KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Pelajaran Berharga


__ADS_3

Nina masih dalam pelukan Abi. Kondisinya sudah lebih tenang sekarang setelah Abi menenangkannya dan mengajaknya duduk di sofa. Perlahan Nina melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ada banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya seputar kejadian yang menimpa Anfa.


“Mas tahu dari mana Anfa ngga bersalah?”


“Kamu ngga percaya sama adikmu sendiri?”


“Bukannya ngga percaya mas, tapi tanda merah itu yang buat aku curiga.”


“Kali aja itu digigit nyamuk.”


“Mas!!”


Nina memukul lengan Abi dengan kencang hingga lelaki itu mengaduh kesakitan. Wanita itu kesal sekali karena suaminya selalu saja menjawab pertanyaannya sesuka hati. Abi terkekeh melihat kekesalan sang istri.


“Memang Angela berusaha memperk*sa Anfa tapi ngga berhasil. Astaga anak itu saking polosnya bisa sampai mau diperk*sa hahahaha,” Abi tak bisa menahan tawanya, membuat Nina kembali kesal.


“Mas iihh.. mas tau dari mana? Anfa yang cerita?”


“Ngga.”


“Terus?”


“Semenjak Angela mulai datang ke kantor, aku sudah meminta Ruby untuk mengawasi gerak-geriknya. Aku juga meminta Agung mengirim anak buahnya untuk mengikuti pergerakan Angela. Sampai akhirnya peristiwa itu terjadi.”


“Kalau emang anak buah Agung ikutin Angela dan tahu kejadian yang menimpa Anfa kenapa ngga ditolong? Kalau mereka mencegah, kejadian itu ngga akan terjadi. Mas jahat banget sih.”


Nina kembali memukuli lengan suaminya. Abi meraih tangan Nina kemudian menariknya ke dalam pelukan. Dia sudah menduga kalau reaksi sang istri akan seperti ini.


“Maaf.. tapi mas sengaja melakukannya. Biar Anfa mengalaminya secara langsung. Dia itu terlalu polos dan terlalu baik pada orang lain. Jadi biarkan dia merasakan langsung supaya bisa mengambil pelajaran darinya.”


“Tapi kalau sampai Anfa terkena perangkap Angela gimana mas. Aku ngga berani membayangkannya.”


“Mas percaya kalau Anfa ngga selemah itu. Memang beresiko tapi itu harus mas lakukan. Dia harus bisa melindungi dirinya sendiri. Kalau mas selalu membantu dan melindunginya, bagaimana dia belajar untuk menjadi kuat? Akan banyak nantinya masalah yang menerpa dan ngga selamanya mas akan berada di dekatnya untuk membantu.


Maka dari itu, mulai sekarang dia harus belajar. Belajar untuk waspada, belajar bisa menilai seseorang dan belajar melindungi dirinya. Kelak Anfa akan menikah, nanti dia juga harus melindungi anak dan istrinya. dia harus menjadi lelaki kuat yang bisa melindungi orang-orang di sekitarnya, termasuk kamu. Kalau terjadi sesuatu pada mas, maka tanggung jawab mas akan berpindah pada Anfa.”


Nina mendongakkan kepalanya melihat ke arah sang suami yang nampak serius dengan kata-katanya. Jujur saja, Nina tak suka mendengar kalimat terakhir sang suami. Dia mengeratkan pelukan di pinggang Abi.


“Mas jangan bilang gitu. Mas harus selalu ada di sisiku, sampai aku melahirkan dan membesarkan anak-anak kita.”


“Iya sayang. Mas juga berharap seperti itu,” Abi mencium puncak kepala sang istri.


“Besok coba kamu minta Rayi ke rumah. Kamu bicarakan soal masalah yang menimpa Anfa. Angela sepertinya menghubungi Rayi malam itu.”


“Rayi tahu soal ini? Terus dia gimana mas?”


“Dilihat dari kusutnya muka Anfa, kayanya ada masalah.”


“Besok aku telepon Rayi.”


“Hmm..”


“Makasih ya mas. Terima kasih sudah menyayangi Anfa.”


“Dia adikku juga, sayang.”


“Aku mencintaimu mas.”


“Aku lebih mencintaimu sayang.”


Wajah keduanya mendekat kemudian menyatukan bibir mereka. Dengan gerakan lembut Abi me**mat bibir sang istri. Nina memeluk leher Abi, ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut. Perlahan Abi membaringkan tubun Nina di sofa dengan dirinya berada di atasnya. Tangan Abi meraba perut Nina.


“Sayang.. pasti kamu kaget ya tadi mama marah-marah,” ucap Abi tepat di dekat perut Nina. Tak lama tangannya merasakan tendangan dari dalam perut.


“Tuh Yang, baby-nya jawab iya,” Nina tersenyum.


“Kamu baik-baik aja kan baby boy?” lagi tendangan terasa.


“Udah malem, kenapa belum tidur?”


Tak ada tendangan lagi, Abi menempelkan telinganya ke perut sang istri. Kepalanya mengangguk-angguk seperti baru saja mendengar bisikan dari dalam sana. Dia mengangkat kepalanya kemudian melihat ke arah Nina.


“Yang, katanya dia ngga mau tidur sebelum ditengokin papanya. Dia juga mau dibacain dongeng sebelum tidur.”


“Dasar modusss.. anak sendiri juga dimodusin,” cibir Nina, Abi hanya terkekeh.


Abi kembali me**mat bibir Nina, membuat sang istri terbuai dengan ciumannya. Kemudian bibirnya turun menyusuri leher jenjang Nina yang putih kemudian memberikan tanda kemerahan di sana. Terdengar de**han pelan wanita itu yang begitu menikmati sentuhan sang suami. Tangan Abi mulai mengangkat dress yang dikenakan Nina kemudian melepaskan dari tubuhnya.


Diciumnya perut Nina yang semakin membuncit beberapa kali. Kemudian tangannya melepaskan kaitan bra yang menutupi bukit kembar sang istri yang semakin padat berisi. Pelan-pelan disesap dan diku**mnya bukit kembar yang sudah dipaten menjadi miliknya.


Abi menghentikan aktivitasnya sejenak untuk melepaskan kain penutup terakhir tubuh istrinya. Kemudian dia juga melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Nina memandangi tubuh tegap di hadapannya, tangannya meraba dada bidang Abi kemudian turun mengusap perut kotak-kotaknya dan berakhir di benda pusaka yang senantiasa membuatnya menjerit keenakan.

__ADS_1


Pria itu memejamkan matanya, menikmati sentuhan sang istri yang memainkan miliknya. Erangannya terdengar saat Nina merematnya sedikit kencang. Abi melepaskan pegangan Nina dari miliknya, kemudian dia mulai bermain di area bawah istri tercintanya. Tubuh Nina menggelinjang menahan rasa geli bercampur nikmat yang tiada tara.


Lenguhan Nina terdengar ketika Abi mulai memasukkan miliknya. Dengan gerakan pelan, pria itu mulai memaju mundurkan pinggulnya. Mata Nina bertubrukan dengan netra Abi yang menatap dalam ke arahnya. Abi memagut bibir Nina, sambil terus menggerakkan pinggulnya.


Suasana ruang film semakin terasa panas seiring percintaan keduanya yang semakin membara. Peluh sudah membasahi tubuh keduanya, namun Abi masih belum mengakhiri aktivitasnya. Nina sendiri masih belum mau kenikmatan ini berakhir. Kini ibu hamil itu yang memegang kendali permainan. Pinggul Nina bergoyang di atas tubuh sang suami, gaya permainan yang cukup aman bagi wanita yang tengah hamil besar.


Tak ingin membuat sang istri lelah, Abi mempercepat permainan dengan ikut menggerakkan tubuhnya dari bawah. De**han Nina semakin kencang ketika tusukan abi semakin kencang dan cepat. Tak lama terdengar pekikannya saat berhasil menggapai pelepasannya. Abi mempercepat gerakannya karena dirinya sudah hampir sampai. Tubuh Nina terkulai di atas Abi ketika suaminya telah berhasil mengeluarkan lahar panasnya.


“Love you, sayang,” bisik Abi.


☘️☘️☘️


Anfa baru saja akan pergi ketika melihat Abi tengah menunggunya di depan rumah. Pria itu berdiri santai sambil menyandarkan punggungnya ke pintu mobil seraya bersidekap. Anfa berjalan pelan menghampiri kakak iparnya itu.


“Kak..”


“Bagaimana keadanmu?”


“Alhamdulillah, baik kak.”


“Sudah sadar kesalahanmu?”


Anfa mengangguk pelan kemudian mendekati Abi. Dia berdiri di samping Abi dan ikut menyandarkan punggungnya ke mobil. Dari semua kakaknya, hanya tinggal Abi yang belum berbicara dengannya.


“Apa kamu tahu kenapa papa mengajak Angela sebagai partner bisnisnya?”


“Ngga kak.”


“Papa sebenarnya sudah tahu sepak terjang Angela dan bagaimana kondisi perusahaannya. Dia sengaja membawa Angela dan memperkenalkannya untuk menguji kamu Fa. Kamu itu terlalu polos dan baik sama semua orang, makanya mudah sekali dibohongi. Papa mau tahu bagaimana cara kamu menghadapi Angela. Walau sedikit terpeleset awalnya, tapi aku bangga kamu berhasil mengatasinya juga.”


“Kakak dan yang lainnya udah tahu juga soal Angela?”


“Ngga ada yang tahu selain papa. Tapi aku, kak Juna dan Cakra sudah bisa menebak seperti apa karakter perempuan itu sejak pertama bertemu. Karena itu Cakra meminta kamu untuk menangani proyeknya.”


Anfa menundukkan kepalanya, rasanya malu sekali, ternyata hanya dirinya yang terjebak dalam perangkap Angela. Abi menoleh ke arah Anfa kemudian mengusak puncak kepalanya.


“Ngga usah terlalu dipikirkan, kamu sudah melewatinya dengan baik. Jadikan itu pelajaran berharga untukmu. Sekarang, mulailah bersikap waspada dengan orang-orang yang baru kamu kenal. Kamu itu tampan, pintar, memiliki posisi bagus di perusahaan, tentunya akan banyak perempuan yang ingin mendekatimu, baik dengan cara yang benar atau licik. Jadi mulai sekarang harus berhati-hati. Begitu pula untuk urusan pekerjaan. Jangan karena klien merupakan orang yang dikenalkan papa atau anggota keluarga, lantas kamu mengabaikan semua prosedur yang sudah aku ajarkan. Tetap cek and ricek, karena belum tentu selamanya kami benar dalam mengambil keputusan.”


“Iya kak.”


“Bagaimana dengan Rayi?”


“Dia minta putus kak.”


“Iya kak.”


Abi masuk ke dalam mobil, disusul oleh Anfa. Untuk hari ini, pemuda itu tak menggunakan kendaraannya sendiri. Setelah kendaraan Abi pergi, Cakra keluar dari dalam rumah ditemani oleh Sekar.


“Abang inget ya, kasih hukuman yang berat buat si ulet bulu itu. Awas aja kalau ngga!”


“Iya sayang, iya.. abang pergi dulu ya.”


Sekar mencium punggung tangan suaminya. Cakra mencium kening Sekar kemudian lanjut dengan mencium bibirnya. Pria itu sedikit memberi lu**tan pada bibir sang istri kemudian sambung dengan mencium perutnya.


“Anak papa baik-baik ya.”


“Iya papa,” jawab Sekar dengan meniru suara anak kecil.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Cakra masuk ke dalam mobilnya. Diturunkan kaca mobil kemudian melambaikan tangan ke arah sang istri seraya menekan pedal gas. Kendaraan roda empat itu bergerak maju. Dari kaca spion, Cakra melihat sang istri yang masih berdiri di tempatnya tadi.


☘️☘️☘️


“Abang...”


“Apa?”


“Iiihh.. abang denger ngga sih aku ngomong apa?”


“Iya denger.”


“Terus?”


“Biarin ajalah bee. Itu bukan urusan kita.”


Rindu kesal mendengar jawaban sang suami. Sedari malam dia terus merengek pada Kevin agar ikut memberikan hukuman pada Angela. Ibu hamil yang satu ini geram setelah mendengar cerita dari Sekar tentang apa yang terjadi pada Anfa. Terlebih saat tahu kalau Rayi dan Anfa putus gara-gara ulah Angela. Anfa akhirnya menceritakan pada Cakra dan Juna tentang hubungannya dengan Rayi.


“Rayi itu temanku bang, Anfa juga. Harusnya abang peduli dong. Kalau abang emang sayang sama aku, abang harus ikut kak Abi buat kasih hukuman sama si ulet bulu itu. Lagian abang ngga ada empatinya banget sih jadi orang. Coba abang bayangin kalau aku ada di posisi Rayi, ngga enak banget kan pastinya. Coba abang bayangin juga gimana perasaan Anfa, gara-gara tuh ulet bulu hubungan mereka jadi hancur. Tuh cewek bener-bener kurang belaian kali ya, makanya harus dikasih pelajaran yang setimpal. Aku ngga mau tau, abang pokoknya harus mau mmmppphhh..”

__ADS_1


Pidato kenegaraan Rindu yang panjang lebar terhenti ketika tiba-tiba Kevin menyumpal mulut sang istri dengan bibirnya. Kevin me**mat bibir Rindu dengan dalam, membuat Rindu terbuai dan membalas ciumannya. Setelah beberapa saat, Kevin mengakhiri ciumannya.


“Berisik banget kamu tuh. Abang pergi,” Kevin mencium kening sang istri.


“Kalau abang ngga ikut kasih hukuman, jangan harap ada jatah malam selama sebulan!!!”


Teriak Rindu begitu Kevin keluar dari kamar. Dengan langkah cepat Kevin menuruni tangga. Pria itu langsung menuju mobilnya, dan melewatkan sarapannya. Beberapa saat kemudian kendaraan miliknya meluncur pergi.


Setelah lampu merah pertama, Kevin mengarahkan mobilnya menuju apartemen Angela. Rencananya, pagi ini Abi akan memberikan keputusan perihal hukuman yang akan diberikannya pada Angela. Demi kesejahteraan anacondanya, Kevin memutuskan untuk ikut memberikan hukuman pada wanita yang diberi julukan ulet bulu itu.


☘️☘️☘️


Dendi menganggukkan kepalanya begitu melihat kedatangan Kevin. Pria dengan julukan kulkas dua pintu itu melirik ke arah Anfa yang duduk tenang di depan apartemen Angela. Abi memang melarang pemuda itu untuk masuk. Tanpa bertanya pada Anfa, Kevin masuk ke dalam unit. Ternyata di dalam sudah ada Juna, Cakra dan Jojo. Dengan santai Kevin duduk bersama mereka.


“Ngapain lo ke sini?” tanya Cakra.


“Kepo.”


Sementara itu, di ruangan lain, Abi tengah berbicara serius dengan Gary, ayah dari Angela. Beberapa kali pria paruh baya itu meminta maaf pada Abi dan terus memohon agar Abi mau memaafkan anaknya. Namun Abi bergeming, dia tetap teguh dengan pendiriannya. Akhirnya Gary pasrah menunggu keputusan hukuman apa yang akan diberikan pada putrinya.


Gary pamit untuk menemui sang putri yang ada di dalam kamar, dan tengah ditemani istrinya. Abi pun berdiri kemudian berjalan menuju ruang tamu. Keningnya mengernyit melihat kakak dan para sahabatnya sudah duduk manis di sofa. Pria itu kemudian duduk di salah satu sofa single yang kosong.


“Kak Juna ngapain ke sini?”


“Nadia yang minta. Dia ngga rela Anfa dilecehkan, makanya dia minta aku ikut kasih hukuman.”


“Lo, Cak?”


“Dari pada Sekar yang di sini mending gue kan?”


Abi berdecih mendengar jawaban sahabatnya. Kemudian dia melihat ke arah Jojo dan Kevin, dua orang yang tak ada sangkut pautnya dengan masalah yang terjadi.


“Lo ke sini mau ngapain Jo?”


“Menyelamatkan aset berharga gue. Dinda ngancem kalau gue ngga ikut kasih hukuman ke Angela, burung gue bakal disunat abis.”


Tawa Juna dan Cakra pecah mendengarnya. Ternyata playboy seperti Jojo akhirnya bertekuk lutut juga di bawah kaki gadis blewah. Abi pun tak bisa menahan tawanya. Kemudian dia beralih pada Kevin yang tetap memasang wajah datarnya.


“Lo sendiri ngapain Vin?”


“Demi kesejahteraan ranjang gue.”


“Wakakakak... suami takut istri juga lo ya,” ledek Jojo senang karena punya teman senasib.


“Sayang klub mami Elis udah tutup. Kalau masih buka, tinggal kirim aja si ulet bulu ke sana, beres urusan,” celetuk Cakra.


“Beneran tutup tuh club? Sekarang jadi apa tempatnya?” tanya Jojo.


“Iya, sekarang udah jadi majlis taklim,” jelas Cakra.


“Buset kaga salah. Kan kanan kirinya masih ada club juga.”


“Bagus. Jadi suara ajeb-ajeb plus uh ah dapet saingan suara tagonian ibu-ibu majlis taklim,” seru Abi yang langsung disambut gelak tawa.


Suara tawa mereka terhenti ketika pintu kamar Angela terbuka. Dari dalam kamar, keluar Gary bersama dengan istri dan juga Angela. Ketiganya berjalan menuju ruang tamu kemudian mendudukkan diri di sofa yang masih kosong.


“Sebelumnya atas nama Angela, kami selaku orang tua meminta maaf atas perbuatan putri saya. Angela, ayo minta maaf pada mereka.”


Angela menatap pria di hadapannya satu per satu yang menampilkan mimik wajah berbeda. Juna dengan wajah tenangnya. Abi dengan wajah dingin dan tatapan sadisnya. Jojo yang melihat Angela dengan kesal. Kevin dengan wajah datarnya. Sedang Cakra bingung harus menampilkan wajah apa, karena semua gaya sudah diambil para sahabatnya. Akhirnya pria itu memilih mode menyimak saja.


“Mana Anfa? Aku hanya akan meminta maaf padanya,” Angela membuka suaranya.


“Kamu pikir Anfa masih mau bertemu denganmu?” seru Jojo.


“Ngga usah basa-basi. Kami tidak butuh permohonan maafmu. Dengarkan saja hukuman yang akan kamu terima karena sudah berani mengganggu adik kecil kami,” tukas abi dengan nada penuh penekanan.


Gary menahan nafasnya menanti detik-detik hukuman yang akan diberikan oleh anak dari Teddy Hikmat ini. Pria ini sudah mendengar tentang reputasi Abi yang bukan kaleng-kaleng dalam menghukum seseorang yang berani mengusik dirinya juga orang-orang di sekitarnya.


“Hukuman buatmu....”


☘️☘️☘️


**Apa hayo???


Nungguin ya???🤣🤣🤣


Menurut kalian hukuman apa yg bakal dikasih sama Abi dan sahabat²nya. Kasih pendapat kalian di kolom komentar ya.


Mohon maaf, sepertinya besok mamake ngga bisa up karena mau pemulihan dulu, biar badan cepat fit. Sambil nyari wangsit kira² hukuman apa yg cocok buat Angela.


Sambil nungguin kelanjutan KPA, mampir dulu yuk di cerita lain yang ngga kalah seru. Kisah Nick, cowok ganteng yang punya kisah hidup berliku yang harus berjuang mendapatkan cinta mamake, eh salah cinta Iza maksudnya🤣

__ADS_1


Langsung aja pantengin kisahnya di The Nick's Life, udah banyak loh episodenya😉**



__ADS_2