KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Mak Comblang


__ADS_3

Sejak pagi, Nina telah mengajak Nita untuk berbelanja keperluan pertunangan Kenan dan Zahra. Wanita itu terpaksa mengambil cuti kerja demi memenuhi keinginan calon besannya. Bersama dengan Silva, wanita itu pergi menuju mall Andhara menggunakan mobil yang dikirimkan oleh Nina. Sungguh Nita tak percaya diperlakukan begitu baik oleh keluarga konglomerat itu.


Sudah dua jam lamanya Nina mengajak besannya itu berputar-putar. Dia tidak hanya membeli untuk keperluan tunangan, tapi membelikan banyak pakaian bagus untuk Nita dan juga Silva. Nita yang merasa canggung akan kebaikan Nina, awalnya sempat menolak. Namun karena bujukan dan sikap hangat calon besannya itu, membuat Nita luluh dan menerima semua pemberian wanita itu.


Setelah puas berkeliling, untuk melepaskan kepenatan, Nina mengajak Nita ke salon kecantikan langganannya. Nina bermaksud melakukan perawatan tubuh bersama dengan Nita. Sedang Silva menunggu sambil melakukan perawatan rambut. Gadis belia itu senang saja bisa melakukan perawatan rambut sambil bermain ponsel yang baru saja dibelikan oleh Nina.


Hampir dua jam lamanya kedua wanita itu melakukan perawatan tubuh, dan kini keduanya nampak lebih segar. Tak lupa Nina meminta pegawai salon untuk mendandani Nita juga memakaikan baju yang tadi dibelinya.


Mata Nita tak berkedip menatap tampilannya di cermin. Rambutnya sudah di stylish, hingga dirinya terlihat lebih muda. Semenjak perceraiannya dengan Sandi, wanita itu tak mengurus penampilan lagi karena sibuk mencari nafkah untuk kedua anaknya. Ada rasa bahagia terselip di hatinya, ternyata dia bisa juga tampil cantik seperti wanita lain.


“Bu Nita cantik banget,” puji Nina yang juga tengah menatap Nita dari pantulan cermin.


“Terima kasih bu Nina, terima kasih.”


Nita begitu terharu akan kebaikan yang Nina berikan untuknya. Mata wanita itu nampak berkaca-kaca. Nina berjalan mendekat lalu memeluk calon besannya ini.


“Bu Nita jangan bersedih lagi. Sudah waktunya untuk ibu bahagia. Dan sekarang keluarga kami adalah keluarga ibu juga. Berbagilah kesedihan dengan saya, jangan dipendam sendiri.”


“Terima kasih bu Nina.”


Nina mengurai pelukannya, Nita menyusut sudut matanya yang sedikit menggenang. Setelah membayar semua biaya perawatan, Nina mengajak Nita dan Silva keluar dari salon kecantikan tersebut. Tujuan mereka selanjutnya adalah mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Waktu juga sudah menunjukkan lewat jam makan siang.


“Bu Nita ngga ada niatan menikah lagi, gitu?” tanya Nina di tengah perjalanan mereka menuju restoran.


“Siapa yang mau sama saya, bu? Janda anak dua.”


“Eh namanya jodoh siapa tau. Seandainya ada laki-laki baik yang mau menerima bu Nita apa adanya, menyayangi Zahra dan Silva dengan tulus, apa ibu mau?”


“Ah ibu ngada-ngada saja. Saya sudah tidak memikirkan soal itu lagi.”


“Kenapa? Ibu masih cukup muda kok. Kalau ibu bersedia, saya sudah punya calon untuk ibu.”


Wajah Nita bersemu merah mendengar ucapan Nina. Sebagai wanita normal, tentunya dia juga masih merindukan kasih sayang seorang pria. Seseorang yang bisa dijadikan tempat bersandar di saat dirinya lelah. Namun bayang-bayang pengkhiatan Sandi dahulu, membuatnya tak percaya diri lagi dan memilih menutup diri.


“Silva mau ngga punya papa sambung?” tanya Nina pada Silva.


“Asal sayang sama mama, aku dan kak Zahra, aku mau tante.”


“Nah, Silva sudah kasih lampu hijau, tuh,” Nina menggoda Nita. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya saja.


Seorang pelayan langsung menyambut kedatangan Nina, begitu mereka sampai di depan salah satu restoran yang ada di mall Andhara. Di saat yang bersamaan, Darmawan bersama dengan Mentari juga hendak memasuki restoran. Tentu saja ini semua sudah diatur oleh Nina dan Mentari.


“Eh pak Darmawan,” sapa Nina.


“Wah tidak menyangka bertemu bu Nina di sini. Bersama dengan pak Abi?”


“Ngga, pa. Dia di kantor. Saya habis belanja dengan calon besan.”


Darmawan melihat pada Nita yang melemparkan senyuman padanya. Ini kali kedua pria itu bertemu dengan Nita. Dia membalas senyuman Nita dengan senyuman juga. Mentari melirik sekilas interaksi papanya itu.


“Bagaimana kalau kita makan bersama?” usul Nina.


“Boleh tante,” jawab Mentari.


“Ayo.”


Nina masuk lebih dulu bersama dengan Nita dan Silva, disusul oleh Darmawan juga Mentari. Nina memilih meja yang berada di bagian sudut agar tidak terganggu dari lalu lalang pengunjung. Dengan sengaja Nina menempatkan Nita duduk berhadapan dengan Darmawan. Sejenak kegugupan melanda Nita ketika Darmawan sesekali memandang ke arahnya.


“Kalau ini siapa tante?” tanya Mentari.


“Oh iya, tante sampai lupa. Kenalkan ini bu Nita, calon mertuanya Kenan, dan ini anak bungsunya, Silva.”


Mentari menjabat tangan Nita dan Silva bergantian. Sekali lihat gadis itu tahu kalau wanita yang bersama dengan Nina adalah wanita yang baik. Jika memang sang ayah mau mengakhiri masa dudanya bersama Nita, dia akan menyetujuinya.


“Kalau bu Nita, mamanya Zahra, berarti istrinya pak Sandi,” ujar Darmawan.


“Mantan, pak,” ralat Nina.


“Oh iya, maafkan saya. Pak Sandi sudah lama bekerja dengan saya, tapi belum pernah mengenalkan bu Nita pada saya. Yang saya tahu istrinya pak Sandi hanya bu Risma.”

__ADS_1


Nita tersenyum getir mendengarnya. Sejak Sandi diterima bekerja di Bank Artha Buana, pria itu tak pernah membawanya ikut serta dalam kegiatan family gathering. Bahkan salah seorang teman Sandi mengatakan padanya, kalau pria itu mengaku belum menikah pada para staf di sana. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui statusnya, termasuk Risma.


“Apa pak Sandi menikah dengan bu Risma sebelum ada sesudah bekerja di kantor bapak?”


“Dua tahun setelah bekerja, mereka menikah. Saya ijinkan asalkan tidak mengganggu pekerjaan saja.”


“Dasar komodo bulukan,” umpat Nina dengan suara pelan namun masih bisa terdengar oleh Nita.


“Untung ya, pak sandi kerjanya di kantor bapak. Coba kalau kerja di Metro East, bisa langsung di tendang sama suami saya,” ketus Nina yang masih kesal mendengar kelakuan Sandi.


“Hahaha.. bu Nina ada-ada saja.”


“Tante Nita sudah menikah lagi?” kini giliran Mentari yang bertanya.


“Tidak,” jawab Nita pelan.


“Belum tepatnya, Tar. Bu Nita hanya fokus mengurus anak-anak setelah bercerai. Dia juga takut diselingkuhi lagi. Makanya tante lagi mencarikan calon yang tepat untuknya. Supaya nanti kalau Zahra dan Kenan menikah, dia sudah punya pendamping di atas pelaminan nanti.”


Sontak Nita menyenggol tangan Nina. Wajahnya memerah mendengar ucapan frontal calon besannya. Pipinya bertambah merona ketika Darmawan terus menatapnya tanpa berkedip. Dengan cepat wanita itu menundukkan pandangannya.


“Kalau sama papa saya mau, tante? Saya jamin, papa itu setia. Papa itu high qualified duda.”


Uhuk.. uhuk..


Darmawan terbatuk mendengar ocehan sang anak. Refleks Nita menyodorkan minuman untuk pria itu. Seraya mengucapkan terima kasih, Darmawan menerima gelas pemberian Nita. Diam-diam Mentari tersenyum melihatnya. Gadis itu mengedipkan matanya ke arah Nina.


Acara makan siang yang diselingi perbincangan hangat usai sudah. Suasana antara Nita dan Darmawan sudah tak canggung lagi berkat bantuan Mentari dan Nina. Begitu pula Silva yang langsung menyukai sosok Darmawan. Pria itu begitu ramah dan banyak mengajaknya bicara.


“Aduh bu Nita, maaf. Sepertinya saya tidak mengantarkan ibu pulang. Mas Abi meminta saya ke kantor.”


“Tidak apa bu Nina. Saya bisa naik taksi.”


“Pa, Petra lagi otw jemput aku. Papa pulang sendiri aja, ya. Eh gimana kalau papa yang anterin tante Nita pulang? Kasihan kalau nanti tante Nita digembelin supir taksi online,” Mentari terkikik sendiri mendengar ucapannya.


“Ngga usah. Saya bisa pulang sendiri.”


“Ngga, tante. Biarkan papa yang anterin tante pulang. Tenang aja, papa saya baik hati dan tidak sombong, ngga gigit juga, udah jinak kok. Pa, anterin bu Nita pulang, ya. Inget pa, anterin pulang ke rumah, jangan langsung dibawa ke KUA. Pendekatan dulu aja.”


Nina berinisiatif pergi lebih dulu. Tak lama Mentari menyusul keluar. Kini hanya tinggal Darmawan bersama Nita dan Silva saja. Pria itu berdiri kemudian mengajak Nita dan Silva keluar dari restoran. Tanpa bersuara, Nita terus mengikuti langkah Darmawan menuju parkiran.


“Rumah ibu di mana?” tanya Darmawan ketika mobil yang dikendarainya sudah keluar dari area mall.


“Di jalan Lele, pak.”


“Kalau Silva sekarang kelas berapa?” tanya Darmawan sambil melihat ke arah spion.


“Kelas dua SMP, om.”


“Belajar yang rajin, ya. Nanti pas kenaikan kelas kamu dapat ranking, om akan kasih hadiah.”


“Makasih, om.”


Senyum Darmawan mengembang, lalu kembali fokus ke jalan. Hati Nita menghangat melihat sikap Darmawan pada Silva. Sesuatu yang tak pernah Sandi tunjukkan selaku ayah kandungnya. Wanita itu memalingkan wajahnya ke samping saat merasakan matanya mulai memanas. Diam-diam, dia menyusut sudut matanya dan tertangkap oleh Darmawan. Hati pria itu tersentil melihat kesedihan Nita. Tangannya mengambil kotak tisu lalu menyodorkannya pada Nita.


“Terima kasih, pak.”


“Sama-sama. Lupakan masa lalu. Jangan terus berkubang dengan kesedihan. Percayalah kebahagiaan akan datang pada waktunya.”


“Terima kasih sekali lagi.”


Darmawan menganggukkan kepalanya seraya melemparkan senyuman manis. Hati Nita bergetar merasakan kehangatan sikap Darmawan. Sesuatu yang telah lama tak pernah dia dapatkan dari siapa pun setelah Sandi meninggalkannya.


☘️☘️☘️


Hari pertunangan Kenan akhirnya tiba. Kediaman Abi, tempat dilakasanakannya acara pertunangan anak bungsunya itu sudah didatangi keluarga dan para sahabatnya. Nita beserta Zahra dan Silva juga sudah datang. Begitu pun dengan Sandi yang membawa semua keluarganya.


Sandi dan Risma hanya bisa melongo melihat keluarga Hikmat berkumpul dalam satu ruangan. Baru pertama kali ini mereka berhadapan dengan keluarga konglomerat yang hartanya mungkin tidak akan habis tujuh turunan dan tanjakan.


“Woi kompor, buruan turun!! Dandan lama amat kaya anak perawan!!” teriak Haikal yang langsung menarik perhatian Sandi.

__ADS_1


Sudut matanya lalu menangkap Kenan menuruni anak tangga ditemani oleh Freya. Wanita itu memang mengambil alih tugas sang mama untuk mendandani adiknya. Dalam hati Sandi mengagumi wajah tampan Kenan yang terlihat maki gagah dalam balutan tuxedo berwarna hitam.


Sementara itu di teras, Barra masih bertahan di sana. Pria itu masih belum mau masuk ke dalam rumah. Sesekali matanya mengawasi kendaraan yang melintas di depan kediaman Abi. Aric yang baru saja datang langsung menghampiri kakak iparnya itu.


“Ngapain lo di sini? Nunggu Hanna?”


“Bukan,” jawab Barra sambil terus melihat-lihat ke arah jalan.


“Terus ngapain? Lo nunggu siapa?”


“Jaga-jaga kalo ada petugas KUA kemari, mau gue langsung suruh pulang.”


“Hahahaha… dasar dodol.”


“Woi.. lo berdua buruan masuk, acara mau dimulai,” seru Ravin.


Mendengar panggilan dari sahabatnya, Aric masuk seraya menarik tangan Barra. Keduanya lalu memasuki ruang tengah, tempat di adakannya acara pesta pertunangan. Di tengah-tengah, nampak Abi, Nina dan Nita sudah berdiri, bersiap untuk membuka acara. Abi mengurungkan niatnya berbicara saat melihat Barra tengah meneliti satu per satu orang yang ada di dalam ruangan.


“Ngapain sih, lo!” Fathan mendorong tubuh pria itu pelan.


“Jaga-jaga kalau ada penyusup di sini.”


“Penyusup apaan?” tanya Ezra.


“Kali aja ada petugas KUA nyamar di sini,” Barra terus meneliti orang-orang yang ada di sekelilingnya.


“Aaaaaa…”


Terdengar jeritannya ketika Jojo menjewer telinga sang anak. Sambil mengusap telinganya yang terasa panas, Barra akhirnya menghentikan aktivitasnya lalu berdiri di samping Kenzie.


“Kelakuan anakmu,” ujar Jojo pelan pada Adinda.


“Kalau dia anakku berarti anak panda juga,” sewot Adinda.


“Oh iya,” Jojo menepuk keningnya.


“Heleh si panda hilang ingatan,” seru Cakra.


“Pura-pura amnesia. Padahal kalo ngga ada Dinda, ngga bakalan jadi panda dia,” sahut Juna.


“Terus jadi apa kak?” Anfa ikutan nimbrung.


“Trenggiling,” jawab Kevin lengkap dengan wajah datarnya dan sontak mengundang tawa yang lain. Abi yang sedari tadi hanya memperhatikan, tak dapat menahan tawanya. Jojo mendelik keki pada para sahabatnya.


“EHEM!! Acara mau dimulai ngga?”


Semua langsung terdiam begitu terdengar suara Nina lengkap dengan tatapan horror ala Suzana dan berhasil membuat semua pria yang tadi bersuara langsung terdiam. Nina memberi tanda pada suaminya untuk memulai acara.


“Maaf saya terlambat.”


Abi kembali menahan kata-katanya ketika seseorang datang. Jantung Barra langsung berdegup kencang. Dengan pelan pria itu menolehkan kepala ke arah datangnya suara.


☘️☘️☘️


**Suara siapa itu? Penghulu kah?🏃🏃🏃


Haiiii... mamake kambek hari ini demi menebus kebolongan di hari Kemerdekaan. Terima kasih untuk semua komentar positif kalian, terima kasih untuk like, gift dan vote yang diberikan. Alhamdulillah, semoga berkah selalu, aamiin..


Alhamdulillah mood menulis yang kemarin digondol kucing akhirnya kembali lagi. Tai mohon maaf masih belum bisa nulis part panjang karena masih dalam proses maintenance otak🤭 Mudah²an part ini bisa menghibur kalian ya🤗


Buat kalian yang butuh bacaan baru, mamake rekomendasikan beberapa novel untuk kalian. Ketik aja judulnya di kolom pencarian. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Tapi buat yang ngga suka, skip aja dan dimohon untuk tidak meninggalkan komen yang buruk🙏 Tapi aku percaya kalian adalah readers yg bijak.


Aku mengucapkan banyak² terima kasih untuk kalian semua. Kalian mood boosterku dan my inspiration, sarange😘😘😘




__ADS_1


**



__ADS_2