KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Serangan Fajar


__ADS_3

Sekar dengan cepat melipat mukena setelah melakukan shalat shubuh berjamaah bersama Cakra. Dia ingin kembali tidur karena baru tidur dua jam saja. semalaman matanya tak mau terpejam saking gugupnya tidur satu ranjang dengan Cakra. Hal yang sama terjadi pada Cakra. pria itu juga tak bisa tertidur karena menahan hasratnya.


Baru saja Sekar naik ke atas kasur ketika terdengar suara bel di pintu. Gadis itu beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu. Nampak Juna dan nadia berdiri di depan pintu kamarnya.


“Eh kak Juna, kak Nadia, ada apa?”


Mendengar Sekar menyebut Juna dan Nadia, Cakra yang tengah duduk di sofa segera menghampiri. Kedua pasangan di depannya nampak sudah siap seperti hendak pergi.


“Kakak berangkat dulu ya.”


“Loh kok shubuh berangkatnya? Aku kira pagi.”


“Nanti sore mendadak ada meeting di sana.”


“Tungguin aku mau ikut nganter.”


“Ngga usah.”


Langkah Sekar terhenti ketika mendengar suara Abi. Kakak keduanya itu datang bersama dengan Nina.


“Udah kamu ngga usah ikut. Sana tidur, mata bantal kaya gitu,” lanjut Abi.


“Iya Se, kamu tidur aja sana,” Juna mengusak puncak kepala sang adik.


“Makasih ya kak Juna, udah mau gantiin bang Cakra.”


“Iya, sekalian kakak mau bulan madu lagi,” Juna merangkul pinggang Nadia.


Sekar mendekati Nadia lalu memeluknya kemudian menghampiri Juna. Dipeluknya erat sang kakak yang bersedia mengalah demi dirinya.


“Udah sana tidur,” Abi mendorong Sekar masuk ke dalam kamar.


“Kak Juna jangan lupa kalau sampe di sana kasih kabar,” ujar Sekar seraya masuk ke dalam kamar.


Cakra mendekati Juna lalu menyalaminya. Rasa terima kasih juga disampaikan pria itu. Seharusnya pergi ke Jepang adalah tanggung jawabnya tapi Juna bersedia menggantikannya.


“Bang.. belum belah duren ya,” celetuk Nina.


“Kamu tahu dari mana Yang?” tanya Abi.


“Itu rambutnya Sekar ngga basah.”


“Dasar lo mah dari dulu ngga gercep. Sono jebol gawang dulu.”


Abi membalikkan tubuh Cakra kemudian menendang mendorong bokong sahabatnya itu dengan kakinya sampai masuk ke dalam kamar.


“Bangke! Dasar kakak ipar ngga ada akhlak!”


Abi terkekeh kemudian menutup pintu kamar. Juna tergelak melihat interaksi dua orang tersebut kemudian merangkul bahu Nadia menuju lift diikuti Abi dan Nina dari belakang.


Cakra mengusap-usap bokongnya yang terkena tendangan Abi. Sambil komat-kamit tak jelas, dia menuju ranjang kemudian berbaring di samping Sekar yang tidur membelakangi dirinya. Cakra memeluk sang istri dari belakang.


“Se...”


“Hmm..”


“Udah tidur?”


“Kenapa bang?”


“Se.. boleh ya? Abang udah ngga kuat.”


Sekar terdiam, dia tahu kemana arah pembicaraan sang suami. Seketika rasa kantuknya hilang mendengar permintaan suaminya. Dada Sekar berdebar kencang, tangannya meremat seprai dengan erat. Ingin rasanya mengatakan tidak namun sebagai seorang istri sudah kewajibannya memenuhi keinginan sang suami.


Tak kunjung mendapat jawaban dari Sekar, Cakra menganggap itu sebagai penolakan. Dia melepaskan pelukannya kemudian beranjak dari tidurnya. Pria itu memilih pergi ke fitness center untuk mengalihkan libidonya. Sekar membalikkan tubuhnya, matanya melihat Cakra yang tengah membuka lemari kemudian mengambil pakaian dari dalamnya.


“Abang mau kemana?”


“Abang mau fitnes. Kamu tidur aja,” jawab Cakra tanpa melihat ke arah istrinya.

__ADS_1


Sekar menggigit bibirnya, ada perasaan menyesal menyeruak dalam hatinya. Dipejamkannya mata, berusaha menguatkan diri dan menyingkirkan ketakutannya. Sambil mengepalkan tangan erat-erat, gadis itu kembali bersuara.


“Ayo bang, aku siap.”


Cakra membalikkan tubuhnya kemudian melihat ke arah sang istri. Dia hanya tersenyum tipis melihat kegugupan dan keraguan Sekar.


“Ngga apa-apa Se.. kalau kamu belum siap, abang ngga akan menuntut.”


Cakra berlalu masuk ke kamar mandi. Perasaan Sekar semakin tak tenang. Berulang kali dia merutuki dirinya yang telah membuat sang suami kecewa. Dia beranjak dari kasur lalu berdiri di depan pintu kamar mandi. Setelah menarik nafas panjang, Sekar membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Cakra yang tengah berganti baju terkejut dibuatnya.


“Abaa...” suara Sekar terhenti begitu saja.


“Aaaaaa!!!”


Gadis itu berteriak seraya menutup wajah dengan kedua tangannya. Cakra yang juga terkejut refleks menutupi tubuh bagian bawahnya yang hanya terbalut segitiga pengaman.


“Se.. kamu ngapain masuk ke sini? Kebelet?”


“Ngga... abang jangan pergi,” jawab Sekar dengan masih menutupi wajahnya.


Cakra tersenyum meihat tingkah sang istri. Dia kemudian berjalan mendekat lalu melepaskan tangan Sekar yang menutupi wajahnya. Wajah Sekar merona melihat dada bidang sang suami tepat berada di depannya. Jantungnya langsung berdetak tak karuan.


“Terus kalau abang ngga boleh pergi, mau ngapain?”


“Ya tidur.”


“Cuma tidur aja atau sambil goyang-goyang?”


“Terserah abang.”


Cakra memeluk pinggang Sekar membuat tubuh mereka merapat. Sekar bertambah gugup, apalagi saat merasakan bagian bawah sang suami yang menegang menyentuh perutnya.


Cakra menundukkan kepalanya lalu mulai menelusuri leher Sekar dengan bibirnya. Tubuh Sekar seperti tersengat aliran listrik. Tanpa dapat terkontrol, sebuah de**han lolos dari bibirnya saat Cakra menyesap kencang leher putih itu hingga meninggalkan bercak kemerahan.


Bibir Cakra kembali naik ke atas lalu menyambar bibir Sekar. Pria itu me**mat bibir Sekar dengan tergesa dan menuntut. Tangannya bergerak mengangkat tubuh sang istri kemudian membawanya keluar dari kamar mandi. Perlahan dibaringkannya tubuh ramping itu di atas kasur.


Tangannya menelusup ke balik punggung Sekar kemudian melepaskan pengait kain berenda yang membalut gundukan padat yang sedari tadi mengganggu penglihatannya. Hasrat Cakra semakin tak terkendali saat melihat dua bukit kembar yang terlihat menantangnya. Tanpa menunggu lama, dil**atnya bulatan kenyal itu, membuat tubuh sang empu menggelinjang.


Tangan Sekar meremat rambut Cakra ketika suaminya itu memperdalam ku**man di bukit kembarnya. De**han dan lenguhan terus keluar dari bibirnya membuat Cakra semakin terbakar gairah. Kemudian pria itu beralih ke area bawah. Dengan sekali tarik, dilepaskan celana yang dikenakan Sekar berikut da**mannya.


Sekar semakin dibuat tak karuan saat Cakra bermain di area bawahnya. Mencium, menyesap dan menj*lat area intimnya hingga dirinya sampai di pelepasan pertamanya. Mata sayu Sekar memandang ke arah Cakra yang tengah melepaskan kain terakhir yang membalut tubuhnya.


Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain ketika melihat benda pusaka sang suami yang telah menegang sempurna. Cakra merangkak naik ke atas tubuh istrinya kemudian memulai lagi cumbuannya. Saat Sekar sudah kembali terbuai, perlahan dia memasukkan miliknya ke gua lembab sang istri.


Sekar memekik ketika merasakan benda tumpul menerobos masuk merobek miliknya. Terasa ada sesuatu yang mengalir dari bagian bawahnya. Dia menggigit bibirnya menahan rasa sakit sekaligus perih. Buliran bening mengalir dari sudut matanya. Ibu jari Cakra mengusap buliran bening tersebut.


“Sakit abang hiks.. hiks..”


“Tahan ya sayang, sebentar aja.”


Sekar mengangguk, Cakra kembali memagut bibir sang istri. Kali ini ciumannya begitu lembut hingga membuat Sekar terlena. Tangan Sekar melingkar di leher Cakra. Setelah dirasa sang istri sudah sedikit rileks, pria itu mulai menggerakkan tubuhnya.


Di saat banyak orang masih berlindung di bawah gelungan selimut, dua anak manusia yang baru saja dipersatukan dalam ikatan suci tengah mereguk nikmat dunia. Udara dingin yang menyelimuti kota Bandung tak menyurutkan niat mereka untuk terus bergelung dalam kenikmatan.


Sekar semakin erat menautkan jemarinya ke jari-jari Cakra saat gelombang hangat menghantam dirinya untuk kali ketiga. Cakra semakin mempercepat gerakannya. Pria itu sudah hampir sampai ke ujungnya. Deru nafasnya semakin kencang saat tubuhnya terus bergerak di atas sang istri. Tak lama terdengar geramannya saat dirinya berhasil meraih kepuasannya. Cairan hangat miliknya menerobos masuk dan memenuhi rahim sang istri.


Cakra terdiam sebentar kemudian menggulingkan tubuhnya ke sisi kanan istrinya. sekar terkulai lemas dengan peluh membasahi keningnya. Cakra menarik pinggangnya hingga tubuh keduanya tak berjarak. Ciuman bertubi diberikan Cakra pada wajah sang istri.


“Terima kasih sayang. I love you.. love you so much.”


Sekar memandangi wajah sang suami dengan sorot mata penuh cinta yang tak tersampaikan secara lisan. Kaki Cakra menarik selimut di bawahnya, kemudian tangannya mulai menutupi tubuh mereka yang polos. Sambil memeluk erat sang istri, pria itu mulai memejamkan matanya. Kini dia bisa tidur dengan lelap, setelah berhasil menuntaskan hasratnya yang tertunda sejak semalam.


☘️☘️☘️


Matahari telah bergerak menjauh dari ufuk timur. Sinarnya yang terang menerobos masuk melalui sela-sela jendela. Kelopak mata Sekar bergerak kemudian perlahan membuka. Matanya memicing, melihat ke arah jendela. Dari balik gorden dia bisa melihat hari sudah terang. Tangannya meraba ponsel yang ada di nakas. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Berarti hampir empat jam lamanya mereka tertidur.


Sekar menoleh pada lelaki di sampingnya yang masih tertidur pulas. Selimut yang tadi menutupi seluruh tubuh kini telah turun dan hanya menutupi bagian bawah tubuh mereka. Wajah Sekar merona mengingat pergulatan panas dirinya dengan sang suami shubuh tadi.


Dipandanginya wajah Cakra yang tampan. Matanya masih setia terpejam, deru nafasnya pun terdengar teratur, pertanda suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Jemari Sekar bergerak menelusuri wajah sang suami. Mata Cakra bergerak-gerak saat merasakan sesuatu mengusik tidurnya.

__ADS_1


Sekar terus menggerakkan jarinya menelusuri bagian wajah lelaki di hadapannya. Dimulai dari alis turun ke hidung hingga bibir. Cakra yang merasa terusik akhirya membuka matanya. Wajah cantik sang istri langsung tertangkap oleh kedua matanya.


CUP


Sebuah kecupan mendarat di bibir Sekar. Cakra menelusupkan kepalanya ke dada Sekar sedang tangannya memeluk erat pinggang ramping sang istri. Sekar meletakkan dagunya di puncak kepala sang suami, dengan jari-jari tangan memainkan rambut hitamnya.


“Jam berapa sayang?” tanya Cakra dengan suara serak khas bangun tidur.


“Setengah sepuluh.”


“Hmm... lama juga ya kita tidur.”


“Capek.”


“Tapi enakkan?”


Sekar tersipu malu mendapat godaan dari sang suami. Cakra terus merapatkan tubuh mereka hingga tak berjarak. Bibirnya kembali menciumi dada sang istri yang berada tepat di depan wajahnya. Dia terus menduselkan kepalanya ke bukit kembar Sekar.


“Bang..”


“Hmm..”


“Ini kenapa bangun lagi?”


Sekar merasakan benda pusaka suaminya kembali menegang dan menusuk-nusuk pahanya. Cakra tak menjawab, dia malah asik menikmati bukit kembar yang kini telah menjadi candu untuknya.


“Abaaang...”


Suara Sekar terdengar sedikit men**sah ketika merasakan rasa geli bercampur nikmat yang diberikan oleh suaminya. Sekar mendongakkan kepalanya.


“Se.. lagi ya.”


“Masih sakit bang.”


“Yang sekarang ngga akan sesakit tadi. Lagi ya, abang masih pengen.”


Sekar mengangguk pasrah. Segurat senyum tercetak di wajah Cakra. Dengan cepat dilahapnya gunung kembar di hadapannya. Tangannya pun mulai sibuk bergerilya di seluruh tubuh sang istri.


Saat merasakan Sekar sudah kembali terpancing dengan semua sentuhannya, dengan cepat Cakra naik ke atas tubuh sang istri. Mata Sekar terpejam ketika milik Cakra kembali memasukinya. Pinggul Cakra mulai bergoyang maju mundur memberikan kenikmatan pada wanita di bawahnya.


Kali ini Cakra memilih bermain cepat. Dia tak ingin membuat istrinya keletihan. Sekar memeluk erat punggung Cakra yang lembab ketika merasakan miliknya berkedut. Tak lama kemudian dia berhasil mendapatkan pelepasannya. Bersamaan dengan itu, Cakra pun sampai ke puncaknya.


“Mandi bareng yuk Se..”


“Ngga mau.”


“Kenapa?”


“Malu.”


“Ngapain malu? Abang udah lihat semua yang ada di badan kamu. Ini.. ini.. ini..” Cakra menunjuk bagian-bagian tubuh sang istri, membuat wajahnya merona.


Tanpa menunggu jawaban Sekar, Cakra bangun lalu menggendong tubuh langsing itu. Sekar menutup wajah dengan kedua tangannya karena malu. Pelan-pelan diturunkan sang istri di atas kloset. Cakra mengisi bath tub dengan air hangat kemudian menambahkan sabun cair ke dalamnya.


Cakra kembali menghampiri Sekar kemudian mengangkatnya lalu mendudukkan di dalam bath tub. Cakra masuk lalu duduk di belakang istrinya. Bergantian mereka saling menyabuni tubuh masing-masing. Tak tahan melihat kemolekan tubuh sang istri, Cakra kembali menerkam istrinya. Lagi-lagi Sekar dibuat men**sah dan melenguh oleh perbuatan suaminya. Sepasang pengantin baru itu mendayung nirwana untuk kesekian kalinya.


☘️☘️☘️


**Gasspoll bang Cak..🏃🏃🏃


Makasih ya buat semua komennya, lope² sekebon Pete buat kalian semua.


Numpang promo ya, sambil nunggu lanjutan kisah ini, mampir yuk ke cerita mamake yg lain. Genre Romance Comedy juga yg tokohnya ngga kalah Gesrek sama di sini. Ceritanya udah tamat jadi ngga akan penasaran**.



Kalau mau baca genre yang beda, silahkan baca karya baru mamake. Karya ini up di akun sebelah tapi masih di NT, nama akunnya D'Adrianz atau klik aja judul novelnya.


__ADS_1


__ADS_2