
Ponsel Jojo berdering untuk yang ke sekian kalinya. Dengan kesal lelaki itu menyambar ponsel yang ada di atas nakas. Lagi-lagi sang pemanggil adalah Abi, sahabatnya si tukang maksa. Sejak pagi sudah sepuluh kali lelaki itu menghubungi Jojo untuk mengatakan hal yang sama. Dengan kesal Jojo menjawab panggilannya.
“Paan!”
“Galak bener bos.”
“Ganggu mulu lo!”
“Jangan lupa jemput si Pus. Bentar lagi neneknya pulang dari rumah sakit.”
“Iya bawel banget lo. Udah sepuluh kali lo nelpon cuma buat ngomong gini doang.”
“Gue cuma ngingetin aja karena gue ngga mau anak gue ileran karena keinginannya ngga dipenuhi.”
“Gue doain anak lo ileran sebaskom!”
TUT TUT TUT
Panggilan dimatikan sepihak oleh Abi. Jojo melempar ponsel ke kasur dengan kesal. Kemudian beranjak menuju kamar mandi. Harusnya hari Minggu ini, dia beristirahat dengan tenang di apartemennya. Tapi sahabat minim akhlaknya terus menghubungi Jojo meminta pria itu menjemput Adinda dan neneknya dari rumah sakit dengan dalih keinginan istrinya yang tengah mengidam.
Walau tak sepenuhnya percaya kalau apa yang diminta Abi adalah keinginan sang jabang bayi, tapi Jojo tetap melakukannya. Kalau tidak, bisa dipastikan Abi akan terus mengganggunya seharian.
Jojo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Dibukanya lemari yang terletak di dekat kamar mandi. Sejenak Jojo terdiam di depan lemari berbahan kayu jati itu. setelah memilah dan memilih akhirnya pilihannya jatuh pada sweater berbahan wool.
Selesai berpakaian, Jojo mematut diri di depan cermin. Dia mengacak sedikit bagian atas rambutnya kemudian menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Setelah penampilannya dirasa perfect. Pria itu mengambil ponsel dari atas kasur lalu menyambar kunci mobil dari atas nakas.
Honda Civic Jojo keluar dari pelataran parkir apartemennya. Tujuannya adalah rumah sakit yang terletak di dekat pasar Cicadas. Kendaraan roda empat itu terus melaju menyusuri jalan yang tidak terlalu padat di hari libur seperti ini. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di rumah sakit swasta tersebut.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Jojo memasuki gedung rumah sakit. Langkahnya terus menuju ruang tempat perawatan nenek Adinda. Sesampainya di ruangan yang hanya menyediakan kamar kelas 1 dan VIP itu, Jojo mengarahkan kakinya menuju kamar yang terletak di dekat meja perawat.
Jojo terdiam sebentar di depan ruangan. Dia ragu untuk masuk melihat nenek dan cucu tengah berbicara serius. Jojo memilih menunggu di depan kamar sambil mencuri dengar percakapan mereka. Disandarkan punggungnya merapat ke tembok dekat pintu.
“Din.. kamu sebenarnya dapat uang dari mana buat bayar perawatan enin. Ayo jujur sama enin.”
“Dinda dipinjemin teman, enin. Bener, Dinda ngga bohong.”
“Terus kenapa enin harus dirawat di kelas 1? Ini pasti biayanya mahal.”
“Waktu itu kamar kelas tiga sama kelas duanya penuh enin. Terpaksa Dinda masukin ke kelas satu.”
“Ini pasti mahal Din. Gimana kamu bayarnya nanti?”
“Enin tenang aja, bayarnya bisa dicicil kok. Kang Radix baik orangnya.”
“Enin cuma takut kamu dapetin uang dengan cara ngga halal hanya demi enin.”
“Ya Allah enin, Dinda ngga berani. Biar kita hidup susah, tapi jangan sampai menghalalkan segala macam cara buat dapetin uang. Kan enin yang ajarin Dinda gitu.”
“Iya, enin percaya sama kamu. Maafin enin ya selalu nyusahin kamu.”
“Enin jangan bilang gitu. Cuma enin satu-satunya keluarga Dinda sekarang. Enin kan udah ngurus Dinda dari kecil sampai besar.”
Dinda memeluk sang nenek dari pihak bapak yang merupakan keluarga terakhir yang dimilikinya. Sedangkan keluarga dari pihak ibu, sudah tak ada lagi. Mereka menjadi korban gempa bumi Tasik beberapa tahun silam. Sebenarnya Dinda masih mempunyai seorang paman, adik dari bapaknya. Tapi sudah lama pamannya itu memutuskan hubungan dengan nenek juga almarhum bapaknya.
Seorang suster masuk lalu memberitahukan bahwa administrasi kepulangan mereka sudah selesai. Dia juga memberikan sisa obat yang harus diminum di rumah dan surat kontrol dari dokter.
“Enin tunggu di sini ya, Dinda mau cari becak dulu.”
“Biar saya antar.”
Baik enin maupun Dinda terkejut dengan kedatangan Jojo. Dinda terpaku melihat Jojo datang untuk menjemputnya. Enin melihat ke arah Dinda, sorot matanya menanyakan perihal Jojo.
“Enin, inget kan waktu itu Dinda bilang ikut audisi. Nah ini om Jojo, orang yang punya agensi tempat Dinda audisi.”
Jojo mendekat lalu mencium punggung tangan enin. Senyum enin terbit melihat sikap sopan pria di hadapannya. Dinda juga tak percaya melihat Jojo mau mencium punggung tangan neneknya.
“Nak Jojo masih muda, kenapa kamu panggil om.”
__ADS_1
“Hehehe.. udah kebiasaan enin.”
“Ayo nek, kita pulang.”
Jojo membantu enin turun dari bed kemudian menuntun wanita tua itu keluar dari ruangan. Dinda mengikuti keduanya dari belakang seraya menjinjing tas berisi baju. Jojo meminta Dinda dan enin menunggu di depan pintu masuk lobi rumah sakit, sementara dirinya mengambil mobil.
Dinda membukakan pintu belakang lalu membantu sang nenek naik. Selanjutnya dia membuka pintu depan kemudian duduk di kursi sebelah pengemudi. Rasanya tak sopan kalau dia ikut duduk di belakang, Jojo sudah seperti supir taksi online saja.
Jojo memarkirkan kendaraannya di sisi jalan. Dia kembali membantu enin turun dari mobil. Ketiganya memasuki gang, tempat di mana rumah kontrakan Dinda berada. Dinda berbelok ke sebuah rumah kecil tak berpagar kemudian membuka pintunya. Dia masuk ke dalam, disusul oleh Jojo juga enin.
“Maaf ya om, rumahnya kotor dan berantakan. Aku ngga sempat beberes. Silahkan duduk om.”
Dinda membawa enin masuk ke kamar, sementara Jojo mendudukkan diri di kursi rotan yang ada di depan kamar. matanya memandang ke sekeliling. Tak banyak perabot yang ada di rumah ini. Hanya ada sebuah meja makan, yang di atasnya terdapat magic com dan teko air.
Di dinding terpajang foto Dinda beserta kedua orang tuanya, lalu foto bersama neneknya. Di bagian atas terpajang jam dinding yang sudah retak bagian depannya. Kamar di rumah ini juga hanya satu, berarti Dinda tidur berdua dengan sang nenek dalam satu kamar. Sebuah dapur kecil terletak di belakang rumah, dan di pinggirnya terdapat pintu yang diyakini adalah kamar mandi.
“Assalamu’alaikum.”
Perhatian Jojo teralihkan ketika mendengar suara orang mengucapkan salam. Jojo terkejut melihat Radix yang datang. Begitu pula dengan Radix, pemuda itu tak menyangka bertemu Jojo di rumah calon gebetannya.
“Waalaikumsalam,” jawab Jojo dan Dinda bersamaan.
“Eh kang Radix, ayo masuk kang.”
Radix masuk ke dalam rumah dengan menenteng kantong plastik hitam di tangannya. Sebelum duduk, dia menyerahkan kantong plastik pada Dinda.
“Ini Din, aku beliin ayam sama sayuran. Kamu bisa masak kan?”
“Bisa atuh kang. Makasih ya. Aduh aku ngga enak rumah kotor begini, sebentar ya aku bersihin dulu.”
“Eeee... kamu masak aja, biar aku yang nyapu sama ngepel.”
“Beneran kang? Ngga ngerepotin?”
“Ngga. Udah sana masak aja. Masak yang enak ya.”
“Aku yang nyapu, kamu ngepel aja.”
“Beneran kak?”
“Iya.”
Radix menyerahkan sapu pada Jojo. Pria itu mulai menyapu rumah kecil tersebut. Usai menyapu, Jojo menunggu di luar, membiarkan Radix mengepel lantai. Tak butuh waktu lama bagi keduanya membereskan rumah tipe sederhana tersebut. Mereka pun kembali ke tempat duduknya. Tak lama Dinda datang membawakan minuman untuk keduanya.
Setelah menaruh minuman di atas meja, Adinda kembali ke dapur untuk melanjutkan acara masaknya. Jojo menyeruput teh manis hangat yang disuguhkan, begitu pula dengan Radix.
“Dix.. kamu ke depan gih beli buah atau kue gitu.”
Jojo mengambil dompet kemudian mengeluarkan dua lembar seratus ribuan lalu menyerahkannya pada Jojo.
“Beli apa aja ya kak?”
“Terserah kamu lah beliin apa.”
“Ok.”
Radix keluar kemudian menyalakan motornya yang diparkir tak jauh dari rumah Adinda. Tak lama kendaraan roda dua itu keluar dari gang sempit itu. Untuk membunuh kebosanan, Jojo mengambil ponselnya. Dilihatnya terdapat beberapa pesan belum terbaca dari Luna juga Sekar. Jojo menghembuskan nafas kesal, kedua wanita itu terus saja mengganggunya.
Lima belas menit berselang Radix datang dengan membawa dua kantung belanjaan di tangannya. Dia langsung menuju dapur dan memberikannya pada Adinda.
“Ya ampun kang Radix, kenapa repot-repot pakai beli makanan.”
“Bukan aku Din, ini dari kak Jojo.”
“Oh..”
Adinda hanya ber ‘oh’ ria mendengar jawaban Radix. Dia kemudian melanjutkan masaknya. Radix menata kue yang dibelinya di piring kemudian membawanya ke ruang depan. Radix duduk di dekat Jojo setelah meletakkan piring di meja.
__ADS_1
“Dix, bener kamu yang bayarin biaya perawatan neneknya blewah?”
“Ih kak Jojo, nama bagus diganti blewah. Bukan aku bang, aku punya uang dari mana.”
“Terus?”
“Jadi gini. Aku kan malem itu nganterin Dinda pulang. Terus tetangganya bilang enin dibawa ke rumah sakit. Nah enin kan harus dirawat di rumah sakit. Waktu itu kamar kelas 3 sama kelas 2 lagi penuh, akhirnya masuk ke kamar kelas 1. Depositnya kan gede, si Dinda kurang uangnya, akhirnya aku telepon Sekar. Terus kak Abi bilang suruh masukin ke kelas 1 dan semua biayanya kak Abi yang nanggung.”
“Hmm.. bener kan si kunyuk yang bayarin,” gumam Jojo pelan.
“Tapi si blewah tahunya kamu yang bayarin.”
“Hehehe.. iya, nanti juga aku bakalan bilang kak. Terus kak Jojo ngapain di sini?”
“Kepo.”
Radix mendengus kesal mendengarnya. Dia memilih ke dapur untuk membantu Dinda masak. Jojo mengambil kue di piring lalu memakannya. Perutnya memang lapar karena belum sempat sarapan. Asisten yang dipesannya pada Abi juga belum kunjung datang.
Jojo memilih keluar rumah untuk melihat-lihat keadaan di luar. Dia jenuh menunggu sendirian di dalam rumah. Sebenarnya dia bisa saja langsung pergi, tapi tak tahu mengapa, dirinya enggan pergi. Jojo penasaran ingin merasakan masakan buatan Adinda. Matanya melihat ke arah dapur ketika mendengar suara tawa Adinda dan Radix. Hatinya kesal melihat kedekatan mereka berdua.
Setelah menunggu satu jam lebih, akhirnya masakan Adinda selesai. Gadis itu menata makanan di meja depan dibantu oleh Radix. Jojo memandangi makanan di depannya. Ayam goreng, tempe goreng, tumis kangkung, sambal dan lalap tertata rapi di meja. Perutnya berbunyi melihat makanan yang tampak lezat. Untung saja volumenya kecil, kalau tidak mau taruh di mana mukanya.
Adinda masuk ke dalam kamar lalu keluar bersama enin. Didudukkannya enin di samping Jojo, lalu Adinda mengambilkan makanan untuk sang nenek. Enin memilih makan dengan sup ayam yang dikirimkan tetangganya. Adinda mempersilahkan Jojo dan Radix untuk makan.
Jojo cukup kagum dengan kemampuan masak si gadis blewah. Semua rasa masakannya terasa pas di lidahnya. Ayam goreng buatan gadis itu rasanya mirip seperti buatan Anka. Hati Jojo menghangat menikmati hidangan rumahan yang jarang dinikmatinya kini. Dipandanginya Adinda yang tengah makan, sesekali gadis itu menawarkan lauk yang lain pada sang nenek.
Acara makan siang selesai, lagi-lagi Jojo dibuat berdecih melihat Radix yang begitu cekatan membantu Adinda. Dalam hati dia merutuki bocah itu yang terus saja mencari perhatian Adinda. Sedang dirinya hanya dianggap pengharum ruangan saja oleh keduanya. Kesal selalu diabaikan akhirnya Jojo memilih untuk pulang.
Jojo mengendarakan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya masih dongkol melihat kedekatan Radix dengan Adinda. Beberapa kali tangannya memukul setir mobil melampiaskan amarah yang sedari tadi dipendamnya.
Jojo menghentikan kendaraannya di samping lapangan gasibu lalu keluar dari mobil. Dia memilih duduk di pinggir lintasan lari. Diambilnya ponsel dari saku celananya lalu menghubungi Abi. Pada deringan kelima, panggilannya baru dijawab.
“Paan sih gangguin gue aja,” sembur Abi.
“Nyuk.. asisten rumah tangga pesanan gue kapan datengnya? Gue butuh nih.”
“Besok pagi.”
“Tapi harus bisa masak ya.”
“Iya bawel lo. Awas aja kalau kaga diterima, dia lagi butuh duit. Jangan galak-galak sama dia.”
“Eh nyuk, gue ngga kaya elo yang kalo ngomong pedesnya persis kaya cabe setan.”
“Kasih gaji yang gede juga!”
“Sumpah ya udah mau jadi bapak mulut lo bawel banget persis emak-emak kompleks.”
“Awas aja kalau ngga diterima kerja, gue gibeng lo!”
Abi memutuskan panggilan, Jojo mendengus kesal. Sahabatnya itu memang selalu seenak jidatnya saja. Namun diakui kalau Abi adalah tipe orang yang setia kawan dan ringan tangan membantu yang membutuhkan.
☘️☘️☘️
**Sokooorin Jo, enak ngga dianggap pengharum ruangan doang yang cuma bunyi pssstt.. psstt🤣
Gimana ya nasib hubungan cinta segitiga sama sisi ini🤔
Si manis blewah yang lagi jadi rebutan**
Jojo yang dianggap pengharum ruangan
Radix yang siap nikung
__ADS_1