KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Naga Kutub & Kuda Lumping


__ADS_3

“Selamat siang pak Kenzie.”


Kenzie mengangkat kepalanya saat mendengar suara seseorang yang sangat ingin dilihatnya. Di depan meja kerjanya, Nara berdiri dengan tote bag di tangannya. Kenzie menghentikan pekerjaannya lalu berdiri dari duduknya. Dia berjalan menuju sofa disusul oleh Nara.


“Kenapa baru dateng?” sembur Kenzie.


“Loh kan bapak bilang saya datang kerjanya pas makan siang aja.”


“Iya.. tapi telat.”


“Telat lima menit doang pak. Sebenernya saya udah dateng lebih awal, tapi tadi shalat dulu. Makanya agak telat, hehehe.. jangan marah.”


“Ck... ngeles mulu.”


“Bapak kenapa sih baru juga ketemu udah ngegas aja. Jangan-jangan bapak kangen ya sama saya,” Nara menaik turunkan alisnya menggoda Kenzie.


“Iya.. kangen sama makanan yang kamu bawa. Mana sini, aku udah laper.”


Nara hanya memutar bola matanya saja. Dia lalu mengeluarkan beberapa kotak bekal dari dalam tote bag dan menyusunnya di meja. Saat bersamaan, Fathan masuk ke dalam ruangan. Melihat makan siang sudah tersedia, dengan senang pria itu bergabung di sofa.


“Mau ngapain lo di sini?” tanya Kenzie.


“Makanlah.”


“Siapa yang ngajak lo makan? Sana makan di EDR aja.”


“Nara tadi yang ngajak.”


“Iya, aku tadi yang ngajak,” sahut Nara.


“Ngga ada. Makanannya ngga cukup.”


“Cukup bang. Aku bawa buat kita bertiga kok.”


“Ngga.. siang ini aku mau makan dobel, tadi pagi ngga sarapan soalnya. Sana lo makan di EDR kalo ngga jangan harap bisa kencan sama Azra tar sore,” ancam Kenzie.


“Dasar pelit. Keked mengkenene merege hese,” kelutus Fathan.


Namun bukan Kenzie namanya kalau peduli dengan umpatan sang sahabat. Dia mengambil kotak makanan yang ada di dekat Fathan, untung saja pria itu berhasil mencomot dua buah perkedel jagung dari sana. Dengan cepat Fathan keluar dari ruangan begitu melihat mata laser sahabatnya.


“Abang iih.. kasihan tau bang Fathan.”


“Kamu kasihan sama Fathan tapi ngga kasihan sama aku. Aku tuh kelaperan karena ngga sarapan.”


“Siapa suruh ngga sarapan.”


Nara mengambilkan lauk pauk yang tadi dimasaknya lalu menaruhnya di kotak bekal berisi nasi. Diberikannya kotak tersebut pada Kenzie, dengan lahap pria itu langsung menyantapnya. Diam-diam Nara tersenyum melihat Kenzie begitu menyukai masakannya. Gadis itu menundukkan kepalanya saat merasakan kedua pipinya terasa panas.


☘️☘️☘️


Kenzie keluar dari ruang kerja saat sayup-sayup mendengar keributan di depan ruangannya. Begitu membuka pintu, nampak Nara tengah bersitegang dengan Chika. Seperti biasa Chika selalu memaksa untuk masuk. Dan Nara dengan gigih melarangnya.


“Nara! Biarin Chika masuk.”


“Baik pak.”


Kenzie kembali masuk ke dalam ruangan. Chika menatap penuh kemenangan sekaligus wajah sinisnya pada Nara. Dengan gaya angkuh, gadis itu masuk ke dalam ruangan. Nara menatap punggung Chika yang menghilang di belakang pintu. Dia kesal Kenzie mengijinkan gadis perusuh itu untuk masuk.


“Ken...”


“Duduk!”


Dengan senang hati Chika mendudukkan diri di sofa. Dia duduk dengan mengangkat sebelah kakinya ke atas paha. Tentu saja mini dress yang dikenakannya sedikit terangkat dan memperlihatkan paha mulusnya. Kenzie menghempaskan bokongnya di sofa depan Chika. Tak ada minat sedikit pun melihat ke arah bawah. Matanya menatap lurus ke wajah Chika.


“Langsung aja, aku mau kamu berhenti mengganggu Nara.”


“Nara? Aku ngga pernah ganggu Nara,” elak Chika.


“Aku tahu kalau kamu sering mengganggu Nara. Aku ingatkan untuk yang pertama dan terakhir, jangan pernah ganggu Nara lagi.”


“Kenapa? Kenapa kamu peduli sama cewek cupu itu? Dia ngadu apa sama kamu hah? Cih.. dasar tukang aduan. Kamu jangan mau dimodusin sama dia. Aku tahu pasti dia lagi playing victim sama kamu. Dia itu cewek licik, cupu, nyebelin.”


“Sudah bicaranya?”


“Ken..”


“Apa kamu tahu kalau bu Sinta sudah tahu apa yang kamu juga Cheryl perbuat saat pemilihan ratu kecantikan dua tahun lalu? Kalau kamu masih mau berkarir di dunia entertainment, berhenti mengganggu Nara. Atau aku akan membuatmu menyesal. Bukan hal sulit untukku menjatuhkanmu. Jangan menguji kesabaranku, Chika. Mulai besok kamu ngga perlu datang ke sini lagi dan berhenti mengganggu Nara.”


Kenzie mengangkat tubuhnya lalu kembali ke kursi kebesarannya. Chika yang tak terima dengan perlakuan Kenzie, menyusul pria itu. Dia berdiri di depan meja kerja dengan menaruh kedua tangan di pinggang.


“Aku akan tetap datang ke sini. Dan soal Nara, aku membencinya. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya menderita!”


“Coba saja kalau berani!”


Kenzie bangun dari duduknya lalu menghampiri Chika. Dengan kasar dia mencengkeram lengan gadis itu kemudian menyeretnya keluar dari ruangan. Nara terkejut saat melihat Kenzie menarik paksa Chika. Dia lalu mendorong tubuh Chika ke arah security yang berjaga di lantai ini.


“Bawa dia keluar dan katakan pada resepsionis, jangan pernah mengijinkannya datang lagi ke sini. Kalau dia masih nekad datang, langsung seret keluar!”


“Baik pak.”


“Ken..!! Awas kamu ya, aku bakal bilang papa perlakuan kamu!!”


Chika berusaha keras melepaskan diri namun tenaganya kalah kuat. Akhirnya gadis itu hanya bisa pasrah saat sang security membawanya masuk ke dalam lift. Nara cukup terkejut melihat apa yang terjadi. Awalnya dia sempat kesal karena Kenzie mengijinkan Chika masuk. Bukan kesal, lebih tepatnya cemburu. Gadis itu takut kalau Kenzie terpincut juga oleh Chika.


“Kirain disuruh masuk mau mesra-mesraan,” gumam Nara pelan.


“Apa kamu bilang?”

__ADS_1


Kenzie yang hendak masuk ke ruangan, mengurungkan niatnya. Dia berbalik lalu mendekati sekretarisnya. Nara memundurkan tubuhnya hingga pinggangnya menyentuh pinggiran meja. Kenzie terus mendekat, kemudian


PLETAK


Nara mengusap keningnya ketika sebuah sentilan Kenzie mendarat di sana. Posisinya semakin mundur karena Kenzie mengurung pergerakannya, kedua tangan pria itu bertumpu di meja kerjanya.


“Bilang apa kamu barusan?"


“Ngga ada siaran ulang.”


“Awas aja kalo kamu sampe ngomong ngga berguna lagi. Bukan jidat kamu lagi yang kena sentil. Tapi mulut kamu, aku iket pake karet gelang.”


“Dasar Hitler.”


Kenzie semakin mendekatkan wajahnya. Tubuh Nara kian condong ke belakang. Nara memejamkan matanya saat jarak wajah mereka semakin dekat. Kenzie memandangi Nara yang tengah terpejam. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Nara.


“Ngapain kamu merem-merem? Ngarep dicium? Mimpi!”


Pria itu menjauhkan tubuhnya kemudian melenggang masuk ke dalam ruangan. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Senang rasanya menggoda sekretarisnya itu. Melihat pipi Nara yang memerah membuatnya semakin gemas saja pada gadis itu.


Nara masih belum beranjak dari tempatnya sepeninggal Kenzie. Tangannya meraba ke arah dada. Jantungnya berdetak kencang akibat kejahilan pria itu. Kemudian tangannya menangkup wajahnya. Selain dadanya yang berdebar kencang, kelakuan Kenzie tadi sukses membuat pipinya memerah. Gadis itu bergegas menuju toilet untuk menenangkan diri.


☘️☘️☘️


TOK


TOK


TOK


Fathan langsung masuk ke ruangan Kenzie tanpa menunggu sang empu mempersilahkan masuk. Dia menuju meja kerja atasannya lalu menaruh berkas di tangannya. Kenzie mengalihkan pandangannya dari laptop begitu melihat berkas yang Fathan berikan.


“Itu daftar calon pengganti Cheryl yang diusulkan tim PR.”


Kenzie membuka berkas kemudian membaca satu per satu biodata dan melihat foto calon brand ambassador produk apparel Metro East. Total ada sepuluh wanita yang direkomendasikan tim divisi PR. Mereka terdiri dari model profesional, artis, penyanyi dan selebgram ternama. Kenzie meletakkan kembali berkas di atas meja. Tak ada satu pun yang menarik perhatiannya.


“Ngga ada yang lain? Ngga ada yang sreg gue.”


“Sama, gue juga. Lo belum ada gambaran emang buat calon pengganti Cheryl?”


“Belum.”


Fathan menarik kursi di depan meja kerja Kenzie. Dia perlu mendudukkan diri agar bisa berpikir tenang. Saat ini mereka tengah diburu waktu untuk segera menemukan model yang cocok untuk dijadikan brand ambassador. Tiba-tiba pria itu menjentikkan jarinya ketika menemukan seseorang yang cocok.


“Gue tau!”


“Siapa?”


“Nara. Gimana kalau Nara aja yang jadi modelnya.”


“Ngga!"


“Ngga.. ngga.. kalau dia jadi brand ambassador terus gimana kerjaannya jadi sekretaris gue? bisa terbengkalai nanti kerjaannya.”


Kenzie mencoba berargumen. Padahal alasan sebenarnya menolak usulan Fathan karena tak rela wajah cantik Nara dinikmati banyak orang, khususnya kaum laki-laki. Sebentar lagi Nara akan menjadi calon istrinya, maka dia tak akan membiarkan sembarang orang melihat wajah cantik gadis itu.


“Sekarang lo punya ngga calon lain? Kalau ngga punya, udah aja si Nara,” Fathan terus bersikukuh dengan pendapatnya.


“Mulut lo mau gue sumpel pake sedotan WC? Berisik banget. Kalo gue bilang ngga ya ngga!”


“Pokoknya gue bakal tetep usulin Nara. Gue mau menghadap pak Abi. Susah ngomong ama elo. Bikin emosi jiwa.”


“Berani lo rekomen Nara ke bokap, gue bakal suruh Amran lamar Azra besok!”


“Dih.. senjata lo ngancem gue mulu ama Azra. Gue bakal cepetan nikahin Azra biar lo ngga ngancem-ngancem mulu.”


“Sono lamar. Yakin bakal diterima sama Azra?”


“Yakinlah. Azra kan cinta sama gue.”


“Pede gila lo. Emang pernah denger si Azra bilang cinta sama elo? Belum pernah kan? Ngga usah kegeeran, dekat belum tentu suka. Kalau pun suka belum tentu mau diajak ke pelaminan. Perjuangan lo masih jauh dan panjang."


“Rese lo! Dasar naga kutub!”


Fathan bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan. Berbicara dengan Kenzie seketika menaikkan tensi darahnya. Sedang sang pelaku hanya terkekeh melihat kekesalan sahabatnya. Setidaknya dia bisa menghentikan Fathan mengusulkan Nara sebagai brand ambassador.


☘️☘️☘️


Sehabis maghrib, Abi dan Nina langsung bersiap. Rencananya malam ini mereka akan mendatangi kediaman Jojo. Tadi pagi sahabatnya itu baru saja kembali dari Singapura. Abi langsung menghubunginya dan mengatakan kalau Kenzie sudah setuju dijodohkan dengan Nara.


Tentu saja Jojo menyambut gembira kabar tersebut. Tanpa ingin menunggu terlalu lama, dia meminta sahabatnya itu segera melamar sang anak. Dinda juga menyambut kabar gembira tersebut. Tanpa memikirkan rasa lelah setelah perjalanan pulang dari Singapura, wanita itu langsung berjibaku di dapur menyiapkan hidangan untuk calon besannya.


“Ken.. Frey.. Nan..”


Terdengar suara Abi memanggil nama ketiga anaknya. Satu per satu sang empu nama turun dari lantai dua. Dimulai dari Freya, Kenzie dan terakhir Kenan. Nina menghampiri Kenzie kemudian merapihkan kemeja yang dikenakan sang anak. Kenan memperhatikan penampilan sang kakak yang terlihat rapi jali. Abi memang belum memberitahu dua anaknya yang lain perihal lamaran malam ini.


“Bang Ken, rapi bener. Kaya orang mau lamaran aja. Atau bener mau ngelamar ya? ngelamar siapa bang? Ngelamar si Chiki balls ya?”


Dengan kesal Kenzie menoyor kepala adiknya ini yang bicaranya persis seperti knalpot butut. Nina segera melerai kedua anaknya sebelum terjadi perdebatan unfaedah. Sambil menjewer kuping Kenan, wanita itu keluar rumah menyusul suaminya yang telah lebih dulu keluar.


Freya memilih menaiki mobil bersama kedua orang tuanya. Dia tak ingin satu mobil dengan adiknya, si kompor mledug. Setiap hari ada saja ucapan Kenan yang membuatnya darah tinggi atau sakit kepala.


Kenan naik ke kursi penumpang bagian depan. Setelah memasang sabuk pengaman, tangannya bergerak menyalakan audio mobil. Kenzie sampai terjengit mendengar suara musik yang volumenya hampir mencapai angka tertinggi. Dengan kesal dia mengecilkan volume audio.


“Bang.. kita mau kemana sih?”


“Kepo banget sih, lo. Tar juga tau sendiri.”

__ADS_1


“Ah elah ama adek sendiri pelit amat. Kasih bocoran dikit napa, sekata dua kata gitu. Atau kasih kesempatan call a friend deh.”


“Banyak bacot lo. Tar gue turunin di jalan,” ancam Kenzie.


“Sapa takut. Lo pikir gue bocah umur lima tahun apa.”


“Tar di perempatan depan lo turun. Sekalian lo bantuin si Nancy ngamen.”


“Jangaaaaannn!! Ampun bang.. gue ngga bakal nanya lagi deh. Gue mau nyanyi aja.”


Kenan tak meneruskan kekepoannya, ancaman Kenzie benar-benar membuatnya takut. Nancy adalah waria yang selalu mangkul di perempatan lampu merah. Menurut Kenan, wajah Nancy bak lukisan abstrak. Sepertinya makhluk kurang sesajen itu terkena mala praktek. Niat hati ingin cantik cetar membahana laksana inces Syahrini, apa daya bentuk wajahnya malah mirip squidward.


Berhenti mengoceh, Kenzie kembali dibuat pusing oleh ulah sang adik yang mengganti-ganti channel radio. Entah lagu seperti apa yang diinginkan pemuda yang tahun ini genap berusia 20 tahun. Gerakan tangan Kenan berhenti ketika mendengar sebuah lagu lawas milik Shawn Mendes. Pemuda itu ikut bernyanyi menyanyikan lagu bergenre up beat tersebut.


“I know I can treat you better, than he can. And any girl like you deserve a gentleman. Tell me why are we wasting time. On all your wasted crying. When you should be with me instead? I know I can treat you better. Better than he can. Better than he can.”


Tak ada kata-kata protes dari mulut Kenzie. Pria itu cukup menikmati suara sang adik yang tak kalah merdu dari penyanyi aslinya. Sepanjang perjalanan, Kenan terus saja bernyanyi mengikuti lagu yang diputar radio.


Kendaraan Kenzie berhenti tepat di belakang mobil Abi. Kenan mengerutkan keningnya ketika melihat mereka berhenti di depan kediaman Jojo. Namun pemuda itu tak berani bertanya melihat Kenzie yang sudah memasang muka perang padanya. Dia ikut turun lalu menyusul kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.


Kedatangan Abi sekeluarga disambut hangat oleh Jojo dan Adinda. Seperti halnya Abi, Jojo juga tak menceritakan maksud kedatangan Abi ke rumah kepada anak-anaknya, termasuk Nara. Melihat penampilan Kenzie, Barra sudah bisa menebak kalau sahabatnya itu akan melamar adiknya.


Jojo mengajak sahabat beserta seluruh keluarganya menuju ruang tengah. Di sana semua anak perempuannya sudah duduk menunggu. Nara terkejut sekaligus terpesona melihat penampilan Kenzie. Melihat kedatangan pria itu bersama keluarganya, Nara jadi bertanya-tanya sekaligus berharap apakah mereka datang untuk melamarnya. Namun gadis itu buru-buru menepis khayalan kosongnya itu. Tak mungkin seorang Kenzie tertarik padanya.


“Gimana pernikahan Ryan?” Abi membuka pembicaraan.


“Alhamdulillah lancar.”


“Bang Aric ngga ikut om?” tanya Naya.


“Ck.. rumah kalian cuma beda beda blok doang. Tinggal jalan juga nyampe,” sambar Kenzie.


Naya membungkam mulutnya. Gadis itu tak ada niat menyahuti ucapan pria dingin itu. Apalagi akhir-akhir ini Kenzie kerap bersikap tak ramah padanya. sedingin-dinginnya Kenzie, dia selalu menyempatkan diri menyapa Naya jika bertemu. Tapi kini hanya tatapan dingin yang didapat gadis itu. Naya pun tak mengetahui penyebab perubahan sikap Kenzie padanya.


“Maaf Jo, kita datang mendadak dan tanpa persiapan apa-apa. Kamu dan Pu.. maksudnya Dinda juga baru pulang dari Singapura. Tapi menyegerakan niat baik itu lebih baik bukan?”


“Iya Bi. Ngga apa-apa. Aku malah senang kamu berkunjung malam ini. Sebenarnya ada apa ini?”


Abi dan Jojo memang sengaja tak membuka perihal rencana perjodohan mereka. Abi datang melamar Nara seolah-olah karena keinginan Kenzie demi menjaga perasaan Nara. Dia ingin menjaga perasaan gadis itu, takutnya Nara mengira lamaran ini terjadi karena perjodohan yang telah diatur dan semakin membuat dirinya insecure.


“Aku dan Nina datang ke sini untuk mengantar Kenzie. Atas nama Kenzie, kami bermaksud melamar Nara.”


Uhuk.. uhuk..


Semua menolehkan kepalanya ke arah Naya yang tiba-tiba saja terbatuk begitu mendengar Kenzie akan melamar adik kembarnya. Dilara mengambilkan segelas air untuk sang kakak. Sejatinya anak bungsu Jojo itu juga terkejut. Tak menyangka Kenzie yang dingin, cuek dan juga memiliki banyak pemuja ternyata menjatuhkan pilihan pada kakak perempuannya.


Bukan hanya Naya dan Dilara yang terkejut. Freya juga Kenan pun merasakan hal yang sama. Freya menanggapinya dengan senyuman. Dia senang salah satu sahabat baiknya menjadi istri sang kakak. Sedang Kenan hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Memikirkan apa bisa naga kutub dan kuda lumping bersatu.


Berbeda dengan Nara. Gadis itu tak bereaksi apapun mendengar ucapan Abi barusan. Dia hanya menatap kosong ke arah Kenzie yang juga tengah menatapnya. Barra menyenggol lengan sang adik, menarik kesadarannya kembali.


“Nara.. kenapa bengong?” tanya Nina.


“Eh.. ng.. ngga apa-apa tante. Cuma kaget aja.”


“Maaf ya kalau lamaran kami terkesan dadakan. Tapi kamu tahu sendiri Kenzie seperti apa. Dia sengaja ngga mengatakan apa-apa padamu karena ingin memberikan surprise katanya.”


Nara tersenyum tipis. Jantungnya berdegup kencang saat kembali bersitatap dengan mata elang Kenzi. Perasaan gadis itu campur aduk, antara terkejut juga bahagia. Dari sekian banyak gadis cantik yang mengejar Kenzie. Pria itu menjatuhkan pilihan pada dirinya. Berbeda dengan Nara, Naya nampak was-was. Dia takut kalau pernikahan Nara dilangsungkan lebih dulu dari pernikahannya.


“Jadi gimana Ra, apa kamu mau menerima lamaran Kenzie?” tanya Jojo pada putrinya.


“Hmm.. aku terserah papa aja.”


“Kok terserah papa. Kan yang mau nikah kamu sama Ken. Kalau papa yang jawab, berarti papa yang nikah sama Ken. Masa kita mau adu pedang.”


“Papa iihh..”


Jojo terkekeh melihat wajah putrinya yang bersemu merah. Tanpa sang anak bicara pun, dia tahu kalau Nara memendam perasaan pada Kenzie. Namun dia ingin putrinya sendiri yang menjawab lamarannya.


“Jadi gimana Nara? Apa kamu mau menerima lamaran Kenzie?” kali ini Abi yang bertanya.


“Bismillahirrahmanirrahiim.. iya aku terima om.”


“Alhamdulillah.”


Tak dapat dilukiskan bagaimana perasaan Jojo. Keinginannya terkabul bisa berbesan dengan sahabat baiknya. Setelah Naya bertunangan dengan Aric, kini Kenzie pun melamar Nara. Dia yakin Kenzie bisa membahagiakan dan melindungi Nara dengan baik. Pria itu sungguh berharap sang putri menemukan kebahagiaan bersama anak sahabatnya.


“Karena Nara sudah menerima. Kita tinggal membicarakan kapan tanggal pernikahannya,” lanjut Abi.


“Lebih cepat lebih baik,” sahut Jojo.


“Ken.. bagaimana? Kapan rencana kamu akan menikah dengan Nara?”


“Aku serahin semua sama papa dan om Jo aja. Kalau Nara bersedia, lebih cepat lebih bagus.”


“Kamu sendiri gimana, Ra?”


“Aku ikut aja pa.”


“Ngga bisa!”


☘️☘️☘️


**Apanya yang ngga bisa? Soal matematika ya😂


Tuh yang nyeletuk siapa ya? Apakah tukang baso tahu yang lagi keliling kompleks?


Segini dulu aja ya. Udah panjang juga, mamake takut mata kalian juling kalau babnya kepanjangan🤭

__ADS_1


Oh iya kemarin banyak yg nanyain novel yang mamake garap. Sekarang mamake lagi garap tiga judul, Kepentok Perawat Antik dan The Nick's Life yang lagi on going. Satu lagi novel baru yang bakal tayang di Sago, judulnya Scandal. Nanti kalau udah up di Sago, mamake woro²😉


Sekarang mamake mau nonton tim Thomas dulu ya, papay😘😘😘**


__ADS_2