tangan Cakra lalu mendudukkan diri di sofa disusul oleh Cakra. Semua keponakan Cakra terbiasa memanggil pria itu dengan sebutan papi.


“Aku disuruh anter ini sama ayah.”


Alisha memberikan berkas di tangannya pada Cakra. Tangan pria itu terulur mengambil berkas dari tangan keponakannya. Dia meletakkan berkas di atas meja tanpa membacanya, karena sudah tahu apa isi berkas tersebut. Cakra meraih bahu Alisha kemudian menarik ke dalam pelukannya.


“Gimana kabar anak papi?”


“Alhamdulillah papi, aku masih sehat, selamat dan hidup.”


“Hahaha... bisa aja kamu,” Cakra menjawil hidung Alisha.


“Kamu udah punya pacar belum?” tanyanya lagi.


“Belum, pi. Masih istiqomah dengan status jomblo.”


“Gimana ngga jomblo, kalau kamunya galak kaya macan.”


Paman dan keponakan itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Sekar datang membawakan makan siang untuk sang suami. Diletakkannya kotak bekal di atas meja kemudian duduk bergabung bersama suami dan keponakannya. Sekar mencium punggung tangan Sekar.


“Ngga ada kuliah, Al?”


“Baru selesai, mi. Hari ini cuma ada satu matkul.”


“Makan siang bareng ya. Mami bawa banyak tuh.”


“Mami sekarang udah bisa masak ya.”


PLETAK


“Aaaww..” Alisha mengusap keningnya yang terkena sentilan Sekar.


“Kamu beneran ngga punya pacar, Al?” tanya Sekar.


“Beneran mi. Lagian apa sih fungsinya pacar? Buat bikin seneng? Aku happy kok walau sendiri. Buat jagain aku? Aku bisa jaga diri sendiri. Yang ada punya pacar itu malah bikin hidup tambah ruwet. Belum lagi kalau cemburu ngga jelas. Hadeuh males deh. Tanya aja ama Anya.”


“Emang Anya udah punya pacar?”


“Belum.. prinsip dia kan sama kaya aku. Punya pacar cuma bikin hidup ruwet.”


“Hahaha... baguslah. Mending kuliah yang bener. Kalau udah pasangan yang tepat, langsung nikah.”


“Setuju pi.”


“Siapa juga yang mau sama cewek model hulk kaya kamu.”


“Hahaha..”


Tawa Cakra kembali terdengar. Keponakannya yang cantik ini memang sekarang memiliki julukan baru, Hulk. Dan sang pemberi gelar siapa lagi kalau bukan si kompor mledug alias Kenan.


Alisha tak mempedulikan ucapan Sekar. Dia membuka kotak bekal yang masih tertutup kemudian menatanya di atas meja. Sekar membantu sekaligus mengambilkan makanan untuk suaminya.


Dengan lahap Alisha membantu menghabiskan jatah makan siang pamannya. Apalagi, sang tante memasak salah satu makanan kesukaannya, cumi crispy dengan soas asam manis pedas.


“Aku pulang dulu ya. Makasih loh buat makan siangnya. Besok-besok kalau papi butuh bala bantuan ngabisin makanan, telpon Al aja ya.”


“Iya beres.”


“Papi.. minta uang dong,” Alisha menengadahkan tangannya ke arah Cakra.


“Emang kamu ngga dikasih uang sama ayah?” tanya Sekar.


“Dikasih mi.. tapi kan aku pengen kaya orang-orang. Kalau dateng nengok om atau tantenya dikasih duit hehehe...”


Cakra menggelengkan kepalanya, tak ayal dia mengambil dompet dari saku celananya. Dia mengeluarkan lima lembar seratus ribuan lalu memberikannya pada Alisha. Dengan senang hati gadis itu menerimanya.


“Makasih papi.. sering-sering aja. Mami ngga mau ngasih?”


“Mending kamu palak bang Aric aja dari pada mami. Kan abis gajian dia.”


“Eh iya bener. Aku pulang dulu ya, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Eh.. ngga mau kasih stempel dulu nih.”


Cakra menunjuk pipinya. Alisha mendekat lalu mencium pipi Cakra dan Sekar bergantian. Setelah itu, gadis tersebut keluar dari ruangan CEO Maeswara Dunia. Sekar merapatkan duduknya ke arah Cakra kemudian menyandarkan kepala ke dada sang suami.


“Aku kangen Al yang seperti tadi. Kenapa ya anak itu kalau di depan orang lain tuh dingin, jutek, judes. Sifat manjanya baru keluar kalau lagi sama kita-kita aja.”


“Penculikan waktu itu pasti meninggalkan trauma untuk dia walau ngga memperlihatkannya. Dia kehilangan kepercayaan karena orang yang membantu penculikan adalah orang terdekatnya. Sejak saat itu dia merubah kepribadiannya sebagai bentuk pertahanan diri dan mencari sosok yang bisa ditiru olehnya. Dari sekian banyak orang di sekitarnya, dia menjadikan Abi sebagai role modelnya. Makanya dia banyak meniru gaya Abi, itu semua sebagai bentuk pertahanan dirinya. Saat ini dia masih mengalami krisis kepercayaan pada orang lain. Abang yakin, suatu saat nanti itu akan berkurang.”


“Semoga aja bang. Aku berdoa Al mendapatkan laki-laki yang bisa melindunginya.”


“Dilihat dari perkembangannya sekarang. Kayanya tipe laki-laki yang dia suka tuh model Abi.”


“Hadeuh bisa bengek kak Nadia punya menantu model kak Abi.”


“Hahaha...”

__ADS_1


Sementara itu, gadis yang tengah dibicarakan Sekar dan Cakra saat ini sedang menuju ruangan Aric yang ada di lantai 19. Alisha benar-benar mengunjungi sepupunya ini. Setelah mengetuk pintu, Alisha masuk ke dalam ruangan.


“Bang Aric..”


“Hey.. Al.. tumben ke sini.”


“Tadi abis nganterin berkas ke papi. Terus disuruh mami ke sini.”


“Ngapain?”


“Katanya suruh minta jajan ke abang.”


Aric tersenyum mendengar ucapan Alisha. Dia mengambil dompetnya lalu mengeluarkan lima lembar seratus ribuan dari dompetnya. Dengan senang Alisha menerima uang tersebut.


“Makasih abang Aric yang gantengnya ngga kaleng-kaleng.”


“Kamu mau nambah isi dompet ngga?”


“Mau dong.”


“Ke kantor bang Ken gih. Minta jajan sama dia, sekalian sama Fathan juga.”


“Kenapa bang Fathan?”


“Ck.. dia kan mau jadi kakak ipar kamu. Terus datengin kakak kamu di hotel, sekalian minta jatah sama Ravin juga. Bentar lagi kan Ravin jadi suaminya Frey. Jangan lupa ke kantor Barra. Kasih info dikit soal Hanna, terus minta bayaran. Dijamin dompet kamu tebel.”


“Wah ide bagus bang.”


“Terus tuh uang nantinya mau dipake buat apa?”


“Buat apa ya kak? Hmm.. disimpen dulu aja deh. Nanti kalau udah tahu mau buat beli apa, baru dipake. Aku pulang dulu ya bang, makasih.”


“Hati-hati ya.. awas jangan galak-galak, nanti ngga laku kamu.”


“Nanti aku minta bang Aric aja cariin cowok buat aku.”


“Pak Turmin, satpam kompleks mau?”


“Ogah..”


“Hahaha.. udah sana.”


Aric mengusak puncak kepala Alisha sebelum gadis itu keluar dari ruangannya. Melihat pintu lift terbuka, Alisha bergegas masuk. Di lantai 10, pintu lift terbuka dan ternyata pemuda yang tadi naik bersamanya masuk ke dalam lift.


“Hai.. ketemu lagi kita,” sapa pemuda itu. Tapi tak ditanggapi oleh Alisha.


“Boleh kenalan?” masih tak ada tanggapan dari Alisha. Namun pemuda itu tak mau menyerah.


“Aku ke sini habis ngajuin surat buat magang. Kalau kamu ngapain? Jangan-jangan sama mau magang juga.”


Kali ini Alisha mengalihkan pandangannya melihat pada pemuda di sampingnya yang terus saja mengajaknya bicara. Sebuah senyum terbit di wajah pemuda yang bisa dibilang tampan.


“Ngga usah sok akrab!”


TING


Pintu lift terbuka, dengan santai Alisha keluar begitu kotak besi tersebut sudah sampai di lantai dasar. Pemuda tadi hanya terbengong saja melihat sikap ketus dari Alisha. Jujur saja, tadi dia sempat takut melihat sorot mata gadis itu.


☘️☘️☘️


Kali ini mobil yang dikendarai Alisha berbelok ke kantor Metro East. Gadis itu benar-benar berkeliling untuk mengisi dompetnya. Setelah Cakra dan Aric yang terkena palakannya. Kini gadis itu hendak menemui korban selanjutnya, Abi dan Kenzie. Setelah memarkirkan mobilnya, Alisha segera menuju lift khusus petinggi manajemen. Tujuan pertamanya adalah ruangan Kenzie.


Sambil bersenandung kecil, Alisha keluar dari lift. Kakinya melangkah menuju ruangan Kenzie. Saat melintasi ruangan Fathan, pria yang sebentar lagi menyandang status sebagai kakak ipar keluar dari ruangannya.


“Al.. tumben ke sini,” sapa Fathan.


“Ada, langsung masuk aja.”


“Makasih bang.”


Fathan hanya menganggukkan kepalanya saja. Sampai saat ini Alisha masih bersikap kaku padanya. Dulu pria itu sempat salah paham melihat sikap Alisha padanya. Disangkanya Alisha menjaga jarak karena tak menyukainya. Namun setelah Azra menceritakan penyebab Alisha bersikap seperti itu, Fathan mengerti dan mulai membiasakan diri.


Alisha terus berjalan melintasi meja Nara yang kosong. Tanpa mengetuk pintu gadis itu langsung masuk. Sejenak dia tertegun melihat Kenzie yang tengah berbicara dengan Nara di dekat meja kerjanya. Tangan Kenzie menggenggam tangan Nara, matanya menatap penuh cinta pada calon istrinya itu. Seketika Alisha menjadi iri, ingin rasanya dia juga memiliki orang yang menyayanginya dengan tulus seperti keluarganya.


“Al..” sapa Nara yang menyadari kehadiran Alisha.


“Hai.. maaf ya ganggu momen uwu kalian.”


“Apaan sih.. kita lagi ngobrol aja kok.”


“Ngobrol sambil gandengan tangan. Takut banget kayanya bang Ken, kak Naranya disamber orang.”


“Bau-bau orang iri nih komennya,” ledek Kenzie.


Alisha mencebikkan bibirnya ke arah sepupunya itu. Nara tersenyum kecil seraya keluar dari ruangan, sengaja memberikan waktu untuk Alisha berbicara berdua saja dengan Kenzie. Nara tahu kalau Alisha kerap membatasi diri dengan orang-orang di luar anggota keluarga, termasuk dirinya.


“Tumben main ke sini.”


“Kangen sama bang Ken..”


“Kok perasaan aku ngga enak ya.”


“Hehehe.. kangen sama isi dompetnya bang Ken.”


“Sudah kuduga,” Kenzie terkekeh. Kenzie mengambil dompetnya.


“Butuh berapa?”


“Berapa aja. Seikhlasnya abang, mau semua isi dompet dikeluarin juga ngga apa-apa hehe..”


Kenzie mengeluarkan lima lembar seratus ribuan lalu memberikannya pada Alisha. Dia tahu gadis ini tak benar-benar membutuhkan uang, hanya sedang dalam mode manja saja. Dengan senang Alisha menerima uang dari Kenzie kemudian memasukkan ke dompetnya.


“Makasih abang Ken yang ganteng kaya sekoteng.”


Setelah mendapatkan uang dari Kenzie, gadis itu bermaksud langsung pergi. Namun Kenzie bergerak cepat menarik leher kemeja Alisha, hingga tubuhnya kembali tertarik ke belakang.


“Mau kemana? Udah dapet uang langsung kabur aja.”


“Mau ke papa.”


“Mau malak juga?”


“Iya dong.”


“Di sini dulu bentar. Abang kangen ngobrol sama kamu.”


Kenzie merangkul bahu Alisha kemudian membawa gadis itu duduk di sofa. Sudah hampir dua bulan ini dia jarang bertemu dengan Alisha walau rumah mereka berdekatan. Kesibukannya di kantor ditambah harus menyiapkan pernikahan dan mengurus masalah Nara, membuatnya tak ada waktu bertemu dengan Alisha.


“Abang somse sekarang sama aku.”


“Maaf, abang banyak kerjaan.”


“Banyak kerjaan apa sibuk pacaran?”


“Dua-duanya. Kamu sendiri kenapa jarang main ke rumah atau ke kantor?”


“Lagi banyak tugas kuliah bang. Kan bentar lagi aku mau magang.”


“Kamu rencana magang di mana?”

__ADS_1


“Hmm.. di mana ya. Enaknya di mana bang?”


“Terserah kamu. Di sini juga boleh”


“Ngga mau. Abang kan sadis kalo di kantor.”


“Masa hulk ngga berani. Aaawww...”


Kenzie menjerit saat Alisha mencubit pinggang Kenzie. Sambil menjulurkan lidah ke arah pria itu, Alisha keluar dari ruangan. Dia hanya melambaikan tangannya saja saat melintas di depan Nara. Saat akan masuk ke dalam lift, dia berpapasan dengan Fathan yang baru saja keluar dengan iced mocca latte di tangannya. Dengan cepat Alisha menyambar minuman tersebut dari tangan Fathan.


“Makasih ya bang buat minumannya. Anggap aja ini pajak jadian.”


Alisha masuk ke dalam lift seraya menyeruput minuman dingin tersebut. Fathan hanya menggelengkan kepalanya. Hatinya senang melihat perubahan sikap Alisha padanya. Sebenarnya minuman tadi memang dibeli untuk calon adik iparnya itu.


Sebuah senyuman tipis dilemparkan Alisha pada Fadil. Sekretaris Abi itu menahan pintu dengan tangannya, untuk Alisha. Gadis itu masuk ke dalam ruangan dan langsung menuju meja kerja Abi. Dia memeluk leher Abi lalu mencium pipinya. Di antara semua pamannya, Alisha memang paling dekat dengan Abi.


“Papa..” Alisha masih memeluk leher Abi.


“Tumben ke sini.”


“Mau minta jajan sama papa.”


“Emang ngga dikasih sama ayah?”


“Dikasih. Tapi bulan ini belum dapet jatah dari papa. Tadi papi udah kasih, tinggal papa sama pipi.”


“Pipi lagi di sini. Lagi di ruangan om Andhiar, nanti juga ke sini. Kamu palak aja.”


“Beneran? Wah berarti waktunya pas ya. Sekali dayung tiga mangsa dapet.”


Abi terkekeh mendengar ucapan keponakannya. Dia berdiri kemudian mengajak Alisha duduk di sofa. Tak lama orang yang tadi dibicarakan datang. Anfa masuk ke dalam ruangan Abi. Keningnya mengernyit melihat Alisha.


“Tumben nih anak ke sini.”


“Mau malak papa sama pipi.”


“Hilih kemarin kamu udah malak mimi.”


Alisha terkikik geli. Kemarin sebelum berangkat kuliah, dia memang mengunjungi Rayi juga Nina. Gadis itu menemui Rayi untuk sarapan dan meminta bekal makan siang ke Nina. Tak lupa pula meminta uang jajan dari keduanya.


“Kak.. berkas PT. Global udah aku kasih ke Andhiar ya. Aku pergi dulu, masih ada meeting.”


“Pipi beneran ngga mau kasih jajan?”


Anfa mengambil dompetnya lalu mengeluarkan tujuh lembar seratus ribuan dari dompetnya. Saat Alisha akan mengambil uang tersebut, Anfa menariknya kembali. Dia menunjuk pipinya. Dengan cepat Alisha mendaratkan kecupan di pipi Anfa.


“Makasih pipi ayangnya mimi.”


Anfa mengusak puncak kepala Alisha kemudian keluar dari ruangan. Abi berdiri kemudian mengajak gadis itu keluar.


"Uang jajannya dulu pa. Nanti lupa."


Abi mengambil dompet kemudian memberikannya pada Alisha.


"Ambil sendiri."


"Berapa pa?"


"Ambil aja semuanya."


"Beneran?"


Abi mengangguk, Alisha mengeluarkan semua uang berwarna merah muda di dompet Abi lalu memindahkan ke dompetnya. Dia tidak menghitung jumlah uang tersebut, tapi dari ketebalannya diperkirakan jumlahnya lima belas lembar.


Setelah berhasil mendapatkan uang jajan, Alisha mengikuti langkah Abi. Keduanya menuju pintu yang terletak di samping kanan lift kemudian menaiki tangga yang ada di sana.


Hembusan angin langsung menerpa ketika Abi juga Alisha sampai di rooftop. Abi mengajak Alisha duduk di kursi ayunan yang ada di sana. Keduanya duduk sambil menatap deretan gedung tinggi di depannya.


“Kamu baik-baik aja Al?”


“Iya pa.”


“Tapi...”


Alisha melihat ke arah Abi. Papanya ini selalu tahu kalau dirinya tengah dilanda kerisauan. Dia memeluk lengan Abi kemudian menyandarkan kepalanya di sana. Selain pada Juna dan Nadia, Alisha kerap mengeluarkan keluh kesahnya pada pria ini.


“Kenapa Al?”


“Al pengen nikah papa.”


Abi terkejut mendengar ucapan keponakannya. Alisha yang tidak pernah terlihat akrab dengan pria manapun kecuali gen keluarga Hikmat kini tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk menikah.


“Emang kamu udah punya calon?”


“Belum.”


“Udah ada laki-laki yang kamu sukai?”


“Ngga ada.”


“Loh terus kenapa kamu mau nikah?”


“Biar ada yang jagain Al.”


Abi melepaskan tangannya dari pelukan Alisha kemudian merengkuh bahu gadis itu. Kini tangan Alisha memeluk pinggang Abi.


“Kan ada ayah, papa dan yang lain yang bisa jagain kamu.”


“Ayah, papa, papi sama pipi kan udah tua. Udah waktunya istirahat. Bang Ken sebentar lagi mau nikah sama kak Nara. Bang Aric juga. Sebentar lagi kak Ezra juga nyusul. Mereka punya kewajiban buat jagain pasangannya masing-masing.”


“Kan masih ada Ikal.”


“Ah yang ada aku yang jagain Ikal. Anak pecicilan gitu,” Abi terkekeh mendengarnya.


“Masih ada Nan juga.”


“Nan kan bodyguardnya Anya. Repot dia kalau harus sambil jagain aku juga. Makanya aku mau nikah aja deh. Tadi aku lihat bang Ken sama kak Nara. Kayanya asik aja gitu kalau punya pasangan.”


“Hmm.. kamu pengen suami kaya gimana sih?”


“Kaya papa. Galak, tapi melindungi, penyayang. Pokoknya yang kaya papa.”


“Hahaha.. galaknya jangan disebut dong.”


“Kan emang papa galak.”


Abi terus tergelak. Dia mengeratkan pelukannya di bahu Alisha seraya mendaratkan ciuman di puncak kepala gadis itu. Sepertinya dia harus berbicara dengan Juna untuk membahas soal anak bungsu kakaknya itu. Alisha yang selama ini bersikap tenang mulai terlihat gelisah. Abi yakin pasti ada pemicu dibalik sikapnya itu.


☘️☘️☘️


**Duh berasa mamake yang jadi Alisha🤭😂


Yang nanya soal penculikan Alisha, tenang kalian ngga amnesia karena emang penculikan Alisha ngga dibahas. Mamake cuma kasih spoiler aja. Tapi nanti ada flashbacknya dikit kok.


Yg nunggu Veruca ama Lucky digulung, sabar ya. Kita mampir ke cerita Alisha bentar karena tetep ada benang merahnya ama tuh kutil dino🤭


Mamake lagi kangen papa Abi. Jadi boleh dong kalo visualnya nongol lagi. Pas ngetik part Alisha ngobrol ama Abi, mamake sambil bayangin visual Abi nih**


__ADS_1


__ADS_2