
“Puas kamu, Nya udah bikin Hanna salah paham? Kamu tahu sendiri kalau bang Barra lagi deketin Hanna,” sembur Irvin.
“Biasa aja kali bang, ngga usah ngegas.”
Dengan kesal Anya pergi meninggalkan Irvin. Matanya berkeliling mencari lelaki yang tadi sudah mengejutkannya. Tepat di dekat meja resepsionis, sudut mata Anya menangkap pria itu sambil menatap tajam ke arahnya. Refleks Anya memegang liontin kalungnya lalu berlari keluar gedung, mencari keberadaan Barra dan Hanna.
Sementara itu, Barra terus mengejar Hanna yang kembali ke mobilnya. Belum sempat Hanna masuk ke mobil, tangan Barra berhasil menutup kembali pintu yang sudah terbuka. Anya yang kebetulan sudah sampai di parkiran bergegas menghampiri calon kekasih itu.
“Han.. kamu mau kemana?” tanya Barra.
“Aku mau balik ke kantor.”
“Kamu marah sama aku?”
“Ngga.”
“Bohong, kalau ngga marah kenapa kamu pergi lagi? Aku bisa jelasin soal cewek yang tadi.”
“Ngga usah bang. Ngga ada urusannya sama aku. Kamu mau dekat dengan siapa aja itu hak kamu.”
“Tapi Han…”
“Bang Barra!”
Belum selesai Barra mengucapkan kalimat, terdengar suara Anya memanggilnya. Melihat Anya berjalan ke arahnya, Hanna bertambah kesal. Dia bermaksud masuk ke dalam mobil, namun Barra kembali menghalangi.
“Kak Hanna!”
Hanna terkejut saat wanita yang berdandan menor dengan pakaian seksi dan bukit kembar seperti buah melon memanggil namanya. Anya sampai di depan Hanna dan Barra. Untuk beberapa saat dia mencoba menetralkan nafasnya yang terengah karena berlari dari dalam gedung sampai tempat parkir.
“Kak Hanna.. marah ya sama aku?”
“Kamu siapa? Ngga usah sok akrab.”
“Ya ampun kak, ini aku.”
Anya melepas wignya seraya mendekatkan wajahnya ke arah Hanna. Hanna sedikit memundurkan tubuhnya, tapi kemudian dia terpingkal setelah mengetahui wanita aneh di depannya adalah Anya.
“Anya..”
“Iya ini aku.”
“Kamu ngapain dandan kaya gini?”
“Aku lagi ikut audisi.”
“Audisi jadi apaan?”
“Jadi temennya Nancy,” celetuk Barra.
Anya menyebikkan bibirnya ke arah Barra. Hanna masih belum berhenti tertawa melihat dandanan Anya yang sudah seperti tante-tante kurang belaian. Tapi dia jadi malu sendiri karena telah salah menduga.
“Kak Hanna kenapa tadi main kabur aja? Cemburu ya? Cie… cemburu.. cemburu kan tandanya eceng,” Anya menyenggol bahu Hanna dengan bahunya, membuat wajah gadis itu merona. Diam-diam Barra mengulum senyum, hatinya senang Hanna cemburu padanya.
Dari arah kanan, Irvin datang menyusul. Anya yang masih kesal pada pria itu, memalingkan wajahnya ke arah lain. Melihat senyum Hanna, Irvin bersyukur, berarti kesalahpahaman tadi sudah usai. Dia lalu melihat pada Anya yang masih membuang wajahnya ke arah lain.
Hanna menjauh sedikit saat ponselnya bordering. Sebuah panggilan dari Trisno, pelatih tim voli yang dibentuk Anfa. Setelah berbicara sebentar, Hanna mengakhiri panggilan kemudian kembali ke tempatnya semula.
“Bang, aku pergi dulu ya. Aku harus ke GOR sekarang.”
“Eh perkenalan tim voli, ya,” seru Anya.
“Iya. Kamu mau ikut?”
“Mau dong.”
“Aku juga ikut. Vin, kamu yang handle sisa audisi ya.”
Tanpa menunggu jawaban Irvin, Barra segera naik ke mobil Hanna lalu duduk di kursi pengemudi. Begitu pula dengan Anya, gadis itu segera berlari menuju mobilnya yang terparkir tak terlalu dari milik Hanna. Tak lama terlihat kendaraannya bergerak mengikuti mobil Hanna dari belakang.
☘️☘️☘️
Dua puluh menit kemudian dua buah mobil berturut-turut memasuki area parkir Ocean Sport Center. Sport center ini dibangun oleh Ocean Corporatian dan kerap dijadikan tempat untuk menggelar kejuaran olahraga skala nasional dan internasional, seperti bulu tangkis, basket, voli, atletik dan renang. Setelah memarkirkan kendaraan, Hanna, Barra dan juga Anya bergegas menuju hall yang ada di gedung paling ujung.
“Nya, kamu ngga ganti baju?” tegur Hanna.
“Ngga ah, tar aja. Ngomong-ngomong pipi ada ngga?”
“Adalah.”
“Asik aku mau godain pipi ah..”
“Han.. kita ngga usah deket-deket dia. Bikin malu, dandanan kaya ondel-ondel gitu,” seru Barra yang disusul gelak tawa Hanna. Anya hanya mencebikkan bibirnya ke arah Barra.
Hanna, Barra dan Anya masuk ke dalam ruangan. Semua mata langsung tertuju pada mereka, lebih kepada Anya tepatnya. Beberapa orang yang hadir sebisa mungkin menahan tawanya melihat seorang perempuan berdandan menor dengan dua bulatan sebesar melon di bagian depan.
Terlihat Anfa tengah berbicara dengan sang pelatih. Dengan langkah cepat Anya menuju Anfa. Tanpa mempedulikan tatapan aneh Trisno, Anya mengalungkan tangannya ke lengan Anfa.
“Om.. miss you muaaacchhh..”
Anfa terjengit saat seorang perempuan berdandan menor mencium pipinya. Hampir saja dia mendorong tubuh perempuan itu, kalau tak segera menyadari itu adalah keponakannya yang super jahil.
“Anya.. kamu ngapain dandan kaya si Nancy?”
“Ish.. ngga bang Barra, pipi, semua bilang aku kaya Nancy. Aku tuh cantik tauuuu.”
“Cantik dari mana? Serem iya,” Anfa terkekeh.
“Om.. minta uang dong om.. atau beliin aku hp baru juga boleh,” Anya kumat lagi. Dia menggelayut manja di lengan Anfa sambil mengedip-ngedipkan matanya. Membuat Anfa tak bisa berhenti tertawa.
“Iih.. om malah ketawa. Beliin hp baru ya om, aku kan aaaawww…”
Anya menjerit ketika telinganya dijewer seseorang. Gadis itu sontak menolehkan kepalanya ke arah sang pelaku penjeweran. Seketika tatapan mautnya berubah menjadi cengiran, begitu melihat Cakra yang melakukannya.
“Eh ada papi. Bye papi.. aku pulang dulu ya.”
Belum jauh beranjak, tubuh Anya kembali tertarik ke belakang ketika Cakra menarik leher dress sang anak. Kemudian dengan cepat pria itu membawa anak gadisnya keluar. Dengan gerakan tangan, dia juga meminta Hanna ikut dengannya. Cakra menghentikan langkahnya di depan toilet.
“Han.. bantuin Anya bersihin mukanya. Terus suruh ganti baju!”
“Aduh aku ngga bawa remover, pi. Make up-nya tebel banget, susah hapusnya kalau ngga pake remover.”
“Pake sikat wc aja!” kesal Cakra.
“Papi jahat, emang aku kloset apa.”
“Mami kamu bisa jantungan lihat dandanan kamu yang kaya ondel-ondel. Pokoknya gimana caranya bersihin mukanya, Han.”
“Di mobilku ada remover sama kapas, kak. Ada baju juga.”
__ADS_1
“Biar aku yang ambil, mana kunci mobilnya?”
Barra yang mengikuti Hanna mengajukan diri membantu. Anya membuka tasnya kemudian mengambil kunci mobil. Diambilnya kunci mobil dari Anya, lalu pria itu bergegas menuju parkiran.
Hampir lima belas menit lamanya, Hanna berjibaku membersihkan wajah Anya dari make up tebal. Kini gadis itu sudah kembali ke wajah polosnya. Anya mengambil lipgloss lalu mengoleskan ke bibirnya. Setelah berganti dengan pakaian kasual, Anya juga Hanna segera keluar dari toilet. Di dekat toilet, Cakra dan Barra masih setia menunggu. Keempatnya lalu kembali ke hall.
Saat mereka masuk, para pemain yang tergabung dalam tim voli Bandung Ocean sudah berada di dalam hall. Anfa mengajak Hanna untuk berkenalan dengan semua anggota tim. Trisno mendekat lalu mulai memperkenalkan para pemain satu per satu, Barra, Cakra dan Anya juga ikut berkenalan.
“Kenalkan ini Miguel Santos, pemain asal Brasil, dia akan mengisi posisi setter,” terang Trisno.
Pria bernama Miguel itu mengulurkan tangannya kemudian berkenalan dengan semuanya. Selanjutnya Trisno menemui pemain asing kedua yang dikontrak Bandung Ocean.
“Ini Andrew Jackson, pemain asal Amerika. Dia akan mengisi posisi outside hitter.”
Lagi, Hanna dan yang lainnya bersalaman dengan pemain asing itu. Trisno kemudian menuju ke arah pria yang berdiri membelakanginya. Pria itu tengah memperhatikan ke arah luar jendela. Dia akan pemain asing ketiga yang dikontrak. Trisno menepuk pundak pria itu, membuatnya membalikkan tubuhnya.
“Ini pemain ketiga kami, dari Jepang. Kenalkan Tozaki Kanagawa, dia akan mengisi posisi opposite.”
Hanna tertegun melihat mantan kekasihnya berdiri di hadapannya. Untuk sesaat gadis itu membeku di tempatnya. Anfa disusul Cakra segera menyalami pria berdarah Jepang itu. Barra juga terkejut mendengar nama atlit voli tersebut. Melihat sikap Hanna, pria itu yakin kalau Tozaki ini adalah mantan Hanna.
“Waduh mantan terindah dateng, bang. Bahaya ini, siaga satu,” bisik Anya di telinga Barra. Pria itu hanya berdehem seraya menyalami Tozaki.
Setelah Barra juga Anya bersalaman dengannya, Tozaki mendekati Hanna. Sepertinya gadis itu masih belum bangun dari keterkejutannya. Suara Tozaki berhasil menginterupsi lamunannya.
“Hai Hanna.. how do you do?”
“Enngg.. fine, thanks. Aku ngga nyangka kamu join di klub ini.”
“Karenamu. I missed you.”
Tak ada jawaban dari Hanna, sungguh gadis itu masih belum sepenuhnya percaya kalau pemain asing ketiga yang dikontrak klub adalah mantan pacarnya. Barra yang memperhatikan interaksi Hanna dan Tozaki mulai was-was. Gugupnya Hanna menandakan kalau perasaan gadis itu pada sang mantan masih belum hilang. Baru saja pria itu bahagia saat Hanna cemburu, tapi kini dia harus berhadapan dengan mantan terindah untuk menaklukkan hati Hanna. Perjuangannya mendapatkan gadis itu semakin sulit saja.
“Bar..” tepukan Cakra di pundak Barra membuyarkan lamunan pria itu.
“Iya om, kenapa?”
“Kamu ke sini bawa mobil?”
“Ngga, om.”
“Kalau gitu tolong bawa mobil Anya, ya. Om mau pulang sekarang sama Anya.”
“Ok, om.”
Cakra hanya menganggukkan kepalanya lalu membawa putrinya pulang. Anya yang baru saja menikmati hidangan, terpaksa mengikuti langkah sang papi. Keduanya keluar dari ruangan lalu menuju area parkir.
Supir yang biasa mengantar Cakra langsung membukakan pintu belakang mobil begitu melihat majikannya mendekat. Cakra disusul Anya masuk ke dalam mobil. Sang supir menuntup pintu, kemudian naik ke belakang kemudi. Perlahan mobil yang dikendarainya mulai bergerak.
“Nya.. kata Nan, ada laki-laki yang sering ngikutin kamu.”
“Iya, pi.”
“Sejak kapan?”
“Sejak di Singapura.”
“Sekarang masih ngikutin?”
“Masih pi. Tadi aku lihat dia di kantor om Jo.”
Anya tak menjawab pertanyaan papinya. Gadis itu menyurukkan kepalanya ke dada sang ayah. Membayangkan kembali tatapan tajam pria yang terus mengikutinya, membuat gadis itu bergidik. Cakra memeluk bahu Anya, walau tak mengatakannya, dia tahu kalau sang anak tengah ketakutan.
“Sekarang kamu ngga boleh pergi sendirian. Ajak Nan kemana aja kamu pergi.”
“Iya, pi.”
☘️☘️☘️
Naya yang tengah duduk melamun di balkon lantai dua terkejut ketika dua buah tangan menutup matanya. Tak lama sang pelaku yang ternyata adalah Nara melepaskan tangannya kemudian duduk di samping saudara kembarnya.
“Sister gue yang cantik kenapa bengong aja? Noh ayam tetangga kemarin mati karena kebanyakan bengong.”
“Kok lo di sini? Katanya abis dari hotel mau langsung bulan madu.”
“Ngga jadi.”
“Ngga jadi bulan madu?”
“Bukan. Diundur bulan madunya.”
“Bang Ken lagi banyak kerjaan?”
“Ngga juga. Soal kerjaan masih bisa dihandle bang Fathan. Tapi papa Abi nyuruh nunda dulu bulan madu. Katanya waktunya masih belum kondusif, kan orang yang nyuruh Ve sama Lucky belum ketangkep.”
“Iya juga sih. Udah nurut aja sama papa Abi. Prediksinya jarang salah. Sambil nunggu bulan madu ke pulau pribadi, nyicil aja dulu bulan madu di Kasur.”
Naya terkikik geli, apalagi ketika melihat wajah Nara merona merah. Namun tak lama kemudian, tawanya terhenti ketika tiba-tiba saja gadis itu teringat akan Aric. Nara melirik ke arah Naya yang sejak kedatangannya tadi berwajah sendu.
“Lo kenapa Nay? Lagi ada masalah?”
“Bang Aric, Ra.”
“Bang Aric kenapa?”
“Dia batalin pernikahan.”
“Hah?? Kok bisa?”
Naya tak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi. Dia tersedu dalam pelukan Nara. Untuk beberapa saat Nara membiarkan Naya mengeluarkan kesedihannya. Setelah puas menangis, Naya mulai menceritakan apa yang menyebabkan Aric memutuskan untuk membatalkan pernikahan. Awalnya Nara terkejut saat mengetahui Naya memiliki perasaan pada Kenzie. Tapi begitu Naya menceritakan semuanya, perasaan Nara menjadi tenang.
“Gue ngga nyangka, Ra. Ternyata Ve orang yang licik, culas. Bisa-bisanya gue berteman sama orang kaya dia.”
“Udahlah biarin aja. Ngga usah dipikirin. Anggap aja itu pelajaran hidup buat lo. Sekarang mending lo fokus soal bang Aric.”
“Iya, Ra. Oh iya soal bang Ken, gue minta maaf. Beneran gue udah ngga ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Lagian udah lama juga gue suka ama dia, pas jaman SMA. Kalo sekarang kan lo tahu, gue bucinnya sama siapa.”
“Iya Nay, santuy aja. Lagian kalo sampe sekarang lo masih suka sama bang Ken, percuma juga. Palingan lo cuma dijutekin, soalnya dia kan udah bucin ama gue hahaha..”
“Heleh.. pamer lo. Tertawa di atas penderitaan gue huhuhu..”
Naya pura-pura mengangis. Nara langsung memeluk saudara kembarnya. Untuk sesaat keduanya asik berpelukan seperti teletubbies. Naya mengurai pelukannya, kemudian menghapus sisa airmata di wajahnya.
“Nay.. lo beneran cinta kan sama bang Aric?”
“Iyalah.”
“Kalau gitu perjuangin cinta lo.”
__ADS_1
“Tapi bang Aric udah ngga mau ketemu gue lagi. Pesan gue juga ngga dibales, cuma diread doang.”
“Terus lo nyerah gitu? Justru ini kesempatan buat lo nunjukkin kalau elo beneran cinta sama dia. Kejar terus dia dan yakinin soal perasaan lo. Jangan biarkan rencana Ve berhasil buat misahin kalian berdua. Selama ini kan selalu bang Aric yang ngejar elo, ngertiin elo. Sekarang giliran elo ngelakuin itu semua. Semangat Nay, jangan nyerah. Gue yakin bang Aric masih cinta sama elo.”
“Iya, Ra. Lo bener, gue ngga boleh nyerah. Gue harus bisa dapetin hati bang Aric lagi.”
“Nah gitu, semangat. Emang lo rela bang Aric diambil perempuan lain? Susah tahu dapet cowok kaya bang Aric. Udah ganteng, baik, setia, romantis, humoris. Pokoknya paket komplit deh.”
“EHEM!!”
Baik Nara maupun Naya terkesiap saat mendengar deheman keras dari belakang mereka. Nara yang tahu siapa pemilik suara itu, langsung was-was. Sepertinya Kenzie mendengar kata-kata pujiannya untuk Aric. Pelan-pelan wanita itu membalikkan tubuhnya. Dia langsung ketar-ketir melihat Kenzie yang seperti hendak menelannya hidu-hidup.
“Ayo pulang!” Kenzie membalikkan tubuhnya lalu berjalan meninggalkan keduanya.
“I.. iya mas. Mampus gue,” gumam Nara pelan.
“Yang sabar, Ra. Siap-siap aja dijadiin kambing guling hihihi..”
Nara segera bangun dari duduknya kemudian menyusul Kenzie sambil berlari kecil. Dengan cepat Nara berpamitan pada kedua orang tuanya, dia bergegas menaiki mobil. Kenzie sedari tadi sudah berada di belakang kemudi. Belum juga Nara memakai seat belt-nya dengan benar, Kenzie sudah melajukan kendaraannya.
Suasana di dalam mobil begitu sunyi, menjurus tegang. Nara tak berani membuka mulutnya melihat wajah Kenzie yang mengeras. Pria itu menatap lurus ke depan tanpa ada niat sedikitpun melirik atau mengajak istrinya berbicara. Nara hanya menundukkan kepalanya, sepertinya sang suami benar-benar marah padanya.
Nara mengangkat kepalanya ketika sadar kalau jalan yang dilaluinya bukanlah jalan menuju kediaman mertuanya. Mobil yang dikendarakan Kenzie berbelok memasuki sebuah pemukiman town house. Dia menghentikan kendaraannya di depan rumah bercat biru muda.
“Turun!”
Dengan cepat Nara membuka sabuk pengamannya lalu menyusul sang suami turun. Diperhatikannya Kenzie yang tengah memasukkan anak kunci. Tak lama pintu terbuka, Nara masuk ke dalam mengikuti langkah Kenzie. Kondisi rumah masih kosong melompong, belum ada satu perabot pun di sana. Dia terjengit saat Kenzie menarik tangannya masuk ke dalam kamar.
Kenzie menutup pintu dan menguncinya setelah berada di dalam kamar. Nara memperhatikan sekeliling kamar, hanya ada ranjang dengan Kasur berukuran king size di sana. Dia terkejut ketika tiba-tiba Kenzie mendorong tubuhnya hingga terjatuh di ranjang. Kemudian Kenzie merangkak naik dan mengungkung tubuh istrinya.
“Mas..”
“Jadi menurutmu Aric itu lebih baik dariku?”
“Ngga mas,” Nara menggelengkan kepalanya.
“Bukannya dia itu ganteng, baik, romantis, setia, humoris. Tipe ideal setiap perempuan, benar?”
“Ngga mas. Aku ngomong itu buat semangatin Naya aja. Dia lagi ada masalah sama bang Aric. Makanya aku eeuugghh..”
Nara tak bisa menyelesaikan kalimatnya akibat perbuatan suaminya. Bibir Kenzie kini sudah mendarat di lehernya, menelusuri kulit putih sang istri. Tangannya bergerak melepaskan dress yang membalut tubuh Nara. Kemudian pria itu mel*mat bibir Nara, melesakkan lidahnya ke rongga mulut Nara.
“Jangan pernah memuji laki-laki lain,” ujar Kenzie setelah mengakhiri ciuman.
“Iya mas, maaf. Tapi buatku, cuma mas Ken lelaki terbaik. Lelaki yang mau menerima semua kekuranganku, lelaki yang selalu melindungiku, lelaki yang mencintaiku dengan tulus dan lelaki yang selalu membuatku mend*sah.”
Nara menutup mulut dengan tangannya. Senyum Kenzie terbit mendengar gombalan receh istrinya. Dia kembali memagut bibir Nara, kali ini ciumannya lebih lembut dan melenakan. Tangan Kenzie menelusup ke belakang punggung sang istri lalu melepaskan kaitan penutup bukit kembar Nara. Setelah itu dia menjatuhkan tubuhnya di samping Nara kemudian menghadap ke arahnya.
“Ini rumah siapa mas?”
“Rumah kita,” jawab Kenzie seraya melepaskan penutup bagian atas tubuh Nara.
“Kok masih kosong?”
“Sengaja. Soal perabotan, biar kamu aja yang pilih,” Kenzie mulai memainkan bulatan kenyal favoritnya.
“Euugghh.. tapi ini… kasurnya… udah ada..” kalimat Nara tersendat akibat ulah Kenzie.
“Aku beli supaya kita bisa nyicil cucu buat para mama dan papa sekarang.”
Kenzie kembali mencium bibir Nara, bibir yang tak pernah bosan untuk dicecapnya. L*matan dan pagutan dalamnya membuat hasrat Nara terpancing. Tangan Nara bergerak melepaskan kaos yang dikenakan Kenzie. Dia sudah tak sabar ingin mengarungi surga dunia bersama suami tercintanya.
☘️☘️☘️
Dua orang pria berusia lima puluh tahunan tengah berbicara di salah satu private room sebuah restoran bintang lima. Pria yang salah satunya adalah Prima Wibisono menuangkan minuman untuk pria di depannya. Dia mengangkat gelasnya kemudian bersulang.
“Kamu yakin Ve dan Lucky tidak tahu apa-apa tentangmu?”
“Hmm.. aku memang mengenalkan diriku sebagai Prima Wibisono dan tidak memberikan informasi apapun pada mereka. Aku yakin Abi dan yang lainnya menemukan jalan buntu. Kalau pun mereka berhasil melacak Prima, pastinya adikku yang menjadi sasarannya. Aku sengaja mengarahkan semua bukti padanya.”
“Ternyata kamu licik juga. Menjadikan adikmu sebagai tameng.”
“Itu balasan untuknya, karena sudah merebut semua warisan orang tua,” Prima palsu itu meneguk minumannya sampai habis.
“Sekarang apa rencanamu?” lanjutnya lagi.
“Aku akan tetap menghancurkan Jojo. Nara memang berhasil lolos, tapi masih ada Naya. Ve berhasil membuat Naya dan Aric berpisah. Berarti tak ada yang melindungi gadis itu. Aku akan membuat Jojo menangis darah karena kehilangan anak tercintanya.”
“Bagaimana kalau Abi ikut campur.”
“Aku akan membunuhnya. Jika Abi mati, maka akan memberikan goncangan pada keluarga Hikmat. Aku bisa menghancurkan keluarga itu sekalian.”
Pria itu tersenyum smirk seraya menyesap minumannya. Dendam yang tak pernah suruh berpuluh tahun lalu, membuatnya bertekad untuk membalaskannya, apapun yang terjadi. Termasuk melenyapkan orang-orang yang berusaha menghalanginya.
“Bersiaplah, sebentar lagi kita akan menyelesaikan misi ini. Ada penambahan rencana. Tunggu kabar dariku.”
Pria yang selama ini berperan sebagai kaki tangan menganggukkan kepalanya. Dia yakin kalau rencana kali ini akan berhasil. Dirinya sudah tidak sabar melihat kehancuran Jojo dan juga keluarga Hikmat.
☘️☘️☘️
TOK
TOK
TOK
“Masuk.”
Jojo membuka pintu kamar putrinya setelah mendengar suara Naya dari dalam. Melihat sang papa yang masuk, gadis itu bangun dari posisinya berbaring kemudian duduk di sisi ranjang. Jojo mendudukkan diri sisi sang anak.
“Nay..”
“Iya pa.”
“Apa papa bisa minta tolong padamu?”
“Soal apa pa?”
Jojo menarik nafas panjang. Sejenak dipandanginya wajah anak kembarnya ini. Diraihnya tangan Naya, kemudian pelan-pelan Jojo mengatakan apa yang dimintanya. Naya mendengarkan dengan serius.
“Apa kamu bersedia, Nay?”
“Tentu aja aku mau, pa.”
“Terima kasih, sayang.”
Pria itu memeluk Naya dengan erat, seraya mendaratkan ciuman di puncak kepalanya. Dalam hatinya berdoa, semoga apa yang dilakukannya bisa membebaskan keluarganya dari orang yang hendak berbuat jahat.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Happy Sunday😎