
Cakra memandangi Anya yang tengah tertidur. Sejak terbangun karena mimpi buruknya, Anya terus menangis histeris dan membuat Cakra terpaksa memanggil dokter pribadinya. Kini Anya sudah bisa tertidur, setelah diberikan obat penenang. Pria itu duduk di sisi ranjang, kemudian mengusap puncak kepala anaknya itu.
“Maafkan papi, sayang. Papi terlalu egois sampai membuat kamu seperti ini.”
Cakra mencium kening putri bungsunya itu lalu keluar dari kamar. Naya menyusul masuk ke kamar Anya, dia diminta Aric untuk menemani adiknya itu. Cakra berjalan menuruni tangga namun berhenti di tengahnya dan mendudukkan diri di sana.
“Pi..” Aric datang menyusul kemudian duduk di sampingnya.
“Hubungi ayahmu, minta ayah menghubungi temannya yang penghulu. Besok, papi akan menikahkan Anya dengan Irvin. Jangan lupa kabari papa dan pipimu juga.”
“Iya, pi.”
“Papi dan mami akan ke rumah om Radix. Tolong kamu urus perijinan di sini. Datangi pak RT juga pak RW.”
“Papi tenang aja. Aku akan urus semua.”
Cakra menepuk bahu anak sulungnya itu kemudian bangun dari duduknya. Dia segera menghampiri Sekar yang tengah membereskan kamar tidur. Dipeluknya tubuh sang istri seraya meletakkan dagu di bahunya.
“Antar abang ke rumah Radix.”
“Abang sudah yakin dengan keputusan abang?”
“Iya. Keselamatan Anya di atas segalanya. Dan seperti yang kamu bilang, setelah menikah dia akan tetap tinggal di sini. Abang tidak akan kehilangannya. Dia tetap putri kecil kita yang manja. Iya kan sayang?”
Sekar melepaskan diri dari pelukan Cakra, kemudian membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan suaminya. Tangannya bergerak mengusap rahang sang suami dengan lembut.
“Sampai kapan pun Anya tetaplah putri kita. Biarpun sudah menikah, kasih sayang kita padanya tidak akan berubah, begitu juga rasa sayangnya pada kita. Di matanya, abang tetaplah lelaki hebat yang menjadi cinta pertamanya.”
Senyum Cakra terbit mendengar perkataan istrinya. Diraihnya tangan Sekar kemudian dikecupnya mesra. Tangannya merengkuh tubuh Sekar kemudian memeluknya erat. Cepat atau lambat, dia memang harus melepas putrinya pergi. Cakra sudah iklas dengan keputusannya menikahkan Anya secepatnya dengan Irvin.
“Abang mandi duluan. Aku mau siapin sarapan.”
“Iya, sayang,” Cakra mengurai pelukannya, mendaratkan ciuman di pipi sang istri, baru kemudian melangkah ke kamar mandi.
Usai sarapan bersama semua keluarga, kecuali Anya, Cakra dan Sekar segera berangkat menuju kediaman Radix. Aric juga berangkat menemui pengurus setempat untuk meminta ijin menggelar acara akad esok hari. Pria itu sengaja tidak memberitahu Barra, membiarkan Irvin yang memberikan kejutan manis untuk sahabatnya itu. Naya juga dilarang untuk mengatakannya pada Barra.
Mobil yang dikendarai Cakra berhenti di depan rumah Radix. Kediaman sahabat istrinya itu masih sepi. Di halaman depan, nampak anak bungsu Radix tengah menyiram tanaman. Katrina terkejut melihat kedatangan sahabat papanya. Dengan cepat dia menghampiri keduanya lalu mencium punggung tangan mereka.
“Papa dan mamamu ada?” tanya Sekar.
“Ada tante. Silahkan masuk dulu.”
Gadis bertubuh mungil itu bergegas masuk ke dalam rumah untuk memanggil kedua orang tuanya. Radix dan Naysila terkejut melihat kedatangan Cakra dan Sekar sepagi ini. Mereka segera bergabung di ruang tamu. Tak lama Irvin menyusul setelah mendengar dari Katrina tentang kedatangan calon mertuanya.
“Om.. tante..” Irvin mencium punggung tangan Cakra dan Sekar bergantian, kemudian mendudukkan diri di samping ayahnya.
“Maaf kalau kedatangan kami terkesan mendadak,” Cakra membuka percakapan.
“Ngga apa-apa, bang.”
“Kedatangan kami ke sini untuk membicarakan apa yang Irvin katakan semalam.”
Perkataan Cakra terhenti sejenak ketika Katrina datang membawakan minuman. Setelah menata minuman di atas meja, gadis itu segera meninggalkan ruang tamu. Di ruang makan, Revan dan Olivia tengah duduk, keduanya penasaran dengan pembicaraan di ruang tamu.
“Ssstt.. dek.. tadi denger apaan di depan?” tanya Revan pada Katrina.
“Ngga tau. Ngga usah kepo, bang.”
“Ini pasti ada hubungannya sama Nyi Ronggeng.”
Revan berjongkok kemudian berjalan mendekati ruang tamu sambil merangkak. Dia bermaksud menguping pembicaraan di ruang tamu. Olivia juga ikut merangkak di belakangnya. Berbeda dengan Katrina yang mendudukkan diri di kursi makan sambil memainkan ponselnya.
“Keadaan Anya semakin memburuk. Semalam dia mimpi buruk sampai terbangun dan menangis histeris.”
“Terus sekarang kondisi Anya gimana om?” tanya Irvin cemas.
“Alhamdulillah sudah baikan. Dokter Randu sudah memberinya obat penenang tadi. Sekarang dia sedang tidur. Ada Naya dan Aric yang menjaganya,” terang Sekar.
“Kedatangan om ke sini ingin mempercepat pernikahan kalian. Tidak usah ada acara lamaran. Irvin.. kamu siap menikahi Anya besok?”
“Apa???!” tanya Radix dan Naysila bersamaan.
Revan yang terkejut mendengar ucapan Cakra sampai kehilangan keseimbangan. Sebelah tangan yang digunakan untuk menopang tubuhnya bergeser, hingga membuatnya tersungkur. Olivia ikutan oleng karena tangannya bertumpu di punggung sang kakak. Tubuhnya ikut jatuh menimpa Revan.
“Adaw!!!” teriak Revan.
Semua yang ada di ruang tamu langsung menolehkan kepala ke arah datangnya suara. Radix menatap kesal pada kedua anaknya yang tengah dalam posisi tumpang tindih. Naysila berdiri dan langsung menghadiahi jeweran maut di telinga keduanya.
“Aduddduuhh ma.. sakit ma,” keluh Revan.
“Ampuuunn maaaa,” ujar Olivia.
“Kelakuan ya.. nguping pembicaraan orang tua. Sana masuk!!” Naysila melepaskan jewerannya. Revan dan Olivia segera berlari menjauh dari ruang tamu. Terdengar gelak tawa Katrina saat melihat kedua kakaknya berlari seraya mengusap telinga.
“Maaf ya kak Sekar, bang Cakra. Anak dua itu ampun deh,” ujar Naysila.
“Ngga apa-apa Nay, namanya juga anak-anak. Revan itu kelakuannya persis kaya bapaknya,” ujar Sekar sambil tertawa.
“Jadi bagaimana, Irvin? Apa kamu sanggup menikahi Anya besok? Om minta maaf kalau terkesan memaksa. Ini demi keselamatan Anya saja,” Cakra melanjutkan pembicaraan.
“Aku ngerti om. In Syaa Allah aku siap. Mama dan papa juga ngga keberatan kan?” Irvin melihat pada kedua orang tuanya.
“Kalau kamu siap, papa ngga keberatan,” jawab Radix.
“Mama juga,” sambung Naysila.
“Alhamdulillah.. makasih Dix, Nay,” ujar Sekar.
“Besok kita melakukan akad nikah saja. Untuk resepsi om serahkan padamu juga Anya, kapan pelaksanaannya.”
“Iya, om.”
Pembicaraan kembali terjeda ketika ponsel Cakra bergetar. Pria itu merogoh saku celananya untuk mengambil alat komunikasinya itu. Melihat nama pemanggil adalah Juna, pria itu berdiri kemudian berjalan ke arah teras. Cakra mengangguk-anggukkan kepalanya dan tak lama pembicaraannya berakhir. Dia kembali ke tempatnya semula.
“Barusan kak Juna telepon. Penghulu yang akan menikahkan sudah siap. Akad akan dilakukan jam sembilan pagi. Kalau bisa kamu sekarang kamu ke kantor KUA untuk mengurus surat-surat. Aric nanti yang menemanimu.”
“Iya, om.”
Irvin segera beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar. Bersamaan dengan itu, pesan dari Aric masuk. Pria itu menuliskan dokumen apa saja yang harus dibawa oleh Irvin sekaligus mengirim lokasi kantor KUA yang dimaksud. Dengan cepat pria itu menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan. Rasanya masih belum percaya, besok dia akan mempersunting wanita yang dicintainya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Hari ini semua keluarga Hikmat dan Radix dibuat sibuk mempersiapkan akad nikah Anya dan Irvin yang akan dilangsungkan esok hari. Bahkan pernikahan kali ini lebih kilat dibanding pernikahan Alisha dan Viren. Walaupun hanya akan mengadakan akad nikah saja, namun tetap banyak hal yang harus dipersiapkan.
Nina, Nadia dan Adinda membantu mengurus konsumsi. Rayi dan Sekar mengurus penata rias termasuk dekorasi. Acara akad nikah akan dilangsungkan di kediaman Cakra dengan mengundang pengurus setempat dan beberapa tetangga dekat. Rindu dan Syakira membantu Naysila mempersiapkan hantaran pernikahan.
Semua orang di lingkaran keluarga Hikmat sudah tahu perihal pernikahan Irvin dan Anya hari Minggu besok, kecuali Barra. Irvin memang sengaja meminta Jojo beserta keluarganya untuk merahasiakan sementara waktu dari pria tersebut. Dia sendiri yang akan memberitahu kejutan itu pada atasannya.
Usai mengurus dokumen yang dibutuhkan untuk akad nikah, Irvin menyempatkan diri datang ke kediaman Jojo. Tentu saja kedatangannya untuk khusus untuk menemui Barra. Kedatangannya disambut ramah oleh Adinda. Wanita itu mempersilahkan Irvin untuk langsung naik ke lantai atas.
Irvin melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Sesampainya di atas, dia berpapasan dengan Dilara. Gadis itu mengatakan kalau kakaknya sedang berada di selasar. Dengan cepat Irvin melangkahkan kakinya ke sana. Nampak Barra tengah duduk santai di salah satu kursi sambil memainkan ponselnya.
“Bang..” panggil Irvin seraya mendudukkan diri di kursi sebelah Barra.
“Wei.. tumben ke sini ngga bilang-bilang. Ada apaan?”
“Bentar, bang.”
Irvin mengambil ponselnya. Dibukanya folder galeri, kemudian mengirimkan undangan digital yang sengaja dibuatnya khusus untuk sang atasan. Kening Barra mengernyit melihat ada pesan masuk dari orang yang duduk di sebelahnya.
“Ngapain lo pake kirim pesan segala?”
“Buka aja dulu bang.”
Barra berdecak seraya membuka pesan yang dikirimkan Irvin. Seketika matanya membulat melihat sebuah undangan digital.
“Afa-afaan ini!!!” Barra terbangun dari duduknya. Sebisa mungkin Irvin menahan tawanya.
“Eh, Vin.. apaan nih? Lo serius mau nikah besok sama Anya??”
“Iya, bang. Sorry nih, gue lagi mode Marc Marques, jadi nikung abang duluan, hahahaha…”
“Monyong!!!”
Dengan kesal Barra menepak kepala Irvin, namun pria itu hanya terpingkal saja. Sesuai dugaan, reaksi Barra pasti akan seperti ini. Padahal sebelum berangkat ke Bali, pria itu dengan bahagia dan bangganya mengabarkan akan menikah dengan Hanna dalam dua bulan ke depan. Namun siapa sangka kalau ternyata pria itu kembali mendapatkan salipan tajam saat garis finish sudah ada di depan mata.
“Jelasin kalo ngga mau acara besok gue acak-acak!!”
“Hahahaha.. iya bang, iya. Sabar napa, sini duduk dulu.”
“Gimana gue mau sabar. Lagi-lagi gue tikung para adik durjana!”
“Hahaha..”
Irvin terus tertawa, melihat Barra yang seperti kebakaran jenggot menjadi hiburan tersendiri untuknya. Setelah tawanya mereda, akhirnya dia menceritakan apa yang menyebabkan Cakra memajukan jadwal pernikahan menjadi besok.
“Terus Anya gimana?” tanya Barra panik.
“Anya udah baikan.”
“Syukur deh. Kampret si Aric ngga bilang-bilang sama gue,” kelutus Barra.
“Hahaha.. udah bang, jangan sewot mulu. Tar ubanan loh. Masa masih muda udah ubanan, kasihan nanti Hanna disangka nikahin kakek-kakek.”
“Sue lo!”
Barra menoyor kepala Irvin, namun tak ayal dia ikut tertawa mendengarnya. Dibalik kekesalannya karena lagi-lagi terkena tikungan, dalam hatinya bersyukur Cakra berubah pikiran dan mau menikahkan Anya lebih cepat demi keselamatan dirinya. Gadis itu bisa segera terbebas dari gangguan makhluk halus yang selalu mengikutinya. Barra segera berdiri dari duduknya.
“Nengok Anya.”
“Ikut bang.”
“Ngga ada! Pulang sono! Sebelum akad nikah, calon manten ngga boleh ketemu dulu.”
“Yaelah bang, pelit amat. Gue kan pengen tau keadaan Anya juga.”
“Nanti gue ceritain. Ngga usah modus lo. Balik sana, jangan kemana-mana, diem aja di rumah. Pamali calon penganten keluyuran.”
“Iya.. iya, bawel banget sih bang. Perasaan bang Aric kaga bawel model elo.”
“Aric emang kaga bawel. Tapi sekalinya lo nyakitin Anya, bogem dia yang duluan mendarat di muka lo.”
“Ngga akan bang. Gue nikahin Anya buat bikin dia bahagia bukan untuk disakiti.”
“Dari mana lo belajar ngegembel?”
“Dari abang.”
“Dih masa iya, gue ngegombal jayus gitu.”
“Kaga nyadar..”
“Hahahaha..”
Keduanya segera menuruni anak tangga lalu berpisah saat di depan rumah. Irvin masuk ke dalam mobilnya. Sedang Barra memilih berjalan kaki menuju kediaman Cakra. Dia menolak saat Irvin ingin mengantarkannya, takut itu hanya modus asistennya agar bisa bertemu dengan Anya.
☘️☘️☘️
Jantung Anya tak berhenti berdebar menanti detik-detik dirinya akan dipersunting oleh Irvin. Sungguh dirinya tak menyangka Cakra akan menikahkannya secepat ini. Namun dia juga lega dan berharap keputusan sang papi akan melepaskannya dari gangguan para makhluk astral yang selalu saja berseliweran di dekatnya.
Sekar yang menemani sang anak di dalam kamar, tak henti menenangkan sang anak. Tak lama Aric datang dan mengabarkan kalau acara akad sebentar lagi akan segera dimulai. Pria itu mendudukkan diri di sisi sang adik lalu memegang kedua tangan Anya yang terasa dingin.
Di lantai bawah, ketegangan begitu dirasakan oleh Irvin. Pria itu sudah duduk berhadapan dengan Cakra. Di samping pria yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai mertuanya, duduk penghulu yang akan menikahkan mereka. Di samping kanan dan kirinya duduk Gurit dan Jojo yang bertugas sebagai saksi.
Sang penghulu memberi tanda pada Cakra untuk segera memulai acara akad nikah. Pria itu mengulurkan tangannya pada Irvin yang langsung disambut olehnya. Cakra menggenggam erat tangan Irvin. Setelah mengucapkan basmalah, dia memulai kalimat ijab Kabul.
“Ananda Irvin Mahaprana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Lavanya Pratista Dunia binti Cakrawala Dunia dengan mas kawin perhiasana emas seberat 35 gram dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Lavanya Pratista Dunia binti Cakrawala Dunia dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“SAAHHHH!!”
Suara Jojo dan Gurit terbenam di antara suara generasi ketiga keluarga Hikmat yang langsung disambut sorakan. Bukan sorakan untuk pengantin baru tapi sorakan untuk calon pengantin yang disalip.
“Disalip lagi.. disalip lagi.. ngenesnya disalip lagi,” Kenan mengganti lirik lagu si komo seenak jidatnya dan sukses membuat Barra geram.
“Wes ambyaaarrr.. dirunghal asisten hahaha…” Ravin.
“Untung udah diterima Hanna, kalau ngga, bakalan gantung diri di pohon toge,” Ezra.
__ADS_1
“Udah suratan takdir kena tikung terooosss,” Fathan.
“Kurang sajen kayanya,” celetuk Viren.
“Jangan diledekin terus. Nanti diem-diem nangis di pojokan sambil ngelap ingus,” Kenzie.
“Dasar adek ipar durhakim!” geram Barra.
“Bomat,” jawab Kenzie dengan wajah datar yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
Suara tawa mereka terhenti ketika dari arah tangga, Sekar bersama Aric tampak menuruni anak tangga bersama dengan Anya. Irvin segera menolehkan kepalanya saat merasa suasana tiba-tiba menjadi sepi. Matanya menatap tak berkedip ke arah Anya yang nampak cantik dengan balutan kebaya berwarna putih tulang.
“Biasa aja lihatnya,” Barra mengusap wajah Irvin, yang kembali mengundang tawa.
“Bau bang, tangan lo,” sungut Irvin.
“Bau jigong lo,” balas Barra seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
Anya hanya menundukkan kepala saja saat langkahnya semakin mendekati Irvin. Aric membantu Anya mendudukkan diri di samping Irvin, kemudian pria itu berjongkok di depan sang adik. Diangkatnya dagu Anya hingga wajahnya terangkat.
“Lihat suami kamu, Nya.”
Anya melihat sekilas pada Irvin lalu kembali menundukkan pandangannya. Wajahnya seketika bersemu merah. Aric hanya mengulum senyum saja. Ditariknya tangan Irvin dan Anya kemudian menyatukannya, membuat Anya mengangkat kepalanya.
“Vin.. abang titip Anya sama kamu.”
“Makasih, bang.”
Aric menganggukkan kepala seraya bangun dari posisi jongkoknya. Dia segera menuju Naya yang berdiri di dekat mama mertuanya. Revan menyodorkan kotak beludru berisi cincin pernikahan yang dititipkan Irvin padanya.
Mata Anya tak berkedip saat Irvin menyematkan cincin di jari manisnya. Entah kapan pria itu menyiapkannya karena pernikahan mereka yang secepat kilat. Tangan Anya bergerak mengambil cincin yang tersisa kemudian menyematkannya di jari Irvin.
“Cium punggung tangan suamimu,” bisik Sekar pada putrinya.
Anya meraih tangan Irvin kemudian mencium punggung tangan pria itu. Dengan gerakan pelan, Irvin menarik kedua bahu Anya kemudian mendaratkan ciuman di kening gadis yang telah sah menjadi istrinya.
“Yang jomblo dilarang baper!!” teriak Kenan.
“Sendirinya juga jomblo, nyet,” kesal Revan.
“Weh.. gue udah punya gandengan coy. Kaga lihat nih,” Kenan merangkul bahu Zahra dengan jumawa. Dia memang sengaja mengajak Zahra ke acara akad nikah sepupunya. Zahra tak bisa menolak ajakan kekasihnya, dan membuatnya harus bertukar shift dengan rekannya.
“Masih belum sah, dilarang pegang-pegang,” Barra melepaskan rangkulan Kenan di bahu Zahra.
“Sirik aja, lo, bang. Kekinya sama siapa balesnya ke siapa. Gue salip juga sekalian,” sewot Kenan.
“Coba aja lo kalo berani,” Barra mengepalkan tangannya ke arah Kenan.
“Salip aja Nan, gue dukung!” seru Kenzie.
“Yoi.. gue bakalan bantuin persiapannya,” sambung Ravin.
“Gasskeun,” Fathan.
“Menyalip selalu di depan,” Ezra
“Nikah muda kaya gue, Nan. Biarin yang tua ngalah,” lanjut Viren.
“Udah biasa disalip juga,” tutup Aric.
“Bangk* lo semua,” kesal Barra yang hanya ditanggapi dengan gelak tawa saja.
“EHEM!!”
Deheman kencang Abi membuat generasi somplak mengatupkan mulutnya. Mereka kembali terdiam dan ikut mendengarkan tausyiah sang penghulu tentang hukum pernikahan.
Anya tak berkonsentrasi mendengarkan tausyiah tersebut. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam saat melihat sosok yang ada di dalam mimpinya berdiri di belakang penghulu dan menatapnya dengan tajam. Refleks kedua tangannya memegang tangan Irvin. Pria itu menolehkan kepalanya pada Anya, wajah istrinya itu nampak ketakutan.
Genggaman hangat Irvin di tangannya, membuat perasaan Anya sedikit membaik. Pelan-pelan dia mengangkat kepalanya dan ternyata sosok menyeramkan itu sudah menghilang. Terlihat gadis itu menghembuskan nafas lega. Tak terasa tausyiah singkat itu berakhir. Kedua pengantin diminta menandatangani dokumen pernikahan untuk menutup acara akad pagi ini.
Cakra mendekati putrinya lalu memeluknya erat. Anya menangis dalam pelukan sang ayah. Pria itu juga tak bisa menahan airmatanya yang keluar membasahi pipinya. Diusapnya buliran bening di wajahnya kemudian menguraikan pelukannya.
“Sampai kapan pun kamu tetaplah putri kecil papi. Jangan sungkan untuk datang pada papi. Papi akan selalu mendengarkan keluh kesahmu. Tapi ingat, sebelum papi, ada suamimu yang harus kamu dahulukan. Sekarang dialah yang menjadi imammu. Dia yang akan menggantikan papi membimbingmu dan bertanggung jawab akan hidupmu, dunia dan akhirat. Kamu wajib menghormati dan menaatinya.”
“Iya, papi,” jawab Anya di sela tangisnya.
“Irvin.. papi titip Anya padamu. Jangan sia-siakan dia. Sayangi dia seperti mami dan papi menyayanginya.”
“Iya, pi.”
“Mami juga titip Anya padamu. Dia masih harus banyak belajar untuk menjadi istri yang baik. Tolong bersabar padanya dan bimbinglah dengan lemah lembut. Jangan sakiti hatinya apalagi fisiknya,” lanjut Sekar.
“Iya, mami. In Syaa Allah, akan terus mengingat nasehat mami. Terima kasih untuk mami dan papi, sudah mempercayakan putri kesayangan kalian padaku.”
“Anya..” panggil Naysila.
“Terima kasih sudah menjadi kebahagiaan untuk Irvin. Mama doakan pernikahan kalian sakinah mawadah warohmah. Binalah rumah tangga kalian dengan baik, jaga kepercayaan dan terus berpegangan tangan saat masalah melanda.”
“Iya, ma.”
“Mama.. terima kasih untuk semua kasih sayang mama selama ini. Kasih sayang mama begitu besar padaku, walau aku tidak lahir dari rahimmu,” Irvin memeluk Naysila erat. Matanya nampak berkaca-kaca.
“Kamu anak mama. Hadiah terindah yang mama Nabil berikan untuk mama,” Naysila mengurai pelukan Irvin, mengusap airmata anak sulungnya itu kemudian mengecup keningnya. Radix mendekat kemudian memeluk anaknya itu.
“Mama Nabil pasti bangga padamu, Nak. Ingatlah kamu punya dua wanita hebat sebagai ibumu, jangan sakiti istrimu, itu sama saja kamu menyakiti kedua ibumu. Sayangi dan hormatilah mama Sekar, dia juga ibumu sekarang.”
“Iya, pa.”
Radix menguraikan pelukannya, kemudian beralih pada Anya. Direngkuhnya tubuh menantunya itu ke dalam dekapannya. Andainya Nabila masih hidup, dia pasti berbahagia melihat anaknya bisa bersama dengan anak dari sahabatnya.
“Semoga pernikahan kalian dipenuhi keberkahan. Sekarang kamu sudah menjadi anak papa. Jangan pernah sungkan untuk berbagi cerita dengan papa. Jika Irvin menyakitimu, katakan pada papa.”
“Iya, pa.”
Suasana haru yang dirasakan keluarga pengantin juga turut dirasakan oleh Zahra. Dia melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari kumpulan orang-orang yang tengah bergantian mengucapkan selamat pada pengantin baru. Melihat bagaimana sikap Cakra dan Radix pada Anya, membuatnya tak bisa menahan airmata. Ada rasa bahagia sekaligus iri melihatnya. Akankah sang ayah bersikap seperti itu dan mendoakannya jika kelak dirinya menikah nanti.
Beberapa kali gadis itu menarik nafas panjang untuk mengenyahkan perasaan sedih di hatinya. Zahra terjengit saat merasakan usapan di puncak kepalanya. Perlahan gadis itu membalikkan tubuhnya.
☘️☘️☘️
Maap.. karena dadakan tak ada undangan😝
__ADS_1