KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Drama Resepsi


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan yang digelar mulai pukul 10 pagi itu mulai didatangi tamu undangan. Abi memang memilih resepsi diadakan lebih cepat dari jam normal agar tidak membuang waktu.


Di atas pelaminan, selain sepasang pengantin, pendamping pengantin pun tampil mempesona. Siapa tak kenal orang tua Abi, pasangan Rahma dan Teddy. Selain terkenal sebagai pasangan sukses, mereka juga terkenal karena kemesraannya. Pasangan ini kerap dijadikan role model karena keharmonisannya.


Selain Rahma dan Teddy, ada pasangan lain yang juga terlihat istimewa. Ibu Lidya dan Anfa terlihat serasi mendampingi Nina. Bukan serasi sebagai pasangan hidup tapi sebagai pasangan ibu dan anak. Wajah tampan Anfa cukup sukses menarik perhatian kaum hawa yang datang mengucapkan selamat. Patah hati mereka karena Abi, sang duda tampan telah melepas gelarnya terobati lewat wajah rupawan adik dari Nina itu.


Sementara itu Rayi sudah seperti setrikaan saja, bolak-balik mengitari area ballroom hanya untuk memastikan kalau resepsi berjalan dengan baik. Dia juga terus mengecek stall dan meja prasmanan, jangan sampai para tamu kehabisan stok makanan. Bisa habis dia digorok oleh Abi kalau itu terjadi.


Juna dan Nadia sibuk menyapa para kolega menggantikan orang tua mereka. Mereka pindah dari satu tamu ke tamu yang lain hanya untuk berbasa basi. Sekar seperti biasa selalu ditemani ketiga sahabat gesreknya. Selain itu, Cakra juga tak berhenti menempel. Dia merutuki Sekar yang tampil begitu cantik dalam balutan dress putih hingga membuat mata kaum adam selalu tertuju padanya.


Kevin yang sedari tadi sudah datang, terus saja mendampingi kedua orang tuanya. Ketiganya menuju salah satu meja untuk menikmati hidangan setelah berfoto bersama pengantin. Mereka memilih meja yang letaknya berdekatan dengan meja yang ditempati Sekar dan kawan-kawan.


Rindu yang posisi duduknya dekat dengan meja orang tua Kevin, memandang kagum pada pria yang kerap membuatnya naik darah. Kevin tanpa mengeluh mengambilkan makanan untuk ayah dan ibunya yang memang umurnya sudah sepuh. Kevin yang tahun ini genap berusia 30 tahun adalah anak bungsu. Ketiga kakaknya sudah menikah dan mempunyai anak. Hanya pria yang dijuluki kulkas berjalan ini saja yang belum melepas masa lajangnya.


Kevin meletakkan dua buah piring berisi nasi beserta lauknya di atas meja. Dia lalu menarik kursi tepat di samping sang ibu.


“Vin.. Juna udah nikah, Abi juga udah nikah lagi, giliran kamu kapan?”


Kevin menarik nafas panjang. Pembahasan tentang pernikahannya yang setahun belakangan sempat menghilang kini kembali lagi. Penyebabnya apa lagi kalau bukan karena sang atasan sekaligus sahabatnya yang sudah menikah. Biasanya dia selalu bisa ngeles dengan mengatakan Juna juga belum menikah. Tapi kini dia tidak bisa memberikan alasan itu lagi. Ditambah Abi yang sudah mengakhiri status dudanya, semakin sulit dirinya untuk mengelak dari pertanyaan ini.


“Belum ada jdohnya ma.”


“Ya jodoh ngga akan dapet kalau ngga dicari. Kamu jangan kerjaan mulu yang diurus. Cari juga pasangan untuk menemanimu sampai hari tua. Mama sama papa udah tua, tinggal kamu yang belum nikah. Sebelum kami pergi, kami ingin melihatmu menikah kalau bisa sampai kamu punya anak.”


“Iya ma.. iya.. nanti aku bakal cari pasangan.”


“Jangan iya... iya.. di mulut doang tapi ngga ada realisasinya. Kalau bisa bulan depan kamu udah bawa calon mantu ya.”


“Ya ampun ma, emang nyari calon istri itu segampang beli bala-bala, di tiap pengkolan ada yang jual. Udah deh, nanti juga aku bawa calon buat mama.”


Mama Kevin tak bersuara lagi, percuma saja berdebat dengan anak bungusnya ini. Bisa-bisa dirinya masuk rumah sakit terkena hipertensi. Rindu yang tak sengaja mendengar perdebatan ibu dan anak itu hanya tertawa di dalam hati.


Gimana anak ibu mau dapet mantu lah wong sikapnya aja nyebelin, ngomong irit, muka datar, beuuhh.. dijamin kaga ada yang kuat ama kulkas berjalan mah.


“Ngga usah nguping.”


Rindu terjengit mendengar suara Kevin di dekat telinganya. Refleks dia menengok, hampir saja hidung mereka bersentuhan saking dekatnya posisi mereka. Rindu memundurkan tubuhnya sedikit.


Wew kok dia bisa tahu gue nguping. Ish nih hidung hampir aja ciuman,, uuppsss ngomong apa sih gue, sadar Rin.. Rin...


“Ngga usah fitnah ya bang. Siapa juga yang nguping.”


“Saya sumpahin kamu jomblo seumur hidup kalo nguping.”


“Ngga usah ngurusin aku bang. Bawain aja dulu calon istri buat mama.”


Oooppss.. Rindu menutup mulut dengan kedua tangannya. Kenapa juga lidah lemesnya keceplosan. Secara tidak langsung dia mengakui kalau baru saja menguping pembicaraan intern tersebut.


“Berarti bener kan kamu nguping,” Kevin menatap tajam Rindu.


“Bukan nguping tapi ngga sengaja dengar. Pendengaranku kan masih normal, masa iya ngga denger percakapan kalian.”


“Ngeles aja kaya bajaj.”


“Abang juga ngegas mulu kaya angkot lagi kejar setoran.”


Rindu bergegas bangun dari duduknya ketika mata laser Kevin menatap ke arahnya. Dia lebih baik menjelajahi stall untuk mengisi perutnya yang tiba-tiba kembali merasa lapar setelah berdebat dengan Kevin.


Lain Rindu, lain dengan Sekar. Gadis itu misah-misuh karena Cakra tak berhenti mengekorinya. Kini, saat gadis itu sedang menikmati es goyobod, tiba-tiba pria yang bernama lengkap Cakrawala Dunia itu sudah ada di sampingnya.


“Ish.. bang Cakra ngga pegel apa dari tadi ngintilin aku mulu.”


“Aku kan lagi nyari calon makmumku.”


“Ck.. kalau mau cari makmum mah di masjid aja sono, jangan di sini.”

__ADS_1


“Kan dianya di sini, ngapain cari ke mesjid.”


“Gaje banget sih bang Cakrawala Dunia yang namanya mirip kaya merk buku tulis Sinar Dunia.”


Bukannya marah, Cakra malah tergelak. Sekar menaruh gelas bekas es goyobod di meja kemudian segera pergi meninggalkan Cakra. Tanpa menunggu lama, pria itu pun kembali mengikuti Sekar yang tengah mengantri dimsum.


“Se.. kamu lihat deh ke panggung pelaminan.”


“Kenapa emangnya?” tanya Sekar seraya menyuapkan dimsum ke mulutnya.


“Kak Abi-mu udah bahagia sekarang. Apa kamu masih belum mau memaafkanku?”


Sekar menoleh ke arah Cakra. Mata mereka bertemu dan sesaat keduanya hanya saling memandang saja. Sekar memutus pandangan lebih dulu.


“Aku tahu Se.. kamu marah kan sama aku. Kamu marah soal Fahira, bener kan? Sejak saat itu sikapmu berubah padaku.”


“Hmm.. aku kecewa abang ngga bilang yang sebenarnya sama kak Abi. Bang Cakra sadar ngga, kebungkaman abang itu udah buat kak Abi menderita.”


“Lalu aku harus bilang yang sejujurnya gitu sama Abi? Kamu ngga tahu bagaimana perasaan Abi saat itu, Se. Setiap hari hanya nama Fahira yang selalu dia sebut, dia selalu bilang bahagia karena sudah menikahi Fahira, wanita yang sudah dicintainya sejak jaman kuliah. Aku ngga bisa hancurin kebahagiaan Abi. Kalau pun dia harus tahu, biarlah dia tahu dari orang lain, bukan aku.


Setiap hari aku berdoa supaya Allah mengarahkan hati Fahira untuk Abi. Tapi kenyataannya berkata lain. Aku bisa apa ketika tahu Fahira selingkuh? Aku bersyukur sekaligus bersedih untuk Abi. Andai kamu tahu apa yang aku rasakan, kamu ngga akan menghakimiku seperti ini.”


Cakra mengusap wajahnya kasar. Setelah sekian lama memendam, akhirnya pembicaraan ini keluar juga dari mulutnya. Cakra menoleh ke arah Sekar sebentar kemudian berbalik hendak meninggalkannya.


“Apa bang Cakra menyukai Fahira?”


Cakra kembali membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Sekar. Dipandanginya lamat-lamat wajah gadis yang sangat dicintainya itu.


“Aku sama sekali ngga punya perasaan apa-apa pada Fahira.”


“Apa karena kak Abi abang menahan perasaan itu?”


“Bukan. Tapi karena aku mencintai gadis yang tak mempedulikan perasaanku. Sejak gadis itu mengenakan seragam putih abu, aku sudah jatuh cinta padanya.”


Cakra berbalik kemudian meninggalkan Sekar yang terpaku setelah mendengar pengakuannya. Sekar meraba dadanya yang sedikit berdesir mendengar ucapan Cakra. Pria yang diyakininya playboy ternyata mencintainya sejak dulu.


“Hai Nad, apa kabar?” sapa Gendis.


“Baik.”


“Perut kamu masih rata ternyata?”


“Masalah buat kamu?”


“Aku cuma nanya, jangan sewot dong,” Gendis tersenyum sinis ke arah Nadia.


“Mungkin mereka sengaja menunda kehamilan,” sahut teman Gendis yang seperti membela tapi nyatanya sebuah sindiran halus untuk Nadia.


“Umur dia itu sudah ngga pantas buat menunda kehamilan. Siapa tahu aja mandul.”


Wajah Nadia memerah menahan amarah. Tangannya sudah mengepal keras di bawah meja. Namun belum sempat dia membalas ucapan Gendis. Sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka.


“Tahu dari mana kamu kalau istriku mandul? Apa kamu punya bukti yang menyatakan istriku mandul?”


Gendis terjengit ketika mendengar suara Juna. Pria itu sudah datang dengan dua piring makanan di tangannya. Juna meletakkan piring di atas meja, lalu duduk di samping Nadia.


“Kapan kami memiliki anak bukan urusanmu. Dari pada mengatakan hal yang tidak berguna, lebih baik kamu segera mencari pasangan hidup sebelum kamu mendapat gelar perawan tua.”


Nadia berusaha menahan tawa mendengar ucapan Juna. Dia tak menyangka suaminya bisa juga mengeluarkan kata-kata pedas seperti Abi. Gendis yang merasa tersinggung segera menyingkir dari sana.


“Kamu ngga apa-apa sayang?”


“Untung mas cepet dateng, kalau ngga, udah aku remes bibir dowernya itu.”


Juna tergelak mendengarnya. Diraihnya kepala Nadia lalu mendaratkan kecupan di puncak kepalanya.

__ADS_1


“Ngga usah dipikirin apa yang dia bilang tadi.”


“Iya mas. Tapi aku surprise loh, mas bisa ngomong kaya tadi.”


“Sekali-kali ngomong pedes kaya Abi menyenangkan juga.”


“Iya, pedes kaya bon cabe. Tapi mas baru level 3, kalo Abi udah level 10.”


“Hahaha...”


Juna menarik piring di depannya. Kemudian dia mulai menyuapkan macaroni schotel pada sang istri. Keduanya makan sambil saling menyuapi. Tanpa mereka sadari telah membuat iri dua pasang mata. Radix dan Gurit hanya bisa mengelus dada melihat kemesraan pasangan suami istri yang baru menikah dua bulan lalu.


Hari beranjak siang, para tamu masih belum berhenti berdatangan. Nina mendudukkan bokongnya di kursi, mencoba mengistirahatkan kakinya sejenak. High heels 12 cm yang dikenakan benar-benar menyiksa kakinya. Abi berjongkok di sisi Nina. Tangannya menelusup masuk dari bawah gaun kemudian mulai memijat betis sang istri. Bergantian dia memijat betis Nina, kiri dan kanan.


“Udah mas.. udah enakan kok.”


Nina yang tak enak hati segera menghentikan suaminya. Apalagi ketika melihat deretan tamu yang mengantri hendak naik ke pelaminan. Abi berdiri lalu merapihkan tuxedonya. Kedua mempelai sudah siap menerima ucapan selamat. Senyum Nina mengembang ketika melihat pasangan paruh baya mendekat ke arahnya. Wanita yang mengenakan jilbab pink itu segera meraih Nina dalam pelukannya.


“Selamat ya Nina, mama turut berbahagia untukmu. Mama senang kamu menemukan jodoh yang baik.”


“Terima kasih ma.”


Wanita itu mengurai pelukannya lalu memberikan kesempatan pada sang suami untuk mengucapkan selamat.


“Selamat ya Nin. Papa doakan pernikahan kalian bahagia dunia akhirat.”


“Aamiin.. makasih pa. Fares ngga ikut?”


“Ngga.. dia terlalu malu bertemu denganmu.”


Abi mendelik ke arah Nina. Wajahnya seketika berubah masam, mendengar sang istri menanyakan mantan tunangannya.


“Bulan depan Fares akan menikah dengan Diana. Mama harap kamu bisa datang.”


“In Syaa Allah ma.”


Sekali lagi mama Fares memeluk Nina kemudian mengajak suaminya turun dari panggung pelaminan. Abi menarik pinggang Nina hingga tubuh keduanya tak berjarak. Wajah mereka berdekatan hingga hembusan nafas Abi menerpa wajahnya.


“Ngapain kamu nanya-nanya Fares? Kangen sama mantan tunangan kamu hmm..”


“Ngga.. cuma basa-basi aja mas, masa ngga boleh sih.”


“Aku ngga suka!”


CUP


Sebuah kecupan mendarat di bibir Nina. Kontan saja wajah wanita itu bersemu merah. Walaupun mereka sudah berstatus suami istri, namun dia cukup malu dengan apa yang dilakukan Abi padanya. Abi melepaskan pelukannya ketika melihat sudah ada tamu yang mendekati mereka.


Senyum Abi ketika menyambut tamu yang memberikan selamat memudar ketika melihat sepasang suami istri yang naik ke panggung pelaminan. Dengan gaya angkuhnya wanita yang tengah memeluk lengan suaminya itu berjalan menuju pasangan pengantin.


“Selamat ya Abi.. semoga kamu tidak menyesal dengan pilihanmu,” ketus wanita itu.


“Menyesal atau tidak bukan urusan tante. Tapi saya pastikan tante akan menyesal kalau terus menghina atau mengganggu istriku!”


“Ehem!”


Terdengar deheman pria di sebelah Marisa, yang tak lain adalah suaminya. Tanpa banyak bicara, pria itu menyalami Abi juga Nina. Sedangkan Marisa segera berlalu tanpa menyalami Nina apalagi mengucapkan selamat. Wanita paruh baya itu segera menghampiri Rahma juga Teddy.


“Selamat ya jeng, semoga tidak salah pilih.”


“In Syaa Allah ngga salah pilih. Ingat ya jeng, Nina sekarang menantuku. Kalau jeng berani cari masalah sama dia, berarti jeng cari masalah sama aku juga semua keluarga Hikmat. Ingat itu ya jeng.”


Marisa hanya melengos mendengar ancaman Rahma. Dia bergegas turun dari panggung pelaminan. Tanpa menyentuh hidangan, keduanya segera pergi dari tempat resepsi.


☘️☘️☘️

__ADS_1


**Marisa masih aja nyebelin ya, perlu disumpel pake lap yang ngga dicuci setahun mulutnya tuh.


Pada ngarep MP yaaaa... Resepsi dulu keles udah pengen belah duren aja🤣🤣🤣**


__ADS_2