
Suasana Jagdish café sudah ramai didatangi pengunjung. Malam ini ada perayaan ulang tahun salah satu pengunjung. Acara ulang tahun mengambil hampir setengah area café. Sang pemilik hajat meminta home band yang tampil menyanyikan lagu-lagu yang sudah disusun olehnya.
Home band yang biasa mengisi acara di café ini tak bisa tampil dan atas rekomendasi mereka, pemilik café meminta The Myth band yang menggantikan. Awalnya Kenan enggan mengambil tawaran karena ingin bersantai minggu ini. Tapi begitu tahu yang berulang tahun adalah teman dari Zahra, dengan semangat pemuda itu mengambil tawaran tersebut. Tentu saja info tersebut dia dapatkan dari Jacob. Kenan mengikuti saran Freya, mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Zahra dari pakar IT yang biasa dipanggil monyet albino olehnya.
Sambil menyiapkan peralatan, Kenan terus melirik ke arah kumpulan pengunjung yang tengah merayakan ulang tahun. Masih belum terlihat sosok Zahra di sana. Pemuda itu meneruskan kegiatannya. Kemudian sudut matanya menangkap gadis pujaannya memasuki café. Dada Kenan langsung berdangdut ria melihat kedatangan pujaan hatinya.
Dengan kado di tangannya, Zahra menghampiri Wirda, temannya yang berulang tahun. Sambil bercipika-cipiki, gadis itu mengucapkan selamat ulang tahun. Kenan yang terus memperhatikannya berharap dirinya yang ada di posisi Wirda. Merasakan pipi halus Zahra menempel di pipinya. Pemuda itu menggelengkan kepalanya. Akhir-akhir ini dia sering berkhayal mesum jika bertemu Zahra. Mungkin ini efek sering melihat adegan live Kenzie dan Nara bermesraan di rumah.
“Napa lo? Pusing?” tergur Revan.
“Kaga.”
“Heleh paling lagi viktor dia. Noh ada si Zahra,” timpal Viren.
“Berisik lo! Si Anya mana?”
“Lagi jemput Al dulu katanya.”
“Kenapa bukan lo aja yang jemput Al?” Kenan melihat ke arah Viren.
“Apa hubungannya ama gue? Kan elo ama Ikal yang deketan rumahnya.”
“Elo tuh ngarepin si chiler peka gitu? Mimpi lo!” timpal Ikal yang langsung disambut gelak tawa lainnya. Sedang sang objek pembicaraan nampak tak peduli.
Tawa keras yang berasal dari arah panggung membuat Zahra menolehkan kepalanya ke arah sana. Matanya membulat melihat Kenan yang tengah menyetem gitarnya. Beberapa kali gadis itu mengerjapkan matanya, takut salah melihat. Namun ternyata benar. Pemuda yang ada di atas panggung itu adalah pasien rese yang terus saja mengganggu dirinya. Zahra buru-buru membalikkan tubuhnya membelakangi panggung. Jangan sampai Kenan menyadari keberadaannya.
Dua buah mobil berhenti di depan café. Dari mobil pertama, Anya dan Alisha turun dan dari mobil kedua, Irvin yang keluar. Melihat Anya, Irvin bergegas menghampiri gadis itu.Tahu Irvin mendekatinya, Anya bermaksud untuk langsung masuk, namun terlambat, Irvin sudah lebih dulu sampai. Alisha memilih langsung masuk, meninggalkan kedua orang itu menyelesaikan masalahnya.
“Nya.. bisa bicara sebentar?”
“Maaf bang, yang lain udah nunggu.”
“Sebentar aja, Nya,” Irvin menahan lengan Anya yang hendak masuk ke dalam café.
“Ya udah mau ngomong apa sih?”
Sebenarnya Anya sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan Irvin. Sekar sudah mengatakan padanya kalau sebelum berangkat ke Banda Aceh, pria di hadapannya ini bertemu dengan kedua orang tuanya. Meminta maaf atas kelakuan kasarnya saat ulang tahunnya tempo hari.
“Nya.. aku minta maaf soal kejadian waktu itu. Maaf, ngga seharusnya aku bersikap kasar sama kamu. Maaf kalau aku udah bikin kamu sakit hati.”
“Emang aku yang salah, bang. Aku udah buang waktu berharga abang, aku udah lancang ngerayain ulang tahun abang, bikin surprise yang malah bikin bad mood. Semua salah aku. Abang ngga perlu minta maaf. Aku emang anak manja yang suka bersikap seenaknya. Dan abang benar, ngga semua orang suka sama aku. Tapi abang tenang aja, aku udah dapet pelajaran berharga kemarin. Mulai sekarang aku akan bersikap hati-hati dan ngga akan ikut campur hidup orang lain lagi, terutama hidup abang.”
Tanpa menunggu jawaban Irvin, Anya segera masuk ke café. Mengingat sikap kasar, ucapan yang tak enak didengar dan tatapan menusuk Irvin malam itu, membuat rasa sakit hati Anya yang sempat tenggelam, kini kembali muncul ke permukaan.
Sementara itu, Irvin hanya diam terpaku. Ucapan Anya barusan begitu menohok perasaannya. Anya seakan tengah menyindir dirinya. Pria itu jadi malu sendiri, betapa pria itu telah menyakiti hati Anya. Gadis yang biasanya banyak mengumbar senyum dan bersikap ramah padanya kini seolah menghilang.
Sambil menghela nafas panjang, Irvin melangkahkan kakinya masuk ke dalam café. Biar bagaimanapun juga, dia harus bisa mendapatkan maaf dari gadis itu. Irvin melihat ke sekeliling cafe yang sudah ramai oleh pengunjung. Di sisi sebelah kanan cafe, jajaran meja sudah penuh karena ada perayaan ulang tahun. Pria itu lalu menuju meja yang ditempati Alisha. Kebetulan sekali letaknya tak begitu jauh dari panggung.
“Hai Al,” sapa Irvin seraya menarik kursi di samping gadis itu.
“Gimana kak? Beres urusannya sama Anya?”
“Belum. Dia masih marah.”
“Wajar sih, kak. Aku juga kalau jadi Anya bakalan sakit hati. Semangat minta maafnya, bang. Minta maaf kan emang ngga semudah bikin sakit hati.”
“Makasih Al, buat sindirannya.”
“Hahaha… sorry bang.”
Percakapan keduanya terhenti ketika terdengar alunan musik dari arah panggung. Kenan mulai menyanyikan lagu pertamanya. Pengunjung di café, khususnya kaum hawa langsung melayangkan pandangannya ke arah sang vocalis. Bukan hanya berwajah tampan, tapi juga memiliki suara merdu.
Teman-teman Zahra pun dibuat terkejut dengan penampilan The Myth band. Tatapan memuja langsung dilayangkan pada pemuda itu. Zahra hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah teman-temannya. Gadis itu memilih bermain dengan ponselnya dan membalas chat di grup IGD, tempatnya magang saat ini.
Usai menyanyikan dua buah lagu, Anya naik ke atas panggung. Kini giliran gadis itu untuk tampil. Anya berbicara sebentar dengan personil The Myth. Setelah sepakat akan lagu yang dibawakan, gadis itu segera mengambil tempat di depan stand mic. Sekilas dia melihat ke arah Irvin yang tengah duduk bersama dengan Alisha.
“Selamat malam semua.”
“Malam.”
Melihat Anya, kini giliran teman lelaki Zahra yang bereaksi. Ada yang bersiul, ada yang berteriak sambil mengeluarkan gombalan, ada pula yang mengambil gambar gadis cantik tersebut.
“Selamat ulang tahun saya ucapkan untuk yang tengah berbahagia malam ini. Semoga apa yang menjadi keinginannya bisa segera terkabul.”
“Aamiin…” jawab teman-teman Zahra.
“Tanpa mengurangi kebahagiaan yang berulang tahun, ijinkan saya menyanyikan lagu di luar dari yang diminta. Apa boleh?”
“Boleh. Apa sih yang ngga buat kamu!” celetuk salah satu teman lelaki Zahra.
__ADS_1
“Buat neng cantik bebaslah.”
“Aku padamu cantik. Boleh kenalan ngga?”
“Huuu..”
Ucapan pemuda yang duduk di dekat Zahra langsung menuai sorakan dan toyoran dari teman-temannya. Revan hanya menggelengkan kepalanya saja melihat reaksi mereka akan kecantikan Anya. Mereka belum melihat bagaimana tingkah konyol gadis itu. Anya menolehkan kepalanya pada Revan lalu memberi tanda untuk memulai.
Irama lagu slow pun mulai terdengar. Anya memegang stand mic dengan sebelah tangannya. Tak lama dia memulai nyanyiannya. Suara tepuk tangan serta pujian langsung terdengar menyambut suara merdu Anya.
“You don't know a thing at all. You don't know about the way I am when I am all alone.
You don't even know. The way I care, the way I've grown. You don't know about the way I love so deeply to my bones. You don't even know me whoa.. whoa..”
Mata Anya terus menatap ke arah Irvin saat menyanyikan bagian refrain. Seakan menegaskan pada pria itu kalau nyanyian ini ditujukan untuknya. Anya begitu meresapi setiap lirik yang dinyanyikannya dan mengakhiri bagian reffrain dengan mengarahkan telunjuknya pada Irvin.
Begitu pula dengan Irvin, pria itu tak sedikit pun melepaskan pandangannya dari Anya. Dia sadar betul kalau gadis itu tengah menyindirinya lewat lagu yang dinyanyikannya. Lirik lagu You Don’t Even Know Me milik Faouzia memang pas ditujukan untuk dirinya. Irvin memang belum terlalu mengenal Anya. Namun karena hasutan Jihan, dengan seenaknya dia memberikan penilaian buruk untuk gadis itu.
Selesai menyanyikan lagunya, Anya lanjut menyanyikan lagu berikutnya bersama dengan Kenan. Sebuah lagu yang telah dipesan oleh yang berulang tahun. Suara merdu mereka terdengar sangat kompak menyanyikan lagu duet milik John Legend dan Faozia. Tatapan cemburu dilayangkan kaum hawa ketika melihat kemesraan Kenan dan Anya menyanyikan lagu tersebut.
Zahra berdecih melihat pemandangan di depannya. Entah mengapa dia kesal melihat Kenan menyanyikan lagu sambil memandang dan memegangi tangan Anya. Tanpa gadis itu sadari, dalam hati pemuda itu bersorak girang melihat wajah Zahra yang nampak jengah dengan kemesraannya bersama Anya. Dia berhasil menjalankan salah satu rencana Freya dengan baik. Membuat gadis itu cemburu.
Namun bukan hanya Zahra yang merasa jengah melihat kemesraan Anya dan Kenan di atas panggung. Irvin juga menatap kesal ke arah mereka. Walau sering melihat Anya dan Kenan berduet, namun malam ini dia merasakan sesuatu yang lain. Jengah, kesal dan mungkin saja cemburu. Sejak malam ulang tahunnya, pria itu memang tak pernah berhenti memikirkan Anya.
Kemesraan Anya dan Kenan di atas panggung belum berakhir. Mereka masih menyanyikan lagu duet bertema cinta. Zahra yang tengah menyibukkan diri dengan ponselnya, mengangkat kepalanya ketika mendengar pasangan itu menyanyikan lagu Just a Kiss. Lagu yang pernah dinyanyikannya bersama Kenan saat mengisi acara resepsi pernikahan Kenzie dan Nara.
Ingatan Zahra kembali terlempar pada malam pernikahan dulu. Dia seakan mengalami dejavu ketika Kenan menyanyikan lagu yang sama dan menggenggam tangan teman duetnya. Hanya saja perempuan yang bersama dengan pemuda itu sekarang bukanlah dirinya.
Karena asik melamun, Zahra tak menyadari kalau lagu yang dinyanyikan barusan sudah berakhir. Anya segera turun dari panggung. Dia terpaksa menuju meja yang ditempati Alisha dan Irvin untuk membasahi tenggorokannya karena tak ada meja kosong yang tersisa. Tanpa meminta ijin, Anya menyambar minuman Alisha yang hanya tersisa sedikit. Irvin menyodorkan minumannya yang masih utuh pada Anya. Walau enggan, akhirnya gadis itu mengambil juga gelas tersebut karena rasa haus masih melandanya. Diam-diam Irvin tersenyum melihat tingkah Anya.
“Ok.. lagu selanjutnya saya juga ingin menyanyikan dengan berduet. Ada yang mau jadi teman duet saya?” tanya Kenan dan beberapa orang gadis langsung mengangkat tangannya.
Mata Kenan pura-pura berkeliling mencari teman duet, padahal dia sudah menemukan target yang akan diajaknya naik ke atas panggung. Pemuda itu melirik ke arah Zahra yang masih berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Seolah-olah tak mempedulikan ucapan Kenan barusan. Padahal dalam hatinya berharap dirinya yang diajak bernyanyi.
“Ok.. buat cewek cantik yang lagi sibuk main hp. Boleh dong naik ke atas panggung, temenin saya nyanyi.”
Zahra mengangkat kepalanya. Dia terkejut juga karena keinginannya menjadi kenyataan. Terdengar sorakan dari teman-temannya. Melihat Zahra masih diam terpaku, Wirda berdiri kemudian mengambil ponsel Zahra. Ditariknya gadis itu hingga berdiri dari duduknya dan didorong mendekat ke panggung. Kenan langsung menyambut kedatangan Zahra dengan penuh suka cita.
“Hai.. siapa namanya?” tanya Kenan.
“Zahra,” jawab Zahra malas.
Terdengar gelak tawa para pengunjung café dan candaan Kenan juga membuat Zahra mengulum senyumnya. Namun tidak dengan Anya. Gadis itu mengepalkan tangannya ke arah si kompor mledug.
“Kamu mau nyanyi lagu apa?”
“Bebas aja.”
“Kalau lagu….”
Kenan membisikkan sebuah judul lagu di telinga Zahra. Gadis itu mengangguk tanda setuju. Pemuda itu lalu melihat ke arah teman-temannya seraya mengangkat jempol. Dia memang sudah merencanakan menyanyikan lagu tersebut bersama dengan Zahra.
“One.. two.. go..”
Kenan memberi aba-aba dan suara musik pun mengalun. Yang mengetahui lagu tersebut langsung berdiri. Mereka ingin ikut menari mengikuti lagu berirama sedang namun enak untuk dijadikan teman duet bergoyang. Sebuah lagu duet dengan tema cinta, berjudul Could I Have This Kiss Forever.
Suara merdu Kenan mengawali lagu, menyanyikan part milik Enrique Iglesias. Matanya tak lepas memandang ke arah Zahra. Seakan ingin mengatakan isi lirik lagu ini memang ditujukan untuknya. Bagaimana gadis itu telah membuatnya tergila-gila. Tak lama Zahra menyusul menyanyikan part Whitney Houston. Dan saat reffrain terdengar suara mereka menyanyikan lirik secara bersamaan.
“Could I hold you for a lifetime? Could I look into your eyes? Could I have this night to share this night together? Could I hold you close beside me? Could I hold you for all time? Could I, could I, could I have this kiss forever? Could I, could I, could I have this kiss forever?”
Mereka terus menyanyikan lagu tersebut dengan kedua tangan saling menaut dan mata memandang satu sama lain. Saking menghayati lagu tersebut, dan seolah terhipnotis akan suara merdu dan bahasa tubuh Kenan, Zahra tak menyadari kalau tangan Kenan yang satunya bertengger manis di pinggangnya.
Teriakan penuh iri terdengar melihat kemesraan Kenan dan Zahra di atas panggung. Anya hanya memutar bola matanya melihat kemodusan sepupunya. Dia menyambar tasnya, bermaksud pulang lebih dulu.
“Gue balik duluan ya, Al. Tar lo minta anterin aja sama salah satu demit di sono atau sama bang Irvin.”
Tanpa menunggu jawaban Alisha, Anya segera beranjak dari duduknya. Gadis itu mengarahkan tangannya pada mobilnya sesampainya di tempat parkir. Namun matanya membulat melihat ban mobilnya kempes. Bukan hanya satu tapi semuanya. Dia yakin ada yang sudah mengerjainya. Dengan kesal kakinya menendang ban depan mobilnya.
“Aaaaa…”
Anya terpekik ketika merasakan pergelangan kakinya seperti disentuh. Sambil beringsut mundur dia mengarahkan pandangannya ke bagian bawah mobil. Gadis itu terkejut melihat sebuah tangan keluar dari bawah kolong mobilnya. Tak lama disusul dengan kepala sang empu tangan.
Refleks Anya berjalan mundur. Lagi-lagi dia melihat penampakan dan kali ini yang dilihatnya benar-benar menyeramkan. Wajah perempuan berambut panjang itu rata, hanya ada sebuah mata di atas keningnya dan namun berlumuran darah. Kuku-kuku jarinya panjang dan juga terdapat bercak darah. Tangan Anya memegang erat liontin kalungnya.
“Nan.. Nan…”
Gadis itu terus memanggil sepupunya, namun hanya suara tertahan yang dapat dikeluarkannya. Tubuh Anya juga terasa berat untuk digerakkan. Susah payah dia menghindari sosok menyeramkan itu yang terus berusaha mendekatinya. Tiba-tiba sebuah tangan menariknya hingga tubuhnya berbalik. Seketika makhluk halus itu menghilang.
Irvin yang mengikuti Anya sedikit curiga ketika melihat gadis itu terkejut seolah melihat sesuatu. Teringat akan cerita Olivia tentang kemampuan Anya dapat melihat makhluk halus, pria itu bergegas menghampiri Anya. Tangan Irvin memeluk erat punggung Anya dan membenamkan wajah gadis itu ke dadanya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat keduanya masih berada dalam posisi sama sampai akhirnya Anya melepaskan diri dari pelukan Irvin. Takut-takut dia menoleh ke arah belakang. Terdengar hembusan nafas leganya saat makhluk menyeramkan itu sudah menghilang.
“Masih ada?” tanya Irvin.
“Ngga. Udah hilang.”
Irvin melihat ke arah mobil Anya, memang tak ada apa-apa di sana. Kemudian pandangannya tertuju pada ban mobil Anya yang kempes.
“Ban mobil kamu kempes?”
“Iya, semuanya.”
“Kok bisa?”
Anya hanya mengangkat bahunya. Irvin memeriksa sekeliling mobil Anya dan memang keempat ban mobil berjenis sedan itu kempes. Dia langsung menghubungi bengkel langganannya dan meminta mereka menderek mobil Anya ke bengkel.
“Ayo aku antar pulang. Mobilmu nanti diderek ke bengkel langgananku.”
Tak ada penolakan dari Anya. Dia menerima tawaran Irvin begitu saja. Dirinya takut makhluk tadi mengikutinya. Irvin membukakan pintu untuk Anya, membiarkan gadis itu masuk lebih dulu. Pria itu menutup pintu mobil setelah bokongnya mendarat di jok pengemudi. Tak lama roda kendaraannya mulai bergulir meninggalkan area café.
“Makasih ya, Nya.”
“Makasih buat apa?”
“Lagu tadi. Aku tahu kamu nyanyi itu buat aku kan?”
Tak ada jawaban dari Anya. Gadis itu hanya berdehem saja. Kekesalannya pada Irvin sedikit berkurang karena pria itu telah menolongnya dari makhluk astral yang mengganggunya tadi.
“Kamu bener, aku emang ngga tahu apa-apa soal kamu. Maaf karena sudah berkata kasar sama kamu. Aku tarik kata-kataku padamu. Yaahh walaupun ngga ada efeknya sama sekali karena biar aku sudah mengatakan maaf ribuan kali dan menarik kembali kata-kataku, tetap saja hatimu sudah terluka. Communication is irreversible, right? (komunikasi itu bersifat irreversibel bukan?) kata yang sudah terlontar tidak akan bisa ditarik kembali dan efek darinya sudah dirasakan seiring berlangsungnya komunikasi tersebut.”
Anya hanya tersenyum tipis. Gaya bicara Irvin mengingatkannya pada dosen mata kuliah komunikasi antar persona. Dosen yang usianya sudah setengah abad itu selalu bisa menguraikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Tapi di luar arti lirik lagu itu, aku senang cara kamu membawakannya. Suara kamu merdu banget, Nya. Andai suaraku ngga seperti kaleng rombeng, mungkin aku mau duet sama kamu.”
Ucapan Irvin kali ini sukses membuat gadis itu tertawa. Suasana canggung di antara mereka sudah mulai terkikis sedikit demi sedikit. Pria itu melirik ke arah Anya dan saat gadis itu juga melihat ke arahnya, seketika desiran halus menyapa.
“Kamu laper ngga?”
“Laper sih?”
“Mau makan ngga? Aku juga laper.”
“Boleh.”
“Kamu mau makan di mana?”
“Bebas bang.”
“Ke Cartil mau ngga? Ada tempat makan baru di sana.”
“Boleh bang.”
“Aduh aku lupa. Oleh-oleh buat kamu ketinggalan,” Irvin menepuk keningnya.
“Oleh-oleh apa bang?”
“Bakpia Sabang. Kamu kan suka banget Bakpia Sabang.”
Anya mengulum senyumnya. Tak menyangka Irvin tahu salah satu makanan kesukaannya. Setiap kali Cakra atau Aric berkunjung ke Banda Aceh, dia selalu meminta oleh-oleh penganan tersebut. Bentuknya sama saja seperti bakpia Yogya, namun kulitnya lebih lembut.
“Abang kapan pulang dari Sabang?”
“Tadi sore.”
“Eh.. kita makan di tempat lain aja, jangan ke Cartil, kan jauh, nanti abang capek.”
“Ngga kok, aku ngga capek kan udah dapet booster dari kamu.”
“Apaan?”
“Suara merdu plus senyum kamu.”
“Hadeuh kumat deh gombalnya , ketularan bang Barra, ya.”
“Hahaha..”
Kendaraan Irvin terus melaju menuju daerah Cicaheum lalu membelokkan mobilnya memasuki daerah Padasuka. Kendaraa roda empat itu terus berjalan melewati Saung Udjo dan melaju lurus menuju salah satu tempat yang biasa dikunjungi kawula muda untuk berkencan, karena daerah Cartil memang menyuguhkan pemandangan yang memanjakan mata.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Part uwunya lanjut besok ya