
Ruby memasuki mall Andhara, dia langsung menuju toko milik Mano. Toko yang menjual tas branded. Kedatangan Ruby disambut oleh sang pelayan. Dengan senyum ramah, dia menyapa Ruby.
“Selamat datang ibu. Mau mencari tas model apa?”
“Saya mau bertemu dengan pak Mano.”
“Maaf bu, sudah seminggu pak Mano tidak datang ke toko.”
“Kalau begitu saya minta nomer dia yang bisa dihubungi.”
“Sekali lagi maaf bu. Saya tidak bisa memberikannya. Pak Mano tidak mengijinkan memberikan nomernya pada sembarang orang.”
Ruby menggeram kesal, Mano sepertinya tengah bermain-main dengannya. Namun wanita itu tak hilang akal.
“Kalau begitu kamu saja yang menghubunginya. Katakan padanya untuk menemui Ruby Claudia, sekarang. Atau saya akan membongkar semuanya. Katakan itu padanya.”
Pelayan itu mengangguk. Dia bergegas masuk ke bagian dalam toko. Tak berapa lama dia kembali setelah berhasil menghubungi Mano.
“Pak Mano bilang, ibu ditunggu di tempat biasa, satu jam dari sekarang.”
Tanpa berkata-kata lagi Ruby segera meninggalkan toko tersebut. Tanpa membuang waktu, Ruby bermaksud untuk segera ke tempat yang dimaksud. Saat dia melintasi toko yang menjual pakaian wanita, matanya menangkap Agung tengah bersama dengan seorang wanita. Di tangan pria itu terdapat gaun yang tengah dia perlihatkan pada wanita di sebelahnya. Spontan Ruby menghentikan langkahnya, dia memperhatikan apa yang dilakukan suaminya itu.
Apa perempuan itu peliharaan mami Elis yang baru?
Mendadak hati Ruby panas melihat keakraban Agung dengan wanita itu. Bahkan Agung banyak sekali tersenyum. Kalau tak ingat dia ada janji dengan Mano, ingin rasanya dia masuk ke dalam toko dan melabrak wanita yang berlagak kecentilan di depan sang suami. Ruby melanjutkan langkahnya tanpa menolehkan wajahnya lagi ke arah toko.
Mengetahui Ruby sudah pergi, Agung mengakhiri sandiwaranya. Dia mengucapkan terima kasih pada wanita di sebelahnya yang telah memilihkan pakaian untuknya. Agung bergegas ke meja kasir untuk membayar pakaian. Setelah itu dia segera keluar untuk kembali mengikuti Ruby. Kegiatan yang sudah dilakukannya selama tiga hari ini.
Ruby menghentikan mobilnya di depan sebuah taman. Dia dan Mano kerap bertemu di taman ini. Ruby menuju salah satu sudut taman yang cukup sepi. Wanita itu mengurungkan niatnya untuk duduk ketika melihat ada seorang wanita yang mendahuluinya duduk di sana. Namun tak berapa lama, wanita itu pergi setelah menerima panggilan di ponselnya.
Setelah wanita itu pergi, Ruby langsung menduduki kursi itu. Diliriknya jam di pergelangan tangannya. Tersisa sepuluh menit lagi dari waktu yang dijanjikan Mano. Sesekali wajahnya menoleh ke kanan dan kiri, berharap lelaki itu datang lebih cepat.
Sementara itu, Agung duduk tenang di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari taman. Di dalam taman dia sudah menempatkan anak buahnya yang akan mengambil gambar Ruby dengan seseorang yang akan ditemuinya. Agung yakin kalau kali ini wanita itu akan bertemu dengan sekutunya. Tangannya bergerak menempelkan earphone ke telinganya. Dia bersiap mendengarkan percakapan Ruby. Wanita yang tadi dilihat Ruby merupakan anak buah Agung. Dia meletakkan alat penyadap di bawah kursi taman.
Tepat sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Mano berhenti di area parkir taman. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam, topi juga masker. Dengan langkah lebar, dia memasuki taman dan langsung mendatangi Ruby. Mano mendudukkan dirinya di samping Ruby.
“Ada apa mencariku?”
“Ada apa? Apa kamu lupa kalau kita masih punya urusan?”
“Aku pikir kamu lupa. Sepertinya kamu menikmati kehidupan pernikahanmu.”
Sontak Ruby menoleh ke arah Mano. Lelaki itu tahu dirinya sudah menikah tetapi membiarkannya saja. Sungguh dia tak mengerti jalan pikiran pria yang ada di sebelahnya ini.
“Dari mana kamu tahu?”
“Apa yang aku tidak tahu tentangmu? Bahkan aku tahu kamu sudah menyewa seseorang untuk menjebak Nina. Sayang rencana bodohmu itu tak menghasilkan apa-apa.”
“Jika rencana bodohku berhasil, maka kamu yang akan menikmatinya brengsek!”
Emosi Ruby terpancing mendengar kata-kata Mano yang selalu saja menghina dan menyudutkan dirinya. Jika tak mengingat dirinya membutuhkan laki-laki sombong ini, dia sudah meninggalkannya.
“Kalau begitu kamu juga tahu kenapa pernikahan ini terjadi.”
“Aku tidak tertarik.”
“Aku diculik oleh sekumpulan preman yang ternyata anak buah mami Elis, germo terkenal di kota ini. Aku membuat perjanjian dengan Agung. Jika dia berhasil melepaskanku dari cengkeram mami Elis, aku akan menikahinya.”
“Lalu, apa maumu?”
“Bebaskan aku dari Agung.”
“Dari pada kamu mencoba lepas darinya, lebih baik kamu memanfaatkannya. Jadikan dia sekutu untuk menghancurkan Abi. Salah satu cara menghancurkan Abi adalah merebut Nina darinya. Dan aku ingin secepatnya terjadi. Aku ingin segera melihat si brengsek itu hancur sehancur-hancurnya.”
“Lalu apa rencanamu?”
“Anfa, adik Nina. Aku akan menculik Anfa, jika Nina ingin menyelamatkan Anfa, dia harus menyerahkan dirinya padaku,” Mano menyeringaikan senyum liciknya.
“Dan tugasmu mengalihkan perhatian Abi agar anak buahku dapat dengan mudah mendapatkan anak itu,” Mano menambahkan.
__ADS_1
Keduanya terus berbincang. Mano memberikan pengarahan pada Ruby apa saja yang harus dilakukannya. Tanpa mereka sadari percakapan mereka didengarkan dan terekam dengan baik.
Agung masih menyimak percakapan mereka ketika kiriman foto masuk ke ponselnya. Gambar Mano yang mengenakan topi juga masker membuat Agung kesulitan mengenali pria itu. Agung segera menghubungi anak buahnya.
“Ikuti terus pria itu. Bagaimana pun caranya, kamu harus bisa mendapatkan gambarnya.”
Agung mengakhiri panggilannya kemudian kembali menyimak pembicaraan Ruby dan Mano yang ternyata telah berakhir. Dari arah pintu masuk taman, Agung melihat Mano juga Ruby berjalan keluar. Keduanya menuju mobil masing-masing kemudian meluncur pergi. Agung menjalankan kendaraannya, mengikuti kembali sang istri.
☘️☘️☘️
Agung meletakkan paper bag ke hadapan Ruby. Dengan malas Ruby mengambil paper bag tersebut lalu mengeluarkan isinya. Ternyata gaun yang dilihatnya tadi dipegang oleh Agung dibeli untuknya. Diam-diam wanita itu merasa senang karena Agung cukup perhatian padanya. Namun Ruby tak memperlihatkannya secara langsung.
Agung mengambil handuk yang tergantung dibalik pintu kemudian menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian dia selesai dengan ritual mandinya. Dengan tubuh terbalut handuk Agung masuk ke dalam kamar. Mengejutkan Ruby yang hendak naik ke atas kasur.
“Apa kamu sudah mencoba dressnya?”
“Belum."
“Cobalah, apa itu pas atau tidak.”
“Apa kamu juga membelikan itu untuk peliharaan mami Elis yang baru?”
“Dari mana kamu tahu? Apa kamu mengikutiku?”
“Cih.. apa aku kurang kerjaan harus mengikutimu?”
“Lalu dari mana kamu tahu aku membelikan dress untuk anak baru mami Elis?”
“Aku melihatmu di mall tadi sore.”
“Kamu melihatku tapi tidak menemuiku?”
“Untuk apa? Kamu terlihat sibuk dengan wanita penghibur itu.”
Agung bergerak menghampiri Ruby yang tengah duduk di sisi ranjang. Jantung Ruby berdegup kencang melihat dada Agung yang tak terbungkus apapun. Aroma sabun yang menguar dari tubuh Agung membuat Ruby ingin memeluk dan menghidu aroma itu sepuasnya.
Pertanyaan Agung sukses membuyarkan lamunan Ruby. Tanpa disadari pria itu sudah ada di hadapannya. Agung menundukkan tubuhnya, jantung Ruby semakin berdetak tak karuan. Sebisa mungkin dia mengalihkan matanya dari dada bidang dan sesuatu yang menonjol dibalik handuk yang menutupi pinggang sang suami.
“Untuk apa aku cemburu,” Ruby mengalihkan pandangannya ke samping.
“Baguslah. Malam ini aku harus ke club, mami Elis memintaku mencicipi anak barunya. Sepertinya anak itu masih perlu bimbingan bagaimana memuaskan para tamu.”
Agung membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah lemari. Namun kemudian dia merasakan punggungnya terkena lemparan bantal, pelakunya sudah tentu Ruby. Agung membalikkan tubuhnya kemudian merangsek maju ke arah Ruby. Dengan sekali hentakan, istrinya itu sudah berada di bawah kungkungan.
“Apa maumu hmm..”
“Pergi saja sana. Puaskan dirimu dengan perempuan malam itu, brengsek!”
“Apa kamu merindukanku? Merindukan sentuhanku?”
“Buat apa ak...”
Agung tak membiarkan Ruby menyelesaikan kalimatnya. Dia langsung menyumpal bibir sang istri dengan bibirnya. Awalnya Ruby tak membalas, namun pagutan dan lu**tan Agung benar-benar membuatnya terbuai. Ruby mengalungkan tangannya ke leher Agung dan mulai membalas ciuman pria itu.
“Apa kamu menginginkanku?” tanya Agung setelah mengakhiri ciumannya. Ruby masih diam.
“Katakan kalau kamu menginginkanku,” Agung menciumi leher Ruby, membuat wanita itu mengeluarkan de**hannya.
“Katakan, maka aku tidak akan pergi,” Agung menurunkan tali lingerie Ruby kemudian mengecupi bahunya dengan lembut.
“Aku menginginkanmu.”
Agung kembali menyambar bibir Ruby, ciumannya kini semakin dalam dan menuntut. Agung melepaskan pagutannya sebentar, ditariknya lingerie Ruby lalu membuangnya ke lantai. Dia terkejut melihat tubuh polos sang istri.
“Kamu berencana menggodaku ternyata, dasar rubah betina.”
Agung me**mat bibir Ruby, tangannya bergerak meremat bukit kembar yang terlihat menantangnya. Terdengar de**han Ruby ketika Agung terus mencumbui dirinya, bermain-main dengan bukit kembarnya juga bagian inti dirinya. Tangan Ruby bergerak menarik simpul handuk. Seketika rudal sang suami terpampang nyata di depannya.
Agung tersenyum melihat mata Ruby yang sudah dikuasai kabut gairah. Tanpa menunggu lama, dia melesakkan rudal miliknya ke dalam milik Ruby. Tubuh Ruby menggelinjang merasakan kenikmatan yang diberikan suaminya. Sepanjang malam Agung terus membuatnya mend**ah.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Sudah seminggu lamanya Nina dan Abi pindah ke rumah barunya setelah melalui drama perdebatan antara Abi dengan Rahma. Wanita itu merajuk tak ingin ditinggalkan oleh anak keduanya. Alasannya, Juna juga sudah pindah ke rumahnya sendiri. Teddy hanya geleng-geleng melihat tingkah lebay sang istri. Padahal rumah Abi hanya berjarak lima rumah dari kediamannya. Setelah Abi berjanji akan secepatnya memberikan cucu, barulah Rahma mengijinkannya pindah.
Nina tengah memilih-milih dasi yang akan dikenakan oleh suaminya di walk in closet ketika Abi menghampiri lalu memeluknya dari belakang. Abi meletakkan dagunya di ceruk leher Nina, seraya memberikan kecupan di sana beberapa kali. Nina membalikkan tubuhnya kemudian memasangkan dasi di leher sang suami.
“Selesai, gantengnya suamiku,” Nina menepuk pelan bahu Abi.
Abi mengecup bibir Nina, satu kali, dua kali, tiga kali hingga kemudian dia menarik tengkuk Nina dan memagutnya dengan dalam. Lidah Abi terus bermain-main di rongga mulut Nina. Dia baru melepaskannya ketika Nina memukul-mukul dadanya.
“Mas iih.. mau bunuh aku ya,” ketus Nina dengan nafas tersengal, Abi hanya terkekeh.
“Yang.. ini apa sih?” Abi menunjuk leher Nina.
“Apa? Emang ada apa?” Nina meraba-raba lehernya.
“Bentar-bentar.”
Abi mendekatkan wajahnya, mengamati lebih cermat leher Nina lalu tiba-tiba memberikan sesapan kencang hingga meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Nina memukul lengan Abi. Suaminya ini selalu saja menjahilinya.
“Mas iih.. modus mulu.”
“Tapi kamu suka kan?”
“Udah ayo sarapan.”
Nina menarik lengan Abi keluar dari kamar lalu menuju meja makan. Selama mereka belum mendapatkan asisten rumah tangga, Rahma meminta Dewi dan Ita membantu di rumah Nina. Abi menatap makanan yang tersaji di meja makan. Nasi goreng seafood lengkap dengan telor ceplok plus kerupuk udang sudah siap untuknya. Itu adalah menu sarapan kesukaannya.
“Kamu yang buat sayang?”
“Iya dong.”
Abi menarik kursi lalu duduk di sana. Saat Nina akan duduk, ditariknya tangan sang istri hingga jatuh di pangkuannya.
“Ayo sarapan bareng, mas suapin ya.”
Nina mengangguk seraya mengalungkan tangannya ke leher Abi. mereka memulai sarapannya. Abi menyuapi dirinya juga Nina bergantian hingga nasi di piringnya tandas. Abi memberi minum pada Nina kemudian dia minum juga dari gelas yang sama, tepat di bekas bibir Nina. Dewi dan Ita memilih berada di taman belakang untuk menjemur pakaian. Mereka tak sanggup melihat kemesraan pasutri tersebut.
Nina mengantar Abi sampai ke depan mobil. Diciumnya punggung tangan sang suami yang dibalas dengan kecupan di kening juga bibir. Setelah Abi masuk ke dalam mobil dan menjalankan kendaraannya, barulah Nina masuk ke dalam rumah.
☘️☘️☘️
Baru satu jam Abi tiba di kantor, seorang anak buah utusan Agung yang semalam diminta untuk mengikuti Mano datang menemuinya. Orang itu sudah berhasil mendapatkan foto Mano berikut informasi pribadi tentangnya. Agung memintanya untuk langsung memberikannya pada Abi.
TOK
TOK
TOK
“Masuk!”
Seorang pria jangkung berambut cepak masuk ke dalam ruangan. Abi menggerakkan jarinya, meminta pria itu mendekat.
“Bagaimana? Kamu sudah mendapatkannya?”
“Sudah pak. Ini foto sekaligus informasi tentang Mano.”
Pria itu memberikan amplop coklat pada atasannya itu. Abi membuka amplop kemudian mengeluarkan semua isi di dalamnya. Matanya membelalak melihat foto juga informasi yang diberikan anak buahnya tersebut.
☘️☘️☘️
**Hadeuh pagi² udah dikasih sarapan adegan hareudang Agung-Ruby dan keuwuan Abi-Nina🙈
Kira² siapa sih Mano itu? Abi pasti kenal soalnya kaget banget doi.
HAI² BUAT PECINTA WILD ROMANCE, MOHON MAAF YA KALAU MAMAKE AGAK LAMA LANJUTIN CERITANYA. KELANJUTAN CERITA DOKTER ARKHAN DAN SENA SUDAH BISA KALIAN IKUTI LAGI DI GONOVEL. MAMAKE SUDAH UP SAMPAI ENDING TAPI BARU 5 EPISODE YANG DI UP DI GONOVEL. SELAMAT MENIKMATI KELANJUTAN KISAH MEREKA YA.. YANG PENASARAN DENGAN KISAH NADYA, CUSS LANGSUNG AJA KE SANA**.
__ADS_1