
**Haii... readers keceku.. mohon maaf ngga bisa up kemarin. Mamake sibuk jadi panitia nikahan Anfa sama Rayi. Malah dikasih tugas dadakan jadi reporter buat ngeliput pernikahan mereka. Nih sekarang mamake laporka apa aja yang terjadi di acara akad nikah mereka ya😉
********************************************
Pukul setengah lima sore, semua yang berkepentingan telah berkumpul di ballroom Arjuna Hotel. Pihak keluarga Rayi, keluarga Hikmat beserta para sahabat sudah hadir di sana. Petugas KUA beserta para saksi telah duduk di tempatnya masing-masing. Anfa yang duduk berhadapan dengan Wisnu nampak menarik nafas beberapa kali.
Dari pihak Wisnu, ketua DKM di kompleks rumahnya yang akan menjadi saksi. Sedang dari pihak Anfa, Teddy meminta gubernur Jawa Barat yang menjadi saksinya. Hal ini tentu saja membuat Astuti semakin besar kepala. Pernikahan putri semata wayangnya disaksikan oleh salah satu pejabat penting di negara ini.
Teddy terus berada di samping Anfa yang terlihat gugup. Berulang kali pria bersahaja itu menenangkan Anfa. Juna dan Abi juga tak berada jauh dari sang adik. Melihat dukungan dari orang-orang yang disayanginya, Anfa merasa sedikit tenang. Nina yang duduk tak jauh dari meja akad, memperhatikan adiknya dengan penuh haru.
Petugas KUA masih memeriksa dokumen kedua mempelai. Sejak pengumuman Teddy tempo hari, pria itu memerintahkan anak buahnya untuk mengurus kembali dokumen pribadi Anfa. Penyematan marga Hikmat di belakang nama Anfa telah selesai diproses secara hukum, kini secara resmi Anfa telah menjadi bagian keluarga Hikmat.
Setelah kelengkapan dokumen diperiksa dan keseluruhannya telah lengkap, petugas KUA mempersilahkan untuk keluarga kedua mempelai memulai acara akad. Anfa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Teddy menepuk pelan pundak pemuda yang secara hukum telah resmi menjadi anaknya. Wisnu menggenggam erat tangan Anfa.
“Ananda Muhammad Anfa Hikmat, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Rayi Aisyahrani binti Wisnu Pradana dengan mas kawin satu set perhiasan, dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Rayi Aisyahrani binti Wisnu Pradana dengan mas kawin tersebut, tunai!”
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH!”
“SAH!”
Sang penghulu mengulang ucapan para saksi. Ucapan hamdallah langsung terdengar dari semua yang menyaksikan jalannya upacara sakral itu. Anfa mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Perasaannya lega sekaligus bahagia telah berhasil melewati momen menegangkan tersebut dengan baik.
Dari arah samping kirinya, nampak wanita yang baru beberapa menit lalu menjadi istrinya berjalan ke arahnya dengan didampingi Rahma juga Astuti. Kedua wanita tersebut mendudukkan Rayi di samping Anfa. Juna menyerahkan kotak beludru hitam pada Anfa. Pria itu segera memakaikan cincin pernikahan di jari manis. Rayi pun melakukan hal sama, cincin berbahan titanium melekat pas di jari manis suaminya.
Rayi meraih tangan Anfa kemudian mencium punggung tangannya. Anfa meraih bahu Rayi lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Momen penuh haru tersebut dengan cepat diabadikan oleh sang fotografer. Selanjutnya juru foto itu meminta sang pengantin melihat ke arah kamera sambil memperlihatkan cincin pernikahan dan buku nikah yang baru saja mereka tanda tangani.
Setelah penghulu memberikan nasehatnya tentang hukum pernikahan, hak dan kewajiban suami pada istri begitu pula sebaliknya, acara dilanjutkan dengan sungkeman sekaligus pemberian wejangan dari para orang tua. Wisnu dan Astuti serta Teddy dan Rahma telah siap di tempatnya masing-masing. Kedua mempelai pun mendekat ke arah mereka.
“Papa titip Rayi padamu Fa. Tolong sayangi dan kasihi dia seperti papa dan mama menyayangi dan mengasihinya. Jika dia masih bersikap manja dan kekanakkan, tolong bersabar. Jika dia melakukan kesalahan, tolong tegur dengan lemah lembut. Papa percayakan anak satu-satunya papa padamu.”
“In Syaa Allah pa. Terima kasih atas kepercayaannya. Aku sebaik mungkin akan menjaga dan menjalankan amanat papa dengan baik.”
“Nduk.. sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Tanggung jawab papa sudah berpindah padanya, maka hormatilah suamimu. Jadikanlah dia imam hidupmu yang akan membimbingmu menuju surga Gusti Allah. Jadilah ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak.”
“Iya pa...”
Rayi tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Hanya airmata dan isak tangis yang keluar selanjutnya. Wisnu meraih Rayi ke dalam pelukannya. Mata pria itu pun berkaca-kaca, anak gadis yang selama ini dijaganya telah menemukan imam hidupnya. Perlahan Wisnu mengurai pelukannya. Kini kedua pengantin beralih pada Astuti.
“Mama...” Rayi menghambur ke dalam pelukan sang mama.
“Selamat ya nduk, sekarang kamu telah menjadi seorang istri. Mama sayang kamu, dan selalu mendoakan kebahagiaanmu.”
“Iya ma...”
“Anfa.. mama titip Rayi padamu. Penuhi kebutuhannya lahir dan batin. Jangan kecewakan dirinya, jangan mengkhianatinya dan jangan sampai dia merasakan kekurangan selama menjadi istrimu.”
“In Syaa Allah ma.”
Rahma memutar bola matanya, jengah sekali mendengar ucapan yang keluar dari bibir besannya itu. Hanya Anfa saja yang diminta untuk melakukan yang terbaik untuk putrinya sedangkan tak ada nasehat pada putrinya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Kalau bukan berada di acara sakral dan Astuti bukan besannya, mungkin Rahma sudah menyumpal mulut wanita itu.
Kedua pengantin selanjutnya bergerak menghampiri Rahma dan Teddy. Anfa menghampiri Teddy dengan mata berkaca-kaca. Pria yang sejatinya hanyalah mertua dari sang kakak ternyata begitu menyayangi dirinya juga Nina sepenuh hati. Teddy merangkul Anfa kemudian memeluk pemuda itu seraya mengucapkan kalimat-kalimat berisi nasehat.
“Anak papa sekarang sudah menjadi suami. Jadilah suami yang baik, yang bisa membimbing istrimu, menjadi ayah yang penuh kasih sayang dan dapat memberikan contoh baik bagi anak-anakmu kelak. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
“Terima kasih pa.. terima kasih banyak..”
Suara Anfa terdengar tercekat, rasa haru yang begitu besar menyeruak dalam hatinya membuat dirinya tak kuasa menahan tangis. Walau darah Teddy tak mengalir dalam dirinya, namun kasih sayang pria itu begitu besar padanya. Teddy menepuk pelan punggung anaknya. Anfa mengusap airmatanya kemudian beranjak menuju Rahma.
“Mama..”
“Anak mama tersayang... mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jadilah suami yang baik serta imam yang bisa menjadi panutan bagi anak dan istrimu.”
__ADS_1
“Terima kasih ma..”
Anfa mengeratkan pelukannya, airmatanya kembali mengalir. Kasih sayang Rahma yang begitu besar membuat pemuda itu merasa menjadi anak yang paling beruntung. Walau belum genap dua tahun kebersamaan mereka, namun Anfa telah merasakan limpahan kasih sayang darinya.
Rayi menatap penuh haru pada keduanya. Bukan hanya Anfa, namun wanita itu juga merasakan besarnya kasih sayang Rahma juga Teddy. Bukan hanya itu, semua anggota keluarga Hikmat juga menunjukkan kasih sayang yang sama besarnya. Teddy melihat ke arah Rayi, membuat wanita itu mendekat padanya.
“Papa titip Anfa padamu. Sekarang dia adalah imammu, turuti dan patuhi dia selama mengajakmu dalam kebenaran. Jika ada masalah, jangan sungkan untuk berbagi dengan kami. Sekarang, kami juga orang tuamu.”
“Iya pa, makasih.”
Teddy memeluk Rayi sebentar kemudian melepaskannya kembali. Rayi kemudian menghampiri Rahma. Dengan tangan terbuka, wanita itu menyambut menantunya. Rahma memeluk Rayi sejenak, kemudian menguraikan pelukannya.
“Selamat datang di keluarga kami. Mama percaya, kamu dan Anfa akan saling menyayangi dan menjaga cinta kalian sampai maut memisahkan. Jadilah istri yang mampu memberikan kenyamanan pada suamimu. Menjadikan dirimu sebagai tempat pulangnya. Berikan cinta dan kasih sayang yang tulus, itulah yang akan mengikatnya padamu. Posisimu ada di sampingnya untuk mendampingi, bukan di bawah untuk ditindas, bukan pula di atas untuk dipuja. Jangan dengarkan hasutan orang yang hanya akan memperkeruh hubungan kalian. Pilahlah mana nasehat yang baik untukmu dan mana yang tidak.”
Rahma sengaja mengeraskan volume suaranya saat mengucapkan kalimat menjelang akhir nasehatnya. Matanya melirik ke arah Astuti juga Rahayu yang berdiri tak jauh darinya. Kedua wanita itu hanya mampu terdiam saat merasakan ucapan Rahma seperti sebuah sindiran untuk mereka.
Setelah selesai dengan para orang tua, kini pasangan itu menghampiri Juna dan Nadia. Nasehat demi nasehat keluar dari mulut pasangan suami istri itu. Anfa juga Rayi mendengarkan dengan seksama.
Ketika Anfa masih bersama dengan Juna, Abi dan Nina terpaksa harus meninggalkan ballroom karena Kenzie menangis. Baby Ken menangis karena popoknya yang minta diganti juga ingin menyusu. Keduanya kembali ke kamar yang telah dipersiapkan untuk mereka.
Abi memandangi Nina yang tengah menyusui sang anak. Keduanya saat ini berbaring di kasur dengan Kenzie berada di tengahnya. Tangan Abi bergerak mengusap pipi sang istri juga anaknya bergantian. Pemandangan seperti ini tak pernah bosan untuk menjadi perhatiannya.
Selesai menyusu, Kenzie tertidur. Perlahan keduanya beranjak dari kasur, meninggalkan Kenzie yang sudah tertidur pulas. Bi Ita yang sedari tadi duduk menunggu di sofa, segera masuk ke dalam ruang tidur begitu Abi dan Nina keluar kamar. Dia dipercaya untuk menunggui Kenzie, sedang orang tuanya akan kembali ke ballroom.
Astuti nampak gusar ketika Anfa tiba-tiba pamit meninggalkannya, saat wanita itu tengah mengenalkan Anfa pada saudara-saudaranya. Menantunya itu nampak bergegas menghampiri Abi juga Nina yang baru saja kembali ke ballroom. Wanita itu menyuruh Rayi untuk membawa Anfa kembali padanya.
“Kak..”
“Fa..”
Anfa langsung memeluk Nina, tadi setelah berbicara dengan Juna juga Nadia, dia mencari kakaknya ini. Sekar mengatakan kalau Nina tengah membawa Kenzie ke kamar. Anfa menguraikan pelukannya setelah mendengar deheman Abi. Pengantin baru itu hanya melayangkan senyuman meledek pada kakak iparnya yang selalu tak rela dirinya memeluk sang kakak lama-lama.
“Kamu sekarang sudah menjadi seorang suami. Jangan bersikap kekanakan lagi. Harus lebih banyak bersabar menghadapi istrimu. Kalian itu seumuran, ego kalian masih tinggi, salah satu dari kalian harus ada yang mau mengalah jika sedang bertengkar. Jangan lupa untuk saling percaya dan menjaga kepercayaan.”
“Iya kak.”
“Sekarang kamu sudah menjadi suami, bertambah satu lagi tanggung jawabmu. Ingat, dia atas pekerjaan, keluarga dan istrimu adalah segalanya. Kemarin aku membebanimu banyak pekerjaan supaya kamu siap jika nanti perusahaan diserahkan padamu. Lagi pula kamu belum punya tanggungan saat itu,” Abi melirik ke arah Rayi yang baru saja bergabung bersama mereka. Gadis itu menundukkan kepalanya.
“Sayangi dan lindungi istrimu dengan baik. Jika dia melakukan kesalahan, tegur dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan. Ke depannya akan banyak masalah yang akan menghadang pernikahan kalian. Tetap saling percaya, karena itu modal utama kalian. Jangan mudah terhasut ucapan orang lain. Jangan mempercayai sesuatu begitu mudah sebelum kalian menyelidikinya lebih dulu.”
“Iya kak, terima kasih untuk nasehatnya. Aku akan mengingatnya.”
“Dan Rayi... sekarang kamu sudah resmi menjadi bagian keluarga Hikmat. Jadilah wanita yang tangguh, yang bisa mendampingi suamimu dalam suka atau duka, dalam masa tersulitnya sekalipun. Ada banyak nantinya yang berusaha mengganggu kehidupanmu, entah pesaing bisnis, wanita atau keluarga. Kamu harus lebih cerdas dalam menanggapi situasi yang terjadi. Jangan bersikap kekanakan lagi, jangan mengedepankan emosi tapi berpikirlah secara rasional.”
“Iya kak,” jawab Rayi pelan.
Walau kini statusnya telah resmi menjadi adik ipar Abi, namun gadis itu masih belum berani berhadapan langsung dengan pria itu. Apalagi di situasi sekarang, di mana Abi tengah menasehatinya sebagai seorang kakak. Dominasi dan tekanan nada dalam setiap ucapannya begitu mengintimidasinya. Berbeda dengan Juna yang terlihat bijak dan Cakra yang hangat, Abi masih terlihat menyeramkan di matanya.
“Ayo Ray, kakak mau kenalan sama keluargamu.”
Abi menoleh ke arah sang istri, matanya menyiratkan larangan. Namun Nina hanya mengusap pelan punggung tangan sang suami, tanda dirinya akan baik-baik saja. Kedua wanita cantik itu berjalan menuju meja di mana keluarga Rayi berkumpul sambil menikmati hidangan. Sambil tersenyum, Nina menyalami satu per satu keluarga Rayi dari pihak Astuti, kemudian menarik kursi di sebelah adik iparnya.
“Jadi ini kakaknya Anfa, cantik,” puji nenek Rayi.
“Makasih mbah. Gimana makanannya, suka?”
"Suka."
“Pasti suka karena uenak.. namanya juga hotel bintang lima,” Astuti begitu jumawa.
“Suamimu itu yang namanya Abi bukan? Yang kalau bicara suka ceplas-ceplos?”
Astuti terkejut mendengar ucapan Rahayu, sontak dia melihat ke arah kakaknya itu. Tapi melihat wajah Rahayu yang biasa saja, dan mengingat bagaimana dulu Nina hanya diam saat dirinya menghina wanita itu, Astuti kembali tenang.
“Iya itu suami saya. Maaf, dia memang seperti itu karakternya. Tapi dia tidak akan menyinggung orang kalau orang itu tidak mencari gara-gara dengannya.”
__ADS_1
“Adikku tidak pernah mencari gara-gara sama suamimu. Tapi kenapa ucapan dan sikapnya ketus sekali.”
“Sekali lagi saya minta maaf kalau tante Astuti tersinggung dengan sikap suami saya. Tapi dia lakukan itu karena tidak terima istri dan adik iparnya diremehkan.”
Rayi menundukkan kepalanya, rasa malu seketika menyerangnya melihat sikap keluarga dari pihak sang mama. Rahayu yang masih bersikap arogan melihat ke arah Nina seraya mencibirkan bibirnya.
“Sekarang Anfa sudah sah menjadi suami Rayi, artinya sekarang prioritas utama Anfa adalah Rayi, istrinya, bukan kakaknya apalagi kakak iparnya.”
Nina tersenyum mendengar ucapan Rahayu. Rayi memegang tangan Nina, seraya mengucapkan kata maaf tanpa suara. Nina hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian melihat ke arah Rahayu.
“Memang benar kalau sekarang prioritas utama Anfa adalah istrinya, Rayi. Dan prioritas Rayi juga suaminya, Anfa. Artinya sebagai seorang istri dia harus selalu menuruti suaminya. bahkan untuk mengurus orang tua pun harus seijin dari suaminya. Benar begitu mbah?”
Nina menoleh ke arah wanita yang paling tua di sana. Mbah putri itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Rahayu bertambah kesal melihat Nina yang bisa membalikkan ucapannya.
“Rayi.. sekarang kamu sudah menjadi menantu keluarga Hikmat. Memang membanggakan menjadi menantu salah satu keluarga konglomerat. Tapi dibalik itu ada harga yang harus kamu bayar. Sebagai istri seorang CEO perusahaan, maka kamu harus rela berbagi waktu suamimu dengan pekerjaannya. Kamu juga harus siap terus berada di sampingnya menghadapi masalah yang mungkin akan selalu menerpa. Bukan hanya itu, kamu juga harus siap menghadapi para wanita yang berusaha menggoda dan merebut suamimu.”
“Makanya kamu harus bisa membuat Anfa bertekuk lutut dan tidak berpaling darimu,” sambar Rahayu.
“Setuju sekali tante. Rayi harus bisa menaklukkan Anfa agar tak melirik wanita lain. Tapi menaklukkannya bukan dengan ancaman. Rasa cinta Anfa jangan dijadikan senjata untuk membuatnya bertekuk lutut, karena bisa jadi cinta itu akan luntur dan hilang. Tapi buatlah dirimu sebagai tempat pulangnya, tempat yang membuatnya nyaman serta bisa menghilangkan rasa lelah dan beban berat yang dipikulnya.
Lihat kak Nadia, Sekar, Rindu atau Dinda. Begitu banyak perempuan yang tergila-gila pada suami mereka, tapi tak ada satu pun dari mereka yang tergoda, karena apa? Karena istri-istri mereka lebih menarik di mata mereka, lebih membuat nyaman, bisa mendukung mereka di saat sulit sekali pun. Itu yang harus kamu lakukan Ray.”
“Bagaimana dengan suamimu? Apa dia pernah tergoda dengan perempuan lain? Aku dengar Abi itu duda sebelum menikah denganmu. Mana tahu sebelum menikah denganmu, dia sering menjalin hubungan dengan perempuan lain. Bagaimana kalau tiba-tiba ada perempuan yang datang sambil membawa anak hasil hubungan gelap mereka.”
“Hahaha...”
Nina tertawa lepas mendengar penuturan Rahayu. Semua yang ada di sana cukup terkejut dengan reaksi nyonya Abimanyu itu. Hal itu sukses membuat Rahayu dongkol. Dipikirnya Nina adalah perempuan yang bisa dengan mudah dipojokkan olehnya.
“Alhamdulillah ngga ada tante. Saya tahu suami saya seperti apa dan saya percaya padanya. Tapi kalau ada perempuan yang berani mendekatinya, maka saya tidak segan-segan untuk melemparkan perempuan itu jauh-jauh.”
“Apa aku boleh mencoba kak?” canda Jenar yang juga tak menyukai Nina.
“Silahkan saja. Tapi kamu harus siap berhadapan denganku. Karena aku tidak akan melepaskan suamiku untuk perempuan penggoda. Dan aku akan pastikan kamu menyesal karena sudah berani menggoda suamiku.”
“Cih.. sombong.”
“Terima kasih atas pujiannya.”
Jenar karuan kesal mendengarnya, tangannya mengepal erat. Rahayu pun tak kalah kesal mendengar penuturan Nina yang terkesan sombong. Astuti memilih diam, ternyata Nina tak seperti dugaannya. Sikapnya jauh berbeda saat pertama kali mereka bertemu.
“Jenar.. tolong jaga ucapanmu. Kak Nina adalah kakak iparku, kamu harus bersikap sopan,” tegur Rayi.
“Heleh ikutan sombong kamu? Baru jadi istri Anfa saja sudah sombong.”
“Bukan sombong, tapi bersyukur bisa mendapatkan lelaki baik sebagai imamku. Walau pada awalnya kalian selalu memandang sebelah mata pada dia. Tapi nyatanya dia lebih dari layak untuk jadi suamiku. Dan mama, aku harap mulai sekarang mama bisa menerima dan menyayangi Anfa karena dia suamiku yang artinya anak mama juga. Bukan karena dia bagian dari keluarga Hikmat. Begitu juga dengan bude, berhenti menghina kak Nina. Kak.. tolong maafkan keluargaku.”
“It’s okay Ray..”
“Rayi.. jangan sombong kamu. Biar bagaimana pun kami ini keluargamu. Harusnya kamu lebih membela kami ketimbang wanita ini,” sewot Rahayu.
“Karena Rayi tahu, mana yang harus dibela mana yang bukan.”
☘️☘️☘️**
**Nah loh.. siapa tuh yang komen?
a. Rahma
b. Abi
c. Anfa
Maafkan kemarin, karena sesuatu dan lain hal mood mamake ambyaar jadi rencana up kmrn terpaksa ditunda.
Mohon maaf saking sibuknya ngurus acara resepsi, mamake ngga bisa menyapa readers yang dateng menggunakan dress code daster berbunga dengan warna dasar lavender😜
__ADS_1
Sambil nunggu up berikutnya yang In Syaa Allah nanti malam atau shubuh, mamake ajak lagi intip salah satu karya anak bujangku, Rama Ramles. Yang belum baca cuss kepoin, yang udah baca terusin ya jangan lupa tinggalkan jejaknya. Makasih😘😘😘**