KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Memories


__ADS_3

Jet pribadi milik keluarga Hikmat mendarat dengan selamat di bandara Sultan Iskandar Muda. Kedatangan Abi, Nina dan Anfa sudah ditunggu seorang supir yang merangkap guide untuk mengantar mereka selama berada di tanah rencong ini. Pria paruh baya yang bernama Pidi itu segera memasukkan koper ke dalam bagasi. Selanjutnya mereka akan menuju ke hotel untuk beristirahat sejenak sambil mengisi perut.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika Abi, Nina dan Anfa berangkat menuju Ulee Lheue, tempat kuburan massal korban tsunami disemayamkan. Sejak menginjakkan kakinya di bandara, Nina tampak diam. Tangannya terus menggenggam tangan sang suami. Abi merasakan telapak tangan istrinya berkeringat dingin.


Kaki Nina bergetar saat turun dari mobil. Dadanya terasa sesak. Ini kali kedua dia datang ke kuburan massal dan selalu seperti itu. Abi merangkul bahu Nina, dibimbingnya sang istri memasuki area pemakaman tersebut. Tak berbeda dengan Nina, Anfa pun merasakan hal yang sama. Bayang-bayang kejadian 17 tahun silam kembali terbayang di pelupuk mata.


Sebuah plang putih bertuliskan kuburan massal terpancang di depan area pemakaman. Ketiganya terus melangkah masuk menapaki tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan. Mereka berhenti di depan tembok kuning yang berjajar di sepanjang tanah lapang tersebut. Abi mengajak Nina juga Anfa menuju salah satu pohon yang ada di sana lalu mendudukkan diri di sana.


Ketiganya terpekur memanjatkan doa-doa pada sang maha kuasa. Airmata Nina jatuh bercucuran mengingat kedua orang tuanya. Isak tangis juga terdengar dari mulut Anfa. Pemuda itu tak dapat menahan kesedihannya. Di tanah kelahiran Tjut Nyak Dien, dirinya harus kehilangan kedua orang tua dan terpisah dari kakak tercinta.


“Assalamu’alaikum ahlad diyaar minal mu’miniina wal muslimiin. Wa inna insyaa Allahu bikum laahiquun. Nasalullaaha lanaa wa lakumul ‘aafiyah. Ma.. pa.. kenalkan, aku Abi. Aku adalah suami dari putri sulung kalian, Nina. Kami juga Anfa datang ke sini untuk melihat mama dan papa. Aku berjanji ma, pa.. akan menyayangi Nina sepenuh hati, membahagiakannya dan menjaganya dengan baik. Begitu pula dengan Anfa, mulai saat ini dia menjadi tanggung jawabku. Aku harap mama dan papa tenang di sana, doa kami akan selalu menyertai kalian. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk kalian, aamiin.”


“Aamiin..” lirih Nina dan Anfa.


“Mama.. papa..”


Abi menarik Nina dalam pelukannya. Membiarkan sang istri menumpahkan segala kesedihannya. Tangan Abi terulur mengusap puncak kepala Anfa yang juga tengah menangis. Untuk sesaat keduanya masih larut dalam kesedihan.


Abi membantu Nina berdiri. Setelah puas menangis, Abi mengajak Nina juga Anfa pergi dari tempat itu. Nina memeluk pinggang suaminya sambil berjalan menuju mobil yang terparkir.


“Kalian mau kemana sekarang?”


“Aku mau ke museum tsunami kak,” jawab Anfa.


“Kamu mau sayang?”


Nina hanya menganggukkan kepalanya. Abi mengatakan pada pak Pidi tujuan mereka selanjutnya. Tak lama Kijang Innova itu meluncur meninggalkan kawasan Ulee Lheue. Museum tsunami berada di pusat kota, letaknya tak jauh dari masjid Baiturrahman yang fenomenal tersebut. Konon banyak orang yang melihat masjid tersebut terangkat ketika tsunami melanda. Banyak orang yang mengungsi di masjid yang menjadi ikon kota Banda Aceh tersebut.


Pidi menghentikan kendaraannya di area parkir museum tsunami. Abi memandangi bangunan empat lantai yang dinding lengkungnya dilapisi relief geometris. Sang perancang gedung adalah Gubernur Jawa Barat saat ini, bapak Ridwan Kamil.


Abi, Nina dan Anfa masuk ke dalam gedung. Di lantai satu ini mereka bisa melihat kilas balik tsunami 2004. Beberapa gambar peristiwa tsunami, artefak jejak tsunami dan diorama berada di lantai ini. Salah satu diorama yang terkenal adalah kapal PLTD Apung yang terdampar di Punge Blang Cut.


Anfa memandangi foto-foto bukti kedahsyatan tsunami yang melanda saat itu. Hatinya miris mengingat peristiwa pahit yang dialaminya bertahun-tahun silam. Mereka memasuki lorong sempit yang sekeliling dindingnya tertera nama-nama korban tsunami. Mata Anfa memandang sekeliling dinding.


“Kak.. kira-kira nama mama dan papa ada di sana ngga?”


“Ngga tahu Fa.”


Anfa masih terus berada di sana membaca nama-nama yang tertera. Berharap dapat menemukan nama orang tuanya. Nina yang tak tahan dengan semua kenangan ini keluar dari lorong tersebut. Matanya mencari keberadaan sang suami. Abi terlihat tengah berbicara dengan ponselnya di dekat diorama Kapal PLTD Apung. Nina berjalan mendekatinya.


“...”


“Kamu yakin?”


“...”

__ADS_1


“Baik, lakukan kalau menurutmu benar. Tapi ingat, kalau sampai ada kesalahan, kamu yang akan menanggung akibatnya.”


“...”


Abi mengakhiri panggilannya bertepatan dengan kehadiran. Diraihnya pinggang sang istri. Matanya nampak merah dan sedikit bengka. Abi mencium kening Nina penuh kasih sayang.


“Aku mau ke hotel aja mas.”


“Ngga mau jalan-jalan dulu?”


“Ngga mas. Bagiku kota ini masih sama saat tsunami dulu. Aku ngga nyaman mas.”


“Bagaimana kalau kita ke Sabang? Cuma satu jam kalau naik kapal cepat.”


“Ngga mas. Aku mau istirahat di hotel aja.”


Abi akhirnya menuruti keinginan sang istri. Nina memang terlihat tidak nyaman. Dipanggilnya Anfa yang masih membaca nama-nama korban tsunami.


“Fa.. kakakmu mau kembali ke hotel. Kamu mau jalan-jalan dulu atau gimana?”


“Iya, kalau kak Abi ngga keberatan, aku mau jalan-jalan dulu.”


“Setelah pak Pidi antar kita ke hotel, kamu jalan-jalan dengan pak Pidi.”


“Iya kak.”


☘️☘️☘️


Karenina Pov


Aku dan Anfa memasukkan baju-baju ke dalam tas ransel. Kami sangat senang karena papa mengajak kami liburan ke Banda Aceh. Semenjak papa menerima tawaran mengajar di Universitas Sumatera Utara, kami sekeluarga diboyong ke Medan. Dan menjelang libur akhir tahun, papa mengajak kami berlibur menyambut tahun baru di Banda Aceh. Rencananya kami juga akan ke Sabang, konon pantai di sana tak kalah indah dengan Bali.


Keesokan paginya, dengan penuh semangat kami meninggalkan rumah. Kami berangkat menuju terminal untuk naik bus antar kota antar propinsi. Waktu tempuh menggunakan jalur darat memang cukup lama, bisa sampai 12 jam. Kami berangkat jam 8 pagi, diperkirakan akan sampai di Banda Aceh pukul 8 malam.


Benar saja, hari sudah gelap saat kami sampai di Banda Aceh. Papa sudah mem-booking penginapan lewat salah satu koleganya yang berasal dari kota ini. Kami menyewa dua kamar, satu untuk mama dan papa, satu lagi untukku juga Anfa. Setelah beristirahat sejenak, papa mengajak kami berkeliling menikmati makanan khas Aceh. Ada mie Aceh, roti cane, martabak Aceh juga kopi Aceh. Puas mengisi perut, kami kembali ke penginapan.


“Sekarang kalian istirahat, besok pagi kita jalan-jalan ke pantai Ulee Lheue.”


“Asik..” seruku juga Anfa.


Papa mengusap puncak kepala kami. Matanya menatap dalam ke arah kami. Entah mengapa sorot mata papa nampak berbeda. Mama juga mencium kening kami berdua kemudian mengusap puncak kepala kami.


“Kalian harus akur, jangan berantem terus. Harus saling menjaga ya.”


“Iya ma.”

__ADS_1


Aku dan Anfa masuk ke dalam kamar. Sebelum tidur, kami mengobrol, merencanakan apa yang akan kami lakukan di pantai nanti. Sampai akhirnya kami tertidur karena mengantuk juga lelah.


Seperti janji papa, paginya kami berangkat ke pantai Ulee Lheu. Di sana sudah banyak pengunjung yang berjalan-jalan di pagi hari. Saat sedang berjalan-jalan di pesisir pantai, tiba-tiba semua yang ada di sana dikejutkan oleh guncangan yang kami yakini adalah gempa. Banyak orang berlarian menyelamatkan diri. Papa dan mama segera membawa kami ke tempat aman.


Guncangan berhenti, namun kami semua waspada takut jika ada gempa susulan. Setengah jam berlalu dan kami tak lagi merasakan goncangan hebat seperti tadi. Papa mengajak pulang ke penginapan. Tapi kemudian perhatian kami teralihkan dengan teriakan seorang anak sambil menunjuk ke arah pantai. Di sana terlihat air laut menyusut drastis, bahkan banyak ikan yang menggelepak di sisi pantai. Papa melihat ke atas, nampak sekumpulan burung terbang berkelompok menuju ke suatu tempat.


“Ma.. ayo kita pergi dari sini. Perasaan papa ngga enak.”


Mama mengangguk, mama menggandeng tangan Anfa sedang tanganku digandeng oleh papa. Aku berusaha mengikuti langkah panjang papa. Entah mengapa sepertinya papa ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.


Di tengah perjalanan, kami mendengar suara gaduh dari arah belakang. Sontak kami melihat ke arah belakang. Mata kami membelalak melihat gulungan ombak yang begitu tinggi sedang menuju ke arah kami.


“Astaghfirullah, tsunami ma!” seru papa.


Dengan cepat papa menggendongku, begitu juga mama yang menggendong Anfa. Kami berlari secepat mungkin agar terhindar dari hantaman air. Terdengar suara klakson mobil, mencoba menghalau sekumpulan orang yang menghalagi jalannya. Pengendara mobil saking paniknya tidak melihat jalan dan menabrak pejalan kaki yang sedang berlari. Aku memejamkan mata melihat beberapa orang tergeletak karena tertabrak mobil.


Papa dan mama terus berlari. Aku memeluk erat leher papa. Dadaku berdebar kencang, gulungan air semakin mendekati kami. Dan tiba-tiba saja dalam hitungan detik tubuh kami sudah terhempas oleh gulungan air tersebut. Aku masih memeluk leher papa. Nampak papa berusaha menggapai sesuai saat tubuhnya terbawa arus. Mama juga terus berusaha mempertahankan Anfa dalam gendongannya. Suara teriakan orang-orang di sekeliling kami menambah suasana menjadi mencekam.


Sekuat tenaga papa mengarahkan tubuhnya menuju sebuah rumah yang atapnya masih terlihat. Di sana nampak beberapa orang tengah berlindung dari kepungan air. Papa menaikkan tubuhku ke atap yang langsung disambut oleh seorang pria paruh baya. Papa lalu menarik tangan mama. Dia juga menaruh Anfa di sana. saat papa akan membantu mama naik, tiba-tiba sebuah mobil yang terbawa arus menghantam tubuh papa.


“Papa!!”


Aku dan Anfa berteriak bersamaan. Airmataku mengalir deras saat melihat tubuh papa mengambang terbawa arus air. Mama yang berusaha meraih papa kembali terhantam arus air yang kembali datang, menenggelamkan wanita yang telah melahirkanku.


Karenina Pov End


“Mama!!”


Nina terbangun dari tidurnya. Abi yang tengah memeriksa laporan dengan ponselnya terkejut lalu bergegas menghampiri sang istri. Nina terduduk di ranjang dengan tubuh berkeringat dan nafas terengah.


“Sayang.. kamu kenapa?”


“Mama mas.. mama..”


Nina menangis, kenangan buruk saat tragedi itu terjadi kembali hadir dalam mimpinya. Abi memeluk Nina erat. Tangannya tak henti mengusap punggung sang istri untuk menenangkannya.


“Itu hanya mimpi sayang.”


Abi mengurai pelukannya lalu menghapus airmata Nina. Diambilnya botol minuman dari atas nakas lalu memberikannya pada Nina. Setengah botol air mineral masuk membasahi kerongkongan Nina yang kering.


“Aku mau pulang mas, aku ngga mau di sini. Aku takut.”


Abi melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Melihat kondisi Nina, dia menghubungi crew pesawat, meminta mereka menyiapkan penerbangan. Abi juga menghubungi Anfa.


Sehabis maghrib, mereka sudah ada di bandara. Sebenarnya Anfa masih ingin tinggal dan pulang esok harinya. Tapi Nina memaksa adiknya itu pulang ke Bandung malam ini juga. Dia tak tenang meninggalkan sang adik di kota ini. Akhirnya Anfa mengalah, dia pulang ke Bandung menggunakan pesawat komersil. Sedang Abi dan Nina akan terbang ke Lombok menggunakan jet pribadi.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Selalu miris kalau ingat kejadian bencana nasional tsunami Aceh. Kisah Nina dan Anfa saat bencana tsunami terinspirasi dari kisah para saksi hidup korban tsunami yang selamat. Mamake diberi kesempatan melihat langsung lokasi kejadian di Banda Aceh dan Meulaboh satu tahun pasca tsunami dan bertemu dengan korban selamat yang sudi menceritakan kejadian itu. Ngga semua korban tsunami ditemukan, banyak jenazah korban yang tersapu arus, tertimbun puing² bangunan atau terbenam di bawah kapal PLTD Apung. Di mana pun mereka berada, semoga diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, aamiin..


__ADS_2