
Jojo menyambut kedatangan Abi dan Nina. Semalam, sahabatnya itu sudah mengatakan kalau akan ikut bergabung dalam penjurian pencarian anggota girl band. Jojo senang sekaligus was-was juga. Dia tahu benar bagaimana watak sang sahabat. Arland dan Luna juga menyambut baik kedatangan mereka.
Ternyata kecemasan Jojo terbukti. Sudah dua puluh orang peserta yang masuk, tak ada satu pun yang menarik perhatian Abi. Ada saja protesan yang keluar dari mulut bon cabenya. Bahkan ada satu peserta yang dibuat menangis olehnya. Jika Jojo, Arland dan Luna meloloskan peserta tapi Abi tidak, maka yang diambil adalah keputusan Abi. Jojo sampai tepuk jidat melihat keotoriteran sahabatnya.
Setelah beristirahat sejenak, seorang peserta kembali masuk. Wajahnya imut mirip artis Korea. Dandanannya pun mirip dengan K-Pop idol. Secara penampilan, gadis itu nampak sempurna. Jojo mempersilahkan peserta untuk menyanyi. Suara peserta tersebut standar, dibilang enak tidak tapi masih layak dengar. Tapi keunggulannya berada pada dance-nya. Gerakannya begitu lincah, energik dan luwes.
Tanpa pikir panjang Luna dan Jojo langsung memberikan jawaban Yes. Nina abstain dan menyerahkan keputusan pada sang suami. Arland masih pikir-pikir karena suaranya masih di bawah ekspektasinya. Abi masih belum berkomentar, dia hanya melihat datar pada peserta.
“Jadi gimana kak?” terdengar suara imut gadis itu.
“Kalau aku sama Luna sih yes. Bakal kasih kamu kesempatan. Tapi ngga tau dengan mereka,” Jojo menunjuk pada Arland dan Abi.
“Suara kamu masih kurang dan ngga sesuai dengan ekspektasiku. Sorry aku harus say no.”
“Bi?”
“Apa yang mau dikomen? Suara jelek kaya gitu. Kamu ngga nge-dance aja suara udah fals, apalagi ditambah nge-dance, tambah hancur pasti.”
“Tapi aku akan belajar kak.”
“Belajar di sekolah, bukan di sini.”
“Tolong lolosin ya kak?” gadis itu menangkupkan kedua tangannya.
“Kalau kamu dilolosin sekarang, yakin kamu bakalan sampai di lima besar? Dari pada buang waktu, buang energi mending berhenti aja sampai di sini.”
“Kan ngga ada salahnya mencoba kak.”
“Saya ngga terima yang coba-coba.”
Gadis itu menghembuskan nafas panjang. Berhadapan dengan Abi seperti berhadapan dengan tembok besar. Dengan langkah lunglai gadis itu keluar dari ruangan. Tak lama pintu kembali terbuka, bukan peserta yang masuk melainkan Syakira.
“Maasshh Jooohhh,” ucapnya seraya mendekati Jojo. Namun langkahnya seketika terhenti ketika melihat Abi tengah menatap tajam ke arahnya. Dengan cepat wanita itu membalikkan tubuhnya.
“Syaki mau kemana? Kamu ada perlu apa?” tanya Jojo.
“Ngga jadddihh maasshh. Takut Syaakiiihhhh...”
Wanita itu berlari keluar ruangan. Jojo tak dapat menahan tawanya. Dia tahu betul, yang membuat Syakira mengambil langkah seribu pastilah sang sahabat, si beruang kutub.
Jojo bangun dari duduknya lalu keluar ruangan. Nina juga keluar, hendak ke toilet. Abi menawarkan diri untuk mengantar tapi ditolak oleh Nina.
Arland yang merasakan kantuk memilih pergi ke pantry untuk membuat kopi. Kini hanya tinggal Abi dan Luna di ruangan. Abi nampak serius dengan ponselnya, membaca laporan yang dikirimkan Anfa melalui e-mail. Tanpa pria itu sadari, Luna sudah berada di dekatnya.
“Mas Abi kerja di mana?” Luna memulai basa basinya.
“Ngapain tanya-tanya,” jawab Abi tanpa melepaskan pandangan dari ponsel.
“Mas Abi...”
“Jangan panggil mas!!”
“Eh kenapa? Terus aku panggil apa? Kakak? Atau abang?”
__ADS_1
“Ngga usah manggil. Sana jauh-jauh, jangan ganggu saya!”
Bukannya takut dan jera dengan sikap dingin dan ucapan ketus Abi, Luna malah tersenyum senang. Sikap Abi benar-benar membuatnya tertantang untuk mendekati lelaki itu.
“Hmm.. kak Abi sahabatnya mas Jojo ya?”
Tak ada jawaban dari Abi. Tangannya terus bergerak men-scrolll layar ponsel. Luna tak menyerah, dia malah mendekatkan diri ke dekat Abi. Saat wanita itu hampir menempelkan kepalanya ke lengan Abi. Tiba-tiba pria itu berdiri kemudian melenggang keluar ruangan. Luna hampir saja terjatuh kalau tidak langsung berpegangan pada kursi.
“Ish.. jutek banget, dingin juga. Mending sama mas Jojo aja,” gumamnya pelan.
Tak lama semua juri kembali ke ruangan. Tapi Abi dan Nina tak melanjutkan audisi. Ibu hamil itu bosan dengan jalannya audisi dan mengajak sang suami pergi. Jojo dan yang lain bernafas lega dengan kepergian Abi.
Audisi terus berlangsung sampai sore hari. Di hari terakhir ini mereka mendapatkan empat orang calon talent. Nantinya semua yang lolos akan diberikan tantangan. Siapa yang berhasil melewati tantangan tersebut akan menjadi member girl band yang rencana terdiri dari lima orang.
☘️☘️☘️
Jojo membereskan berkas-berkas di ruangannya. Luna masih setia menunggu pria itu. Tak lama Jojo mendekat dan mengajaknya pulang. Tanpa malu Luna menggamit lengan Jojo. Mereka berjalan keluar gedung langsung menuju kendaraan.
“Mau makan di mana mas?” tanya Luna sambil memasang tali seat belt.
“Terserah kamu aja maunya di mana?”
“Aku sih ikut aja.”
“Hmm.. gimana kalau di cafe temanku. Tempatnya ya lumayan jauh dari sini, di daerah Dago atas. Tapi makanannya enak plus view-nya juga bagus.”
“Hmm.. boleh mas.”
Kaki Jojo menekan pedal gas, tak berapa lama kendaraan roda empat itu melaju. Lampu jalan sudah mulai menyala, kepadatan arus lalu lintas sudah sedikit mengurai. Jojo terus mengarahkan kendaraannya menuju daerah Dago atas. Dua puluh menit kemudian mereka sampai di The Cliff.
“Udah lama ya Jo, kita ngga ketemu? By the way siapa nih?” Pacar, calon istri atau udah jadi istri?”
“Bukan tiga-tiganya.”
“Maksudnya?”
“Aku masih calon pacarnya bang,” jawab Luna.
“Oh ada ya calon pacar,” Desta tergelak mendengar ucapannya sendiri.
Tak lama seorang pelayan datang membawakan buku menu. Desta merekomendasikan makanan yang paling banyak diminati. Khusus untuk kali ini, pria itu memberikan makanan dan minuman secara cuma-cuma.
Luna menikmati makannya dengan perasaan sedikit tidak nyaman. Desta terus saja bergabung dengan mereka. Kedua pria itu bahkan berbincang dengan asiknya, seakan lupa akan keberadaannya. Luna sudah seperti obat nyamuk tak berasap.
Selesai makan, Luna langsung mengajak Jojo pulang. Wajah wanita itu sudah seperti kertas lipat saja. Yang membuatnya bertambah kesal, ternyata Jojo sama sekali tidak menyadari perubahan sikapnya. Awalnya Luna ingin mogok bicara saja, agar Jojo sadar. Tapi ternyata pria itu masih anteng-anteng saja.
“Mas Jo,” akhirnya suara Luna memecah kebisuan di antara mereka.
“Hmm..”
“Kalau mas Abi itu temannya mas Jo?” Luna sengaja menyebut Abi agar pria itu cemburu.
“Jangan panggil mas. Satu-satunya cewek yang boleh panggil dia mas, cuma istrinya.”
__ADS_1
“Abi ganteng ya mas.”
“Dia udah nikah Luna... jangan macem-macem. Kamu ngga mau kan dapet titel pelakor.”
“Cieee.. mas Jo cemburu ya?”
“Bukannya cemburu, tapi emang ngga seharusnya kamu menyukai laki-laki yang sudah beristri. Lagian aku juga kasihan sama kamu. Kamu tahu sendiri tadi Abi kaya gimana. Dia bakal lebih sadis kalau kamu nekad godain dia. Contohnya Syakira, dia takut banget sama Abi. Ditambah kalau istrinya sampai tahu, bisa habis kamu.”
Luna terdiam, semua yang dikatakan Jojo memang benar. Tadi saja saat dirinya hendak menggoda Abi, malah dibalas dengan ucapan ketus dan sikap dinginnya. Luna melirik ke arah Jojo yang mengemudikan mobilnya dengan tenang.
“Kalau mas Jo gimana?”
“Aku? Gimana apanya?”
“Iya maksudnya ada niatan ngga jalin hubungan sama aku?”
“Jujur sih, aku belum ada niat menjalin hubungan apapun saat ini. Kalau kamu mau ya kita jalani aja dulu, tapi tanpa ikatan. Sorry, tapi saat ini aku emang belum ada niat menjalin hubungan, mau itu nikah atau pacaran.”
Luna kembali terdiam. Sejak pertama bertemu dengan Jojo, dia sudah merasakan ketertarikan pada pria itu. Selain tampan, Jojo juga termasuk pria mapan. Dengan posisinya sekarang, Jojo bisa dengan mudah membantu karirnya lebih melesat lagi. Dia juga ingin masuk ke dunia perfilman, salah satu cita-citanya yang belum tergapai hingga kini.
Tak terasa perjalanan sudah sampai di apartemen yang ditinggali oleh Luna. Diajaknya Jojo untuk singgah sebentar yang disetujui olehnya. Seorang security menyambut kedatangan Luna dengan ramah. Mereka langsung menuju lift dan memencet tombol 12.
Luna memeluk lengan Jojo dan menyandarkan kepalanya di lengan pria itu. Jojo tidak menanggapi tapi juga tidak menolak. Ketika pintu lift terbuka, keduanya melangkah keluar lalu menuju unit yang berada di tengah.
“Taraaa.. ini unitku. Mas Jo mau mampir dulu?”
“Ngga deh, aku langsung pulang aja. Aku cuma mau tahu unit kamu aja. Besok-besok kalau jemput kamu, aku mampir.”
“Besok udah mulai training ya mas?”
“Iya, tapi kamu berangkat sendiri aja dulu ya. Aku harus ke kantor Abi pagi-pagi.”
“Ok, tapi pulangnya bareng ya mas.”
“Boleh.”
Luna mendekatkan tubuhnya kemudian mengalungkan tangannya ke leher Jojo. Sambil berjinjit dia mencium bibir Jojo. Cukup lama bibir keduanya menempel. Saat Luna akan melepaskan, tangan Jojo menahan tengkuk Luna lalu me**mat bibirnya. Luna langsung membalas l**atan bibir Jojo.
Ciuman mereka semakin lama semakin dalam dan menuntut. Tubuh Luna sudah menempel di dinding. Cecapan demi cecapan terdengar di koridor apartemen yang sepi. Keduanya mengakhiri ciuman panasnya ketika mendengat dentingan suara lift. Jojo mengusap bibir Luna yang basah oleh salivanya kemudian beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
☘️☘️☘️
**Jojo penganut HTI (Hubungan Tanpa Status) ternyata😱
Maaf ya baru bisa up menjelang malam. Hari ini ribet banget deh. Mamake juga baru dapet kiriman ulang kerjaan kemarin yg ternyata harus diedit lagi😩
Mudah²an dalam waktu dekat bisa up normal lagi ya gaessss...
Selagi nunggu kelanjutan kisah ini, ngga ada salahnya dong mampir ke karya baru mamake. Kisah tentang Nick. Ketik aja judul novelnya di kolom pencarian. Jangan lupa dukungannya ya🤗**
Atau kalau pengen baca yang genre komedi romantis, bisa baca karya mamake yang lain yang udah tamat. Tokoh wanitanya ngga kalah somplak kok sama Nina dkk. Klik aja profil mamake terus klik covernya yang di bawah ini.
__ADS_1