
Setelah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, Nara dan kedua bayinya langsung diboyong Nina ke kediamannya. Hampir setiap hari dia dan Adinda selalu membantu Nara mengurus kedua bayi kembarnya. Dan empat hari berselang, mereka mengadakan syukuran sekaligus aqiqah.
Di Minggu pagi ini, semua keluarga Hikmat dan sahabat sudah berkumpul di kediaman Abi untuk menghadiri acara syukuran. Tak lupa pasangan pengantin baru stok lama, Darmawan dan Nita turut hadir sana. Kakek baru itu juga mengundang tetangga dekat mereka berikut majelis taklim untuk mengisi acara pengajian dan memanggil da’i terkenal sebagai pengisi tausyiah di acara tersebut. Suasana semakin ramai dengan kehadiran anak-anak dari panti asuhan, dan para orang tua dari panti jompo.
Usai pengajian dan tausyiah, acara dilanjutkan dengan ritual pemotongan rambut si kembar. Nara dan Kenzie berkeliling mengitari keluarganya seraya membawa kedua anak mereka. Suasana bahagia begitu terasa di keluarga ini. Abi dan Kenzie tak henti memamerkan senyuman, hal yang jarang mereka lakukan di kesehariannya.
Menjelang sore, para undangan meninggalkan kediaman anak kedua dari Teddy Hikmat tersebut. Hanya menyisakan keluarga dekat dan para sahabat saja. Si kembar yang juga lelah hampir seharian didekati dan terkadang diciumi para kakek, nenek, paman dan bibinya sudah tertidur pulas di dalam kamar.
Abi dan para sahabat berbincang santai teras rumah. Agung dan Darmawan ikut bersama mereka. Kebahagiaan begitu terasa dalam setiap perbincangan mereka. Setelah Abi dan Jojo, berturut-turut Cakra, Juna dan Agung akan menyusul menyandang gelar kakek, karena anak dan menantu mereka tengah berbadan dua.
“Vin, banyak-banyak berdoa, ya. Di antara kita kan cuma elo yang masih belum dapet nomer antrian,” goda Jojo. Pria itu puas sekali karena kali ini sahabatnya kalah start dalam memperoleh cucu.
“Tuh muka jangan kaku mulu bawaannya. Tuhan segan jadinya ngasih lo, cucu,” timpal Cakra.
“Jangan julid, Cak. Kelihatannya aja dia tenang, tapi nanti di rumah bisa jadi nangis guling-guling,” Kevin memandang kesal pada sahabat sekaligus atasannya yang senang membela sekaligus mendorongnya ke jurang.
“Kebayang ngga kalau Kevin jadi kakek. Dia ngajakin main cucunya dengan wajah kakunya,” celetuk Abi.
“Kaya gini nih. Nang ning ning nang eeuuu..”
Jojo mengucapkan kalimat tersebut sambil menepukkan kedua tangannya namun dengan raut wajah tanpa ekspersi. Gelak tawa langsung terdengar di antara mereka. Darmawan tak ayal ikut terpingkal pula. Rekan bisnisnya ini jika sudah berkumpul memang sulit sekali mengerem ucapannya.
“Pak Darma ngga mau sekalian bully saya juga,” ujar Kevin seraya menolehkan kepalanya pada pria itu.
“Saya tidak sejahat mereka, pak Kevin,” jawab Darmawan seraya mengulum senyum.
“Pak Darma ngga akan julid karena sedang bahagia, benar begitu pak?” sahut Jojo.
“Kelihatan lebih segar juga ya,” sambung Juna.
“Karena sudah menemukan tempat untuk nge cash,” lanjut Abi yang langsung disusul oleh gelak tawa yang lainnya. Darmawan hanya menggelengkan kepalanya saja. Kini bola panas mulai bergulir padanya.
“Ngga mau nyusul juga pak?” tanya Cakra.
“Saya sudah punya cucu kalau pak Cakra lupa.”
“Nyusul punya anak lagi, pak. Kasih adik baru untuk Fikri dan Mentari.”
Perkataan Kevin sukses membuat pria itu terbatuk. Kembali suara tawa terdengar di antara para pria tersebut. Mereka semakin senang menggoda pengantin baru stok lama, membuat wajah Darmawan memerah juga.
“Saya doakan pak Darma dan bu Nita segera diberikan momong,” Agung yang sedari tadi hanya diam, akhirnya tak tahan untuk ikut bersuara.
“Waduh, kalau saya punya anak, nanti disangka cucu.”
“Ngga apa-apa pak, kalau memang masih dikasih rejeki anak,” timpal Juna.
“Kalau sampai punya anak lagi. Aqiqahnya pasti special ya, pak,” sambung Abi.
“Spesial bagaimana pak Abi?”
“Bukan kambing lagi yang disembelih.”
“Terus apa?” tanya Cakra.
“Komodo hahaha…”
Darmawan hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Pria itu pasrah saja kembali dijadikan bulan-bulanan para pria yang semakin tua namun kadar kesomplakannya tetap tidak berkurang.
Di bagian belakang rumah, para anak mereka juga tengah berkumpul. Mereka duduk bersama di atas rumput sintetis bersama para istri. Kenzie yang irit bicara, kini banyak mengeluarkan suaranya. Dengan bersemangat dia menceritakan bagaimana masa-masa saat Nara ngidam karena Fathan, Aric dan Irvin terus bertanya padanya.
“Untung ya, Nara ngidamnya cuma makanan doang. Mudah-mudahan deh Azra juga ngga aneh-aneh ngidamnya.”
“Kalo lo, gimana Ric?” tanya Kenzie.
“Tiap mau tidur minta gue nyanyiin satu album.”
“Hahahaha….. tapi untung ya Naya yang ngidam gitu. Coba kalo Nara, bisa brojol duluan si kembar denger suara bapaknya,” timpal Ravin yang langsung disambut gelak tawa semuanya.
“Kalo lo, gimana Vin?” tanya Barra.
“Hampir tiap hari Anya ngidam rujak beubek. Untung udah ada kurir yang siap beliin.”
Irvin menahan tawa yang hendak meledak begitu melihat wajah keki Kenan. Setiap Anya mengidam rujak beubek, ibu hamil itu memang hanya meminta pada Kenan untuk membelikannya.
“Ngga usah ketawa, bang. Harusnya gue dapet bonus nih,” kelutus Kenan yang hanya dibalas cengiran Anya saja.
“Kak.. cepetan hamil, ya. Nanti kalo ngidam jangan minta yang aneh-aneh. Minta aja lihat gue ama Zahra ketemu penghulu,” ujar Kenan seraya melihat pada Freya.
“Mana ada orang ngidam diatur-atur kaya gitu.”
“Diadain aja kak.”
“Kaya aku dulu, Frey. Disuruh ngidam lihat dia makan bareng Zahra, hahaha…”
“Tapi bang Ken juga ikutan drama, weh,” timpal Kenan yang tak ingin malu sendiri.
“Ya karena elo nangis guling-guling minta tolong ama gue,” balas Kenzie tak mau kalah.
__ADS_1
“Dah terima nasib aja, dasar kang modus,” ujar Revan.
“Mudah-mudahan kak Hanna kalo ngidam, ngga nyusahin gue, aamiin,” Haikal mengusap wajah dengan kedua tangannya.
“Tenang aja, Kal. Kayanya masih jauh itu. Secara dia yang paling telat nikah,” celetuk Aric.
“Weh… nikah boleh belakangan, tapi cebong gue gerak cepat. Lihat aja, kurang dari sebulan pasti Hanna udah isi.”
“Kalau kaga?” tantang Ezra.
“Ya usaha lagi lah hahaha…”
“Si beruk pedenya tinggi,” celetuk Aric.
“Woi kakak ipar nih,” sewot Barra
Aric hanya mengendikkan saja bahunya, seakan tak peduli dengan protesan sang kakak ipar. Ravin menepuk-nepuk bahu Barra, meminta pria itu bersabar dengan tingkah adik ipar durjananya.
Di sela-sela pembicaraan, Ezra dikejutkan dengan deringan ponselnya. Sejenak pria itu hanya memandangi sederetan angka di layar ponsel, sebuah nomor tak dikenal yang memanggilnya. Awalnya dia mengabaikan saja, namun karena nomor tersebut terus menghubunginya, mau tak mau Ezra mengangkatnya. Dia beranjak sedikit menjauh dari para sahabatnya.
“Halo..”
“Ez..”
Jantung Ezra langsung berdegup kencang begitu mendengar suara dari sebrang sana. Sebuah suara yang sudah hampir tiga tahun ini tak pernah didengarnya. Suara merdu yang dulu kerap menyapa indra pendengarannya.
“Hanum..”
“Kamu masih ingat suaraku, Ez.”
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik. Aku sudah kembali, Ez. Bisa kita bertemu?”
“Kamu tahu kemana harus menemuiku.”
“Terima kasih kamu masih mau bertemu denganku. I miss you..”
Tak ada tanggapan dari Ezra. Pria itu seakan tengah terlempar ke masa lalu, masa di mana keduanya pernah bersama, menjalin ikatan kasih dan terpaksa berpisah karena Hanum memilih pergi untuk berobat. Saat itu Hanum tengah bergulat dengan penyakit kanker hati stadium dua.
“Aku akan secepatnya menemuimu. Bye, Ez.”
Sambungan terputus begitu saja, sedang Ezra masih terpaku di tempatnya. Pria itu tersadar ketika sebuah tepukan mendarat di pundaknya. Sang sahabat, Ravin sudah berdiri di sampingnya.
“Kenapa Ez?”
“Hanum.”
“Dia sudah kembali.”
Seperti halnya Ezra, Ravin pun terkejut mendengarnya. Pria itu dulu yang menjadi saksi bagaimana hubungan keduanya terjalin sejak awal kuliah. Jalinan kasih yang indah namun harus berakhir. Bukan karena kehadiran orang ketiga, namun karena Hanum yang menderita penyakit serius. Gadis itu terpaksa meninggalkan Ezra demi menyembuhkan dirinya, berobat ke luar negeri.
“Perasaan lo sama Hanum gimana?”
“Ngga tau.”
“Inget, Ez. Sekarang lo udah sama Dila. Jangan sampai lo nyakitin perasaannya. Kalau memang perasaan lo sama Hanum udah selesai, katakan baik-baik, jangan kasih dia harapan. Dila datang setelah kalian berpisah dan mengisi kekosongan elo. Jangan sampai karena cinta masa lalu, elo menyia-nyiakan cewek sebaik Dila.”
Ravin menepuk pelan pundak sahabatnya ini sebelum berlalu meninggalkannya. Ezra masih terus terpaku di tempatnya. Tanpa disadari sepasang mata milik Dilara terus mengamatinya.
☘️☘️☘️
Kenzie merangkak naik ke atas kasur. Kedua anaknya sudah tertidur pulas di dalam boks. Nara yang tengah terpejam, terusik tidurnya ketika merasakan gerakan di sampingnya. Wanita itu membuka mata dan melihat wajah sang suami yang tengah menatapnya.
“Kenapa bangun?” Kenzie mengusap pipi chubby istrinya.
“Sudah pada pulang?” Nara balik bertanya.
“Hmm.. ayo tidur lagi, mumpung Zar dan Arsya tidur. Kamu harus banyak istirahat, sayang.”
Kenzie merebahkan tubuhnya di samping Nara, kemudian menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Tangan Nara melingkari pinggang Kenzie, seraya menyurukkan kepalanya ke dada bidang sang suami.
“Mas..”
“Hmm..”
“Kayanya berat badanku ngga bisa kembali kaya dulu. Setelah melahirkan Zar dan Arsya, aku laper terus bawaannya.”
“Itu hal yang wajar, karena kamu menyusui dua anak sekaligus. Apa mereka cocok dengan susu formulanya?”
“Cocok, mas, untuk Zar. Tapi Arsya lebih senang asi.”
“Diselang-seling aja. Asupan asi-mu ngga cukup untuk mereka berdua.”
“Iya, mas. Apalagi Zar nyusunya kuat.”
Suasana hening sesaat, keduanya menikmati keheningan dengan saling memeluk, menyalurkan perasaan sayang satu sama lain.
__ADS_1
“Mas..”
“Hmm..”
“Sekarang aku gendut,” suara Nara terdengar merajuk.
“Terus?”
“Aku jelek sekarang. Badanku bulat kaya bola. Apa mas ngga malu sama aku?”
Kenzie sedikit memundurkan tubuhnya demi bisa melihat wajah istrinya. Sebelah tangannya merangkum wajah yang selalu terlihat cantik di matanya. Perlahan sebuah kecupan lembut didaratkan di bibir Nara.
“Bentuk badanmu berubah karena kamu baru saja mengandung dan melahirkan buah hati kita. Dan sekarang kamu sedang menyusui mereka, artinya kamu perlu banyak asupan makanan bergizi demi mereka. Terus kenapa kalau kamu menjadi gemuk atau gendut? Itu bukan masalah buat, mas. Karena mas mencintaimu, bukan karena kecantikan wajahmu atau bentuk tubuhmu. Mas mencintai semua yang ada dalam dirimu. Dan mas ngga mau dengar kamu bicara seperti itu lagi, mengerti?”
Nara menganggukkan kepalanya. Kenzie kembali menyatukan bibir mereka, kali ini sebuah pagutan diberikan yang dilanjut dengan lum*tan lembut. Nara memejamkan matanya, menikmati semua sentuhan bibir sang suami yang selalu bisa memabukkannya. Kenzie mengakhiri ciuman panjangnya, kemudian mencium kedua kelopak mata sang istri bergantian.
“I love you, mas. Jangan pernah berubah dan berhenti mencintaiku.”
“I wont. Cause I’ll be the stupid man in this world if I do that (tidak akan. Karena aku akan menjadi pria bodoh di dunia ini jika melakukannya).”
Senyuman terbit di wajah Nara mendengar kata-kata manis suaminya. Hidupnya kini terasa lengkap, memiliki suami tampan yang begitu mencintainya dan telah dikaruniani sepasang anak yang tampan dan cantik. Dia semakin merapatkan tubuhnya ke arah Kenzie lalu memejamkan matanya.
☘️☘️☘️
Rindu menghampiri Kevin yang duduk melamun di teras rumah. Dia mendudukkan diri di sandaran kursi yang ditempati suaminya. Tangan Kevin melingkari di pinggang sang istri. Rindu mengusap rambut Kevin yang seperempatnya sudah berwarna putih.
“Abang kenapa? Akhir-akhir ini seperti banyak melamun. Apa ada masalah di pekerjaan?”
“Ngga ada.”
Pria itu menyandarkan kepalanya di perut sang istri. Rindu tahu kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiran pria yang sudah menemani dirinya selama 27 tahun lamanya.
“Lalu apa yang abang pikirkan?”
“Abang cuma iri saja melihat Abi dan Jojo sudah menimang cucu. Cakra, Juna dan Agung sebentar lagi akan menyusul.”
“Itu rejeki mereka, bang. Kita bersabar saja. Alisha masih muda, Viren sendiri belum mau memiliki anak dalam waktu dekat. Dia masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan istrinya. Begitu juga dengan Ravin dan Freya. Biarlah mereka menikmati waktu berduaan lebih lama. Jangan menuntut mereka memiliki momongan lebih cepat. Nanti malah stress jadinya.”
Tak ada tanggapan dari Kevin, namun dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan sang istri. Tapi di hati kecilnya tak menampik ada rasa cemburu melihat para sahabat yang tengah bersiap menyambut kedatangan cucu. Apalagi Abi dan Jojo sekarang sudah bisa bermain dengan cucu-cucu mereka.
Freya hanya terpaku mendengarkan perbincangan mertuanya. Bukan maksud untuk menguping, hanya saja secara tak sengaja dia menangkap pembicaraan mereka saat akan keluar rumah. Wanita itu bergegas pergi sebelum keduanya menyadari akan kehadirannya. Dia memutuskan kembali ke kamar.
Ravin yang tengah berada di belakang meja kerjanya teralihkan perhatiannya ketika mendengar suara pintu terbuka. Sang istri yang tadi ijin pergi ke mini market yang ada di dekat rumah sudah kembali lagi. Freya mendudukkan diri di sisi ranjang, nampak ada sesuatu yang dipikirkan olehnya.
Melihat ada yang aneh dengan istrinya, Ravin meninggalkan pekerjaannya. Dia beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Freya. Pria itu mendudukkan diri di sisi sang istri. Genggaman tangannya menyadarkan Freya dari lamunannya.
“Ada apa?”
“Tadi ngga sengaja aku dengar mama sama papa ngobrol.”
“Soal?”
“Papa.. sepertinya sudah ingin punya cucu. Papa pasti iri lihat para sahabatnya akan segera punya cucu. Sejak Zar dan Arsya lahir, papa memang banyak melamun.”
Menyadari apa yang menjadi kegundahan istrinya, Ravin mengangkat tubuh sang istri lalu mendudukkan di pangkuannya. Dengan lembut dia membelai rambut sang istri, merapihkan dan menyelipkannya ke belakang telinga.
“Anak itu rejeki dari Allah, yang kita tidak tahu kapan datangnya. Kita hanya bisa berusaha dan menunggu sampai diberi kepercayaan untuk mendapatkannya. Jangan jadikan itu beban untukmu, sayang. Wajar saja kalau papa ingin segera memiliki cucu, tapi bukan berarti papa memaksamu harus hamil saat ini juga.”
“Apa ada masalah dengan rahimku? Kenapa aku belum hamil juga.”
Freya melingkarkan tangannya di leher Ravin seraya merebahkan kepalanya di dada suaminya itu. Ravin mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri.
“Tidak ada yang salah denganmu. Kita hanya perlu berusaha lebih keras sambil mempersiapkan diri menjadi orang tua.”
“Kalau aku ngga bisa memberikan keturunan untuk abang, gimana?”
“Sssstttt..”
Ravin meletakkan jari telunjuk di bibir istrinya. Kemudian mengusap pipi Freya dengan ibu jarinya. Kedua tangannya lalu merangkum wajah cantik itu dan memberikan ciuman lembut di bibir sang istri.
“Jangan mengkahwatirkan sesuatu yang belum terjadi. Tetap berpikir positif kalau kita akan secepatnya diberikan momongan. Bagi abang, ada atau tidak ada anak di antara kita, tak mengubah apapun. Abang tetap mencintaimu, selamanya.”
“Makasih abang mencintaiku sebesar itu.”
“Apa cintamu tidak sebesar itu?” suara Ravin terdengar sedikit protes.
“Tentu saja sama besarnya. Abang ambekan.”
Terdengar kekehan dari mulut pria itu. Freya mengubah posisi duduknya yang mulanya menyamping menjadi menghadap ke depan. Kedua tangannya semakin erat memeluk leher pria yang begitu dicintainya. Kedua netra mereka saling memandang dan mengunci. Kemudian entah siapa yang memulai, pertautan bibir mereka segera terjadi.
Suara decapan terdengar memenuhi seisi kamar, saat ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut. Tangan Ravin sudah tak enak diam, meraba tubuh sang istri di bagian depan dan belakangnya.
“Mulai produksi lagi, yuk,” ajak Ravin yang hanya diangguki oleh Freya.
Ravin kembali melanjutkan pertautan bibir mereka. Kini ciumannya sudah semakin dalam dan menuntut. Tangan pria itu juga sudah bergerak melepaskan pakaian yang melekat di tubuh sang istri lalu membawanya berbaring di kasur. Sebelum memulai ritualnya, tak lupa dia melucuti dulu pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Setelah sama-sama polos, keduanya bersiap mengarungi surga dunia di waktu malam masih belum terlalu larut.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Mohon maaf untuk readers tercinta. Bukan maksud absen di hari Senin, tapi ada yang kumat. Up Senin, nongol Selasa🤧
Mudah²an hari ini bisa muncul di hari yang sama up.