
Nara menghitung uang yang baru saja diterimanya dari bagian keuangan. Setelah satu bulan bekerja, akhirnya dia memperoleh gaji pertamanya. Beruntung bagian keuangan mau memberikan gajinya dalam bentuk cash. Selama tiga bulan, ATM miliknya disita oleh Jojo dan rekeningnya dibekukan. Ini salah satu cara Jojo memaksa sang anak mau bekerja di Metro East sebagai sekretaris Kenzie.
Gadis itu lalu mengambil 5 buah amplop putih panjang yang sudah disiapkan. Dia memasukkan uang ke dalam amplop masing-masing satu juta rupiah. Setelah itu menuliskan nama-nama panti penerima sumbangannya di atas amplop. Senyum gadis itu mengembang, akhirnya dia bisa memberikan sumbangan dari hasil keringatnya sendiri.
Selama ini Nara kerap memberikan sumbangan secara rutin tiap bulannya. Uang sumbangan didapat dari hasil menyisihkan uang saku yang diberikan oleh Jojo. kebiasaannya ini sudah dilakukan sejak dirinya berada di bangku sekolah menengah atas. Dia memberikan sumbangan ke panti asuhan juga panti jompo.
Selesai memasukkan uang, kini gadis itu tengah menulis barang-barang yang akan dibelinya sepulang kerja nanti. Karena selain uang, Nara juga memberikan barang kebutuhan sehari-hari. Saking asiknya menulis barang belanjaan, gadis itu tak menyadari kalau Kenzie sudah berada di depan mejanya.
TOK
TOK
Dua kali tangan Kenzie mengetuk meja kerja sekretarisnya. Mendengar itu, Naya mendongakkan kepalanya. Melihat Kenzie yang datang, dia buru-buru menghentikan kegiatannya. Ditutupinya daftar belanjaan yang tadi ditulisnya. Sekilas Kenzie melihat apa yang tengah dilakukan gadis itu.
“Ada apa pak?”
“Ikut ke ruangan saya. Ada yang mau saya bicarakan.”
“Siap pak.”
Nara berdiri dari duduknya lalu menyusul Kenzie masuk ke dalam ruangan. Melihat Kenzie duduk di sofa, dia pun menyusul dudum di sana. Gadis itu mengambil tempat di hadapan atasannya.
“Ada apa pak?”
“Saya mau minta pendapatmu. Apa hukuman yang pantas diberikan untuk para begal atau genk motor yang meresahkan masyarakat?”
“Hmm.. kalau saya jadi presiden nih pak, saya mau buat fasilitas penjara di salah satu pulau terpencil. Indonesia kan masih banyak pulau yang tidak berpenghuni. Nah kirim mereka ke sana, suruh mereka menggarap lahan di sana. Biar mereka tahu kalau cari uang itu susah, harus kerja keras. Jangan mau enaknya pake jalan pintas, ngerampas hak orang lain. Ini bisa juga berlaku buat para koruptor.
Bagitu juga buat para genk motor. Mereka tuh kadang merasa paling sok berkuasa, padahal beraninya gerombolan, kalo sendiri-sendiri belum tentu berani. Kirim ke pulau, beri mereka edukasi sekalian uji nyali di alam liar. Biar pikirannya berkembang, jangan sok jagoan beraninya di jalanan, main keroyok lagi. Suruh mereka berhadapan dengan hewan buas, coba berani ngga.”
Kenzie mengernyitkan keningnya saat mendengar nada suara Nara terdengar emosi saat membicarakan tentang genk motor. Dia sengaja meminta pendapat tentang hal tersebut pada Nara, karena Abi tengah merancang proyek kerjasama dengan pemerintah untuk membangun fasilitas lembaga pemasyarakatan bagi pelaku yang menimbulkan keresahan di masyarakat, seperti begal dan genk motor. Pria itu cukup terkejut karena pemikiran Nara kurang lebih sama seperti dirinya.
“Kok nada kamu emosi gitu. Pernah punya pengalaman buruk dengan genk motor?”
“Iya pak. Waktu SMA, saya punya teman dekat dan dia jadi korban genk motor.”
“Laki-laki?”
“Iya.”
Kepala Kenzie mengangguk pelan. Namun hatinya sedikit panas mendengar Nara mempunyai teman dekat laki-laki. Setahunya gadis itu tak memiliki banyak teman. Hampir semua teman Nara, dia mengenalnya karena kebanyakan dari mereka teman Freya juga.
“Pacar kamu?”
“Bukan, cuma teman aja tapi deket. Dia itu pinter dan ngga pelit berbagi ilmu. Dia sering dipanggil cupu tapi ngga pernah marah. Masa bodo orang mau bilang apa yang penting dia ngga ganggu kehidupan orang lain.”
“Prinsip hidup yang bagus.”
“Iya, makanya saya senang berteman dengannya. Namanya Wendi. Tapi ternyata waktu pertemanan saya dengannya ngga berlangsung lama.”
“Kenapa?”
“Ada salah satu anak di sekolah, senior kita. Ngga tahu kenapa dia tuh ngga suka sama Wendi. Dia selalu cari gara-gara, tapi ngga pernah ditanggapin sama Wendi. Sampai akhirnya dia melakukan hal di luar batas dan buat Wendi marah. Mereka berkelahi, dan ternyata senior menyebalkan itu kalah. Malu dikalahkan anak cupu, dia meminta bantuan teman-teman genk motornya. Waktu Wendi pulang sekolah, dia dikejar genk motor, digiring ke tempat sepi dan dikeroyok sampai meninggal. Dan pelakunya, senior sialan itu bebas hanya karena dia anak seorang pejabat. Cih.. menyebalkan.”
Nara melepas kacamatnya lalu menyusut airmata yang hampir menetes. Setiap mengingat nasib tragis temannya itu, dia tak pernah bisa menahan airmatanya agar tak mengalir. Kenzie memberikan tisu untuk Nara.
“Maaf Ra, kalau pertanyaanku buat kamu sedih.”
“Ngga apa-apa bang.”
“Perusahaan kita akan bekerja sama dengan pemerintah merancang tempat rehabilitasi untuk pelaku kejahatan seperti begal atau genk motor. Jujur aja, aku sependapat denganmu. Berada di dalam penjara aja ngga cukup. Mereka harus merasakan kerasnya hidup untuk membuat efek jera. Sama seperti para koruptor. Papa merencanakan membuat fasilitas penjara di beberapa pulau. Mereka akan dikirim ke sana sesuai dengan klasifikasi kejahatan mereka.”
“Aku setuju bang. Sampah masyarakat model mereka emang harus dibasmi.”
“Bisa kamu buat proposalnya?”
“Aku, bang?”
“Hmm.. kita susun sama-sama. Tapi coba kamu buat dulu blue print-nya nanti kita diskusi.”
“Boleh bang.”
“Ra..”
“Iya bang.”
“Tuh ingus kamu lap dulu.”
Refleks Nara meraba hidungnya, namun ternyata Kenzie hanya mengerjainya saja. Wajahnya yang semula sendu mulai berubah, perlahan tanduk di kepalanya muncul.
“Apa?” tanya Kenzie santai.
“Abang tuh nyebelin, tau ngga?”
“Ngga.”
“Pantes masih jomblo. Ngga bakalan ada cewek yang mau sama abang kecuali si Chika. Otak tuh cewek udah geser makanya ngejar-ngejar abang mulu.”
“Masih mending aku ada yang ngejar. Lah kamu?”
“Abang pikir aku ngga laku? Aku bisa buat laki-laki ngejar aku.”
“Siapa? Tukang tahu bulat yang kamu bawa kabur wajannya?”
“Abaaaanggg iiihhhh.. bener-bener nyebelin.”
“Jangan terlalu sebel. Nanti kamu malah seneng betulan sama aku.”
“WHAT???”
“Udah sana balik. Ruangan ini jadi suram ada kamu.”
Kenzie bangun dari duduknya lalu kembali ke belakang meja kerjanya. Dengan kesal Nara berdiri lalu keluar dari ruangan Kenzie seraya membanting pintu. Berbicara dengan Kenzie ujung-ujungnya selalu membuatnya naik darah. Sementara itu Kenzie hanya tersenyum melihat reaksi Nara. Setidaknya gadis itu sudah tidak bersedih lagi.
☘️☘️☘️
“Halo Nara La Fea.”
Nara mengangkat kepalanya mendengar seseorang memanggil namanya. Senyumnya mengembang melihat sahabatnya sudah berada di hadapannya. Azra menarik kursi di depan meja kerja Nara lalu mendudukkan diri di sana.
“Tahu dari mana sekarang marga gue La Fea?” kekeh Nara.
“Ken.. dia bilang nama sekretarisnya Nara La Fea.”
__ADS_1
“Ish.. dasar naga kutub.”
“Hahaha... gimana jadi sekretarisnya Ken?”
“Bengek.”
“Hahaha... tapi enak kan?”
“Enak apaan. Kalau bukan demi mendapatkan kembali kartu ATM gue yang disita sama bokap, gue ogah jadi sekretarisnya. Kalau deket-deket dia tuh seketika pasokan oksigen di sekitar gue berkurang.”
“Asik dong kalau gitu. Kan sekalian bisa dikasih nafas buatan sama Ken.”
“Azra rese lo!”
Kembali terdengar tawa adik kembar Ezra itu. Azra memang senang sekali menggoda Nara. Dia sebenarnya berharap sahabatnya itu bisa bersama dengan sepupunya. Hidup Kenzie akan lebih berwarna dan kacau balau jika Nara yang menjadi pendamping hidupnya. Dibanding dengan Naya, Azra memang lebih dekat dengan Nara.
“Tumben main ke sini. Emangnya ngga ada kerjaan di butik?”
“Sepi butik gue.”
“Kenapa? Bangkrut lo?”
“Sembarangan. Gue lagi liburin semua pegawai. Kasihan mereka sebulan kemarin lembur karena harus kejar tayang pesanan yang membludak.”
“Syukur deh. Gue kira lo bangkrut. Kan gue jadi ngga punya temen yang bisa gue palakin lagi.”
“Dasar kang valak.”
Keduanya terkikik geli. Azra, anak dari Juna memang memilih merintis usaha sendiri membuka butik sesuai dengan passion dan keahliannya. Butik yang baru berdiri dua tahun itu, sudah memiliki banyak pelanggan. Juna hanya membantu memberikan modal saja, sedang pengelolaan dan pengembangannya diserahkan sepenuhnya pada Azra. Ayah atau bundanya tak pernah ikut campur atau membantu bisnisnya. Dan terbukti, Azra dapat mengembangkan butiknya sampai sekarang sudah memiliki pelanggan tetap dari berbagai kalangan atas kerja kerasnya sendiri.
“Lo ke sini bawa tangan kosong doang?”
“Ngga lah. Gue bawa makan siang nih buat Ken.”
“Buat bang Ken doang?” selidik Nara.
“Buat Ken dan semua yang kerja di lantai ini. Puas lo?”
“Hilih muter-muter, bilang aja bawa makan siang buat bang Fathan. Bang Ken sama gue kan cuma figuran doang.”
“Udah tahu pake nanya.”
Terdengar kekehan Nara. Sudah menjadi rahasia umum kalau diam-diam Azra memendam rasa pada Fathan. Namun gadis itu masih belum berani memperlihatkan perasaannya secara terang-terangan. Fathan sendiri sebenarnya juga menyukai Azra, namun karena sifatnya yang pendiam dan sedikit pemalu, membuat pria itu masih belum berani mengambil langkah lebih jauh. Terlebih Fathan tahu kalau ada lelaki lain yang mencintai Azra dan berencana menjadikan gadis itu istrinya. Lelaki itu adalah anak dari rekan bisnis Juna.
“Udah mau jam makan siang. Lo panggilin bang Fathan ya, gue mau siapin makanan di ruangan Ken,” ujar Azra.
“Mending lo aja yang panggil bang Fathan. Biar gue yang siapin makanan.”
Nara berdiri lalu mengambil tiga buah kotak bekal yang disembunyikan Azra di kolong meja kerjanya. Dia kemudian mendorong Azra ke arah ruangan Fathan. Gadis itu lalu bergegas masuk ke ruangan Kenzie.
TOK
TOK
TOK
“Masuk.”
Pintu ruangan terbuka, Azra hanya berdiri di dekat pintu sambil memandangi Fathan yang masih sibuk dengan berkasnya. Pria itu terlihat semakin tampan saja saat sedang serius bekerja. Sadar merasa diperhatikan, Fathan mengangkat kepalanya. Dia terkejut sekaligus senang melihat Azra yang datang.
Tanpa menjawab ajakan Azra, Fathan segera berdiri kemudian menghampiri gadis itu. Dia berhenti di depan Azra yang masih berdiri di dekat pintu. Untuk sesaat mereka hanya diam dan saling memandang.
“Kamu lagi ngga sibuk?” akhirnya terdengar juga suara Fathan.
“Butik aku tutup khusus untuk hari ini.”
“Ada acara?”
“Ngga ada.”
“Pulang kerja nanti mau nonton bareng aku?”
“Boleh.”
“Amran ngga akan marah?”
“Aku ngga ada hubungan apa-apa sama Amran and stop talking about him (berhenti membicarakannya).”
Fathan mengangguk pelan. Dia menutup pintu ruangan kemudian beranjak pergi. Digandengnya tangan Azra, membuat gadis itu terjengit namun tak ayal senyum terhias di wajahnya. Begitu pula dengan Fathan. Setelah berbicara panjang lebar dengan Kenzie, akhirnya pria itu memutuskan untuk mengambil langkah maju. Mendekati dan mendapatkan Azra, karena gadis itu patut untuk diperjuangkan. Tak peduli kalau saingannya adalah salah satu anak konglomerat.
Nara berdehem melihat pasangan yang datang sambil bergandengan tangan. Refleks Fathan melepaskan tautan tangan mereka. Pria itu bermaksud mengambil tempat duduk di samping Kenzie, namun Nara bergerak lebih cepat. Dia berpindah duduk di dekat Kenzie, membuat Azra dan Fathan berbagi sofa yang sama.
“Ini lo semua yang masak, Az?” tanya Kenzie.
“Iya, tapi dibantuin bunda juga sih. Kemampuan memasak gue kan masih terbatas, emangnya Nara yang udah ahli,” Azra mengerling pada sahabatnya itu.
“Emang dia bisa masak?” tanya Kenzie lagi.
“Beuhhh.. belum tahu lo. Ra, kali-kali bawain dia makan siang. Biar tuh naga kutub ngerasain makanan buatan lo.”
“Wani piro?”
“Minta bayaran ke Ken, jangan ke gue.”
“Ogah.. paling bayarannya cuma omongan yang bikin kuping gue sakit.”
“Jangan galak-galak Ken ama sobat gue. Bisa-bisa dia kehabisan nafas gara-gara denger omongan lo. Nanti lo harus kasih nafas buatan ke dia hahahaha..”
Mata Nara melotot ke arah sang sahabat. Namun Azra tak peduli. Dia meneruskan pekerjaannya mengambilkan makanan untuk Fathan. Melihat Azra yang mengambilkan makanan untuk Fathan, Nara yang tak enak hati akhirnya mengambilkan makanan untuk Kenzie.
“Eh cieee... udah mulai ngambilin makanan nih,” goda Azra.
“Berisik lo, Az,” kesal Nara.
“Ck.. dari pada ngurusin gue. Mending kalian pikirin kapan mau nikah.”
Uhuk.. uhuk..
Fathan tersedak mendengar ucapan frontal Kenzie. Dengan cepat Azra menyodorkan minuman pada pria itu. Tangannya menepuk-nepuk punggung lebar Fathan.
“Lo kalo ngomong lihat-lihat sikon napa,” kesal Azra.
“Kenapa emang? Kesel gue lihat kalian yang udah kaya siput, lambat banget. Buruan nikah, atau perlu gue seret lo berdua ke KUA?”
__ADS_1
“Setuju, gue bantuin dorong,” timpal Nara.
“Berisik lo, Ra. Gue jodohin juga lo ama Ken.”
“Kaya ngga ada cowok lain aja,” gumam Nara pelan.
“Gue denger ya,” sewot Kenzie.
“Bomat. Bisa bengek gue kalo jadi istrinya.”
“Gue juga bisa kena bisul sebadan-badan kalo jadi suaminya.”
“Cocok. Ayo kita ke KUA bareng-bareng.”
Semua langsung menolehkan wajahnya ke arah Fathan. Lelaki pendiam itu akhirnya membuka suaranya juga. Sedang yang dipandangi nampak tak acuh. Dia meneruskan makannya dengan santai.
☘️☘️☘️
“Ken.. ini udangan dari Inner Beauty. Mereka mau launching produk kosmetik terbarunya. Kata pak Abi, lo aja yang dateng.”
“Males gue. Lo aja sana.”
“Gue ada kencan sama Azra.”
“Beneran nih lo mau serius maju?”
“Iya.. gue ngga boleh kalah sebelum berperang kan?”
“Ngga usah perang juga. Si Azra kan emang naksir elo, PEA.”
“Lo tuh suka banget bikin gue gagal keren. Jangan lupa acaranya jam tujuh malem.”
“Gue pergi sama siapa?”
“Ajak Nara.”
Fathan segera keluar dari ruangan bosnya itu. Kenzie terdiam sebentar memikirkan kata-kata Fathan. Sepertinya mengajak Nara bukan pilihan yang buruk juga. Pria itu berdiri lalu keluar dari ruangan. Untuk sesaat dia terdiam melihat meja kerja Nara kosong. Kenzie kemudian melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan sang sekretaris.
Mata Kenzie menangkap Nara tengah berdiri di depan lift bersama seorang wanita yang diketahui anak dari pemilik Inner Beauty. Niat Kenzie memanggil Nara batal ketika mendengar pembicaraan kedua wanita itu.
“Kamu Nara kan kembarannya Naya?”
“Hmm.. kenapa?”
“Kamu beneran kembarannya Naya? Kok beda banget sih.”
“Namanya juga kembar ngga identik, ya bedalah,” jawab Nara santai.
“Maksudku penampilan kamu sama Naya tuh ibarat bumi dan langit. Naya tuh cantik, anggun, modis. Sedang kamu.. iuwww.. fashion model apa ini? Ngga banget deh.”
“Ck.. sungguh komentar yang ngga bermutu. Situ pikir lebih oke gitu?”
Mata wanita itu membelalak mendengar ucapan santai dari Nara. Kenzie tersenyum tipis melihat bagaimana Nara menanggapi orang yang menghinanya. Dalam hatinya mengagumi sikap gadis itu.
“Ternyata bukan penampilan kamu aja yang kampungan. Ucapan kamu juga sama kampungannya.”
“Yang kampungan itu lebih berkelas. Buktinya ayam kampung lebih mahal dari ayam negeri.”
“Susah ngomong sama orang yang penampilan sama mukanya pas-pasan tapi pedenya setinggi langit.”
“Biar pas-pasan, wajah gue tuh alami tanpa pemanis buatan. Ngga kaya elo yang penuh dempulan.”
Wanita tersebut semakin meradang mendengar ucapan Nara. Dia membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Nara. Tangannya sudah terangkat hendak menjambak rambut gadis itu. Namun gerakannya terhenti saat mendengar suara Kenzie.
“Nara..”
Mendengar namanya disebut, gadis itu menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara. Wanita yang tadi berseteru dengan Nara, buru-buru merapihkan penampilannya melihat Kenzie, wakil CEO tampan yang menjadi banyak incaran wanita termasuk dirinya berdiri tak jauh dari tempatnya.
“Ikut ke ruangan.”
“Siap pak.”
“Dan kamu.. urusanmu sudah selesai?” tanya Kenzie pada wanita tadi.
“Sudah,” jawabnya seraya melayangkan senyuman manis ke arah Kenzie.
“Kalau begitu silahkan pulang.”
Kenzie membalikkan tubuhnya kemudian berjalan menuju ruangannya. Nara melirik ke arah wanita di sampingnya yang terlihat shock mendengar ucapan Kenzie lengkap dengan sikap dingin dan wajah tanpa ekspresinya. Sambil tersenyum dia meninggalkan wanita tersebut.
“Ada apa pak?” tanya Nara begitu masuk ke ruangan Kenzie.
“Kamu ada acara malam ini?”
“Ngga ada pak.”
“Bagus. Kamu temani saya datang ke peluncuran produk Inner Beauty. Kita berangkat satu jam lagi.”
Nara melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul setengah empat sore. Masih terlalu sore untuk datang ke acara yang sedianya dilangsungkan pukul tujuh malam.
“Ngga kecepetan pak?”
“Kita ke tempat lain dulu.”
“Kemana pak?”
“Ck.. ngga usah kepo. Tar badan kamu penuh panu kalau kepo.”
“Ish..”
Sambil mendengus kesal, Nara keluar dari ruangan Kenzie. Pria itu selalu sukses membuat kepalanya mengeluarkan asap.
☘️☘️☘️
**Segini dulu ya...
Neng Naranya mau dandan dulu buat dateng ke acara launching produk bareng babang Ken. Mamake juga mau nerusin buat kue lagi. Papay👋👋👋
Azra, kembarannya Ezra**
Fathan, anaknya Ruby & Agung
__ADS_1