KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bonchap : Hadiah Terindah


__ADS_3

Sepasang suami istri nampak memasuki IGD rumah sakit. Seorang suster membawakan kursi roda untuk sang istri yang tengah kesakitan. Suaminya membantu mendudukkan di kursi roda kemudian mendorongnya memasuki lift. Mereka akan menuju ke lantai lima, tempat di mana ruangan bersalin berada.


Kedatangan keduanya segera disambut oleh dokter Santi. Pasangan yang merupakan Rayi juga Anfa masuk ke dalam ruang bersalin. Seorang bidan yang membantu dokter Santi segera memeriksa keadaan Rayi.


“Sudah waktunya, dok.”


“Ayo siapkan peralatan. Bu Rayi siap-siap ya, bapak di sini saja temani istrinya.”


“Iya dok.”


Dokter beserta bidan segera menyiapkan peralatan. Rayi nampak beberapa kali menarik dan menghembuskan nafas demi mengurangi rasa sakit yang menderanya. Anfa juga terus memberikan instruksi pada istrinya, dia ikut bernafas layaknya ibu hamil yang akan melahirkan.


Di luar ruangan, Rahma dan Teddy baru saja tiba. Tak lama menyusul, anak-anak dan menantunya. Semuanya duduk menunggu di ruang tunggu. Abi terus berada di sisi istrinya yang kini tengah mengandung empat bulan. Sekar dan Nadia tak ikut ke rumah sakit, mereka menunggu kabar baik di rumah sambil menjaga anak-anak.


Astuti yang mendapat kabar dari Rahma juga bergegas menuju rumah sakit bersama suami dan kakaknya. Hatinya berdebar, tak sabar rasanya ingin menyambut kelahiran cucu pertamanya yang berjenis kelamin perempuan.


“Ehhhmmmmm...”


Rayi mulai mengejan ketika bidan memberikan instruksi. Anfa dengan setia berada di sampingnya. Tangannya menggenggam erat tangan Rayi yang tengah berjuang melahirkan anaknya.


Tubuh Rayi terkulai, wanita itu berusaha mengumpulkan tenaganya untuk mengeluarkan sang anak dari rahimnya. Anfa terus memberikan semangat untuknya. Setelah mengambil ancang-ancang dia kembali mengejan.


“Ehhhmmmm... huf.. huf.. huf.... ehhmmmmm..”


“Tarik nafas dulu, bu... hembuskan perlahan,” ucap sang bidan.


“Ehhhmmmm... huf.. huf.. huf...”


“Kepalanya sudah mulai terlihat bu. Ayo semangat.”


Rayi kembali merebahkan kepalanya, tenaganya sudah terkuras setelah hampir empat puluh menit berjuang mengeluarkan janin di perutnya. Dia melihat ke arah sang suami. Anfa mengusap peluh yang membasahi kening sang istri.


“Capek pi..”


“Ayo sayang, mimi pasti bisa. Pas bikinnya aja kuat, sekarang ngeluarinnya juga harus kuat dong.”


“Pipiiiiiii...”


“Iya mimi peri..”


“Pipi nyebelin.. bukannya bantuin malah bikin kesel.”


“Bantuin ngeden? Kan ngga ngaruh juga, kalau pipi ngeden, nanti yang keluar malah dari belakang.”


Dokter, bidan dan perawat yang tengah membantu persalinan tak bisa menahan senyumnya melihat perdebatan unfaedah suami istri tersebut. Anfa sengaja menggoda istrinya demi mengalihkan rasa sakit dan menambah semangat. Biasanya tenaga Rayi akan lebih besar jika sedang kesal atau marah.


“Pipi tuh..”


Ucapan Rayi terhenti ketika kembali merasakan kontraksi. Bidan memberikan instruksi untuk mengejan. Dengan sisa-sisa tenaganya, Rayi mengejan, namun masih belum berhasil. Dia terdiam sejenak, mengambil nafas dalam-dalam kemudian kembali mengejan dengan sekuat tenaga.


“Oeeeek.. oeeeek...”


Suara tangis bayi langsung terdengar ketika Rayi berhasil mengeluarkan bayi dari perutnya. Tubuhnya lansung terbaring lunglai. Tak bisa dilukiskan bagaimana perasaan Anfa saat ini. Dia terus menciumi puncak kepala, kening dan juga pipi sang istri seraya mengucapkan terima kasih.


☘️☘️☘️


Ruang inap Rayi dipenuhi yang penjenguk yang terdiri dari keluarga dan para sahabatnya. Astuti tak berhenti menatap wajah cantik cucunya. Bahagia rasanya Rayi bisa langsung memperoleh anak dalam waktu cepat. Tidak seperti dirinya yang harus menunggu sampai sepuluh tahun baru baru bisa memperoleh momongan.



“Kamu sudah siapkan nama untuk anakmu?” tanya Astuti.


“Sudah ma. Namanya Hanna Batari Hikmat.”


“Hanna.. nama yang cantik, secantik wajahnya.”


Rahma berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Astuti. Dia juga memandangi bayi mungil yang berbobot 3,2 kg itu tanpa berkedip. Kini kedua wanita itu sudah bisa berinteraksi dengan baik. Tak ada lagi sindiran atau kata-kata pedas Rahma yang ditujukan untuk besannya itu.


“Anfaaahhh.. Rayiiihhh.. syelaamaathh yaaahhh.”


Terdengar suara Syakira mengucapkan selamat saat baru saja datang bersama dengan suaminya. Melihat kedatangan Syakira, wajah Rahayu langsung menegang. Buru-buru dia mencari inhaler dari dalam tasnya. Sedang Wisnu memilih keluar dari ruangan. Pria itu tak sanggup mendengar suara men**sah Syakira.


“Makasih ya Syaki,” jawab Rayi.


“Radix mana?”


“Radix juga lagi nungguin Nabila lahiran.”


“Oh iya, di mana? Di sini juga?”


“Iya. Mereka baru aja masuk tadi.”


“Ya ampun berasa anak kembar ya nanti anak kita sama anak Radix,” ujar Rayi.


“Iya kembar beda bapak sama ibu,” Gurit terkekeh.


“Pipi.. aku mau minum dong, haus.”


“Sumpah ya, gue masih geli denger panggilan kalian, pipi, mimi,” celetuk Gurit.


“Rayi tuh ngefans banget sama mimi peri, makanya pengen dipanggil mimi,” jawab Anfa sekenanya yang langsung dibalas pelototan ibu muda itu.


“Mimiiihhh periiihhh tuuuhh syiapaahh siiihhh?”

__ADS_1


“Ngga usah kepo, Yang. Ngga ada faedahnya juga tau mimi peri,” Gurit terkekeh.


“Kamu.. bisa diem nda? Nafasku sesek denger kamu ngomong ngik.. ngik..” seru Rahayu pada Syakira kesal.


Abi, Juna dan Cakra langsung keluar dari ruangan. Begitu sampai di luar ruangan, tawa mereka pecah begitu saja mengundang tatapan para perawat yang tengah berkumpul di meja perawat.


☘️☘️☘️


Radix memandangi bayi laki-laki dalam gendongannya. Matanya menatap tak berkedip wajah sang anak yang tengah tertidur lelap. Perasaannya tak menentu, entah apakah dia harus berbahagia atau bersedih atas kelahiran anaknya. Sebuah tepukan di pundak mengejutkannya.


“Nabila mau bertemu denganmu.”


“Iya ma.”


Radix menyerahkan anaknya ke tangan sang mertua, kemudian mulai berjalan menuju ruang rawat sang istri. Langkahnya terasa berat untuk sampai ke sana. Sekuat mungkin dirinya mencoba menguatkan diri. Setelah menarik nafas panjang, dia membuka pintu kamar. Nampak istri tercinta tengah terbaring lemah di atas bed.


Pria itu melangkah mendekati bed kemudian menarik kursi di samping bed. Dengan mata sayu, Nabila menatap wajah suaminya yang nampak bersedih. Tangannya bergerak mengusap rahang Radix.


“Anak kita mana?”


“Lagi sama mama.”


“Kamu temenin aku ya. Jangan kemana-mana.”


“Iya sayang.”


“Tiduran di sini.”


Radix menuruti kemauan istrinya. Dia naik ke atas bed kemudian menbaringkan diri di sisi sang istri. Nabila memeluk pinggang Radix seraya membenamkan wajah ke dada suaminya. Radix mengusap punggung Nabila pelan. Kesedihan seketika menghantam dirinya. Rasanya tak rela harus berpisah dengan sang istri.


Setelah berjuang melahirkan anaknya, dokter mengatakan kondisi Nabila drop karena kehilangan banyak darah. Sebenarnya masalah sudah ada di awal kehamilan wanita itu. Karena penyakit yang dideritanya, Nabila riskan untuk hamil. Dokter sudah mengatakan kemungkinan terburuk jika wanita itu mempertahankan janinnya.


Tanpa berdiskusi dengan Radix, Nabila memutuskan untuk mempertahankan kehamilannya dan menyembunyikan keadaan dirinya. Susah payah wanita itu menjaga kandungannya hingga sampai memasuki waktu lahir. Dokter mengatakan kecil kemungkinan Nabila akan bertahan karena kondisi fisiknya semakin menurun. Organ vitalnya juga semakin melemah. Hanya keajaiban yang membuat wanita itu bisa bertahan sampai sekarang.


“Kamu sudah dapat nama untuk anak kita?”


“Sudah sayang,” suara Radix terdengar parau.


“Siapa?”


“Irvin.. Irvin Mahaprana.”


“Hmm.. nama yang bagus. Aku suka. Dix...”


“Apa?”


“Tolong katakan hal yang baik tentangku pada Irvin nanti. Katakan kalau aku sangat menyayanginya. Maaf karena tidak bisa melihatnya tumbuh dewasa. Maaf juga tidak bisa menemanimu lagi.”


Tak ada jawaban dari Radix. Hanya punggung pria itu yang nampak bergetar. Pelukannya di tubuh sang istri bertambah kuat seiring tangisnya yang mulai pecah. Nabila pun tak bisa menahan airmatanya. Keputusannya mempertahankan dan melahirkan anak secara normal dilakukan demi suami tercinta. Dia ingin meninggalkan kenangan indah untuk Radix sebelum kembali pada sang pencipta.


“Maaf... maafin aku...”


Nabila tak bisa meneruskan kata-katanya, tangisnya juga pecah begitu saja. Pasangan itu berpelukan erat dengan airmata tak henti mengalir dari mata mereka. Ibu Nabila dan ibu Radix hanya bisa memandangi mereka dari balik pintu. Mereka pun tak kalah sedih melihat keadaan anak-anaknya.


“Aku ikhlas kalau kamu mau menikah lagi. Irvin harus punya ibu yang bisa mengurus dan menyayanginya sepenuh hati.”


“Aku ngga mau perempuan lain. Aku hanya ingin bersama kamu.”


“Tapi waktuku bersamamu sudah hampir habis. Kamu harus bisa melepasku dengan ikhlas.”


Radix mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata yang membasahi wajah pucat sang istri. Perlahan dia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Nabila yang sudah tak kemerahan lagi. Bibir yang senantiasa terlihat kemerahan kini nampak pias.


“Aku mencintaimu.. terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Tolong jaga dan rawat buah hati kita dengan baik. Aku percaya padamu.”


“Bil..aa..”


“Maafkan semua kesalahanku. Aku banyak berbuat salah padamu,” Radix menggelengkan kepalanya.


“Aku sudah memaafkanmu. Aku mencintaimu Bila..”


“Ikhlaskan aku...”


“Jangan tinggalkan aku...”


“Ikhlaskan aku..”


“Aku mencintaimu..”


“Ikhlaskan aku...”


Radix memandangi Nabila, wanita itu menatap penuh harap padanya sambil tetap berusaha tersenyum. Radix kembali menangis, namun dia juga tak mampu melawan kuasa Sang Ilahi yang memegang seluruh kehidupan makhluknya. Dengan berat hati, dia menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih sayang. Tolong sampaikan pada mama dan papa juga Nay, kalau aku sangat menyayangi mereka. Bilang pada bapak dan ibu, aku beruntung menjadi menantu mereka. Peluk cium dariku untuk Irvin, katakan aku sangat menyayanginya. Terima kasih sudah menjadi malaikat tak bersayapku selama ini. Tolong bimbing aku.”


Radix tak bisa berkata apa-apa selain isak tangis yang terus keluar dari mulutnya. Seluruh keluarga yang sedari tadi melihat dari luar, segera masuk ke dalam. Ayah Nabila maju kemudian membisikkan lafaz Allah untuk membantu putrinya pergi. Sedang Radix hanya mampu terdiam seraya memandangi sang istri.


Dengan terbata dan suara lemah, Nabila mengikuti arahan ayahnya. Setelah itu matanya menutup dan tangannya terkulai. Monitor yang menunjukkan tanda vitalnya mulai berbunyi menandakan sang pemilik tubuh sudah tak bernyawa lagi.


“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” ujar ayah Nabila dengan suara bergetar.


“Bilaaaa!!!!”


Radix berteriak seraya memeluk tubuh Nabila yang telah kaku, tangisnya pecah seketika. Pria itu terus memeluk tubuh Nabila, seakan tak rela ditinggalkan begitu saja oleh istri tercinta. Para orang tua hanya bisa memandang pilu, di tengah kebahagiaan memperoleh seorang cucu, mereka juga harus mengikhlaskan kepergian sang anak.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Radix berdiri di depan pusara yang masih basah tanahnya. Matanya menatap nanar ke arah nisan yang bertuliskan nama istri tercinta. Dirinya masih belum percaya, istrinya yang dinikahinya belum genap dua tahun sudah pergi untuk selamanya.


Sekar terus berada dalam pelukan sang suami. Tangisnya masih belum bisa berhenti. Kepergian Nabila yang tiba-tiba begitu mengejutkannya. Demikian pula dengan Rindu, yang shock dengan berita kepergian Nabila. Kevin membawa Rindu pergi sebelum acara pemakaman usai karena sang istri mendadak pingsan.


Gurit hanya mampu berdiri terpaku di samping sahabatnya. Seberapa banyak dirinya menghibur tidak akan mampu menghilangkan kesedihan yang dirasakan Radix. Ayah Nabila mendekati menantunya itu kemudian merangkul bahunya.


“Kamu harus mengikhlaskannya. Nabila sudah tenang di sana. Kamu masih punya tanggung jawab. Irvin membutuhkanmu, dia telah kehilangan ibunya. Jangan sampai dia juga kehilangan ayahnya karena dirimu terus berduka.”


“Iya pa.”


“Papa percaya kamu kuat menghadapi ini semua. Ada kami yang akan selalu membantumu.”


“Bener bro, gue sama yang lain juga akan selalu ada untuk lo. Kasihan Irvin kalau lo lama-lama bersedih. Dia adalah hadiah terindah dari Nabila untuk lo.”


Radix tak mengatakan sepatah kata pun. Namun dalam hatinya membenarkan semua ucapan sahabatnya. Irvin adalah hadiah sekaligus anugerah terindah dalam hidupnya. Dia hadir lewat perjuangan panjang Nabila. Radix berjanji akan menjadi ayah sekaligus ibu untuk yang baik untuk anaknya itu.


☘️☘️☘️


Setahun berlalu sejak kepergian Nabila. Radix masih tetap dengan kesendiriannya. Mama, adik-adiknya juga Naysila, adik Nabila bergantian membantu merawat anaknya. Irvin sekarang sudah semakin besar. Seminggu yang lalu, dia baru saja berulang tahun yang ke satu. Sekar juga Rindu kerap mengunjungi anak sahabatnya itu. Sebisa mungkin mereka berusaha agar Irvin tak kehilangan kasih sayang ibu.


Sore ini, Sekar mengajak para sahabatnya berkumpul di cafe langganannya. Akhir-akhir ini mereka jarang bertemu dan berkumpul karena kesibukan masing-masing. Sekar datang lebih dulu, disusul kemudian Rindu yang datang bersama anak keduanya yang lagi-lagi berjenis kelamin laki-laki. Tak lama kemudian Gurit dan Radix tiba, mereka segera bergabung dengan kedua ibu muda itu.


“Anfa kapan pulang?” tanya Gurit seraya mendudukkan diri di kursi.


“Masih setahun lagi dia di sana,” jawab Sekar.


“Gimana nih kabar hot duda kita?” goda Rindu.


“Wiihh.. gila, penggemarnya banyak di kantor. Hampir tiap hari ada yang titip salam sama dia. Dari mulai gadis, janda sampe nenek-nenek hahaha.”


Rindu dan Sekar ikut tertawa mendengar ucapan Gurit yang diyakini setengahnya pasti bualannya saja. Radix hanya tersenyum tipis, tanpa ada niat membalasnya. Sejak kepergian Nabila, pria itu jadi sedikit pendiam.


“Ayo dong Dix, cheer up. Gue kehilangan sahabat gue yang dulu. Gue kangen Radix yang ceria, yang konyol,” seru Sekar.


“Iya Dix.. Nabila pasti sedih lihat lo kaya gini. Lo harus bisa move on. Nikah lagi, lo kan masih muda. Irvin butuh sosok ibu,” timpal Rindu.


“Sebenernya gue lagi pusing,” akhirnya Radix membuka suara juga.


“Pusing kenapa?”


“Nyokap sama mertua gue nyuruh nikah lagi. Mereka malah udah nemuin calonnya.”


“Nah bener tuh. Gue setuju sama mereka. Btw siapa calonnya? Kita-kita kenal ngga?” cecar Sekar.


Radix tak langsung menjawabnya, dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia mulai bercerita tentang rencana orang tua dan mertuanya yang ingin menikahkan dirinya dengan Naysila, adik dari Nabila. Menurut mereka, tak ada yang lebih menyayangi Irvin dari pada Naysila.


Naysila yang usianya terpaut dua tahun dari Nabila memang sangat menyayangi Irvin. Bahkan dia menunda bekerja demi bisa mengurus Irvin. Menurutnya saat ini Irvin masih membutuhkannya. Nanti ketika keponakannya itu sudah berumur dua tahun, baru gadis itu akan fokus untuk bekerja.


“Setuju.. gue setuju,” ujar Sekar seraya menjetikkan jarinya.


“Gue juga setuju. Ngga ada cewek yang lebih tepat jadi istri lo selain Naysila.”


“Tapi dia adeknya Nabila gaaeess..”


“So what gitu loh. Ngga ada salahnya kan turun ranjang. Yang penting dia itu sayang sama Irvin. Soal perasaan kalian sih gue yakin akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”


“Jiaaaahhh bijak bener sekarang lo, Rit.”


“Weh iya dong. Secara gue udah jadi hot daddy.”


“PRETT!!” seru Sekar dan Rindu bersamaan.


“Turutin deh nasehat orang tua ama mertua lo. Demi Irvin dan demi kesejahteraan adek lo juga.”


“Adek gue?” Radix melihat bingung ke arah Gurit.


“Hooh.. adek lo yang itu tuh,” Gurit menunjuk ke arah bawah Radix.


“Bangk* lo!!”


“Hahahaha...”


Tawa Gurit dan yang lainnya pecah. Radix pun tak ayal ikut tersenyum. Sahabatnya ini memang selalu istiqomah dengan banyolan-banyolan yang menjurus ke arah mesum. Tapi Radix beruntung memiliki sahabat seperti Gurit yang selalu bisa membuatnya tersenyum sejak kepergian Nabila. Dia juga terharu akan perhatian Rindu juga Sekar padanya juga Irvin.


“Tapi inget Dix, kalau lo nikah lagi. Lihat dulu prakiraan cuacanya, jangan sampe resepsinya kena hujan badai lagi huahahaha...” Gurit memegangi perutnya.


“Pastiin juga penghulunya sehat walafiat biar ngga kena iklan mulu,” seru Sekar.


“Iklan apa Se?” tanya Gurit.


“Obat pencahar hahaha,” sambung Rindu.


Gelak tawa kembali terdengar dari keempatnya. Radix menyusut sudut matanya yang sedikit berair karena tak berhenti tertawa. Dibalik tawanya, dia juga memikirkan apa yang dikatakan para sahabatnya. Sepertinya dia akan mempertimbangkan usulan orang tua juga mertuanya untuk menikahi Naysila.


☘️☘️☘️


**Haaaaiii... seperti janji mamake, daku hadir membawa bonchap untuk kalian. In Syaa Allah bulan puasa nanti, mamake akan up setiap sore menjelang maghrib, jd kalian bisa tenang baca setelah berbuka puasa.


Selama bulan puasa tidak akan part ehem² yang bikin hareudang, skip.... tapi part nano²nya masih tetap ada ya.


Kemungkinan besok mamake tidak akan up, maka sekarang mamake ucapkan :

__ADS_1


"Selamat Menunaikan Ibadah Bulan Ramadhan. Semoga puasa kita tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Dan kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, aamiin**.."


__ADS_2