
“Mana kebab pesananku?” tanya Nina begitu Abi keluar dari kamar mandi.
“Kebab?” kening Abi mengernyit.
“Tuh kan mas Abi lupa pesananku. Kan tadi aku udah kirim pesan kalau pulang kerja minta dibeliin kebab.”
Abi terdiam sebentar, rasanya dia tak pernah menerima pesan tersebut. Dengan cepat diambilnya pesan di atas nakas lalu membuka aplikasi whatsapp. Dia menepuk keningnya saat melihat pesan dari Nina dan sialnya dia telah membaca pesan tersebut. Gara-gara acara meeting yang membuatnya naik darah. Dirinya sampai melupakan tugas yang diberikan ibu negara.
“Aduh maaf sayang. Mas lupa,” Abi menangkupkan kedua tangannya.
“Mas Abi mah... aku padahal udah ngebayangin makan kebab. Bela-belain ngga mau makan nasi soalnya kebayang terus kebab.”
“Ya udah mas beli sekarang.”
“Pesen aja!”
“Ok sayang.”
Abi langsung memasuki aplikasi jasa pengantaran makan online lalu memesan kebab untuk istri tercinta. Tak tanggung-tanggung, dia langsung memesan 20 buah kebab dengan varian berbeda.
“Udah sayang, mas udah pesan.”
“Tapi mas harus tetap dihukum karena udah lupa pesenan baby boy.”
Kini Nina memanggil anak dalam perutnya dengan sebutan baby boy. Dua hari lalu dia juga Abi memeriksakan kandungan dan diketahui kalau jenis kelamin anak mereka adalah laki-laki.
“Ya udah apa hukumannya?”
“Bentar.”
Nina bergegas menuju walk in closet. Setelah mengambil dal*man untuk sang suami, dia mengambil baju yang masih terbungkus plastik bening. Nina baru saja membeli pakaian itu tadi siang. Dia menyerahkan dalaman juga pakaian baru pada Abi. Melihat corak dari baju yang diberikan Nina, perasaan Abi mulai tidak enak. Benar saja, pakaian yang diberikan Nina sudah jelas bukan pakaian yang pantas untuknya.
“Sayang, yang bener aja. Masa mas harus pake baju ini sih.”
“Itu hukuman buat mas!”
“Ya masa sampe harus pake daster sih,” Abi merajuk.
“Masih untung aku suruh pake daster di rumah bukan ke kantor. Mau ngga? Kalau ngga, jangan harap ada jatah malam ini!”
Nina membalikkan badannya kemudian menyilangkan kedua tangan di dada. Dalam hati sebenarnya terkikik geli tapi berusaha ditahannya. Sesekali mengerjai suaminya, tidak apalah. Selama ini dia terus yang dikerjai Abi.
Takut mendengar ancaman Nina, Abi pasrah mengikuti keinginan ibu hamil tersebut. Dilepaskan handuk yang melilit di pinggangnya. Setelah mengenakan dal*man, dia memakai daster yang diberikan sang istri. Susah payah daster itu akhirnya masuk juga ke tubuhnya. Dia sedikit merasakan sempit di bagian bahu dan ketiaknya.
“Udah sayang.”
Nina membalikkan tubuhnya. Tawanya hampir meledak melihat sang suami mengenakan daster motif bunga-bunga dengan warna dasar pink. Panjang daster pink hanya beberapa senti di atas lutut. Lalu bagian atasnya lumayan ketat, karena dada bidang dan bahu lebar Abi.
“Ngga usah ketawa!” ketus Abi.
“Ngga.. siapa juga yang ketawa. Aku cuma mau bilang mas tuh imut banget pake daster warna pink hahaha..”
Nina tak bisa menahan tawanya. Abi hanya mendengus kesal, demi jatah malam, dia rela mengubah penampilan seperti emak-emak yang suka mengerubuti tukang sayur keliling. Nina mendekat lalu mencium bibir suaminya yang maju beberapa senti. Abi menahan tengkuk Nina lalu me**matnya dalam.
“Nanti makan malam, mas makan di ruang kerja aja.”
“Kenapa?”
“Ngga usah banyak nanya!”
Abi keluar dari kamarnya untuk menuju ruang kerjanya. Mau taruh di mana mukanya kalau bi Ita dan Dewi melihatnya memakai daster. Saat akan menuju ruang kerja, dia berpapasan dengan Adinda yang baru saja keluar dari kamar.
“Ngga usah ketawa!!” ketus Abi.
Adinda langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, sebisa mungkin menahan tawa yang hendak meledak. Dia terus memandangi Abi yang berjalan dengan gagahnya dalam balutan daster. Setelah pria itu masuk ke ruang kerjanya barulah tawa Adinda meledak. Andai dia punya keberanian, sudah diambilnya foto Abi mengenakan pakaian kebangsaan emak-emak. Sayang, nyalinya tak sebesar itu.
Anfa masuk ke kediaman Abi, malam ini dia harus mendapatkan tanda tangan kakak iparnya, karena besok pagi harus menemui klien. Setelah bertanya pada Adinda, Anfa langsung menuju ruang kerja Abi. Diketuknya pintu kemudian pemuda itu masuk ke dalam ruangan. Nampak Abi tengah berada dibalik meja kerjanya.
“Kak, ini dokumen yang harus kakak tanda tangan.”
“Duduk dulu Fa.”
Anfa mendaratkan bokongnya di sofa, menunggu Abi yang masih mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Sambil menunggu, pemuda itu memilih berkirim pesan pada Rayi. Sepuluh menit berlalu, Abi sudah selesai dengan pekerjaannya. Tak sadar pria itu berdiri lalu berjalan mendekati adik iparnya. Anfa menoleh ke arah Abi, sontak tawanya meledak melihat penampilan pria itu.
“Hahahaha... kak Abi kehabisan baju? Hahahaha..”
Abi yang menyadari kecerobohannya hanya bisa merutuki dirinya dalam hati. Namun bukan Abi namanya kalau mudah dipermalukan. Sebisa mungkin pria itu mempertahankan wajah tanpa ekspresinya kemudian duduk berhadapan dengan Anfa.
“Udah selesai ketawanya?”
“Hahaha... mmmphhh.. maaf kak.. mmpphh,” Anfa berusaha menghentikan tawanya.
“Ini tandanya suami yang sayang istri. Kakak kamu lagi ngidam pengen lihat aku pake daster,” Abi tetap mempertahankan wajah datarnya walau dalam hati merasa malu juga.
“Sayang istri apa takut istri kak hahahaha... peace.. peace kak.”
Anfa mengangkat kedua jarinya saat melihat tatapan horor sang kakak ipar. Dia memilih memberikan berkas yang tadi dibawanya. Abi membaca dengan seksama isi dokumen yang dibaca Anfa kemudian membubuhkan tanda tangan di sana.
“Besok kamu meeting sama mereka?”
“Iya kak.”
__ADS_1
“Ok.. pastiin kamu dapet proyek ini.”
“Siap bos,” Anfa berdiri dari duduknya.
“Kak.. boleh foto bareng ngga?”
“Cari mati kamu??!!”
“Hahaha... ampun bos.”
Anfa terus tertawa saat akan pergi dia baru teringat sesuatu. Dia mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan sesuatu pada ponsel Abi.
“Kak coba dibuka, aku barusan kirim foto sample produk yang kemarin kakak minta.”
Abi bangun dari duduknya lalu menuju meja kerjanya. Dibukanya pesan dari Anfa yang berisikan foto-foto sample produk terbaru mereka. dia terus mengamati foto tersebut sambil menyandarkan pinggangnya ke meja.
“Kak..” Abi mengangkat kepalanya dan
CEKREK
Anfa berhasil mendapatkan foto Abi mengenakan daster. Mata pria itu membulat saat tahu adik iparnya mengambil foto dirinya mengenakan daster. Secepat kilat Anfa keluar dari ruangan kerja sambil tertawa keras. Abi hanya menggeram kesal sambil memikirkan bagaimana caranya mendapatkan foto tersebut.
Nina masuk ke ruang kerja dengan membawakan makan malam untuk sang suami. Diletakkannya nampan di atas meja kemudian menarik lengan Abi untuk duduk di sofa. Wajah Abi nampak kesal.
“Kenapa mas?”
“Barusan si Anfa foto aku lagi pake daster. Awas aja kalau dia berani sebarin foto itu.”
“Hahaha.. ngga bakalan berani dia mas. Paling cuma dijadiin koleksi aja. Kalaupun ada yang tahu, paling juga Rayi.”
“Nah itu dia. Bisa hilang wibawaku kalau si Rayi sampai lihat fotoku pake daster.”
“Mas mau pake jas, kaos, kemeja, kimono, daster atau kebaya sekali pun, orang-orang tetap aja segan sama mas. Ngga sadar apa, wajah mas yang tanpa ekspresi sama omongan mas yang kaya bon cabe level 10 udah cukup bikin orang ketakutan ngga peduli outfit yang mas pakai.”
“Ada satu orang yang ngga takut sama aku. Malah aku selalu dibuat takut sama dia.”
“Siapa?”
“Kamu.”
Abi meraih dagu Nina lalu me**mat sebentar bibir seksi yang tak pernah bosan untuk diciumnya. Bibir Nina adalah vitamin yang mampu menambah semangatnya bekerja dan mengembalikan moodnya di saat lelah.
“Makan dulu mas.”
“Suapin.”
Nina mengambil piring. Abi mendudukkan sang istri di pangkuannya. Kemudian pria itu mulai makan suapan demi suapan yang diberikan Nina. Tak butuh waktu lama, makanan di piring tandas juga. Nina memberikan gelas berisikan air putih lalu diteguknya habis air tersebut.
“Ini tinggal naruh berkas ini aja. Bentar ya.”
Abi menurunkan Nina dari pangkuannya kemudian mengambil berkas dari atas meja. Karena tidak hati-hati, berkas di atas meja jatuh berhamburan. Abi berjongkok untuk memunguti kertas-kertas tersebut, tiba-tiba
BREETT
“Hahahaha..”
Tawa Nina meledak melihat daster yang dikenakan Abi robek saat pria itu berjongkok. Jahitan di kedua sisi daster robek sampai ke pangkal paha. Abi berdiri kemudian menaruh berkas di atas meja. Tawa Nina terhenti begitu melihat paha kekar Abi dibalik dasternya yang sobek. Wanita itu menelan ludahnya kelat. Abi berjalan mendekati sang istri.
“Kenapa hmm?”
“Mas Abi.. so sexy,” lirih Nina sambil menggigit bibir.
Demi apapun, suara lirih Nina dan gerakannya saat menggigit bibir langsung memicu hasrat Abi. langsung saja digendongnya tubuh Nina ala bridal style lalu membawanya keluar ruangan. Nina mengalungkan kedua tangannya di leher Abi kemudian me**mat bibir suaminya itu.
Adinda menghentikan langkahnya saat akan masuk ke kamarnya ketika melihat Abi tengah berdiri di depan kamar sambil menggendong Nina. Tangan Nina membuka pintu kamar, sedang bibirnya masih menaut pada bibir Abi. Keduanya langsung masuk ke kamar ketika pintu terbuka.
Adinda meraba dadanya yang berdebar saat melihat siaran langsung pertautan bibir. Biasanya dia hanya melihat adegan itu di drakor saja. ternyata sensasi melihat langsung dengan menyaksikan melalui layar kaca sangat berbeda. Dia jadi penasaran bagaimana rasanya berciuman.
Adinda menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran mesum yang tiba-tiba melintas dalam benaknya. Buru-buru gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Belum hilang debaran di dadanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Orang yang melakukan panggilan semakin membuat jantungnya berdegup kencang. Jari Adinda mengusap tombol hijau di layar ponselnya.
“Ha.. halo.”
“Halo. Kamu kenapa? Kok suaranya aneh.”
“Ehem!! Ngga apa-apa om.”
“Bener?”
“Iya.”
Di tengah pembicaraannya dengan Jojo, Adinda kembali teringat saat pria itu mengecup bibirnya beberapa malam lalu. Kemudian dia membayangkan jika Jojo menciumnya seperti Abi mencium Nina. Tanpa sadar gadis itu mendesis dan tertangkap oleh Jojo.
“Kamu kenapa sih? Sakit?”
“Ngga om. Abis lihat yang bikin kaget aja.”
“Lihat apa?”
“Mmhh.. lihat penampakan om.”
“Ngga ada apa-apa di rumah Abi. Kamu salah lihat kali. Jangan lupa baca doa sebelum tidur ya.”
__ADS_1
“Iya om.”
“Muh.. besok bisa anter makan siang untukku ngga?”
“Bisa om. Om mau makan apa nanti aku buatin.”
“Apa aja yang kamu buat pasti aku makan. Ya udah kamu tidur ya, mimpi indah sayang.”
“Iya om.”
Jojo mengakhiri panggilannya. Adinda menghembuskan nafas panjang kemudian menaruh ponselnya di atas nakas. Gadis itu merangkak naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya. Saat Adinda memejamkan mata, adegan Abi dan Nina kembali terbayang kemudian berganti dengan kejadian saat Jojo mengecup bibirnya. Gadis itu mengerang frustrasi, pikiran kotor terus saja mengkontaminasi otaknya.
☘️☘️☘️
Adinda memasuki gedung J & J Entertainment dengan sebuah tas berisi kotak bekal di tangannya. sang resepsionis menundukkan kepalanya pada gadis itu tanda hormat. Hidup Adinda tak ubah layaknya roller coaster. Kemarin dia berada di bawah, kini berada di puncak. Siapa yang menyangka gadis yatim piatu yang hanya tamatan SMA dan hidup serba kekurangan, sekarang menjadi calon istri Direktur Utama rumah produksi yang tengah naik daun.
Adinda keluar dari lift yang membawanya ke lantai tujuh. Lantai di mana kantor calon suaminya alias Jojo berada. Lagi dan lagi Adinda bertemu dengan Syakira. Gadis itu tak habis pikir, senang sekali wanita yang gaya bicaranya sering membuat para lelaki basah itu nongkrong di dekat ruang kerja Jojo. Melihat kedatangan Adinda, Syakira berdiri dari duduknya lalu menghalangi jalan gadis tersebut.
“Khaammuuhh kenaapaahh syiihhh syelaaluuhh dhateengh keeh syiniihh?”
“Syukaa-syukaa syayaahh doong thanteehhh,” Adinda mengikuti gaya bicara Syakira.
“Iiihhh kenaapaahh khaammuuhh ngikhutiinh gaayaah syayahh bicaaraahh?”
“Lataahh thanteehh.”
Adinda sengaja mendekatkan tubuhnya sambil menghembuskan nafas saat menyebut kata tante, membuat Syakira mundur ke belakang seraya menutup hidungnya.
“Khammuuhh enggaaahh boleehhh dhekeeth-dheekeeth syamaah maasshhh Jooohkuuhh.”
“Emaangh syituuhh syiapaahhnyaahh?”
“EHEM!!!”
Baru saja Syakira akan membuka mulut, terdengar deheman keras dari arah belakang yang mengejutkannya. Dia menolehkan kepalanya, terlihat Jojo sudah berdiri di belakangnya. Pria itu menatapnya tanpa ekspresi dengan kedua tangan terselip di saku celananya.
“Jangan ganggu Dinda, Syaki. Dia itu calon istri saya. Ayo sayang.”
Jojo merangkul pinggang Adinda lalu membawanya masuk ke ruangan. Syakira menatap tak percaya pada kedua orang tersebut. Beberapa kali dia mengorek telinganya. Berharap apa yang didengarnya itu salah. Syakira berjalan menghampiri Nirmala.
“Nhir, ituuhh bheenerr chaloonnyaahh maasshh Jooohhh?”
“Bener Syaki. Namanya Dinda, sebentar lagi pak Jojo mau nikah sama dia. Kamu mending berhenti berharap aja deh.”
“Maasshhh Jooohh jahaaaath.”
“Eh kamu bukannya ada syuting hari ini?”
“Ohhh emmhhh jiiiihhh, Syaakiihh luphaahhh.”
Syakira bergegas pergi meninggalkan Nirmala. Gara-gara Adinda, dia lupa kalau dua jam lagi akan syuting film perdananya, The Spooky House yang akan dibintangi oleh Gurit juga Radix. Nirmala hanya menggelengkan kepalanya saja. Berbicara dengan Syakira kadang membuatnya sesak nafas.
Sementara itu di dalam ruangan, Jojo tengah memperhatikan Adinda yang sedang menata makanan di meja. Nasi, ayam rica-rica, tumis buncis udang dan tempe mendoan sudah tersedia di meja. Air liur Jojo hampir menetes mencium aroma makanan yang dibawa calon istrinya.
“Ayo om makan.”
“Kamu juga makan.”
“Iya om.”
“Makan berdua maksudnya, Muh. Satu tempat aja.”
Jojo mengambil tempat nasi kemudian memasukkan lauk ke dalamnya. Diambilnya sendok, kemudian mulai menyuapkan makanan bergantian dengan Adinda. Sepanjang acara makan, wajah Adinda tak henti bersemu merah. Apalagi ketika Jojo membersihkan sudut bibirnya yang terkena bumbu rica-rica dengan ibu jarinya.
Selesai makan siang, Jojo tak memperbolehkan Adinda pulang. Dia meminta gadis itu menemaninya sampai jam kerja usai. Sudah tiga hari lamanya dia tak bertemu dengan Adinda karena kesibukannya di kantor. Terlebih Abi melarangnya menemui Adinda di atas jam sembilan malam. Abi sudah seperti Satpol PP saja. Entah Jojo harus merasa bersyukur atau merasa sial telah menitipkan calon istrinya pada sahabat somplaknya itu.
“Muh.. kemarin kamu lihat penampakan apa?”
☘️☘️☘️
**Segini dulu ya, mamake mau ngajak anak² berenang dulu, mumpung libur.
Yg kangen Abi sama Nina, nih mamake kasih lagi visualnya. Sayang ngga punya visual Abi pake daster🤣**
**Mamake kasih juga visual yang lagi terlibat cinta segitiga😂
Muh**
Jojo
Syakiraaahhhh
__ADS_1