KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Melted


__ADS_3

“Ayo.”


Ajakan Kenzie menarik kembali kesadaran Nara. Bergegas gadis itu melepaskan seat belt kemudian turun dari mobil. Gadis itu baru sadar kalau ternyata Kenzie mengajaknya ke mall, bukan kembali ke kantor. Dengan langkah panjang, Nara menyusul Kenzie yang sudah lebih dulu berjalan. Saat sampai di dalam gedung, pintu lift terbuka, keduanya langsung memasuki kotak besi tersebut.


“Kita ngapain ke sini pak?”


“Beli cincin pernikahan. Ini bukan di kantor dan bukan urusan pekerjaan, berhenti panggil pak.”


“Iya mas.”


TING


Pintu lift terbuka, Nara memilih keluar lebih dulu. Gadis itu terjengit ketika Kenzie menggandeng tangannya. Pria itu menyilangkan tangannya ke tangan Nara seraya menautkan jari kemari mereka. Nara memandangi tangannya yang digenggam oleh Kenzie, persis seperti adegan di drama Korea yang sering ditontonnya.


Kenzie mengajak Nara masuk ke sebuah toko yang menjual perhiasan. Toko dengan brand ternama itu, menjual aneka perhiasan dengan kualitas super. Kedatangan mereka disambut oleh salah seorang pelayan.


“Siang bapak.. ibu.. ada yang bisa dibantu?”


“Kami mencari cincin pernikahan,” jawab Kenzie.


“Mari pak.”


Pelayan itu membawa Kenzie memasuki ruangan lain yang letaknya di bagian dalam toko. Kemudian dia mengeluarkan beberapa koleksi terbarunya. Sesekali pelayan tersebut melirik ke arah Kenzie juga Nara. Sungguh penampilan mereka terlihat timpang.


Kenzie terlihat tampan dan gagah dalam balutan jas hitamnya. Sedangkan Nara terlihat biasa saja bahkan jauh dari kata modis. Pakaian gombrang, kaca mata dan rambut kuncir kuda membuatnya terlihat seperti gadis cupu. Ditambah wajah Nara hanya dipoles bedak dan lipstik yang sudah hampir hilang warnanya.


“Ada yang salah dengan penampilan calon istri saya?”


“Eh.. ng.. ngga pak. Apa ada yang ibu sukai?”


Pelayan itu nampak gugup atas teguran Kenzie. Nara hanya tersenyum tipis. Dia terus meyakinkan hatinya, kalau apa yang dilakukan Kenzie hanyalah rasa iba semata. Kenzie merangkul bahu Nara seraya menunjuk beberapa cincin yang dirasa sesuai untuk Nara. Namun gadis itu terus saja menggeleng.


“Nanti saja kami kembali lagi. Sepertinya calon istri saya masih bingung.”


“Oh iya pak.”


“Saya mau ambil pesanan saja.”


Kenzie mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sebuah nota. Pelayan itu mengambil nota dari tangan Kenzie. Bergegas wanita tersebut mengambilkan pesanan Kenzie. Tak lama dia kembali dengan sebuah paper bag kecil di tangannya.


“Silahkan diperiksa dulu pak, barangnya.”


Sekilas Nara melirik kotak perhiasan yang dibuka Kenzie. Di dalamnya terdapat kalung dengan liontin berbentuk dua buah hati saling menaut. Kenzie menutup kembali kotak lalu memasukkannya kembali ke dalam paper bag. Sambil menggandeng Nara, pria itu keluar dari toko.


“Untuk hantaran pernikahan sudah semua?”


“Sudah mas.”


“Masih ada yang mau dibeli?”


“Ngga, udah cukup.”


“Kamu mau nonton ngga?”


“Hmm.. boleh mas.”


Keduanya lalu menuju bioskop yang ada di lantai atas. Kenzie membiarkan Nara memilih film yang akan ditonton. Gadis itu memilih film dari negeri ginseng, sebuah film bergenre drama.


Sepanjang film diputar Nara terus saja menangis. Konflik dan alur film tersebut seakan merepresentasi perasaannya saat ini. Tak ada komentar Kenzie sedikit pun, dia membiarkan Nara menikmati film dengan sedu sedannya sampai tayangan berakhir.


☘️☘️☘️


Kendaraan Kenzie berhenti di depan kediaman Jojo. Kenzie melepas sabuk pengamannya. Dia masih menunggu Nara turun, namun gadis itu masih bertahan di tempatnya. Tangan Nara mencengkeram erat tali seat belt yang masih terpasang di tubuhnya. Selama perjalanan tadi, dia terus meyakinkan hatinya. Malam ini juga, dia harus mengakhiri semuanya.


“Bang..”


Terdengar suara Nara memecah kesunyian. Kenzie menolehkan kepalanya saat mendengar panggilan Nara sudah berubah seperti semula. Namun masih belum ada komentar keluar dari mulutnya.


“Terima kasih untuk hari ini. Aku.. bahagia,” tak ada jawaban dari Kenzie. Nara meneruskan ucapannya.


“Aku tahu bang, kalau pernikahan kita sudah direncanakan oleh papaku juga om Abi. Aku berterima kasih karena abang bersedia menerima perjodohan ini. Mau menerima diriku dan semua kekuranganku. Aku bahagia.. benar-benar bahagia. Tapi aku sadar bang, kalau aku ngga boleh egois. Aku ngga bisa berbahagia di atas penderitaan orang lain. Aku ngga mau abang menerima perjodohan ini karena keterpaksaan atau karena rasa iba. Terima kasih sudah jadi bagian hidupku walau sesaat. Dan sekarang aku membebaskan abang dari perjodohan ini. Silahkan abang lanjutkan hidup abang, menikahlah dengan wanita yang abang cintai. Aku akan selalu mendoakan kebahagian abang. Sekali lagi terima kasih.”


Sebisa mungkin Nara menahan airmata yang hendak keluar. Kata-kata yang barusan keluar dari mulutnya seperti ribuan anak panah yang berbalik menghujam dirinya. Nara sadar kalau sudah jatuh cinta pada Kenzie dan itu yang membuat hatinya bertambah sakit. Melepaskan pria yang dicintai ternyata tak semudah yang dipikirkan. Tangan Nara bergerak melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya. Baru saja dia akan membuka pintu, tiba-tiba Kenzie menarik tubuhnya.


Nara terkesiap ketika Kenzie mencium bibirnya. Dia berusaha melepaskan diri, namun Kenzie menahan tengkuknya. Pria itu memagut pelan bibir Nara. Ini adalah ciuman pertamanya, Kenzie hanya mengikuti instingnya saja. Mata Nara terpejam merasai ciuman lembut Kenzie. Buliran air merembes dari kedua matanya. Setelah beberapa saat Kenzie mengakhiri ciumannya.


“Aku memang bukan orang yang romantis. Aku ngga tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaanku padamu. Tapi satu yang harus kamu tahu, aku menerima perjodohan ini bukan karena kasihan atau memenuhi keinginan orang tuaku. Aku menerimanya karena dirimu. Karena aku sudah jatuh cinta padamu, Nara.”


Perasaan Nara langsung tak karuan. Pria di depannya ini baru saja mengakui perasaannya. Netranya terus memandangi Kenzie yang jaraknya hanya beberapa senti saja darinya. Jangan ditanya bagaimana degup jantungnya saat ini. Mungkin letaknya sudah sedikit bergeser saking kencangnya berdetak.


“Abang mencintaiku?”


“Mas.. panggil aku mas.”


Kenzie kembali membenamkan bibirnya di bibir ranum Nara. Bibir yang belum pernah tersentuh orang lain. Dan dia adalah pria pertama yang melakukannya. Kali ini Kenzie mulai me**mat bibir calon istrinya. Mata Nara kembali terpejam dan mulai menikmati pertautan bibir mereka. Sedikit demi sedikit dia membalas ciuman Kenzie. Tangannya bergerak memeluk leher sang kekasih hati.


Kenzie menyesap bibir bawah Nara kemudian melepaskannya perlahan. Tangannya bergerak mengusap sisa saliva di bibir Nara. Mata gadis itu terbuka saat ciuman mereka berakhir. Kenzie menjauhkan tubuhnya kemudian meraih paper bag berisi kotak perhiasan. Dia mengambil kalung dari dalamnya kemudian memakaikannya di leher Nara.


“Kamu suka?”


“Hmm.. kalungnya cantik,” Nara memainkan dua buah liontin hati yang tergantung.


“Secantik yang memakainya. Dua hati ini adalah milikmu dan milikku.”

__ADS_1


“Terima kasih mas.”


Nara mencium pipi Kenzie. Semburat merah di wajahnya langsung terlihat. Dengan ibu jarinya, Kenzie mengusap pipi Nara yang memerah.


“Ayo turun.”


Kenzie membuka pintu mobil lalu turun dari dalamnya. Begitu pula dengan Nara. Sambil bergandengan tangan, keduanya masuk ke dalam rumah. Jojo dan Adinda yang sedang berada di ruang tengah terkejut sekaligus senang melihat mereka datang sambil bergandengan tangan.


Karena malu, Nara berusaha melepaskan tangannya dari Kenzie. Namun pria itu malah semakin mengeratkan genggamannya. Adinda tersenyum tipis melihat wajah sang anak yang memerah. Gadis itu tak berani mengangkat kepalanya di hadapan kedua orang tuanya. Sedangkan Kenzie terlihat santai.


“Baru pulang? Habis dari mana?” tanya Jojo basa-basi.


“Cari-cari cincin pernikahan om.”


“Ck.. om lagi. Papa..” tegas Jojo.


“Iya papajo,” jawab Kenzie. Jojo tergelak mendengar panggilan Kenzie untuknya.


“Ra.. kalau kamu manggil papa Abi apa?”


“Ya papa.”


“Nanti ketuker. Coba tiru cara Ken. Dia manggil papa, papajo. Nah kamu manggil papa Abi, papabe.”


“Papabi kali pa.”


“Papabe alias papa bon cabe hahaha..”


Kenzie menggelengkan kepalanya, namun tak ayal dia ikut tersenyum juga. Julukan bon cabe memang begitu melekat pada diri sang papa. Bahkan kini gelar bon cabe juga turun padanya dengan menambah kata junior di belakangnya. Berbeda dengan Kenan yang mendapat julukan kompor mledug.


“Pa.. aku boleh ke kamar Nara?”


“Boleh.. tapi pintu kamarnya tetap dibuka lebar ya.”


“Sip. Pa.”


Kenzie menarik Nara menuju tangga kemudian menapakinya satu per satu. Dirinya sudah seperti tuan rumah saja. Dilara yang sedari tadi menunggu sang kakak, bermaksud menghampiri begitu tahu orang yang ditunggunya sudah pulang. Tapi seketika dia membatalkan niatnya begitu melihat Kenzie ikut bersama Nara.


Nara membuka pintu kamar lebar-lebar seperti amanat sang papa kemudian mempersilahkan Kenzie untuk masuk. Pria itu mendudukkan diri di sisi ranjang. Kemudian pandangannya tertuju pada kotak berwarna coklat di atas nakas. Tangan Kenzie bergerak membuka penutup kotak tersebut. Nampak di dalamnya terdapat tujuh buah coklat yang hampir semuanya berbentuk hati.


“Ini coklat dari siapa?”


“Dari Nan. Kemarin dia kasih coklat itu, katanya dari mas. Makanya aku telpon, eh ternyata Nan yang beli.”


“Ra.. mana hp kamu?”


“Mau ngapain?”


Nara merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Kemudian benda pipih itu diberikannya pada Kenzie setelah membuka kunci layar. Jari Kenzie langsung membuka kontak telepon di ponsel. Kemudian dia melihat-lihat siapa saja yang ada di daftar kontak calon istrinya itu. Keningnya berkerut ketika melihat ada lima kontak dengan nama laki-laki yang tak dikenalnya.


“Ini no siapa aja?” Kenzie menunjuk kelima nomor tersebut.


“Ooh.. ini mang Diman, kang baso tahu langganan aku. Ini pak Teguh, manager bengkel langgananku. Kalau ini Irfan, dia pengamen jalanan, aku suka kasih sumbangan ke panti asuhan tempat dia dulu tinggal. Aku suka kasihnya lewat dia kalau ngga sempet ke panti. Yang ini pak Degan, klien kita yang dari Magelang itu loh. Ini Putra, karyawan Metro East juga.”


“Ini ngapain kamu pake save nomer pak Degan sama Putra?”


“Pak Degan yang minta. Putra juga, emang kenapa?”


Tanpa menjawab pertanyaan Nara, Kenzie langsung menghapus dua nomor tersebut. Nara hanya melongo saja melihatnya. Pria itu lalu memasukkan nomor Duta ke ponsel Nara. Setelah yakin tak ada lagi nomor kontak laki-laki yang tak dikenalnya, Kenzie mengembalikan ponsel pada Nara.


“Mulai sekarang jangan sembarangan kasih nomor hp kamu. Kalau ada klien kita yang minta nomor kamu, kasih aja nomornya Duta, ngerti?”


“Duta itu siapa?”


“Duta itu salah satu anggota tim keamanan. Sekarang tugas utama dia adalah menjaga kamu.”


“Ish aku udah kaya artis atau pejabat aja pake bodyguard segala.”


“Ra.. kamu sekarang adalah calon istriku. Sebentar lagi kita akan menikah. Akan banyak nanti orang yang mungkin berusaha mencelakaimu atau mencoba mengambil keuntungan darimu. Aku ngga mau kasus Alisha terulang lagi. Sejak aku melamarmu, sejak saat itu juga kamu adalah prioritasku. Aku ngga akan membiarkan orang lain menyakitimu, baik secara fisik atau verbal.”


Mata Nara berkaca-kaca mendengar ucapan calon suaminya. Ternyata Kenzie begitu peduli dan menyayanginya. Hampir saja dia melakukan kesalahan, melepaskan pria ini dari hidupnya.


“Kalau ada orang yang menyakiti atau mengganggumu, bilang saja.”


“Iya mas.”


“Kalau ada yang mengganjal di hatimu, atau ada yang membuatmu sedih, datang padaku. Jangan menangis diam-diam lagi.”


Nara yang tak bisa menahan rasa haru langsung menghambur dalam pelukan Kenzie. Airmatanya mengalir, bukan tangis kesedihan melainkan tangis bahagia. Kenzie mengusap pelan punggung Nara.


“Aku sadar kadang aku ngga peka dengan perasaanmu. Dan aku juga bukan Tuhan yang bisa tahu isi hatimu tanpa kamu mengatakannya. Mulai sekarang ayo kita mulai perbaiki hubungan ini. Aku akan mencoba lebih mengerti perasaanmu dan kamu jangan memendam semuanya sendirian. Ada aku di sampingmu sekarang. Aku akan melakukan apapun semampuku untuk membuatmu bahagia. Dan jangan dengarkan ucapan orang lain yang ngga menyukaimu. Mereka hanya iri, karena kamu lebih baik dari mereka. Jangan ambil pusing penilaian orang tentang hubungan kita. Bagiku kamu adalah wanita sempurna. Percaya saja padaku, oke. Aku mencintaimu.”


Hanya anggukan yang dapat Nara berikan. Tenggorakannya serasa tercekat, hatinya penuh sesak dengan kebahagiaan. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Beberapa kali Kenzie mendaratkan kecupan di puncak kepala Nara. Hatinya lega bisa mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, seperti nasehat sang mama, perasaan cinta tak hanya ditunjukkan dengan sikap saja tapi perlu ditegaskan dengan kata-kata.


Selain dengan sang mama, semalam Abi juga mengajaknya berbicara. Seperti biasa, papanya itu selalu mengajaknya ke rumah pohon jika ingin bicara serius berdua saja. Pembicaraan bukan antara ayah dan anak, melainkan sebagai sesama lelaki. Banyak hal yang dibicarakan kedua pria itu. Abi banyak memberinya nasehat seputar hubungan pria dan wanita. Bagaimana cara memahami wanita yang lebih banyak berpikir dengan perasaan. Berkat kedua orang tuanya, Kenzie mulai mengerti bagaimana berhadapan dengan wanita, terutama wanita yang dicintainya.


Kenzie mengurai pelukannya. Jarinya bergerak mengusap sisa airmata di wajah Nara. Walau ada airmata yang mengalir, namun wajah Nara menunjukkan kebahagiaan, bukan kesedihan. Kenzie mencium kening Nara, dilanjut dengan mencium kedua mata, kemudian turun ke pipi, hidung dan dagu. Terakhir Kenzie memberikan kecupan lembut di bibir.


“Aku pulang dulu. Jangan menangis lagi. Mulai besok, kita akan berangkat dan pulang kerja bersama. Dan satu lagi, kamu ngga perlu berdandan seperti Betty La Fea lagi. Jadilah dirimu sendiri, calon istriku yang cantik, Naraya Ofelia.”


Senyum Nara terbit mendengar kata-kata Kenzie. Gadis itu menganggukkan kepalanya. Kenzie bangun dari duduknya kemudian mengambil coklat pemberian Kenan dari atas Nakas lalu membawanya.


“Loh mas, itu coklatnya mau dibawa ke mana?”

__ADS_1


“Aku mau bawa pulang.”


“Kok dibawa pulang? Itukan dikasih Nan buat aku.”


“Nanti aku beliin coklat lain buat kamu. Mulai besok kamu ngga boleh terima apapun dari laki-laki lain, termasuk Nan!”


Sebelum Nara memprotes, Kenzie segera keluar dari kamar. Di dekat pintu kamar Nara, nampak Barra yang hendak pergi. Sahabat Kenzie itu hanya cengar-cengir saja begitu terpergok tengah menguping pembicaraan. Dia mengkuti langkah Kenzie menuruni anak tangga.


“Sejak kapan lo kepo,” sindir Kenzie.


“Siapa yang kepo?”


“Heleh, ngeles aja lo. Lo tadi nguping kan?”


“Bukannya nguping. Tapi pas gue lewat ngga sengaja gue denger suara-suara yang sedikit aneh gitu. Ya, gue penasaran dong. Suaranya kaya sahabat durjana gue yang kalo ngomong kaya petasan tapi kok ini ngomongnya adem banget ya, panjang kali lebar lagi.”


Sebuah kekehan keluar dari mulut Barra saat Kenzie menoyor kepalanya. Sejenak pembicaraan keduanya terhenti ketika Kenzie berpamitan pada Jojo juga Adinda. Barra terus saja mengikuti Kenzie sampai di depan mobil.


“Ken.. thanks ya. Gue tau perasaan lo tulus sama Nara. Gue titip Nara ya, gue harap lo bisa bikin dia bahagia dan selalu tersenyum.”


Tak ada jawaban dari Kenzie, pria itu hanya mengacungkan jempolnya saja. Karena merasa sudah terlalu banyak bicara tadi, jadi dia segera mengaktifkan mode silent saat berhadapan dengan sahabatnya itu. Kalau ditanggapi, bisa-bisa Barra akan terus merepet seperti emak-emak kompleks yang tengah bergosip. Sebelum masuk ke mobilnya, Kenzie memberikan kotak berisi coklat pada Barra.


“Nih buat lo, biar ngga galon.”


“Galon kenapa?”


“Si Toza mau dateng ke Indonesia.”


“Toza? Toza mantannya Hanna maksud lo? Kapan? Woii Ken, jangan pergi. KEN!!”


Tanpa mempedulikan teriakan Barra, Kenzie masuk ke dalam mobilnya. Barra bergegas menyusul ke pintu pengemudi. Dia menggedor-gedor kaca jendela, tapi Kenzie tetap tak mempedulikannya. Dengan santai dia melajukan kendaraan, meninggalkan Barra dengan sejuta rasa penasaran dan kegondokan.


“KEN!! Dasar kampret!! Adek ipar duhakim!! Naga kutub!! Ubur-ubur beracun!!”


Berbagai julukan dan umpatan keluar dari mulut Barra seiring dengan kendaraan Kenzie yang terus melaju. Dari kaca spion, pria itu melirik Barra yang masih bertahan di tempatnya tadi. Segurat senyuman tipis menghiasi wajahnya. Dijamin malam ini, Barra tidak akan bisa tidur nyenyak.


Lima belas menit berselang, Kenzie sudah sampai di rumahnya. Ternyata orang tua dan kedua adiknya masih berkumpul di ruang tengah. Kenzie pun melangkahkan kakinya ke sana. Setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya, dia menghempaskan bokong di samping adik laki-lakinya.


“Nan.. lo kemarin beliin Nara coklat?”


“Iya.”


“Ngapain?”


“Dih.. malah nanya. Ya biar kak Nara ngga sedihlah abis keracunan chiki balls expired.”


“Ngga usah ikut campur!”


“Wah dasar kakak ngga ada akhlaknya nih. Udah untung punya adek berbudi pekerti luhur, rajin menabung, murah senyum, idaman banyak cewek. Bukannya bilang makasih kek, ngasih bonus kek. Ini malah disembur, emangnya gue pasien mbah dukun.”


“Gue ngga butuh ya. Tanpa bantuan lo, gue bisa ngatasin sendiri.”


“Hmmppphhh huahahahaa.... kaga percaya!! Eh bang, kalo gue ngga ngadu ke mama sama papa, ngga mungkin lo dapet mata kuliah hubungan pria dan wanita dari mereka. Heran deh gue, tinggal bilang makasih susah banget, malah ngegas. Cemburu ama gue nih kayanya. Ya, gue paham sih kalau gue tuh ganteng maksimal dan punya daya tarik lebih buat bikin para cewek klepek-klepek. Tapi gue masih waras kali, masa iya gue mau nikung calon kakak sendiri. Emang segitu ngga lakunya gue.”


“Emang!!” jawab Kenzie dan Freya bersamaan.


“Kompak banget ya. Lihatin aja nih. Besok-besok jangan kaget kalo ada kontainer berhenti di depan rumah. Isinya cewek-cewek yang mau ngantri audisi jadi bini gue. Mama, papa ama abang yang jadi jurinya. Kalo kak Frey bagian pendaftaran ajalah.”


Kepala Kenan langsung terdorong ke depan ketika Freya menoyornya dari belakang. Nina dan Abi hanya tertawa saja melihat tingkah konyol ketiga anaknya. Jika sedang berkumpul bersama, drama seperti ini kerap terjadi. Dan sang pembuat onar, siapa lagi kalau bukan Kenan.


“Hilih paling tuh kontainer isinya ART kompleks sini doang,” ledek Freya.


“Sama pasukan berjakun yang suka mangkal di lampu merah, temen-temennya si Nancy,” lanjut Kenzie.


"Yang dandanannya cetar membahana itu kan. Pake bulu mata anti gempa plus minyak nyong-nyong."


"Iya, yang nonjol atas bawah. Kesukaan si kompor mledug hahaha.."


Tawa Abi dan Nina langsung pecah. Kolaborasi apik Kenzie dan Freya berhasil mengalahkan si kompor mledug. Sambil mendengus kesal, Kenan lebih dulu meninggalkan ruang tengah. Dia tidak akan menang jika berdebat dengan duet naga kutub dan kakak perempuannya yang ucapannya tidak kalah pedas dari cabe setan.


☘️☘️☘️


**Yakin dah mamake, readers yg dari kemarin ngarep Ken nyosor Nara langsung jingkrak² kegirangan🤣


Besok masih ada aksi naga kutub lainnya yang ngga kalah uwu. Yang nunggu kisah Frey dan Ravin, sabar, bentar lagi nongol. Mereka masih ngantri sembako🤣


Banyak² istighfar biar ngga rorombeheun gara² penasaran🤭😂


Rorombeheun itu artinya telapak kaki pecah²🤣 Cung yang pernah ngalamin🙋


Yang minta lagi visual anak² papa Abi sama mama Nina. Nih mamake kasih lagi.


Ken si naga kutub**



Freya yang gesrek



Nan si kompor mledug


__ADS_1


__ADS_2