KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Audisi


__ADS_3

Abi keluar dari kamar setelah bi Ita mengatakan ada tamu yang mencarinya. Sesampainya di ruang tengah, terlihat kedua sahabatnya tengah duduk santai menunggu kedatangannya. Abi menghampiri lalu duduk di sofa yang berseberangan dengan keduanya.


“Ngapain lo ke sini malem-malem?”


“Kita kangen sama elo Bi.”


“Najong.”


“Maaf.. mau dibuatkan apa mas Jojo sama mas Cakra?” bi Ita menyela pembicaraan mereka.


“Air putih aja bi. Jangan dikasih yang enak-enak tar ketagihan mereka dateng mulu ke sini.”


Ucapan Abi langsung mendapat lemparan bantal sofa dari kedua sahabatnya. Bi Ita terkikik geli melihat interaksik ketiganya. Wanita paruh baya itu bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman.


“Bi... besok temenin gue ke J & J Entertainment ya.”


“Lo jadi kelola tuh PH?”


“Iya, papa buat itu untuk Anka. Dia juga minta gue kelola perusahaan itu.”


“Bagus deh. Di luar semua hal buruk yang udah dia lakuin, dia sayang banget sama elo, Jo. Cukup lo ingat hal baiknya aja, kenangan buruknya dibuang jauh-jauh.”


“Iya Bi. Kalau lo aja bisa maafin gue and bokap. Masa gue ngga bisa maafin bokap.”


“Udah-udah ngga usah melow-melow deh. Mending kita ngegame aja. Udah lama nih kita ngga ngegame.”


Cakra langsung menuju rak televisi kemudian mengeluarkan game console dari dalamnya. Jojo dan Abi ikutan bergabung. Ketiganya sibuk memilih permainan apa yang akan mereka mainkan. Bi Ita datang membawakan minuman dan camilan.


“Lo beli game console baru?”


“Iya. Gue sengaja beli tiga, biar kita bisa main bareng.”


“Hayulah gasskeun..”


Dengan cepat Cakra menyiapkan peralatan. Tak berapa lama ketiganya langsung terhanyut dalam permainan. Sesekali terdengar teriakan, umpatan atau makian dari mulut mereka. Suasana ruang tengah menjadi gaduh dengan karena ulah mereka.


Nina terjaga dari tidurnya ketika merasakan ruang di sebelahnya kosong. Tadi Abi menemaninya tidur tapi kini suaminya tak ada di sisinya. Nina melihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dia beranjak dari ranjang, bermaksud mencari keberadaan sang suami.


Suara gaduh langsung menyapa indra pendengarannya begitu Nina keluar dari kamar. Dia segera mengarahkan kakinya ke sana. Nina memandang kesal pada Abi. Suaminya itu masih asik bermain dengan kedua sahabatnya. Bahkan pria itu tak menyadari kehadiran dirinya.


“Mas..” tegur Nina.


“Eh.. kok bangun sayang?”


“Udah jam berapa ini? Jangan main lagi, ayo tidur.”


“Bentar sayang. Kamu duluan aja nanti mas nyusul,” jawab Abi dengan mata masih mengarah ke layar di depannya.


“Oh ya udah terusin aja mainnya.”


“Makasih sayang.”


“Tidur di luar sekalian!!”


Nina menghentakkan kakinya kemudian berlalu dari ruang tengah. Abi yang terkejut segera menghentikan permaiannya.


“Eh sayang jangan dong. Ayo kita tidur. Woii udahan mainnya, lo besok mau ngantor kan,” ucap Abi pada Jojo.


Tanpa menunggu jawaban, pria itu segera melesat menyusul Nina sebelum sang istri mengunci pintu kamar rapat-rapat. Jojo melongo melihat Abi terlihat panik dan berlalu begitu saja. Dia melihat ke arah Cakra. Sahabatnya itu tengah membereskan peralatan main mereka.


“Dih.. tuh beruang kutub kenapa berubah jadi marmut gitu?”


“Udah gue bilang dia bucin ama Nina. Lagian orang udah nikah mah beda. Istri itu orang paling berkuasa kalau udah nikah. Noh buktinya si Abi. Di kantor mau sadis, kejam kaya gimana juga, pas di rumah hilang semua taringnya.”


“Berarti lo juga gitu kalo udah nikah sama Sekar.”


“Ya ngga lah. Ngga salah maksudnya.”


Cakra tergelak mendengar ucapannya sendiri. Jojo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dia sedikit bergidik membayangkan dirinya akan seperti kedua sahabatnya ketika menikah nanti.


Selesai membereskan peralatan, Cakra mengajak Jojo tidur di kamar tamu yang sudah disiapkan tadi oleh Dewi. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur berukuran king size, disusul oleh Jojo.


“Waktu nikah sama Fahira, si Abi kaya gitu juga?”


“Ngga lah. Fahira itu selalu cuek sama Abi setelah nikah. Boro-boro mesra, ngasih perhatian aja ngga. Dia ngga beda kaya bujangan, apa-apa ngurus sendiri.”


“Semua salah gue. Kalau aja gue ngga nyuruh Fahira nikahin Abi, mungkin Abi ngga bakalan menderita,” sesal Jojo.


“Yakin kalau lo ngga nyuruh, si Fahira ngga bakalan nikahin Abi? Fahira itu perempuan licik, tanpa lo suruh dia pasti bakal tetap nikah sama Abi. Abi itu ATM berjalan buat dia dan ngga bakalan dilepasin gitu aja. BTW lo beneran pernah nidurin Fahira?”


“Iya, beberapa kali tapi sesudah dia nikah sama Abi. Biar gimana pun juga, dia masih pengen bersegel pas nikah sama Abi, kalau ngga, bakal didepak langsung sama Abi. Tapi kalau making out sih sering pas dia masih pacaran sama Abi.”


“Buseet tuh cewek murahan banget.”


“Iya, dan ternyata dia juga pernah tidur bareng sama papa Ronald. Dia tuh terobsesi banget sama elo, Cak. Dia penasaran pengen ngerasain elo,” Jojo terkekeh.


“Najong. Sorry aja, keperjakaan gue cuma buat neng Sekar.”


“Dasar bucin.”


“Biarin. Gue sumpahin lo bakalan bucin sama cewek yang sama sekali bukan kriteria elo tapi bisa bikin lo klepek-klepek.”


“Kampret lo bukannya doain malah nyumpahin yang ngga benar.”

__ADS_1


“Emang gue pikirin.”


Cakra mengambil guling lalu berbalik memunggungi Jojo. Dia memeluk guling dengan erat, membayangkan kalau guling yang dipeluknya adalah Sekar.


☘️☘️☘️


Tiga lelaki tampan sudah duduk manis di ruang makan. Mereka masih menunggu Nina yang masih berada di dapur. Di kehamilan pertamanya ini, Nina memang tidak mengalami morning sick. Dia juga tidak ada masalah dengan aroma makanan, hanya emosinya saja yang tidak stabil. Kadang marah, sedih, bahagia, semua bergantian begitu cepat.


Dengan dibantu Dewi, Nina menyiapkan menu sarapan di atas meja. Abi menarik kursi lalu meminta Nina untuk duduk. Dia tak tega melihat sang istri terus saja bergerak menyiapkan sarapan yang sebenarnya sudah menjadi tanggung jawab bi Ita.


“Udah sayang, kamu diem aja di sini. Kan udah ada bi Ita sama Dewi yang ngerjain semuanya.”


“Kok gitu sih? Aku kan pengen nyiapin makanan untuk suamiku. Emang mas ngga mau makan sarapan buatanku? Ngga suka? Ngga enak ya makanan buatanku?”


Mata Nina sudah berkaca-kaca. Abi jadi kelabakan sendiri, padahal bukan itu maksudnya melarang Nina bekerja. Cakra berusaha menahan senyumnya melihat drama calon orang tua itu. Dia lebih memilih berkirim pesan dengan Sekar. Berbeda dengan Jojo yang hanya menganga melihat perdebatan pasutri di depannya.


“Bukan gitu sayang. Maksudnya mas, biar kamu ngga terlalu capek aja.”


“Cuma nyiapin sarapan ngga bikin aku capek kok. Yang bikin aku capek itu mas, yang kalau main maunya nambah terus.”


Uhuk.. uhuk..


Jojo yang sedang menyesap kopinya langsung tersedak. Cakra sampai mengalihkan pandangannya dari ponsel mendengar ucapan vulgar Nina.


“Emang Abi kalau main gimana Nin? Minta nambah mulu ya,” goda Cakra yang langsung dibalas dengan tatapan horor Abi.


“Pantesan cepet jadinya, nambah mulu ternyata,” timpal Jojo.


“Diem lo pada atau gue sumpel tuh mulut pake terong.”


“Asal jangan terong elo aja Bi bhuahahaha...”


Cakra dan Jojo tergelak, senang rasanya membuat sahabatnya itu tak berkutik. Tapi tawa mereka terhenti ketika melihat wajah sangar Nina.


“DIEM!!! Makan yang bener!!”


Cakra dan Jojo langsung mengatupkan mulutnya. Keduanya mulai menyantap sarapannya tanpa berani berbicara lagi. Abi tersenyum memandang kedua sahabatnya, mulutnya mengucapkan kata tanpa suara mamvus lo.


☘️☘️☘️


Tiga buah mobil berturut-turut berhenti di pelataran parkir gedung berbentuk asimetris. Dari dalamnya keluar tiga orang lelaki berwajah tampan. Ketiganya kompak mengenakan kacamata hitam yang semakin membuat penampilan mereka mempesona. Dengan gaya cool-nya mereka memasuki gedung berlantai tujuh itu.


Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan mereka dengan Ramah. Fandy adalah orang kepercayaan Ronald yang diminta mengelola J & J Entertaiment sampai Jojo siap menempati posisi direktur di rumah produksi tersebut.


“Selamat datang pak Jovan,” Fandy menjabat tangan Jojo.


“Terima kasih pak Fandy.”


“Mari.”


“Selamat pagi pak Fandy.”


“Pagi. Nirmala, kenalkan ini pak Jovan, mulai hari ini pak Jovan yang akan mengisi posisi direktur utama di kantor ini.”


“Pagi pak Jovan. Perkenalkan saya Nirmala, saya sekretaris merangkap asisten bapak di kantor ini,” Nirmala mengulurkan tangannya ke arah Jojo.


“Jovan, panggil saja Jojo,” Jojo membalas uluran tangan Nirmala.


Nirmala melirik ke arah Abi yang masih mengenakan kacamata hitamnya. Dia melayangkan senyuman manis pada calon papa itu namun tak ada reaksi dari Abi. Jojo yang menyadari itu hanya tersenyum tipis.


“Apa agenda kita hari ini?”


“Ada audisi untuk mencari pemeran film yang akan kita garap.”


“Siapa yang akan mengaudisi?”


“Bapak juga pak Fandy.”


“Bukannya sutradara harus ikut juga ya?”


“Kebetulan pak Fandy sutradaranya.”


“Oh begitu. Pak Fandy ngga keberatan kalau kedua teman saya ikut mengaudisi?”


“Silahkan saja, lebih banyak masukan lebih baik.”


“Baiklah. Perkenalkan ini sahabat saya, Abi juga Cakra.”


Fandy menyalami kedua orang pria yang sedari tadi hanya mengikuti Jojo tanpa ikut berbicara. Nirmala dengan semangat bersalaman dengan Cakra juga Abi seraya menyebutkan namanya. Saat bersalaman dengan Abi, wanita itu sengaja menggenggam tangan Abi lebih lama.


“Kamu yang lepaskan atau saya yang patahkan tangan kamu?”


Seru Abi ketika Nirmala tak kunjung melepaskan tangannya. Dengan cepat Nirmala melepaskan genggamannya. Wajahnya memerah menahan malu mendengar ucapan frontal Abi.


“Ma.. maaf pak. Silahkan ikuti saya.”


Nirmala bergegas menuju lift diikuti yang lain. Lift berhenti di lantai 5. Di sana sudah banyak peserta audisi yang semuanya kaum hawa. Mereka terkesima melihat trio tampan melintas di depan mata lalu masuk ke ruang audisi. Nirmala mempersilahkan semua untuk duduk di kursi masing-masing. Wanita itu kemudian memberi aba-aba pada seorang pria yang mengatur jalannya audisi.


“Kita audisi buat peran apa nih?” tanya Jojo.


“Begini pak Jojo. Film yang kita garap itu bergenre horor. Di sini kita mencari pemeran utama wanitanya.”


“Apa judulnya?” sela Abi.

__ADS_1


“Oh My Kunti.”


Cakra dan Jojo tak bisa menahan tawanya mendengar judul film yang disebutkan sang sutradara. Abi mengambil skrip yang berisi naskah film. Dibacanya sinopsis yang terdapat di halaman kedua.


“Yakin mau buat film kaya gini? Cerita soal Maya yang jadi kunti. Siapa juga yang tertarik sama asal muasal kunti. Ngga ada ide yang lebih bagus apa?”


“Tapi film ini udah dapet sponsor utama pak.”


“Bego aja yang sponsorinnya. Atau jangan-jangan ada adegan esek-esek ya di dalamnya.”


“Ng.. ngga pak. Ini film genre horor komedi.”


“Ya udah langsung aja mulai,” titah Abi. Fandy memberi tanda pada Nirmala. Dia langsung mempersilahkan peserta untuk bersiap.


“Ini yang bosnya siapa sih? Kenapa bawelan si Abi dari pada elo,” bisik Cakra.


“Biarin aja. Hitung-hitung hemat energi gue,” Jojo terkekeh.


Peserta pertama masuk. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang sepunggung. Dia mulai memainkan salah satu adegan yang ada di dalam skrip.


“Cantik,” puji Jojo.


“Cantikan bini gue,” sambar Abi.


Peserta kedua masuk. Wajahnya tidak begitu cantik tapi memiliki bentuk tubuh yang aduhai. Jojo bersiul kecil melihat body peserta audisi tersebut.


“So sexy,” ujar Jojo.


“Seksian juga istri gue apalagi kalau lagi di ranjang beuuh ngga ada duanya.”


“Berisik lo!” kesal Jojo.


Satu per satu peserta masuk mempertontonkan kemampuan aktingnya. Namun tak ada satu pun yang menarik di mata Abi. Ada saja kritikan yang keluar dari mulut pria itu membuat Jojo kesal. Fandy juga nampak frustrasi, audisi kali ini lebih berat dengan kehadiran si pemilik mulut bon cabe sebagai salah satu penilai.


Menjelang akhir, masuk peserta audisi yang membuat semua mata terbelalak kecuali Abi. Seorang wanita cantik dengan body aduhai bak gitar Spanyol, mengenakan mini dress press body dengan belahan dada rendah.


Fandy berdehem beberapa kali, dari tempatnya duduk dia bisa melihat belahan dada wanita di depannya. Abi melirik ke arah Cakra dan Jojo yang tak berkedip memandang wanita itu. Dia sedikit menggebrak meja mengejutkan ketiga pria di sampingnya.


“Berani lo lihat dia, gue batalin pernikahan lo,” ancam Abi pada Cakra.


Cakra langsung mengambil skrip di depannya lalu menutupi wajahnya dengan dengan lembaran kertas tersebut. Jojo tak bisa menahan tawanya.


“Siapa namamu?” tanya Fandy.


“Perkenalkan nama saya Syakira,” jawab wanita itu dengan suara yang sengaja dibuat mend**ah.


“Kamu ke sini mau audisi film atau nyanyi dangdut?” sembur Abi.


“Ya audisi film atuh pak,” Syakira mengedipkan matanya ke arah Abi.


“Kamu tahu ngga audisi untuk peran apa?”


“Tahu pak, audisi untuk peran Aissyaaahhh,” kembali suaranya dibuat men**sah.


“Aisyah itu kuntilanak di film ini. Jadi yang harus kamu perlihatkan itu bukan suara men**sah tapi suara tawa kamu yang bikin orang ketakutan. Coba kamu ketawa!”


“Hihihihihi...”


“Kalau kamu ketawa kaya gitu bukan bikin orang takut tapi bikin tiga orang ini nyari tante Lux!”


“Bhuahahaha,” Jojo tak bisa menahan tawanya lagi.


Cakra yang penasaran coba untuk mengintip. Dia menggeser sedikit skrip di tangannya. namun sayang pergerakan tangannya terbaca oleh Abi. Dengan cepat pria itu mendorong skrip hingga menempel ke wajah Cakra.


“Berani ngintip, gue telpon Sekar!”


“Bangke lo, oii lepas gue kaga bisa nafas ini.”


“Ya sudah cukup untuk saat Syakira, silahkan keluar.”


Fandy mempersilahkan Syakira untuk keluar. Dengan berat hati wanita itu keluar dari ruangan. Namun sebelum pergi, dia kembali mengedipkan matanya ke arah Abi seraya memajukan bibirnya seperti tengah mengecup.


“Oii!” panggil Abi.


“Ya maasssshhh.”


“Abis audisi langsung ke apotik terus beli comb*ntrin, kayanya kamu cacingan tuh mata ngedip-ngedip terus.”


“Bhuahahaha...”


Kembali terdengar tawa Jojo. Wajah Syakira memerah menahan malu kemudian bergegas keluar dari ruangan. Fandy hanya dapat menepuk keningnya. Dia mendekat ke arah Jojo lalu berbisik pelan.


“Lain kali kalau audisi jangan ajak pak Abi.”


“Saya juga ngga mau pak, biarpun dibayar ratusan milyar. Mata saya sakit lihat cewek-cewek gayanya udah kaya ulet bulu semua. Mana bajunya kekurangan bahan semua, mending kalau enak dilihat. Jo, gue cabut duluan. Cak, lo masih mau di sini atau nunggu dijemput Sekar?”


“Iya gue balik sekarang, ngancem mulu lo kerjanya. Jo, gue balik ya.”


“Ok thanks bro.”


Jojo mengangkat tangannya. Abi dan Cakra bergegas keluar ruangan. Nirmala tersenyum ke arah keduanya namun tak dilirik sama sekali oleh Abi. Cakra juga berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Mempunyai calon kakak ipar model Abi sungguh sangat berbahaya, Cakra memilih jalur aman saja.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Astaga Abi ngga dimana² tuh mulut bon cabe nyembur terooooss🤣



__ADS_2