
Jojo turun dari mobilnya lalu memasuki pekarangan wisma. Matanya tertuju pada plang putih yang terdapat tulisan Panti Asuhan Meniti Harapan. Netranya memandang berkeliling, taman yang tertata cantik dilengkapi dengan permainan anak-anak berada di halaman depan.
Jojo sengaja datang ke panti asuhan ini. Dari hasil penyelidikan anak buahnya, diketahui kalau Nina tinggal dan besar di panti asuhan ini. Dia berharap menemukan sesuatu yang dapat membuatnya merebut Nina dari Abi. Jojo cukup terkejut mengetahui bangunan panti yang dikunjunginya merupakan hasil sumbangan Abi. Dia dan keluarganya juga menjadi donatur tetap panti ini.
Kamu masih sama seperti dulu Bi. Rela melakukan apapun demi wanita yang kamu cintai. Itu bagus untukmu, semakin kamu mencintai Nina, semakin aku ingin merebutnya darimu. Kamu harus menderita.. Anka.. aku akan membalaskan sakit hatimu.
Lamunan Jojo buyar ketika sebuah bola mengenai kakinya. Dia menunduk lalu mengambil bola di dekat kakinya. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun datang mendekat lalu meminta bolanya. Jojo memberikan bola tersebut. Matanya terus memandangi anak itu yang beranjak menjauh. Dia kembali bermain bola dengan kedua temannya.
Jojo memandangi ketiga anak lelaki yang tengah bermain bola itu. tatapannya berubah sendu. Melihat mereka mengingatkannya pada masa-masa bahagia dirinya bersama dengan Abi dan Cakra. Mereka kerap bermain bersama, bertengkar, berkelahi tapi kemudian akur kembali.
Jojo juga mengingat bagaimana kedua sahabatnya terus berada di sampingnya ketika papa yang begitu disayanginya meninggal dunia. Saat itu dirinya baru duduk di kelas 1 SMA. Abi dan Cakra terus menemani dan menghiburnya. Bahkan Abi menghadiahkan lukisan mozaik dirinya bersama sang papa. Sampai saat ini lukisan tersebut masih terpajang di dinding kamarnya.
Andai saja kamu mengakui perbuatanmu dan meminta maaf, aku akan melupakan kejadian itu Bi. Tapi kamu terlalu pengecut.. bahkan sampai sekarang kamu masih menyangkalnya.
Jojo terjengit ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. Cakra datang lalu berdiri di sampingnya. Untuk sesaat kedua pria itu terdiam, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Lidya yang tengah menemani sepasang suami istri yang hendak mengadopsi salah satu anak asuhnya berkeliling, tanpa sengaja melihat ke arah Cakra juga Jojo. Keningnya berkerut saat melihat Jojo, dia seperti tak asing dengan wajah itu.
Lamunan Lidya buyar ketika tamunya mengajaknya berbicara. Lidya kembali fokus pada tamunya lalu mengajaknya masuk ke ruangannya. Sesekali dia masih melihat ke arah Jojo sambil terus berusaha mengingat di mana dia pernah melihat wajah itu.
“Gue harap lo berhenti Jo. Jangan lakukan apapun yang akan bikin lo menyesal,” Cakra membuka pembicaraan.
“Lo ngancem gue?”
“Dendam dan kebencian lo ngga beralasan. Bukan Abi yang memperkosa Anka. Anka menelpon Abi setelah kejadian pemerkosaan itu, gue ada di sana dan gue ikut Abi menjemput Anka. Bukan dia pelakunya Jo.”
“Lalu menurut lo, Anka berbohong?”
“Cobalah berpikir jernih Jo. Mungkin aja Anka diancam oleh pelaku sebenarnya.”
“Anka menyimpan jam tangan Abi. Jam tangan yang tidak pernah dilepasnya. Dia meninggalkan jam tangan itu saat memperkosa Anka. Buka mata lo Cak! Dia itu bajing*n dan elo udah ditipu mentah-mentah sama dia!”
“Dia kehilangan jam tangan itu!”
“Iya dia kehilangan di tempat dia memerk*sa Anka!”
“Ngga mungkin dia pelakunya Jo! Seharian dia sama-sama gue. Gimana bisa dia perk*sa Anka! Buka mata lo Jo!”
“Bukannya dia sempat pergi selama dua jam dari kantor? Dia cukup punya waktu untuk melakukan itu Cak.”
“Lo udah dibutakan dendam Jo. Abi sahabat kita, dia menyayangi semua orang di sekitar kita, termasuk Anka. Apa lo pikir dia bisa melakukan tindakan bejat itu? Pikirkan itu Jo! Dan gue ingetin sama lo, jangan coba-coba nyakitin Sekar atau lo akan berhadapan sama gue!”
“Jangan bilang kalau lo berhasil menaklukkan gadis itu. Hahaha... pantas saja Fahira membenci Sekar. Ternyata gadis itu yang menjadi penghalangnya mendapatkanmu. Berhenti mengahalangi jalan gue, atau lo akan berhadapan dengan gue juga.”
“Silahkan saja kalau lo bisa. Satu yang harus lo inget, satu-satunya hal yang membuat Abi masih belum melakukan apapun karena dia masih nganggap elo sahabatnya. Jangan memancingnya Jo. Lo tahu betul bagaimana Abi.”
Cakra menepuk pundak Jojo kemudian meninggalkan sahabatnya itu begitu saja. Rahang Jojo mengeras mendengar ucapan Cakra. Kebenciannya semakin dalam saja pada Abi. Hatinya sudah bertekad untuk menghancurkan Abi walau nyawa taruhannya.
Jojo melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam gedung panti, namun langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering. Jojo mengurungkan niatnya setelah mendapat panggilan dari salah satu anak buahnya. Dia berbalik kemudian bergegas menuju mobilnya.
Sementara itu Lidya yang telah selesai berbicara dengan para tamunya masih tercenung di belakang meja kerjanya. Dia terus mencoba menggali ingatannya tentang lelaki yang dilihatnya bersama Cakra.
__ADS_1
Lidya mengambil album yang berisi foto-foto lama dari dalam lemari. Satu per satu dibukanya lembaran album. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti ketika melihat foto seorang gadis yang begitu mirip dengan laki-laki yang dilihatnya tadi. Lidya mengeluarkan foto dari album lalu memandanginya lekat-lekat.
“Iya.. benar dia anak itu. Pantas aku familiar dengan wajahnya. Ooh Anka, akhirnya ibu menemukan kakakmu.”
Lidya mengambil ponselnya kemudian menghubungi Cakra, sayang panggilannya beralih pada kotak suara. Sekali lagi wanita itu coba menghubungi, namun lagi-lagi mesin operator yang menjawabnya. Lidya lalu menghubungi Nina, berharap melaluinya Lidya bisa bertemu dengan lelaki yang beberapa tahun ini dicarinya.
Lidya menaruh ponsel ke telinganya. Terdengar nada sambung, namun Nina belum menjawab panggilannya. Pada deringan keempat barulah Nina menjawab panggilannya.
“Halo bu.”
“Halo Nina. Apa ibu mengganggu?”
“Ngga bu. Ada apa?”
“Apa kamu bisa ke panti? Ada hal yang ingin ibu tanyakan.”
“Hari ini aku ngga bisa bu. Bagaimana kalau lusa?”
“Ya tidak apa. Ibu tunggu ya.”
“Iya bu.”
Lidya mengakhiri panggilannya. Dia memasukkan kembali foto Anka ke dalam Album lalu menyimpan album ke tempatnya semula. Lidya beranjak dari duduknya, kini dia menuju ke kamarnya. Lidya membuka lemari kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya. Dibawanya kotak itu ke atas kasur.
Lidya duduk lalu mulai membuka kotak berwarna coklat itu. Di dalamnya terdapat beberapa foto Anka tengah tersenyum bersama anak-anak panti. Ibu jari Lidya mengusap wajah Anka yang tersenyum. Walau hanya seminggu mengenal gadis itu, tapi Lidya sudah menyukainya. Sayang tiba-tiba gadis itu menghilang setelah menyerahkan kotak ini padanya. Sebulan kemudian Lidya mendapat kabar kalau Anka sudah meninggal dunia. Gadis itu mengakhiri hidupnya dengan menyayat pergelangan tangannya saat berendam di bath tub.
Lidya memandangi isi di dalam kotak yang sengaja ditinggalkan Anka padanya. Kotak itu berisi foto-foto Anka selama di panti, sebuah kaset video dan sebuah usb. Anka berpesan padanya untuk memberikan kotak ini pada kakaknya, Jojo.
Lidya mengambil foto Anka lalu mendekapnya erat. Lidya mengenang pertemuannya dengan Anka tiga tahun lalu.
Flashback On
Lidya baru saja pulang berbelanja dari pasar. Saat akan masuk ke dalam rumah, dia melihat seorang gadis berjalan tak tentu arah. Lidya mendekati gadis itu yang tengah duduk melamun di trotar. Wanita itu duduk di sampingnya.
“Sedang apa di sini? Apa kamu tersesat?”
Gadis itu hanya menggeleng. Lidya mengeluarkan sebotol air mineral lalu memberikannya pada gadis itu. Sejenak gadis itu terdiam kemudian mengulurkan tangannya mengambil botol dari tangan Lidya. Diteguknya air dalam botol tanpa bersisa.
“Mau ikut ibu masuk ke dalam?” tawar Lidya.
Gadis itu melihat pergerakan tangan Lidya. Lalu pandangannya beralih pada bangunan tua tepat di belakangnya. Di depan rumah terdapat plang usang bertuliskan Panti Asuhan Meniti Harapan. Lidya menyentuh tangan gadis itu kemudian membawanya masuk ke dalam panti.
Kedatangan Lidya disambut oleh anak-anak panti. Lidya mengeluarkan aneka kue basah yang dibelinya di pasar. Anak-anak tersebut langsung saja berebut mengambil camilan tersebut. Senyum gadis itu merekah melihat keributan anak-anak berebut makanan.
“Siapa namamu?”
“Anka.”
“Nama yang indah, Anka. Kamu di sini dulu ya, ibu mau masak dulu.”
__ADS_1
“Boleh aku bantu?”
“Tentu saja, ayo.”
Sejak hari itu Anka selalu datang ke panti. Dia banyak menghabiskan waktu bermain dengan anak panti. Setiap pagi dan sore akan datang seorang pria yang menjemputnya. Menurut Anka, pria itu adalah papa tirinya. Lidya tak pernah berinteraksi dengan pria itu. Dia hanya menunggu Anka di dalam mobil.
Tak terasa hampir seminggu lamanya Anka berkunjung dan menghabiskan di panti. Sore itu sebelum pulang, Anka menemui Lidya di kamarnya. Gadis itu memberikan sebuah kotak berwarna coklat padanya.
“Ibu.. mungkin ini adalah hari terakhirku di sini.”
“Kenapa? Kamu mau pergi?”
“Iya bu. Terima kasih sudah menerima saya dengan baik. Saya bahagia bisa menghabiskan hari-hari bersama ibu dan adik-adik di panti.”
“Ibu juga senang bisa mengenalmu.”
“Bu.. boleh aku titip sesuatu?”
Anka menyerahkan kotak di tangannya pada Lidya. Sejenak Lidya memandangi kotak di tangannya. Dibukanya kotak tersebut yang berisikan foto, kaset video dan usb. Lidya melihat ke arah Anka.
“Tolong berikan ini untuk kakakku, Jojo.”
“Jojo?”
“Iya bu. Setahun setelah hari ini, tolong berikan kotak ini pada Jojo. Minta dia melihat isi di dalam video dan mendengar rekaman di usb. Kalau ibu tidak keberatan, tolong antarkan kotak ini ke rumahku. Tapi harus Jojo langsung menerimanya. Apa ibu bisa melakukannya?”
“Iya nak, In Syaa Allah ibu akan menyampaikan amanatmu.”
“Terima kasih bu. Di dalam kotak ada alamat rumahku. Jojo adalah kakak kembarku, wajahnya sama denganku, hanya saja dia laki-laki. Ibu pasti akan langsung mengenalinya kalau bertemu dengannya.”
“Iya nak. Kamu benar akan pergi?”
“Iya bu. Sekali lagi terima kasih atas semua kebaikan ibu. Semua kenangan indah di sini akan selalu kukenang seumur hidupku.”
Anka memeluk Lidya. Entah mengapa Lidya merasa gadis di depannya ini tengah mengucapkan kata perpisahan. Anka melepaskan pelukannya kemudian menghampiri anak-anak panti yang tengah anteng menonton televisi. Dipeluknya satu-satu mereka, seakan dirinya akan pergi jauh.
Tak berapa lama papa tiri Anka menjemput. Anka menatap lama pada Lidya juga anak-anak panti sebelum masuk ke dalam mobil. Dia melambaikan tangannya ke arah Lidya.
Semenjak hari itu Anka tak pernah datang lagi ke panti. Sebulan kemudian Lidya mendapat kabar kalau gadis itu telah meninggal dunia. Dia ditemukan tak bernyawa di kamar mandi saat tengah berendam di dalam bath tub. Anka meninggal karena kehabisan darah setelah dengan sengaja menyayat pergelangan tangannya.
Sesuai amanat Anka, setahun kemudian Lidya mendatangi kediaman Anka untuk bertemu dengan Jojo. Sayang keluarga itu telah pindah ke Singapura sebulan setelah kematian Anka. Lidya berusaha mencari keberadaan Jojo, namun nihil. Dia memutuskan menyimpan kotak milik Anka. Berharap suatu hari nanti ada keajaiban yang mempertemukan dirinya dengan Jojo.
Flashback Off
Lidya meletakkan kembali foto Anka ke dalam kotak lalu memasukkan kotak ke dalam lemari. Dia sungguh berharap Nina bisa membantunya bertemu dengan Jojo.
☘️☘️☘️
**Haaiii.. mamake datang lagi. Alhamdulillah deadline sudah terpenuhi, jadi bisa up 2x lagi deh.
__ADS_1
Makasih atas support kalian semua. Komentar kalian jadi mood booster buat mamake. Setiap baca komen kalian, mamake tambah semangat buat nulis kelanjutan cerita ini. Semoga kalian ngga bosen ya😘**