
“Siap sayang?”
Tak ada jawaban dari Nara, hanya mata sayunya saja yang terus menatap wajah tampan suaminya. Kenzie mel*mat bibir Nara sebentar lalu dirinya bersiap untuk mencetak gol untuk pertama kalinya.
☘️☘️☘️
Pagi harinya Abi beserta keluarga juga Jojo dengan anak dan istrinya sudah berkumpul untuk menikmati sarapan. Abi memilih menikmati makan pagi di area kolam renang. Makan bersama keluarga dan besan sambil menghirup udara pagi. Sebuah meja panjang berukuran sedang dengan aneka makanan di atasnya berada di bagian sudut. Abi memang meminta sarapan dengan konsep buffet.
Ravin yang menginap di hotel segera bergabung sebelum jam kerjanya dimulai. Setelah mencium punggung tangan para tetua, pria itu menarik kursi di samping Freya lalu mendudukkan diri di sana. Kenan, Barra, Naya dan Dilara juga sudah hadir. Hanya tinggal pasangan pengantin baru yang masih belum terlihat batang hidungnya.
“Ken mana?” tanya Jojo.
“Ngga usah nungguin mereka. Masih dinas kayanya,” jawab Abi asal yang langsung dihadiahi cubitan oleh Nina.
“Ya bagus deh.. semangat ngadon,” sahut Jojo.
“Ngadon apa om?” celetuk Kenan.
“Anak kecil ngga usah kepo,” jawab Abi.
“Ck.. aku udah besar pa, udah 20 tahun. Udah bisa bikin anak juga.”
Uhuk.. uhuk..
Nina terbatuk mendengar ucapan anak bungsunya. Sontak saja wanita itu melayangkan tatapan mautnya. Kenan hanya cengar-cengir saja melihat sang mama sudah dalam mode waspada.
“Awas aja kamu kalau berani macem-macem,” ancam Nina.
“Ya ngga lah ma. Aku bukan tipe tukang DP. Kalau udah ada cewek yang aku suka bakalan aku bawa ke depan mama dan langsung aku nikahin.”
“Bagus itu, papa setuju. Tapi ngomong-ngomong emang ada cewek yang tahan sama mulut kamu yang kaya kompor mledug?”
Perkataan Abi yang sarat makna itu langsung disambut gelak tawa semua yang tengah menikmati sarapan. Kenan mendengus kesal melihat Barra dan Ravin yang terlihat puas sekali. Untung saja kakak sulungnya tidak ada, bisa bertambah kencang paduan suara mereka menertawakan dirinya.
“Maksud kamu tukang DP apa Nan?” tanya Dinda.
“Itu loh tante, nanem saham dulu baru dinikahin alias dibikin bunt*ng duluan hahaha...”
“Awas aja ya bang kalo berani DP sama kak Frey,” lanjut Kenan sambil melihat ke arah Ravin.
PLAK
“Sembarangan lo kalo ngomong,” Ravin mengeplak belakang kepala Kenan dengan kesal. Freya menjejak kaki Kenan, membuat sang adik meringis kesakitan.
“Nan.. yang duet bareng lo, siapa?” tanya Barra. Pria itu cukup penasaran, pasalnya Kenan jarang berinteraksi dengan perempuan selain Anya dan Alisha. Bahkan dengan Dilara pun jarang, apalagi Jihan.
“Dia suster yang ngerawat gue di rumah sakit.”
“Masa? Kok mama ngga pernah lihat.”
“Bukan ngerawat sih ma. Dia bantuin aku pas mau pulang, Viren juga tau. Eh ngga kayanya, dia mana peduli sama yang begituan.”
Nina hanya menganggukkan kepalanya. Semalam dia sempat memperhatikan saat Kenan bernyanyi dengan seorang wedding singer. Dari bahasa tubuh sang anak, dia bisa menangkap kalau Kenan menyukai gadis itu.
“Hubungan kamu sama Hanna gimana, Bar? Biar papa bisa atur jadwal, kamu apa Naya duluan yang nikah.”
“Wah masih jauh, om. Saingannya berat, mantan terindah hahaha..”
Barra mendelik kesal ke arah Kenan, dasar kompor mledug, rutuknya dalam hati. Namun dia tak sepenuhnya memungkiri perkataan Kenan. Hubungannya dengan Hanna memang masih jalan di tempat. Hanna masih menutup diri dari lawan jenis, keduanya dekat karena urusan pekerjaan dan akal-akalan Barra saja biar bisa dekat dengan gadis itu.
Di sisi lain, Naya juga hanya terdiam. Setelah masalah Verucca selesai, hubungannya dengan Aric kembali harmonis. Tapi dua hari belakangan ini, pria itu nampak berbeda. Aric jarang berbicara, kadang membalas pesannya pun cukup lama. Yang paling menyesakkan, pria itu seperti tengah berusaha menghindarinya. Seperti tadi malam, tak ada keinginan Aric untuk mendekatinya padahal Naya sudah berusaha menghampiri.
Hanya Dilara yang nampak bahagia. Hubungannya dengan Ezra sudah semakin dekat, bahkan mungkin sebentar lagi kakak kembar dari Azra itu akan menyatakan perasaannya. Gadis itu senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana manis dan mesranya sikap Ezra padanya.
☘️☘️☘️
Suasana berbeda terjadi di kamar pengantin. Jika keluarga mereka tengah menikmati sarapan diselingi perbincangan santai, pasangan penganti baru justru tengah sibuk berbagi keringat. Usai shalat shubuh, Kenzie kembali mengajak sang istri mengarungi surga dunia. Dirinya masih belum puas sekaligus ketagihan merasakan kehangatan gua lembab Nara.
"Love you, Nara,” bisik Kenzie setelah pergulatan panas mereka.
Kenzie memeluk tubuh Nara dari belakang seraya memberikan kecupan-kecupan kecil di tengkuknya. Nafas keduanya masih terdengar terengah karena olahraga pagi yang melelahkan. Untuk beberapa saat mereka masih beristirahat, sebelum akhirnya Kenzie membopong tubuh istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian Kenzie keluar masih dengan membopong Nara. Dibaringkan tubuh sang istri lalu menutupinya dengan selimut. Sedang dirinya bergerak ke arah lemari untuk mengambil kaos dan bokser. Usai berpakaian, Kenzie mengangkat gagang telepon ekstensi untuk memesan layanan kamar lalu berbaring di samping Nara.
“Masih sakit ngga sayang?”
“Masih.. mas mainnya lama banget. Cape aku, mana laper.”
Kenzie terkekeh mendengar rengekan sang istri. Begitu mencicipi tubuh Nara, dia seakan tidak bisa berhenti dan terus menginginkannya. Direngkuhnya tubuh Nara lalu mendekapnya erat. Raganya juga lelah bermain cukup lama selepas shubuh. Keduanya mulai memejamkan mata.
__ADS_1
Tidur Kenzie terusik ketika mendegar suara bel. Dengan malas dia menyingkap selimut lalu turun dari kasur. Nampak seorang pelayan berdiri di depan pintu dengan troli berisi makanan. Kenzie mengambil alih troli tersebut lalu membawanya ke kamar tidur. Pria itu mendudukkan diri di sisi ranjang lalu membangunkan istrinya.
“Ra.. sayang.. bangun. Sarapan dulu yuk.”
Perlahan Nara membuka matanya. Dengan gerakan pelan dia menegakkan tubuhnya, seraya menarik selimut untuk menutupi bagian atasnya.
“Jangan ditutup yang, dibuka aja.”
“Ish dasar mesum.”
Kenzie tergelak seraya mengusak puncak kepala istrinya. Nara mengambil bantal lalu menaruhnya di depan dada. Kenzie mendekatkan troli ke arahnya. Nara memandangi makanan yang tersaji di atasnya. Dua buah telur mata sapi, sosis, salad sayur dan kentang goreng tertata rapih. Kenzie mengambil piring berisi telur dadar lalu memberikannya pada Nara. Ditambahkan garam dan juga merica ke atasnya, baru sang istri memakannya.
“Kamu mau bulan madu kemana sayang?” tanya Kenzie di sela-sela sarapannya.
“Terserah mas aja. Mas maunya kemana?”
“Kalau aku sih maunya di kasur aja.”
“Ish...” Kenzie kembali tergelak.
“Kalau ke pulau pribadi milik teman papa mau ngga? Kita tinggal di vila, berendam di mata air hangat, jalan-jalan di pantai sambil menunggang kuda, snorkling atau menelusuri hutan. Gimana?”
“Hmm.. boleh mas, kayanya seru.”
“Ya udah nanti aku bilang papa dulu.”
Kenzie mengambil sepotong sosis lalu menaruh di antara kedua giginya. Kemudian ditariknya tengkuk Nara, dipindahkannya sosis ke mulut Nara sambil mel*mat sebentar bibir sang istri.
“Aku ngga nyangka, mas bisa romantis juga.”
“Romantisku cuma buat kamu bukan untuk diumbar ke publik.”
“Tentu saja, karena mas suamiku. Hanya aku yang boleh menikmati semua perlakuan romantis, mas.”
“Itu sudah pasti.”
Kenzie menyatukan kedua kening mereka, perlahan bibirnya memagut bibir Nara yang tak pernah bosan dicecapnya. Diambilnya sepotong kentang goreng yang kemudian diselipkan ke bibirnya. Nara menggigit potongan kentang tepat di dekat bibir Kenzie hingga bibir keduanya bertemu. Pasangan yang tengah dimabuk cinta itu terus memakan sosis dan kentang dengan cara seperti tadi sampai habis.
☘️☘️☘️
Beberapa kali Naya mematut dirinya di depan cermin, memastikan kalau tak ada yang kurang dengan penampilannya. Hari ini dia sengaja mengambil cuti, demi bisa menemui Aric. Gadis itu ingin tahu apa yang menyebabkan sikap kekasihnya itu berubah. Naya memasukkan ponsel ke dalam tasnya kemudian keluar dari kamar.
Dicomotnya selembar roti bakar yang tersedia di atas meja makan lalu mengolesnya dengan selai kacang. Sambil menggigit rotinya, gadis itu berjalan menuju mobilnya. Dengan kecepatan sedang, Naya melajukan kendaraannya. Tujuannya adalah kantor Maeswara Dunia.
Sesampainya di lantai di mana ruangan Aric berada, Naya masih harus menunggu karena Aric tengah bertemu dengan salah satu klien penting. Gadis itu duduk di sofa yang ada di ruang tunggu. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Jamal yang mengirimkan pesan, mengatakan kalau siang nanti Veruca akan dikirimkan ke pulau tempat dirinya menerima hukuman.
To Jamal :
Sebelum pergi, aku mau bertemu dulu dengannya.
From Jamal :
Baik bu.
Naya memasukkan kembali ponselnya. Tepat saat itu sekretaris Aric mempersilahkan dirinya untuk masuk. Dengan hati berdebar dia membuka pintu ruangan Aric. Nampak kekasihnya itu tengah duduk di belakang meja kerjanya. Pria itu sibuk dengan berkas dan juga laptopnya.
“Bang..”
Aric mengangkat kepalanya. Sejenak dia hanya memandangi Naya tanpa ekspresi kemudian bangun dari duduknya. Pria itu berjalan menuju Naya lalu mengajaknya duduk di sofa. Batin Naya menjerit meihat sikap Aric yang begitu dingin padanya.
“Ada apa ke sini?”
“Apa abang sedang sibuk?”
“Lumayan.”
“Aku hanya ingin membicarakan hubungan kita. Tapi kalau abang sibuk, kita bisa membicarakannya nanti kalau abang sudah tidak sibuk. Aku pulang ya bang, maaf sudah mengganggu waktunya.”
Naya mengangkat bokongnya, namun baru saja dia akan melangkah pergi, terdengar suara Aric mengatakan hal yang membuatnya seperti disengat petir di siang bolong.
“Pernikahan kita batal.”
“Apa bang?”
Naya kembali mendudukkan dirinya di sofa. Dia berharap Aric tengah mengerjainya, namun ekspresi pria itu begitu serius. Naya meraih tangan Aric lalu digenggam dengan kedua tangannya. Tak disangka Aric menarik tangannya dengan kasar.
“Bang.. kenapa bang? Apa salahku?”
“Kamu ngga salah. Aku saja yang bodoh tidak bisa melihat kebenaran.”
__ADS_1
“Apa maksud abang? Tolong katakan langsung, jangan buat aku bingung.”
“Kenapa kamu mau menikah denganku, Nay?” bukannya menjawab pertanyaan Naya, pria itu malah balik bertanya dan hal itu sukses mengejutkan gadis itu.
“Karena aku mencintai abang.”
“Cinta? Hahaha..”
Aric tertawa sumbang. Naya semakin dibuat bingung oleh tingkah kekasihnya. Aric bangun dari duduknya lalu mendekati meja kerjanya. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci lalu kembali ke tempatnya semula. Jari Aric menekan tombol on pada benda yang merupakan perekam suara.
Di antara cucu keluarga Hikmat, kenapa kamu memilih Aric? (suara Veruca).
Sebenarnya orang yang kucintai itu Kenzie. Tapi dia sulit untuk didekati. Aku memilih Aric untuk membuatnya cemburu. Selain itu, Aric adalah orang yang paling mudah didekati. Pria yang ramah, romantis dan pastinya dia mencintaiku. Aku akan berpura-pura berpacaran dengannya untuk membuatnya cemburu. (suara Naya).
Rekaman suara berhenti sampai di situ. Naya tercekat mendengar percakapannya dengan Veruca dulu. Tepatnya dua tahun lalu, saat dirinya baru mengenal perempuan itu. Dan sebenarnya perbincangan mereka tidak berhenti di sana. Bagian ketika Naya mengatakan kalau dirinya telah jatuh cinta pada Aric dan tak bisa hidup tanpanya tidak terekam atau bahkan mungkin sengaja di dihapus.
“A.. abang dapet rekaman itu dari siapa?”
“Menurutmu?”
“Abang aku bisa jelasin. Itu ngga sepenuhnya benar. Memang awalnya aku mendekatimu untuk membuat bang Ken cemburu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku jatuh cinta padamu.”
“Kamu pikir aku percaya?”
“Abang lebih percaya Ve dari pada aku?”
“Aku ngga tau Nay, siapa yang harus aku percaya. Perubahan sikapmu akhir-akhir ini membuatmu seperti orang asing bagiku. Pernikahan bukan hal yang main-main, dan aku ngga mau berada di zona abu-abu ketika melakukannya. Aku ngga tahu perasaanmu pada Ken sudah usai atau belum, yang pasti aku tidak mau menjadi pelampiasanmu. Jadi lupakan soal pernikahan kita.”
“Bang..”
“Aku masih banyak pekerjaan Nay. Lebih baik kamu pergi.”
Tanpa menunggu jawaban Naya, Aric bangun dari duduknya lalu kembali ke belakang meja kerjanya. Dia kembali menyibukkan diri dalam pekerjaan. Dengan perasaan hancur, Naya keluar dari ruang kerja Aric. Airmatanya luruh begitu saja. Tak dipedulikan tatapan Kania padanya. Gadis itu terus berlalu meninggalkan lantai di mana Aric bekerja.
☘️☘️☘️
Naya melihat Veruca yang berdiri di depannya dengan tatapan nanar. Wanita yang dianggapnya sebagai sahabat baik ternyata hanyalah musuh dalam selimut yang sukses memporak porandakan hidupnya. Dibanding kemarahan, kesedihan lebih besar menguasai hati gadis itu. Perasaan tulusnya dibalas pengkhianatan.
Berbeda dengan Naya, Veruca menatap tak acuh pada gadis di depannya. Sedari awal dia tak menyukai Naya. Veruca iri karena Naya lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga berkecukupan. Apapun bisa didapatkan dengan mudah. Sedang dirinya harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Termasuk biaya untuk pengobatan adiknya.
“Kamu yang memberikan rekaman pada bang Aric?”
“Bagaimana hadiah dariku? Indah bukan? Itu balasan yang setimpal untukmu.”
“Kenapa kamu begitu membenciku?”
“Tak ada alasan khusus. Aku hanya membencimu, gadis manja yang bisa mendapatkan apapun dengan mudahnya. Bahkan Aric tergila-gila padamu. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak lagi. Walau aku tidak bisa mendapatkan Aric, tapi aku puas berhasil memisahkan kalian.”
Naya tersenyum getir, entah kesalahan apa yang dilakukan sampai Veruca begitu membencinya. Di tengah kerapuhannya saat ini, gadis itu tetap berusaha tegar dan tak menunjukkan kesedihannya.
“Bagaimana rasanya Nay, kehilangan orang yang kamu cintai? Itu balasan setimpal untukmu karena sudah membunuh adikku!”
“Kakak..”
Veruca menolehkan wajahnya. Seketika tubuhnya membeku melihat, Mira adiknya berdiri di belakang Naya. Awalnya gadis itu menolak bertemu dengan Veruca. Namun Dion terus membujuknya dan menceritakan alasan sang kakak melakukan tindak kejahatan. Semua dilakukan demi kesembuhan Mira. Mendengar cerita itu, hati Mira luluh dan bermaksud menemui Veruca.
“Mira.. kamu...”
“Apa begini cara kakak membalas orang yang sudah menolongku? Menyelamatkan hidupku?”
“Apa maksudmu?”
“Kak Naya yang sudah membantuku. Dia membawaku ke rumah sakit besar dan mengobatiku. Kondisiku sekarang sudah membaik kak. Bukan hanya membawaku ke rumah sakit, tapi kak Naya juga mencarikan donor sumsum tulang belakang untukku. Aku kecewa pada kakak.”
“Tapi bukannya Naya meracunimu?”
“Itu adalah vitamin. Yang disuntikan ke tubuh Mira adalah vitamin. Dan monitor yang kamu lihat itu hasil rekayasa,” jelas Naya.
Kaki Veruca terasa lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Perempuan itu jatuh terduduk di lantai. Orang yang begitu dibencinya, yang sangat ingin dihancurkannya justru menyelamatkan orang yang begitu disayanginya.
“Aku tulus berteman denganmu, Ve. Tapi kamu membalas ketulusanku dengan kebencian dan pengkhianatan. Terima kasih kamu sudah memberikan pelajaran berharga untukku. Aku harap kamu menikmati hidup barumu. Jadilah pribadi yang lebih baik, lakukan itu demi adikmu. Supaya dia bisa kembali bangga memanggilmu kakak.”
Naya membalikkan tubuhnya lalu beranjak pergi. Mira memandangi sang kakak cukup lama. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir gadis itu. Kekecewaan mendalam juga dirasakan olehnya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Mira pergi meninggalkan Veruca. Tangis Veruca pecah begitu Mira berlalu. Berjuta penyesalan menghantam dirinya.
Dion yang sedari tadi memperhatikan adegan drama di depannya, segera menghampiri Veruca. Dengan satu tangan dia menarik lengan Veruca untuk berdiri kemudian membawanya ke mobil. Pria itu akan segera membawa Veruca ke bandara. Hari ini dia akan dikirim ke pulau C untuk menjalani hukuman.
☘️☘️☘️
Kenapa partnya berasa dikit ya?
__ADS_1
No comment🤐🤐🤐
Besok seperti biasa, mamake libur. Mau mengistirahatkan otak dan hati dulu🙏