
Suara tangis Kenzie pecah memenuhi seisi kamar. Abi sedari tadi berusaha untuk menenangkan anaknya namun tak berhasil. Dia menggendong Kenzie, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Nina memang menitipkan Kenzie padanya saat akan mandi tadi.
“Yang.. ini Ken nangi terus!”
“Coba periksa pampersnya mas, siapa tahu udah penuh!” teriak Nina dari kamar mandi.
Abi membawa Kenzie ke kasur kemudian membaringkannya. Dibuka celana panjang anak lelakinya itu kemudian membuka diapersnya. Benar saja, diapers yang dikenakan Kenzie sudah penuh oleh air pipisnya. Abi membuka diapers kemudian mengambil tisu basah, serta perlengkapan lainnya.
“Anak papa pipisnya banyak juga ya, sampe penuh pampersnya. Enak ya de minum susu dari sumbernya langsung. Itu punya papa ya, de. Papa cuma pinjemin ke kamu selama dua tahun. Jangan digigit dan jangan dibuat lecet ya.”
Abi membersihkan terompet anaknya dengan tisu basah sambil mengoceh tak jelas. Kenzie hanya memandangi wajah sang ayah tanpa dapat mengerti apa yang dikatakan oleh pria itu. Selesai membersihkan dengan tisu basah, Abi mengolesi kulit sang anak dengan baby cream. Kemudian diambilnya diapers dan menyiapkannya di sebelah sang anak.
Abi mengangkat Kenzie dan memposisikan bokong anaknya di diapers. Dia menundukkan kepalanya sedikit sambil terus mengajak bicara seraya menampilkan mimik wajah lucu untuk membuat sang anak tertawa. Saat pria itu akan memasangkan diapers, tiba-tiba
CURRRR
Terompet milik Kenzie menyemburkan air mancur dan tepat mengenai wajahnya. Abi yang terkejut sontak mengusap wajahnya yang terkena air mancur. Namun Kenzie kembali menyemburkan air untuk yang kedua kalinya.
“Ya ampun anak siapa sih ini,” kesal Abi.
“Anakmu mas hahaha..” jawab Nina.
Nina yang baru keluar dari kamar mandi tak kuasa menahan tawanya melihat suaminya terkena air mancur sang anak. Dia bergegas mendekati keduanya. Abi sibuk mengusap wajahnya yang basah.
“Sana cuci muka dulu mas, biar Ken aku yang pakein pampers.”
Abi hanya mengangguk kemudian beranjak menuju kamar mandi. Nina mengambil diapers yang baru untuk mengganti yang tadi basah terkena air pipis Kenzie. Dibersihkan kembali bagian bawah anaknya dengan tisu basah kemudian baru memakaikan diapers.
“Anak mama jahil juga ya. Itu papa kenapa dikasih air mancur? Tapi ngga apa-apa deh, sekali-kali kerjain papa kamu, jangan papa aja yang ngerjain mama hihihi...”
“Oh gitu ya, jadi kalian kerjasama, hmm..”
Abi yang sudah keluar memeluk tubuh istrinya dari belakang kemudian menciumi pipinya sampai sang empu kegelian. Sambil tak melepaskan pelukannya, Abi memperhatikan Nina yang tengah memakaikan pampers juga celana pada anaknya.
“Udah selesai.. udah ganteng anak mama. sekarang bawa ke halaman belakang mas, ajak berjemur. Tadi cuma sebentar berjemurnya, mumpung belum jam sembilan.”
“Siap kanjeng mami.”
Nina menggendong Kenzie kemudian memberikannya pada sang suami. Abi menyambut sang anak yang diletakkan di lengannya oleh Nina. Nampak Kenzie tersenyum ke arah sang ayah yang membuat hati pria itu semakin bahagia.
“Kita berjemur dulu ya mama. Sunnya mana nih?”
Nina mengecup pipi sang anak kemudian mengecup bibir suaminya. Setelah itu Abi keluar dari kamar dengan Kenzie berada dalam gendongannya. Dia melangkah menuju taman belakang kemudian mendudukkan diri di kursi taman yang terkena sinar matahari.
Kulit Kenzie yang putih terlihat bersinar ketika terkena terpaan sinar mentari pagi. Tubuhnya memang hanya terbalut celana pendek dan kaos lengan pendek. Walaupun umurnya baru seminggu, namun Kenzie termasuk anak yang aktif. Terkadang Nina dan Abi sedikit kesulitan saat membawanya berjemur karena tak mau diam.
Beberapa kali Kenzie tampak mengusak-ngusak matanya, sepertinya anak itu mulai merasa silau dengan sinar matahari yang menerpa matanya. Sadar akan hal itu, Abi merubah posisi anaknya menjadi tengkurap. Kenzie nampak bergerak senang dengan posisi seperti itu.
“Seneng ya de, kalau posisi kaya gini, kaya berenang. Anak papa, harus jadi anak yang soleh ya, sayang sama mama, jadi anak pintar dan bisa melindungi mama juga adik-adik kamu nanti.”
Kenzie terus bergerak di atas pangkuan Abi. Sesekali pria itu mengusap puncak kelapa sang anak. Kebahagiaannya benar-benar lengkap setelah mendapatkan anak pertamanya. Tangan dan kaki Kenzie terus bergerak membuat Abi sedikit kerepotan. Akhirnya Abi memutuskan untuk membalik kembali posisi anaknya. Saat dia mengangkat tubuhnya yang masih dalam posisi tengkurap, tiba-tiba
DUUT DUUT DUUT
Tiga tembakan beruntun dikeluarkan oleh Kenzie dan aroma dari bagian belakangnya langsung menerpa penciuman sang ayah.
“Hahaha...”
Kembali terdengar suara tawa Nina. Wanita itu baru saja memasuki halaman belakang ketika sang anak menembak suaminya. Dia langsung mengambil Kenzie dari gendongan Abi kemudian ikut duduk di samping sang suami.
“Kenzie punya dendam apa sama papa sih? Tadi disemprot sekarang dikentutin,” gerutu Abi.
“Itu tanda sayang buat papa,” jawab Nina sambil menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
“Disuruh mama ya.”
“Ngga usah disuruh juga Ken udah ngerti ya, sayang. Abis papa kan sering banget ngerjain mama dulu.”
“Saking ngertinya dari mulai di perut udah ngerjain papa terus ya.”
Abi menciumi anaknya sambil sedikit mengusakkan bulu-bulu halus yang tubuh di wajahnya. Terdengar suara tawa Kenzie saat merasakan geli di wajahnya. Nina pun ikut tertawa geli melihat interaksi anak dan suaminya.
“Yang.. kayanya Ken laper deh, itu mulutnya mangap-mangap kaya ikan cup*ng.”
Nina menepuk lengan suaminya yang bicaranya selalu tanpa filter. Dia membuka kancing dressnya kemudian mulai menyusui Kenzie. Anaknya itu langsung menyedot asi untuk memenuhi rasa laparnya. Abi terus memperhatikan sang anak yang tengah meng*ny*t bukit kembar favoritnya.
“Yang.. rasanya asi tuh kaya apa sih?”
“Mana aku tau mas. Gurih kali hihi..”
“Gurih-gurih enyoy ya.”
“Emangnya tahu bulat.”
“Kan itu wadahnya emang bulat dan enyoy. Aaaagghhh...”
Abi menjerit kesakitan saat capitan kepiting Nina mendarat di lengannya. Sedang Kenzie tak mempedulikan apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Dia terus saja melahap bukit kembar sang mama yang mengandung nutrisi untuk tumbuh kembangnya.
“Mas ngga kerja?”
“Sebentar lagi sayang.. masih betah lihatin Ken.”
“Nanti abis nyusu, aku sama Ken temenin mas kerja.”
“Bener ya?”
“Iya.. kan tiap hari juga gitu.”
Abi tersenyum, diraihnya kepala Nina kemudian mendaratkan ciuman di keningnya. Setelahnya pria itu beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju ruang kerja pribadinya. Sudah seminggu ini, Abi memilih bekerja dari rumah dan mungkin sampai seminggu ke depan. Dia masih belum ingin berada jauh dari bayi mungilnya. Bahkan Nina dan Kenzie juga lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerja Abi. Kehadiran anak dan istrinya menambah semangatnya untuk bekerja.
☘️☘️☘️
Ruby datang membawakan sebotol minuman dingin kemudian meletakkannya di meja kerja pria itu. dia menarik kursi di depan meja Anfa. Bukan hanya Anfa, tapi dirinya juga Fadil cukup dibuat kerepotan. Jadwal meeting yang padat membuat ketiganya harus pontang-panting mengatur jadwal kembali.
“Gimana persiapan pernikahan kamu Fa?”
“Jujur aku ngga tahu udah sampai mana. Kakak tahu sendiri aku sibuk di kantor. Semua aku serahin ke Rayi. Tapi kemarin dia marah-marah, bilangnya aku ngga peduli sama pernikahan sendiri.”
Anfa menghela nafas panjang. Sudah dua hari ini dia kerap bersitegang dengan Rayi. Memang dia mengakui kalau ini semua salahnya yang tidak memperhatikan jalannya persiapan pernikahan mereka. Untung saja Mrs. Anne mau turun tangan langsung membantu persiapan pernikahan. Bukan tanpa alasan Anfa mengabaikan acara pernikahannya. Kesibukannya di kantor memang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
“Sabar ya Fa. Aku juga ngerti perasaan Rayi kaya gimana. Kamu harus kasih pengertian sama dia pelan-pelan.”
“Iya kak.”
Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar ketukan di pintu. Panjang umur, orang yang dibicarakan datang. Anfa langsung berdiri menyambut calon istrinya itu. Sedang Ruby memilih pergi ke ruangan Fadil, tak ingin mengganggu waktu pasangan calon pengantin.
Anfa dan Rayi mendudukkan diri di sofa. Tanpa bicara, Rayi mengeluarkan kartu undangan dari dalam tas lalu memberikannya pada Anfa. Pria itu memandangi kartu undangan di tangannya.
“Kartu undangannya bagus, aku suka kok. Pilihan kamu emang ngga pernah mengecewakan.”
“Aku kok berasa lagi berhadapan sama klien ya, bukan sama calon suami,” sindir Rayi.
“Maaf Ray. Aku tahu kamu kecewa dan marah sama aku. Tapi kamu lihat sendiri, kerjaan aku banyak banget. Kak Abi masih belum bisa masuk kantor sampai seminggu ke depan. Maaf ya sayang.”
Anfa meraih tangan Rayi kemudian menggenggamnya erat. Sorot matanya menunjukkan penyesalan. Rayi menghembuskan nafas kesal seraya menarik tangannya. Dia masih marah karena Anfa tidak bisa meluangkan waktu sedikit saja untuk mengurusi pernikahan mereka.
Bahkan kemarin pria itu tak punya waktu untuk menghadiri makan malam bersama keluarga dari pihak ibunya. Dia juga Astuti harus menahan malu mendengar sindirian Retno juga anaknya, Jenar. Mereka mengatakan mungkin saja Anfa bersedia menikahi Rayi karena rasa kasihan.
__ADS_1
“Kamu sebenarnya niat ngga sih nikah sama aku?”
“Kok kamu nanyanya gitu sih? Ya aku niat dong sayang.”
“Ya abisnya kamu sibuk terus. Sehari aja bisa ngga sih kamu luangin waktu buat aku?”
“Maaf Ray. Aku benar-benar minta maaf.”
“Mama nanya kamu mau kasih mahar apa?”
“Kan aku udah bilang kalau satu set perhiasan. Atau mama mau yang lain?”
“Ngga.. itu aja. Kamu kapan mau beli maharnya?”
“Mama Rahma udah telepon toko langganannya. Besok tinggal ke sana buat milih perhiasannya. Kamu aja yang pilih ya.”
“Kamu ikut?”
“Maaf Ray, aku ada meeting besok. Kamu sama mama aja ya.”
Lagi-lagi Rayi menghembuskan nafas kesal. Sejak Kenzie lahir, pria itu benar-benar tak punya waktu untuknya. Semua urusan pernikahan menjadi urusannya, bahkan untuk sekedar memberikan masukan pun Anfa tak bisa melakukannya.
“Kenapa harus kamu sih? Kenapa ngga kak Abi aja?”
“Kamu tahu kak Abi lagi cuti. Dia masih mau kerja dari rumah. Maklumlah Ray, kan baru punya Kenzie.”
“Kamu tuh selalu bela kak Abi. Selalu aja nurut apa kata dia. Kadang aku ngerasa, kamu lebih peduli sama dia daripada sama aku. Aku ini calon istrimu Fa. Nantinya aku yang akan mendampingi kamu di saat susah atau senang. Ngga bisa apa kamu luangin waktu buatku sebentar aja. Minta kak Abi hadir di meeting sekali aja masa ngga mau sih.”
Rayi mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya belakangan ini. Anfa selalu beralasan sibuk dan tak punya waktu untuk membantunya. Tapi setiap malam sepulang kerja, dia selalu menyempatkan waktu berkunjung ke rumah Abi untuk melaporkan pekerjaannya.
“Ray.. kenapa kamu jadi kaya anak kecil gini sih. Harusnya kamu dukung aku dong, bukan bikin aku tambah pusing.”
“Emang kamu aja yang pusing? Aku juga pusing Fa. Belum lagi telingaku panas denger sindiran keluargaku karena kamu ngga nongol di acara makan malam kemarin. Kamu tuh yang ngga mau ngertiin aku,” balas Rayi tak mau kalah.
“Kamu ngga usah dengerin omongan mereka. Kamu tahu kalau aku sayang kamu. Bukan cuma aku, tapi semua keluargaku juga sayang kamu. Soal mereka ngga percaya, biarkan aja.”
“Ya ngga semudah itu dong Fa. Terkadang perasaan sayang juga harus ditunjukkan bukan cuma diucapkan.”
“Terus kamu maunya kaya gimana? Hanya karena aku ngga bisa luangin waktu buat pernikahan kita, kamu anggap aku ngga sayang kamu, iya?”
“Iya! Karena kamu hanya peduli sama kak Abi, tapi ngga sama aku! Buat apa diterusin pernikahan kalau kamu kaya gini. Nanti setelah menikah pun ngga ada bedanya, tetap orang itu yang jadi prioritas kamu, bukan aku!”
Rayi berdiri dari duduknya kemudian keluar dari ruangan sambil membanting pintu. Anfa meremat rambutnya kesal. Di saat seperti ini, perhatian yang diharapkan dari Rayi, bukan sikap menuntut dan kekanakannya.
Ruby yang tengah berbicara dengan Fadil terkejut saat mendengar suara pintu berdebam. Wanita itu berpamitan pada Fadil kemudian bergegas masuk ke dalam ruangan. Nampak Anfa tengah duduk menunduk sambil kedua tangannya meremat rambutnya.
“Fa.. kamu ribut lagi sama Rayi?”
“Pusing aku kak. Harusnya dia ngertiin aku bukan marah-marah kaya gini. Dia marah karena aku ngga bisa temenin dia milih perhiasan buat mahar. Kakak tahu sendiri besok kita ada meeting penting sama calon klien.”
“Ya udah mending kamu temenin Rayi aja. Biar nanti aku sama Fadil yang bicara sama pak Abi. Mudah-mudahan dia mau keluar untuk meeting.”
“Ngga usah kak. Kita meeting besok sesuai rencana semula.”
“Tapi Rayi...”
“Sejak melamarnya dia tahu kesibukanku seperti apa. Mau ngga mau, suka ngga suka dia harus siap dengan kondisi seperti ini. Memilih mahar pernikahan bisa ditemani mama Astuti juga mama Rahma. Tapi meeting besok itu proyek besar, hasil meeting akan mempengaruhi hidup orang banyak. Aku ngga boleh egois kak. Maksud kak Abi menyuruhku menghadiri meeting besok bukan karena dia ngga mau meninggalkan Kenzie. Tapi dia mau aku mulai belajar memenangkan proyek besar dan bertanggung jawab atasnya. Aku harus membuktikan diri di hadapan kak Abi juga papa Teddy kalau kepercayaan yang diberikan padaku ngga sia-sia.”
Ruby tersenyum mendengar jawaban Anfa. Dia kagum sekaligus bangga dengan pemikiran pemuda di hadapannya. Wanita itu tak berkata apa-apa lagi selain mengikuti keputusan Anfa. Namun dia juga berniat menghungi Nina untuk menceritakan perihal Anfa dan Rayi. Dia tak ingin pernikahan Anfa sampai gagal hanya karena masalah kantor.
☘️☘️☘️
...Baby Ken... Aku padamu😘😘😘...
__ADS_1
Maaf ya dua hari kemarin ngga bisa up, karena kesibukan di RL. Ayo komen yang banyak, klo tembus 200 komen, mamake up lagi hari ini😉