KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bram Stoker's Dracula


__ADS_3

Tiga buah mobil berhenti di sebuah rumah besar. Sekar dan Cakra turun dari salah satu mobil disusul penumpang di mobil lainnya. Tak lama dua buah sepeda motor datang dan memarkir motor tak jauh dari mobil. Motor pertama ditunggangi oleh Anfa dan Rayi sedang motor kedua adalah Radix dan Gurit.


Cakra memandangi rumah di depannya dengan bergidik. Sebuah rumah yang telah kosong sejak sepuluh tahun lalu. Seluruh penghuni rumah ditemukan tewas setelah kawanan perampok membobol rumah dan menguras seluruh harta mereka. Seluruh anggota keluarga beserta dua orang asisten rumah tangga dan dua orang security ditemukan tewas bersimbah darah di dalam rumah.


Kerabat keluarga korban yang terbunuh sudah berusaha menjual rumah tersebut namun tak jua menemukan pembeli. Sejarah kelam rumah ini serta desas-desus warga sekitar yang sering melihat penampakan serta mendengar suara-suara aneh dari dalam rumah membuat tak ada orang yang berminat membelinya. Akhirnya rumah dibiarkan terbengkalai begitu saja.


Berbeda dengan Cakra yang nampak takut melihat keadaan rumah yang gelap gulita, Sekar tampak antusias. Dia sudah membayangkan konsep pre weddingnya akan berjalan sempurna di tempat ini. Gadis itu memang mengubah konsep pre wed di detik-detik terakhir. Awalnya mereka akan melakukan sesi pre wed di tempat wisata milik Jojo tetapi dia mengubahnya dengan mengusung tema horror movie.


“Se.. kamu beneran mau pre wed di sini?” bisik Cakra.


“Iya bang. Lokasinya pas banget ini.”


“Ampun deh.. kamu sama Abi sama gilanya!”


Cakra menepuk keningnya melihat kegilaan calon istrinya. Tim fotografer segera menurunkan alat-alat fotografi. Sebelum mengadakan sesi pemotretan, mereka terlebih dulu meminta ijin pada aparat yang berwenang. Pak RT menugaskan dua orang warganya untuk mengawal jalannya proses pemotretan. Kedua orang itu segera memandu crew foto masuk ke dalam rumah.


“Mba Sekar mau dandannya di mana?” tanya penata rias.


“Di mobil aja,” jawab Cakra.


Dua orang perias segera mendadandani Sekar juga Cakra. Tema pre wed kali ini adalah Dracula. Cakra akan didandani seperti count dracula dalam film Bram Stoker’s Dracula, dan Sekar akan menjadi Mina Harker, wanita yang diincar count dracula karena disangka reinkarnasi sang istri.


Wajah Cakra hanya dipoles bedak dan lipgloss agar tidak pucat saat pengambilan gambar. Nantinya dia juga akan memakai gigi taring palsu ala dracula. Beruntung dia tak perlu memakai wig rambut panjang, karena Sekar tak menyukainya. Usai didandani, Cakra masuk ke dalam mobilnya untuk berganti pakaian.


Rayi masih belum mau masuk ke dalam rumah, dia menunggu Sekar selesai didandani dan juga berganti kostum. Dia tak habis dengan jalan pikiran Sekar yang memilih pre wed seperti ini. Bukan konsepnya tapi lokasi pemotretan yang membuatnya bergidik. Itulah sebabnya dia menyeret Anfa untuk menemaninya.


Mendengar Sekar akan melakukan foto pre wed di salah satu rumah yang terkenal dengan sejarah kelam dan keangkerannya, Radix dan Gurit langsung mengajukan diri untuk menemani sahabatnya itu. Tujuannya sudah pasti untuk membuat konten makhluk astral. Keduanya tengah menyiapkan alat sambil menunggu Sekar siap.


Cakra telah selesai berganti pakaian. Tak lama Sekar juga telah selesai. Calon istrinya itu terlihat cantik mengenakan gaun panjang era abad ke-14. Sebenarnya Cakra tak rela melihat Sekar mengenakan gaun dengan model off shoulder yang memperlihatkan bahu putihnya, namun demi menunjang penampilan sesuai tema dengan berat hati pria itu mengijinkannya.


Suasana mencekam langsung terasa ketika mereka memasuki halaman rumah. Kondisi rumah benar-benar tak terawat, rumput setinggi pinggang orang dewasa memenuhi halaman rumah. Debu dan sarang laba-laba memenuhi bangunan rumah. Bau apek terasa ketika mereka masuk ke dalam rumah.


“Se.. tadi gue udah keliling. Kita bakal pakai tiga spot buat sesi pemotertan, satu di kamar, satu di balkon kamar sama satu lagi di tangga. Gimana?”


“Gue ngikut aja.”


“Ok.. pertama kita ambil foto di tangga dulu ya.”


Sekar dan Cakra berjalan menaiki tangga yang penuh dengan debu. Sesekali terdengar suara batuknya. Rayi mengawasi jalannya pemotretan dengan tanpa melepaskan pelukannya di lengan Anfa. Sedang Radix dan Gurit langsung bergerak menyusuri bagian-bagian rumah, berharap ada makhluk astral yang bersedia menjadi bintang tamu di siaran langsungnya.


Sang fotografer terus mengarahkan gaya keduanya. Beberapa kali dia harus mengulang pengambilan gambar karena Cakra terlihat tidak konsentrasi. Pria itu terkadang menunduk atau mengalihkan pandangannya ke arah lain bukannya melihat ke kamera.


“Abang fokus dong,” tegur Sekar.


“Iya.”


Cakra memeluk pinggang Sekar lalu meletakkan kepalanya di ceruk leher gadis itu. Dia mengrahkan bibirnya seperti hendak mencium pipi Sekar dari samping. Dengan cepat fotografer segera mengabadikan moment tersebut. Gambar kedua diambil dengan pose Sekar bersandar di dada Cakra tetap dengan tangan pria itu melingkar di pinggangnya.


Selesai foto di tangga, mereka menuju salah satu kamar yang ada di lantai atas. Sambil menunggu peralatan siap, sang fotografer kembali mengarahkan gaya keduanya. Gambar pertama diambil dengan posisi Sekar seperti akan terjatuh dan Cakra menangkapnya. Sebelah tangan Sekar berada di punggung dan satunya lagi memegang tengkuk Sekar. Posisi wajah Cakra berada di dekat leher Sekar seperti hendak menciumnya.


Posisi berikutnya, mereka berada di depan cermin besar yang ada di kamar tersebut. Cakra memegang bahu Sekar sambil memperlihatkan gigi taringnya. Sekar memandang lurus ke arah cermin seolah tak menyadari keberadaan Cakra. Sang fotografer akan menangkap gambar dari pantulan cermin.


Dan pose terakhir di balkon, Sekar akan berdiri di balkon dengan Cakra berada di belakangnya tengah memegang kedua bahunya. Posisi kepala Sekar sedikit mendongak dan Cakra bersiap untuk menggigitnya.


Sambil menunggu pemotretan selesai, Radix dan Gurit terus berkeliling rumah. Satu per satu mereka memasuki kamar yang ada di rumah tersebut. Salah satunya adalah kamar yang menjadi tempat pembantaian anggota keluarga.

__ADS_1


Gurit membuka pintu kamar, Radix menyalakan senter dari ponselnya. Lalu mengarahkan kamera yang telah dilengkapi lensa infra red ke sekeliling ruangan. Bau apek yang menyengat, suasana kamar yang gelap dan dingin ditambah dengan sarang laba-laba yang memenuhi sudut kamar membuat suasana sangat mencekam. Tempat tidur king size masih berada di tempatnya lengkap dengan seprai yang diyakini masih terdapat noda darah di atasnya.


“Gaaaeeesss sekarang kita ada di kamar yang merupakan lokasi pembunuhan anggota keluarga penghuni rumah ini. Itu kasur tempat ditemukannya mayat pasutri. Mereka digorok saat sedang tertidur. Lalu di sana ada boks bayi, anak bungsunya yang juga dibunuh dengan sadis. Dan di dekat kamar mandi ini, anak pertama dan keduanya juga meregang nyawa. Sadis bener itu perampoknya gaaaeesss, udah diambil hartanya, nyawanya juga diambil.”


BLAM!!


Gurit dan Radix terlonjak ketika mendengar seperti suara pintu tertutup. Mereka langsung mengarahkan pandangan ke pintu kamar, namun masih terbuka, lalu mengarahkan ke kamar mandi. Mata keduanya membulat melihat sosok penampakan di sana. Nampak dua orang gadis dengan wajah dan tubuh bersimbah darah tengah berdiri memandang tajam ke arah mereka.


“Ha... haa.. hantuuuuuu...”


“Kabooooorrrrr, udahan dulu gaesss...”


Gurit dan Radix langsung kabur dari kamar tersebut. Tanpa mematikan kamera mereka berlari keluar, saat melintasi ruang tamu mereka kembali dikejutkan dengan penampakan dua orang security yang lagi-lagi bersimbah darah. Keduanya segera ambil langkah seribu keluar dari rumah. Dengan tergesa Radix menghidupkan motornya, tanpa berpamitan dengan Sekar, mereka langsung tancap gas.


Sementara itu di lantai atas, kegiatan foto baru saja selesai. Rayi dapat bernafas dengan lega, dia segera mengajak Anfa keluar dari rumah, memilih menunggu Sekar di luar rumah. Fotografer beserta tim juga bergegas membereskan peralatannya. Mereka merasakan aura di rumah tersebut semakin tak bersahabat.


Cakra segera menarik tangan Sekar keluar dari sana. Sambil mengangkat gaunnya, Sekar mengikuti langkah lebar calon suaminya itu. Langkah Cakra terhenti ketika di dekat tangga, dia melihat penampakan dua orang gadis bersimbah darah tengah melihat ke arahnya. Dia membuang pandangannya ke samping sambil merapalkan doa dalam hati. Tak lama penampakan tersebut menghilang, bergegas dia menarik tangan Sekar menuruni tangga.


Di ruang tamu lagi-lagi Cakra melihat penampakan seperti yang dilihat Radix dan Gurit. Tanpa mempedulikannya, Cakra terus berjalan hingga akhirnya keluar dari rumah. Dia segera menuju mobilnya.


“Kostumnya besok aja dikembalikannya,” ucap Cakra pada penata rias yang hanya diangguki oleh mereka.


“Fa, kita duluan.”


Cakra membukakan pintu untuk Sekar kemudian segera memutari badan mobil dan naik ke dalamnya. Saat tangannya akan memutar kunci kontak, dia dikejutkan dengan penampakan seorang wanita yang lehernya penuh dengan darah. Tangan wanita itu menempel di kaca depan dengan mata memandang tajam ke arah Cakra, membuat pria itu terlonjak.


“Astaghfirullahaladziim!”


“Kenapa bang?”


“Ngga apa-apa.”


Sekar memandang bingung ke arah Cakra. Pria itu hanya menatap lurus ke depan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Wajahnya pun terlihat pucat. Sekar menyentuh tangan Cakra, tapi tetap tak ada reaksi dari pria itu.


“Abang kenapa?”


“Ngga apa-apa Se, abang cape mau cepet pulang aja.”


Sekar tak melanjutkan ucapannya. Cakra menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama mobil tersebut telah sampai di kediaman Hikmat. Sekar menoleh ke arah Cakra sebentar sebelum turun dari mobil. Setelah melihat Sekar masuk ke rumah, Cakra melajukan kendaraannya lagi.


Cakra mencengkeram erat kemudi di depannya, pandangannya menatap lurus ke depan. Sebisa mungkin dia tak melirik ke arah spion depan, dari sudut matanya sekilas menangkap sosok wanita yang tadi ada di depan mobilnya ternyata ikut duduk di kursi belakang.


Kaki Cakra menekan pedal gas semakin dalam. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Titik-titik bening itu sudah memenuhi keningnya. Dia membelokkan kendaraannya memasuki area gedung apartemen lalu berhenti di depan lobi. Bergegas pria itu turun dari dalam mobil.


“Tolong parkirin mas,” Cakra memberikan kunci kepada salah seorang security yang bertugas. Pria yang telah mengenal Cakra hanya menganggukkan kepalanya.


Cakra langsung masuk ke dalam lift lalu memencet tombol 15. Dia menyandarkan punggungnya di dinding lift sambil menutup matanya. Pria itu tahu kalau makhluk tadi masih mengikutinya dan kini tengah berdiri di hadapannya.


TING


Pintu lift terbuka, dengan cepat Cakra keluar lalu menuju unit yang paling ujung. Jarinya memijit tombol bel beberapa kali lalu tangannya menggedor pintu dengan kencang. tak lama pintu terbuka, muncul wajah Jojo yang terlihat kesal.


“Kampret lo ngapain....”


Jojo tak meneruskan ucapannya ketika melihat wajah Cakra yang pucat. Tanpa banyak bicara Cakra masuk ke dalam unit lalu menuju kamar Jojo. Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Jojo mengikuti sahabatnya ke dalam kamar.

__ADS_1


“Cak.. lo kenapa? Lo sakit?”


Jojo menempelkan telapak tangannya di kening Cakra. Dia cukup terkejut melihat kondisi sahabatnya, tubuh Cakra sedikit bergetar dan dipenuhi keringat dingin. Jojo menarik Cakra hingga duduk.


“Lo kenapa?”


“Please Jo.. dia ngikutin gue mulu.”


Jojo membalikkan tubuhnya, walau dirinya tidak bisa melihat apapun, tapi dia tahu apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Ini bukan kali pertama Cakra melihat penampakan makhluk astral.


“Gue ngga tahu apa mau lo. Tapi gue minta tinggalin temen gue, dia ngga ada hubungan apa-apa sama elo. Salah besar kalau lo sampe ngikutin dia ke sini. Lebih baik lo pergi atau gue usir dengan cara kasar!”


Jojo langsung membacakan beberapa ayat suci Al-Qur’an yang diyakini bisa melindungi diri dari gangguan makhluk astral. Dia juga Abi sudah diajari doa-doa oleh almarhum papa Cakra, untuk berjaga-jaga kalau Cakra diikuti oleh makhluk astral.


“Udah Jo.. dia udah ngga ada.”


Jojo berjalan menuju lemari, diambilnya kaos juga celana joger lalu memberikannya pada Cakra. Dia duduk di sini ranjang, memandang wajah pucat sang sahabat.


“Lo kenapa?”


“Gue barusan abis take foto pre wed.”


“Emang lo pre wed di mana sih? Kenapa ngga jadi di Lembang?”


“Sekar ganti konsep. Dia katanya mau foto pre wed tema drakula gitu. Kita take foto di rumah korban pembantaian sepuluh tahun lalu. Lo tahu kan rumah itu?”


“Wah gila lo, ngapain foto pre wed di situ? Emang Sekar ngga tahu kalo lo bisa lihat makhluk astral.”


“Ngga.”


“Lagian lo juga kenapa mau hah? Jangan bilang karena cinta. Bucin boleh aja Cak, tapi jangan sampe ambil resiko kaya gini. Lo lupa apa kata almarhum papa? Lo tuh punya daya tarik psikologis buat para makhluk astral, makanya lo harus hindari tempat seperti itu. Rumah korban pembunuhan itu menarik banyak jin buat tinggal di sana. Gue yakin yang ngikutin lo ke sini tuh jin perempuan yang tinggal di sana.”


“Ya udahlah, lagian dia udah pergi.”


“Ganti baju sana. terus jangan lupa ruqiyah mandiri sebelum tidur. Kalau gue bisa lihat tuh jin, gue bakal bikin mukanya yang jelek tambah buruk rupa.”


Cakra masuk ke dalam kamar mandi sambil terkekeh. Sejak dulu Jojo dan Abi selalu menjaganya kalau dia mengeluh didekati makhluk astral. Jojo yang paling emosi dan terkadang mengajak ribut makhluk yang tak bisa dilihatnya.


Sepuluh menit kemudian Cakra keluar dari kamar mandi. Jojo telah menyiapkan teh hangat untuknya. Dengan segera direguknya teh manis hangat itu sampai habis lalu naik ke atas kasur. Tubuhnya masih terasa tak enak, kepalanya juga pusing. Itu efek yang selalu dirasakannya jika melihat atau diikuti makhluk astral.


Jojo menuelimuti tubuh Cakra. Dia lalu berbaring di sisi Cakra. Tangannya meraih ponsel yang ada di nakas. Kemudian dia mulai mengirim pesan pada Abi.


To Curut 1 :


Nyuk, adek lo udah bikin Cakra sawan!


Pesan terkirim namun hanya terlihat dua centang abu saja. Sambil mendengus kesal, Jojo meletakkan kembali ponsel ke atas nakas. Dia memilih tidur saja. Dipastikan Abi baru akan membaca pesannya shubuh nanti. Sahabatnya itu pasti tengah asik menggarap istrinya.


☘️☘️☘️


**Haaaiii gaaaeesss mamake ia back.


Untuk part ini mamake mau buat suasana berbeda ya😁 untung ngetiknya pagi, kalau malem🙈


Buat yg bilang, zaman sekarang masih ada yang begituan? Mereka tak lekang dimakan zaman gaaaeesss.. cuma ada yang bisa melihat, ada yang ngga. Dan Cakra salah satu yang bisa lihat😁

__ADS_1


Dari pada memunculkan pelakor dan pebinor mending munculin makhluk astral buat gangguin pre wed mereka😂


Sampai ketemu besok ya, maaf hari ini juga cuma bisa up 1 karena masih cibuk😉**


__ADS_2