KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Senyum


__ADS_3

Freya keluar dari kamarnya kemudian berjalan menuruni anak tangga. Langkahnya langsung menuju ke ruang makan. Dia menarik kursi di depan Kevin. Sejenak Freya memandangi wajah mertuanya itu. Setiap hari ekspresi wajah Kevin tak pernah berubah, selalu datar dan irit senyum.


“Pa…”


Kevin menghentikan makannya, lalu mengangkat kepalanya begitu mendengar suara sang menantu. Ditatapnya Freya yang tengah tersenyum ke arahnya.


“Kenapa?”


“Papa ngga bosen apa tiap hari wajahnya kaku kaya gitu?”


“Maksudnya?”


“Senyum, pa. Biar enak dilihat,” Freya memperlihatkan senyuman manisnya pada sang ayah mertua. Rindu mengulum senyum mendengar penuturan Freya. Ravin hanya menggelengkan kepalanya saja. Permintaan sang istri seperti hal yang mustahil untuk dikabulkan oleh papanya.


Sesuai perkiraan Ravin, Kevin hanya menanggapi ucapan Freya tanpa ekspresi. Pria itu kembali melanjutkan sarapannya dengan tenang, seolah ucapan menantunya itu bukanlah sesuatu yang penting. Wajah Freya berubah cemberut melihat respon sang mertua. Dengan wajah tertekuk, dia memulai sarapannya. Rindu menyenggol tangan suaminya. Kevin melihat ke arah Rindu yang tengah berbicara dengan isyarat mata dan gerakan kepala.


Melihat isyarat yang diberikan oleh sang istri, Kevin kembali menolehkan kepala pada sang menantu. Nampak Freya menikmati sarapan dengan menundukkan kepalanya. Menantunya itu nampak tak berselera makan, tangannya hanya bergerak mengaduk-aduk nasi di piring.


“Frey…” panggil Kevin, membuat Freya mengangkat kepalanya.


“Kenapa makanannya cuma diaduk-aduk aja?”


“Lagi ngga n,*fsu makan, pa,” jawab Freya pelan kemudian menundukkan pandangannya lagi.


“Mau aku suapin?” tawar Ravin, namun hanya dijawab oleh gelengan.


“Aku ke kamar dulu, ya.”


Freya mengakhiri makannya, padahal baru dua suap yang masuk ke dalam mulutnya. Selera makannya hilang melihat sang mertua tak mengabulkan keinginannya. Dengan langkah lesu dia berjalan meninggalkan meja makan lalu berjalan menuju tangga. Melihat ada yang tak beres dengan istrinya, Ravin bergegas menyusul.


“Abang sih…” dengan kesal Rindu memukul lengan suaminya.


“Aku kenapa?” tanya Kevin bingung.


“Apa susahnya sih senyum. Senyum, bang,” Rindu menarik kedua sudut bibir suaminya hingga membentuk senyuman. Dengan cepat Kevin menyingkirkan tangan sang istri, lalu melanjutkan makannya.


Dengan kesal Rindu meninggalkan meja makan. Dia memilih melihat Freya yang sepertinya tengah ngambek karena sikap suaminya. Sesampainya di lantai atas, wanita itu tak langsung masuk ke kamar begitu mendengar anak dan menantunya tengah bercakap-cakap.


“Pokoknya aku mau pulang,” ujar Freya.


“Pulang kemana Frey?”


“Pulang ke rumah papa. Aku kangen sama papa, aku kangen sama senyum papa. Papa ngga pernah pelit kasih senyum sama aku, ngga kaya papa Kevin yang pelit senyum.”


Ravin menggaruk kepalanya yang tak gatal. Entah mengapa istrinya ini tiba-tiba bersikap aneh. Padahal sejak dulu Freya tahu kalau Kevin terkenal irit senyum dan bicara. Lalu kenapa sekarang hal tersebut menjadi masalah.


Melihat suaminya yang hanya diam saja, Freya bangun dari duduknya lalu mengambil tas miliknya. Dimasukkannya dompet dan ponsel ke dalam tas, kemudian mengambil cardigan dari dalam lemari dan memakainya.


“Kamu mau kemana?” tanya Ravin.


“Mau pulang. Kalau abang ngga mau nganter, biar aku pulang sendiri aja.”


Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Freya segera melenggang pergi. Namun langkahnya tertahan di depan pintu, saat melihat Rindu berdiri di sana.


“Mau kemana Frey?”


“Mau pulang ke rumah papa.”


“Kenapa? Kamu ngga betah di sini?” Rindu mengusap kepala menantunya dengan lembut.


“Papa jahat, pelit hiks… masa kasih senyum buat aku aja ngga mau hiks.. hiks..”


Ravin bertambah bingung melihat Freya yang kini menangis. Dia melihat kepada sang mama, Rindu hanya memberi isyarat pada anaknya untuk menuruti keinginan Freya.


“Ya sudah, kalau kamu mau pulang ke rumah papa Abi, tidak apa-apa.”


Freya mengusap airmata di pipi kemudian mencium punggung tangan mertuanya. Setelahnya dia melanjutkan langkahnya. Ravin segera menyusul istrinya, namun Rindu menghentikan sejenak anaknya itu kemudian membisikkan sesuatu di telinganya. Sejenak Ravin nampak terkejut namun kemudian menganggukkan kepalanya. Bergegas dia segera menyusul Freya yang lebih dulu turun.


Tanpa melihat ke arah meja makan, Freya berjalan cepat keluar dari rumah. Kevin yang belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi, masih duduk tenang di meja makan seraya menyeruput kopi hitam kesukaannya. Tak berapa lama Ravin menyusul keluar dan mengajak sang istri naik ke dalam mobil.


☘️☘️☘️


“Papa…”


Freya langsung menghambur ke dalam pelukan Abi sesampainya di kediaman orang tuanya. Abi yang tengah berbicara dengan penjaga keamanan di rumahnya terkejut melihat sang putri datang dan langsung memeluknya.


“Frey.. kok pulang ngga bilang-bilang.”


“Emang aku ngga boleh pulang ke sini?” Freya mendongakkan kepala ke arah Abi.


“Bukan begitu. Kalau kamu bilang, papa bisa mama menyiapkan makanan kesukaan kamu.”


“Aku ngga mau apa-apa. Aku cuma mau ketemu papa. Aku kangen papa.”


“Papa juga kangen sama kamu.”


Abi mencium puncak kepala putri semata wayangnya, lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Freya memeluk erat pinggang sang papa, tak mempedulikan suaminya yang berjalan di belakangnya. Mereka kemudian menuju ruang tengah dan mendudukkan diri di sana.


“Mama mana pa?”


“Mama sedang keluar dengan mamanya Zahra.”


“Pa.. aku boleh minta sesuatu ngga?”


“Apa sayang?”


“Senyum. Aku mau lihat papa senyum.”


Abi terkekeh mendengar permintaan sang putri. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya yang sudah tak muda lagi. Wajah Freya yang semula nampak kusut kini berubah sumringah begitu melihat senyum manis sang papa.


“Makasih pa. Papa emang the best. Ngga kaya papa Kevin, pelit.”


Kening Abi mengernyit mendengarnya. Dia menoleh pada Ravin, namun menantunya itu hanya mengangkat bahunya tanda tak mengerti juga.


“Emang kamu minta apa sama mertuamu itu?”


“Aku cuma minta senyum aja, kaya ke papa. Tapi pelit, masa ngga mau senyum sama menantu sendiri.”


“Hahahaha…”

__ADS_1


Gelak tawa Abi sontak terdengar, Ravin pun tak bisa menahan rasa gelinya. Hanya karena tak mendapat senyuman dari papanya, Freya merajuk sampai minta pulang ke rumah orang tuanya.


“Dari dulu kamu udah tahu kalau mertuamu itu pelit senyum. Mukanya kaku kaya mesin yang kurang oli, terus masalahnya di mana hmmm..”


“Ngga tau, pa. Pokoknya aku kesel papa Kevin ngga mau ngabulin permintaanku buat senyum. Sebeeeeel pokoknya.”


“Hahaha…”


Tawa Abi kembali terdengar. Pria itu merogoh saku celananya lalu mengambil benda persegi pipih miliknya. Untuk beberapa saat pria itu mencari nomor seseorang di daftar kontaknya kemudian mendial nomor tersebut.


“Halo..” terdengar suara seorang wanita dari seberang.


“Halo dokter Wina. Apa dokter praktek hari ini?”


“Iya pak Abi. Sebentar lagi saya akan praktek.”


“Kalau begitu, saya daftar untuk memeriksa Freya.”


“Sepertinya ada kabar baik ya, pak Abi. Baiklah, saya akan masukkan nama Freya dalam daftar pasien hari ini.”


“Terima kasih, dok,” Abi mengakhiri panggilannya. Freya menatap bingung pada sang papa.


“Papa ngapain daftarin aku ke dokter Wina?”


“Sepertinya papa bakalan dapet cucu lagi.”


“Masa sih?” tanya Freya bingung.


“Iya, pa. Tadi mama juga suruh aku bawa Frey periksa ke dokter kandungan,” timpal Ravin.


“Tunggu apalagi? Sana bawa Frey ke rumah sakit.”


“Mau sama papa juga.”


Freya memeluk lengan Abi dengan erat. Melihat sikap manja sang anak, Abi memutuskan untuk ikut. Dia yakin sekali kalau anak keduanya ini tengah berbadan dua. Tak lupa pria itu menghubungi Nina untuk menyusulnya ke rumah sakit.


☘️☘️☘️


Senyum tak lepas dari wajah Ravin sepulangnya dari rumah sakit. Sesuai perkiraan mama dan papa mertuanya, Freya memang tengah berbadan dua. Kandungannya sudah berusia enam minggu. Akhirnya kerja kerasnya selama ini berhasil, benihnya berhasil bersemayam di rahim sang istri.


Nina langsung menyiapkan beraneka makanan sesampainya di rumah. Makanan bukan hanya disiapkan untuk putrinya, tapi juga untuk anak dan besannya. Wanita itu meminta Kenzie pulang dengan membawa Nara dan anak kembarnya. Dia juga meminta Kenan membawa Zahra ke rumah. Dan tentu saja mengundang sang besan. Namun Nina dan Rindu sepakat untuk menyembunyikan berita kehamilan Freya pada Kevin sebagai kejutan.


Rindu yang telah mendengar kabar bahagia, bergegas masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kevin yang baru saja turun dari kendaraan. Ketika hendak menyusul istrinya masuk, Abi menghadangnya di depan pintu.


“Mau ngapain ke sini?”


“Mau lihat menantu gue, minggir.”


“Lo apain anak gue sampe pulang ke sini nangis-nangis?” Abi tetap menghalangi langkah Kevin.


“Frey nangis kenapa?” tanya Kevin bingung.


“Dasar mertua nurjanah. Udah bikin menantu nangis masih ngga sadar juga.”


“Kapan gue bikin Frey nangis?”


“Ck.. masih belum sadar juga.”


Kevin segera menghalau tubuh Abi kemudian menghambur masuk ke dalam rumah. Dia segera menuju ruang tengah, di mana semua orang tengah berkumpul. Freya duduk diapit oleh Nina dan Rindu. Senyumnya langsung hilang ketika Kevin datang mendekat.


“Frey… kamu sakit apa, nak?” tanya Kevin begitu sampai di depan menantunya.


“Aku ngga sakit. Aku baik-baik aja. Hatiku aja yang sakit,” jawab Freya dengan wajah cemberut.


“Kamu marah sama papa?”


“Lagian abang, menantu minta senyum aja, susah bener ngabulinnya.”


“Ya ampun gara-gara itu, kamu marah. Nih lihat ya.”


Kevin berdehem sebentar kemudian perlahan sudut bibirnya mulai terangkat membentuk sebuah senyuman. Rindu dan Nina sebisa mungkin menahan tawanya melihat ekspresi Kevin yang terlihat aneh.


“Dah kaga usah senyum, anyep banget muka lo,” Abi mengusap wajah sang besan dengan tangannya. Dengan kesal Kevin menghempaskan tangan sahabatnya itu.


“Frey, maafin papa. Udah jangan marah lagi. Kan papa udah senyum.”


“Iya, pa.”


“Terus kamu habis periksa ke dokter, sakit apa?”


“Ngga sakit, pa. kata dokter ada utun di perutku.”


“Utun?”


“Huum.”


“Utun apaan? Nama penyakit baru?” Kevin masih bingung dengan jawaban sang menantu. Abi mendekat kemudian berbisik di telinga sang sahabat.


“Utun itu calon cucu, dasar tulalit.”


“Calon cucu?”


Kevin menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Abi. Untung saja gerakan refleks Abi cepat, hingga pertemuan bibir mereka tak terjadi.


“Frey hamil, Bi?”


“Iya.”


“Frey hamil… artinya gue bakalan punya cucu.”


“Iya,” kesal Abi karena Kevin masih terus bertanya.


“WHOAAAAA!!!! AKHIRNYA JADI KAKEK JUGA, WHOOAAAA!!!”


Semua yang ada di sana terkejut mendengar teriakan kencang Kevin. Belum habis rasa terkejut, mereka kembali dibuat tercengang ketika melihat Kevin tidak hanya bersorak tapi berlari-lari di sekeliling ruang tengah sambil meluapkan kebahagiaannya. Ravin sampai terganga melihat kelakuan sang papa. Ini pertama kalinya dia melihat Kevin bersorak kegirangan, sangat bertolak belakang dengan kesehariannya. Freya terkikik melihat kelakuan papa mertuanya, namun dirinya senang melihat Kevin terlihat begitu bahagia. Akhirnya dia bisa memberikan kabar baik pada mertuanya itu.


Setelah puas bereuforia dengan berkeliling ruangan, Kevin kembali ke hadapan menantunya. Pria itu berjongkok di depan Freya seraya memegang kedua tangan menantunya itu.


“Kamu mau apa, Frey? Apapun yang kamu mau, bilang aja sama papa.”

__ADS_1


“Aku belum mau apa-apa. Aku cuma mau lihat papa senyum aja.”


“Senyum? Tenang aja tiap hari papa bakalan senyum buat kamu.”


“Tapi hati-hati, jangan senyum pas sendiri, tar diangkut ke rumah sakit jiwa,” celetuk Abi.


Kevin tak mempedulikan ucapan sang sahabat. Hatinya terlampau bahagia dan tak ingin menghiraukan perkataan sang sahabat. Penantian akan gelar kakek yang selama ini didambanya berakhir sudah.


Kebahagiaan Kevin justru berbanding terbalik dengan perasaan Alisha saat ini. Wanita itu bergegas menuju rumah Abi begitu Rindu menghubunginya untuk datang. Kabar kehamilan Freya kembali membuatnya menjadi bersedih. Sampai kini, dirinya masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.


Alisha mengurungkan niatnya untuk bergabung bersama yang lain. Dia memilih untuk kembali pulang. Namun kedatangannya tertangkap oleh Abi, dengan cepat pria itu menghampiri sang keponakan.


“Al…” panggilan Abi menghentikan langkah Alisha.


“Mau kemana? Kenapa ngga masuk?”


“Ng… aku lagi nunggu bang Viren,” bohong Alisha.


“Tunggu di sini aja.”


“Tapi, pa.”


“Papa kangen udah lama ngga ngobrol sama kamu. Ayo sini kita ngobrol sambil nunggu Viren.”


Abi merangkul bahu Alisha kemudian membawanya ke taman yang ada di halaman depan. Dia mendudukkan diri di kursi taman yang ada di sana. Mau tak mau Alisha ikut mendudukkan diri di sana.


“Bagaimana skripsimu?”


“Alhamdulillah lancar, pa. Kalau ngga ada halangan dua minggu lagi aku bisa sidang.”


“Syukurlah. Kamu bisa menyelesaikan skripsi tanpa hambatan. Anya gimana?”


“Anya masih nyusun pa.”


“Dia ada kendala karena kehamilannya. Kamu harus bersyukur, tidak mengalami kendala apapun.”


“Maksud papa?”


Tangan Abi bergerak meraih bahu Alisha kemudian menarik keponakannya itu lebih dekat dengannya. Refleks Alisha menyandarkan kepalanya di dada Abi.


“Rejeki, jodoh, maut sudah ditentukan oleh Allah. Kapan datangnya ketiga hal itu, tidak ada yang tahu. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Terkadang kita mengeluh ketika belum mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi bisa jadi Allah sengaja menunda memberi apa yang kita inginkan dan akan memberinya di saat yang tepat nanti. Papa tahu, kamu pasti sedih karena sampai saat ini belum diberi momongan. Tapi tahukah kamu, dibalik kesedihanmu, ada angerah tersendiri di dalamnya. Salah satunya kamu bisa menyelesaikan tugas akhir tanpa kendala. Jadi, jika nanti kamu sudah diberi kepercayaan untuk mengandung, kamu hanya berkonsentrasi pada dirimu saja, tanpa terganggu memikirkan atau mengurus hal lain.”


Sejenak Alisha tercenung meresapi semua ucapan pamannya. Dalam hatinya membenarkan itu semua, namun terkadang rasa sedih kerap menerpa melihat pasangan yang menikah setelah dirinya telah lebih dulu diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati.


“Ketika seorang anak hadir, otomatis perhatianmu akan terbelah. Kebersamaanmu bersama dengan Viren akan sedikit berkurang. Mungkin saja Allah sedang memberi kalian waktu lebih lama untuk bisa bersama. Baik kamu dan Viren tidak pernah berpacaran sebelumnya, anggap saja kalian sedang menjalani masa pacaran. Nikmatilah kebersamaan kalian sebelum kalian sibuk dan terbagi perhatian setelah kedatangan anak.”


“Bang Vir juga bilang begitu, pa.”


“Lalu apa yang kamu risaukan. Papa yakin di waktu yang tepat kamu pasti akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Yang perlu kamu lakukan adalah berusaha dan berdoa. Dan jangan lupa bersyukur, apapun keadaanmu sekarang.”


“Iya, pa.”


Dari arah mereka duduk, dapat terlihat sebuah kendaraan berhenti di depan kediaman Abi. Dari dalamnya turun Viren. Pria itu langsung menuju rumah Abi ketika mendapat telepon dari sang istri. Melihat Alisha tengah berada di taman, dia melangkahkan kaki ke sana. Viren mencium punggung Abi setibanya di depan pria itu.


“Nah, suamimu sudah datang. Papa masuk dulu.”


Abi mencium puncak kepala Alisha kemudian berlalu pergi. Viren menggantikan Abi, duduk di sisi istrinya. Alisha segera mendekat dan menelusupkan kepalanya di dada sang suami.


“Papa sama mama ke sini, ada apa?”


“Kak Frey, hamil.”


“Oh ya? Tapi kok ngumpulnya di sini?”


“Abang ngga tau, kak Frey ngambek tadi sama papa Kevin, makanya pulang ke sini.”


“Ngambek kenapa?”


“Gara-gara kak Frey minta papa senyum tapi ngga dikabulin.”


“Gara-gara itu doang?”


“Iya. Kata mama efek hamil. Tapi tadi papa girang banget begitu dengar kak Frey hamil. Teriak kenceng banget sambil lari-lari keliling ruangan.”


“Masa?”


Alisha menganggukkan kepalanya. Viren ternganga sendiri mendengar cerita sang istri. Rasanya tak percaya saja kalau sang papa yang biasa terlihat tanpa ekspresi bisa meluapkan kebahagiaan dengan cara seperti itu. Tak sadar dia tersenyum sendiri saat membayangkan peristiwa bersejarah tersebut.


“Bang… nanti malem kita kencan, yuk.”


“Kencan? Tumben.”


“Aku mau pacaran sama abang. Mumpung kita masih berdua, ngga ada salahnya kan kalau kita manfaatin waktu lebih banyak berdua.”


“Sebenernya abang ada rencana ngajak kamu bulan madu kedua setelah kamu sidang. Abang barusan ngajuin cuti.”


“Beneran, bang?” mata Alisha nampak berbinar.


“Bener. Kamu mau bulan madu ke mana?”


“Abang dapet cuti berapa hari?”


“Seminggu.”


“Gimana kalau keliling Eropa?”


“Hmm.. boleh juga. Jalan-jalan, lihat pemandangan di sana sambil produksi anak.”


“Ish.. abang,” Alisha mencubit lengan suaminya.


“Besok kita ke agen perjalanan, kamu bisa pilih paket bulan madu yang kamu mau. Tapi kalau bisa yang lebih banyak diem di kamar, ya.”


“Abaaangg.”


Viren terkekeh melihat wajah istrinya yang bersemu merah. Diraihnya dagu sang istri kemudian dengan lembut dia mencium bibir Alisha dan memberinya sedikit lum*tan. Hatinya bahagia, sang istri bisa menerima berita kehamilan Freya dengan lebih tenang. Mengajaknya berbulan madu adalah pilihan tepat menurutnya. Selain menghabiskan waktu bersama, siapa tahu juga aka ada benihnya yang menetap nanti di rahim istrinya. Bisa jadi calon anaknya berharap proses produksinya berlangsung di negara lain.


☘️☘️☘️


Akhirnya bisa up dan menyapa kalian lagi. Maaf karena berabad² tak muncul, maaf sekali lagi maaf🙏

__ADS_1


Aku lagi sibuk kejar deadline kerjaan di RL. Agak susah juga mengumpulkan alur yg berceceran karena ditinggal kerja hal lain. Alhamdulillah bisa lanjut lagi. Mudah²an puas dengan episode ini. In Syaa Allah besok up lagi. Terima kasih untuk semua yang masih sabar menunggu kelanjutan kisah ini. Love you all😘😘😘


__ADS_2