KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Kisruh Pagi Pertama


__ADS_3

“Bang.. bangun, bang.”


Hanna mengguncang bahu Barra, namun pria itu masih lelap dalam tidurnya. Tak putus asa, Hanna terus membangunkan suaminya. Setelah beberapa kali tepukan, akhirnya Barra membuka matanya juga.


“Bangun, bang..”


“Sayang..” panggil Barra dengan suara serak khas bangun tidur. Kemudian secepat kilat dia menarik tubuh Hanna hingga jatuh ke atasnya. Hanna mencoba melepaskan diri namun Barra malah mengeratkan pelukannya.


“Abang.. lepas iih..”


“Kok gitu sih, Yang. Kita kan udah halal,” Barra berusaha mencium Hanna namun ditahan dengan tangannya.


“Abang… lepas… bau jigong, sana mandi dulu.”


“Kamu mah ke suami. Ayo dong kita malam pertama.”


“Malam pertama apaan? Udah shubuh ini, ayo cepetan bangun, sana ke kamar mandi.”


“Hah??”


Terkejut mendengar penuturan istrinya, pelukan di tangan Barra mengendor dan dimanfaatkan Hanna untuk melepaskan diri dari pria yang sudah sah menjadi suaminya. Dia beranjak sedikit menjaih dari ranjang. Barra segera terlonjak dari tidurnya.


“Sekarang jam berapa gitu?”


“Jam lima kurang. Udah sana mandi.”


“Haiisshhh… kenapa baru bangunin sekarang?”


“Lah terus mau dibangunin jam berapa?”


“Kamu tuh udah lama di kamar mandi, langsung tidur ngga bangunin abang dulu.”


“Mana ada, aku cuma sepuluh menit. Aku keluar kamar mandi abang udah ngorok. Masih untung aku bisa tidur.”


“Masa?”


“Iyalah. Aku juga ngantuk semalem, makanya langsung tidur. Suruh siapa resepsi tiga termin.”


“Haiisshh..”


Barra mengusak rambutnya yang sudah acak-acakkan. Dengan kesal dia beranjak dari ranjang. Sambil menghentakkan kaki pria itu melangkah menuju kamar mandi. Malam pertama yang sudah dibayangkan beberapa hari sebelum pernikahan ternyata tak menjadi kenyataan. Hanna terkikik geli melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil.


Tak butuh waktu lama untuk Barra membersihkan tubuhnya. Tak kurang dari sepuluh menit, pria itu sudah keluar lagi dengan handuk yang membelit di pinggangnya. Hanna yang sudah mengenakan mukena tak tahu kalau Barra sudah berada di belakangnya.


“Baju abang mana?”


“Bentar, bang.”


Hanna membalikkan tubuhnya, saking terkejutnya melihat penampilan Barra, dia berteriak kencang dan refleks Barra juga ikut berteriak.


“Aaaaaaa!!”


“Aaaaaaa!!”

__ADS_1


“Han.. kamu kenapa sih? Ngagetin aja.”


“Abang ngapain pake handuk doang?” Hanna menutupi wajah dengan telapak tangan.


“Namanya juga abis mandi, masa iya ngelap badan pake sarung. Mana baju abang? Dingin, Yang.”


“Bentar.”


Masih dengan tangan menutupi wajahnya, Hanna berjalan menuju lemari. Naas, kakinya terserimpit bawahan mukena yang dikenakannya. Demi menahan agar tubuhnya tidak terjatuh, Hanna meraih apapun yang bisa diraihnya. Tangannya berpegangan pada lipatan handuk yang Barra kenakan. Tak siap dengan pergerakan istrinya yang tiba-tiba, Barra juga kehilangan keseimbangan, keduanya jatuh bertindihan.


Jantung Hanna berdebar kencang ketika tubuh mereka sudah tak berjarak lagi. Ditambah bibirnya mendarat tepat di atas dada Barra. Sama seperti sang istri, Barra pun tak kalah berdebar, perlahan adik kecilnya mulai berdiri. Dengan gerakan cepat Hanna berdiri, tak sadar tangannya ikut menarik lilitan handuk yang sedari tadi pegangnya dan terbukalah lilitan tersebut, memperlihatkan burung Barra yang sudah mulai berdiri tegak.


“Aaaaaaa!!!”


Hanna cepat-cepat membalikkan tubuhnya. Bergegas dia menuju lemari kemudian mengambil pakaian Barra dengan cepat. Tak ingin melihat sesuatu yang tegak, Hanna melempar asal pakaian dalam, bokser, kaos dan sarung pada Barra. Berturut-turut lembaran kain itu menimpa wajah Barra.


“Hannaaaa!!” kesal Barra.


“Buruan pake, bang. Nanti shubuhnya keburu habis,” jawab Hanna tanpa melihat ke arah suaminya.


Sambil misah misuh Barra memakai pakaiannya. Ditepuknya pundak Hanna begitu dia selesai berpakaian. Hanna membalikkan tubuhnya seraya menutup wajah dengan kedua tangannya. Matanya mengintip dari sela-sela jari. Setelah yakin sang suami telah berpakaian lengkap, wanita itu menurunkan tangannya. Keduanya segera menunaikan ibadah shalat shubuh secara berjamaah.


Hanna mencium punggung tangan Barra dengan takzim setelah keduanya menunaikan shalat dua rakaat. Kemudian mereka melanjutkan dengan memanjatkan doa bersama. Hanna mengamini setiap doa yang terlontar dari bibir suaminya. Selesai berdoa, Barra memutar tubuhnya menghadap pada sang istri, dengan wajah cemberut.


“Kenapa sih, mukanya cemberut gitu?”


“Au ah.. kamu bukannya bangunin abang tadi malam.”


“Ya salam masih ngambek gara-gara semalem.”


“Ish terus mau gimana? Kan waktunya ngga bisa diputar ulang juga. Lagian masih ada pagi pertama,” suara Hanna semakin mengecil di akhir kalimat, namun masih bisa didengar oleh Barra.


“Oh iya.”


Senyum Barra terbit mendengarnya. Dengan cepat dia melepas dan melipat sarung serta sajadah. Dia juga membantu Hanna melipat mukenanya. Baru saja Hanna melatakkan alat shalat yang tadi ke dalam lemari, Barra langsung menarik tubuh istrinya itu hingga berputar ke arahnya dan menabrak dadanya. Dengan cepat dia melingkarkan tangan di pinggang Hanna.


Belum kembali kesadaran Hanna, Barra sudah mel*mat bibir istrinya itu. Terkejut dengan reaksi sang suami yang seperti itu, Hanna hanya diam tak membalas ciumannya. Apalagi ini adalah ciuman pertama mereka. Barra tak menyerah, dia terus memagut bibir sang istri, memaksanya perlahan untuk membalasnya dan akhirnya gayung bersambut.


Pertautan bibir keduanya semakin dalam dan menuntut. Kini Barra sudah berani menggerayangi tubuh istrinya. Perlahan namun pasti, dia melepaskan kaos longgar yang dikenakan Hanna. Gairahnya semakin terpancing begitu melihat dua tonjolan yang terbalut kain berenda. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, dia membawa sang istri ke ranjang.


Suasana pagi hari di kamar pengantin baru semakin panas. Kini pakaian keduanya sudah berserakan di lantai. Barra memulai penetrasinya, dia langsung mempraktekkan semua yang sudah dipelajarinya, baik teori dari para sahabat maupun tutorial melalui film dewasa. Hasilnya pun tak buruk, Hanna terbuai dengan cumbuannya. Des*han wanita it uterus terdengar ketika Barra terus menghujaninya dengan kenikmatan.


Sudah cukup dengan foreplay, Barra bersiap untuk membobol gawang di pagi hari ini. Mata Hanna terpejam, menyiapkan mental yang konon penjebolan gawang itu sakit rasanya. Benar saja, terdengar pekikan tertahan dari mulutnya ketika rudal Barra yang sudah menegang menerobos masuk ke inti tubuhnya. Cairan hangat merembes hangat di sela-sela pahanya, pertanda kesucian yang selama ini dijaganya sudah terenggut oleh sang suami.


Perlahan namun pasti, pergulatan panas mulai terjadi. Hanna sudah bisa menikmati percintaan mereka. Tak sia-sia Jojo mengajarkan banyak jurus pada anak lelaki satu-satunya. Dari sekian banyak hal yang diajarkan, pelajaran olahraga di atas ranjang yang sepertinya ditangkap begitu cepat oleh sang anak.


Pelukan Hanna di leher Barra semakin erat ketika tubuhnya dihantam oleh gelombang hangat. Wanita itu kembali mendapatkan pelepasannya akibat permainan Barra yang super duper hot. Dan tak lama kemudian terdengar erangan Barra ketika lahar panasnya juga berhasil keluar dan masuk ke dalam rahim sang istri.


“Han… makasih, Yang…” Barra menciumi wajah istrinya yang bersimbah keringat. Rasa kesal akibat kegagalan melaksanakan malam pertama akhirnya terbayar sudah dengan percintaan mereka barusan.


“Nanti nambah ya, Yang..”


“Abaaaang..”

__ADS_1


“Baru sekali. Abis sarapan nambah ya.. ya.. ya.. ya..”


Hanna tak bisa menjawab perkatan Barra, karena suaminya itu terus menghujaninya dengan ciuman bertubi di seluruh wajah dan bibirnya.


☘️☘️☘️


Sandi baru saja selesai meeting bersama anak buahnya ketika sekretarisnya mengatakan kalau semua manajer diminta datang ke ruangan Darmawan. Setelah membereskan semua berkas di atas meja, Sandi segera bergegas menuju ruang atasannya itu. Ternyata pertemuan mendadak itu diadakan di ruang meeting yang berada satu lantai dengan ruangan Darwaman. Semua rekan kerja yang diminta berkumpul sudah datang. Sandi segera bergabung bersama dengan mereka.


Tak berapa lama Darmawan masuk diikuti oleh asistennya dari belakang. Pria itu segera mengambil tempat di bagian depan. Suasana yang tadinya penuhi suara kasak-kusuk langsung berubah senyap. Darmawan memandangi bawahannya satu per satu.


“Selamat siang semuanya.”


“Selamat siang, pa.”


“Maaf kalau saya meminta semua berkumpul mendadak hari ini. Ada dua hal penting yang akan saya sampaikan.”


Darmawan menjeda ucapannya sejenak seraya memperhatikan raut wajah para manajer yang duduk melingkari meja berbentuk oval itu. Nampak jelas rasa penasaran di wajah mereka.


“Yang pertama, akan ada restrukturisasi jabatan berdasarkan penilaian kinerja. Saya sudah menerima laporan dari tim audit. Ada beberapa karyawan yang dipromosikan, ada yang dimutasi ke daerah lain, ada juga yang dirumahkan. Daftar karyawan yang dirumahkan akan diberikan pada kalian untuk disampaikan pada staf di bawah kalian. Sedang untuk surat pengangkatan dan mutasi akan diberikan kemudian.”


Suasana yang semula tenang mulai sedikit riuh. Mereka bertanya-tanya siapa yang akan mendapat kenaikan jabatan, yang terkena mutasi bahkan yang terkena PHK. Sandi menanggapi ucapan Darmawan dengan sedikit percaya diri. Posisinya sebagai calon besan Abimanyu, sedikit banyak akan membantunya ke level yang lebih tinggi.


“Yang kedua, saya mengundang kalian semua pada acara pernikahan yang akan diselenggarakan esok hari di ballroom hotel Arjuna. Mohon maaf tidak ada undangan tertulis, karena acaranya juga mendadak. Jadi saya harapkan kehadiran kalian semua besok malam. Tolong sampaikan juga pada staf yang lain.”


“Baik, pak,” jawab Sandi dengan suara sedikit lantang. Darmawan hanya melirik sekilas pada pria itu.


“Sudah cukup, silahkan kembali ke tempat kalian.”


Semua langsung membubarkan diri begitu Darmawan mengakhiri pertemuan. Sekeluarnya dari ruang meeting, pria itu segera menuju ruangan di mana divisi istrinya berada. Sandi memberi kode pada Risma dan wanita itu bergegas keluar dari ruangan.


“Ada apa mas?”


“Sepertinya aku bakalan dapat promosi.”


“Yang bener?”


“Iya, tadi pak Darmawan bilang ada karyawan yang dipromosi, yang dimutasi sama dirumahkan.”


“Jadi, mas yang dipromosikan?”


“Belum ada suratnya sih. Tapi mas yakin, kok. Oh iya, nanti pulang kerja kita beli pakaian baru.”


“Buat apa mas?”


“Pak Darmawan ngundang kita ke pernikahan anaknya. Tapi karena mendadak, jadi ngga pake undangan tertulis.”


“Oh ok.. ya udah aku balik ke ruangan dulu.”


Risma segera kembali ke ruangan, begitu pula dengan Sandi. Keduanya tengah berbunga-bunga dengan sesuatu yang belum pasti. Yang jelas, mereka tengah bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan besok malam.


☘️☘️☘️


**Maaf ya kalau up nya ngga banyak, kondisi yang masih belum fit, jadi agak susah menghalu🙏

__ADS_1


Mamake mau minta tolong, boleh ya? Selesai baca bab ini dan bab² seterusnya, minta tolong sekalian ditoel rate bintang 5 ya. Dua hari lalu tetiba rate KPA anjlok dari 4.9 turun ke 3.7, sekarang merayap naik ke 3.8. Mamake juga ngga tau siapa gerangan yang tega nurunin rate kasih bintang 1. Mamake minta bantuannya ya readers tersayangku🤗 Makasih sebelumnya dan maaf kalau merepotkan🙏😘😘😘**


__ADS_2