KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Cacing Kremi


__ADS_3

Nina mengelilingi toko yang menjual berbagai perlengkapan rumah. Toko yang sama yang pernah dikunjunginya bersama Abi. Rumah yang dibangun Abi kini dalam tahap penyelesaian akhir dan Nina mulai berburu barang-barang untuk rumah barunya. Seorang pramuniaga membawakannya kursi kemudian memberikan daftar katalog berisikan barang-barang kebutuhan rumah tangga.


Nina duduk seraya melihat-lihat katalog di tangannya. Pramuniaga perempuan yang sedari tadi menemaninya ikut duduk di dekatnya. Dia mulai mencatat barang-barang apa saja yang dipesan oleh nyonya Abimanyu.


Setelah selesai dengan urusan pesan memesan, Nina pun keluar dari toko. Sebelum pulang, dia bermaksud membeli kue untuk sang suami. Saat sedang menunggu lift, dia dikejutkan dengan pelukan di pinggangnya. Orang itu meletakkan dagunya di bahu wanita itu. Dari aroma tubuhnya, Nina tahu kalau bukan suaminya yang melakukan itu. Dengan cepat dia menggerakkan sikutnya hingga mengenai perut orang di belakangnya membuat pelukannya terlepas.


Nina membalikkan tubuhnya dan memandang marah pada pria yang telah berani memeluknya. Dia sama sekali tidak mengenali pria tersebut. Namun pria itu dengan santainya tersenyum lalu berusaha mengusap pipi Nina.


PLAK!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Tindakan Nina cukup mengejutkan orang-orang yang ada di dekatnya. Seorang pengawal yang ditugaskan Beno menjaga Nina bergegas mendekat melihat istri atasannya tengah bersitegang dengan seorang pria.


“Kenapa kamu menamparku sayang? Apa salah kalau aku memeluk kekasihku sendiri?” lelaki di depan Nina memulai dramanya.


“Siapa kamu?!”


“Apa begini balasanmu padaku Nin? Kamu mencampakkanku setelah mendapatkan laki-laki kaya?”


Terdengar kasak-kusuk dari beberapa orang yang melintas. Mereka menghentikan langkahnya demi bisa melihat drama pertengkaran sepasang kekasih. Itulah yang ada di benak mereka.


“Bahkan kamu menyebut anak dalam perutmu adalah anak laki-laki itu. Padahal dia adalah buah cinta kita.”


Nina tertawa sumbang, sepertinya ada orang yang berusaha bermain-main dengannya. Dia mendekati pria di hadapannya lalu berhenti tepat di samping pria itu. Dengan nada penuh tekanan, Nina melancarkan ancamannya.


“Berhenti bermain-main atau aku akan berbuat kasar padamu.”


“Apa yang bisa kamu lakukan padaku huh?”


Baru saja pria itu menyelesaikan kalimatnya, pengawal Nina datang lalu membekuknya. Dia menarik kedua tangan pria pengganggu ke belakang, membuatnya mengeluarkan suara erangan. Orang-orang yang tadi menonton mulai beranjak menjauh.


“Bawa ke toilet. Buat dia bicara siapa yang telah menyuruhnya. Kalau dia tidak mau bicara, patahkan saja semua tulang-tulang di tubuhnya.”


Pengawal itu menganggukkan kepalanya lalu menyeret pria itu ke toilet. Sesampainya di sana, tubuh pria tersebut dihempaskan ke lantai. Pengawal tersebut menggerakkan otot-otot jarinya hingga terdengar suara derakan tulang. Wajahnya menampilkan seringaian yang membuat nyali pembuat onar itu ciut.


Pria itu beringsut mundur sampai punggungnya menyentuh tembok. Sang pengawal terus merangsek maju. Dia mengambil ponsel dari saku celananya. Diambilnya foto pria yang wajahnya sudah memucat sekarang kemudian berjalan mendekat. Dicengkeramnya kaos pria itu sampai tubuhnya berdiri.


“Siapa yang menyuruhmu?” pengawal itu menaruh ponsel di atas wastafel dan menekan tombol merekam.


“Ti.. tidak ada.”


“Jawab dengan benar selagi saya masih bersikap baik. Siapa yang menyuruhmu?”


“Ru.. Ruby. Wanita yang bernama Ruby yang menyuruhku. Dia bilang Nina adalah pelakor yang merebut suaminya. Aku diminta menjebaknya agar suami Ruby meninggalkannya.”


Pengawal itu melepaskan cengkeramannya. Diambilnya ponsel dari atas wastafel lalu bergegas keluar. Dia tak tertarik mencelakai pria itu, yang dibutuhkan hanya pengakuannya saja.


☘️☘️☘️


Dengan langkah panjang Nina memasuki gedung kantor suaminya. Setelah mengetahui siapa yang membayar laki-laki tadi berbuat mesum padanya, Nina bermaksud langsung menemui si pembuat onar, Ruby Rainbow. Kebetulan sekali wanita itu tengah berdiri menunggu lift. Bergegas Nina menghampirinya.


“Ini kantor tempat orang bekerja. Kalau mau bertemu suamimu, tunggu saja di rumah,” sembur Ruby begitu melihat Nina. Bukannya tersinggung, Nina justru menyunggingkan senyumannya.


Bagus.. lo mulai duluan, gue beli. Belum tahu siapa gue ya, dasar ampas kopi.


“Saya ke sini bukan untuk ketemu suami saya. Tapi ketemu sekretaris CEO yang berencana jadi pelakor. Cih.. dasar maling teriak maling. Kayanya kamu salah kerjaan deh, harusnya kamu jadi penulis skenario atau penulis novel.”


“Wow.. kelakuan dan mulut istri CEO ngga bisa disaring ya. Malu-maluin suaminya aja.”


“Tergantung lawan bicaranya. Kalau model perempuan kegatelan kaya kamu, kayanya ngga perlu repot-repot bermulut manis. Karena udah pasti otaknya ndableg dan kupingnya mampet. Jadi ngga mempan kalau harus bersopan santun.”


Ruby menggeram kesal. Kalau sekarang bukan di lingkungan kantor, ingin rasanya menampar pipi Nina.


“Saya peringatkan padamu, berhenti mendekati suami saya. Berhenti membuat drama ngga penting buat menjebak saya. Atau saya akan membalasnya lebih dari yang kamu lakukan. Ini bukan ancaman, tapi peringatan. Kalau kamu lupa, saya ini istri dari Satria Abmanyu Hikmat. Menyingkirkan cacing kremi model kamu bukan hal sulit.”


Ruby semakin geram mendengar penuturan Nina. Sudah tak dapat dikontrolnya lagi emosi yang membuncah di dada. Diangkat tangannya tinggi-tinggi kemudian melayangkannya ke arah wajah Nina. Namun sebelum tangan itu menyentuh pipi mulusnya, Nina sudah lebih dulu menangkap tangan Ruby. Bahkan kini tangan wanita itu dicengkeram erat dan dibalikkan hingga sang empu memekik kesakitan.


“Lepaskan tanganmu!” hardik seorang pria.


Nina melepaskan cekalannya ketika melihat seorang pria bertubuh tegap mendekat ke arahnya. Ruby mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa panas juga nyeri.


“Siapa kamu? Beraninya kamu menyakiti istriku,” seru pria itu yang tak lain adalah Agung.


Agung tentu tahu siapa Nina, tapi demi menjaga identitas dan menumbuhkan kepercayaan Ruby padanya, dia harus berpura-pura tak mengenal Nina dan membela istrinya itu.

__ADS_1


“Istri? Jadi dia suamimu? Heh cacing kremi, kalau kamu sudah bersuami berhenti mengharapkan laki-laki lain dan jalani pernikahan kalian dengan baik.”


Ruby membelalak mendengar penuturan Nina. Sekilas diliriknya Agung yang berdiri di sampingnya. Wajah suaminya itu nampak mengeras. Tapi Ruby justru tak peduli, dia bahkan berharap Agung langsung menceraikannya.


“Apa maksud anda?”


“Istrimu ini adalah sekretaris suamiku. Dan berani-beraninya dia ingin memiliki suamiku dengan cara menjebakku. Hey bung.. jaga dan didik istrimu dengan baik. Perempuan seperti dia tidak boleh diberi kebebasan, kalau perlu ikat tangan dan kakinya supaya tidak macam-macam. Dan kamu.. aku peringatkan sekali lagi, berhenti mengganggu kehidupanku atau aku tidak akan segan-segan berbuat kasar padamu. Camkan itu!”


Nina segera masuk ke dalam lift, meninggalkan pasangan suami istri itu. Mata Ruby terus memandang sengit ke arah Nina sampai pintu lift menutup. Begitu Nina menghilang dari pandangan mereka, Agung langsung mencengkeram lengan Ruby.


“Apa maksud wanita itu hah?”


“Lepas! Aku masih ada kerjaan. Kita bicarakan nanti di rumah.”


Ruby melepaskan diri dari Agung kemudian bergegas masuk ke dalam lift sebelah yang pintunya telah terbuka. Agung hanya berdiri memandangi sang istri yang terhalang penumpang lift lainnya. Otaknya berpikir keras, bagaimana memberikan pelajaran pada istrinya itu.


☘️☘️☘️


Abi memandangi ponsel di tangannya. Sebuah pesan baru saja masuk dari nomor tak dikenal. Matanya terus melihat gambar yang memperlihatkan Nina tengah dipeluk seorang laki-laki. Rahangnya mengeras melihat bagaimana pria itu memeluk perut istrinya dan meletakkan dagu di bahunya.


BRAK!!


Perhatian Abi teralihkan ketika pintu ruangannya dibuka dengan kasar. Nina masuk ke dalam dengan wajah yang tidak bersahabat. Bahkan dia menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan bunyi berdebam. Abi mengernyitkan keningnya melihat sang istri yang terlihat begitu emosional. Nina dengan cepat menghampiri dirinya. Abi memutar kursi kerjanya menghadap pada Nina.


“Mas.. aku mau mas pecat si cacing kremi.”


“Cacing kremi? Siapa?”


“Sekretaris mas, si Ruby Rainbow yang gayanya udah kaya ulet keket.”


Abi hampir saja tergelak, tapi ditahannya melihat wajah sang istri yang sepertinya sedang tak mood untuk bercanda. Nina melirik ponsel yang ada di tangan Abi. Ponsel itu masih menyala dan memperlihatkan gambar dirinya tengah dipeluk seseorang. Dengan cepat Nina mengambil ponsel milik suaminya.


“Mas dapet foto ini dari mana?”


“Harusnya mas yang tanya, siapa laki-laki ini? Berani-beraninya dia meluk kamu dan bergaya seperti ini. Mau mas bikin patah tangannya.”


“Kalau gitu mas patahin aja tangan sekretaris mas. Kalau perlu semua tulang di badannya dipatahin. Karena dia yang udah bayar laki-laki itu buat meluk aku. Cih.. drama murahan, maling teriak maling. Segitu pengennya dia jadi nyonya Abimanyu.”


“Mas pecat dia deh. Ngga baik miara ulet bulu model dia.”


“Ngga bisa sayang.”


“Kenapa ngga bisa?”


“Dia itu adiknya Fahira.”


Mata Nina membelalak. Satu fakta kembali mengejutkannya. Ternyata calon pelakor yang berusaha menjebaknya adalah adik dari Fahira, istri pertama suaminya yang sudah bergelar almarhumah.


“Oh.. jadi karena dia adiknya Fahira, mas ngga bisa pecat dia? Mas masih sayang sama Fahira sampai-sampai masih peduli sama adiknya. Dia itu udah jebak aku mas. Dia ingin merusak rumah tangga kita dan mas masih ingin dia di dekat kita? Aku curiga jangan-jangan mas suka ya sama dia.”


Abi gemas mendengar tuduhan Nina. Dengan cepat ditariknya tubuh sang istri hingga jatuh di pangkuannya. Nina mencoba turun karena masih kesal, tapi dengan cepat Abi melingkarkan tangannya di perut Nina.


“Dengar dulu sayang. Mas ngga bisa pecat Ruby karena mas butuh dia untuk menemukan orang yang telah menjadi dalang kecelakaan mas.”


“Maksudnya?”


Abi mulai menceritakan informasi yang didapatnya baru-baru ini. Kenyataan kalau kecelakaan yang menimpa bukan murni kecelakaan tetapi ada faktor kesengajaan. Dia mengutarakan kecurigaan dirinya pada Ruby hingga memutuskan untuk membuat wanita itu tetap berada di dekatnya agar lebih mudah untuk mengawasinya.


“Apa mas tahu kalau Ruby sudah menikah? Tadi aku bertemu dengan suaminya di bawah.”


“Iya mas tahu. Suaminya itu salah satu anggota keamanan keluarga kita.”


“Loh kok bisa? Mas yang suruh dia nikahin Ruby?”


“Ngga.. dia sendiri yang berinisiatif menikahinya. Sepertiya dia jatuh cinta pada Ruby.”


“Terus kalau si Ruby pengaruhin suaminya buat berbalik melawan mas gimana?”


“Kamu tenang aja ya. Mas percaya sama dia, In Syaa Allah hal itu ngga akan terjadi. Tapi kalau sampai itu terjadi, maka mas harus menyingkirkannya.”


“Aku takut sesuatu terjadi padamu mas.”


“I’ll be okay.”

__ADS_1


Abi mengeratkan pelukannya. Nina menyandarkan kepalanya di dada Abi. Kemudian tangan Abi mulai bergerak mengusap perut Nina.


“Di mana laki-laki tadi menyentuhmu? Apa di sini?” Abi kembali mengusap perut Nina.


“Atau di sini?”


Abi menaruh dagu di bahu Nina kemudian mengecupnya. Namun bukan Abi kalau hanya cukup sampai di situ. Hidungnya mulai menelusuri leher Nina, menghidu sepuasnya aroma sang istri yang sangat disukainya. Tangannya menelusup masuk ke dalam blouse kemudian mengusap perut rata sang istri. Nina tampak kegelian ketika telapak tangan Abi menyentuh kulit perutnya.


“Mas mulai deh..”


“Aku cuma mau hilangin jejak laki-laki tadi di tubuh kamu.”


Abi meraih dagu Nina lalu memagut bibir yang selalu membuatnya merindu. Baru saja dia akan melanjutkan ciuman, sebuah ketukan terdengar di pintu. Tak lama Ruby masuk ke dalam ruangan. Dia cukup terkejut melihat atasannya tengah memeluk sang istri begitu mesra. Kecemburuan seketika menyeruak dalam dadanya. Sambil menahan amarah dia berjalan mendekat kemudian meletakkan berkas-berkas di atas meja.


“Jangan lupa pak, satu jam lagi ada meeting dengan perwakilan dari Malcolm Group. Berkas-berkasnya sudah saya siapkan.”


“Hmm.. kamu selesaikan laporan tender proyek kemarin dan harus selesai sebelum jam kerja berakhir.”


“Tapi pak, saya kan harus mendampingi bapak meeting. Bagaimana kalau Anfa saja yang menyelesaikan laporannya?”


“Di sini atasannya saya apa kamu?”


“Bapak. Maaf pak tapi saya ngga mungkin menyelesaikan laporan dalam waktu satu jam.”


“Kamu punya cukup banyak waktu sampai jam kerja selesai. Anfa yang akan ikut meeting denganku.”


“Tapi pak..”


“Apa kamu tuli?!”


Ruby menundukkan kepalanya mendengar nada suara Abi yang sudah meninggi ditambah wajahnya yang mulai mengeras. Akhirnya wanita itu hanya mengangguk kemudian bergegas keluar. Matanya tak sanggup melihat lebih lama kemesraan Abi dan Nina. Selama berbicara tadi, Ruby melihat tangan Abi tak berhenti mengusap perut Nina.


“Mas.. aku pulang dulu ya.”


Nina turun dari pangkuan Abi, membuat pria itu menggeram tak suka. Nina mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi sang suami. Dia lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Abi.


“Pulangnya jangan terlalu malam ya. Aku tunggu di rumah.”


Nina meniup telinga Abi kemudian memberikan gigitan kecil di cuping telinganya membuat sang empu meremang. Nina mengedipkan matanya kemudian segera keluar dari ruangan. Di saat yang bersamaan Anfa masuk ke dalam ruangan. Abi mengambil ponsel di atas meja kemudian menyambar jas yang tergantung di capstok.


“Fa.. nanti kamu yang bertemu dengan perwakilan dari Malcolm Group.”


“Sendiri pak?”


“Iya.. ingat buat penawaran yang bagus.”


“Tapi pak, gimana kalau saya gagal?”


“Do your best. Kamu harus belajar dengan cepat untuk menggantikan Cakra,” Abi menepuk pundak Anfa kemudian keluar dari ruangan.


Nina sampai di depan lift, di sana dia kembali berpapasan dengan Ruby. Wanita itu menatap Nina dengan sinis. Baru saja dia akan melontarkan kata-kata, Abi sudah datang di antara mereka. Dia langsung memeluk pinggang Nina.


“Mas mau kemana?”


“Pulang bareng kamu.”


“Loh meetingnya gimana?”


“Anfa yang akan handle.”


“Emang bisa?”


“Harus bisa.”


Ruby memalingkan wajahnya ke arah lain. Lagi-lagi dia disuguhkan kemesraan pasangan di depannya. Pintu lift akhirnya terbuka, Nina dan Abi masuk ke dalam. Baru saja Ruby akan masuk, namun Abi menahannya.


“Kamu naik lift sebelah aja. Saya ngga mau kebersamaan saya dengan istri terganggu dengan kehadiranmu.”


Abi memencet tombol tutup dan tak lama pintu lift tertutup. Nina menatap penuh kemenangan ke arah Ruby. Tepat sebelum pintu menutup sempurna, Nina mendaratkan kecupan di bibir Abi. Ruby hanya bisa melihat itu semua dengan hati berdarah-darah.


☘️☘️☘️


Good job Nina. Biasanya istri yg dibuat termehek² sama pelakor. Tapi di sini pelakor yang dibuat nangis guling² sama istri sah🤣

__ADS_1


__ADS_2